[PS Note:]
Hallo readers. Saya baru kembali dari sekian lamanya hiatus di penulisan fandom, khususnya Harry Potter yang sudah saya buat sampai chapter 4. Dan hilang begitu saja tanpa kabar berita yang jelas. Saat itu saya benar-benar merasa writer block parah. Hingga memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Memikirkan cerita kelanjutannya membuat saya pusing. Setelah Chapter 4 release, saya minggu setelah itu sempat lanjutin buat chapter 5 baru 1k words. Tapi, tiba-tiba niat nulis hilang. Hiatus. Writer block lah hingga beberapa bulan ya, lama juga. Saya sedih sama diri ku sendiri, berani memulai dan seenaknya berenti. Belum lama ini sekitar 2 minggu saya buka lagi fanfict saya, cukup banyak review dan sisanya membuat saya harus melanjutkan lagi. Memang di liat dari waktu, sudah expired. Tapi berapa lamapun review kalian yang telah berikan untuk saya, tidak pernah expired. Saat itu saya juga mau post cerita ini ke Wattpad, tapi saya takut kehilangan niat lagi :") Oh yaa ada info sedikit, untuk chapter 4 ada kesalahan penyantuman nama. Saya lupa 100% tidak sadar bahwa di chapter selanjutnya tidak menggunakan nama itu. Overall, saya re-post ulang nanti untuk perbaikan chapter 4. Yang beda hanya namanya saja. Arthur dan Septimus. Untuk Chapter 5, kemungkinan ada beberapa yang keliru, saya sempat tidak menemukan nama-nama profesor yang terlibat di zaman Tom Riddle. Ada juga beberapa OC tapi sebagai pendukung saja.
Hai semua! ❤ Saya berterimakasih banyak kepada para pembaca yang masih mau meluangkan membaca kelanjutan cerita Harry Potter saya ini. Walau sudah terbilang expired dan tidak menuntut kemungkinan kalian akan bosan dan hilang minat untuk membaca, tapi saya benar-benar terimakasih :) untuk semua, voting dukungan dan reviews pembaca setia cerita saya.
Happy Reading
THE BLACK OF FLOWER
Harry Potter © J.K. Rowlings
SEMI AU/AR, OOC, OC, Typo (s) Mature Content
Chapter 5: The Truth
Tragedi malam di perpustakan membuat Harry terjaga hampir selama 8 penuh. Nyaris Harry bermimpi soal Tom datang mengejarnya tengah malam, lalu menggagahinya kemudian. Ia merutuki nasib. Menyesal adalah kata yang terlarang untuk di ucapkan, tapi Harry mengakui. Dia masih merasakan sensasi bibir kenyal yang basah dan bagaimana lidahnya bergulat dengan miliknya di dalam rongga mulut. Harry benci mengungkapkan kebenaran, kalau dia menyukai ciuman Tom. Anak calon psikopat gila itu tidak hanya tau soal tentang mantra sihir dan membunuh seseorang, tapi dia cukup pintar menggoda seorang cowok.
Pagi itu ia pergi ke bangsal utama, sarapan bersama anak Gryffindor lainnya. Melahap sepotong pancake apel dengan paduan krim storberi diatasnya, segelas susu coklat hangat dan semangkuk puding buah kiwi segar sebagai pencuci mulut. Tapi lidahnya terasa kelu mengecap berbagai rasa semua makanan. Terlebih lagi pikirannya penuh oleh pertanyaan yang bakal nanti di tanyakan pada Profesor Dumbledore, masih membahas soal Portkey dan cara balik ke tempat asal.
Berlama-lama di dunia masa lalu Tom membuatnya frutasi setengah mati. Bukan siksaan fisik melainkan mental yang di hujamkan untuknya. Sekarang Harry membutuhkan teman curhat, membicarakan hal-hal pribadi di luar sihir, mengungkapkan perasaannya selama ia berada disini. Kepada siapa hati ia akan berlabuh? Harry terus menerus memikirkan Tom Riddle. Bukan soal kejadian di perpustakan, melainkan sebelum jauh-jauh hari, ia sudah berhasil menebak identitas diri yang sebenarnya.
Selama apa yang di lakukan di masa lalu Tom, terbukti bahwa waktu terhubung erat dengan masa sekarang. Apapun yang Harry akan putuskan nanti saat ini akan berpengaruh di masanya. Jika memang benar faktanya demikian.
Harry Potter mengunjungi Hagrid setelah pelajaran ramuan usai. Rupanya hingga detik ini ia belum menemukan teman yang pantas untuk di ajak mengobrol, bukan belum menemukan tetapi dia terlalu malas mencarinya.
Pekarangan Hagrid memang sangat berbeda di jaman Harry berada, belum ada Hippogrif –elang berbentuk setengah kuda itu. Belum juga di penuhi tanaman labu berjejer di sekitar halamannya, menyambut malam halloween yang terkesan klasik. Tetapi, hatinya merindukan yang dulu. Harry bersumpah ingin kembali.
"Hello Hagrid." Harry menyapa riang. Hagrid tampak terkejut, tidak biasanya ia kedatangan seorang teman yang rela repot-repot menginjakan kakinya di gubuknya. Kumis coklat lebat membubuhi aera dagu dan sekitar, setiap kali mulutnya bergerak kumis itu bergerai dengan geli.
"Oh Daniel, ada perlu apa?" Hagrid mempersilakannya masuk. Lalu, bergegas ke perapian menyediakan secangkir teh hangat untuknya sebelum Harry membuka mulut. "Ini minuman mu. Cuma ada ini, tak apa –kan?"
Harry tersenyum malu. Masalahnya ia masih terbawa suasana sosok penampilan Hagrid yang kebapakan kini dia duduk bersamanya saat ia remaja. "Thanks."
Hagrid duduk rebah di sofa besarnya. Masih menanti jawaban.
"Begini, aku ingin bercerita sedikit tentangku, di luar sihir tentunya."
" –ya?"
Kegugupan melanda mimiknya. Tiba-tiba saja speechless –khawatir apa yang akan ia lakukan setelah bercerita. Mungkinkah Hagrid masih orang yang tepat untuk di ajak mengobrol. Ia merasakan keraguan. Ada jeda sekitar 1 menit, hingga akhirnya Harry menyerah untuk berbicara.
"Tom mungkin sedang mengincarku."
"Apa!" Hagrid berteriak kaget. Suara baritonnya nyaris menggetarkan dinding, walau sedikit terasa.
"Ya." Jawab Harry berseru. "Aku tau ini konyol, tetapi ini yang kurasakan."
Hagrid memicingkan mata menatap tajam. "Ada apa dengan mu sebenarnya? Kau si anak baru Gryffindor baru saja sebulan disini, kurasa. Kenapa kau bisa berurusan dengan ketua Slytherin itu?"
"Aku... aku cuma," menyebalkan. Harry benar-benar kehilangan kata-katanya. Menguak informasi tadi, sama halnya membocorkan identitas diri yang sebenarnya. Harry meneguk secangkir teh. Panas. Air menyembur keudara, tidak mengenai wajah Hagrid. Tapi, sungguh memalukan.
Hagrid semakin menaruh kecurigaan besar padanya. Kesalahan Harry adalah sudah bertingkah aneh.
" –maaf. Aku hanya gugup." Menghela napas sejenak, "Hagrid. Aku tau kita baru saling kenal. Tapi apa kau mengingat wajahku sebelumnya, maksudnya mungkinkah kita pernah bertemu?"
"Apa maksudmu Daniel? Tadi kau bertanya soal Tom sekarang kau bertanya soal diriku, siapa kau sebenarnya?"
Skakmat. Pertanyaan yang sulit di jawab. Harry merasa krisis kejujuran. Ia mengetahui Hagrid sedang tidak bercanda. Cara pandangannya seolah memaksa dirinya membongkar apapun yang di rahasiakan. Tiba-tiba saja tubuhnya bergemetar. Tidak seperti biasanya ada rasa ketakutan cukup mendalam saat tengah berbicara face-to-face bersama Hagrid.
"Tolonglah, jawab dulu pertanyaan ku yang kedua." Ia memohon
"Tentu aku baru bertemu denganmu. Ada apa sampai kau terlihat begitu khawatir?" katanya, mengusap elus jenggotnya. "Sekarang apa masalahmu dengan Tom?"
"Ok. Baiklah. Aku percaya kamu bisa menjaga rahasiaku. Dari Profesor Dumbledore."
"Topik yang cukup serius. Baiklah, aku akan menjaganya untukmu."
"Sebenarnya nama ku Harry." Jeda beberapa menit sampai menunggu perubahan mimik Hagrid. "Aku datang dari masa depan. Empat puluh tahun yang lalu. Aku datang untuk mengubah masa lalu ku, tidak, maksudku, aku ingin mengembalikan yang ku miliki yang di rampas olehnya. Tom. Voldemort di masa depanku."
Kali ini mulut Hagrid menganga lebar. Kedua mata coklat membulat intens, seolah baru saja memenangkan undian termewah. Apa yang baru saja di katakan anak itu. Di luar perkiraan. Hagrid mencondongkan badannya mendekat kearah Harry. Menyipitkan tatapannya dari bawah atas mencari sesuatu yang janggal. Sepertinya ia tidak menemukan sedikitpun.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah berbicara konyol. Lupakan." Kata Harry. Tertawa berdehem di paksakan. Ia meneguk tehnya lagi. "Maafkan aku Hagrid. Aku terlalu banyak berpikir sampai berbicara hal-hal yang tidak masuk akal. Tapi, aku ingin memberitaumu. Setelah kau berurusan dengannya, sekarang giliranku berurusan dengan Tom. "
"..."
