Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya.
CHAPTER 25
Indonesia. Negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di daerah khatulistiwa. Karena berada di daerah khatulistiwa, Indonesia beriklim tropis dan memiliki dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Matahari bersinar sepanjang tahun sehingga tumbuh-tumbuhan takkan kesulitan untuk berfotosintesis. Negara yang terkenal dengan sebutan zamrud khatulistiwa ini juga terdiri dari berbagai suku, ras, dan agama, membuat Indonesia kaya akan kebudayaan. Ideologi mereka disebut Pancasila, terdiri dari lima pokok-pokok penting yang menggambarkan karakter bangsa Indonesia: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Setidaknya hal-hal itulah yang bisa dipahami Gina sebelum ia menapakkan kedua kakinya di tanah Pulau Jawa, salah satu pulau di antara sekian banyak pulau di Indonesia. Sebenarnya ia hampir tak tahu apa-apa tentang Indonesia selain namanya, letak geografisnya, ibukotanya, pulau-pulau terkenalnya, dan seni batiknya yang ternama. Begitu Ken mengatakan bahwa mereka akan segera pergi ke negara burung garuda itu, Gina langsung memelajari Indonesia secara umum agar tidak terlalu kaget saat berada di sana.
Begitu turun dari pesawat di bandara Soekarno-Hatta, Gina dan Ken langsung disambut bulan dan bintang-bintang di langit malam. Keluar dari bandara, mereka menaiki bus menuju Bogor, kota tempat tinggal kakek-neneknya Gina. Sesampainya di Bogor, Gina dan Ken disambut oleh gerimis kecil yang berlangsung tak sampai satu jam. Ken mengatakan padanya bahwa meskipun sedang memasuki kemarau, bukan berarti Indonesia takkan diguyur hujan sama sekali, apa lagi Bogor. Bogor terkenal sebagai kota hujan di Indonesia karena curah hujannya relatif lebih tinggi dibandingkan kota-kota yang lain.
Selama perjalanan dari terminal menuju rumah kakek dan dan neneknya, Gina menyadari bahwa Bogor adalah kota yang ramai dan menarik. Gina melihat kendaraan di mana-mana dan orang-orang berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing. Suara-suara supir angkutan umum sahut-menyahut mencari penumpang. Mereka semua bicara dengan bahasa Indonesia yang sama sekali tidak dipahami Gina. Gina melihat sebuah monumen tinggi yang mempertemukan dua jalan besar di kota Bogor: Otto Iskandar Dinata dan Padjajaran. Ken memberitahunya bahwa monumen itu disebut Tugu Kujang, landmark kota Bogor yang puncaknya dihiasi senjata tradisional pusaka suku Sunda yang disebut kujang.
Rumah kakek dan nenek Gina terletak tak begitu jauh dari terminal bus tempat Gina dan Ken tiba dari bandara. Kakek dan nenek Gina tinggal di sebuah perumahan tua yang asri dengan bangunan-bangunan yang mencerminkan arsitektur tahun 50-60an. Mereka tinggal bersama seorang wanita muda pembantu rumah tangga yang mengingatkan Gina pada Miyuki. Selain itu, mereka juga sering dikunjungi oleh sepupu Ken dari pihak ibu, seorang pria bernama Reza yang berusia lima tahun lebih muda dari Ken, yang kebetulan juga tinggal di Bogor, tak jauh dari rumah kakek dan nenek Gina.
Reza bekerja sebagai editor majalah pertanian. Selain tahu banyak tentang sains seputar pertanian, Reza juga cukup fasih berbahasa Inggris dan sedikit-sedikit bisa bahasa Jepang, jadi Gina tak kesulitan berkomunikasi dengannya. Mereka lebih sering bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Ken juga lebih sering bercakap-cakap dengan Reza menggunakan bahasa Inggris, terkadang diselingi sedikit bahasa Indonesia atau bahasa Jepang.
