fake boyfriend © heureuxeum

kim woojin × bang chan [woochan]

romance-drama

rate-T

[chapter two]

...

"baiklah, jadi kita jatuh cinta setelah menjadi teman sekamar. kau yang baru saja pahat hati bertemu denganku yang kesepian. setelah setahun tinggal sekamar kita akhirnya saling tahu bahwa kita sama-sama gay lalu memutuskan berkencan diam-diam, begitu?" woojin mengulangi penjelasan singkat yang chan berikan sebelumnya. chan mengangguk sambil mengangkat ibu jarinya. "bagus. kau memang cepat paham situasi." woojin hanya mengangkat bahu acuh.

"jika kita berkencan setelah satu tahun tinggal bersama, itu artinya kita sudah berkencan selama lebih dari dua tahun? umm ... perlukah kita mengatur tanggal pasti?" "tak usah. katakan saja kita berkencan sejak musim semi dua tahun lalu. cinta kita bersemi bersama merekahnya cherry blossom." chan membuat pose bunga dengan tangannya, melihatmya membuat woojin ingin mendorong jauh-jauh wajah chan dari hadapannya. tapi hal itu tak sempat dilakukan karena ketukan lembut terdengar dari pintu.

woojin dan chan mendadak panik tanpa sebab. woojin segera mendorong chan, memaksanya untuk membuka pintu, sementara ia membereskan beberapa kertas yang mereka gunakan untuk menulis skenario percintaan mereka. begitu pintu terbuka, chan bertemu dengan wajah cerah jihyo. wanita itu memamerkan senyum sebelum menunjukkan botol besar yang ia duga berisi teh, serta satu kotak yang entah apa isinya.

"masuklah." chan memberi jalan pada jihyo. setelahnya ia bergerak menuju kamar, mengetuknya pelan sambil meminta woojin untuk segera keluar. "sayang, jihyo sudah datang. bisakah kau segera keluar?" chan tahu, woojin di dalam kamar pasti sudah merencanakan pembunuhan padanya karena sudah memanggilnya dengan sebutan 'sayang', tapi chan tak peduli. ia harus melakukannya agar jihyo percaya pada perkataannya pagi tadi.

woojin keluar kamar sambil memberikan senyum pada jihyo, tapi ia tak melirik chan. pria itu segera mendekat ke meja makan dan duduk di hadapan jihyo. chan mendecih melihat woojin, lantas duduk di sisi pria itu dengan gerakan kasar, bahkan suara gesekan antara kaki kursi dan lantai terdengar begitu memekakkan.

"umm, apa kalian sedang bertengkar?" kedua pria itu lantas menoleh pada jihyo yang tampak khawatir. "apa aku membuat kalian tidak nyaman?" chan dan woojin buru-buru menggeleng. woojin yang tepat berada di hadapan jihyo segera menggapai tangan wanita itu laku menepuknya pelan. "kami tidak bertengkar karenamu, tenang saja. kami memang selalu begini. dan kekasihku memang menyebalkan."

"ah, chan tidak menyebalkan kok. dia baik dan ramah, selain itu dia juga tampーoh, maaf aku tak bermaksud mengatakannya seperti itu." woojin tertawa cukup keras diikuti chan yang kini menempelkan tubuhnya pada woojin. "bukan masalah, aku justru tersanjung. tapi kekasihku juga tak kalah tampan bukan?" "hei sudahlah, sayang. ayo kita makan, chan sudah menyiapkan makanan ini khusus untukmu, teman baru kami."

saat woojin dan chan sibuk mengatur makanan, jihyo mengeluarkan teh buatannya. aroma lembut dari teh hangat itu menyatu dengan aroma kuat dari tumis sayur dan ayam buatan chan. ketiganya makan dengan tenang, sesekali ada lelucon yang terlontar. jihyo tak banyak bertanya soal hubungan chan dan woojin, membuat sepasang kekasih palsu itu menghela napas lega. lewat pukul empat sore, jihyo pamit undur diri. begitu wanita itu menutup pintu, chan dan woojin saling berpandangan canggung.