Hagrid tertawa tebahak-bahak. Nyaris terjungkal kebelakang . Lihatlah. Betapa puasnya Hagrid menertawai Harry. Sungguh. Ini di luar dugaanya.
"Kau memiliki selera humor yang jelek, Daniel." Dia mencoba menahan tawanya beberapa saat, lalu meneguk coffeenya. Mendelik sedikit kearah Harry dan kembali tertawa.
Harry di buat bingung. Bagian mana yang lucu. Sampai Hagrid begitu puas mendengar lelucon konyol itu darinya. Harry menampilkan ekspresi wajah yang sulit di artikan. Walau demikian, ada perasaan lega mendesir dalam dadanya. Setidaknya ia tak perlu repot-repot meyakinkan Hagrid soal tadi.
"Aku paham maksudmu. Siapapun itu bisa berurusan dengan anak Slytherin, hanya saja yang buat aku sampai tidak mengerti kenapa anak baru seperti mu bisa menarik perhatiannya. Dia orang yang sulit. Apa kau tadi bilang?"
"Kau menggodaku, Hagrid." Ia menyembunyikan rona merah di sekitar wajah. Harry meneguk tehnya lagi.
"Ayolah kawan. Baru saja kita berteman. Aku tentu bersedia membantumu. Sebisa yang ku lakukan, karena aku juga masih berurusan dengannya." Menghela napas panjang. Wajahnya memelas. "Tom Riddle anak cerdik, dan sempurna. Aku terkadang iri melihat dirinya yang terlalu di dewakan oleh banyak perempuan. Semua asrama menginginkan menjadi pacarnya, kau tau. Mungkin karena dia baru mendapatkan saingan baru, berusaha menyingkirkanmu."
Dadanya sedikit mencelos. Baru saja yang di katakan Hagrid membuat dirinya ingin sekali berteriak dengan bangga, kalau dia sudah menang dari puluhan anak perempuan disini yang mau berpacaran dengannya. Lagi-lagi Harry teringat kejadian memalukan di perpustakan malam itu. Tanpa di sadari jari lentiknya mengusap bibirnya, kembali mengenang rasa de javu atas ciuman paksa Tom padanya. Cukup menggelitik.
Harry menyudahi pertemuan bersama Hagrid. Lalu, kembali ke asramanya. Sebelum detensi memegorkinya tengah sedang berkeliaran di luar, pekarangan hutan. Sebelum anak Slytherin mendapatkannya lagi. Ia mempercepat langkahnya memasuki area koridor, jembatan lorong menggantung.
Hatinya menjadi tenang setelah berbincang sedikit atas keunekan yang mengganjal perasaannya selama itu. Hagrid adalah orang yang tepat di ajak curhat.
Lima hari berlalu sesudah ujian Transfigurasi di laksanakan yang membuat dirinya insomia mendadak. Membayangkan sosok Profesor Minerva yang begitu sadis memberi puluhan lembaran ujian pilihan ganda. Dan kini profesor yang berbeda pun memiliki tabiat yang sama. Ia mengatakan dengan gampangnya kalau itu baru ujian yang pertama, besoknya siang di adakan ujian test kedua. Hingga ujian terakhir, praktek mencoba mengubah kelinci percobaan menjadi benda kesayangan yang di inginkannya.
Bila kau lulus, ia akan memberikan point 100 untuk Gryffindor dan bilasiapa yang mendapatkan nilai terendah, detensi akan siap menghampiri siswa nya dalam kurun tiga hari berturut-turut. Jumat sial untuk Harry karena ia baru saja memenangkan huruf D untuk ujian Transfigurasi. Empat anak Gryffindor dan dua anak dari Slytherin mendapatkan detensi tambahan dari si pengajar Transfigurasi.
Ketua asrama Gryffindor mengarahkan anak-anak detensi kelorong ketiga tempat kerja Flich. Harry mendesis sebal mengingat-ingat wajah Flich seperti kakek tua perjaka seumur hidup yang memuakan. Separuh hidupunya di habiskan bercinta dengan seekor kucing Persia kesayangannya. Akhir-akhir ini dia sangat sensitif. Mungkin sebabnya satupun wanita tidak mau melirik kearahnya sebagai seorang lelaki sungguhan. Mengerikan.
"Kalian berdua yang pirang sama yang botak, maju kesini." Ketua Gryffindor menyuruh dua anaknya mendekat. Ia berbisik pada Flich –wajah yang tidak bersahabat, lihatlah cara dia menatap anak-anak detensinya. Penuh mimik menjijikan. Harry memberi sumpah dia jomblo sampai mati.
Mengapa ketua asrama Gryffindor terlihat sangat akrab dengan Flich. Ia mengangguk. Kemudian ia menyeret dua anak yang di panggil ketua tadi memasuki ruang kerjanya. Sisa empat orang. Harry mengekori kemana si ketua itu pergi. Dia tidak memberitahu sebelumnya apa saja detensi yang akan di lakukan nanti untuk mereka.
Sesampainya mereka tiba di kelas Herbologi, ia bertemu dengan salah satu guru wanita tua berbalut jubah hijau yang menggambarkan kecintaan terhadap tanaman serba hijau atau sejenisnya. Harry menduga setelah ini ia akan di tempatkan bekerja mengurus mahluk-mahluk kerdil bersuara nyaring, tetapi dugaannya salah besar. Ia baru saja mau menebak-nebak. Sang ketua Slytherin berdiri di sampingnya dengan posisi melipatkan kedua tangannya di dada. Tatapan dinginnya yang meluluhkan.
Hari yang sangat menyebalkan. Apakah semua ini adalah rencana si profesor mempertemukan Harry dengan dia lagi?
Kedua mata mereka saling bertemu. Bertahan dalam 5 detik. Harry yang pertama memutuskan kontak.
'Kenapa harus ada dia?' Harry mengutuk –membatin .
"Well, selamat siang anak-anak." Sambut sang profesor.
Siswa lainnya menyambut serentak.
"Ada apa ini rame-rame kesini?" sang profesor mendelik kearah ketua Gryffindor. Menuntut jawaban, walau sebenarnya ia sudah tau untuk apa mereka di bawa kemari. Memperhangat suasana saja.
Dia orangnya lembut. Senyum keibuannya mengembang, tapi tidak cukup menenangkan detakan jantung Harry.
"Detensi prof." Kata ketua Gryffindor.
"Astaga belum sore kalian sudah di beri detensi." Jawabnya. Ia mengikik. "Tom, bantu aku mengurus mereka. Aku ada perlu sebentar. Mau menyelesaikan laporan kelas enam."
Tom mengangguk dengan seulas senyum khasnya. Harry melihatnya seperti seringai.
"Tentu." Profesor Herbologi kemudian meleos pergi.
"Ku serahkan sisanya padamu, Tom. Dua anak Slytherin. Bawa mereka ke tempat gudang ramuan, Profesor menyuruhmu untuk memberikan tugas disana." Kata ketua Gryffindor. Matanya menjadi tegas. Sosok calon pemimpin handal. Harry bergumam. Tapi tidak untuk orang di sebelahnya.
"Biarkan aku yang mengurus anak itu juga." Tukasnya. Ia sambil mengecek absensi kelas.
"Pardon?" sang ketua mendecak-decak kebingungan
"Si anak barumu, Gryffindor." Dia masih sibuk memainkan pena diatas kertas
Ketua Gryffindor semakin bertanya-tanya. Mulutnya menganga meminta penjelasan. Bukankah Gryffindor adalah bagiannya, dan dia hanya perlu mengurus anak Slytherin. Harry terkesiap. Mendengar kalimat 'si anak baru' membuatnya bergidik ngeri. Sudah seharusnya Harry menyadari kalau sejauh ini Tom merencakan sesuatu jahat padanya. Memang sudah 5 hari mereka tidak bertemu. Sebisa mungkin beberapa minggu kedepan ia justru tidak ingin bertemu dengannya.
Baginya perlu mempercayai apa yang ramalan bilang. Dua hari yang lalu teman sekamarnya pernah meramalnya menggunakan kartu tarot. Suatu hal terjadi buruk pada kartu yang di dapat Harry. Kartu dewa kematian, menandakan tandanya bencana atau kejadian yang menjadikan hari mu begitu sial.
Hari ini terbukti kebenarannya. Sekilas kedua mata mereka bertemu. Sekian detik. Tom kemudian beralih pada sang ketua Gryffindor di sebelahnya. Raut wajahnya berusaha meyakinkan, mereka sama-sama memiliki hak untuk mengambil keputusan.
Tapi, rupanya ketua Gryffindor terlalu kepo.
"Ada apa? Anak Gryffindor sudah menjadi tanggung jawabku dan aku di beri tugas oleh profesor untuk mengurus mereka sampai detensi selesai." Ada penekanan di akhir kalimat. Kedua dari mereka sama-sama beradu tajam. Tidak mau kalah.
Harry berdoa pada keberuntungan. Semoga ketua Gryffindor memenangkannya. Ia berani bersumpah ia tidak ingin menyerahkan dirinya sekarang juga pada Tom. Melihatnya, kembali mengingat malam di perpustakan. Memalukan.
"Anak barumu kedapatkan olehku sering berkeliaran di tengah malam. Kau tau, aku memang belum melaporkannya padamu, dan pihak detensi yang terkait. Tapi, jika kau meminta bukti sekarang aku sudah menyiapkan laporannya." Tom menjelaskan secara detail. Ia begitu sangat yakin apa yang di katakannya.
Ketua Gryffindor mengerjap sebentar. Menimbang-nimbang keputusan yang tepat.