Kakek Gina memang menderita stroke. Ia kesulitan berbicara dan menggerakkan salah satu tangannya. Ia juga tak bisa berjalan normal sehingga selalu membawa tongkat ke mana-mana dan tak jarang Reza atau neneknya Gina memapahnya untuk membantunya berjalan. Neneknya Gina terlihat sehat-sehat saja dan gemar menghabiskan waktu dengan merajut taplak meja. Gina belajar merajut dengan satu jarum (crochet) darinya dan dalam sehari ia sudah berhasil merajut alas gelas dan pembatas buku sederhana.
Selama berada di Bogor, tentu saja Gina tak hanya menghabiskan waktu untuk merajut bersama neneknya. Ken dan Reza mengajaknya jalan-jalan ke Kebun Raya Bogor. Gina menikmati kunjungannya ke kebun itu dan melihat berbagai koleksi tanaman di sana dan menikmati suasana piknik bersama kedua pamannya di lapangan hijau terbuka yang dihiasi kolam berbunga teratai. Ia juga memiliki banyak foto yang diambil oleh Ken dan Reza di sana. Mereka bertiga pun sempat melihat kemegahan Istana Bogor dari luar pagar. Selain itu, Gina dan kedua pamannya juga jalan-jalan ke pasar dan mal di dekat rumah kakek-neneknya untuk mencicipi jajanan Indonesia dan membeli pakaian batik yang terkenal.
Dalam perjalanannya di kota Bogor, Gina juga melihat kereta-kereta kuda tradisional—delman, begitu orang Bogor menyebutnya. Ia baru mengenal istilah itu ketika Ken memberitahunya. Delman-delman berjalan dan menyelinap lincah di antara kerumunan kendaraan bermotor. Gina takjub sekali ketika melihat keberanian kuda-kuda yang menarik delman-delman itu mengarungi jalanan penuh kendaraan, asap karbon monoksida, dan hiruk pikuk manusia. Ia juga kagum pada kusir delman yang sangat profesional memimpin jalan kuda mereka. Selain delman, Gina menemukan satu lagi alat transportasi tradisional yang disebut becak, sebuah kendaraan beroda tiga yang memiliki semacam kursi berpayung di bagian depan untuk penumpang dan sebuah saddle tempat duduk supir becak. Becak dijalankan dengan cara mengayuh pedal, sama seperti cara mengemudikan sepeda.
Gina tidak melupakan tujuan utamanya datang ke Indonesia. Tak lama setelah ia tiba di rumah kakek-neneknya, Gina berhasil mendapatkan barang-barang Erika dengan bantuan Ken yang memisahkannya dari barang-barang lain di gudang. Setelah itu, Gina selalu menyisihkan waktu untuk melihat barang-barang dan tulisan-tulisan Erika diselingi acara jalan-jalannya bersama kedua pamannya dan kegiatan merajutnya bersama neneknya. Gina juga memilah barang-barang Erika yang akan ia bawa ke Jepang, memisahkannya dari barang-barang lain yang menurutnya tidak penting.
Dalam usahanya memilah barang-barang Erika, Gina menemukan beberapa dokumen penelitian yang tidak diterbitkan sebagai jurnal ilmiah. Kebanyakan dokumen tersebut adalah penelitian Erika selama berada di bangku kuliah, ditulis sebagai tugas mata kuliah. Karena itu juga, penelitian-penelitian tersebut terlampau sederhana dan mudah jika dibandingkan dengan jurnal ilmiah. Sebagian dokumen yang lain adalah penelitian Erika di tempat kerjanya di Jepang, juga tidak dipublikasikan sebagai jurnal ilmiah meskipun sekilas tampaknya bagus. Gina berpendapat bahwa penelitian semacam ini mungkin adalah penelitian gagal atau semacam penelitian untuk kepentingan perusahaan sehingga menjadi rahasia. Ya, semacam resep rahasia restoran. Gina menyempatkan waktu membaca dokumen-dokumen itu sekilas sampai ia menemukan sebuah jilidan laporan penelitian dengan judul yang menarik perhatiannya.
