Disclaimer: Detektif Conan milik Aoyama Gosho, tapi OC saya punya saya. Fanfic ini dibuat untuk hiburan saya dan pembaca, bukan untuk bikin uang.

CHAPTER 28

"Hei, Conan-kun? Apa yang terjadi pada Gina-san?"

"Kenapa belakangan ini dia sering sekali main ke ruang musik sepulang sekolah?"

"Apakah Gina-chan akan ikut lomba?"

Mitsuhiko, Genta, dan Ayumi bergantian bertanya pada Conan ketika lagi-lagi mereka tidak menemukan Gina di kelas 1-C sepulang sekolah. Teman sekelasnya memberitahu mereka bahwa mungkin Gina sedang berada di ruang musik. Belakangan ini ia sering ke sana, bahkan saat waktu istirahat sekali pun.

"Entahlah, tapi dia tidak terlihat seperti tipe orang yang suka ikut lomba musik," jawab Conan.

"Tapi dia memang aneh belakangan ini," kata Ai. "Dia jadi lebih pendiam dari biasanya, lebih penyendiri. Apa dia sedang punya masalah?"

"Bisa jadi, tapi lupakan dulu soal itu. Bagaimana kalau kita coba ke ruang musik? Kalau dia ada di sana, kita bisa mengajaknya bermain bola bersama kita. Mungkin dia akan menceritakan masalahnya pada kita setelah bermain bersama kita," usul Conan. Anak-anak yang lain setuju. Mereka pun berjalan ke ruang musik. Benar saja, begitu tiba di sana dan mengintip dari balik pintu, mereka melihat Gina ada di dalam ruang musik, sedang duduk memainkan piano dengan pandangan mata muram.

"Hei, dia kelihatan aneh," bisik Genta dari balik pintu.

"Dan lagu ini menyedihkan," komentar Ayumi.

"Apa Gina-san baik-baik saja?" Mitsuhiko berbisik cemas.

"Beethoven, Moonlight Sonata," gumam Ai. "Lagu orang yang sedang patah hati. Kurasa Gina-san tidak baik-baik saja."

"Patah hati?" Mitsuhiko terbelalak tak percaya. "Maksudmu dia ditolak oleh orang yang disukainya?"

"Oh, bukan begitu. Maksudku, karena lagu ini lagu orang yang patah hati, maka orang yang memainkan lagu ini biasanya sedang sedih atau punya masalah," jelas Ai. "Yah, tapi mungkin juga Gina-san ditolak oleh orang yang disukainya, walaupun kupikir dia tidak terlihat seperti orang yang perhatian pada hal-hal seperti itu."

"Hei, apa kalian lupa tujuan kita ke sini?" sela Conan setengah jengkel. "Bukankah kita ke sini untuk mengajaknya bermain bola?"

"Oh, benar juga!" balas Ayumi, lalu dengan segera ia masuk ke ruang musik dan memanggil Gina, membuat gadis kecil asal Inggris itu berhenti memainkan piano dan mengalihkan pandangan pada teman-temannya.

"Gina-chan, ayo bermain bola di taman bersama kami!" ajak Ayumi riang.

"Jika berenam, kita bisa bermain 3 lawan 3," kata Mitsuhiko.

Gina memandang teman-temannya sesaat sebelum akhirnya ia menggeleng.

"Maaf, aku tak bisa," tolaknya halus. "Aku sedang tidak ingin bermain bola. Maaf, bisa kalian tinggalkan aku sendiri?"

Anak-anak grup detektif cilik kaget mendengar penolakan Gina. Penolakan yang halus namun tegas dan apa adanya. Gina tidak ingin bermain bersama mereka dan lebih-lebih meminta untuk ditinggalkan sendiri? Hal ini baru bagi mereka. Tidak biasanya Gina seperti ini. Sekarang anak-anak grup detektif cilik yakin sekali kalau ada yang salah dengan Gina.

