Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho. Saya punya cuma OC yang saya buat. Saya ngga berniat nyari duit dari fic ini.
CHAPTER 27
Gina sama sekali tidak bisa tenang. Ia duduk dengan gelisah dan berkeringat dingin. Tak ingin teman-temannya menyadari kegelisahannya, Gina berusaha sebisa mungkin untuk terlihat tenang. Ia bahkan ikut makan snack bersama Genta untuk lebih meyakinkan aktingnya. Dalam hati Gina mengeluh. Perjalanannya kali ini rupanya memang tidak mudah seperti dugaan awalnya. Malah sebaliknya, perjalanan kali ini terasa lebih menegangkan daripada petualangan lain yang telah dialaminya bersama grup detektif cilik selama ini. Semuanya gara-gara organisasi hitam dan prototype Moriarty. Andai saja salah satu di antara mereka tidak menghantui pikirannya, ia takkan merasa setertekan ini. Gina bahkan hampir yakin kalau dirinya lebih tegang dibandingkan Ai. Kalau ia sudah setegang ini sebelum bertemu organisasi hitam, akan separah apa keadaannya jika akhirnya ia bertemu mereka? Gina tak bisa membayangkan. Ia pun mulai berpikir bahwa mungkin akan lebih baik jika dirinya tidak mengikuti perjalanan ini. Ia sudah salah sangka mengira dirinya beruntung karena mendapatkan cincin Mystery Train.
Ketika terdengar suara ketukan di pintu kabin mereka, jantung Gina seolah melompat. Tanpa sadar ia mengepalkan kedua tangannya sementara Agasa dan anak-anak grup detektif cilik dengan tertarik membuka pintu untuk melihat siapa yang mengetuk. Mereka tidak melihat siapa pun di balik pintu, tapi mereka mendapati ada sebuah kartu dalam amplop tergeletak di sana.
Aaahh... akhirnya dimulai juga...
Gina ingin sekali tinggal di dalam kabin bersama Agasa daripada harus bertambah gelisah memikirkan organisasi hitam yang tak lama lagi akan muncul di hadapan Ai, tapi jika ia tinggal, teman-temannya akan mencemaskannya. Lebih buruk lagi, bisa saja Conan dan Ai jadi curiga padanya, jadi pada akhirnya gadis itu memutuskan bergabung bersama anak-anak yang lain keluar dari kabin sambil mendengarkan Conan yang membacakan instruksi dari kartu yang mereka temukan di depan pintu.
Kartu yang mereka temukan memberitahu bahwa mereka terpilih menjadi detektif dalam kuis deduksi yang diselenggarakan dalam Mystery Train dan tugas mereka adalah pergi ke gerbong 7 kabin B untuk menyaksikan sebuah insiden dan mulai menginvestigasi. Gina dan anak-anak lain pun pergi ke sana, lalu menyaksikan adegan pembunuhan di kabin itu. Setelah itu mereka melihat orang yang berperan sebagai pelaku melarikan diri sehingga mereka pun bergegas mengejarnya. Gina bisa mendengar Ai dan Conan mengeluhkan bahwa kasus kali ini lebih mirip permainan kejar-kejaran dan dalam hati Gina setuju pada mereka, tapi ia tahu bahwa kejar-kejaran ini hanya prolog dari kasus yang sebenarnya. Kasus yang sebenarnya masih belum dimulai.
Grup detektif cilik kehilangan si pelaku dan segera setelah itu mereka ditegur oleh seorang kondektur. Kondektur itu meminta mereka kembali ke kabin mereka karena sebentar lagi kuis deduksi akan dimulai. Anak-anak pun terkejut karena mereka pikir kuis deduksi sudah dimulai. Dengan wajah khawatir Conan bergegas berlari kembali ke gerbong 7 diikuti Gina dan teman-temannya yang lain. Saat itulah tiba-tiba Ai berhenti berlari dan dengan wajah kaget sekaligus takut memandang sosok seorang pria bertopi yang memunggunginya. Gina pun merasa tegang ketika melihat pria itu karena ia ingat betul siapa dia. Ia dan Ai hanya berdiri terpaku sampai Ayumi menegur mereka.