The Prototype of Moriarty.
Moriarty? batin Gina heran. Membaca judulnya saja sudah membuat Gina punya firasat buruk. Bagaimana mungkin tidak? Moriarty adalah musuh bebuyutan Holmes. Moriarty adalah penjahat berbahaya yang licik dan cerdik. Mengapa Erika memilih judul yang kesannya mengerikan seperti itu?
Dengan was-was Gina membaca laporan penelitian itu, membacanya lembar demi lembar. Beruntung laporan itu ditulis menggunakan bahasa Inggris, jadi Gina bisa lebih mudah menyerap isinya. Semakin lama Gina membaca, semakin berubah ekspresi wajahnya. Ia yang tadinya hanya was-was sekarang tampak seolah-olah melihat hantu. Kedua matanya semakin membesar dan wajahnya semakin pucat hingga akhirnya ketika ia selesai membaca halaman terakhir, gadis itu diam tak bergerak. Kedua matanya terus memandang laporan penelitian yang dipegangnya.
"Wh-what's this?" gumam Gina ngeri setelah diam beberapa saat. Kedua tangannya melepaskan laporan itu, namun kedua matanya masih terpaku ke sana seolah-olah laporan itu adalah benda berbahaya yang bisa membunuhnya jika ia memalingkan pandangannya sebentar saja. How come—? How could—? Why—? This is crazy!
Masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya atau dibacanya, Gina membuka laporan itu sekali lagi, membacanya lagi dengan gerakan bola mata yang cepat dan dengan otak yang berpikir dengan ketajaman penuh, namun tidak ada yang berubah. Mau tak mau Gina harus percaya. Ia terpaksa memercayai horor yang disuguhkan Prototype of Moriaty padanya.
Indeed, this is the prototype of Moriarty...
The Prototype of Moriarty adalah penelitian tentang semacam zat kimia atau obat tertentu, tapi Gina lebih suka menganggapnya sebagai racun. Mengapa? Karena hasilnya sangat mengerikan. Lebih dari seratus tikus percobaan mati karena prototype tersebut. Meskipun dosisnya sudah dikurangi secara bertahap hingga ke dosis yang menurut Gina sangat kecil untuk ukuran tikus percobaan, tikus malang itu pada akhirnya tetap saja mati. Memang kematiannya tidak secepat tikus lain yang diberi dosis lebih besar, tapi jika hasil akhirnya sama, apa bedanya? Prototype Moriarty adalah racun yang bisa membunuh dalam dosis rendah. Kekejaman si calon Moriarty tidak sampai di situ. Sebagian besar korbannya tewas karena sebab utama yang sama, yaitu penyakit hematologis. Yang satu mati karena kekurangan eritrosit secara tiba-tiba, yang satu mati karena kekurangan leukosit, yang satu mati karena kekurangan trombosit. Semua masalah itu membuat tikus-tikus tersebut menjadi rentan terhadap penyakit lain dan tak jarang beberapa dari mereka pada akhirnya mati karena infeksi virus, bakteri, dan jamur. Lalu yang lebih mengerikan lagi, senjata calon Moriarty adalah korban itu sendiri. Si calon Moriarty membunuh para korbannya menggunakan mekanisme yang secara alami ada dalam tubuh mereka: apoptosis.
Lana tahu pasti apa itu apoptosis. Apoptosis adalah mekanisme bunuh diri sel atau kematian sel yang terprogram. Mekanisme ini penting dalam tubuh makhluk hidup. Beberapa manfaatnya adalah untuk mencegah terbentuknya sel kanker dan membuat tubuh terhindar dari bahaya infeksi virus dengan cara membuat sel yang sudah terlanjur terinfeksi melakukan bunuh diri. Moriarty membuat mekanisme apoptosis menjadi tidak terkendali. Abnormal. Jumlah sel yang mati menjadi lebih banyak dari seharusnya karena kelainan apotosis. Sel-sel yang muda mati sebelum tua. Maka tidak heran jika tikus-tikus malang itu kekurangan eritrosit, leukosit, dan trombosit. Sel-sel darah mereka keburu mati sebelum tubuh mereka mampu memproduksi sel-sel baru.