"Gina-chan, kau baik-baik saja?" Ayumi bertanya dengan cemas.

"Ya. Memang kenapa, Ayumi?" Gina tersenyum pada Ayumi, senyum yang hampir-hampir tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Senyum yang dingin, yang mengingatkan Conan pada senyum poker face KID serta senyum misterius Vermouth. Gina sedang memasang topeng di wajahnya, tidak mengizinkan siapa pun membaca dirinya.

Gi-Gina-chan, apakah kau marah pada kami?" tanya Ayumi, kali ini kecemasannya sudah bercampur dengan ketakutan.

Gina mengangkat alis dengan heran. "Marah? Tentu saja tidak. Kenapa aku harus marah pada kalian?" kemudian ia tersenyum lagi pada Ayumi, kali ini dengan senyum sungguhan, senyum yang lembut, bukan senyum yang dingin. "Aku tidak marah. Sungguh. Aku hanya perlu waktu untuk diriku sendiri, oke? Makanya, aku ingin kalian meninggalkanku sendiri."

"Ta-tapi apa kau tidak apa-apa? Kau aneh sekali belakangan ini," kata Mitsuhiko.

"Begitu?" Gina hanya tersenyum ringan, lalu ia berjalan ke pintu ruang musik, membukanya, kemudian memandang teman-temannya lagi, kali ini dengan senyum memaksa. "Please?"

"Oi, kau benar-benar mengusir kami?" Conan menatap Gina setengah jengkel setengah tak percaya.

"How rude. Aku meminta kalian untuk meninggalkanku sendiri, bukan mengusir. So please?" kata Gina lagi tanpa menghilangkan senyum memaksanya.

Conan mendesah dan Ai hanya mengangkat bahu sementara anak-anak yang lain masih kebingungan.

"Baiklah, kami akan pergi," kata Conan akhirnya, "tapi kau bisa cerita pada kami kalau kau punya masalah, oke?"

Gina mengangguk-angguk paham, lalu lagi-lagi mengisyaratkan teman-temannya untuk keluar. Setelah mereka semua sudah keluar, Gina hendak menutup pintu ruangan, tapi sebelum itu Ayumi buru-buru berbalik masuk.

"C-cake!" serunya terburu-buru. "Gina-chan, Profesor sudah bilang kalau hari ini kita akan makan cake di rumahnya. Kau akan datang, kan?"

Gina mengerjapkan kedua matanya sesaat, lalu mengangguk. "Ya, aku akan menyusul nanti. Aku tak mau jatahku dimakan Genta. Ai juga takkan suka jika Profesor menghabiskan jatahku, kan?" katanya sambil nyengir pada Genta dan Ai.

"Dasar pelit!" sahut Genta jengkel sementara Ai hanya balas nyengir.

"Kalau begitu kami tunggu kau di rumah Profesor. Jangan lupa, ya!" kata Ayumi dengan riang, lalu ia pun pergi bersama yang lain keluar dari ruang musik. Setelah teman-temannya pergi, Gina menutup pintu ruangan dan kembali duduk di depan piano, memainkannya lagi. Ia tidak menyadari teman-temannya kembali lagi dan mengintip sesaat dari balik pintu.

"Chopin, Funeral March," gumam Ai ketika ia telah mengenali lagu yang kini dimainkan Gina. "Menurutmu apa yang membuat anak umur 7 tahun memainkan lagu pemakaman sendirian seperti itu, Edogawa-kun?"

"La-lagu pemakaman?" Genta memandang Ai dengan kaget, begitu juga dengan Mitsuhiko dan Ayumi.

"Entahlah. Mungkin kematian keluarganya atau temannya?" balas Conan sambil memandang Gina dari balik pintu dengan serius. "Tapi orang tuanya meninggal belum lama ini, jadi tidak mungkin dia sedang memperingati hari kematian orang tuanya."

"Jangan-jangan dia sudah ingat peristiwa kecelakaan yang menewaskan orang tuanya?" terka Mitsuhiko. "Mungkinkah karena itu dia memainkan lagu-lagu sedih seperti kali ini?"