'Jangan serahkan aku padanya, tolonglah'. Harry membatin
Apapun itu detensinya kan ku lakukan. Tiga, empat, tujuh bahkan dua minggu aku bersedia melakukan detensi seberat-beratnya asalkan jangan kau beri izin dia. Kumohon.
Tom melirik sebentar Harry, tersenyum penuh kemenangan.
"Bersyukurlah masih ada ketua asrama lain yang masih mau peduli dengan anak-anakmu. Kepala asrama Gryffindor tentu akan memberi point tambahan untuk asrama dan point untukmu sebagai ketua. Setelah detensi ini selesai, aku langsung menyerahkan laporannya padamu. Detensi tambahan untuk anak barumu akan menjadi tanggung jawabku, tentunya di bawah perintah Prof. Slughorn." Tom mendominasi.
Pada akhirnya ketua Gryffindor mengizinkan Tom mengambil alih Harry berada di kekuasaannya. Tidak ada penolakan sepihak dari Harry karena ia memang betul telah melanggar beberapa aturan, salah satunya sering kepergok olehnya berkeliaran tengah malam. Mencoba berbohong menurutnya adalah keputusan terbaik tetapi hanya bertahan beberapa saat. Setelah itu ia akan di kenai sanksi kedua puluh tiga. Detensi semakin di perparah.
Tom menggiring dua anak Slytherin dan Harry membuntutinya di belakang –meninggalkan kelas herbologi menuju gudang ramuan. Sejauh mungkin Harry menjaga jarak darinya. Menyembunyikan siluet keberadaannya dari balik punggung anak cowo Slytherin.
Semoga saja Tom masih mau berbaik hati padanya, memberikan detensi yang sama dan di tempatkan yang sama bersama yang lain.
Tom sama sekali tidak mengusik seberapa jauh Harry berada di belakang. Namun, matanya tak bisa lepas melirik kebelakang memastikan Harry mengikutinya. Mencari sapphire milik laki-laki yang terbingkai kacamata indahnya. Atau menarik tangan itu agar berjalan beriringan di sebelahnya. Tak luput juga Harry menatap balik manik tersebut. Guratan bibir yang ranum semerah cherry blossom menukik kebawah, tidak memberi celah sedikitpun untuk memberikan senyuman selamat datang.
Ia beralih pada surai rambut hitam legamnya. Tergerai anggunnya di bawah sinar cahaya matahari. Sehalus kain sutra dan gelap mengkilap. Harry pernah mencium bau aroma menthol rambutnya. Kemudian pandangannya memperhatikan punggung tegap tersebut. Cukup berisi dan porsi yang profesional. Ia menyukai penampilan Tom yang tidak mengenakan jubah.
Tidak berasa lamunannya mengantarnya sampai ke gudang ramuan. Harry membisu menunggu perintah. Sambil memperhatikan sekitar dinding langit ruangan dan menghitung setiap botol-botol berjejer di samping. Sambil pula membayangkan Hermione dan Ron sedang bersenda gurau mengomentari hal apapun yang berada disini. Harry telah melupakan bahwa dua anak Slytherin sudah memasuki gudang ramuan dan ia sekarang berdua bersama Tom.
Mereka berdua bergeming sesaat. Saling memberikan tatapan tajam sebagai bentuk kebencian mereka.
Harry membuka suara, "Sekarang apa tugasku?" ia bertanya malas. Memutarkan bola matanya.
Tom masih membisu. Terus menerus memperhatikan Harry dalam diam yang sulit di jelaskan.
"Apa detensiku?" ia menuntut jawaban. Mulai bosan. Risih.
Tom mendekat perlahan, masih tidak memutuskan kontak matanya. Jujur, Harry di buat gugup terus berkali-kali di tatapnya. Membuatnya merasa tidak nyaman. Harry mundur spontanitas, tetapi Tom telah menangkap tangannya.
Harry menepas, tetapi terlalu kuat tenaga pria tersebut. "Apa yang kau lakukan? Aku harus melakukan kewajibanku menjalankan detensi." Harry sedikit berteriak.
"Tentu aku memiliki tugas untukmu, Daniel." Ia memperat genggamannya.
Harry merintih kesakitan. "Lepaskan!"
Tom menyeret Harry di bawanya pergi meninggalkan gudang ramuan. Harry berkali-kali memberontak –sia-sia usahanya. Mereka berjalan melewati lorong yang sepi. Bahkan ia tak tau jam berapa saat ini, mungkin sudah sore.
Bulu kuduknya meremang, berdiri seketika. Sesuatu yang buruk akan terjadi setelah ini. Pekik Harry menyakinkan kepercayaan itu. Jantung berdegup kencang dengan suara nakal yang menembus telinga. Ia bersumpah Tom mendengar detakannya.
Ingin sekali Harry merogoh kantong dan mengeluarkan tongkat sihirnya. Merafalkan mantra, menghujamkan sosok siluet itu terlempar jauh. Cukup dekat sampai Harry bisa mengenainya telak. Tetapi, ia perlu mempertimbangkan. Menggunakan sihir di luar jam pelajaran justru mendatangkan masalah-masalah baru. Kemudian ia merasakan genggamanya melonggar. Ada satu hal aneh tanpa di sadari Harry, kalau genggaman Tom berubah posisi. Ia menggandeng seperti menggiring kekasih berjalan di bawa pergi. Telapak tangannya menggesek kulit, terasa dingin pria itu.
"Aku tidak akan melakukan perintahmu bila kau memintaku bertarung bersamamu." Harry menggertak.
Tom berhenti melangkah dan melepaskannya. "Kau masih memiliki utang malam itu. Anggap saja semua yang kuberikan sebagai jalur pintas detensi mu agar cepat selesai."
"Aku menolaknya." Harry menimpali cepat
"Hmm menarik." Seulas seringai jahat membingkai di sudut bibirnya.
Harry memandangi Tom sambil mengangkat jari-jari tangan ke udara. Mengepalkan tinju tepat di depan. Tidak ada keraguan yang terpampang sedikitpun pada Harry. Ia ingin memberontak, meraung-raung terhadap dirinya yang lemah saat itu tidak bisa melindungi Cedric. Rasa kebencian yang mendalam, terciptalah balas dendam yang seharusnya Harry hindari. Menyaksikan seorang pembunuh teman dan orangtuanya, berdiri tepat di hadapannya.
Apa yang akan kau lakukan?
Wajah mulai memanas. Tom terus menerus memancing kemarahannya –melonjak. Kebenciannya jelas terpampang di sorot mata. Tom mendecak kebingungan, seperti ia baru saja melakukan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Apakah karena ciuman semalam itu yang membuat anak baru Gryffindor menaruh amarah terhadapnya –terkesan berlebihan. Tapi, ia tidak peduli. Tom menyeret Harry dari balik permukaan. Menuju ke gudang ruang penyimpanan kebersihan. Letaknya tersudut dan jauh dari keramaian. Harry terkesiap sesaat dirinya di lempar hingga bibirnya sukses mencumbu lantai kotor.
Cekrek.
Harry menatap punggung anak itu sekarang ia berniat ingin meraih tongkatnya dan menghajarnya dengan berbagai mantra.
"Oh jadi disini tugasku? Membersihkan ruang penyimpanan atau semacamnya?" Harry mendesis
"Tidak." Kata Tom. "Kita akan bertarung disini. Cepat keluarkan tongkatmu dan lawan aku."
"Hah? Kenapa kau begitu serius sekali mengatakannya?"
"Aku serius mengatakannya." Tom merogoh kantong, melayangkan miliknya di udara dan bersiap-siap merafalkan mantra. Ia tidak pernah main-main.
"Aku menyerah." Harry melambaikan kedua tangannya
"Jangan buat aku semakin membencimu. Berdiri dan cepat serang aku."
"Tidak akan. Aku tidak mau ambil resiko. Bagaima–"
"Crucio!"
Kilatan cahaya hijau mirip mantra Avada Kadavra melilitkan sekujur tubuh Harry sekejap. Di sekitarnya, Harry merasakan tubuhnya berada di bawah kekuasan kekuatan siksaan itu. Menyakitkan. Ketika tulangnya di patahkan secara paksa, tetapi memang tidak membekas luka fisik. Sensasinya sungguh menyakitkan. Detak jantung berdetak secepat hentakan kuda berlari. Ia bisa saja terkena serangan jantung setelah itu. Setelah yang kedua kali merasakan mantra Crucio, tubuhnya semakin meronta untuk di hancurkan.
Bayangkan semua jari-jari tangan dan kakimu menjadi kaku, kesemutan dan tidak bisa bergerak. Harry meraung-raung. Tom begitu menikmatinya.
"Teriak lebih keras." Tom meminta. Tawanya melengking –menyeramkan
"Ahh!" Harry menjerit
Tom mendekat, meraih anak itu dan di pangkunya. Kemudian tangan sebelah membelai rambut Harry. Beralih ke pipinya. Terlepas mantra Crucio masih terus menghujam Harry hingga berkeping-keping. Tom seorang pembunuh yang sama sekali tidak memiliki rasa ampun. Seringai jahat mengingatkan sosok badut pedofill. Harry bergidik ngeri melihatnya.
Tom memutuskan mantra Crucio. Harry segenap bisa bernapas lega beberapa detik.
"Aku bersedia merekrutmu menjadi bawahanku, Daniel." Tom tegas
Sekejap mata Harry membulat kejut, kemudian senyum seringai tamoan mengisi mukanya. Senyuman licik, hanya dia yang tau. Dengan suara lembut, Harry berkata. "Apa yang ku dapatkan sebagai imbalannya?"
Tom mengusap bibir cherry Harry, "Kekuatan yang melampaui Prof. Dumbleodre. Semacamnya, kau bisa jadi yang kedua berada di tahta kerajaanku nanti. Bagaimana?"