"Ai-chan? Gina-chan? Ada apa?" seru gadis itu heran.
"Oh, tidak ada apa-apa! Ai tiba-tiba saja berhenti lari, jadi aku juga berhenti," balas Gina segera. Kemudian ia menoleh pada Ai yang masih terlihat tegang, membuatnya jadi cemas dan melupakan ketegangannya sendiri. "Ai, you okay?"
"Eh? Oh, aku tidak apa-apa," balas Ai buru-buru. Gina tersenyum dan mengangguk padanya, lalu ia menarik tangan ilmuwan itu sambil berlari menyusul anak-anak grup detektif cilik yang lain. Untuk saat ini Gina akan berusaha bertingkah normal dan mengabaikan segala kecemasannya. Ia juga memutuskan untuk pura-pura tidak menyadari kecemasan Ai karena ia tak ingin dicurigai punya hubungan dengan organisasi hitam. Toh ia sendiri belum yakin jika ia memang punya hubungan dengan organisasi itu meskipun prototype Moriarty ibunya mirip dengan APTX 4869 buatan Ai.
Grup detektif cilik akhirnya sampai di depan kabin B gerbong 7, namun betapa terkejutnya mereka ketika mendapati bahwa Ran, Sonoko, dan Sera sedang berada di sana, sedang menikmati jamuan minum teh kecil-kecilan mereka. Mereka lebih kaget lagi ketika ketiga remaja itu menerangkan pada mereka bahwa kabin itu berada di gerbong 8, bukan gerbong 7. Grup detektif cilik akhirnya mundur dengan bingung. Tidak mungkin gerbong 7 hilang saat kereta sedang berjalan, kan? Mereka semua akhirnya memutuskan untuk melaporkan keanehan itu pada kondektur.
"Gerbong 7 menghilang? Hahaha...! Itu tidak mungkin," kondektur itu tertawa ketika mendengar pengaduan anak-anak.
"Tapi itu benar, kok!" kata Ayumi ngotot.
"Kami melihat seseorang ditembak dengan pistol di gerbong 7," kata Genta. "Kami mengejar pelakunya yang lari, tapi kemudian kami kehilangan dia."
"Ya, dan ketika kami kembali ke gerbong 7 tempat orang itu ditembak, ternyata itu bukan gerbong 7, tapi gerbong 8!" tambah Mitsuhiko.
"Di-ditembak pistol, kalian bilang?" kondektur itu dengan gugup memandang anak-anak. "Ka-kalau begitu mengapa kalian tidak langsung melapor pada kondektur?"
"Saat itu kami pikir itu adalah bagian dari kuis deduksi," jawab Conan. "Pokoknya, tolong segera pastikan! Gerbong 7 menghilang bersama penumpang yang ditembak!"
"Kalau begitu lebih baik tanyakan pada kondektur yang berada di setiap gerbong. Mereka duduk di bagian paling belakang gerbong seperti aku sekarang," kata kondektur itu lagi, "tapi aku yakin kalian hanya salah sangka..." Tiba-tiba terdengar suara dering bel dari salah satu pintu kabin. Gina melihat ada salah satu kabin yang lampu di atas pintunya menyala. Kemudian ia mendengar kondektur itu menjelaskan bahwa nomor gerbong tidak dicantumkan di dalam gerbong sesuai kehendak pemilik. Sambil berjalan ke arah pintu yang lampunya menyala, kondektur itu menjelaskan lebih lanjut bahwa menurutnya, hal itu dimaksudkan untuk menambah kesan misteri dalam kereta, namun karena itu juga, pekerjaan kondektur bertambah karena jadi ada banyak penumpang yang sering kebingungan di mana ruangan mereka. Setelah itu, kondektur itu berhenti menjelaskan. Gina melihat kondektur itu mengetuk pintu kabin yang tadi lampunya menyala, menawarkan bantuannya pada penghuni kabin itu.
"Jadi kalau kita membunyikan bel seperti tadi, lampu di atas kamar akan menyala dan kondektur akan datang, ya," kata Mitsuhiko kagum.
