THE BLACK OF FLOWER
Harry Potter © J.K. Rowlings
SEMI AU/AR, OOC, OC, Typo (s) Mature Content
Chapter 3: Secret Room
Sudah memasuki hari ketujuh rencana Harry belum ada kemajuan sedikitpun. Sebentar lagi musim dingin akan tiba, dan ia perlu menyiapkan ujian lagi untuk mengakhiri semestar ganjilnya. Harry terkadang ingin mengeluh sesekali, padahal di masanya baru saja selesai mengikuti ujian pra-semester dan ia baru saja disini 7 hari sudah mau ujian lagi. Rupanya dewi keberuntungan sedang tidak berpihak kepada dia, sebab akhir-akhir ini kecurigaan Tom padanya semakin memuncak. Apa yang telah dia lakukan sampai pemuda psikopat itu curiga lagi padanya. Harry tidak menyadari sepenuhnya.
Dia mengingat-ingat sedikit apa yang sudah di lakukannya hari-hari kemarin. Pertama, dia ketahuan keluar malam oleh Tom, ia juga berpikir kalau Tom pasti tidak sengaja melihat Harry sedang berbicara pada cermin ular dengan bahasa Parseltounge tapi Tom tidak menginterogasinya lebih dalam. Kedua, Harry kedapatan memperhatikan Tom di aula makan, setelah usai Tom sempat menanyai kepadanya tentang masalah kemarin dan tadi, bahkan sosok pemuda Slytherin yang cukup tergolong anak pintar pun baru menyadari kalau kemarin malam, anak baru itu (Harry) menyebutkan namanya. Ia sempat bertanya soal itu karena untuk memastikan lebih jauh 'orang asing' itu benar-benar anak pindahan dari sekolah lain atau bukan, dan yang terpenting tidak memiliki ikatan seorang di sekolah Hogwarts sebelumnya. Tapi, Harry sempat menjawab karena ia bertanya beberapa nama ketua dan prefek di sekolah ini kepada teman sekamarnya, ia ingin mengenal mereka dan di beritau nya kalau dia juga mendapatkan sedikit gambaran dari ketua asrama masing-masing. Tom masih bisa mempertimbangkannya dan alasan itu cukup masuk akal juga. Walau sebenarnya Tom sempat curiga kenapa anak baru itu terasa tidak begitu asing terhadapnya. Ia merasa seperti pernah bertemu dengan Harry sebelumnya, tapi entah kapan dan Tom tidak terlalu memikirkannya. Saat itu Harry cukup pintar mencari alasan yang tepat untuk menipunya.
Ketiga, sebenarnya masalah ini sama dengan yang pertama. Tom mendapati Harry bergeming di depan cermin ular toilet wanita selama 10 menit, hanya saja yang berbeda dia melihatnya di jam 5 sore. Tom cuma memperhatikannya dari jauh saja, dan sepertinya Harry sedang menantikan sesuatu yang 'istimewa' dari cermin itu—dia cuma diam saja kaya orang idiot. Tom tidak mau ambil pusing soal ini, namun keadaan anak baru itu sungguh membuatnya terusik dan tidak nyaman. Hal itu untungnya tidak di ketahui oleh Harry, Tom saat itu langsung pergi setelah melihatnya.
Keempat, dengan masalah yang sama seperti pertama dan ketiga. Tom memergoki Harry yang semakin lama semakin betah berdiri di depan cermin ular itu. Kau tau apa yang dia maksud sebenarnya—bahwa tempat itu memiliki sejuta rahasia mengenai dirinya, sejarah Syltherin, Tom. Seorang pemuda yang sangat fanatik terhadap ideologinya serta mengagung-agungkan keturunannya yang notabene—darah murni, ia juga terlalu menjungjung tinggi terhadap ajaran-ajaran yang bersifat mutlak dan hanya di perizinkan kepada orang-orang yang memiliki pure-blood sama dengannya. Semua misteri di kamar rahasia itulah sebagai tempat persembunyian Tom selama bertahun-tahun. Tempat suci yang pernah di ciptakan oleh Salazar sebelumnya dan di wariskan kepadanya, selanjutnya—mungkin. Tempat dimana Tom dan para pengikutnya melakukan ritual okultisme, atau cuma sekedar tempat rapat para Slytherin yang telah di beri izin oleh Tom sebelumnya.
Tom semakin geram dan ia takut jika anak baru itu telah mengetahui 'kau-tahu-apa' yang tersimpan di tempat itu. Akhirnya rasa penasaran itu mengganggu pikiran Tom untuk bertanya langsung kepadanya. Ia mendekati Harry, ia bahkan tidak sadar dengan keberadaan Tom yang telah berada di kebelakangnya—Tom memanggil namanya dan Harry hampir terjungkal kebelakang karena saking kagetnya melihat Tom tiba-tiba sudah berada di belakang. Setelah akhirnya rasa penasaran itu mencelos dari kalimatnya, Tom bertanya dan kau tau Harry cuma memberi alasan konyol lagi kalau dia masih mencari barang yang hilang sebelum-sebelumnya. Harry bahkan menjelaskannya tanpa tanda-tanda kebohongan—ia seperti orang idiot, namun Tom semakin penasaran, ia bertanya lagi untuk yang kedua kalinya dan sialnya Harry memilih meninggalkannya karena alasan dia harus mengikuti ujian latihan pelajaran Professor Slughorn.