Perlahan Harry merogoh pena di sakunya, sedikit demi sedikit.
"Bisakah aku meminta yang lain?" Harry manggut-manggut terkikik menenangkan dirinya sendiri.
"Menjadi anjing setiaku." Tom mengucapnya penuh suara yang begitu seduktif. Menggelitik telinga sampai ke ubun.
Harry mendesah, mengangguk. "Lebih dari yang itu,"
Tom menyipitkan mata. Ada yang tidak beres. Secepat kilat Harry menghujamkan wajahnya oleh pena, berniat membutakan sebelah matanya. Sia-sia. Tom secerdik kancil menjauh beberapa meter dan ia kembali mengutukinya dengan Crucio. Tom mendengus, merapatkan tubuhnya sedikit. Matanya terpejam, menampakkan deret bulu mata panjang. Permata biru berbayang hitam legam tertutup siluet, menatapnya penuh intimidasi. Harry bisa kejang berkali-kali saat melihat wajah tampan itu menindasnya cara terhormat.
Jari lentiknya kemudian menyentuh, menekan-nekan luka Harry. Sensasi yang menggairahkan lebih dari apapun. Tom melenguh nikmat.
Harry meregang. Tubuhnya mendadak panas. Luka di dahi terasa terbakar. Ia berkali-kali meronta, mengamuk ke berbagai arah dan meminta di lepaskan. Tetapi, Tom terlalu sadis hingga tubuh ringkih Harry di dekapnya, menyosor ke dinding lalu kemudian menindihnya.
Tom membawa jarinya ke jenjang leher Harry yang kokoh, menyusuri otot disana. Seringainya seduktif. Selama pertukaran sentuhan, Harry relaks beberapa detik –pun ia tak berkedip memandangi. Menyelami.
"Kenapa tegang sekali?" Tom kemudian meraba area dada, mencari sesuatu yang ingin di sentuhnya, menebak bagian itulah yang merupakan titik sensitif milik Harry.
Harry mencicit. Suara ahn nyaris keluar. Ia menelan erangannya ke dasar tenggorokan.
"Keluarkan saja." Tom semakin asyik memainkan puting kecil yang telah mengeras, menonjol ke permukaan. Di pilinnya sambil menyaksikan wajah Harry yang memerah.
Bergeming seketika. Tubuhnya menerima sentuhan Tom, memberinya izin menjamah lebih leluasa. Sial. Harry tidak ingin mengakui, tetapi di perlakukan seperti ini bagaimana tidak yang di bawah perlahan celananya menjadi sempit. Usahanya sia-sia. Andai jika kedua tangan masih mampu di gerakan, percayalah ia langsung memberikan tinju sekuat tenaga kearah muka tampannya itu.
Tom menundukan kepala, mendekat hingga berapa inchi jarak dari Harry. Hembusan napas hangat menyapu area kulit wajah telanjang. Harry pasrah dengan keadaan, bukan karena telalu lemah dirinya untuk melawan. Efek samping Crucio menyebabkan ototnya lumpuh seketika. Tom menyesapkan bibirnya. Mengemut semerah cherry yang basah. Di lahapnya napsu, hingga ciuman berlangsung selama dua menit. Membiarkan sesaat keduanya memasok udara. Napas mereka tersengal, di buru gairah yang terlonjak exicted.
"Aku berpikir seperti pernah bertemu denganmu," Tom berbisik
Harry terkesiap. Baru saja ia ingin menikmati segala sentuhannya –tidak bertahan beberapa detik dirinya terjerembab kedalam lembah paranoid. Ia mulai kehilangan akal untuk berkata-kata. Mengucapkan o pun lidah menjadi kebal. Dari sudut matanya, Tom mengintip wajah Harry. Di lihatnya pria itu pucat. Apakah dugaannya selama ini ternyata benar. Jika ya, Tom adalah laki-laki yang pantas mendapatkan medal dalam tebak-tebakan. Maka ia mencoba berkata lagi, menguak semua rahasia satu persatu. Sedikit lagi, sampai sedikit lagi mencapai klimaks yang–
"Harry –" Suara Tom parau. Sangat seksi tetapi meninggalkan kesan mengerikan, bukan. Ucapannya barusan. "...Harry Potter."
Harry terdiam. Napas membara. Ia merasa jiwanya di tarik paksa keluar, di cambuknya dengan cemeti. Kalau saja ia punya kekuatan yang mampu membalikan keadaan, Harry tentu akan membalaskan dendamnya mati-matian.
Bagaimana cara seseorang mengaku bahwa dirinya adalah benar yang di maksudkan. Apakah dengan bodohnya Harry mengangguk setelah nama yang di sebutkan tadi. Bagaimana caranya dia mencari kata pengganti untuk menutup menyangkal kemungkinan. Ia terkadang ingin menyesali keputusannya seumur hidup.
Kata terlintas Untuk apa?
Untuk apa
Dan semuanya untuk apa ia harus repot-repot mengurusi masa lalu.
Biarlah terjadi. Biarlah yang telah hilang tak perlu di cari lagi. Dengan mesin waktu apapun tidak akan pernah bisa menghidupkan seseorang.
Namun, Harry tidak di beri kesempatan untuk kali pertama, Tom sudah mengeja namanya sebenar-benarnya.
"Harry? Apa maksudmu? Aku Daniel." Harry bersikukuh meyakinkan.
Tom menggeleng cepat. Kartu AS sudah di pegangnya, ia akan melemparkan hujaman kebenaran yang menyakitkan pada Harry, terus berkali sampai ia tak bisa lagi berucap. Tom mengernyit, "Harry Potter. Aku tentu tau. Hanya menyentuh lewat lukamu, membawaku ke masa depanmu. Kau terlalu pintar untuk membodohiku selama ini."
Ah, andaikan semudah itu.
Harry tau, ia memang di berkahi nalar yang sungguh luar biasa. Anak pintar segala hal. Akan tetapi, jika ia mengaku, perjuangan selama sebulan lebih tidak ada gunanya. Atau mulut berusaha terbuka. Jika mengaku hanya untuk Tom, tidak semudah yang di pikirkan tuk menyerangnya.
Bila memang benar yang di katakan Prof. Dumbledore, tentang portkey sebagai kunci lompatan waktu lampau seseorang. Semuanya saling terhubung.
Harry kini mampu menggerakan seluruh ototnya. Lalu, bergegas berlari keujung sejauh sampai tangan itu tak bisa menyentuhnya lagi.
"Oh jadi benar dugaan ku."
"..."
"Jangan merajuk. Kau terlalu pintar untuk membodohiku." Tom mengikik. Kemudian, berjalan perlahan mendekat siluet orang itu. "Tapi, aku mengakui kebodohanku. Yang telah termakan dengan identitas palsumu selama ini, jika memang benar itu kau. Aku percaya itu dirimu. Waktu yang sudah begitu lama, aku menunggu kedatanganmu. Ya... sudah begitu lama aku menunggumu, Harry."
Harry tidak mencoba mengelak. Dia tercyduk.
Tom manggut-manggut, lalu melirik kepada Harry, terbaring di sudut di bawahnya, "Bagaimana keadaanku di masa depan Harry? Aku tau rupa ku yang itu membuatmu geli melihatnya, bukan?"
"Aku belum bilang ya jika ucapanmu benar." Harry mengelak.
"Kalau begitu katakan Ya, Harry Potter. Tungu sebentar, si anak yang se–"
"Expelliarmus!"
Tom jatuh telak membanting dinding. Kekuatan Harry begitu cepat pulih sampai bisa memberi serangan dadakan. Itu tadi celah yang sangat luar biasa. Tom bangkit berdiri, auranya menguar memberi sinyal penuh siap menghabisi Harry detik ini juga.
Tom tertawa keras, "Suka! Aku suka seranganmu! Ayo serang lagi Harry. Pukul aku!"
Kini ia terlihat lebih mirip seorang masokis.
"Dasar gila," Harry menceloteh sebentar lalu tersentak, "Aku tidak bermaksud memprovokasi."
"Aku sangat senang bisa bertemu dengan mu lagi, dengan penampilan ku yang jauh lebih muda," tangannya melayangkan tongkat, " –lebih tampan!"
"Avada Kadavra!"
"Cave inimicum!"
Andai jika Harry terlambat merafalkan mantra pelindung, detik itu juga ia akan terbang jauh ke surga. Jika di terima. Tom Marvolo Riddle terbilang sangat nekat mencoba membunuh Harry dengan mantra kutukan paling di takuti oleh semua penyihir. Masalahnya ia melakukannya terangan-terangan di sekolah. Bagaimana jika Harry sampai mati sebelum pulang ke masa depan.
Selama-lamanya. Membayangkannya cukup bisa kencing di celana.
"Teruskanlah."
"Kau begitu serius ingin membunuhku, Tom?"
Tom tertawa. Ia memajukan langkahnya kedepan, mendekat, sebisa mungkin bila tangannya bisa meraihnya. Spontan, Harry mundur, namun sial tidak lagi ada celah di belakangnya. Terjebak oleh dinding. "Bukankah aku yang ada di masa depanmu juga sedang berusaha membunuhmu, Harry?" nadanya seksi. Dia mengancam lawannya lewat kata yang mampu menggairahkan libido.
"Ya. Aku juga tidak akan kalah darimu." Walau sebenarnya Harry tidak yakin dengan kalimatnya.
"Tunjukan padaku sekarang juga." Tom menantang. Kini sosoknya sudah berdiri dekat di hadapan. Dengan tongkat teracung keatas, siap melawan.
