P.S
[EDIT]
Maaf kepada para pembaca sebelumnya di karenakan saya kurang teliti memeriksa ulang cerita lagi. Saya lupa menggantikan nama Arthur (Ayah Ron) jadi Septimus Weasly (Mendiang kakek Arthur) Sekali lagi maafkan yang kurang teliti ini. Overall, sudah saya revisi (Dari sekian lamanya hampir lewat setahun baru di revisi ._.)
Satu kesatuan yang tidak pernah bisa di ganggu gugat, tidak dapat terpisahkan. Dia dengan dirimu dalam satu jiwa, dimana kau mampu membaca semua apa yang di pikirkannya, namun kedua pihak tidak bisa melakukan hal sama seperti yang kau lakukan. Keberuntungan Harry berlipat ganda dari yang semestinya sosok tuan 'jahat' nya berusaha membunuhnya. Di masa dimana Harry mengenyam sebagai siswa kelas 5 Sekolah Ilmu Sihir Hogwarts yang bertepatan di London, Inggris. Hari demi hari telah ia lewatkan segala banyak petualangan dari semenjak kaki itu berpijak di matras milik keturunan seorang darah penyihir. Harry, di kenal sosok Anak yang selamat, Anak yang hidup dan sebutan nama pujian untuknya, di masanya dia berhasil menghancurkan mahkota kerjaan Pangeran Hitam. Berbalik menyerang kekuatan sihir jahat yang keluar dari pucuk kilat biru tongkat Voldemort. Membunuh orangtuanya di saat Harry masih batita. Merengek dengan suara tangis yang merdu, tidak untuk sosok Voldemort yang bertangan dingin. Benci anak kecil. Terkutuklah. 15thn silam (?) semenjak runtuhnya kekuatan Pangeran Kegelapan, berkelana mencari benda keberuntungan sebagai wadah tempat dimana ia akan hidup. Kondisi yang mengenaskan. Di tahun ke-empat Harry, kisah-kisah heroik yang telah di jalaninya dengan perasaan bersalah. Sosok temannya, rivalnya, Cedric Diggory. Teman diatas angkatan Harry yang ikut berpartisipasi dalam memainkan turnamen Triwizard, bekerja sama dengan sekolah Drumstrang dan Baeuxbatons.
Ia semakin paham arti dari kelahiran ke muka bumi ini. Mengalahkan Voldemort?
Membebaskan kaum tertindas dari sang penguasa kegelapan. Bukankah ini seperti cerita dongeng.
Itu takdir untuk apa dia hidup. Lalu, tahun kedua adalah titik awal bertemunya dengan Voldemort yang masih muda, menduduki bangku di kelas 6 sebagai siswa Slytherin. Dimana organisasi itu akan di mulai secara perlahan. Diary Tom Riddle yang pernah jadi saksi terlarang curhatan seorang gadis berambut merah, merebut milik darinya hanya untuk bertemu seorang pria berkacamata, bertemu bak kopi darat. Cara Voldemort begitu halus memikat hati seorang Harry Potter, dan kini, satu anggapan bahwa di mulai dari Diary itu bisa di jadikan portkey kembali ke masa lalunya. Mengubah semuanya, mencegah kematian kedua orangtuanya, James dan Lilly Evans akan hadir duduk bersama Harry sekarang, mencegah kematian Cedric Diggory, jadi asrama Hufflepuf tidak perlu berbela sungkawan terlalu lama meratapi nasib kepergian sosok pangeran tampannya. Harry akan berusaha mencegah semuanya terjadi. Lalu, menghancurkan misi rahasia Tom Riddle.
Harry pun memutuskan untuk balik ke masalalu di tahun 1944 pertengahan November.
Mencari segala cara untuk merebut apa yang di milikinya sekarang.
THE BLACK OF FLOWER
AU, AR, OOC, Typo (s) Matute Content
HARRY POTTER © J.K. Rowlings
Soundtract: Connected. Ohm
Chapter 4: Obsesif
Harry terlonjak kaget saat mengetahui dimana dia berada di moment yang tidak pas. Tepat setelah liburan natal Harry mendapati Hagrid yang saat itu 'mungkin' sudah di keluarkan dari sekolah. Dan dimana Harry mengingat kejadian di tahun keduanya saat mendapati fakta Tom ialah yang telah meneror banyak siswa. Bersumpah Harry ingin mengutuknya, dan persetan segala umpatan yang di lontarkan Harry dalam hati telah salah memasuki masa lalu Tom Riddle sebelum kejadian peristiwa Kamar Rahasia. Jadi, apa yang akan di lakukan Harry setelah ini?
Dia juga sudah membuang waktu seminggu untuk berleha-leha dengan tugas dan ujian sebelum memasuki liburan natal, setelah libur berjalan ia bahkan hampir lupa dengan rencananya.
Masalahnya adalah Harry memutuskan untuk mengubah rencana awalnya, entah apa yang membuat pemuda itu menjadi plinplan mengambil keputusan. Harry ingin pulang ke masanya.
Kadang ia berpikir buat apa mengubah masa lalu, untuk apa? Sebenarnya masa lalu biarkanlah itu terjadi dan jika masa lalu itu di ubah, akan jadi apa nantinya setelah itu. Nasib masa depannya. Tapi, dia juga tidak ingin menyia-yiakan waktunya selama hampir sebulan disini tanpa menghasilkan apa-apa. Dia ingin mendapatkan sesuatu yang berharga. Dimasanya, dimana setelah kematian Cedric membuatnya frustasi setengah mati—kebangkitan Voldemort telah mengubah semuanya dan membuat anak berkilat sambar petir itu berkali-kali bermimpi tentang dia—bukan, bertemu dengan dia.
Dan bila di bandingkan dengan Voldemort yang ada di masanya sekarang, perasaan jijk padanya tak lekas pergi juga. Pangeran tampan yang tidak memiliki hidung dan berwajah rata, menggambaran sebagai sosok siluman ular.
Malam itu setelah usai pelajaran Arithmancy, Harry bergegas ke pondok Hagrid—ia ingin menanyakan sesuatu yang penting dan rahasia.
Pondoknya tak jauh dari kelas Arithmancy (?) berada. Harry merasa kesepian disini, tidak ada Ron atau Hermione yang selalu menemani mereka atau Fred dan George yang selalu mencekoki dia dengan sejuta humor gila yang bikin dia ketawa sampai sakit perut, Draco Malfoy dan dua bodyguard bodohnya tidak ada yang menganggunya. Seketika semua terasa begitu sepi.
Kehadiran Tom bagaikan maut untuknya. Dia selalu mendapati mimpi buruk berkali-kali bertemu dengan laki-laki psikopat itu. Membayangkan hal yang menjijikan. Entahlah. Langkah Harry berhenti di ambang pintu gubuk yang keliatannya hampir keropos. Lampu minyak di atas sebelahnya menyilaukan pandangannya, tapi ini malam. Sosok besar bertubuh jangkung dan tak lupa bahwa kumisnya saat itu juga 'agak' sama lebatnya di tahun masanya. Hagrid lebih muda.
Pria itu berdehem dan berkali-kali memicingkan mata.
"Anu…" Harry gagap, ia bahkan tidak tau cara mengucapkan selamat malam
"Kau si anak baru Gryffindor, Daniel?" Katanya, dia membelai rambutnya.
"Yeah. Aku Daniel, em… yah." Sebenarnya dia ingin sekali langsung membocorkan identitas yang sebenarnya, namun niatnya tercekat—ia perlu sandiwara.
"Ah silakan masuk." Kata Hagrid, si pria besar yang tampak muda dan agak berbulu (?) dia tampak canggung menyambut tamu malamnya, Daniel sebagai nama palsu Harry yang sebenarnya.
Harry melosor masuk. Ruangannya tak jauh berbeda, mungkinkah rumah ini sudah jadi rumah baginya setelah dia di keluarkan dari asrama? Jadi dia tidak tinggal di asrama lagi dan menetap disini? Tak ada yang beda dari masanya, Harry selalu mendapati rumahnya berantakan. Penuh perabotan dan membiarkan teko berbunyi di atas api.
Hagrid mempersilahkan duduk padanya, ia menawarkan beberapa minuman walau yang dia punya hanya teh, air putih dan coffee lalu makanan yang dia punya hanyalah bolu keras yang agak basi dan tak lupa cookies nya. Harry menolak untuk yang terakhir dan mengiyakan tawaran Hagrid untuk meminta teh.