Mungkin dari beberapa itulah hal sepele yang membuat pemuda Slytherin itu semakin mencurigainya. Ia bahkan akhir-akhir ini sering memperhatikan Harry dari kejauhan, terutama di bangsal utama dan aula makan. Setiap kali ada perkumpulan besar bersama para staff pengajar dan profesor lainnya, Tom sedikit-sedikit mencuri pandang sosok itu dari kejauhan. Meja panjang di bangsal utama ada 4, posisi dimana meja Gryffindor dan Slytherin berdampingan dan Harry selalu mendapatkan bagian tempat duduk agak belakang, Tom si ketua Slytherin duduk di pertengahan. Walau terkadang kedua mata itu bertemu secara tidak sengaja, Harry selalu membuangkan mukanya setiap kali mata itu melirik kearahnya. Sorot matanya begitu tajam dan seperti menelanjanginya bulat-bulat. Pelecehan.
Untuk yang terakhir kali Harry akan mengecek langsung kedalam kamar rahasia itu, sebelumnya Harry hanya bertapa seperti orang bodoh yang menanti keajaiban di depan cermin beberapa jam tanpa menghasilkan sesuatu walau aksinya sering di lihat oleh Tom. Hanya dia seorang (ketua asrama) yang selalu mondar-mandir di tempat toilet wanita tersebut, Harry jelas mengetahui gerak-gerik modus yang sejauh ini dia lakukan.
Dan malam itulah waktu yang tepat untuk meluncurkan aksinya. Seperti biasa ia selalu mengendap-endap dari bilik dinding-dinding yang besar dan minim cahaya itu. Ia berjalan dengan kaki yang menjinjit layaknya seorang tahanan yang berusaha keluar dari polisi-polisi tersebut—sangat hati-hati. Sekarang sudah begitu larut malam, kira-kira sudah jam 2 lewat. Harry mendapati suara gongongan anjing, entah dari mana suara itu berasal namun dekat sekali. Beberapa lampu di setiap koridor di matikan. Angin meniup kencang dari luar, sebelahnya adalah taman terbuka. Ia bisa melihat bintang-bintang yang menjulang tinggi di atas langit. Langitnya berwarna biru tua kehitaman. Sejuk disini suasanya—dan Harry hampir tersandung karena agak sedikit mengantuk. Harry terus berjalan menaiki setiap anak tangga secara pelan dan melewati koridor yang cukup sempit, dindingnya di penuhi photo-photo tokoh terkenal dan beberapa orang di dalamnya sedang tertidur lelap. Sedikit cahaya terlihat dari gelap itu akan membangunkan mereka. Hal yang paling menakutkan Harry saat ini adalah saat dia ketauan oleh staff dan penjaga malam—sungguh keterlaluan murid macam apa yang keluar di jam setengah 3. Harry akan di keluarkan dan di cap sebagai siswa nakal—sampai itu terjadi pupus sudah ia telah mengacaukan masa lalunya serta masa depannya.
Harry memasuki toilet wanita itu, di buka pintunya perlahan dan ia sempat melihat sekeliling dulu. Sudah di pastikan jam segini semua murid dan orang-orang akan tidur—hanya beberapa, dan ini lantai 3 bukan utama. Tempat ini juga jarang di pakai oleh siswa—di masanya. Ia menutup kembali pelan-pelan pintu itu dan— disini gelap sekali. Tidak ada lampu penerang sejenisnya yang terpasang di tempat ini.
Demi Merlin, Harry memekik karena terkejut seketika. Kamar mandi ini tidak jauh berbeda dengan tempat uji nyali, gelap sekali. Ia memakai mantra luminos sebagai satu-satunya cara memberi penerangan manual lewat tongkat itu, sebagai senternya. Ia mengayunkan kebawah, memberi penerang jalan dan akhirnya ia sampai di depan westafel tersebut.
Disini sangat sepi sekali. Suara detak jantungnya bahkan terdengar jelas dan tetesan air yang keluar dari keran begitu terdengar lebih merdu malam ini. Harry mungkin jatuh pingsan bila tiba-tiba melihat sosok bayangan misterius yang mengendap-endap di ujung bilik toilet itu. Ia mencoba mengatur pernapasannya pelan, di tiupnya udara dan di hembuskannya. Dada Harry terasa sesak sebab ventilasi disini semua tertutupi, bau debu dan kloset.
'Inilah waktunya aku harus mengecek kedalam kamar itu.' batin Harry
Dia memulai membuka bibirnya membacakan sebuah mantra, kalimat-kalimat parseltounge dan mulai berbicara. Sebelum dia memasuki kesini, dia sudah ada persiapan alat untuk menyerangnya tapi bukan membunuhnya. Diary milik Tom di simpan di balik jubah saku Harry.