Satu lagi kehebatan si calon Moriarty, ia tidak meninggalkan jejak setelah melakukan kejahatannya. Karena tikus-tikus itu mati akibat apoptosis yang diprogram oleh tubuh mereka sendiri, jejak racun itu jadi tersamarkan sampai sedemikian rupa hingga rasanya mustahil untuk menemukannya. Kalau ada yang menyelidiki kasus kematian mereka, besar kemungkinan si penyelidik akan menyimpulkan bahwa mereka tewas karena infeksi virus ini, bakteri itu, atau jamur anu karena penyakit hematologis akibat apoptosis membuat mereka rentan pada infeksi mikroorganisme. Jika korban tidak terinfeksi, masih ada kemungkinan penyelidik akan menutup kasus dengan menyatakan bahwa korban tewas akibat keterlambatan dalam penanganan penyakit hematologis. Akan lebih bagus jika penyelidik itu mencoba memeriksa kelainan DNA pada sel-sel korban, namun masih ada kemungkinan bahwa pada akhirnya kasus akan ditutup dengan penjelasan bahwa korban mengalami kelainan DNA yang tidak disadarinya dan penyebab kelainan tersebut bisa karena bawaan dari lahir, bisa juga karena paparan zat radioaktif. Korban yang sering bekerja dengan zat-zat radioaktif jelas sangat pas untuk teori ini. Si calon Moriarty bisa pergi dengan tenang karena kesalahannya ditimpakan pada zat-zat radioaktif tak bersalah. Singkatnya, mereka takkan langsung berpikir bahwa korban mati karena racun prototype Moriarty. Lagi pula, selama ini racun identik dengan nekrosis, bukan apoptosis, membuat kejahatan prototype Moriarty tidak akan terpikir oleh banyak orang bahkan para ilmuwan bergelar profesor sekali pun. Brilian!
Pertanyaannya, mengapa Erika bisa membuat laporan penelitian semengerikan ini? Mengapa Erika bisa memiliki formula prototype Moriarty? Apakah penelitian inilah yang dikatakan Erika sebagai penelitian berbahaya dan tidak pantas? Mengapa prototype Moriarty juga memiliki mekanisme apoptosis seperti APTX yang dibuat Ai? Apakah APTX dan prototype Moriarty memiliki hubungan? Jika mereka berhubungan, apakah itu artinya ilmuwan gila dan orang-orang perusahaan yang mengejar Erika adalah orang-orang organisasi hitam? Jika mereka tidak berhubungan, lalu siapakah ilmuwan gila dan orang-orang perusahaan yang mengejar wanita itu? Apakah tujuan Erika meneliti racun sedahsyat prototype Moriarty? Jika prototype-nya saja sudah sehebat ini, bagaimana dengan produk sempurnanya? Akan sehebat apakah Moriarty?
Semua pertanyaan itu bertubi-tubi muncul dalam kepala Gina, menyerang otaknya tanpa belas kasihan sampai-sampai Gina merasa kepalanya akan pecah. Semua pertanyaan itu bisa membuatnya gila! Prototype Moriarty adalah kegilaan!
Okay, this won't do. I need to be calm, batin Gina ketika menyadari bahwa pikirannya mulai panik. Ia harus tenang agar bisa berpikir jernih. Ia harus memikirkan Prototype of Moriarty dengan kepala dingin. Tak ada gunanya jika ia panik sekarang, jadi Gina mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan-lahan. Ia melakukan hal yang sama berkali-kali untuk mengurangi ketegangannya. Ketika telah merasa lebih baik, barulah gadis kecil itu kembali membaca Prototype of Moriarty sambil berpikir dengan lebih tenang.