"Mungkin," balas Conan lagi. "Ayolah, kita pergi. Gina tidak ingin diganggu. Lagi pula, bukankah kita ingin bermain bola?"

Akhinya grup detektif cilik benar-benar pergi meninggalkan ruang musik, meninggalkan Gina bermain sendirian di sana meskipun ada perasaan tidak enak di hati mereka, terlebih Conan. Ia sadar Gina sudah menunjukkan keanehannya sejak kasus Mystery Train. Sejak hari itu, semakin hari gadis itu menjadi semakin pendiam, semakin jarang bermain bersama mereka, dan semakin sering mengunjungi ruang musik, memainkan lagu-lagu bernada melankolis. Kalau intuisi detektifnya benar, keanehan Gina ada hubungannya dengan kasus Mystery Train dan mungkin saja bahkan ada hubungannya dengan organisasi hitam.

Mungkin saja ingatan gadis itu benar-benar telah kembali, ingatan yang tidak menyenangkan yang mampu membuatnya berubah hingga seperti sekarang.

~o0o~

Gina menghentikan jari-jemarinya. Ia mendesah. Ia merasa payah. Payah sekali. Ia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, tidak bisa menenangkan dirinya sendiri, dan akhirnya malah membuat teman-temannya mencemaskannya. Ia bisa menyembunyikan masalahnya dari orang lain, tapi ia masih tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa ia punya masalah. Anak-anak itu tahu. Mereka tahu kalau Gina punya masalah.

Tapi ini bukan masalah yang bisa dimengerti anak-anak, batin Gina muram. Bukan juga masalah yang bisa ia ceritakan dengan mudah pada pamannya. Juga bukan masalah yang bisa ia ceritakan pada Ai dan Conan.

Sejak kembali dari perjalanan Mystery Train, Gina kembali rajin membuka-buka benda-benda peninggalan ibunya. Sejak Vermouth memandangnya dengan tidak biasa, Gina menjadi takut. Ia takut hal itu ada hubungannya dengan Erika dan prototype Moriarty. Ia mencari-cari apa pun yang berhubungan dengan prototype itu, yang mungkin saja terlewat dari perhatiannya selama ini, dan ternyata ia benar. Di antara kertas-kertas coretan Erika di Inggris yang disimpan Ken setelah ia meninggal, Gina menemukan beberapa coretan yang seolah-olah berhubungan dengan Moriarty. Ketika menerima coretan-coretan itu dari Ken, Gina mulanya tak memahaminya karena saat itu ia belum membaca laporan tentang prototype Moriarty, tapi sekarang keadaannya lain.

Erika mengumpulkan teori-teori dan membuat bermacam-macam hipotesis dalam coretan-coretan itu. Semua itu Gina simpulkan sebagai kelanjutan penelitian prototype Moriarty. Erika ingin membuat semacam penawar Moriarty, jelas terbaca dari semua coretan-coretannya.

Gina mencari lagi dengan tekun saat itu, siapa tahu masih ada berkas-berkas coretan Erika yang berhubungan dengan Moriarty, namun ia tidak menemukannya. Ia jadi ragu jangan-jangan di Indonesia masih ada barang-barang Erika yang berhubungan dengan Moriarty namun tidak disadarinya ketika ia pergi ke sana.

Setelah penemuan coretan itu, mau tak mau Gina jadi yakin bahwa entah bagaimana Erika terlibat dengan organisasi hitam, bahwa mungkin saja saat itu Vermouth memberikannya tatapan aneh karena wanita itu benar-benar mengenalnya. Mungkin saja Vermouth mengenal Erika. Mungkin saja Moriarty adalah APTX.

