fake boyfriend © heureuxuem

kim woojin × bang chan [woochan]

romance-drama

rate-T

[chapter one]

...

chan berjalan sambil menggumam kesal. minggu ini ia mendapat giliran untuk berbelanja dan sialnya kulkas di apartemen yang ia huni bersama woojin hampir kosong melompong. ia dan woojin sudah sepakat untuk membagi jadwal belanja dan memasak dan siapapun yang mendapat giliran tidak boleh meminta yang lain untuk membantu. karena itulah kini cgan sedang sibuk menetralkan napasnya setelah menaiki tangga hingga lantai tiga, tempat unit apartemennya, sambil membawa dua plastik belanjaan super berat. sementara woojin masih tidur di apartemen. mungkin pria itu baru akan bangun siang nanti, mengingat semalam ia begadang untuk menyelesaikan proyek baru di kantornya.

pria dua puluh enam tahun itu sudah hampir sampai di apartemen, hanya tinggal melewati tiga unit apartemen lain. tapi tiba-tiba pintu di dekatnya terbuka. chan hampir menabrak pintu itu jika saja ia tak berhenti tepat waktu. "oh, maaf apa kau terkena pintuku?" seorang wanita cantik keluar dari balik pintu yang baru saja terbuka itu dengan raut khawatir. chan mengingat wanita itu sebagai tetangga baru di gedung apartemen yang ia tempati, namanya jihyo.

"ah jihyo, tidak kok. aku berhenti tepat waktu." jihyo tampak menghela napas lega mendnwgarnya. wanita itu lantas menawarkan pada chan untuk minum teh di apartemennya. "kau sepertinya lelah sekali, mau mampir sekalian minum teh bersama?" "ah, tidak usah. unit apartemenku sudah dekat. aku duluan ya." chan melempar senyum dan bersiap untuk melanjutkan pejalanan. sejujurnya tangannya sudah pegal, ia ingin segera sampai di kamarnya dan menendang woojin agar manusia beruang itu bangun dan sedikit memberi simpati padanya.

sayangnya rencana chan harus ditunda karena jihyo menarik kaos yang ia kenakan. "sebenarnya, ada yang ingin ku katakan padamu. jika kau tak keberatan, bolehkah kita mengobrol? aku takkan melakukan apapun, dan jika kau tak percaya padaku kita bisa mengobrol di luar saja. kamera pengaw-" "baiklah, satu cangkir teh takkan menyakitkan." chan tersenyum, begitu pula jihyo yang segera mempersilakan chan untuk masuk. saat sang pemilik apartemen sibuk menyeduh teh, chan meletakkan belanjaannya di dekat meja makan. pria itu mengagumi kamar jihyo yang penuh pernak-pernik lucu, berbeda dengan kamar miliknya sendiri yang tampak biasa saja.

"silakan dinikmati." chan menoleh saat mendengar suara jihyo. wanita itu meletakkan satu cangkir teh beraroma lembut di hadapan chan. setelah berterima kasih, chan segera menyesap teh hangat itu lantas memuji jihyo. sang wanita tersenyum sebelum turut menyesap teh milikmya sendiri.

"kau tinggal sendiri?" chan memulai obrolan. ia bukan orang yang bisa berlama-lama berdiam diri saat berhadapan dengan orang lain. "tidak, aku tinggal bersama sepupuku. tapi ia sedang ada urusan pekerjaan hingga minggu depan." chan mengangguk lantas meminum kembali tehnya hingga tersisa setengah cangkir. "oh ya, apa yang ingin kau katakan padaku?"

chan bisa melihat perubahan ekspresi jihyo. wanita itu menunduk, ia tampak gugup dan sekilas chan bisa melihat rona merah muda di pipi jihyo. mendadak perasaan chan tak enak.

"aku ... umm, maaf, tapi ... aku menyukaimu." chan bersyukur ia tak tengah meminum tehnya. jika iya, bisa dipastikan chan akan tersedak, atau justru menyemburkan cairan coklat kemerahan itu ke wajah jihyo. "maaf, sungguh maafkan aku, tapi apakah aku punya kesempatan untuk menjadi kekasihmu?" hal yang bisa chan lakukan kini hanya menatap jihyo dengan mata terbelalak tanpa sanggup menjawab. ia baru bertemu jihyo tiga kali, wanita itu bahkan belum genap dua minggu pindah menjadi tetangganya.

"ugh, maaf, pasti memalukan sekali mendengar seorang wnaita menyatakan perasaannya begini." raut jihyo tampak menyendu, chan mendadak tak enak hati. "bukan, bukan begitu. hanya saja, aku tidak bisa. maaf." "kenapa?" chan tak mengira akan mendengengar pertanyaan ini dari jihyo. pria itu menelan ludahnya kasar. sejujurnya ia tak tahu alasan apa yang bisa diberikan pada jihyo. ia hanya sedang berada dalam fase malas menjalin hubungan, chan hanya ingin bekerja san menikmati hidupnya sendiri. tapi melihat betapa terang binar mata jihyo, chan merasa ia tak bisa membual mengenai betapa menyenangkannya hidup sendiri tanpa pasangan.