Setelah membaca The Prototype of Moriarty sekali lagi, Gina jadi tahu bahwa laporan penelitian itu hanya disusun oleh Erika seorang. Hanya Erika yang meneliti racun tersebut dan wanita itu melakukannya sendirian selama sekitar dua tahun. Wanita itu berhasil merampungkan laporannya belum lama ini, kurang dari setahun yang lalu, itu artinya ia memulai penelitiannya tentang prototype Moriarty ketika Gina sudah lahir. Gina jadi bertanya-tanya mengapa Erika menelitinya sendiri, mengapa laporan penelitiannya bisa berada di Indonesia dan siapa saja yang sudah membacanya. Prototype Moriarty adalah benda berbahaya. Jika jatuh ke tangan yang salah, nyawa banyak orang bisa terancam. Gina pribadi tak bisa memikirkan manfaat lain dari racun itu selain untuk membunuh tanpa meninggalkan jejak—ya, mirip APTX 4869 yang diminum Ai dan Conan. Tapi Erika tidak menamai racunnya dengan nama APTX. Erika menamai racunnya prototype Moriarty. Jadi bukankah itu artinya kedua racun tersebut tidak sama walaupun kedengarannya mirip? Bukan hanya itu, penelitian Erika tentang racun itu pun dimulai sekitar dua tahun lalu ketika Gina sudah lahir, yang artinya saat itu Erika sudah kembali bekerja, kali ini sebagai asisten laboratorium sekolah. Bukankah itu artinya penelitian prototype Moriarty tidak ada hubungannya dengan temannya yang ilmuwan aneh maupun orang-orang perusahaan yang mencurigakan itu?
Kalau begitu kenapa dia harus melakukan penelitian ini? Bukankah dia sendiri tidak menyukai penelitian yang berbahaya dan tidak pantas? Prototype Moriarty jelas berbahaya dan tidak pantas dikembangkan, jadi kenapa Erika menelitinya, sendirian pula? pikir Gina bingung. Ia mencari-cari dokumen lain, petunjuk lain yang terkait pada prototype Moriarty di antara barang-barang peninggalan Erika, namun ia tidak menemukannya. Gina menemukan beberapa disket dan berpikir bahwa mungkin saja ada petunjuk tentang protoype Moriarty di sana, namun ketika ia membukanya satu per satu dengan komputer desktop milik kakeknya, yang ditemukannya hanya foto-foto Erika zaman kuliah dan bekerja di Jepang atau tugas-tugasnya selama kuliah serta file-file penelitiannya yang dimuat dalam majalah sains dan dipublikasikan sebagai jurnal ilmiah. Tak ada satu pun yang mengarah pada si calon Moriarty. Hanya laporan penelitian itulah satu-satunya yang memberitahu Gina tentang racun prototype Moriarty.
Dengan kecewa Gina merapikan kembali barang-barang Erika. Ia menyusun barang-barang yang akan ia bawa ke Jepang: sebuah buku harian Erika saat SMA, beberapa dokumen penelitian yang tidak dipublikasikan termasuk Prototype of Moriarty, dan beberapa disket berisi foto Erika saat kuliah dan bekerja di Jepang serta file-file jurnal Erika yang belum dimiliki Gina. Setelah itu, ia merapikan barang-barangnya sendiri karena besok ia akan kembali ke Jepang.
Gina tak mengatakan apa-apa soal The Prototype of Moriarty pada kakek-neneknya, tidak juga pada Ken. Ia merasa takut untuk membeberkan penelitian berbahaya semacam itu pada mereka. Selain itu, Ken pernah bercerita pada Gina bahwa Erika bukan orang yang terbuka. Karena itu, besar sekali kemungkinan Erika tidak menceritakan apa pun tentang The Prototype of Moriarty pada keluarganya meskipun ia menyimpannya di rumah orang tuanya.