Suara desisan terdengar begitu nyaring di ruangan ini, padahal suaranya pelan. Harry menunggu beberapa saat.
"Semua akan berjalan baik," katanya bergumam, Harry mengucapkannya begitu pelan.
"Sssst, Daniel." Pekik suara seram itu dari ujung bilik toilet. Suaranya amat rendah dan tenggelam di udara.
Harry bergidik ngeri, seketika mendengar suara yang tengah memanggilnya, seolah dia kenal dengan dia—begitu dekat. Harry mencari sosok itu dari balik kegelapan, tongkatnya di ayunkan keatas memberi cahaya sedikit. Sedikitpun bayangannya hampir tidak terlihat.
Mungkinkah suara tadi hanya ilusinya saja? Harry tidak begitu yakin dengan pendiriannya saat ini. Tiba-tiba kakinya gemetaran, dia berasa seperti merendam di kolam renang es—menggigil. Tubuhnya berkeringat dingin—sesuatu yang tidak di inginkan Harry, mungkinkah sesosok dementor atau mahluk buas dari hutan terlarang, memasuki ke bilik toilet dan menyamar jadi...
Harry terpaku di tempat itu dan rasa penasarannya kini mencelos begitu saja tanpa di mintanya—ia berjalan kearah sumber suara itu, memastikan kalau suara itu tidak ada. Ia merasa darahnya telah membeku seketika, memberi jeda waktu memompa darah itu kesetiap aliran nadi menuju ke jantung, semua mendadak organnya seperti tidak berfungsi—Harry begitu takut.
"Si-siapa?" Dia bertanya dengan suara yang amat pelan, nyaris tidak terdengar.
Dia lalu bergeming di salah satu bilik toilet paling ujung. Dia menatap pintu berlapis besi ringan bercat biru dongker itu, dia menatap benda itu seperti sedang menunggu kedatangan seseorang yang tengah mencarinya. Mengetuk-ngetuk pintu rumah malam-malam bukan lain adalah maling atau orang jahat yang ingin mengelabuhinya. Namun, semua sirna seketika. Kedua mata Harry yang begitu hijau terpantul oleh cahaya tongkat itu beralih pada sosok yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya—cahaya itu berhasil mewujudkan sosok misterius dari suara aneh di bilik ujung tersebut.
Harry bergeming dan membatu di tempat, dia seperti di sihir untuk menjadi patung Gargoyle di setiap dinding-dinding bangunan besar. Mata itu menjelaskan semua yang Harry rasakan dan takutkan selama ini—ketahuan oleh seseorang yang begitu di bencinya, malam itu.
Tom Riddle. Si ketua asrama Slytherin atau si calon The Dark Lord
"To-Tom,?" Harry bergemetaran sehingga mengucapkan namanya terbata-bata.
Tom mengayunkan tongkat cahaya itu keatas dan mengarahkannya ke sosok Harry—dia ingin melihatnya dengan jelas.
"Jangan katakan padaku kalau kau sedang mencari benda." Ujarnya sambil menatap Harry dengan tajam—bahkan tak jauh berbeda seperti menatap mahluk jalang, "—yang sama."
Harry masih bergeming ia tidak menjawabnya sama sekali, namun sebuah kilatan ketakutan terpancar jelas di kedua matanya, Tom ingin menjatuhkannya sampai hancur.
"Rupanya dugaan ku benar, kau akan kesini lagi dan di waktu yang berbeda. Daniel, apa yang kau lakukan disini, di cermin itu? Katakan padaku." Dia mengarahkan tongkatnya ke dahi anak muda berkaca mata itu dengan sinis. Matanya semakin tajam berkilat kemarahan.
"Tidak ada apa-apa." katanya gemetaran
Tom mendekatkan wajahnya kearah anak itu menatap matanya lekat-lekat seolah ia sedang mencari kebohongan lain di setiap tatapan Harry, menuntut kebenaran yang mutlak tanpa di mintanya secara lisan dan mengintimidasi Harry dengan cara yang tidak indah. Tubuh Harry refleks mundur kebelakang menjauhi Tom yang sedari tadi dia semakin terus mendekat, dan kini dinding sudah membatasi Harry. Terjebak oleh sangkarnya. Harry dan Tom sama sekali tidak berpaling sedikit pun kearah mata itu memandang.
Lengan kanan Tom menggebrak dinding belakang Harry dan di tahannya, mengunci jalan keluar Harry.
"Katakan pada ku siapa sebenarnya dirimu?" Tanyanya begitu sarkatis
"Aku tetaplah diriku. Bukan siapa-siapa." Jawab Harry lantang
Tom memiringkan kepalanya—dengan tawa pelan yang jahat. Aura gelap Tom sangat terasa di bagian luka Harry. Menimbulkan reaksi sakit ketika aura gelap menyerangnya. Sungguh tidak bersahabat.
"Kau bisa berbicara dengan ular? Kau tau kemampuan itu hanya di turunkan oleh penyihir berdarah murni contohnya keluarga ku yang mewarisi keahlian itu padaku." Geramnya menahan amarah, wajah Tom semakin mendekat nyaris bersentuhan. Hembusan nafasnya terasa menyapu di aera wajah Harry, dia bisa mencium bau parfum khas milik pemuda di depannya itu. Harry menjauhi wajahnya darinya.