"Hebat! Aku ingin mencobanya nanti!" kata Genta antusias.
"Pokoknya, sekarang ayo kita periksa gerbong 7 yang hilang itu!" seru Conan sambil berlari. Anak-anak yang lain pun mengikuti, termasuk Gina. Ia berhenti sesaat ketika melihat Ayumi tampak cemas menanyakan keadaan Ai. Setelah melihat kedua gadis itu menyusul berlari, barulah Gina kembali ikut berlari.
Gina hanya diam di sepanjang petualangan grup detektif cilik menemukan gerbong 7 yang hilang. Ia hanya mengikuti teman-temannya tanpa banyak bicara. Ia diam saja ketika Sonoko mengomeli mereka (terutama Conan) karena lagi-lagi salah menyangka kabin mereka dengan kabin lain. Ia diam saja ketika Conan akhirnya memaparkan deduksinya yang menyatakan pada Sonoko, Ran, dan Sera bahwa kabin itu memang kabin yang mereka cari dan bahwa ketiga gadis itu diajak berperan sebagai kaki tangan pelaku. Ia diam saja ketika lagi-lagi Sonoko mengomeli Conan karena lagi-lagi deduksi bocah berkacamata itu benar. Sungguh tak ada yang menarik baginya karena ia sudah tahu, karena ia ingat peristiwa-peristiwa itu, jadi ia tak bisa membuat dirinya aktif seperti anak-anak lainnya. Selain itu, ia merinding jika teringat keberadaan organisasi hitam di kereta ini. Walaupun sudah berkali-kali ia mengatakan pada dirinya sendiri untuk tenang karena seharusnya mereka tidak mengenalinya dan tidak mengincar nyawanya, Gina tetap saja tak bisa tenang karena ia teringat hal lain, yakni prototype Moriarty. Karena itu, daripada dirinya tanpa sadar memerlihatkan gelagat tak wajar karena ketakutannya, Gina berpikir lebih baik ia diam saja dan hanya bicara seperlunya, seperti saat Sera tiba-tiba dengan mimik misteriusnya menyatakan bahwa hari itu adalah hari pertama ia bertemu Ai. Saat itu Gina menyela mereka dengan mengaku bahwa ia pun baru melihat Sera karena hari itu juga adalah hari pertama mereka bertemu langsung dan saat di stasiun mereka belum berkenalan. Gina melakukannya karena ia melihat ekspresi ketakutan terpancar di kedua mata Ai. Kemudian tiba-tiba Sera berteriak dengan kaget, mengira ada seseorang mengintip mereka dari luar, namun rupanya tak ada siapa pun di gerbong. Setelah itu mereka pun mulai membicarakan Kogoro yang ternyata diminta menunggu di gerbong restorasi untuk memberikan penjelasan kasus dalam kuis kali ini, kemudian barulah mereka memutuskan untuk melapor pada kondektur bahwa mereka telah berhasil memecahkan kuis deduksi.
Sesuatu yang aneh terjadi. Kondektur itu berkata bahwa kuis deduksi belum dimulai dan kuisnya seharusnya tidak semudah itu. Karena kebingungan itu, akhirnya Sera mengusulkan agar mereka bertanya pada orang yang berperan sebagai korban yang kini sedang berada di gerbong 8, di kabin Sonoko dan Ran. Anak-anak grup detektif cilik memutuskan mengikuti Ran, Sonoko, dan Sera ke sana, tapi begitu tiba di sana, mereka justru menemukan bahwa korban benar-benar telah mati terbunuh. Begitu Gina melihat mayatnya yang berlumuran darah dari bekas tembakan di kepalanya, gadis kecil itu langsung memalingkan muka. Ia tahu bakal benar-benar ada pembunuhan. Ia tahu orang itu akan mati, tapi ia sama sekali tak menyangka perutnya akan mual melihat mayat itu. Gina merasa dirinya makin lemas saja karena semua misteri dan ketegangan yang memenuhi kereta ini.