Tapi Erika tidak bekerja dengan organisasi hitam. Erika seharusnya tidak pernah bekerja dengan mereka. Jadi bagaimana mungkin ia bisa mengetahui APTX jika APTX dan Moriarty adalah benda yang sama? pikir Gina saat itu. Ia bingung. Tapi kemudian sebuah pemikiran lain terbersit di kepalanya, mengalihkannya dari pertanyaan itu.

Erika ingin membuat semacam penawar Moriarty, tapi ia meninggal sebelum penelitian itu selesai. Kelihatannya malah ia meninggal sebelum penelitian itu mulai, mengingat Gina hanya bisa menemukan coretan-coretan teori dan hipotesis tanpa sedikit pun formula, tanpa sedikit pun tabel-tabel dan grafik-grafik hasil percobaan.

Prototype Moriarty adalah senjata mengerikan yang bisa membunuh tanpa meninggalkan jejak dan Erika tewas sebelum berhasil menemukan penawarnya.

Erika dan suaminya meninggal karena kecelakaan mobil, lebih tepatnya tabrakan yang terjadi antara mobil mereka dengan sebuah truk. Erika dan Abizar tewas di tempat, sementara Gina ditemukan dan dibawa ke rumah sakit dalam keadaan kritis.

Kecelakaan. Mereka bilang hal itu adalah kecelakaan. Tapi Erika tewas ketika baru saja ingin membuat penawar Moriarty.

Apa ini hanya kebetulan?

Kebetulankah Erika meninggal tepat saat ia hendak membuat penawar Moriarty? Kebetulankah Vermouth memberikan pandangan mencurigakan itu pada Gina?

Pada akhirnya Gina tidak bisa mengusir ide buruk bahwa ibunya tewas dibunuh, dibunuh karena tahu tentang Moriarty dan terlebih lagi karena ingin membuat penawarnya. Dan pelakunya adalah orang cerdik yang bisa menyamarkan pembunuhan itu menjadi sebuah kecelakaan lalu lintas entah dengan cara seperti apa.

Sungguh, hati dan pikiran Gina tak bisa tenang sejak ide itu muncul di kepalanya. Tanpa sadar ia berubah. Ia jadi lebih pendiam, penyendiri. Ia pun mencari hiburan dengan bermain piano di ruang musik, tapi musik yang muncul di kepalanya selalu musik-musik melankolis karena suasana hatinya yang belakangan ini selalu melankolis.

Gina tahu ia takkan bisa berhenti memikirkan kemungkinan pembunuhan itu sampai ia punya bukti yang jelas. Tapi bagaimana ia bisa mendapatkan bukti yang jelas bahwa ibu dan ayahnya tidak mati dibunuh gara-gara Moriarty? Bagaimana ia bisa benar-benar yakin bahwa Vermouth memang mengenal dirinya serta ayah dan ibunya? Gina ingin kepastian, tapi ia tak tahu cara mendapatkannya dan hal itu membuatnya merasa tertekan.

Gina tambah depresi ketika memikirkan kemungkinan pembunuhan kedua orang tuanya lebih jauh. Jika mereka memang dibunuh karena Moriarty, bukankah itu artinya ada kemungkinan saat ini nyawa Gina dan Ken yang adalah keluarga dekat mereka berada dalam bahaya?

Gina membanting keras-keras jari-jemarinya di atas tuts-tuts piano, membuat ruangan itu dipenuhi suara depresinya. Kalau saja ruangan itu tidak tertutup rapat, orang-orang mungkin sudah berlarian datang ke ruang musik karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan di sana.

Ah, betapa terkadang Gina ingin menjadi orang yang berbeda, yang tidak penuh dengan perhitungan seperti dirinya saat ini. Betapa ia ingin menjadi Gina yang polos yang tidak akan sedikit pun mencurigai kematian kedua orang tuanya. Dengan begitu ia tidak perlu merasa tertekan. Ia tidak perlu depresi.

Tapi kalau aku sepolos itu, kalau aku tidak penuh perhitungan, apa yang akan terjadi pada Gina?

Lana berpikir dan ia hanya menemukan satu jawaban.