"Kau... Kau Gryffindor, kulihat dirimu sama sekali tidak memiliki darah penyihir. Muggle—ya, kau Muggle—Mudblood, penyihir biasa seperti mu bagaimana bisa menguasai bahasa ku hanya sekejap. Kau bahkan baru seminggu disini, Daniel. Katakan padaku siapa kau sebenarnya?" Dia menekankan akhir kalimatnya, menuntut Harry secara paksa untuk menjawabnya.
"Lihat mataku Daniel!" Tom menarik kerah bajunya dan di gamparnya wajah itu lalu di tariknya lagi olehnya dengan kasar—di banting ke atas lantai. Tom menindih tubuh Harry.
Jari-jarinya mengibaskan poni yang menutupi luka, Tom memperhatikan setiap goresan luka di dahinya Harry, bergambar sambaran petir. Lalu, Tom menyentuh luka itu dengan lembut—Harry sesekali meringgis kesakitan atas reaksi alamiah yang di rasakannya tiap kali aura jahat menghantamnya. Harry menjerit, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Tom begitu bingung dengan perasaannya saat ini, ketika dia menyentuh luka di dahi anak itu tubuhnya mendadak panas. Sensasi aneh apa yang menguasai pemikiran Tom sampai begitu nikmat sekali walau hanya menyentuhnya saja. Dan sungguh di luar penalarannya, tubuh Tom menginginkan lebih dari itu.
Kedua mata kelam milik Tom terus menatapi luka itu lekat-lekat, seolah ia seperti merengek kepada orangtuanya untuk membelikan permen—Tom menatapnya penuh dengan keinginan sebelum tangan Harry berhasil menggapai wajahnya, menyingkirkan tangan itu dari luka tersebut.
"Menjauh dariku!" Harry memggeram kesal—ia terus mencoba mendorong tubuh Tom yang menindihnya dengan kedua tangan kecil Harry namun usahanya sia-sia. Tom lebih kuat darinya.
Kilatan kebencian begitu jelas di manik Zambrud anak berambut raven, Tom melirih pelan kemudian tertawa cekikikan.
"Beritau aku nama keluargamu?" Katanya sebelum menghantamkam Harry dengan mantra Crucio—Harry terus memberontak.
"Untuk apa?" Harry menimpalinya dengan bengis
Kedua mata Tom membulat, cengkramannya semakin keras mencekik Harry.
Harry di buat tidak bisa bernapas olehnya, dadanya terasa terbakar dan ingin meledak. Tangan kanannya berusaha mencakar wajah pemuda tersebut, dan tangan sebelahnya berusaha meraih tongkat yang terjatuh tidak jauh darinya.
"Beritau aku Daniel?" Ia berbisik, wajahnya di dekatkan lagi pada Harry—tangannya melonggarkan sedikit cengkramannya, memberi napas pada anak itu. "Beritau aku sebelum aku mengutukmu." Ia mengancam
"Black. Keluarga ku Black!" Napasnya hampir tercekat di tenggorokan.
"Black? Kau keluarga Black?" Katanya tidak percaya, ia memicingkan matanya. "Aku belum pernah mendengar nama mu di keluarga Black. Kau berbohong Daniel. Sudah berapa kali kau membohongiku, kau salah besar menganggapku bodoh atas apa yang kau pikirkan."
Harry membisu dan membiarkan pemuda itu berbicara lebih banyak. Sebenarnya dia tahu dia tidak perlu memberikan nama keluarga itu padanya, tapi keadaan yang memaksa dia harus melakukannya. Mungkinkah Tom berniat merencanakan sesuatu.
"Apa yang kau cari sebenarnya?" Dia mulai bertanya serius
"Aku tidak tau."
"Well, kalau memang itu pilihan mu." Katanya sambil tersenyum jahat. Ia perlahan mengarahkan tongkatnya ke arah Harry.
"Expelli..."
"Expelliarmus!" Tukas Harry melucuti tongkat Tom dan terlempar kebelakang.
Harry berhasil lebih cepat mencegah Tom lebih dulu menyerangnya. Kini tidak ada yang perlu di takutkan lagi Harry memiliki tongkat untuk mencegahnya kembali—jaga-jaga Tom bilamana menyerangnya tiba-tiba.
Harry bangkit berdiri walau punggungnya terasa sakit dan kakinya terlalu lemas untuk berdiri, tapi matanya tidak akan terkecoh dan terus mengawasi lawan didepannya itu. Dia tau di masa depannya Tom Riddle lebih kuat tapi Harry tidak meremehkan kekuatannya yang sekarang. Tom Riddle di masa lalu dan masa depan sama-sama gila.
"Bukan berarti kau menang dari ku hanya karena kau lebih cepat. Aku memberi waktu kau yang terlebih dulu menyerangku, dan sayang sekali Daniel. Kekuatan sihirmu mengecewakanku." Ia mengejek sambil membuangkan senyum hinanya, memandang Harry lebih buruk dari mahluk jalang sekalipun.