Harry bergidik sebelum mantra kutukannya di ucapkan. Buru-buru ia mendorong tubuh jangkuk Tom Riddle untuk menjauhi beberapa senti darinya. "Pasti ku tunjukan padamu, Tom. Sampai aku siap membunuhmu dan membuatmu menyesal seumur hidup!"
Tom meringis. Tawa lengkingan yang bergema di dalam ruangan. Tidak peduli lagi, Tom menarik Harry paksa di dorongnya menyudut dinding, ia menahan dengan kedua tangannya. Mencegat Harry keluar. Melempar tongkatnya kemudian, mencegah Harry menyerangnya.
"Apa yang kau lakukan?" Harry begitu ketakutan. Nyawanya kini sedang berada di ujung tanduk. Sesekali, mencoba napas pun sulit rasanya.
"Aku ingat. Tiga tahun yang lalu setelah kau datang menjumpaiku di masa depanmu. Kau kemudian memasuki diary ku. Mencoba berbicara padaku. Manis sekali, Harry."
Harry mengerjap-ngerjap. Mendecak mata berkali-kali. Wajahnya menampilkan rona merah samar. Itu reaksi natural. Mungkinkah Tom sedang menggodanya?
"Kau bukan datang untukku, melainkan menyelamatkan gadis darah pengkhianat Weasly."
Spontanitas, Harry menggampar wajahnya —kasar. Kenapa tangannya bisa bergerak sendiri?
"Sialan. Dasar muggle sialan!" Tom mencaci
"Jangan seenaknya menyebut-nyebut dia seperti itu."
"Lantas apa? Harry?" kata Tom. Penuh nada mengancam.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu, ta-tapi... seharusnya kau tidak perlu menyumpah." Harry gelagapan.
"Aku tidak peduli. Darah Muggleblood tetap menjijikan, pengkhianat Weasly. Si gadis idiot yang kau selamatkan." Tom mendesah. Tubuhnya merapat ke Harry. "Aku cemburu."
"Hah–"
Tom mengabaikan. Perlahan jarinya menjamah lagi guratan otot wajah Harry yang mengerut ketakutan. Sembari mengelus rambut hitamnya yang sekusut ijuk sapu, ia menangkup pinggang Harry, membusungkan dadanya yang bidang agar nempel. Dari jarak dekat, Harry merasakan segelintir hembusan hangat menyapu permukaan wajahnya. Sial, bau menthol sikat gigi menguar harum dari mulutnya. Harry mangap-mangap sedikit. Menghirup.
Harry langsung memalingkan wajah, menopang tubuh besar itu dengan kedua tangannya. Memberi perlindungan, sia-sia –Tom semakin merengkuh memperat pelukannya. "Begini saja sudah cukup." Tom berbisik. Lidahnya ikutan menjilat telinga Harry.
"He-hentikan Tom," Harry gelagapan, nyaris mendesah.
"Sebelum membunuhmu, biarkan aku main dulu denganmu sebentar, Harry." Tom terus saja menggodanya. Tak kuasa dirinya menahan melihat rona merah wajah Harry yang sudah hampir exicted.
Bila kau meminta jujur, ini adalah hal yang sangat tabu di pikirkan olehnya. Setelah pertama kali menginjak Hogwarts sejak kecil hingga remaja mengalami puber, Tom belum pernah melakukan hal-hal beginian dengan orang lain. Teringat, tahun kelima saat itu pernah ia kecurian oleh gadis Slytherin menciumnya. Wajar bukan, bila di lakukan dengan dua jenis kelamin yang berbeda. Perempuan dan laki-laki. Baik bila perempuan atau laki-laki yang mulai duluan. Sayangnya, Tom masih tidak memiliki rasa gairah sejak itu. Ia tidak mau peduli. Namun, yang tidak bisa di mengerti Tom adalah bagaimana rasanya di cintai oleh seseorang.
Terlebih lagi dia adalah anak yatim piatu, yang sejak bayi hingga menginjak usia 10 tahun (?) di besarkan di panti asuhan. Mengenal cinta masih terlalu awal baginya.
Oleh sebab itu kekalahan terbesar Voldemort saat mencoba membunuh Harry, sihirnya membalik menyerangnya. Ia kalah dengan rasa cinta dan kasih sayang yang ibunya berikan pada Harry, dan itu tidak di miliki oleh Tom.
Tidak ada yang tau hati manusia akan seperti apa jadinya nanti. Profesor Dumbledore pernah memberitaunya, ia mengatakan kalau "Manusia itu rumit." Kau mencoba memahami mereka tidak semudah kau (Tom Riddle) mempelajari ilmu sihir sesulit apapun, tapi pada akhirnya juga pasti menguasainya perlahan.
Kini, ia di kedatangan tamu yang tak terduga. Harry Potter, musuh abadinya.
"Apa yang kalian lakukan disana?" terdengar suara pria memasuki ruangan, seorang pemuda bersetelan Gryffindor melihat jelas mereka. Seperti menciduk tersangka yang sedang kedapatan memakai narkoba. Tom dan Harry terkesiap dan mengintip dari balik bayang gelap. Tetap ketahuan.
"Kalian–"pria Gryffindor gelagapan. Rupanya ia datang di saat waktu yang tidak tepat. Wajahnya ng- blush seketika, melihat bagaimana mereka tengah melakukan err..."Ketua Slytherin, Daniel... a-apa yang kalian lakukan disini?"
Reflek, Harry mendorongnya jauh-jauh, lalu bergegas berlari ke sisi siswa Gryffindor.
"Well, aku tidak bermaksud menganggu, aku datang kesini, er..."
Tom menatapnya sinis. Dingin sekali. Wajahnya yang tertutup setengah siluet memberikan kesan yang cukup mengerikan. Si anak Gryffindor mendelik, tapi jantungnya hampir copot karena terkejut. "Maafkan aku. Aku Cuma mau ambil sapu." Tampangnya bodoh sekali.
Tom berjalan cepat sampai melewati Harry, dan berdiam beberapa saat di ambang pintu sambil menunjukan senyum kekecewaan.
"Sayang sekali, Harry." Katanya. Lalu meleos pergi.
Rabu malam ini Hogwarts mengadakan Prom Night di bangsal utama jam 8 malam. Prom Night di adakan untuk merayakan ulang tahun Hogwarts yang ke 30 tahun(?). Semua asrama di minta untuk berpartisipasi dalam memeriahkan acara tersebut. Persiapannya telah di lakukan selama 2 hari, mendekorasi ruang, berbagai macam dessert dan makanan, musik serta games lainnya. Tentu, Porm Night ini tidak hanya berkegiatan dansa saja, tetapi Hogwarts menciptkannya agar lebih menarik dan menantang. Dalam Porm Night tersebut juga tentu ada Challenge tersendiri di setiap asrama dan akan berkompetisi menggunakan sihir sebagai senjata utamanya untuk meraih kemenangan.
Dan untuk acara perlombaannya di adakan pukul 4 sore sampai 7 malam.
Harry berada di team kelima. Setiap team memiliki anggota tiga orang. Peserta, kemudian di arahkan ke bangsal utama. Para Perfek masing-masing asrama memberi intruksi mengenai sesi lomba pertama.
Si perfek rambut pirang, Seamus berkata. "Kali ini lombanya mengenai Transfigurasi."
Siswa lainnya mendesah napas panjang.
"Aduh, sial. Aku kan remed." Seorang siswa berkulit hitam keceplosan.
"Satu anggota di minta untuk menebak kata, satunya mengarahkan, dan terakhir bila kalian berhasil menebak kalian di minta untuk mengubah benda yang di maksudkan. Masing-masing memiliki waktu sekitar 3 menit. Jika berhasil tetapi terlambat, kalian di eliminasi."
Siswa lainnya mendesah napas panjang lagi, kali ini terdengar kesal.
"Setelah kalian lolos lomba pertama, panitia akan mengajukan dua pertanyaan. Yang lolos ke babak selanjutnya adalah team yang berhasil menjawab dua pertanyaan. Sisanya gugur."
Harry menyimak. Mengangguk.
"Gryffindor akan melawan Ravenclaw." Lanjut Seamus.
Ada teriakan heboh di sekitar anak-anak asrama Gryffindor. Yang lainnya menyerukan maskot mereka masing-masing. Harry bisa bernapas lega beberapa kedepannya nanti. Cukup tidak bertemu atau bertatap muka dengan Tom membuat hari-harinya damai. Terlepas dari jangka waktu portkey yang sebentar lagi kemungkinan akan berakhir. Dia pernah bertanya pada Professor Dumbledore, jika seseorang terjebak di masa lalu dalam waktu yang lama apakah dia masih ada kesempatan untuk kembali ke masa depannya. Jawabannya adalah tidak. Setiap portkey memiliki tenggat waktu yang berbeda-beda. Contohnya diary, dia mengatakan, diary yang di jadikan sebagai portkey akan bertahan dalam waktu 3 bulan. Lalu, apa yang terjadi jika waktunya habis.
Kau akan terjebak di masa lalu selama-lamanya. Mengerikan, bukan. Kau menghabiskan waktu di dunia khayangan, khayalan atau semacamnya dan itu sama sekali tidak nyata. Artinya bahwa menjalani kehidupan normal di masa lalu tidak sama dengan menjalani kehidupan normal yang semestinya kau di takdirkan hidup disana. Jauh lebih itu, ada hal yang lebih mengerikan. Kau akan di lupakan oleh semuanya, orang-orang yang berada di masa depanmu tidak akan pernah mengenalimu. Kau hanya bagian orang mati yang hidup dalam sejarah sebagai orang lain.
