fake boyfriend © heureuxeum
kim woojin × bang chan [woochan]
romance-drama
rate-T
[chapter three]
...
dari: woojin
oh tumben mengajakku pulang bersama. baiklah, kalau begitu kita mampir makan malam sekalian saja. di dekat kantormu ada restoran baru bukan? aku mau mencobanya.
woojin memasukkan ponselnya kembali lantas membereskan meja kerjanya. baru satu jam ia bekerja, chan kembali menggubunginya. kali ini pria itu hanya membalas untuk menyetujui rencana makan malam woojin. tanpa membalas, woojin meletakkan kembali ponselnya. tapi kali ini ada seulas senyum di bibir pria itu.
menjelang malam, woojin kembali mendapat pesan dari chan. sebuah kabar bahwa pria itu akan selesai bekerja sedikit lebih lama dan meminta woojin menunggunya di halte dekat kantor. woojin terkekeh melihat pesan dari chan yang penuh tanda kesal. bisa ia bayabgkan wajah lelah dan menahan amarah dari kawan sekamarnya itu.
"haruskah aku mentraktirnya hari ini? satu porsi makanan takkan membuatku miskin." woojin membalas pesan chan sebelum membereskan meja kerjanya. pria itu berjalan keluar dari kantor sambil bersenandung. "senang sekali sepertinya." woojin menoleh dan menemukan jeongyeon, salah satu rekan kerjanya. "ah, aku akan mencoba salah satu restoran baru. entahlah rasanya kali ini aku akan makan enak." jeongyeon terkekeh. "kukira kau ada kencan, woojin. kau benar-benar bersemangat soal makanan ya. kalau begitu semoga makan malammu menyenangkan." sebelum pergi, jeongyeon menepuk pundak woojin yang terdiam.
"ah, aku hanya bersemangat untuk makan malam. ya, hanya itu."
...
chan berlari menuju halte begitu selesai bekerja. ia menemukan woojin bersandar pada pilar halte sambil memainkan ponselnya. napas pria itu terengah-engah saat menyapa woojin. begitu mendengar namanya disebut, woojin menoleh. pria itu lantas masukkan kembali ponselnya lantas melambai pada chan.
"sudah lama menunggu?" "yeah, hampir lima belas menit kurasa. tapi tak masalah, aku punya permainan baru di ponsel, kau harus mencobanya." keduanya habiskan waktu untuk bercakap-cakap selama perjalanan. tak sampai sepuluh menit, mereka sudah sampai di restoran yang dituju.
woojin segera memilih menu, begitu juga dengan chan. setelah menyebut menu masing-masing mereka biarkan pelayan pergi untuk siapkan pesanan. woojin menatap wajah chan yang tampak kusut, pria itu tersenyum.
"ada apa? pekerjaan hari ini menyebalkan ya?" chan segera bicara oanjang lebar soal pegawai magang yang mengganggunya terus-menerus, membuatnya tak fokus selama bekerja dan menyebabkan beberapa kesalahan. "mungkin ini terdengar seperti aku menyalahkannya, tapi ... argh, dia benar-benar menyebalkan." woojin terkekeh. jemarinya mengetuk punggung tangan chan. "jangan biarkan hal menyebalkan mengganggu makan malammu, chan. aku traktir hari ini. jadi berhentilah menekuk wajahmu."
raut chan tiba-tiba berbinar. pria itu hampir mengangkat tangannya, tanda memanggil pelayan, jika saja woojin tidak menyela. "tapi hanya pesanan yang sudah kau pesan tadi." chan menoleh dnegan wajah dongkol dan menemukan raut ceria woojin. pria itu menikmati menggangu chan. "ah kau ini, satu pesanan lagi saja. ayolah." woojin terkekeh. "memangnya kau mau pesan apa lagi?" "makanan penutup tentu saja! aku dengar es krim di sini sangat enak, mereka menyajikannya dengan buah-buahan swgar dan wafer. kau yakin tak mau mencoba?" woojin tertawa sejenak sebelum mengangguk pada chan. membiarkan pria itu memesan satu makanan penutup untuk mereka bagi berdua. lagipula hari ini memang jadwalnya memasak, jadi tak ada salahnya mentraktir kawan sekamarnya ini.
sembari menunggu pesanan, keduanya berbincang. membahas hal-hal remeh di sekitar lantas tertawa bersama. restoran itu cukup ramai, membuat tawa keduanya terendam keriuhan di dalam ruangan yang dapat menampung hingga lima puluh orang itu. lirih bisik pelayan yang membawa pesanan memutus percakapan mereka. keduanya lantas sibuk dengan makanan masing-masing.