Gina akan mati.

Jika orang tuanya memang dibunuh dan suatu saat pembunuh orang tuanya juga memutuskan untuk membunuhnya, Gina takkan berkutik. Gina akan mati begitu saja, tanpa tahu mengapa ia mati, tanpa tahu mengapa ada yang ingin membunuhnya, tanpa bisa memberikan perlawanan sedikit pun karena ia tidak tahu apa-apa. Rahasia Erika akan terkubur selamanya, padahal rahasianya bisa menjadi bukti bagi pembunuhan yang dialaminya jika ternyata ia memang tewas dibunuh. Dan penjahat-penjahat itu bisa bebas. Sungguh tidak adil.

Tapi di sisi lain, ada kalanya orang dibunuh karena tahu terlalu banyak. Ada kalanya orang-orang disiksa karena mereka lebih baik dari orang-orang yang menyiksa mereka. Ada kalanya orang dibunuh karena terlalu pintar. Ya, seperti Lana. Lana yang ditindas karena ia lebih baik dari teman-temannya. Lana yang dibunuh karena ia lebih pintar dari pembunuhnya.

Itu artinya, ada kemungkinan Gina akan mati karena tahu terlalu banyak selama Lana-lah yang menghuni tubuhnya. Lana jadi tak yakin harus bagaimana ia menjaga tubuh Gina yang kini digunakannya.

Gina tersadar dari lamunannya ketika tiba-tiba ia mendengar suara dari perutnya. Gadis itu tersenyum tipis. Ia bangkit dari bangku piano dan mengambil tasnya yang tergeletak di bawah piano, lalu berjalan keluar dari ruang musik.

Sudah waktunya makan cake di rumah Profesor Agasa.

~o0o~

"Lho? Gina-kun, kau sendirian?" Agasa tampak terkejut ketika melihat Gina datang ke rumahnya seorang diri.

"Ya. Yang lain sedang bermain bola. Aku tidak ikut," jawab Gina. "Jadi mereka belum datang, Profesor?"

"Begitulah. Sebenarnya cake-nya juga belum datang," balas Agasa. "Masuklah dulu, Gina-kun. Mungkin sebentar lagi teman-temanmu tiba."

Gina masuk ke rumah Profesor Agasa dan meletakkan ranselnya di sofa.

"Tak kusangka mereka main sampai selama ini. Bukankah cake-nya dijadwalkan datang sebentar lagi, Profesor?" kata Gina heran.

"Ya, tapi tak apa-apa. Mungkin mereka hanya lupa waktu karena bermain," balas Agasa. "Omong-omong, Gina-kun, mengapa kau tidak bermain bersama mereka?"

"Aku hanya sedang tidak ingin main bola," jawab Gina sambil mengangkat bahu. "Profesor, aku bantu siapkan piring-piringnya, ya? Jadi begitu cake tiba, kita bisa langsung memotong dan membaginya."

Agasa menerima bantuan Gina dengan senang hati. Dengan segera Gina pun mengambil piring-piring beserta sendok dan garpu dari lemari peralatan makan Agasa dan mengumpulkannya di meja makan. Setelah itu, karena masih ada waktu beberapa menit sebelum cake tiba, Gina memilih membantu Agasa yang sedang menggoreng donat sambil bercakap-cakap dengan profesor itu tentang toko kue di Yokohama tempat cake pesanan mereka dijual.

Anak-anak grup detektif cilik belum juga datang meskipun jadwal kedatangan cake hanya tinggal tak kurang dari 5 menit lagi. Gina memutuskan untuk memantau depan rumah lewat jendela di lantai atas karena ia merasa sedikit cemas. Meskipun Agasa bilang mungkin saja mereka lupa karena keasyikan main, Gina ragu mereka yang bersama Genta bisa melupakan cake. Genta tidak pernah lupa jika Profesor menjanjikannya makanan.