Tamu malamnya datang tanpa di undang.
"Ada perlu apa kau kesini Daniel?" Tanya Hagrid seraya menuangkan air panas ke cangkir teh Harry.
Harry menggaruk kepala yang tidak gatal, "Tidak ada apa-apa, " pembohong besar, Harry berpikir beberapa kalimat yang harus di jawab, "Aku cuma mau bertemu dengan mu saja, kurasa…." napasnya tercekat, ia bahkan sudah terlalu banyak bicara untuk alasan ini.
Hagrid membalikan badan, memandang curiga, "Bertemu? Hahaha, ide yang bagus." Hagrid tertawa dengan paksa, Harry senyum melirih, "Kau baru saja 1 bulan di sini, secepat itukah kau tertarik padaku dan ingin bertemu dengan ku?"
"Ya." Harry jawab cepat, "Kurasa kau orang yang baik, Hagrid." Dia buru-buru menimpalinya. Namun, Hagrid semakin menyudutkan pandangannya, ia merasa curiga, tapi dia tertawa lagi untuk menyembunyikannya.
"Kau salah besar," katanya, "Aku bahkan sudah di keluarkan di sekolah ini." Nadanya mulai sedih
Ini waktu yang tepat untuk menggali informasi mengenai Tom darinya, Harry duduk mendengarkan dengan sabar.
"Kenapa?" Tanya Harry ingin tau
"Sekolah menuduhku melakukan pelanggaran yang sangat keji." Katanya, ia tersedu hampir menangis, "Tak pernah ku bayangkan walau begitu Profesor Dumblesode tetap mempercayaiku untuk tinggal disini."
Harry mengerjap-ngerjap, "Err.. ya beruntung." Dia baru saja berpikir, kenapa Hagrid masih saja mudah terbuka padanya yang notabene nya dia sekarang adalah murid baru yang tidak tau asal-usulnya. Bahkan, topic yang dibicarakan dia bukankah itu hal privasi dan ya… rahasia.
Kali ini Harry memilih untuk kembali ke kamarnya, dan meninggalkan Hagrid sendirian tanpa meminta dia untuk tutup mulut soal ini. Harry meleos pergi menutup pintu dan mengenakan jubah gaibnya. Tapi, tiba-tiba dia mendengar kedua suara saling ribut di tepi hutan terlarang. Suaranya melengking dan cukup menyeramkan. Rasa penasarannya terlonjak begitu dia melangkah dekat ke tepi hutan untuk memastikan apa yang terjadi disana. Cahaya bulan tidak berhasil membuat bayang semi-hitam di sosoknya. Harry bersembunyi dari balik jubah gaib di sisi pohon besar.
Ia melihat sesuatu yang janggal. Yang tidak terpikirkan oleh sosok ketua murid yang nekat menyakiti temannya entah tujuannya untuk apa, tapi yakin dia seperti telah melakukan kesalahan besar dan membuat orang itu murka.
Tom Riddle, si pemuda busuk berotak kriminal pekik Harry dalam batin. Dia terus memberi umpatan negatif tentang apa yang di lihatnya sekarang. Tak jauh berbeda dari sosok Malfoy yang paling menjengkelkan atau keluarga Dursley yang membuat hidupnya merana.
Sosok pemuda tampan itu mengutuk kutukan Cruicatus pada temannya, si pirang. Abraxas Malfoy. Dia merintih kesakitan menggelepar di tanah meraung-raung bagaikan anak ayam yang sedang di mangsa oleh ular. Mata birunya berkilat menahan kesakitan. Dia masih ingat, si Harry itu mengingat kalau dia pernah merasakan kutukan tersebut saat bertemu dengan Voldemort di tahun keempatnya. Menyakitkan memang. Dan Tom sungguh menikmati detik demi detik menyiksa rekan sekamarnya itu dengan ketawa girang dan melengking. Suara yang jahat.
Harry mencuri sedikit-sedikit pembicaraan mereka berdua.
"Kebodohanmu hampir membongkar rencanaku, Malfoy! Sudah kuingatkan kau berkali-kali jangan menimbulkan kecurigaan di depan si pria tua bangka itu! Kau melakukannya. Aku di interogasi karena ulah mu." Dia menggeram menahan marah
Si pemuda pirang hanya tergeletak di tanah dan memeluk tubuhnya dari sakit-sakit yang menjalar. Memekik ketakutan.
Harry mendekatkan telinganya rapat-rapat ke pohon itu—mendengar lebih jelas lagi.
"Maaf, aku tidak sengaja." Dia merintih. Suaranya cempreng. Tapi, permintaan maaf pemuda itu di tolak mentah-mentah oleh Tom, dia kembali mengutuki temannya dengan sumpah serapah dan kutukan. Seorang pria itu, Abraxas meronta-ronta meminta ampun sambil sujud-sujud untuk mengampuni kesalahannya. Namun, ekspresi yang di berikan Tom tidak menyenangkan. Dia belum puas menyiksanya sampai ketulang-tulang. Bibirnya cemberut marah, mendesis bagai ular dan kilat matanya penuh kebencian. Dia tidak berhenti sampai disitu saja, dia melanjutkan kembali menyiksanya, kali ini dia mencoba untuk menyiksa dengan cara yang lain.
Harry terkejut mendapati sosok tampan itu begitu tega sekali berniat ingin menyiksanya dengan kekerasan fisik. Tom menggunakan pisau perak, yang kendatinya biasa di pakai untuk mengiris bahan ramuan. Namun, Tom alih-alih mencoba menyiksanya dengan serangan fisik. Abraxas yang mendapati reaksi itu dia bergidik ngeri, meminta ampun agar tuannya mau memaafkannya. Dia takut sekali ketika Tom dengan lihai memainkan pisau itu yang akan segera menyakitinya.
Ujung pisau itu perlahan mengiris kulit leher Malfoy. Dia mulai mencium bau karat besi sessat cairan merah kental itu keluar. Si anak pirang itu menjerit dan meronta-ronta—dan saat itulah sosok Harry muncul di depan mereka mencoba menghentikannya.
Mata Harry berkilat kemarahan yang tersimpan untuknya. Tangannya siap mengacungkan tongkat kearahnya.
"Lepaskan dia Tom!" Harry mengancam.
Tom masih dalam posisi menyerang Malfoy, lalu mata biru kelamnya mendelik kearahnya, seperti robot dan seringai menjijikan di wajahnya.
"Selamat malam Daniel."
"Kubilang lepaskan dia!" Harry mengacuhkannya. Dia melihat pemuda itu amat menyedihkan.
"Jangan suka ikut campur." Katanya, nadanya dingin sekali. Dia menundukan kepala dan melepaskan Abraxas Malfoy. "Ngapain kau disini?" Dia masih tidak menatap Harry
"Seharusnya aku yang bertanya begitu, kenapa kau disini dan kau menyiksa dia?"
"Ehh…?" Dia berbalik posisi ke arah Harry. Jarak mereka cukup berjauhan dan penerang tempat itu satu-satunya hanya dari cahaya rembulan. "Kau membuntutiku? Ada perlu apa kau denganku?"
"Tu-tuan, hentikanlah—" Malfoy merintih dia berusaha menenangkan Tom walau itu tidak sukses.
"Diamlah!" Bentaknya. "Hei Daniel, kau ingin menyombongkan dirimu didepan ku dengan kau bisa menyelamatkan dia, hm?"
Harry terdiam beberapa saat. Mungkin yang di katakan Tom hampir benar. Seseorang yang didepannya tak berbeda dari Tom yang pernah di temui di tahun keduanya, mungkinkah Harry sudah mempersiapkan diri untuk melawannya. Cukup meyakinkan dia sudah hapal beberapa bagian mantra duel.
"Lawan aku sebagai laki-laki, " Dia menyeringai, dan mengacungkan tongkatnya. Abraxas menjauhi mereka, dia melarikan diri tapi Tom tidak peduli. Dia justru lebih tertarik dengan anak berkacamata itu.
"Tidak. Kita tidak bisa berduel disini. Ini hutan terlarang, berbahaya sekali."
"Kau takut padaku?" timpalnya iringi senyum kemenangan
"Tidak." Jawab Harry mantap. "Aku cuma berpikir panjang, melawanmu hanya buang-buang waktu, lalu—"
"Buang-buang waktu?" Dia mengulangi tanda tak percaya, dia merasa dirinya terhina. Dia baru menemukan ada orang yang pertama kali mengatakan berduel dengannya cuma buang-buang waktu. Sosok calon pangeran kegelapan yang berambisius untuk menguasai semuanya dan di katakan dari bocah itu semuanya tampak tidak berguna. Dia di remehkan. Hawa ingin membunuh Tom semakin terasa di udara. Aura hitam mengelilingi dirinya. Wajahnya masam dan semakin dingin, tak jauh dengan cara dia menatap Harry.