"kau sungguh kelaparan rupanya. lihat, piringku bahkan masih tersisa sepertiganya, sementara milikmu sudah bersih." woojin tertawa pelan sambil menatap chan yang meneguk air mineralnya dengan rakus. "pertama aku memang sangat lapar, kedua aku ingin menghabiskan makanan penutupnya sendirian." woojin berseru saat melihat chan menjulurkan lidah sambil menarik mangkuk berisi es krim mereka. pria itu mengambil satu sendok besar dan memasukkannya begitu saja, melupakan fakta bahwa es krim itu cukup dingin untuk membuat rongga mulutnya beku. woojin terbahak melihat chan yang sibuk meniup-niupkan es dingin di dalam mulutnya.
"rasakan. itulah akibatnya jika orang serakah." setelah mengucapkan kalimatnya, woojin menarik mangkuk es krim itu agar berada di tengah dan mengambil satu sendok untuk dirinya. ia menikmati es krim yang meleleh di mulutnya sambil menatap jahil pada chan yang masih sibuk dengan bibirnya yang beku. malam itu keduanya habiskan dengan bercanda di rumah makan baru.
...
keduanya baru kembali ke gedung apartemen mereka begitu jam menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. kedua pria itu dengan gilanya memesan dua mangkuk es krim dan berlomba siapa yang bisa menghabiskan makanan penutup itu terlebih dahulu. permainan itu dimenangkan woojin dengan mutlak dan taruhan konyol tentang membersihkan apartemen selama satu minggu penuh akhirnya ia limpahkan pada chan yang masih berusaha keras menghabiskan isi mangkuknya.
"lainkali aku akan memenangkan pertarungan kita." "ya ya ya, bermimpilah terus, chan." lawan bicara woojin itu hampir kembali buka suara saat tiba-tiba mereka mendengar suara lembut memanggil keduanya. chan dan woojin menoleh untuk menemukan jihyo dalam balutan kaos dan celana santai tengah membawa platik sampah.
"kalian baru pulang?" "begitulah. kami baru kembali dari restoran baru dekat kantorku. lainkali kau harus ikut, jihyo. makanan di sana lezat, khususnya es krim mereka!" chan berseru ceria sambil menyenggol lengan woojin. "ya, kau harus mencobanya juga. mungkin jika sepupumu sudah kembali kita bisa ke sana bersama." woojin menambahkan disertai anggukan dari chan. tapi jihyo justru terkekeh lantas menggeleng pelan.
"terima kasih atas tawarannya, tapi ... aku tak ingin mengganggu kencan kalian." jihyo memelankan suaranya pada akhir kalimat. tanpa wanita itu sadari dua pria di hadapannya menelan ludah. "kalian terlihat bahagia sekali dan aku tak ingin mengganggu, pasti sulit untuk kalian bisa berkencan dengan leluasa tanpa memikirkan pandangan orang. lagipula sepupuku itu berisik, kalian akan semakin terganggu nanti. oh ya, sudah ya, aku mau buang sampah lalu kembali ke unitku. selamat malam, love bird." jihyo bicara santai lantas melangkah ringan menuju tempat pengumpulan sampah di gedung apartemen mereka. meninggalkan dua pria yang kini bertatapan sebelum menepuk dahi masing-masing.
[tbc]
mengingatkan, alternative universe di sini menganggap lgbtq+ bukan sesuatu yg umum (meski gak sekaku kenyataan di indo/korea sekarang) jadi ... agak susah mungkin nanti aku bahas hububgan mereka kedepannya haha tapi karena cuma sekedar 'gak umum' bukan 'tabu' dll mungkin bisa aku plintir sih hehehe oh ya, maaf kalo updatenya lama (aku mageran hehe) dan pendek (aku aslinya gak jago bikin chaptered fic apalagi yg panjang), mohon pengertiannya dan sampai jumpa di chapter selanjutnya:D