"a-aku akan membersihkan meja makan. kau mandilah dulu." woojin berlalu setelah bicara. chan hanya menurut, mengambil handuk dan baju ganti lantas melesat menuju kamar mandi. hingga malam menjelang keduanya tak banyak biacara soal kejadian hari itu. mereka terdiam di depan televisi yang tengah menampilkan acara komedi.

lelah dengan sepi yang membelenggu, chan berdehem. "terima kasih. dan maaf menyeretmu di situasi aneh ini." "sudahlah, sudah terlambat untuk membahasnya. lagipula kita hanya perlu berpura-pura di hadapan jihyo kan? kita tak perlu berpura-pura berkencan di luar itu. aku juga sedang senggang untuk mengikuti permainan aneh begini." woojin menyandarkan tubuhnya pada sofa, mengambil remot televisi dan mengganti saluran, mencari berita malam.

"hei chan, tapi bagaimana jika kau tiba-tiba punya kekasih? atau mendadak kau jatuh cinta pada jihyo? dia tampak jujur sekali tertarik padamu, tapi menahan dirinya sendiri karena mengira aku ini sungguh-sungguh kekasihmu." "mudah saja, tinggal katakan bahwa terlalu sulit untuk berkencan diam-diam dan kita memilih berpisah lalu menemukan wanita yang cocok untuk dijadikan kekasih baru. dan untuk jihyo, kurasa cukup sulit karena dia bukan tipeku." woojin tergelak. setelah meletakkan remot televisi, ia menoleh pada chan. "chan, tidak ada yang tahu bagaimana hati akan berubah. dan juga, kau jangan main-main dengan urusan perasaan atau orientasi seksual, nanti kau sendiri yang kena." chan hanya mengangkat bahu acuh. melihatnya chan yang tampak tak peduli, woojin hanya bisa mengela napas lalu mengikuti chan menatap televisi.

"yasudahlah, lagipula urusan ini takkan jadi seburuk itu kan?"

...

"hei chan, aku berangkat duluan ya. jangan lupa kunci pintunya!" woojin berteriak di depan pintu apartemennya pada chan yang masih memasukkan berkas kantornya ke dalam tas. "iya, hati-hati. jangan lupa nanti malam giliranmu memasak!" chan membalas dengan teriakan, setelahnya woojin bergegas pergi. kantornya lebih jahh dari kantor chan, karenanya ia harus berangkat lebih dulu, terlebih jika chan sedang malas datang awal ke kantor.

"oh, selamat pagi woojin." "selamat pagi, jihyo. maaf ya, aku tak bisa mengobrol. aku pergi dulu." woojin segera melambai pada jihyo yang sudah rapi di depan apartemennya. wanita itu terkekeh melihat betapa terburu-burunya woojin. saat hampir menutup pintu apartemennya, jihyo teringat ponselnya yang tertinggal di meja makan, setelah kembali dari mengambil ponsel, jihyo justru dikejutkan dengan kehadiran chan yang tersenyum padanya. "kau menyapa woojin, tapi tak mau menyapaku?" jihyi tertawa sebelum menyapa pria itu. keduanya berjalan bersama menuruni tangga.

"kekasihmu buru-buru sekali." "kekaーah, woojin maksudmu? begitulah dia memang pegawai rajin di kantornya. jika aku sedang tidak malas, terkadang kami akan berangkat bersama. kebetulan kantor kami searah, tapi dia lebih jauh dua blok." jihyo mengangguk-angguk mengerti. saat chan mengajaknya untuk menunggu bersama di halte, jihyo menggeleng. "kantor kita berbeda arah. kurasa memang kau sebaiknya berangkat bersama woojin, kalian memang cocok." setelah mengatakannya, jihyo melambai dan berlalu, menunggu di halte yang berbeda. chan lantas duduk di halte, menunggu bus selanjutnya datang, mendadak ada hal yang ia pikirkan. ponsel di saku ia ambil, pria itu mengirim pesan kepada woojin.

untuk: woojin

pulang kerja nanti mau pulang bersama? aku tunggu di halte dekat kantorku.

woojin baru saja sampai di kantornya saat ponselnya berdering. sebuah pesan masuk dari chan. woojin mengerutkan keningnya melihat pesan yanh dikirim oleh chan. "ada apa dengan anak ini? tumben sekali." woojin segera membalas pesan chan sebelum masuk ke ruangannya.

[tbc]