Dia berjalan mendekat, Harry melangkah mundur dan siap menyerangnya. Tom mengapitkan tongkatnya di sisinya, di turunkan tanpa di acungkan dan terus mendekat kearahnya dengan ekspresi sedingin es (siap membunuh).
"Kau menganggap bertarung denganku hanya buang-buang waktu?" Tom menggeram. "Jadi kau sangat percaya diri bahwa kau lebih hebat dariku, dan kau menganggap aku cuma lawan yang paling lemah—buang-buang waktu? Hei Daniel, aku harap kau bisa tarik lagi kata-katamu sebelum aku membunuhmu sekarang juga."
"Aku… aku tidak akan takut." Harry menantang dan dia bodoh, dia sudah memprovokasi anak didepannya itu. Mungkinkah riwayat Harry akan tamat disini, jika IYA berarti masa depannya hancur dan Voldemort di masanya tidak terkalahkan. Kenapa dia bisa sampai seceroboh itu.
"Baiklah." Dia menyeringai.
"Stupfey!"
"Expelliarmus!" Harry berhasil mencegahnya.
Tom tercengang. Dia tidak percaya. Seseorang bisa menghentikan serangannya. Dia semakin tertarik dengan anak itu. Mungkin dia adalah lawan yang pantas untuknya. Tom menikmatinya.
"Kumohon dengarkanlah. Hentikan. Bagaimana nanti Profesor Dumbledore melihat kita!"
"Aku tidak peduli. Lanjutkan." Tom menyerang Harry yang kedua kalinya, dan Harry menghindar. Tom terkikik geli. Suara tawanya melengking dan menggema di udara yang luas.
Harry bersembunyi di balik pohon. Bertarung dengannya bukanlah jalan yang terbaik. Dia tidak tau setelah ini, siapapun itu tolonglah datang dan menghentikan semua ini. Harry merutuki dirinya sendiri yang telah bersikap bodoh tadi.
Suara derak daun memecah keheningan, membuat jantung Harry memompa lebih cepat. Tubuhnya sudah bermandikan keringat. Sungguh bahaya jika dia lengah dan terbunuh olehnya. Suatu hal yang mengerikan.
"Aku tidak sedang ingin bermain petak umpat, Daniel." Katanya, suaranya menyeramkan sekali. "Tunjukan padaku kalau kau lebih hebat dariku."
Harry membisu di persembunyiannya. Berpikir keras dan mencari cara untuk meloloskan diri atau mengundang perhatian agar para staff guru memergoki mereka. Dia tidak peduli sebagai murid baru dia mendapatkan detensi lagi. Semua itu tidak penting. Karena, memang di masanya Harry memiliki hobi melanggar seribu satu aturan sekolah, detensi baginya hanyalah sekadar main-main. Tapi, bagaimana jika dia keluarkan sementara dia belum sempat balik ke masanya? Mungkinkah satu tindakan kecerobohannya akan berdampak pada dirinya di masa depan? Harry kadang meragukannya dan kadang sangat tidak percaya. Tapi, alasan itu tidak cukup kuat untuk Harry menyerahkan diri saat ini.
Udara malam semakin dingin dan semakin menusuk ke ubun-ubun. Malam hari ini tidak begitu bersahabat. Drama. Pertarungan antar Pangeran dengan si Bocah Yang Hidup. Dia merasa bulunya berdiri dan tubuhnya menggigil bukan kedinginan, tapi takut. Sosok Voldemort muda sedang berada disini bersamanya dan berniat sungguh-sungguh untuk membunuhnya. Apa yang Harry akan lakukan? Melawannya? Tidak mungkin.
"Aku berharap kau tidak membuatku semakin marah malam ini. Tunjukanlah dirimu, kalau memang kau seorang laki-laki," katanya dengan nada yang lembut sehalus sutra dan tongkat teracung siap merafalkan mantra untuk menyerang. Dia bersiaga dan berjalan semakin mendekat ketempat persembunyiaan Harry.
Harry akhirnya menyerahkan diri dan menujukan dirinya dari balik pohon. Dia mengangkatkan kedua tangannya, memberi isyarat bahwa dia menyerah. Namun, Tom tidak sebaik karakter Disney negeri dongeng yang biasa Harry baca. Dia tetap sinting ingin melawan dia di waktu kritis seperti ini. Kedua mata biru gelap milik sosok pemuda berambut hitam menyelidiki Daniel dari ujung kaki sampai kepala dan tangan yang masih memegang tongkat di atas udara. Dia tersenyum manis tapi mengancam. Matanya sedingin es seperti melucuti semua pakaian Harry.
"Kau menyerah?" Tanya Tom dengan lagak sok meremahkan.
Harry mengangguk sambil mengawasi. Ekspresi yang sangat di sukai Tom, tidak ada tanda kebohongan.
"Ini tidak lucu, Daniel. Kau menyerah begitu saja padaku. Sedangkan kau tadi meng—"
"Kubilang berhentilah. Aku tidak meremehkanmu, hanya saja lihat waktu dan tempat. Bertarung disini kubilang cuma buang-buang waktu, karena—" nadanya semakin tajam, "Disini berbahaya, dan ku pikir kau adalau ketua murid yang akan patuh pada aturan, tapi…." Daniel tidak berniat untuk meneruskannya, sebenarnya dia ingin mengatakan kalau Tom adalah ketua murid yang tidak berguna dan sangat bodoh, bukan dalam hal arti intelegent. Hanya saja dia terlalu termakan emosi dan kekuatan yang mengakibatkan dia lupa dengan posisinya. Namun, dengan begitu Harry bernapas lega karena Tom tidak meminta terusannya.
Tom semakin sengit dan keadannya siap kapanpun untuk melucuti Harry. Dia tidak sebaik seperti dongeng Disney.
"Benar." Jawabnya pelan. "Kau benar Daniel. Aku adalah ketua murid. Ketua murid mempunyai tugas, pertama, melaporkan setiap siswa yang kedapatan berjalan di malam di luar asrama, kedua, mengatur siswanya, ketiga tentu aku akan memberi mu hukuman karena kau selalu mencampuri urusanku, membuntutiku, memperhatikanku dan— Daniel, kau menyukaiku? Kau tertarik padaku sehingga—"
"Aku… hanya tidak sengaja dan tidak di rencanakan." Jawab Harry pasang muka jijik. Mendengar ucapannya membuatnya muntah. Walau itu adalah tujuan utama dia datang kesini untuk membuntuti Tom dan membunuhnya. Harry benci pengakuan.
Tom menyeringai dia berjalan mendekat dan tongkatnya di letakan bawah di sembunyikan di balik jubahnya. Matanya memandang lurus pada sosok Harry yang berdiri gugup di belakang pohon dengan kedua tangan yang masih terangkat.
"Aku yakin aku pernah bertemu denganmu sebelumnya," kata Tom nadanya semakin lembut namun masih terdengar mengutuk, "Suatu ketika dimana saat itu aku bertemu dengan seseorang yang sudah lama ku tunggu dan ingin berbicara dengannya. Kedua matanya mirip denganmu dan dia memiliki bekas luka." Katanya di akhiri senyum kemenangan, jelas kebenarannya membongkar identitas Harry yang sebenarnya.
Secepat itukah. Mana mungkin.
Harry menurunkan kedua tangannya perlahan dan bersiap suatu saat Tom menyerangnya tiba-tiba.
"Kau kah itu,"
Napas terasa begitu berat. Harry tertohok menyadarinya. Kaki ingin roboh ̶ terikat oleh besi berat secara paksa. Mata membuyar haluan mimpi Harry di padang gurun bertemu dengan calon kekasihnya. Detik seolah berhenti dari pangkalnya. Pohon besar memperhatikan sosoknya dari persembunyian ̶ ketahuan, tidak begitu elit. Ia ingin pingsan, namun tidak akan pernah di hadapan anak muda itu. Seperti senapan di lucuti tepat pada jantungnya, bukan, otaknya nyaris terlepas dari tempatnya. Harry bergeming, ia menyadari bahwa di mimpi padang gurun bukanlah seorang gadis yang menemuinya, tapi dia, memanggil memaksa untuk menyebutkan identitas aslinya. Harry terjebak. Ini mimpi buruk dari sekedar mendapatkan detensi terburuk oleh Snape.