Sera dan Conan langsung memeriksa mayat itu sementara yang lain menunggu di dekat pintu dengan perasaan bingung sekaligus cemas. Setelah itu Conan meminta teman-temannya kembali ke kabin mereka bersama Ran. Tentu saja mereka tak terima begitu saja. Ayumi dan Genta mengatakan bahwa mereka juga ingin membantu, tapi tiba-tiba saja Conan dengan marah melarang mereka melakukan apa pun yang berbahaya dan lebih-lebih malah menyuruh mereka mengunci pintu kabin dan tidak membiarkan siapa pun masuk. Semuanya jadi kaget. Reaksi Conan saat itu memang terlihat berlebihan, tapi kemudian Conan buru-buru menambahkan bahwa tentu saja ia meminta mereka melakukan itu karena sedang ada pembunuh di dalam kereta. Kemudian Sera juga mendukung permintaan Conan, mengatakan pada Ran dan Sonoko untuk menjaga anak-anak. Gina pun akhirnya berjalan mengikuti teman-temannya meninggalkan Conan dan Sera. Dengan gelisah ia meremas-remas rok sebetis yang digunakannya dengan kedua tangannya, nyaris tak tahan dengan semua ketegangan yang terjadi di sekitarnya.
Gina melihat Ai begitu menempel pada Ran. Ekspresi wajahnya menunjukkan perhatiannya yang lebih awas dari biasanya. Ai bisa merasakan aura organisasi hitam, Gina tahu itu. Saat ini Ai sedang merasakannya. Tiba-tiba Gina melihat perhatian Ai teralih. Ilmuwan itu tiba-tiba mendongak, terbelalak kaget memandang sosok berbaju gelap yang lewat di sampingnya. Gina otomatis ikut mendongak dan seketika itu juga ia ikut-ikutan terbelalak.
Orang itu Shuichi Akai.
Bukan, bukan dia, ralat Gina segera dalam hati, orang itu Vermouth.
Orang itu tiba-tiba beradu pandang dengan Gina, membuat jantung Gina berdetak cepat. Kemudian ketika menyadari bahwa orang itu menatapnya lebih lama dari perkiraannya, Gina jadi merasa ketakutan. Ada sesuatu yang aneh dalam pandangan mata orang itu, membuat orang itu terlihat seolah-olah terkejut melihat Gina.
Kenapa Vermouth memandangnya seperti itu?
Orang itu pergi menjauh tepat ketika tiba-tiba Ran menyapa seseorang yang ditemuinya, seorang pria tampan berkulit gelap yang baru Gina lihat pertama kali, namun telah lama dikenal Lana.
"Oh, Amuro-san! Jadi kau juga naik kereta ini!" kata Ran pada pria itu.
"Ya, berkat tawar-menawar di internet yang ternyata sesuai dengan harapanku! Aku juga baru saja bertemu dengan Mouri-sensei di gerbong restorasi," balas pria itu riang. Kemudian ia berkenalan dengan Sonoko, lalu bertanya apakah sedang terjadi sesuatu di kereta. Ran pun menjawab bahwa saat ini sedang terjadi kasus pembunuhan dan Sera serta Conan masih berada di TKP. Amuro mengusulkan agar mereka segera memberitahu Kogoro. Ran dan Sonoko tentu setuju, tapi mereka harus mengantarkan anak-anak kembali ke kabin mereka terlebih dahulu, jadi akhirnya mereka pun berpisah setelah Amuro menawarkan bantuannya untuk memberitahu Kogoro.
Profesor Agasa masih berada di kabin mereka ketika anak-anak kembali. Kemudian setelah menceritakan kasus pembunuhan yang sedang terjadi, entah bagaimana mereka jadi membicarakan video rekaman Mitsuhiko yang merekam Shiho Miyano. Profesor terlihat kaget sekali ketika tahu Mitsuhiko mengirimkan video itu pada Kogoro, lebih-lebih ketika ia menyadari bahwa Kogoro telah mengunggahnya ke publik dengan harapan akan ada yang tahu siapa wanita yang telah menolong anak-anak grup detektif cilik dalam video itu. Gina melirik Ai yang sekarang tampak pucat pasi. Tentu saja ia akan terlihat seperti itu ketika menyadari bahwa orang-orang organisasi mungkin saja ada dalam kereta karena video itu.
