Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya milik saya. Saya tidak bermaksud mengambil keuntungan apa pun dari fic ini selain untuk nambah wawasan dan pengalaman menulis saya.
CHAPTER 26
"Gina-chan, ini!" Ayumi mengulurkan sebuah cincin pada Gina ketika mereka sedang dalam perjalanan pulang sekolah. Gina meraih cincin itu dengan bertanya-tanya.
"Apa ini?" tanyanya sambil mengamati cincin itu.
"Cincin Mystery Train!" jawab Ayumi dengan antusias. "Akhir minggu nanti kita semua akan naik Mystery Train. Tinggal tunjukkan cincin itu pada kondektur dan kita bisa naik kereta."
"Oh?" Mystery Train? Mystery Train katanya?
"Kereta itu adalah kereta Bell Tree Express milik Perusahaan Suzuki," tambah Mitsuhiko. "Oh, ya, kudengar di sana akan digelar pameran permata bulan depan!"
"Pameran permata? Benarkah?" tanya Ayumi penasaran.
"Omong-omong soal itu, ayahku juga pernah mengatakan hal semacam itu setelah membaca koran," kata Genta.
"Kalau ada pameran permata, berarti ada pencuri itu, kan?" kata Ai nimbrung. Suaranya terdengar sedikit berbeda karena ia mengenakan masker agar tidak menularkan virus flu pada teman-temannya.
"Pencuri itu?" Genta memandang Ai dengan bingung.
"Ya. Kaitou Kid," kata Conan dengan senyum tertariknya.
"Eh?" Kaitou Kid?
"Itu lho, pencuri berpakaian serba putih yang dulu pernah mencuri tanduk Kirin," kata Mitsuhiko, mengira Gina melupakan pencuri internasional ternama itu. "Dia juga akan datang pada pameran permata bulan depan."
"Untuk mencuri permata?"
"Benar. Kid hanya mengincar batu-batu permata berharga, seperti permata yang bulan depan akan dipamerkan itu."
"Hei, hei, apa menurutmu saat itu Kakek Jirokichi akan mengizinkan kita naik Bell Tree Express lagi? Aku ingin melihat Kid," kata Ayumi.
"Entahlah, tapi aku yakin Conan-kun akan diundang. Dia kan, Kid Killer," balas Mitsuhiko.
"Iya, ya... Conan-kun, kau beruntung sekali!"
Conan tertawa gugup menanggapi perkataan teman-temannya. Gina pun tanpa sadar tersenyum.
Of course, it has to be that famous Mystery Train.
Gina memandang cincin kereta misteri yang dipegangnya dengan tertarik sebelum akhirnya menyimpannya di dalam ranselnya. Bagaimana mungkin ia tidak tertarik? Kasus Mystery Train adalah satu dari banyaknya kasus dalam manga Detektif Conan yang sangat diingatnya. Akan sulit untuk melupakan kasus yang melibatkan Kaitou Kid, Bourbon, Vermouth, Shuichi Akai, dan Shiho Miyano. Sepertinya ia beruntung karena mendapatkan kesempatan naik kereta spesial itu.
"Omong-omong soal akhir minggu, bagaimana dengan liburanmu di Indonesia, Gina-chan?" tanya Ayumi tiba-tiba, membuat Gina tersadar dari pikirannya sendiri.
"Liburanku cukup menyenangkan," jawab Gina. Lalu ia pun menceritakan kota Bogor yang dikunjunginya. Ia menceritakan betapa ramainya kota itu. Ia menceritakan Tugu Kujang, delman, becak, Istana Bogor, dan Kebun Raya Bogor. Ia menceritakan talas dan soto mie yang pernah dicicipinya selama berada di Bogor. Ia menceritakan beberapa jenis gorengan yang disebut bakwan dan pisang goreng oleh Reza dan Ken. Ia menceritakan bahwa ia belajar merajut dari neneknya selama berada di Bogor. Ia menceritakan bagaimana hangatnya cuaca di Bogor.
"Waah, kedengarannya menarik sekali," komentar Mitsuhiko dengan ekspresi terkagum-kagum. "Aku juga ingin melihat Istana Bogor dan melihat koleksi tanaman di Kebun Raya Bogor!"