'Tidak mungkin dia menyadarinya'
"Aku tidak mengerti siapa yang kau maksud,"
Seringai tipis di bibirnya, mencium bau kebohongan. Tom memang jenius. "Begitukah?
Harry menyakinkan diri, namun reaksi Tom berkebalikan dari yang diharapkan Harry. Anak muda Slytherin itu ternyata pandai membaca lawan tanpa berbicara. Tom mendelik tidak menyenangkan dan perlahan semakin mendekat. Berpura-pura untuk percaya.
"Menarik." Matanya yang tadi melotot kemudian meredup dan perlahan menyipitkan matanya dengan sangat dingin. "Daniel. Kau mirip dengannya. Aku ingin membunuhmu di suatu saat nanti dengan tanganku sendiri dan menjamah tubuhmu, memainkanmu sesuka hatiku. Kau adalah mahluk rendahan yang hobi mencampuri urusanku dan membuntutiku. Sok kuat dan sombong Daniel, aku tidak suka. Dan sekarang cepat pergi dari hadapanku atau aku akan menghabisimu sekarang juga."
Harry langsung pergi meninggalkan Tom, dia terus berlari tanpa melihat kebelakang. Dia takut, sangat takut. Ketika mendengar namanya di sebut. Sesuatu yang mengerikan akan terjadi, mungkin. Harry berpikir keras. Ini baginya mustahil. Dia cuma masuk beberapa tahun ke masa lalu Tom Riddle, diarynya sebagai portkey untuk pergi kesini. Namun sangat tidak mungkin ingatan Tom dan di masanya terhubung secara kebetulan. Alasan itukah yang tidak terpikirkan olehnya tentang dampak negatif menggunakan portkey tanpa petunjuk pemakaian. Apa yang membuat Tom begitu ingat dengan diri aslinya. Dia belum bertemu. Pasti. Tapi, dia menebaknya dengan sangat benar. Harry tentunya takut sekali, ia pergi dan memutuskan untuk tidak memperlihatkan dirinya dalam seminggu ini.
Dia akan bercerita pada Profesor Dumbledore untuk menceritakan semuanya, secara perlahan dan berharap Dumbledore bisa mengerti—akan selalu mengerti.
Seusai 1 minggu berturut-turut Harry tidak menampakan diri di depan Tom. Arthur teman sekamarnya bertanya, "Kenapa kau pucat sekali? Ada apa?"
Lamunan tentang dirinya kembali ke masalahnya buyar seketika, seseorang menegurnya untuk bicara. Dia mendongakkan kepala dan membetulkan batang kacamatanya yang melorot. Wajahnya pucat memang, dan agak gelap. Karena cahaya minim di kamar ini membuat bayang-bayang hitam pekat mendominasi wajahnya.
"Aku baik-baik saja. Terimakasih."
Arthur yang di ketahui bahwa ia adalah ayahnya Weasley mungkinkah dia sudah menjalin hubungan dengan Mrs. Molly?
Arthur berkerut tidak percaya, "Kau orangnya tertutup sekali. Katakan padakau kalau kau ada.. er… sedikit masalah. Mungkin tentang teman-teman atau pelajaran." Dia bermaksud untuk memperpanjang topic, menuntut pembicaraan kecil yang hangat.
"Ya. Akhir-akhir ini aku agak sibuk karena pelajaran Transfigurasi ku masih jelek. Aku terus kepikiran dan… yah." Dia menghela napas dan berbohong lagi.
Raut Arthur tampak bersimpatik, dia ikut menghela napas juga dan tersenyum rendah.
"Kenapa kau tidak tanya kami? Kami bisa membantumu."
Harry rupanya sudah ingin pergi tidur, dia tidak ingin melanjutkan bicara, tapi tidak enak di tinggalkan begitu saja.
"Ya. Terimakasih, kapan-kapan aku minta bantuan mu ya." Tukas Harry di akhiri senyum paksa. "Well… aku tidur duluan ya. Malam." Dia langsung beringsut kedalam selimut tanpa menunggu balasan Arthur.
Seorang pria berambut merah cuma tersenyum pasrah, dan ia membalasnya sebelum beringsut ke dalam selimutnya.
"Malam."
Tom Riddle POV
Tom yang lebih di kenal sebagai Lord Voldemort, bahkan orang lain merasa haram untuk menyebutkan namanya. Di masa sekarang tahun 1945, dimana Tom masih mengenyam pendidikan kelas 6 di Hogwarts. Sekolah itu bagaikan rumah keduanya, tak lepas dari rumah panti asuhan muggle-nya. Dia tidak ingin pulang dan bersikeras untuk tetap tinggal disini. Dia juga tidak sembarang berleha- leha di sekolah saat liburan, dia lebih memilih membaca buku, menyelesaikan tugas akhir, ujian, mempelajari mantra sejenisnya terlebih lagi memperdalam ilmu hitam lalu semua tak lepas dari misi utamanya. Mengemban sebagai calon penguasa di masa depan, dia bersungguh-sungguh untuk hal itu. Teman setianya, Abraxas Malfoy dan Avery, beberapa keluarga Black, lalu beberapa anggota lainnya yang berasal dari asrama Slytherin.
Tom sedang membuat organisasi kecil, inti dari organisasi itu adalah mengembangkan komunitas orang-orang yang berdarah murni sebagai penyihir sejati yang di kelola oleh Tom ialah pemimpinnya—ia sungguh mengagungkan keabsolutan darah murni sedangkan dirinya adalah campuran. Tentu banyak pihak yang pro dengannya terlebih lagi sosok Tom memiliki jiwa kepimpinan yang sangat baik dan pengetahuan sihir (hitam) yang lebih sempurna. Dimana tujuan organisasi kecil itu adalah membasmi orang-orang yang berdarah lumpur dan tentunya dia akan membinasakan keturunan murni mana yang berkhianat— terutama kaum muggle dia ingin membasmi itu semua.
Setiap hari jumat ada perkumpulan resmi antar anggota dan pemimpin. Tentunya sejenis ritual yang sangat rahasia dan kepala sekolah sekalipun tidak boleh mengetahuinya. Lalu, beberapa teman terdekatnya yang di beri kepercayaan merekrut anggota baru untuk mendukung organisasinya atau yang dikenal sebagai Death Eaters/Pelahap Maut di masa depan.
Dia mencuri waktu sedikit untuk mengendalikan mereka agar mau menjadi pengikutnya. Tapi, kebanyakan orang bersedia ikut adalah orang-orang yang menginginkan kekuasan dan pemimpin yang bisa di ajak bertarung melawan kenyataan, fakta bahwa muggle adalah sosok terlindungi oleh kementrian karena bagi siapapun yang ketauan melakukan tindak kejahatan (sihir) terhadap kaum muggle penyihir akan di jebloskan langsung ke Azkaban. Mungkin agak berbeda di masa 50th yang lalu tentang system kementrian terhadap hal ini. Namun, semua tentunya tidak bisa di hindarkan.
Belum lama Tom juga sempat mengancam dan berniat membunuh pengikutnya, Abraxas yang kedapatan oleh Dumbledore saat itu dia tidak menyadari bahwa gerak-gerik mencurigakan mengenai organisasi dan membawa-bawakan nama tuannya, alih-alih Dumbledore langsung menginterogasi Tom mengenai hal itu. Walau semuanya berujung 'baik' dan 'aman' hanya sementara tapi Dumbledore tidak bisa menghilangkan rasa curiga terhadapnya.
Lalu, setelah kedatangan anak misterius dari negeri dongeng yang tiba-tiba seperti terobsesi padanya membuat Tom semakin kesal. Orang yang telah membuntuti, mencurigai bahkan dia takut kalau dia tau tentang organisasi, kamar rahasia dan pengancaman terhadap Abraxas akan di laporkan kepada kepala sekolah. Tom begitu mencemaskannya. Karena bisa dari ketiga hal itu akan membuatnya di keluarkan dari sekolah. Fatal.
Tapi, disisi lain Tom cukup menyukainya. Dia adalah orang pemberani yang dengan sombongnya menantangnya, kedua, anak itu mirip dengan seseorang yang pernah di temuinya saat itu. Mungkin yang bagian terakhir adalah kepingan kenangan yang terpisah didalam hocrux buku harian miliknya. Justru hal tersebut yang di takutkan Harry, kenapa Tom mengetahui ada nama yang asli dalam dirinya.