Gina tak tahu harus melakukan apa. Ia pikir lebih baik ia diam saja di dalam kabin bersama anak-anak yang lain karena ia tak mau mengganggu jalan cerita, tapi setelah teringat tatapan aneh Shuichi Akai palsu beberapa menit yang lalu, Gina mau tak mau jadi berpikir ulang. Mengapa orang itu menatapnya seperti itu? Apakah Vermouth mengenal Gina? Kalau ternyata memang demikian, apakah sekarang keberadaan Gina dalam kereta ini akan mengubah jalan cerita? Kalau ternyata Vermouth memang mengenal Gina, apa itu ada hubungannya dengan prototype Moriarty? Kalau memang begitu, bukankah itu artinya Gina juga terlibat dalam konflik organisasi hitam?
Memikirkan semua itu membuat Gina semakin kedinginan karena ketakutan sampai-sampai ia tidak menyadari kalau Ai sudah pergi dari kabin setelah katanya menerima pesan spam di ponselnya. Gina baru sadar ketika Ran membuka pintu kabin hendak menyusul Ai, tapi rupanya Ai sudah tak terlihat di sepanjang koridor gerbong.
Setelah menit demi menit berlalu, Ai tak kunjung kembali sehingga Ran memutuskan untuk memeriksa ke toilet. Tak lama kemudian ia kembali dengan cemas, mengatakan bahwa Ai tidak ada di sana. Seisi kabin untuk sesaat ikut-ikutan cemas dan bingung, namun kemudian Ran menerima pesan dari Ai yang mengatakan bahwa ia baik-baik saja. Anak-anak yang lain pun menyimpulkan bahwa mungkin Ai sedang bersama Conan. Kemudian Ran memutuskan untuk menelepon Conan untuk memastikan karena ia masih cemas. Setelah gagal menghubungi Conan, ia mencoba menghubungi Sera, Kogoro, bahkan Amuro, namun tak ada satu pun yang menjawab. Ketika Ran hendak menyusul ke tempat mereka, Agasa buru-buru melarangnya dengan alasan mungkin sekarang mereka sedang di tengah-tengah pertunjukan analisis, jadi sebaiknya tidak ada yang mengganggu mereka.
Gina terus menunggu dalam kabin, menggabungkan diri dalam candaan Genta, Ayumi, dan Mitsuhiko untuk mengalihkan perhatiannya dari ketegangan Mystery Train. Beberapa kali ia tak sengaja mellihat Agasa ketika profesor itu menatap serius layar ponselnya, tak diragukan lagi sedang meng-update perkembangan situasi rencana penyelamatan Ai dari organisasi hitam. Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa terjadi kebakaran di gerbong 8 dan para penumpang yang berada di gerbong 7 dan 6 diharapkan pergi ke gerbong yang lebih depan. Karena kabin anak-anak ada di gerbong 6, mereka pun harus pindah ke gerbong di depan mereka. Gina mengikuti rombongan teman-temannya sambil sekali-sekali menoleh ke belakang dengan cemas. Ia harap semua berjalan sesuai cerita yang ia baca karena sekarang setelah teringat tatapan Vermouth yang aneh itu, Gina tak bisa tidak berpikir bahwa keberadaannya di kereta ini bisa saja mengubah jalan cerita.
Ran dan Agasa pergi mencari Sera, Ai, dan Conan setelah menyadari bahwa Kogoro tidak bersama mereka. Gina dan teman-temannya tinggal bersama Sonoko dan Kogoro, berdesak-desakan dengan penumpang lain di tengah-tengah kepulan asap kebakaran palsu. Setelah beberapa saat, tiba-tiba kereta bergoyang tidak wajar dan terdengar suara ledakan keras yang membuat jantung Gina lagi-lagi seolah melompat. Tak lama kemudian terjadi kehebohan setelah entah bagaimana beberapa orang berhasil menyadari bahwa ada gerbong yang putus dari rangkaian kereta dan meledak. Suasana dalam kereta berubah jadi tak terkendali sehingga para kondektur harus bekerja keras menenangkan para penumpang. Di tengah-tengah kekacauan itu, Ran kembali bersama Sera dan Agasa kembali bersama Ai di punggungnya, diikuti oleh Conan di belakang mereka. Gina menghela napas lega ketika melihat kedatangan mereka. Teman-temannya juga tampak lega.