Kata-kata Dumbledore membuatnya depresi. Harry baru tau ternyata efek samping memasuki masa lalu orang lain akan menjadi serumit ini. Lalu, bagaimana caranya agar kembali ke masa depan? Jawabannya cukup sederhana.
Harry hanya perlu membunuh si pemilik portkey tersebut. Jika berhasil, ia akan bisa pergi ke masa depan. Tetapi, semua itu tidak akan mengubah sediktipun hal apa saja yang berkaitan di masa lalu. Bila Harry telah membunuh Tom, tidak berarti Voldemort di masa depan akan terbunuh tiba-tiba. Tidak.
Kemudian, apa yang Harry dapatkan setelah ia menjalani kehidupan normal sebagai siswa Gryffindor di masa lalu Tom Riddle.
Ia tidak mendapatkan apa-apa.
There is nothing.
Just waste of time.
"Dalam hitungan ketiga di mulai." Ketua Gryffindor memberi aba-aba.
Harry bersiap. Ia menjadi seorang yang menebak kata.
1...
2...
3...
Go!
Bangsal utama menjadi rusuh. Masing-masing asrama saling berteriak, mendukung team mereka –sampai ada yang menggebrak-gebrak meja. Apa maksudnya?
"Come on, Daniel! You can do it!" Seorang gadis berambut merah. Wajahnya begitu berbinar mendukung Harry.
Harry terkecoh. Sepintas, ia mendelik kearah sumber suara.
Cantik seperti Ginny Weasly.
"Hewan berkaki empat, terbang!"
Harry panik. Menyebutkan semua namanya.
Sapi terbang.
Kucing terbang.
Kecoak.
Unicorn.
Centaur.
"Dua sisanya bukan termasuk hewan, Daniel. Kau salah."
Sisa waktu 1.30 menit.
"Cepat!"
Harry mikir keras. Dia harus menang. Bagaimanapun caranya dia harus mendapatkan hadiah tersebut.
"Kuda?"
"Hampir benar!"
"Punya sayap?"
"Ya sedikit lagi!"
"Ehm... Centaur, mirip Centaur?"
"Ya ya bisa jadi!"
"Sayapnya model elang?"
"Ya ya sedikit lagi!"
"Punya paruh?"
"Ya ya bisa jadi. Bisa jadi!"
"Hippogrif!"
"Ya ya benar!"
Harry sukses menebak. Sialan. Hewan semudah itu kenapa ia bisa melupakannya. Padahal di masanya, Hagrid berkali-kali memperkenalkan dan menyebutkan nama jenis hewan tersebut sampai mulut berbusa.
Sisa waktu 58 detik
Yang terakhir harus mengubah benda menjadi Hippogrif.
Di detik menit terakhir Ravenclaw sudah berhasil mengubah benda. Team Harry masih on the way.
Sisa waktu 40 detik. Team Harry masih kesulitan mengubah kelinci menjadi Hippogrif. Sulit membayangkannya.
"Ayo cepat!" Harry berteriak memberi dukungan.
Dan hampir detik terakhir, mereka sukses mengubahnya. Di detik kedua. Hampir saja.
Next. Team Harry sekarang waktunya untuk menjawab pertanyaan panitia.
"Nama kepanjangan Ravenclaw?"
"Hah?"
"Jawabannya siapa?"
"Rowena. Rowena Ravenclaw!" Harry berteriak.
Satu point untuk Gryffindor.
Team Ravenclaw gugur setelah menjawab pertanyaan kedua.
Mungkinkah ini takdir Team Harry menang?
"Pertanyaan kedua, nama jenis hewan yang hanya di bisa di lihat oleh beberapa orang secara khusus?"
Harry di buat bingung. Mengingat-ingat.
"Aku tau!"
Jawab si leader team.
"Katakan!" Seru Harry
"Ular BOA! Emm... Basillik!"
Seluruh panita dan beberapa murid terkejut. Mendadak, wajah di antara salah satunya menjadi pucat.
Harry terkesiap. Bukankah nama hewan itu milik seseorang? Atau mahluk mitos yang berbahaya?
Si panitia menggeleng cepat. "Salah!"
Team Harry terpaksa di gugurkan di sesi lomba pertama. Nasib buruk. Tapi, Harry justru di sangat penasaran kenapa teman se-teamnya bisa berpikir kesitu. Reaksi orang-orang memang berbeda, tapi kengerian yang di rasakan Harry saat melihat mereka begitu jelas.
Seluruh anak-anak berseru. Membuat suasana kembali heboh seperti semula. Seakan hal tadi terlupakan. Harry mundur dari balik kerumunan, ia menghampiri meja makan dan melahap beberapa potongan sosis bakar yang di padu keju mozarela dan saus barbeque. Ia melahap rakus.
Seketika itu, seorang gadis berambut merah datang kepadanya.
"Boleh aku duduk disini?" si gadis meminta. Suaranya lembut sekali.
"Silakan." Harry hampir tersedak. Cepat, ia langsung meneguk jus strawberry.
"Nama mu Daniel-kan?" ia bertanya
Parasnya mengingatkan Harry pada Ginny. Hanya saja gadis itu memiliki warna mata coklat yang menawan dan dia di poni.
"I-iya."
"Aku Renne." Katanya. "Kau sudah memikirkan buat surat cinta nanti?"
Harry tepuk jidat. Kenapa ia bisa melupakan yang satu itu.
"Aku belum memikirkannya. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga belum." Lirih Renne. Tertawa kecil. "Selain lomba ini, mereka juga mengadakan sesi lomba siapa terbanyak mendapatkan surat cinta. Kau tau, hadiahnya akan mendapatkan love potion sebanyak satu box. Aku terkejut."
"Astaga, sebanyak itu. Untuk apa? Aku bukan cowok playboy kok." Kata Harry. Ia melahap sosis bakarnya lagi.
Diam-diam gadis itu memperhatikan Harry. Dari sudut matanya, menukik, memperlihatkan keanggunan dari setiap tatapan yang di berikannya. Rona merah samar menghiasi pipi. Oh... dia baru saja menyukai Harry.
"Oh ya, kau sudah ada teman dansa?" tanya Renne
"Belum." Balas Harry malu-malu. Mulutnya hampir menyembur makanan. "Aku terlalu malu menawarkan dansa ke seorang gadis. Hahaha."
"Mau berdansa denganku, Daniel?"
"Hah!" Harry tekesiap lagi, baru saja ia mau berteriak girang, tampak tubuh-tubuhnya mengejang. Ini pertama kali Harry seumur hidup di tawari berdansa oleh seorang gadis cantik.
Harry tersipu, bingung mau jawab apa. "Kau yakin mau bersama ku? Aku tidak pandai berdansa."
Gadis tersebut mengusap rambut Harry yang acak-acakan. "Tak apa. Aku senang bisa menjadi partner dansa mu." Renne terdekap. "Sampai ketemu nanti."
"Uhm terimakasih Renne." Harry berseru
Hatinya mencelos. Ada rasa senang samar-samar di hatinya. Harry pun jadi ikut berdebar keras. Kalau sampai ia bisa jatuh cinta dengannya, nasib ia bersama Ginny nanti bagaimana?
Berakhirnya perlombaan Hogwarts di menangkan oleh Hupplepuff. Luar biasa. Mereka mendapatkan mendali emas dan 200 point tambahan untuk Hupplepuff. Setidaknya Harry sudah menyumbang kemenangan sedikit untuk Gryffindor. Hampir mau jam setengah 8 Harry belum juga mendapatkan surat cinta. Ia terus kepikiran tentang Renne, apakah dia yang pertama akan memberikan surat cintanya padanya. Terus menerus menunggu, sampai berkeliling ngalor ngidul (bhs Sunda: Gada tujuan dan sejenisnya) hanya menunggu surat cinta, siapa yang tau gitu ada cewek cantik lewat sambil memberi surat. Harapannya terlalu tinggi.
20 menit berlalu, menunggu surat cinta Renne tak kunjung datang.
Membosankan pikirnya, bersekolah lama-lama tetapi tidak merasakan indahnya jatuh cinta atau menjalin hubungan dengan seseorang, gitu?
Harry balik ke kamarnya. Mau berganti pakaian dress casual, dengan jas hitam dan mawar di sakunya. Sambil mendecak bibir, bergaya di depan cermin.
'Ohh begitu tampannya si Harry Potter ini'. Harry bergumam.
Dari jarak dekat, Harry melihat sebuah amplop putih bertengger di depan kotak kacamatanya. Dag dig dug. Jantungnya mau copot. Harry sudah berkuda-kuda siap menerjang surat itu sambil berteriak heboh. Ia mungkin berdebar karena sesuatu yang lain.
Harry mencari si pengirim surat. Amplopnya kosong tanpa nama. Penasaran.
Ohh mungkin si Renne terlalu malu menyantumkan namanya. Biar kesannya misterius gitu. Bikin cenat cenut Harry.
"Tunggu!" Harry terkesiap membuka isi suratnya.
Harry menoleh, mengawasi sekitarnya. Waspada terhadap orang yang usil.
Matanya membulat ketika ia menemukan sebuah deret nama yang terpampang di sudut kanan bawah.
Dia pikir Renne si anak gadis manis Gryffindor, ternyata ini surat cinta dari Tom Riddle.
Mau menjerit tidak bisa karena si pengirimnya adalah cowok. Normal gak sih seneng gitu mendapatkan surat cinta dari seseorang yang jenis kelaminnya sama?
Isi surat itu hanya mengatakan.
Nanti sehabis Prom Night, akan ku seret kamu ke kamarku. Harry Potter.