"Ayumi ingin coba naik delman dan becak!" kata Ayumi yang rupanya lebih tertarik pada kendaraan tradisional.
"Aku ingin mencoba soto mie dan talas itu! Lalu bakwan dan pisang goreng itu juga!" kata Genta yang sudah jelas akan lebih tertarik pada makanan.
"Aku juga jadi penasaran. Yang kutahu, Indonesia itu terdiri dari berbagai suku dan etnis, sungguh berbeda dari Jepang yang hanya terdiri dari satu etnis," kata Conan yang ternyata juga merasa tertarik setelah mendengar cerita Gina.
"Benar. Aku juga ingin tahu bagaimana cara negara itu bisa bersatu mengingat rakyatnya yang begitu heterogen," kata Ai setuju. "Fashion mereka juga menarik. Mereka punya bermacam-macam motif batik yang bisa diaplikasikan ke dalam berbagai model pakaian," tambah ilmuwan itu lagi.
"Heee... Ternyata Conan-kun dan Haibara-san tahu banyak tentang Indonesia," kata Misuhiko yang sedari tadi mendengarkan pembicaraan kedua remaja yang menyusut itu.
"I-itu karena aku sering membaca buku dan menonton TV," balas Conan buru-buru.
"Sama denganku," kata Ai.
"Oh, iya, bagaimana dengan barang-barang ibumu, Gina-chan? Apakah kau berhasil menemukannya?" tanya Ayumi yang tiba-tiba teringat salah satu tujuan Gina pergi ke Indonesia.
"Ya, aku menemukan barang-barang ibuku," jawab Gina sambil mengangguk. "Aku menemukan buku harian ibuku sewaktu SMA. Aku juga menemukan foto-foto dan tulisan-tulisan ibuku saat masih kuliah."
"Oh, ya? Apa saja yang ditulis ibumu?" tanya Ai.
"Kalau di buku harian, sih, hanya curhatannya dan kegiatan sehari-harinya selama SMA. Kalau tulisan-tulisan saat kuliah, sebagian besar isinya tentang tugas kuliah."
"Kau tidak menemukan jurnal-jurnal ibumu lagi?" tanya Conan.
"Oh, aku menemukannya juga, tapi tidak banyak. Sebagian besar peninggalan ibuku di sana hanya berkas-berkasnya saat masih muda."
"Ooh..."
Gina menjawab dengan hati-hati karena ia tidak berniat menceritakan semua penemuannya di Indonesia pada siapa pun. Ia tidak akan menceritakan bahwa ia menemukan berbagai dokumen penelitian Erika yang tidak dipublikasikan namun memiliki nilai yang tinggi. Ia takkan menceritakan keberadaan The Prototype of Moriarty. Laporan penelitian itu adalah rahasia terbesarnya yang tak boleh diketahui siapa pun.
"Bagaimana dengan kemping kalian? Menyenangkan?" tanya Gina mengubah topik pembicaraan. Ia tak ingin membahas barang-barang peninggalan Erika lebih jauh.
"Justru sebaliknya, Gina-san, kemping kami sama sekali tidak menyenangkan," jawab Mitsuhiko dengan wajah lesu.
"Ada pembunuhan di tempat kemping dan kami melihat pembunuhnya mengubur korban," kata Genta.
"Benar! Setelah itu kami lari secepat mungkin karena si pelaku mengejar kami dan akhirnya kami bersembunyi di sebuah pondok," kata Ayumi dengan wajah yang kelihatan sedikit ketakutan, "tapi tidak sampai di situ saja, Gina-chan, rupanya pondok tempat kami bersembunyi adalah tempat si pelaku membunuh korban!"
"Whoa, whoa, pelan-pelan ceritanya!" Gina menyela sebelum anak-anak itu meneruskan cerita mereka lebih jauh. "Jadi kalian melihat pelaku mengubur mayat korban, lalu karena itu kalian dikejar pelaku?"
"Ya!" sahut Ayumi.
"Setelah itu kalian bersembunyi di pondok yang ternyata adalah TKP?"
"Ya!"
"Dari mana kalian tahu kalau pondok itu adalah TKP?"