Tak lama kemudian, Gina melihat truk pengantar barang tiba di depan rumah Agasa. Gadis itu tersenyum, mengira cake pesanan mereka telah tiba, tapi ia masih merasa cemas teringat teman-temannya yang belum datang. Gina hanya memerhatikan, yakin betul petugas pengantar akan memencet bel di pagar Agasa, tapi rupanya dugaannya salah. Petugas itu malah berjalan ke arah kediaman Kudo sambil membawa sebuah paket. Sekarang Gina mengernyit. Apakah paket itu untuk Subaru? Tapi tak mungkin, bukan? Subaru sebenarnya adalah Shuichi Akai yang menyamar. Subaru hanya tokoh fiktif. Siapa yang mau mengirim paket padanya jika bukan orang-orang yang tahu identitasnya seperti Conan, Yukiko, Yusaku, atau Mr. Black yang bos FBI itu? Atau mungkin paket itu sebenarnya untuk Yukiko atau Yusaku? Atau bahkan mungkin juga untuk Shinichi?

Setelah beberapa saat memerhatikan, Gina melihat petugas yang tadi mengantar barang ke kediaman Kudo kembali lagi ke truk sambil membawa bungkusan kecil. Gina lagi-lagi mengernyit. Subaru menitipkan barang pada petugas itu? Barang apa yang sekecil itu? Untuk siapa?

Tak sampai semenit kemudian, Gina menyadari ada yang tidak beres dengan truk pengantar barang itu. Kedua petugas tampak berdiri di depan pintu box-nya yang terbuka, tampak berbicara tanpa menoleh satu sama lain—tidak, mengapa kelihatannya mereka bicara pada sesuatu di dalam box itu?

Perhatian Gina teralih ketika ia melihat sebuah mobil putih masuk ke jalan blok 22 dan berhenti di belakang truk itu. Gina terkejut ketika melihat orang yang keluar dari mobil itu.

Amuro!

Sekarang Gina yakin ada yang tidak beres, jadi ia memanggil Profesor dan menyuruhnya melihat dari jendela. Gina berjengit ketika menyaksikan Amuro meninju perut salah satu pengantar barang. Ketika Agasa telah bergabung dengannya di lantai atas, mereka berdua sama-sama melihat anak-anak grup detektif cilik yang lain keluar dari box truk.

"Apa-apaan?" gumam Gina terkejut. "Apa yang terjadi? Apa mereka terlibat kasus lagi?"

"Ke-kelihatannya begitu... Kalau kuingat-ingat lagi, tadi Conan-kun sempat meneleponku, tapi panggilannya terputus tiba-tiba," Profesor menjawab gugup.

"Eeehh? Kalau begitu bukankah kita harus ke sana dan membantu mereka?" tanya Gina kaget.

"Kurasa tidak. Di sana sudah ada Amuro-san."

"Hmm..." Gina mengangguk-angguk, kemudian ia bertanya lagi, "apa perlu kita mengundangnya makan cake?"

"Apa?" Profesor kelihatan terkejut dengan pertanyaan itu. "Oh, tidak. Kurasa tidak perlu."

Gina bisa mengerti mengapa Agasa menolak kehadiran Amuro di rumahnya. Profesor itu jelas takkan menerima kunjungan anggota organisasi hitam di rumahnya, tidak ketika Ai juga tinggal bersamanya, tapi rasanya justru akan aneh kalau Gina tidak berpikir bahwa Amuro berhak diundang makan cake setelah menolong teman-temannya.

"Kenapa tidak, Profesor? Amuro-niisan sudah menolong Conan dan yang lain."

"Amuro-san tampaknya terburu-buru," balas Agasa cepat. "Lihat, dia langsung pergi, kan?"