Tom Marvolo Riddle
Harry bergegas ke bangsal utama. Berlari terbirit-birit. Jam sudah mau menunjukan pukul 8.10 –sial terlambat. Harry memekik melihat jam di tangannya. Ia tidak bisa berkonsentrasi dengan acara pesta dansa ini –surat dari Tom isinya terlalu horor di bayangkan.
Harry menjerit dari belakang, dan sedetik kemudian ia menjerit lagi teringat dua kali karena nyaris di perkosa lagi oleh Tom Riddle. Setelah Harry setibanya di Bangsal Utama, ia melihat begitu banyak orang yang begitu tampil menawan cantik dan ganteng, menggunakan pakaian formal selayaknya ajang pencarian pengantin pria dan wanita secara random. Musik klasik, mendayu-dayu. Menggairahkan suasana. Ia menyusup ke kerumunan.
Ini yang kedua kalinya bagi Harry ke acara pesta dansa tanpa menggiring seorang gadis langsung dari pintu depan. Kenapa harus menunggu beberapa menit di dalam, menunggu seseorang yang menawarkan dansa padanya. Di tahun keempat gadis India yang memberikan tawaran, masa dia harus menunggu lagi. Sangat tidak gentleman.
Alih-alih dia mencari sosok Renne di tengah kerumunan anak gadis Gryffindor. Celingak-celinguk seperti orang yang kehilangan induk. Sebelum itu, ia meneguk segelas wine yang berjejer rapi tersusun di atas meja. Beristirahat sejenak.
Membosankan tidak bersama Ron dan Hermione kali ini. Kau tau, ia tidak begitu akrab dengan teman sekamarnya. Entahlah.
Malam itu, Harry menemukan sosoknya yang di maksud.
Renne sang anak gadis Gryffindor yang berada di tingkat atas Harry. Ia menggunakan dress putih dengan ukiran bunga mawar menghiasi di bagian pinggulnya. Tampangnya, mengingatkan Harry pada sosok Elf.
Betapa manisnya dia hari ini. Harry tersipu malu, ia seperti melihat Ginny Weasly. Tanpa banyak pikir panjang, Harry berdiri lalu menyosor kearahnya. Cepat-cepat agar tidak di tikung orang.
"Harry, aku mencarimu. Maaf membuatmu menunggu."
"Oh, tak apa. Aku baru saja datang."
Renne mengulurkan tangan, bukankah dimana-mana harus pria yang duluan melakukan inisiatif kepada seorang gadis. Ayolah... Harry terlalu gugup sampai ia lupa caranya bernapas.
"Baiklah."
Selekas Harry mau meraih tangan gadis ringkih itu, tiba-tiba Harry tertarik kebelakang. Pinggulnya, seperti ada yang menangkup. Nyaris kehilangan keseimbangan. Ia sudah berada di dekapan tubuh pria berdada bidang.
Mata Harry dan si gadis Elf membelalak. Terkejut.
"Dia sudah bersama denganku, gadis manis." Tukas Tom mengumbar senyum. Arogan tapi terlihat secara hormat.
Harry gelagapan. "He-hey! Lepaskan!"
Tom memperat rengkuhannya —seperti tidak rela melepas. Ia menatap angkuh gadis itu. "Ayo Harry. Kita kedepan." menggiring Harry ke tengah kerumunan.
Ia tidak bisa berkata apa-apa. Speechless. Malam ini Tom Riddle tampil begitu menawan. Ia mengenakan setelan kemeja putih polos dengan tali suspender yang di kaitkan ke gesper, lalu bawahan celana bahan hitam ketat dan sepatu pantofel. Setiap kali berjalan, suaranya tak tok tak tok. Seluruh siswa menatap kearahnya, terbungah-bungah. Sang perfek tampan Slytherin menggiring seorang lelaki. Di sebelahnya, banyak yang cemburu. Kenapa pria tampan itu harus memilih laki-laki? Ada banyak perempuan cantik di pesta dansa, tinggal kedip matanya mereka akan meleleh.
Harry ingin sekali menyembunyikan wajahnya yang merona. Tapi, jujur. Tom tampan sekali malam ini. Hatinya mencelos, apakah dia harus senang karena baru saja mendapatkan cowok cakep yang di idolakan seluruh cewek semua asrama, atau ia harus menahan amarahnya karena banyak orang kemungkinan akan menganggap Harry adalah seorang gay? Tidak. Spesifiknya kenapa ia harus berdansa bersama seorang psikopat gila.
Lalu, salah satu teman Tom, Abraxas Malfoy di buat terkejut. Ia menghampiri kearah mereka, dan bertanya. "Tom, sejak kapan kau, em tuan... mau berdansa dengan cowok?" ia gugup. Masalahnya bagaimana cara ia memanggil. Sebutan nama atau panggilan sebagai pengikut. Tom menyorot tajam. Abraxas terkesiap. Lalu berkata, "Evlyn gadis cantik di asrama kita baru saja mau meminta mu berdansa dengannya."
Dari sudut mata, Tom melirik tidak suka. "Dia, untuk mu saja." Tom mengenggam erat tangan Harry, di bawanya pergi meninggalkan Abraxas.
"Hey! Dia cuma mau denganmu!"
"Aku tidak tertarik." Balas Tom acuh.
Di antara penonton berlarian mengimpit sesak bangsal utama, berburu melihat sepasang cowok yang akan berdansa. Tom berhasil menangkap tangan Harry, hampir tadi terlepas. Ia tarik tangan itu menuju ke pertengahan dance floor, di sekitarnya di keliling orang-orang yang berdansa.
Saat Harry menoleh ke belakang, ada banyak mata yang memandangnya aneh. Antara kagum, ber-fangirling atau menjijikan. Tak luput dari pandangan para professor yang tersenyum pilu melihatnya. Tidak menyangka bahwa Porm Night kali ini ada sepasang lelaki yang berani berdansa di antara pasangan straight.
"Tom, apa yang kau lakukan? Mereka melihat kearah kita." Harry bersusah payah melepaskan genggaman Tom. Terlalu kukuh. Pinggulnya di tarik, kedepan agar menempel tubuh Tom yang tinggi.
"Aku tidak peduli, Harry. Ayo gerakan kakimu." Perintah Tom. Sebelah tangannya mengayunkan lengan Harry di udara, melambai-lambai mengikuti irama musik.
Tom terlalu sulit bersikap romantis.
Ada banyak bisikan di sekitarnya, mencibir mereka.
"Beruntung banget anak cowok Gryffindor itu, kok bisa ya berdansa dengan perfek tampan Slytherin. Kan aku jadi mau." Kata si gadis berceloteh ke sebelahnya.
"Aku suka mereka!"
Perlahan Tom menggeser posisinya, mulai berdansa perlahan, mendekat lagi sampai wajah mereka nyaris bersentuhan. Dansa yang terlalu erotis, sisanya orang berdansa sewajarnya. Dari cara mereka berdansa, Tom menunjukan gairahnya pada Harry. Ia tidak tau apa yang sebenarnya yang ada di pikirannya. Ia menjadi tergila-gila pada Harry. Di sisi lain, Tom memang ingin membunuhnya. Teringat, anak itu menjadi kunci utama kegagalan misi mereka. Mengabadikan dirinya sebagai Lord Voldemort. Tapi, Harry terlalu menggemaskan untuk di lewatkan.
Dari dekat, Tom membisik.
"Rapatkan kedua tanganmu di leherku."
Harry menatap. "Tidak!"
Tom mengangguk. Kemudian, ia mencium batang leher Harry.
"Hey!" Spontanitas Harry berteriak karena terkejut.
Sepasang mata langsung tertuju pada mereka. Bertanya-tanya.
"Jangan berteriak, Harry. Nanti teriaknya di kamarku." Tangan mengusap punggung, perlahan, menjalar ke bawah. Meremas bokong.
Harry terkesiap. Menelan sedikit lengguhannya. Tom Riddle adalah pria yang terlalu nekat. Dia berani melakukannya di depan banyak orang, tidak peduli bagaimana orang lain melihatnya. Dia juga bahkan tidak segan saat itu mau membunuh Harry dengan mantra kutukan mematikan. Tatapannya yang dingin, sudah cukup membuat Harry mabuk kepayangan.
Aroma tubuhnya terlalu sayang untuk tidak di cium. Tapi, pikirannya mengingat lagi sosok rupa Tom Riddle yang ada di masa depannya. Jauh dari kata tampan.
Muka ular putih siluman, tanpa hidung dan botak. Siapa yang sangka Voldemort masa mudanya menawan sekali. Bak pangeran yang menunggang kuda putihnya, tapi menyusup ke istana sebagai pembunuh. Serigala berbulu domba.
Mengapa para penjahat memiliki wajah yang tampan?
Tom mendekatkan wajah, mengecup lembut kening itu. Ia berbisik rendah di telinga, "Harry Potter."
Cara dia menyebutkan namanya, jantung Harry berdentum. Cenat-cenut. Tubuhnya bergetar, dan yang di belakangnya terasa memanas. Ketika manik biru miliknya menatap Harry lurus dan tersenyum sedinginnya es –seringai sejenisnya.
Kurang wajar sebab wajahnya jadi keliatan lebih menawan. Celana diawahnya jadi sempit.
Normal tidak sih bila kau merasa berdebar melihat seorang lelaki tampan? Bukan berarti suka, melainkan perasaan itu datang tiba-tiba. Bilaman cowok cakep Slytherin yang populer di kalangan para cewek dan guru-guru, siapa tau Harry ketularan gitu.
Tidak. Tidak. Harry tidak berpikir demikian.
"Tom?" Harry bersusah payah memanggil namanya.
Entah kian mengapa memanggilnya terasa begitu berbeda dari biasanya.
"Ya?"
"Lepaskan."