Tapi, Tom begitu menikmati bermain kecil-kecilan pada buruannya itu—tentu, ia juga tidak meremehkan cara bertarung Harry. Ia memiliki kemampuan membaca lawannya dan dia bisa mencegahnya di saat waktu yang bersamaan. Dari balik bayangan gelap kedua mata Tom berubah menjadi sayu dan terus menatapi kedua mata anak itu—ia tidak mau berpaling kearah yang lain. Baginya Harry cukup menarik.
"Aku percaya kau bukan orang baru disini, pertama kali menginjak Hogwarts kau memiliki motif lain?" Tom memancing lawannya untuk membuka suara.
Semua apapun yang di lakukan Tom sangat percuma, Harry sudah mempersiapkan lebih dulu sebelum memasuki di masa kini—salau satunya ia tidak akan sembarang membuka mulutnya, mengenai dirinya apalagi memberitau ke pihak lawan.
Harry lebih memilih diam, membiarkan amukan Tom semakin memuncak dan berharap tidak satu orang pun baik staff atau penjaga yang menemukan mereka berdua tengah beradu tongkat malam-malam di kamar mandi. Harry pasti akan kena hukuman lebih berat.
Keadaan Harry sekarang bersiaga memperhatikan setiap gerak-gerik perlawanan dari Tom sambil mengacungkan tongkatnya dengan penuh percaya diri. Manik biru gelap milik Tom memudar, bayangannya perlahan menghilang—ia masih menatapnya. Rupanya Harry masih ingin melayaninya sampai puas, tapi Tom tidak punya niat sama sekali untuk bermain bersama bocah.
Posisi Harry terlihat menunggu perlawanan darinya. Tom sesekali ingin tertawa mengejek. Ia bisa lakukan penyerangan tanpa tongkat.
Tom cukup pintar untuk mengelabuhi anak muda itu. Ia melambaikan tangan kanannya keatas seolah ia sedang terlihat memberikam tanda penyerangan. Kedua mata Harry mengekor, dan setelah kedapatan celah yang di buatnya, Tom beraksi begitu cepat tanpa terbaca sedikipun.
"Stupefy!" Tom berhasil mengenai Harry dan tubuh anak itu roboh seketika—jatuh pingsan.
Sebuah mantra yang di rafalkan Tom adalah mantra yang mampu membuat target pinsan—Tom sangat sengaja melakukannya. Ia perlahan mendekat dengan langkah kakinya yang begitu pelan—memastikan lagi kalau Harry benar-benar pingsan. Tom menyungging senyum kemenangan, rupanya lawannya masih berada di bawahanya.
Sesekali Tom ingin mencoba sensasi aneh itu lagi tapi tubuhnya menginginkan lebih setelah jari-jarinya menyentuh kembali luka Harry. Tubuhnya kembali panas dan seperti ada sesuatu yang membakar dirinya dari dalam. Tom melengguh kenikmatan. Lalu, kedua matanya beralih ke bibir anak muda tersebut—terlihat kenyal seperti jelly strawberry dan manis. Bibirnya begitu ranum untuk di sembunyikan.
Tom menyesap bibir Harry seketika—di hisapnya dengan rakus seperti meminum jelly. Basah dan kenyal. Tom merasakan kenikmatan ketika dirinya mencium lawannya yang sangat di bencinya itu dan tentunya ia melakukannya dengan keadaan dirinya sadar sepenuhnya. Namun, sensasi aneh yang di berikan Harry padanya membuat 'dirinya' ingin meminta lebih.
'anggap saja itu sebagai penutupnya'
Di tahun 1994
Hermione si gadis pintar berambut almond begitu gelisah akhir-akhir ini. Raut wajahnya membuktikan ada sesuatu yang mengganjal di pikirannya sehingga apapun yang di lakukannya terasa serba salah. Ia selalu menyalahkan dirinya sendiri—dia berbicara didepan cermin, melihat dirinya di pantulan benda tersebut menganggap dirinya adalah monster—yang telah mengabaikan Harry. Sejak 3 hari berlalu batang hidung sahabatnya itu tidak muncul semenjak ia pergi ke toilet saat itu, setelah sarapan pagi di aula makan. Dia terus menyalahkan dirinya sendiri kenapa sampai dirinya tidak begitu peka dengan perasaan Harry—mungkinkah sahabatnya itu sudah menyimpan kekesalan padanya sehingga Harry tidak berani bicara terus terang padanya, lalu kenapa Harmione mengabaikannya begitu saja.
Terlebih lagi Ron Weasley salah satu sahabat brunette-nya juga, lagi-lagi bocah laki-laki itu sama sekali tidak memiliki kepekaan pada sahabatnya. Padahal Ron satu kamar dengan dia dan dia punya banyak waktu sepanjang hari bisa berbicara dengan sahabatnya, masalah yang tidak di ketahui Hermione pasti Ron yang tau lebih dalam mengenainya. Atau segala kemungkinan yang di pikirkan Hermione, Harry masih memiliki rasa canggung terhadapnya?