Tentang mengenai seorang anak lelaki bernama Abraxas Malfoy, ia adalah keturunan penyihir ningrat berdarah murni. Status yang di embannya sekarang adalah menjadi kaki tangan Tom Riddle, bersama Avery teman sejatinya. Abraxas Malfoy yang memiliki rupa tapi tak sama dengan figure Lucius Malfoy, hanya saja rambutnya tidak panjang. Dia juga merupakan siswa Slytherin bersama yang lainnya. Kedatangan dia di tahun pertama bertemu sesosok pemuda yang menginspirasinya, menjadikannya dia seperti alat pemuas 'nafsu' dan keinginan tuannya untuk menjadi kenyataan.
Mereka duduk bersama di tengah meja bundar milik Slughorn. Tom, Abrax dan Avery. Menjadikan mereka tiga serangkai yang tidak dapat di pisahkan. Replika pangeran Adonis duduk dengan tubuh yang tegap, nyaris sempurna, pahatan dari seniman yang memiliki keahilan dewa. Gambar yang mengandung nilai estika. Kedua tangannya berpangku pada meja kayu bundar, wajah yang sangat datar ̶ minim ekspresi menjadikannya seorang pria misterius. Itulah sisi kerennya.
Malam ini adalah pesta teh yang selalu di adakan oleh Slughorn kepada siswa favoritnya. Tiga serangkai Slytherin salah satunya. Sepasang manik beraneka ragam memandang sosok professor yang memiliki otak genius, di senangi dan di segani oleh kaum organisasi rahasia. Berbicara seputar tokoh heroik di jaman masa kakek nenek mereka, menjadikannya best topic. Kedua manik kakek tua paruh baya itu mengkilat, antusias menanggapi beberbagi cerita para siswa pilihannya. Satu jam berlalu menikmati pesta teh di tengah malam. Salah satu budaya khas sekolah kerjaan Inggris. Cahaya remang kehijauan akibat relfeksi dari batu zambrud terpahat di setiap aksesoris ruangan antik Slughorn, memberi warna yang hangat, tampak memanjakan mata setiap waktu. Bunyi dentingan jarum pasir di sentil oleh jari lentik milik seseorang. Menandakan bahwa pertemuan selesai. Pesta teh berakhir dengan khidmat.
Tom berdiri membelakangi professor Slughorn. Ia mengenakan jas hitam rapi, formal dan berkelas. Ia tau cara memikat lawan bicaranya. Senyum khas miliknya di tarik setiap garis vektor bibir yang sempurna. Jangan lupakan cara matanya menatap, semua gadis akan luluh dalam pelukannya. Sayang dia tidak tertarik.
"Hei Tom, apa yang membuat mu berdiri disitu?" tatapannya penuh menyelidik, tapi dia tidak menyimpan kecurigaan karena bersama salah satu murid kebanggannya.
"Aku hanya ingin bertanya sesuatu." Katanya, ia berjalan mendekat perapian.
"Silakan bertanya, aku akan menjawab apapun yang ku bisa."
Tom merapatkan mulutnya sesaat, memandangi setiap percikan api biru kemerahan yang berkobar secara liar diatas tungku perapian itu. Menatap tajam. Berdiam kaku. Sebelum akhirnya mulut itu terbuka, dia masih berhadapan dengan api didepannya.
"Pada malam itu aku tidak sengaja ke perpustakan," suaranya di pelankan "Lalu, aku menemukan sebuah kata-kata atau sejenisnya yang tidak ku mengerti."
Slughorn merasa bulu kuduknya meremang, ia semakin menyipitkan mata ke pemuda itu.
"Aku mencari artinya namun tidak ku dapat." Dia berbalik kehadapan professor Slughorn dan menyeringai, "Kau tau Horcrux?"
"Tom?" Slughorn merasakan keraguan
"Aku bertanya Horcrux, kau bisa memberitahuku apa maksudnya?" Dia berpindah posisi membelakangi Slughorn dan kembali menatap perapian. Ia tau orang didepannya pasti mengetahuinya.
"Horcrux adalah sejenis ilmu sihir yang sangat hitam, hitam sekali Tom." Ada nada terselip tidak menyenangkan.
Kemudian, badan Tom berbalik lagi, menatap seorang kepala asramanya penuh menyelidik. Ia mengangguk paham. "Aku tahu. Tapi, yang ku inginkan bagaimana cara kerjanya." Ia menenkan diakhir kalimat.
"Membelah mu dalam beberapa bagian, dan menyembunyikan potongan separuh jiwa mu yang hidup. Artinya, kau tidak bisa mati."
"Hmm begitu," ia bergeming lagi sebelum membuka mulut
"Bagaimana bila seorang itu membelah jiwanya hingga 7 keping?"
Kali ini Slughorn tidak merasa senang akan pertanyaannya. Ia semakin menaruh kecurigaan yang secara kasat mata dari setiap gerak- gerik tanda tak nyaman.
"Bukankah itu keji Tom. Membunuh hanya satu orang itu sudah keji. Melanggar hukum alam," meneguk ludah. "Apakah ini termasuk kedalam soal akademik?"
Tom berbalik, kali ini wajahnya penuh senyum kejanggalan—ambigu, "Tentu. Kurasa ini akan menjadi rahasia kecil kita."
HARRY POTTER POV
2 minggu waktu yang tidak sebentar namun terasa dalam hitungan detik. Apa yang dia lakukan selama 2 minggu belakangan ini tidak terpikirkan dalam rencananya. Membunuh Tom baginya cukup mustahil. Menggali informasi tentang dirinya membuat Harry semakin terlihat obsesi. Tidak wajar. Selama berhari-hari rasa khawatir mulai melanda seluruh pikirannya. Ia akan mengetuk pintu Dumbledore dan bertanya.
Setelah pelajaran usai, Harry bergegas menuju sebuah lorong tempat kantor Dumbledore. Berharap kantor itu tidak di gusur setelah 50thn silam Harry kembali ke masa lalu. Pintu kokoh tidak terlihat pintu utama, sebuah patung melambangkan burung Phoenix menjulang keatas. Memikirkan password yang benar.
Permen jeruk.
Kacang segala rasa.
Buaya darat.
Coklat kodok.
Permen rasa muntah.
Jenggot keriput.
Sial. Si pak tua itu selalu sulit memilih password. Berpikir lagi. Segala cara bentuk jawaban tidak masuk akal sudah dia ucapkan.
Kecoak terbang.
Patung burung Phoenix menggelar keatas. Sukses. Ternyata si pak tua terinspirasi dengan hewan menakutkan sedunia.
Harry berjalan tertatih-tatih menaiki tangga. Tidak ada yang berubah. Semua sama. Dirinya telah sampai berdiri di ambang pintu Dumbledore. Tidakkah sopan sebagai siswa pertama angkatan baru sudah bersikap lancang mengunjungi kantornya malam-malam. Sebentar, dia baru menyadari bahwa Professor Dumbledore belum menjadi kepala sekolah disini. Sial. Tamu tidak di undang. Harry tertegun bak patung Herculas setengah jadi yang baru di sihir. Gagal. Selama berminggu-minggu sudah cukup lelah membulatkan tekadnya cuma untuk bertanya hal yang tidak penting pada Dumbledore.
Sebelum tangan terkepal mengetuk pintu kayu suara berat ciri khas kakek tua membaur di udara yang sepi.
"Daniel,"
Professor Dumbledore sudah di belakang Harry, memergokinya mau mengetuk.
"Apa yang membuat mu datang kemari, nak?" sedikit terlihat alisnya berkerut. Pertanda buruk Harry terbaca.
Bingung, "Tidak. Aku cuma ingin bertanya. Bukan hal penting."
Dumbeldore mengernyit tajam. "Di waktu malam ini? Baiklah Daniel silakan masuk." Dumbledore mendahului Harry mengekori memasuki ruangannya, tidak ada yang berubah.
Harry berdiri di dekat pintu, menutupnya secara perlahan. Menunggu pembicaraan lagi. Hening. Sosok pria berjanggut putih itu terlihat muda dari jaman Harry sebelumnya. Kerutan kulit tidak mendominan di area wajahnya. Tampak fresh. Harry diam- diam kagum memandanginya sebelum akhirnya pria itu duduk dan menanti pertanyaan Harry.
"Silakan. Aku akan menjawab sebisaku."