Gina melihat lagi ke luar jendela. Memang benar, Amuro sudah masuk lagi ke mobilnya dan meninggalkan rumah Agasa. Tak lama kemudian tiba-tiba terdengar dering bel. Teman-temannya meminta Agasa membukakan pintu untuk mereka. Hanya dalam hitungan detik, anak-anak sudah menghambur ke dalam rumah Agasa sambil membawa bungkusan paket berisi cake pesanan mereka. Tapi tentu saja, sebelum makan mereka harus menunggu sampai polisi tiba dan meringkus para petugas pengantar barang yang ternyata telah membunuh seorang pria dan menyembunyikannya dalam box truk mereka. Setelah itu, barulah mereka bisa dengan lega membuka bungkusan cake, namun betapa kecewanya mereka ketika melihat cake mereka sudah hancur. Pada akhirnya mereka tetap memakan cake itu karena tidak mungkin mereka membuang begitu saja cake mahal yang sudah susah-susah dipesan.

"Sepertinya aku beruntung karena tidak ikut main dengan kalian, ya," kata Gina pada teman-temannya di sela-sela kegiatan makan mereka setelah ia mendengarkan cerita tentang kasus yang baru saja mereka alami.

"Ya, kau memang beruntung. Kau tak perlu kedinginan dalam box itu, tak perlu melihat mayat, dan tak perlu nyaris dibunuh oleh orang-orang jahat itu," balas Genta dengan jengkel.

"Tapi aku heran. Kenapa tadi Ai memakai jaket Mitsuhiko?"

Seketika ekspresi wajah teman-temannya memerah, membuat Gina memandang mereka dengan bingung.

"I-itu karena..."

"Ka-karena Ai-chan—"

"Karena pakaian Haibara dirusak oleh kucing sampai tak bersisa," jawab Conan lancar. Hanya dia yang tidak tampak malu-malu di antara anak-anak grup detektif cilik. Gina melihat wajah Ai sudah membara dan kedua matanya dengan garang menatap Conan yang tidak menyadarinya. Melihat pemandangan itu membuat Gina ingin tertawa, tapi ia tahan tawanya karena masih ada yang tidak dipahaminya. Bagaimana bisa kucing merusak pakaian Ai sampai tak bersisa? Ketika ia menanyakan hal itu, Conan langsung menjawab lagi dengan lancar.

"Karena pakaiannya rajutan tangan. Benangnya terurai oleh cakar kucing itu dan tersangkut di suatu tempat, jadi ketika truk pengantar barang itu berjalan—"

"EDOGAWA-KUN!" Kali ini Ai benar-benar menegur Conan dengan suara dan tatapan garangnya, membuat Conan berhenti bicara dengan kaget dan ketakutan. Sementara itu, Gina yang telah mengerti maksud Conan meskipun detektif itu tidak menjelaskan sampai tuntas hanya bisa tercengang.

"Oh." Gadis itu benar-benar tak tahu harus mengucapkan apa lagi. "Oh."

Sekarang tatapan garang Ai berpindah padanya. Gina hanya bisa balas memandangnya sambil tersenyum salah tingkah.

"Maaf."

Ai mengerjapkan kedua matanya beberapa saat, tampak terpaku mendengar ucapan Gina. Ekspresinya perlahan-lahan melunak. Pada akhirnya ia pun hanya bisa mendesah sebelum kembali menyantap cake-nya dalam diam. Suasana yang kaku dan tidak menyenangkan itu pun berakhir. Sementara itu, Gina bertanya-tanya apakah kasus yang dihadapi teman-temannya kali ini ada dalam manga. Ia bertanya-tanya apakah kejadian memalukan yang dialami Ai itu benar-benar ada dalam manga dan jika memang begitu, ia jadi merasa sangat kasihan pada Ai.

TBC


Hai, readers! Saya balik lagi! Haduh, lama juga saya ngga nulis fanfic ini. Tapi tenang, pembaca, sekarang saya sudah update! Terima kasih sudah bersedia menunggu selama ini yaa... dan maaf karena sepertinya saya akan membuat pembaca menunggu lagi. Maaaaf...

Kritik dan saran yang membangun selalu saya harapkan, jadi jangan lupa review, ya! Terima kasih sudah membaca!