Hermione berspekulasi dan mempertimbangkan segala fakta dan opini yang ada, membuktikan kalau dirinya-lah yang membuat Harry menjauh begitu saja.
Tapi, Hermione juga ingin memaki anak itu, berani sekali dia pergi tanpa ijin atau basa-basi dulu. Kenapa, Harry meninggalkannya begitu saja. 'Kurang ajar' pekik Hermione.
Ia kadang juga menangis sendirian di dalam toilet, meraung-raung seperti kehilangan induk berbulan-bulan dan menyesali perbuatannya selama ini—mungkin orang yang melihatnya akan menganggap gadis itu sinting. Tapi, tidak untuk Ron, dia mengerti kalau Hermione menceritakannya.
Peristiwa hilangnya Harry secara misterius di rasakannya juga oleh Albus Dombledore, yang biasanya setiap sarapan pagi Harry selalu berkumpul dengan kedua sahabatnya itu di aula makan, atau hanya sekedar mengucapkan selamat malam setiap mereka berpas-pas-an di depan ruangannya. Namun, kali ini tidak, sudah 3 hari ia merasakan hal yang sama dengan Ron dan Hermione—merasakan ketidakhadiran Harry di sisinya. Padahal sejak dulu Albus tidak begitu sulit untuk mencari anak yang sudah di anggap sebagai cucunya itu, ia selalu menempel dengan Ron dan Hermione kemana dan setiap kapanpun mereka berada.
Tapi, ia tidak sampai kepikiran kalau Harry kabur dari Hogwarts atau suatu anggapan yang sangat bodoh 'di culik oleh Kau-Tahu-Siapa' tidak mungkin.
Tapi, kemana anak itu pergi sampai 3 hari tidak muncul sedikitpun. Kalau memang pergi, Harry bersumpah akan selalu pamit padanya tapi sekarang tidak. Keberadaannya seperti di hapus permanet dari sejarah di sekolah ini—seolah keberadaannya tidak pernah berada disini sebelumnya.
Bahkan kedua temannya malah bertanya padanya, apakah Dumbledore sempat melihatnya, justru dia yang harus bertanya seperti itu.
Namun, rupanya ketidakhadiran Harry di rasakannya juga oleh Draco Malfoy. Salah satu pemuda tampan Slytherin yang satu-satunya menjadi rival abadi-nya Harry. Ia tidak merasakan kehadirannya juga. Sebenarnya dia ingin bertanya kepada salah satu temannya atau dia sempat kepikiran menyuruh kedua temannya untuk mencari anak itu, terlepas dari segala tuduhan kalau Draco juga memiliki perasaan aneh padanya, tapi hal itu tidak di jadikan alasan kepada teman-temannya. Ia takut di cemooh karena menyukai sesama jenis. Hal tersebut sangat haram hukumnya di aturan keluarganya. Ia berani bersumpah juga kalau dirinya ketahuan menyukai laki-laki, dad dan mom nya tidak segan-segan membuang anak itu dari status keluarganya.
Draco mendengus sebal, sudah larut malam begini hari-harinya terasa membosankan sekali. Barangkali ia tidak ada bahan bully-an yang bisa dia untuk melampiaskan kekesalannya pada orang lain. Kedua temannya yang bahkan bisa di bilang 'selalu mencoba untuk mengerti perasannya' tapi Draco tidak mau mereka mengetahui hal-hal sensitif selain membahas mengenai menjaili atau mem-bully pada daftar orang-orang yang mereka anggap lemah.
Ia juga selalu menganggap dirinya seorang yang lemah, lemah dalam arti kata kenapa harus mencemaskan dan menuntut kehadiran seseorang yang di bencinya bahkan di anggap spesial sekalipun. Perasaan yang sudah menyangkut hati urusannya begitu rumit di jelaskan dan hanya orang-orang cengenglah yang menganggap itu hal yang biasa—tidak untuk Draco.
Malam itu setelah lekas makan malam Draco pergi ke toilet dan tidak sempat memberitau kedua sahabatnya Goyle dan Crabbe, mungkin karena saat itu Draco ingin dibiarkan sendiri tanpa memberi tau mereka sebelumnya. Draco membutuhkan waktu sendiri, tidak biasanya anak berambut platina itu ingin menghabiskan waktunya tanpa teman-teman, mungkin bisa di artikan kalau saat ini Draco sedang merasa gelisah. Sebuah pikiran yang membuat dirinya benar-benar gila, pikirnya begitu. Draco terlihat aneh akhir-akhir ini, semenjak ketidakhadirannya Harry. Sebenarnya dia munafik juga dia tidak mau jujur dengan perasaannya selama ini, dia terus mengenakan topeng dan membuat Potter jengkel terus di buatnya. Tapi, Draco sungguh menikmatinya.
Lalu, semuanya berlanjut di malam itu. Dia memasuki prefek toilet, kadang toilet itu jarang di gunakan oleh prefek. Dia mencurinya diam-diam, walau hanya sekedar merendamkan diri di air busa dan berenang—menyelam ke dasar kolam itu. Selama pintunya terkunci semua akan aman.