Harry menunduk, namun kali ini tidak akan goyah lagi. "Begini, apa anda mengetahui soal Portkey?" dia sadar pertanyaan yang diajukannya begitu cepat. Kurang sopan.
Sebuah irisan hitam pekat dalam binar kedua mata biru Albus. Dia memangku dagu tampak menilai dan menatap Harry. Adakah yang salah?
"Apa yang akan kau tanyakan soal portkey?"
"Er... apakah jika menggunakan portkey, seseorang di masanya terhubung di masa lalu?"
"Pertanyaan bagus Daniel," katanya. Tidak ada yang berubah sedikitpun dari figur pria tua itu memuji setiap pertanyaan Harry. "Kalau kau bertanya demikian, maka jawabannya adalah tidak."
"Begini,bila kau bertanya orang yang menggunakan portkey itu dan teman- teman mu yang di masalalu tidak akan terkait tidak terpengaruh oleh ingatan yang sekarang. Sudah jelas portkey adalah ruang dimensi waktu, loncatan waktu yang hanya bisa di lakukan oleh seorang, melompat ke waktu yang sebelumnya, tanpa berpengaruh terhadap di masanya sekarang."
"Well, terimakasih professor. Apakah bila portkey yang di gunakan dalam bentu benda milik seseorang akan terhubung ingatannya?"
Kali ini Professor Dumbledore semakin tau apa yang di maksudkannya. Dia berpikir, tidak akan ada orang yang bertanya seperti itu kalau belum pernah mengalaminya. Tertegun sejenak memandang lebih lekat kepada manik biru berbingkai kacamata. Daniel anak yang menarik, pikirnya.
"Aku tau arah pertanyaanmu kemana, tapi ku beritau Daniel, dalam bentuk apapun portkey itu jika memang itu milik seseorang, semua tidak akan terpengaruh dan melibatkan orang yang menggunakan itu bisa menjalaninya seperti kehidupan sehari- hari. Semua memiliki resiko. Kau harus tau, cuma beberapa orang yang benar- benar berani menggunakan portkey melompati masa lalu, dan melakukannya. Mengubahnya. Itu memiliki resiko berat." Ada penekanan di akhir kalimat.
Darah mendesir begitu cepat yang di rasakan Harry. Tiba- tiba saja tenggorokannya merasa kering, membutuhkan sebuah asupan air yang cukup untuk membasahinya, tapi, itu tidak cukup. Rasa paranoid melanda alam bawah sadar setelah mengetahui kebenaran. Sebelumnya dia ingat, Professor Dumbedore belum pernah bercerita soal portkey sfesifik seperti ini di masanya. Sesuatu yang salah. Begitu fatal sampai Harry lupa cara bernapas.
"Ada pertanyaan lagi?" Dumbledore menuangkan secangkir teh sambil menunggunya. Sesapan aroma teh tidak seharum lagi yang tercium di hidung Harry.
Hambar seketika. Mati rasa.
"Tidak Professor. Terimakasih atas waktunya." Katanya beranjak pergi dari hadapan meja kayu Dumbledore. "Selamat malam.
"Selamat malam juga Daniel."
Harry meninggalkan ruangan. Mendapati mata Dumbledore mengekori sosoknya sebelum lenyap dari ruangan. Diam- diam dia mengawasi, sesuatu yang absurd yang bahkan Dumbledore sendiri tau apa yang telah terjadi padanya. Pintu tertutup.
Rintihan hujan di musim semi, Januari awal setelah melewatkan moment liburan musim natal. Tidak ada yang menarik. Tidak ada yang membahagiakan. Kata- kata dumbledore sejak malam itu terngiang, masih berdengung di telinganya. Harry bersumpah sudah menyumpal telinganya dengan kapas. Tidak bekerja. Sial. Pikiran kalang kabut, haruskah dia berbalik?
Segala cara yang dia lakukan sesuai petunjuk aturan pemakaian menurut buku, kau bisa kembali ke masa mu setelah menyelesaikan misi mu di masa lalu.
1 menit.
2 menit.
Harry beranjak dari kursi dan memikirkan nilai- nilai ujian ramuannya. Buruk akan terjadi. Pekik dalam hati Harry meringgis minta pertolongan. Seseorang dengarkanlah.
5 menit.
Kesadaran Harry kembali sebelum 6 menit. Tidak ada cara lain selain menyelesaikan misi untuk pergi ke masanya. Sial. Haruskah Harry benar-benar membulatkan tekadnya untuk segera membunuh Tom, menyelamatkan masa lalu kedua orangtuanya yang di bunuh tidak manusiawi oleh Voldemort. Sebelum ia berjaya, sebelum semuanya terjadi. Kenapa hari- hari buruk selalu menimpali pikirannya di akhir. Menyesal setelah datang kesini. Lalu, apa yang akan Harry lakukan; menusuk Tom saat tidur, meracuni makanannya saat sarapan pagi, mencekik lehernya, atau suatu cara pembunuhan keji secara muggle.
Harry berpikir, bagaimana caranya. Tidakkah disini ada seorang sahabat yang mampu mengerti dirinya? Dia belum mencoba.
Saat- saat terakhir ia rindukan tentang Hermione dan Ron. Penampakan wajah Snape yang membuatnya kencing berdiri dan wajah nakal Draco menggoda seperti homo yang selalu mengejeknya setiap hari, seketika semuanya menjadi rindu dan paling berharga. Ingin kembali ke masanya.
Harry memutuskan untuk pergi ke perpustakan. Mencari tentang artikel Portkey dan sejenisnya. Mencari cara bagaimana keluar dari masa lalu. Ia berjalan menuju lorong koridor yang gelap, minim cahaya. Bau ramuan membaur di udara yang lepas. Harry terbatuk- batuk ketika menyadari ada murid kelas 2 sedang melakukan uji coba ramuan buatannya di tempat ini.
Hey! Lihat tempat dasar bodoh.
Harry memasuki perpustakan dengan lancar. Tampak sepi. Rak- rak buku disini tidak terlalu banyak di masanya. Berantakan dan hanya ada 6 rak panjang yang bersekat di perpustakan. Sebelah kiri adalah tempat penyimpanan buku sihir hitam atau sesuatu yang di muat untuk konsumsi anak kelas 6. Rahasia. Tempat buku terlarang berada 9 itu adalah kesukaan Harry dan Hermione. Mengenai sihir hitam dan segala tentang rahasia 'hitam' sungguh menarik perhatian. Harry berdiri di rak 4, buku-buku artikel sejarah sihir. Di sebelahnya adalah buku ramuan tingkat dasar. Ia mencari suatu buku berlabel Portkey. Ruang dimensi waktu dan sejenisnya sulit didapatkan disini.
Ia berjalan menuju rak ke 5. Buku tertata rapi dan beberapa anak kelas 5 sedang membaca buku di sini. Tidak terlalu banyak. Peminat perpustakan tidak sebanyak peminat Quidditch.
Lalu, Harry beranjak ke rak 6 paling akhir, disitulah bersebrangan dengan rak- rak buku 'hitam' mungkin disitu.
Ada penjaga di sana. Tidak sembarang masuk memasuki rak terlarang itu. Sesuatu yang membuatnya semakin tertarik. Ia mengenakan jubah gaib. Menutupi tubuhnya dari penglihatan. Lalu, ia berjalan berjinjit, menghindari kontak fisik dari si penjaga atau suatu yang curiga. Lampu remang dan hampir mau mati. Harry terpingkal-pingkal oleh langkahnya. Nyaris saja menjatuhkan buku setebal 1500 halaman. Ia memilih untuk bersembunyi, berjauhan dari sang penjaga perpustakan tersebut. Sesampainya di rak ke 8 Harry mendapati sosok pangeran tampan yang sedang asik membaca buku, tepat di pojokan.
Nasib buruk. Kenapa harus bertemu dengan Tom? Pekik Harry.
Ia berharap bayangannya tidak terlihat olehnya. Berharap mata tajamnya tidak menembus area perlindungannya. Suatu hal buruk akan terjadi. Apapun asal Tom tidak memergokinya. Ia berdiri mematung melupakan tujuan utamanya kesini.
Dari jarak beberapa meter, Harry memperhatikan setiap lekukan tubuh sosok laki-laki itu. Sempurna. Wajahnya seperti replika figure sosok pangeran Adonis Yunani yang sangat tampan. Rahangnya tegas, hidungnya mancung. Bau harum tubuhnya menguar di hidung Harry. Padahal bau buku dan debu di sini begitu menyengat. Ia berharap mata biru itu tidak melihat kearahnya. Jari- jari tangannya begitu lentik nyaris seperti pahatan seorang seniman profesional. Pangeran raja Eropa tengah yang tersesat di negeri penyihir. Ayolah, Harry bahkan mengira dia seorang yang tampan dengan kuda putihnya.