"Ada darah yang menggenang bersama sebuah kapak berlumuran darah yang menancap di lantai," jawab Mitsuhiko. "Aku sampai terpeleset karena darah itu. Pokoknya menyeramkan!"
"Sudah begitu, si pelaku mencoba membunuh kami dengan cara membakar pondok," tambah Genta.
"What?!" Gina pura-pura kaget. Sebenarnya ia sudah tahu pasti kasus apa yang menimpa anak-anak itu di tempat kemping setelah ia menerima cincin Mystery Train, tapi akan aneh jika ia terlihat tidak terkejut dengan cerita mereka,bukan? "Mereka ingin membakar kalian? Sungguh?"
"Iya. Si pelaku mengurung kami di dalam pondok. Kami tak bisa ke mana-mana. Ayumi sampai pingsan karena terlalu banyak menghirup asap," kata Genta lagi.
"Kami berharap akan ada seseorang yang menyadari bahwa terjadi kebakaran, tapi ternyata di perkemahan juga ada sumber asap yang lain. Mungkin dari api unggun milik orang lain yang juga berkemah di sana," kata Mitsuhiko.
"Kami pun tak bisa menghubungi Conan dan Profesor untuk minta bantuan karena tidak ada sinyal," tambah Ayumi.
"Lho? Conan dan Profesor tidak bersama kalian?" tanya Gina berpura-pura bingung.
"Iya. Conan dan Profesor pergi membeli peralatan memasak sementara kami berempat mendirikan tenda dan mencari kayu bakar."
"Oohh..." Gina melirik Conan sekilas, kemudian kembali menatap tiga orang anak yang masih ingin bercerita lebih jauh. "Lalu apa yang terjadi? Bagaimana kalian bisa selamat?"
"Ada seorang wanita misterius yang menyelamatkan kami!" kata Genta antusias.
"Wanita itu menghancurkan pintu kayu dengan kapak yang dipakai membunuh korban, jadi kami semua bisa keluar dari pondok," tambah Mitsuhiko tak kalah antusias. "Wanita itu cantik sekali, lho. Dia juga mirip Haibara-san."
"Oh, ya?" Sekarang Gina melirik Ai yang ekspresinya tak bisa ditebak karena separuh wajahnya tertutup masker. "Lalu siapa wanita itu?"
"Itu dia, kami tak tahu. Wanita itu segera menghilang setelah menyelamatkan kami. Kami bahkan belum sempat berterima kasih padanya atau menanyakan namanya," kata Ayumi agak murung, namun kemudian tiba-tiba ekspresinya menjadi lebih berseri-seri, "tapi kita akan bertemu lagi dengan wanita itu, Gina-chan, soalnya dia memakai cincin Mystery Train!"
"Eh? Benarkah?"
"Tidak salah lagi. Aku juga melihatnya dengan mata kepalaku sendiri," kata Mitsuhiko penuh keyakinan.
"Po-pokoknya yang penting kalian semua selamat!" sela Conan tiba-tiba. "Sebenarnya aku dan Profesor sempat mencurigai asap yang membumbung di perkemahan, tapi karena ada banyak asap semacam itu dan Inspektur Yamamura bilang asap semacam itu sudah biasa di perkemahan, jadinya kami tidak memikirkannya lebih jauh."
"Benar, kan? Ternyata memang tak ada yang menyadari bahwa saat itu kami akan dibakar hidup-hidup," gerutu Genta. "Conan dan Profesor datang terlambat. Untung saja wanita itu sudah menyelamatkan kami."
"Jika tidak, pasti kau sudah terpanggang seperti yakiniku, ya!" canda Gina, membuat Ayumi dan Mitsuhiko tertawa.