Draco melepaskan semua pakaiannya—menampilkan tubuh atletisnya dari ujung jengkal kaki sampai leher nyaris sempurna. Ia tampak seperti pangeran Adonis, pangeran yang tampan di masa kejayaan Yunani. Tak heran gadis-gadis dari berbagai asrama tertarik dengannya dan berharap juga ingin mengencaninya. Namun, semua rupanya yang diatas rata-rata itu tetap saja kalah di mata anak laki-laki Gryffindor, Ron dan Harry contohnya, atau Hermione sekalipun menganggapnya biasa, sangat biasa. Kulitnya berwarna putih ciri khas keturunan Eropa, mewakili figur sang ayah yang turun ke anaknya—mereka bahkan terlihat mirip.
Ya... mirip, sama-sama gila.
Hanya saja ayahnya, Lucius Malfoy memiliki rambut pirang panjang sebahu. Karakteristik antagonis dari ayah dan anak begitu mirip sekali. Ibunya Narcissa Malfoy hanya berbeda sedikit, rambutnya berkombinasi pirang dan coklat.
Draco menuangkan sabun itu kedalam bak lalu mengisinya sampai penuh oleh air. Setelah cukup perkiraannya ia mencelupkan kedua kakinya terlebih dulu.
Merasakan sensasi kehangatan berendam di bak ini, membuat pikirannya menjadi rileks seketika. Dia memejamkan matanya. Cahaya rembulan malam yang masuk melalui celah jendela begitu seduktif sekali.
Di tariknya napas dalam-dalam dan di hembuskannya perlahan. Menikmati setiap aliran air yang hangat menyelimuti tubuhnya.
'prefek sialan kenapa dia mendapatkan fasilitas yang bagus seperti ini' pekik Draco dalam batin.
Pikirannya begitu tenang sekali, tidak ada suara ocehan orang-orang yang tentu mengganggu waktu istirahatnya. Hanya tetesan air dan nyanyian lukisan putri duyung di dinding berlapis kaca berwarna tersebut.
Dia menghempaskan kepalanya di sandaran dinding, menikmati kesunyiaan yang melingkupi ruangan ini. Tidak ada siapapun yang menganggunya. Terlepas dari sosok Harry yang secara tiba-tiba terlintas lagi di pikirannya.
Draco menggerutu. Kenapa, sekarang Harry mendominasi pikirannya saat ini.
Namun, semakin keras ia mencoba mengalihkannya, pikiran itu semakin meracuni kesadarannya.
Sudah cukup lama Draco menahan keinginannya untuk melakukan 'itu' pada Harry. Bahkan hanya melihatnya dari kejauhan rasanya dia ingin langsung memperkosa Harry saat itu juga. Tapi, dirinya juga tidak mau di kuasai nafsu kotor seperti itu, ia akan malu menanggung semuanya. Terlepas dari ketidakmampuan Draco menggapainya, dan 3 hari tidak melihatnya membuat dirinya semakin tersiksa karena rindu, walau Draco terkadang munafik juga tidak mau mengakuinya.
Namun, di waktu yang tidak bersahabat inilah hasrat Draco semakin memuncak—ia tidak bisa menahannya lagi.
Sebuah fantasi liar dan bermodalkan imajinasi yang kelewat mesum, Draco membayangkan wajah Harry yang ramping dan memiliki rupa babyface. Ia membayangkan kedua tangannya mendekap tubuh Harry, lalu di lumatnya bibir itu dengan nafsu. Draco kemudian menjilati seluruh isi mulut Harry, mencari sesuatu yang di cari-carinya selama ini—beradu lidah bersama Harry dan berdansa erotis penuh dengan nafsu yang membara.
Draco membayangkan kedua tangannya memainkan barang kedua sensitif milik Harry, memainkan nipples pink kecoklatan, dia membayangkan dia menghisapnya. Lalu, tangannya beralih pada kejantanannya.
Dia mulai mempermainkan tempo miliknya, memegang seperti mengocok botol susu agar larut dengan rata, sungguh fantasi yang liar.
Ia berharap desahannya tidak menggema ruangan ini. Terlebih lagi lukisan duyung itu menatapnya keheranan, untunya bukan manusia. Draco hampir saja memekik ketakutan.
Sebuah imajinasi yang indah yang hanya di ciptakan Draco saat ini, ia berharap sangat berharap sosok itu berada di dekatnya ikut membantu mengejekulasi miliknya juga.
Kenapa? Draco melakukannya setengah sadar
Pikirannya di dominasi oleh Harry, Harry dan wajah Harry. Seakan-akan tidak ada objek lain yang bisa mengalihkan perhatiannya. Dan ia bersumpah, ia akan mencekik dirinya sendiri kalau prefek memasuki kamar mandi ini dan melihat Draco tengah bermasturbasi.
Di tahun 1945 awal Januari setelah musim dingin.