Entah mengapa Harry menyukai pola bentuk matanya. Garis bawah hitam seperti seorang insomnia. Setiap vector yang terurai dari mimiknya bagaimana cara dia menatap begitu intens, sangat intim. Melalui mata seolah Tom sedang menyampaikan sesuatu yang tidak terdefinisikan oleh rangkaian kata. Namun, kau bisa melihat sisi dinginnya. Cara dia memandanganya tengah mau memperkosa secara paksa.
Harry masih normal, dia bersumpah ingin melamar Ginny.
Lagi- lagi mimpi aneh itu menyerangnya disini. Seorang psikopat masokis berambut hitam mengejarnya sampai ke hutan, dan menyerangnya dengan menghunus miliknya di bokongnya. Harry menjerit kesakitan penuh kenikmatan. Melengguh erotis sambil berteriak memanggil nama Tom Riddle. Tidak menyangka tongkat yang sebenarnya jauh lebih menyeramkan ketimbang tongkat miliknya yang di beli dari pemilik toko Olivander. Mimpi aneh itu harus di buang jauh- jauh dengan segala cara, jurus jitu penghilang mimpi sudah di lakukan. Harry bahkan hampir berkali- kali memimpikannya. Lalu, sepreinya basah.
Lamunan buyar. Domba- domba bertebrangan keatas hendak Harry menghitungnya. Tom menyadari kehadiran seseorang ̶ tengah memperhatikannya secara kasat mata. Nyaris Harry terjatuh kebelakang mendobrak rak. Mata Tom mengarah kearahhnya, mencari sosok yang di maksud. Kerutan di dahinya menghempis, memicingkan mata tampak waspada. Harry bergeming. Kakinya saat ini hampir mau lepas dari tubuhnya. Lemas. Tom kembali membaca kali ini tidak benar- benar serius membaca. Antena tidak terlihat terpasang di atas kepalanya, mendeteksi gerak-gerik mencurigakan kehadiran seseorang. Sungguh peka.
Harry bersumpah mengutuk kedua mata itu menjadi buta. Sudah berapa kali cara dia menatap seperti memperkosanya secara paksa. Lalu, Harry meleos pergi jauh- jauh darinya, mencari aman ia beranjak menuju rak ke 9. Tempat rak terdalam. Suasanya begitu sepi. Banyak buku tua tersimpan disini. Tempat menyimpan sejuta misteri. Harry tetap melaksanakan tujuan utama ia kesini. Mencari sebuah artikel mengenai portkey. Diary Tom selalu di bawanya. Separuh hidupnya, separuh hidup Tom.
Buku demi buku, label tiap label di perhatikan secara acak. Kepalanya menyembul turun keatas berkali- kali. Ia masih menggunakan jubah ajaibnya. Di daerah rak ke 9 sebrang, Harry mendapatkan buku yang telah dia cari.
Artikel mengenai ruang dimensi waktu dan portkey
Di buat 1920
Oleh...
Namanya tidak terbaca lantaran bukunya hampir hancur tertimbun debu dan kotoran. Harry melepaskan jubahnya lalu memulai membaca. Lembar tiap lembar di bukanya perlahan. Halaman utama menunjukan daftar isi buku ini. Setiap halaman banyak yang terlipat dan hampir tidak terbaca. Sederet kata tercantum di daftar isi; memakai portkey pada tempatnya, waktu dan resiko. Harry cepat- cepat membalikan lembar demi lembar halaman tersebut dengan gesit. Tampaknya seperti seorag yang mendapati kunci jawaban terjitu sedunia. Menyelamatkan hidupnya.
Ia mulai membaca dan lupa segalanya. 10 menit berlalu, begitu asik membaca sambil menghapal panduan pemakaian sampai tidak menyadari sosok Tom berdiri menyender di rak, memperhatikan Harry dengan kasat mata sedingin es di wajah datarnya. Lalu, biru sapphire milik Harry berpaling kearahnya. Merutuki kebodohannya kalau dia lupa dia tidak sendiri disini,
"Malam Daniel," katanya setengah tersenyum.
Mata biru milik Tom beradu dengan milik Harry. Mereka sama- sama bergeming di tempat. Harry bahkan sampai tidak tau caranya berkedip.
"Tom," Suaranya berbisik tapi dia pasti mendengarnya.
"Malam yang indah, mau bermain denganku disini?" Tom berjalan mendekat. Wajahnya penuh kemenangan. Harry masih duduk di tempatnya. Kaku seketika, tubuhnya hampir roboh tertiup angin.
"Minggir," Harry mendesis sebal saat Tom tidak menghiraukannya– dia terus menjalan mendekat Harry.
Kedua mata yang begitu intens, tampak melahap korban di depannya. Tom terlihat tenang dari biasanya. Tongkat sudah tersimpan di belakang berjaga- jaga saat penyerangan mendadak, namun melucuti mantra tidak tepat berduel di tempat ini. Ia akan menjatuhkan Harry dengan cara terhina.
Harry bangun dari duduknya, melangkah mundur lupa kalau di belakangnya sudah tidak ada celah untuk berlari. Terjebak. Tom semakin mendekat. Rautnya tidak jauh berbeda dari salju, tidak mudah meleleh hanya sedikit sulutan api. Adakah cara yang lebih pantas untuk menghancurkan tatapan sedingin itu.
Mereka sama- sama membungkam. Jarak Tom dengan Harry hanya beberapa jengkal, sangat dekat. Dia telah memenangkan pertangingan ini sebelumnya, wajah ketakutan calon korban begitu menggelitik pikirannya. Tidak di sangka sebuah bayangan yang terbesit untuk melakukan hal kotor bersamanya disini. Tom mencegat jalan keluar Harry dengan sebelah tangannya. Tinggi badan Harry pendek darinya.
Ia merasakan firasat tidak enak. Semua terasa klise, bagaikan drama sinetron yang menggambarkan seorang gadis SMA di tahan oleh cowo yang lebih tinggi darinya, menyatakan cinta atau bermesra- mesra. Hal yang di alaminya tidak seindah kisah romansa anak muda EFTV. Tetesan keringat membasahi lehernya yang terbuka. Mereka sama-sama tidak mengenakan jubah. Hanya menggunakan atasan kemeja berlapis blazer abu. Tiga kancing teratas terlepas menampilkan bentuk likuk tubuh yang terpahat sempurna. Harry memperhatikannya.
"Membuntutiku lagi?" nadanya serendah lembah hutan
Harry meneguk ludah, memilih diam.
"Jangan gugup. Aku disini sekarang, kau tidak perlu bersembunyi," bibirnya di rapatkan dekat telinga Harry yang memerah, "dariku"
"Menjauhlah"
"2 minggu lebih kita tidak bertemu. Kau tidak tertarik lagi mencari tau tentangku, hm?"
"Kurasa sekarang waktunya untuk berduel"
Napasnya hangat menggelitik area vital Harry di telinga. Tom mendapatkan spot terbaik Harry. sekujur tubuhnya di buat terasa tersengat listrik berkekuatan tinggi, menyetrum hingga ke kepala lalu tubuhnya mendadak begitu panas. Dia tidak demam. Harry tetap bergeming, dia tau lelaki ini ini bisa membunuhnya disini juga.
"Apa yang kau mau?" suara meleser keluar dari mulut Harry
Segelap permata Tom menatap biji biru berbingkai kacamata tersebut, begitu dekat. Harry nyaris di buat mabuk oleh aroma bau tubuhnya.
"Jangan memancingku," tangan sebelahnya meremas pundak Harry, "Aku bisa membuat mu berlutut di atas paha ku tanpa tongkat."
Harry balik menatap tajam. Seringai tipis di bibirnya ingin menonjoknya. "Apa yang kau maksud?"
"Kau mengundangku bermain lagi, Daniel." kali ini tubuhnya saling menempel. Harry mendorong agar pria itu menjauh darinya namun sia- sia. Tenaganya cukup kuat untuk anak 17thn.