Untuk lebih memastikan sekaligus mencari tambahan informasi, Gina menanyakan kakek-neneknya tentang alasan yang menyebabkan Erika berhenti kerja. Ia bertanya apakah wanita itu pernah ketakutan di kantornya, apakah wanita itu pernah ditindas atasan dan teman-temannya. Kakek-nenek Gina membantah semua hal itu dan justru mengatakan bahwa Erika selalu baik-baik saja di tempat kerjanya dan karirnya selalu gemilang. Ia berhenti kerja karena sedang hamil. Mereka juga menambahkan bahwa Erika selalu tersenyum dan tak pernah sedikit pun memerlihatkan ekspresi negatif tentang karirnya. Dari jawaban mereka, Gina menjadi tahu bahwa Erika merahasiakan masalahnya dengan temannya dan orang-orang perusahaan yang aneh itu dari orang tuanya. Wanita itu hanya bercerita seperlunya pada Ken dan Ken pun merahasiakan hal itu dari orang tuanya. Kelihatannya hanya Ken yang beruntung karena Erika mau menceritakan masalahnya padanya walaupun hanya sebagian. Ken tahu kakaknya ketakutan karena sebuah ide penelitian gila, tapi Ken tidak tahu penelitian apa itu. Ken tahu kakaknya ketakutan karena dikejar ilmuwan gila dan perusahaan keras kepala, tapi Ken tidak tahu siapa mereka.
Keesokan paginya, Gina dan Ken kembali ke Jepang setelah menginap tiga malam di Bogor. Gina meninggalkan Indonesia dengan benak yang dipenuhi pertanyaan tentang Erika dan prototype Moriarty. Ibunya memang bukan orang biasa. Masih ada misteri di sekitar wanita itu yang belum diketahui Gina dan ia tak berniat membiarkan siapa pun tahu lebih dulu darinya. Ia sudah bertekad untuk merahasiakannya dari Conan dan Ai.
TBC
Penyakit hematologis adalah penyakit yang berhubungan dengan darah dan organ pembentuk darah.
Nekrosis adalah kematian sel akibat kerusakan akut atau trauma, jadi kebalikannya apoptosis. Gampangnya, apoptosis artinya sel mati karena bunuh diri, tapi kalau nekrosis, itu artinya sel mati dibunuh.
Eritrosit adalah sel darah merah. Peran terkenalnya adalah membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh.
Leukosit adalah sel darah putih. Peran terkenalnya adalah sebagai sistem kekebalan tubuh.
Trombosit adalah keping darah. Peran terkenalnya adalah membantu dalam pembekuan darah.
~o0o~
Ehem, bersamaan dengan chapter ini, saya ingin sekalian mengumumkan bahwa saya berniat hiatus lagi dari fic ini. Akhir-akhir ini saya sudah mulai sibuk lagi dengan aktivitas saya, jadi saya tidak bisa terus fokus pada fic ini. Selain itu, saya juga ingin lebih fokus pada fic saya yang lain, Behind the Scope, karena rencananya fic itu akan tamat sebentar lagi, sementara fic ini jelas masih lama tamatnya dan saya akan butuh lebih banyak waktu untuk menyiapkan plot ke depannya. Jadi untuk sementara pembaca mungkin tak bisa bertemu dengan saya di fic ini, tapi saya masih akan hadir di fic Behind the Scope. Silahkan mampir jika tertarik :)
Terakhir, saya ingin mengucapkan terima kasih banyak atas dukungan para pembaca selama ini. Terima kasih atas reviews, favs, dan follows-nya. Terima kasih atas waktu yang telah disediakan para pembaca untuk membaca fic ini. Saya mohon maaf karena tidak bisa melanjutkan fic ini dalam waktu cepat dan saya harap para pembaca sekalian dapat memaklumi. Sekali lagi, terima kasih banyak! Sampai jumpa di chapter berikutnya!
Oh, iya, jangan lupa review ya ;)