Ketika tadi Conan menyela pembicaraan, Gina sadar bahwa pembicaraan mereka sudah hampir menyentuh isu sensitif, yaitu tentang sosok Shiho Miyano yang direkam dalam video oleh Mitsuhiko. Ai belum tahu hal itu dan Conan berusaha merahasiakannya dari ilmuwan itu. Gina tak mengerti mengapa Conan harus merahasiakannya dari orang yang nyawanya jelas-jelas terancam karena video itu, tapi daripada mengganggu jalan cerita dengan membeberkannya pada Ai sekarang, Gina memilih untuk membantu Conan merahasiakan masalah video itu. Makanya dengan candaannya barusan, ia harap anak-anak itu akan berhenti membicarakan Shiho Miyano. Untuk mengalihkan perhatian anak-anak itu sepenuhnya dari isu sensitif tersebut, Gina pun melanjutkan kata-katanya, "omong-omong tentang makanan yang dipanggang, aku lupa bercerita kalau di Indonesia juga ada makanan seperti itu. Orang Indonesia menyebutnya sate."
"Sate? Apa itu?" tanya Mitsuhiko tertarik.
"Apakah rasanya enak?" tanya Genta tak kalah tertarik.
Gina pun menceritakan satu macam lagi makanan yang dijumpainya di Indonesia, yaitu sate, makanan yang berupa potongan-potongan daging ayam atau kambing yang ditusukkan pada semacam lidi berujung runcing. Di malam pertama Gina di Bogor, Reza membelikannya sate kambing yang lezat dan dimakan dengan nasi padat yang disebut lontong. Sate kambing tersebut disiram bumbu kacang yang menggugah selera. Genta, Ayumi, dan Mitsuhiko tampak tergiur mendengar cerita Gina, terutama Genta. Gina melirik Conan dan Ai sekilas dan mendapati Conan tampak lega sementara ekspresi Ai lagi-lagi tak terbaca karena tertutup maskernya.
Percakapan mereka tentang Indonesia dan Mystery Train rupanya cukup panjang karena tanpa disadari, mereka sudah tiba di persimpangan jalan. Satu per satu anak-anak grup detektif cilik pun memisahkan diri menuju rumah masing-masing hingga akhirnya Gina berjalan sendirian menuju rumahnya. Setelah berjalan sendiri, gadis itu mendesah lega karena percakapannya tentang sate dan lontong bisa menarik perhatian Ayumi, Genta, dan Mitsuhiko selama dalam perjalanan, paling tidak sampai Ai tidak lagi bersama mereka. Pada akhirnya Mitsuhiko memang menceritakan tentang Shiho yang berhasil direkamnya dalam video menggunakan kamera ponsel, tapi saat itu Ai dan Conan tidak lagi berjalan bersama mereka. Selain itu, Gina juga lega karena anak-anak grup detektif cilik tidak menyinggung kehidupan Erika lebih dalam selama perjalanan pulang sekolah mereka kali ini. Rahasia prototype Moriarty masih aman dalam genggamannya.
Gina menghindari membicarakan kemping dan Shiho Miyano di hari-hari berikutnya. Ia tahu betapa pentingnya merahasiakan rekaman video Shiho dari Ai. Bagaimana pun juga, ilmuwan itu baru boleh tahu saat kereta Bell Tree Express telah berjalan. Gina juga menyadari bahwa Conan pun tidak mengungkit-ungkit kasus kemping itu lagi. Detektif itu juga nyaris tak pernah membicarakan Mystery Train dan sekalinya anak-anak grup detektif cilik membahas hal itu, Conan akan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka pada hal lain jika masih ada Ai di dekat mereka.
Satu minggu adalah waktu yang singkat hingga tak terasa hari keberangkatan Bell Tree Express akhirnya tiba juga. Gina dan grup detektif cilik pergi ke stasiun membawa cincin mereka masing-masing ditemani Profesor Agasa. Kogoro, Ran, dan Sonoko juga ikut dalam rombongan mereka.
Anak-anak grup detektif cilik segera saja mengagumi kereta Bell Tree Express yang bergaya klasik, tak terkecuali Gina. Mereka semua berterima kasih pada Sonoko setelah gadis remaja itu dengan angkuhnya mengatakan bahwa mereka bisa naik kereta spesial itu berkat keluarga Suzuki. Setelah itu, Sonoko dengan bangga mengumumkan bahwa ia, Ran, dan Kogoro berada di gerbong paling eksklusif, gerbong yang katanya akan menjadi tempat pameran permata incaran Kid. Putri konglomerat itu pun membeberkan rencananya menulis surat cinta untuk Kid yang akan disembunyikannya di sana. Perkataannya saat itu tiba-tiba saja disela oleh Sera yang jelas-jelas tidak diundang Sonoko. Gadis detektif itu mengatakan bahwa ia lebih tertarik pada kuis deduksi yang akan dilangsungkan dalam kereta selama perjalanan daripada mengejar pencuri seperti Kid. Ia juga mengatakan bahwa ia datang karena sudah sewajarnya detektif sepertinya tertarik pada Mystery Train.