Begitu terasa sesuatu di bawah sana mengeras, bergesekan dengan isi di dalam celana milik Harry. Bersumpah, tidak habis akal bahwa hal ini akan berakhir secara dramatis. Harry terus mempekerjakan otak untuk berpikir apa yang harus di lakukannya saat ini. Pria di depannya tergolong orang yang cukup nekat. Melakukan tindakan heroik di manapun berada tanpa membaca situasi asalkan dirinya menang. Salah satu tabiat jelek Voldemort.
Tangannya berusaha mencari senjata andalannya, di belakang kantong. Sial. Kenapa sebegitu ceroboh sampai lupa tata aturan menyimpan tongkat yang benar.
Jari- jari lentik milik Tom mengapit dagu runcing Harry, di tariknya kedepan sampai wajah mereka berjarak 5cm. Mengajaknya melihat kedua milik matanya. Pantulan sosok dirinya yang menyedihkan terifleksi di kedua mata biru laut Tom. Harry ingin mendobrak nya jauh-jauh darinya sebisa mungkin masabodoh si penjaga itu melaporkannya lalu memberinya detensi seberat apapun asal dirinya terbebas dari pelecehan.
Harry tidak habis pikir Tom bisa melakukan hal ini jauh dari kata sehat. Berduel dengan adu tongkat bisa di maklumi, namun bila berduel dengan tongkat dibawah masing-masing adalah hal yang di batas kewajaran.
"Kau tidak mencoba melawan?" suara bariton yang dulu menyeramkan sekarang lebih panas dari sebelumnya.
Harry ingin berkata 'yaa aku ingin sekali menghajarmu' tapi tubuhnya menarik positif dari setiap perlakuan Tom padanya.
Sensasi panas mulai mendominasi dari kedua insan tersebut. Bercinta di perpustakan, seperti judul cerita yang pernah Ron buat. Keinginan aneh yang membakar akal sejat Tom Riddle ia langsung melumat bibir Harry kedua kalinya. Di gigitnya bibir ranum selembut permen kapas saat Harry mencoba memberontak. Kedua tangannya merengkuh pinggang Harry begitu erat sampai yang di bawah sana bergesekan lagi.
"Lepaskan bajingan!" suara Harry tersengal di tenggorakan, sesuatu didalam mengganjal untuk berteriak. Ia kehabisan napas, menghirup lebih-lebih oksigen yang bercampur debu setelah Tom Riddle mencuri ciuman pertamanya (kedua lebih tepatnya).
Sensasi kenikmatan yang tiada duanya Tom renggut lagi darinya secara paksa. Jarinya menekan bekas luka Harry, menjilatinya lapar. Seorang yang berada di depannya tidak jauh berbeda dengan mangsa yang sudah hampir sekarat.
Tom bagaikan predator yang haus daging dan Harry adalah objeknya.
Keberadaan Harry membuatnya pertama kali merasakan kehidupan yang lebih klimaks di banding apapun. Salivanya menetes liar dari mulut, mengenai wajah Harry. Kedua tangannya mendorong tubuh Tom sekuat yang ia bisa. Kelelahan, lelaki didepan nya ini sulit di tumbangkan. Harry merasakan kesakitan luar biasa, lukanya membakar, menyakitkan sekali. Harry menahan erangan rasa nyerinya. Luka di dahinya terasa terbakar lebih kejam dari biasanya. Bahkan kehadiran Voldemort yang hanya berjarak sekitar 1km saja Harry tidak merasakan sesakit ini. Sungguh penyakit luar biasa. Ia menggigit kuat- kuat bibirnya. Meremas pundak seorang pria yang lebih tinggi darinya.
"Enyahkau!" Harry mendesis kesal.
Tom sungguh menikmati. Kenikmatan dari bekas luka itu sungguh memabukannya. Perasaan apa sebenarnya ini. Sapuan lidah yang basah menari di area telinga Harry hingga ke leher. Seolah batang yang di hisapnya adalah permen lolipop kesukaan Tom dulu saat kecil.
Wajah yang kelewat datar seperti aspal yang baru di amplas. Ekspresinya seduktif menggairahkan. Kulitnya terasa dingin saat menempel pada Harry. Tidak sedikitpun oksigen yang tersisa untuk di hirup, pilihan terakhir adalah menghisap sisa hembusan napas milik Tom. Hangat. Baru pertama kali baginya bisa berada di jarak sedekat ini bersamanya, mencicipi cumbuan paksa dari seorang laki-laki kepada laki-laki. Bukankan Harry ingin mencoba mencumbu adik Ron seperti yang di rasakannya hari ini.
Suara lengguhan kenikmatan keluar dari sela bibir ranum milik pemuda berkaca mata tersebut, melihat tangan jail milik Tom yang membuat lawannya kepanasan, meremas miliknya dengan gemas. Tom Riddle merasa di bawah sana semakin mengeras.
Harry relfeks mencengkram bahu pemuda itu. Menahannya.
"Ahn... ah"
"Apa yang kau lakukan, lepaskan—"
"Tidakah jelas apa yang kau lihat sekarang," kedua tangan erat mencengkram pinggulnya, lebih merapat kearahnya. Bibir itu di lahapnya begitu lapar hingga Harry menjerit kesakitan. "Kau terlihat lebih menikmatinya. Tunjukan wajah kotor mu padaku, hanya untuk ku Daniel. Kali ini aku tidak akan membiarkan mu pergi."
Yang kedua kalinya tangan jail milik Tom Riddle meremas milik Harry di bawah sana. Ia merasa polos untuk di waktu ini, tidak peduli dengan anggapan ia melakukannya kepada seorang laki-laki. Di hadapannya jauh lebih memuaskan. Ia menyerahkan dirinya yang kotor. Tidak seperti Tom Riddle pada umumnya. Benci akan cinta.
Harry menggigit keras jenjang leher itu, akhirnya Tom membantingnya menjauh darinya. Percumbuan terputus secara sepihak. Milik Harry hampir berdiri di buatnya. Celananya basah. Siluet tubuhnya mundur beberapa langkah sebelum akhirnya si penjaga perpustakan menegurnya dan meminta mereka mengikuti detensi akibat keributan yang di buat. Tom Riddle mendesis sebal, berkali-kali melempar tatapan hawa membunuh kepada sosok laki-laki berkacamata di depannya itu. Mereka di giring memasuki kantor Slughorn terlebih dahulu untuk memberi detensi pada sang ketua kelas Slytherin. Hari yang tidak terlalu buruk pikir Harry karena memang ia berhasil lepas dari perlakuan haram oleh Tom Riddle. Kalau saja ia tidak menggigit kemungkinan besar mimpi yang di alaminya akan menjadi kenyataan, walau ia terlempar secara tidak elegan dan buku- buku berjatuhan membanting kepalanya.
Tidak buruk.
Si pembawa bencana, Tom orang yang berbahaya yang harus di hindari.
Makan malam tidak sama enaknya dengan makan malam sebelum- sebelumnya. Kurang berasa, hambar, pait, terasa kelu di lidah. Segala makanan yang di masuki kedalam kerongkan berasa menelan sebuah limbah pabrik, busuk sekali. Harry memutuskan untuk tidak makan.
"Wajahmu pucat sekali, Daniel, apa yang terjadi dengan mu?" tegur Septimus hendak menyantapi omelette yang ketiga, lalu tangannya meraih potongan puding dari sebrang tempat Harry berada. Mata birunya mengawasi, menunggu jawaban. Sesuatu yang tidak beres, Septimus cukup peka soal begituan. Ia pandai memperhatikan seseorang.
Harry menggeserkan beberapa potongan daging asap darinya, baunya membuat muntah tapi tertelan lagi. Bayangkan. "Aku tidak apa-ap —"
"Jangan berbohong. Hey kita ini satu kamar, kita sekarang jadi sahabat." Septimus berseru lalu memberi senyum pasta giginya.
Teman- teman lainnya mengikik geli. Satunya ada yang sampai tersedak, satunya lagi makannya terlempar ke belakang.
Sapu tangan putih mengelap bekas sisa makanan di sela bibir Harry "—sungguh"
Septimus menghela napas kecewa, "Atau kau bisa ceritakan padaku? Tanyakan apapun aku bisa membantu menjawabmu. Percayalah padaku."
Pria yang menyebalkan, suka mencampuri urusan orang lain. Tapi, ia hargai nilai kesolideritasnya. Kau beruntung sekali Ron, memiliki kakek yang baik dan perhatian. Tidakah bersyukur —lihat, kakek mu lebih muda kali ini.
"Baiklah." Harry memutuskan kontak matanya sebelum Septimus mengajaknya buka mulut, "Tapi nanti, ku tanyakan."
To be continue