Tom M. Riddle
Ada sesuatu yang di pikirkan anak muda itu di tengah pelajaran ramuan yang di pegang oleh Prof. Slughorn, siang itu—mata biru itu memang menatap kearah mana tangan professor itu bergerak, meracik suatu ramuan yang tertera di buku, dan mulutnya menjelaskan isi dari definisi ramuan itu kepada murid-muridnya. Tapi, pikiran Tom sedang tidak berada di tempat itu. Bahkan ini sangat jarang di lakukan olehnya, ia tidak mungkin mengabaikan pelajaran apapun sebab baginya nilai adalah prioritasnya. Seorang calon 'penguasa' harus pintar dalam bidang akademik juga. Tapi, lihat sekarang dia mungkin sedang melamun—ia teringat bagaimana dia bisa melakukan hal yang tak semestinya di lakukan sejak malam itu. Malam dimana ciuman pertamanya di berikan oleh orang yang sudah di bencinya. Sejak awal kedatangan Harry membuatnya pesimis, ia merasa wajah itu tidak asing baginya—ia pernah bertemu. Tom tidak mengingatnya.
Hal bodoh yang tak perlu di lakukan oleh Tom mungkin dia juga akan menyesal, tidak menyentuh dan berdekatan dengan Harry.
Anak itu terus membawa sial baginya. Terlebih lagi dia sudah tau kalau anak itu bisa membuka kamar rahasianya. Hanya Tom seorang yang tau dan bisa membuka tempat itu.
Sekali lagi kini Tom semakin penasaran tentang dirinya, asal-usulnya, keluarga dan status. Terdengar dari namanya saja Harry atau Daniel nama samarannya kesannya begitu Muggle sekali.
Walau sebenarnya nama Tom sendiri pun terdengar Muggle juga, dan ia juga benci kepada ibunya yang telah memberi nama idiot seperti itu. Ia membencinya. Ia juga bahkan mengelak kalau dirinya juga ada Muggle yang mengalir di darahnya terlebih lagi semenjak dia tau kebenaran kalau dirinya juga anak yang terlahir oleh darah campuran, Muggle dan Pure-blood yang di warisi oleh ibunya darah penyihir asli sedangkan ayahnya Muggle tulen. Tapi dia selalu memberontak dan mengelak kalau dirinya tidak ada sama sekali campuran Muggle, entah mengapa hanya mendengar nama itu Tom begitu benci sekali.
Bahkan dia akan bersumpah jika di suatu saat nanti dia akan menjadi Kau-tau-siapa, dia akan memusnahkan seluruh kaum Muggle.
Terlalu lama sampai di detik-detik pelajaran berakhir Tom semakin larut kedalam lamunannya, dunianya sendiri.
Melihat tingkah Tom yang 'tidak biasanya' Abraxas yang dekat dengannya pun membangunkan tuannya dengan tepukan ringan di pundaknya—suatu kebanggaan untuknya bisa menyentuhnya.
"Lord?" bisiknya, dia tau dia telah mengusiknya tapi tidak biasanya Tom terlihat seperti itu. Terkadang ia juga ingin mencoba menyusup kepikirannya dan mencari tau apa yang sedang di pikirkannya akhir-akhir ini.
Mendengar namanya di panggil, ia justru memberi glare dan picingan mata ketidaksukaan. Tom menatapnya dingin.
Tom menjawabnya sambil menyunggingkan senyum paksa—Abraxas sangat benci dengan senyuman itu.
"Bisakah kau jangan panggil aku seperti itu di kelas, paham?"
Abraxas sedikit layu setelah itu, ia akhirnya mengangguk dan kembali mencatat beberapa definisi yang di jelaskan Prof. Slughorn tadi.
'Sangat menyebalkan' pekik Abraxas dalam batin
Begitu juga Avery, ia hanya memperhatikan sang Lord nya dalam diam, dia cuma butuh beberapa saat untuk membiarkan teman sekamarnya itu menikmati dengan dunianya sendiri dan mencari-cari waktu yang tepat untuk menegurnya. Avery, pengikut setia Tom Riddle.
Tom dan teman-temannya yang berusia 18th saat itu. Mereka memang sedang dalam merencanakan sebuah perlawanan yang sengit, di suatu saat jika Tom menjadi Voldemort di masa depannya, dia akan menduduki tahta sebagai penyihir terkuat. Untuk saat ini—di waktu yang dekat ini, ia akan merekrut besar-besaran untuk menjadikan pengikutnya. Barangkali Tom juga perlu melihat seberapa kuat Harry bertarung, nanti bukan sekarang. Tom akan mengujinya dan menjadikan dia adalah lawan yang sepadan dengannya atau mengajak Harry untuk bergabung. Dan satu hal lagi, Tom pintar dalam memanipulasi seseorang.
P.S
[EDIT] Ada beberapa potongan dialog Riddle mengenai dirinya yang membahas tentang bahasa ular. Sebelumnya, Riddle mengatakan kalau dia di tuntut keluarga buat nguasain bhs Parseltounge, namun karena agak nyeleneh/tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya, maka dialog itu di hapus. Tom disini tetap sebagai anak yang di asuh dari panti asuhan, overall utk kehadiran Arthur sudah kugantikan dengan Septimus. Let's keep writing ;)
Di tunggu kritik dan sarannya :*