Karena ledakan itu, kereta harus berhenti di stasiun terdekat untuk menjalani pemeriksaan. Semua penumpang harus turun dari kereta. Gina sama sekali tak keberatan dengan keputusan itu. Ia justru merasa lega karena itu artinya ia bisa menghirup udara segar dan bebas dari segala ketegangan dalam kereta. Semuanya sudah berakhir. Karena itu lagi-lagi Gina menghela napas lega begitu turun dari kereta. Ia tidak memerhatikan ketika teman-temannya menyatakan keterkejutannya saat mereka tahu bahwa rupanya Ai beristirahat di TKP karena pusing setelah keluar dari toilet. Ia tidak memerhatikan ketika Conan bicara dengan Kaitou KID lewat ponsel. Tapi ia tiba-tiba saja terpaku ketika melihat sosok Bourbon dan Vermouth yang berada agak jauh di depannya, sedang berbisik satu sama lain, membicarakan sesuatu. Gina memerhatikan mereka sampai mereka berpisah. Kemudian tiba-tiba Vermouth berbalik memandang ke belakang dan segera setelah melihat wajahnya, Gina merasa seolah-olah tubuhnya membeku.
Ia tak bisa melihat pandangan mata aktris itu karena terhalang kacamata hitamnya, tapi dari wajahnya, Gina bisa tahu siapa yang sedang diperhatikannya.
Dia tidak memerhatikan Conan. Tidak juga Ai. Dia melihat orang lain.
Dia melihat Gina.
Gina hanya bisa balas menatap wanita itu, nyaris tanpa berkedip. Ia juga tak tahu mengapa ia tak bisa mengalihkan pandangannya atau berpura-pura tidak melihatnya. Setelah entah untuk berapa lama mereka saling bertatapan, Vermouth memalingkan wajah dan berjalan menjauh. Gina menghembuskan napas yang selama ini ditahannya tanpa sadar dan setelah itu, tiba-tiba saja ia merasa lemas dan jatuh terduduk di lantai stasiun, mengagetkan Agasa dan teman-temannya.
"Gina-chan! Kau baik-baik saja?" Ayumi segera menghampirinya dengan cemas, mengulurkan tangannya untuk membantu temannya berdiri. Gina tersenyum lemah padanya sebelum meraih tangannya.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih, Ayumi," katanya pelan sambil kembali berdiri.
"Tapi tanganmu begitu dingin! Kau yakin kau baik-baik saja?"
"Ya. Pembunuhan dan ledakan tadi membuatku takut. Cuma itu."
"Oh, kalau begitu kau tak perlu takut lagi, Gina-san. Kita sudah berada di luar kereta sekarang dan polisi-polisi akan segera melakukan pemeriksaan," hibur Mitsuhiko. Gina hanya tersenyum membalas kata-katanya. Setelah itu perhatian anak-anak teralih pada hal lain, seperti apakah mereka akan melanjutkan perjalanan dengan Bell Tree Express atau kereta lain dan akan seperti apakah pemeriksaan yang akan mereka lalui. Gina tidak bergabung dalam pembicaraan mereka. Ia hanya berdiri diam memandang lantai stasiun, sibuk dengan pikirannya sendiri.
Kenapa Vermouth memandangnya seperti itu? Kenapa?
"This is too much..." Gina mendesah frustasi, sama sekali tidak menyadari tatapan curiga yang dilemparkan temannya yang berkacamata padanya.
TBC
Hai, readers! Maaf udah menunggu lama. Sekarang saya udah balik lagi. Makasih banyak ya udah setia nungguin fic ini update. Makasih udah ngasih review, udah nge-fav dan follow. Saya belum bisa janji bakal update cepet, jadi maafin saya lagi yah?
Anyway, sekarang saya udah update fic ini. Kritik dan saran yang membangun sangat saya harapkan, jadi review please? Terima kasih udah menyempatkan diri untuk membaca!