"aku ... umm, aku ..." chan berpikir keras. ayolah, ayo, berikan alasan yang manusiawi. jangan sampai menyakiti jihyo. chan bergumam dalam hati. tapi tatap mata jihyo seolah membuatnya tak dapat berpikir jernih. dan entah darimana datangnya, satu kalimat meluncur.

"aku sudah punya kekasih."

bohong. chan mengumpati dirinya sendiri. tapi saat melihat tak ada raut sendu di wajah jihyo ia bernapas lega. "sungguh? bolehkah aku bertemu dengan dia?" walau kelegaannya takkan bertahan lama. chan kembali mengumpat. satu kebohongan memang harus terus ditutup dengan kebohongan-kebohongan lain.

"kenapa kau ingin bertemu dengan kekasihku?" "aku ingin melihat seperti apa wanita yang berhasil meluluhkan hatimu, barangkali aku bisa mencuri sedikit hal untuk membuatmu berpaling." chan ingin menangis rasanya. wanita ini gigih sekali. pria itu kembali memutar otak. "kau tak bisa bertemu dengan wanita itu." "kenapa?" nada jihyo terkesan merajuk dan chan tak suka karena ia semakin merasa bersalah.

"umm ... karena ... itu ... umm, sebenarnya, kekasihku ... kekasihku laki-laki."

chan ingin melempar dirinya dari jendela jihyo. saat ia melihat kembali wanita di hadapannya, jihyo kini tengah terbelalak. chan buru-buru menambahkan. "tolong jangan katakan pada siapapun. ini sangat memalukan, bukan?" chan menunduk sambil menggigit bibirnya, ia rasa dirinya sudah gila sekarang. mendadak ia merasakan tangannya ditepuk oleh jihyo, ia mendongak dan melihat jihyo menggeleng. "aku takkan mengatakan pada siapapun. dan ... ini bukan hal yang memalukan. love is love, chan." pria itu tak tahu harus bersyukur, tertawa keras, atau justru menangis.

"bolehkah aku bertemu dengan kekasihmu?" masih saja?! "bukan seperti yang kau pikir. aku tak ingin merebutmu atau apa. tapi melihatmu yang kesulitan mengungkaokan tentang dirimu dan kekasihmu membuatku ingin bertemu dengannya, aku ingin menunjukkan padanya, padamu juga, bahwa ada bagian dari dunia ini yang menghargai cinta. jadi boleh ya? atau dia sedang jauh jadi kau tak bis-" "tidak kok, nanti siang mampirlah makan siang di apartemenku. akan kukenalkan pada kekasihku." mata jihyo berbinar. wanita itu mengucapkan terima kasih pada jihyo lantas berjanji untuk membawakan chan dan kekasihnya teh sebagai teman mengobrol nanti.

chan keluar dari apartemen jihyo sambil mengeha napas dalam dan panjang. "astaga. apa yang sudah aku lakukan?"

...

woojin memukul keras-keras kepala chan. "aduh! sakit, woojin!" "aku harusnya tidak memukul kepalamu, tapi mendorongmu dari tangga apartemen. kau barusaja melakukan apa?!" chan mengkerut takut. woojin tak pernah marah, jarang sekali, ia cenderung mengacuhkan keadaan sekitar, karenanya chan sangat senang tinggal bersama woojin yang sama sekali tak mengganggu atauapun terganggu oleh dirinya.

"maaf ... maafkan aku! tapi tolong bantu aku kali ini!" chan berlutut di hadapan woojin. pria yang masih duduk di tepi ranjang itu lantas meminta chan bangun. "kenapa aku? kenapa kau tidak mengarang nama dan tempat tinggal kekasihmu saja? kenapa tidak mengatakan pada jihyo jika kekasihmu tinggal dikutub utara? kenap-" "karena aku tahu kau tak masalah dengan isu ini. iya kan, woojin? kau bukan orang yang akan menghakimi perasaan orang lain." woojin terdiam. melihatnya chan menggunakan kesempatan ini untuk menambahkan penjelasan. "lagipula akan lebih masuk akal, bukan? jika aku gay, mana mungkin aku tinggal sekamar dengan pria lain? jika aku jatuh cinta pada pria itu bagaiman-" "tidak juga. kau gay pun tidak akan selalu jatuh cinta pada pria asal yang kau temui. ah, kenapa aku harus terjebak dalam hal seperti ini? baiklah, kau siapkan saja karangan tentang hubungan kita lalu jelaskan padaku. aku mandi dulu."

chan hanya melongo melihat woojin yang kini beranjak menuju kamar mandi. "oh! kau setuju? kau setuju kan?! hei wooj-" "iya iya, aku setuju. sekarang siapkan saja kisah khayalan soal hubungan kita. aku mandi." dari balik pintu kamar mandi yang tertutup, woojin bisa mendengar sorak chan.

woojin napas panjang dan menepuk dahinya. "astaga."

[tbc]