Setelah melihat Sera dan tak sengaja melihat Ai menyembunyikan kepalanya dari detektif itu di balik tudung jaket, Gina mulai merasa tidak nyaman. Ia memang tahu kalau perjalanan Mystery Train nanti akan diwarnai pembunuhan dan pemboman. Ia tahu kalau organisasi hitam akan berulah di dalam ular besi itu. Ia pikir ia bisa tenang jika ia sudah tahu apa yang akan terjadi karena bagaimana pun juga, kasus kali ini adalah kasus yang sejauh ini paling diingatnya, tapi ternyata dugaannya salah. Tubuhnya benar-benar benci pada apa pun yang berbau kejahatan sampai-sampai akan memperlihatkan rasa ketidaksukaannya dengan membuat Gina berkeringat dingin atau mulas-mulas. Rasa cemasnya semakin parah ketika gadis itu teringat prototype Moriarty. Ia teringat bagaimana miripnya racun itu dengan deskripsi APTX yang bisa diingatnya. Kemiripan itu bisa saja berarti bahwa prototype Moriarty pun adalah racun milik organisasi hitam yang sebentar lagi akan bergerak memburu Sherry di kereta yang juga akan ditumpangi Gina. Bagaimana mungkin ia bisa tenang jika memikirkan bahwa mungkin saja ia memegang informasi penting yang bisa membuatnya diburu oleh organisasi itu?
"Hei, Gina! Ayo masuk! Sebentar lagi keretanya berangkat," seru Genta yang melambai di depan pintu gerbong, mengalihkan perhatian Gina dari lamunannya sendiri. Ia menoleh memandang Genta dan anak-anak grup detektif cilik lainnya yang bergantian masuk ke dalam kereta. Dengan terburu-buru gadis itu berlari menyusul mereka. Setelah semua anak masuk, Profesor membawa mereka semua ke dalam kabin D di gerbong 6. Di sana anak-anak dengan antusias dan bersemangat menjelajah kabin dan melihat pemandangan dari jendela. Gina bergabung dalam keceriaan anak-anak itu, namun hatinya tidak tenang karena teringat organisasi hitam dan prototype Moriarty.
Setelah beberapa menit menunggu di dalam kereta, Gina mendengar bunyi peluit panjang kondektur. Kereta akan segera berangkat. Sekarang gadis itu yakin bahwa Vermouth dan Bourbon sudah di dalam kereta. Tak lama kemudian terdengar suara peluit kereta menandakan bahwa Mystery Train akan memulai perjalanannya. Derak roda-roda kereta terdengar menggesek rel dan perlahan-lahan kereta pun meluncur, semakin lama semakin cepat meninggalkan stasiun.
Gina memandang anak-anak grup detektif cilik yang bersemangat mendapati kereta mereka akhirnya berjalan. Ia melirik Ai yang tampak tidak terlalu tertarik di balik masker flunya dan Conan yang kelihatannya cukup menikmati awal perjalanan. Gadis itu pun diam-diam mendesah. Ia tahu kalau sekarang ia tak bisa lari lagi. Suka tidak suka ia harus mengarungi perjalanan menegangkan ini hingga Bell Tree Express berhenti.
TBC
Dear readers, ketemu lagi dengan saya! Maaf karena saya lama hiatus. Nyusun plot buat fic ini ternyata nggak mudah dan saya masih disibukkan dengan pekerjaan dunia nyata. Kelihatannya saya masih akan membuat anda semua menunggu karena saya masih belum bisa janji akan cepat update (maaf sekali lagi, pembaca), tapi tolong jangan kecewa yaaa... saya harap pembaca dapat memaklumi saya. Terima kasih banyak karena sudah setia menunggu dan mendukung saya selama ini.
Seperti biasa, tolong jangan lupa review ya :)