Alis Tom menukik keatas sebelah, ia memiringkan sedikit kepalanya. "Kenapa? Kau tidak suka bersamaku?"
"Kau aneh sekali."
Tom tertawa cekikikan. Suaranya tenggelam oleh musik. Tapi, senyum jahatnya tidak bisa lepas.
Tom menyipitkan matanya lagi.
Sapuan jari Tom pada leher berpindah ke tengkuk. Disana, Harry terpejam mata, tampak menikmati setiap sentuhan itu.
Sebuah jari Tom menyelip masuk ke sela bibir Harry. Dan tak menunggu respon atau apapun, desahannya keluar tidak di minta. Harry akhirnya mengeluarkan suara keramat tersebut.
Jelas. Harry merasa telah exicted yang di bawah sana. Sebab sudah dua kali Tom membuat adik kecilnya bangun, kini ia bersumpah terhadap dirinya mau bertanggung jawab.
Tanggung jawab dalam hal apa dulu?
Irama musik bergelut sangat cepat. Gerakan semakin melambat. Tom benar-benar pintar berdansa. Tanpa ia sadari banyak orang mendelik kearahnya, sirik, bagaimana pria itu berdansa dengan pria lainnya cukup erotis.
Bergairah, Harry membuka matanya. "Hentikan. Jangan di teruskan."
Masih terkejut, Tom mengusap-usap lembut bokong Harry lalu berpindah ke posisi dimana mereka tidak terlihat. Tersembunyi di balik kerumunan orang-orang berdansa.
Pesta dansa berakhir tengah malam. Tidak biasanya. Musik menjadi melow, mendayu. Cocok untuk orang yang sedang berhalusinasi tingkat parah. Bangsal utama perlahan sepi. Hanya orang-orang beriman –yang masih kuat berdansa. Tetapi, kebanyakan sepasang kekasih yang tersisa disana. Tom dari tadi sudah merasa gelisah terhadap dirinya sendiri.
Peduli setan, ia tidak merisaukan anak-anak Slytherin yang kedapatan melihat Tom membawa seorang lelaki asrama Gryffindor masuk kedalam asramanya.
Kau tau, sejak dulu Gryffindor selalu bermusuhan dengan Slytherin. Tanpa hal yang jelas, mereka selalu bersaing dan menebar kebencian. Terutama Slytherin, mereka tidak mau di ajak berdamai. Malam ini di buktikan bahwa dua kubu yang saling bertolak belakang, bermesraan ria.
Tom menarik Harry memasuki lorong asrama. Dindingnya berhiasi batu alam, dan tirai hijau khas maskot mereka. Terkesan kelam dan tidak berwarna. Cahaya lampu remang yang hampir mau mati, kenapa si penjaga itu tidak juga menggantikan bohlam yang lebih terang –philip adalah pilihan yang tepat.
Terkesiap, Tom membanting pintu kamarnya. Ia sudah tiba di kamar Tom.
Samar-samar Harry memperhatikannya, karena dia merasa mabuk setelah minum tiga gelas wine.
Tom Riddle memiliki kamar eksekutif. Karena, setiap perfek/ketua asrama di berikan kamar khusus, yang pasti kamar satu hanya milik pribadinya. Tidak terlalu besar, tapi ukurannya profesional. Di design sedemikian rupa menggambarkan kecintaannya terhadap darah penyihir murni, Slytherin sebagainya. Di ujung sebelah kiri menghadap jendela, yang memperlihatkan laut hijau. Penerangnya sangat minim, apa Tom sengaja hanya menyalakan lampu tidurnya saja. Lalu, sebuah kasur double bad cukup besar berada di tengah dengan tirai putih tembus pandang. Di sekitarnya, terdapat rak-rak buku besar dan meja belajar. Sofa dan hal-hal lainnya yang tak bisa Harry deskripsikan.
Harry mendecak-decak, membatin 'kenapa kamarnya berubah jadi hijau?'
Baru saja Harry ingin berpikir lebih lama lagi, tahu-tahu tubuhnya sudah di banting ke kasur.
Oh, sial.
Tubuh Harry rebah di atas ranjang. Terlentang tidak elegannya dengan tampang wajah yang bodoh dan sulit di artikan. Tapi, kedua matanya membulat intens masih kejut. Kedua tangannya di genggam erat, menekan kasur. Tom duduk di atas perutnya.
"Kau hanya milikku, Harry." Ia berbisik dengan nada sexy. Harry menggeliat di bawah seperti cacing kepanasan.
"Aku berterimakasih kepada diary yang kau temukan itu. Kau datang untuk menemuiku kali ini, bukan si gadis idiot itu. Siapapun yang mencoba mengambil milikku, kan ku bunuh." Ia manggut-manggut. Terlintas dirinya terhubung oleh sosok Voldemort di masa depan.
"Di tahun keempat, saat dimana kebangkitanku oleh Wormtail, aku bertemu dengan mu dengan penampilanku yang menjijikan. Sejak itu aku sangat senang bisa melihatmu lagi dari 13tahun lamanya, sebagai sosok diriku yang bukan kepingan masa lalu, tidak di tahun keduamu. Aku tau, kau tidak sendiri. Pria tampan yang mati di sebelahmu mengacaukanku. Ketika para pengikutku berjumpa, kau ku tantang olehku untuk bertarung, sampai mati. Tapi..."Tom mendesah napas panjang. Ia menurunkan kepalanya, tepat di wajah Harry. "Sekarang tidak akan aku lepaskan kamu kali ini."
Tatapan Tom jatuh pada leher. Ia menyukai saat memberi sentuhan disana. Tom membawa jarinya untuk mencubit puting Harry. Mengeras dan menonjol kepermukaan. Harry hanya berpakaian kemeja putih polos yang agak transparan dan memperlihatkan putingnya yang berwarna pink kecoklatan. Menggugah iman. Kemudian, dipilin dan dijepit di antara jari.
Harry menggigit bibir, bertahan untuk tidak merintih.
Terkekeh, Tom kembali menjamah batang leher, menyapu kulit telanjang menggunakan lidah. Menari disana, memberi tanda kecupan di area itu lalu perlahan keatas. Menjilat di bawah telingnya, memasukinya dan mengulum.
"Ahn. Tom." Harry mendesah. Rasanya geli-geli nikmat asoy.
Ia tidak bisa memberontak, kedua tangannya masih di tahan. Tidak juga stimulasi rangsangan yang di berikan Tom membuat dirinya mengambang. Ng –fly.
Tom memandangi lekat, seolah ingin merekam bagaimana reaksi Harry saat di sentuhnya. Kemudian jemarinya turun ke dada, membukakan kancing kemeja yang menghalangi pandangannya. Satu persatu. Tubuh Harry menampilkan guratan otot yang kecil, ringkih dan agak kurus. Mengeluarkan keringat, tubuhnya menjadi basah minta di jilat. Tom melepaskan kemejanya, memperlihatkan pundak dan tulang selangka. Tom mendekat, menciumi kembali pundak dan selangka yang menonjol, lalu menggigit dan menghisap kulit Harry.
Menggairahkan. Lebih menggairahkan dari apa yang di bayangkannya.
Terkejut, Harry melengguhan desahannya lagi. Panas.
Di lanjutnya, Tom melepas celana itu di lemparnya sembarang tempat. Kini ruangannya menjadi berantakan oleh baju-baju. Sepreinya yang rapi menjadi semeraut, padahal belum berada di tahap klimaks.
Tom mengangkat sebelah paha Harry, diatasnya hingga kakinya setengah mengudara. Setiap kali Harry berontak, Tom semakin kasar memperlakukannya. Jemarinya naik turun, menjamah perut Harry, naik ke dada. Sekarang Tom leluasa bisa menyentuh dua buah kecil puting itu. Di sesapnya rakus, menggigitnya. Sebelah tangannya memilin, tidak mau diam. Lalu menggesekan miliknya naik turun, ke area selangkangan Harry. Sampai terdengar bunyi becek. Basah.
Tom ikut merasa tubuhnya exicted. Tom berdebar cukup gila saat yang di bawahnya hampir keluar menonjol kepermukaan, padahal belum saja di buka restletingnya. Tom merasa gerah, panas yang begitu hebat. Padahal AC kamarnya menyala, kenapa sepanas ini. Ia menanggalkan kemejanya, di buangnya jauh-jauh lalu berlanjut.
Tom dengan sigap menangkap kedua tangan Harry, menahannya di atas kepala. Ada seringai muncul di wajah Tom. Matanya menampilkan sosok figure psikopat gila seks, yang haus akan kenikmatan. Menggenjotnya di suatu saat. Menggemaskan.
Harry tidak bisa berkata-kata.
Tom kembali mengulum bibir Harry. Menyesapnya. Kedua lidah mereka bergulat di dalam rongga, ingin sekali Tom mengeksplorisasi isi didalamnya. Tom menciumi bibir bawah Harry. Ganas sampai bengkak. Diantara gulatan lidah, mereka saling bertukar saliva. Menjilatnya. Hingga ciuman berlangsung selama 3 menit dan terputus tiba-tiba.
Kali ini bukan Harry dan Tom yang memutuskan, melainkan kedatangan tamu tak di undang, Avery teman akrabnya memasuki kamar Tom.
Kegiatan bertukar sentuhan terhenti sejenak, Tom menoleh kebelakang dan melihat temannya itu sangat terkejut apa yang baru di lihatnya, didepan mata.
"Tu-tuanku?" Avery gelagapan. Nyaris napasnya berhenti.
Tom menghela napas panjang, tak luput matanya memberikan pandangan menusuk.
"Aku lupa mengunci pintu."
To be continue…
Di tunggu reviewsnya :)
