[PS. Note]

Hallo pembaca setia ku :) kali ini saya akan update secepat mungkin, belum seminggu ya. Semua berkat reviews kalian dan dukungannya terhadap cerita ini sampai terus berlanjut, dan jebol ke chapter terakhir.

Yang saya denger seperti "Genjot terooos jangan kasih longgar!?" btw saya scroll up reviews kalian bikin saya jadi kuat lagi nulis cerita. Dari beberapa refernsi penggunaan tata bahasa yang baik dan benar, saya masih belajar. Dan untuk penempatan Point of views memang saya gunakan campuran. Pusing ya, sama kaya si penulisnya (?) Sambil nulis Chapter 6, dua hari yang lalu saya re-watch Harry Potter Chamber of Secrets.

Nostalgia lagi liat scene Tom Riddle disana, duh bikin yang di bawah jadi panas (?)

Saya pesan sama kamu dan pembaca sekalian, jangan senyum-senyum sendiri ya baca cerita ini. Pokoknya jangan senyum-senyum. Bahaya. Jangan juga terlalu halu yaah. Ga boleh.

Saya kasih spoiler sedikit, chapter ini saya buat berdasarkan atas imajinasi saya mengenai persoalan adegan ranjang yang sadomaso *salah satu reviewers ngasih saran kek gitu* ya sudah saya buat Tom disini lebih Maso.

Setuju? Yang setuju boleh angkat kaki *Canda* :v

Oke, berhubung saya masih sempat balas reviews kalian hanya beberapa.

*Espianoir

=Makasih ya udah baca, sama votingnya :)

*Kazuna Bazarii

= Tunggu nanti ya saya buat kamu ketawa lagi XD. Btw, makasih ya udh baca sama votingnya :)

*ChanJeong88

=Sekampret2nya Tom tetap kampret dia lupa kunci pintu ya :v Pokoknya nanti giliran kamu yang jaga kamarnya. Btw thanks yaa udh baca sama votingnya :)

*Nirdeana

=Ayo sini ikut saya kita bakar si Avery :v Btw makasih ya udh baca sama votingnya :)

*Nathasya98

=Hahaha jangan halu ya. Ga boleh, nanti chapter selanjutnya lbh banyak kok XD btw thanks ya udah baca sama votingnya :)

*Vilan616

=Kalau gitu saya berhasil buat kamu ketawa ya XD wkwkwk. Btw makasih yaa semangatnya :)

*tomry so difficult find this couple in ff

=Biar kaya sinetron, banyak bersambungnya :v thanks ya udh baca sama votingnya :)

*AprilOzi

=Iya aku pake POV nya nyampur :') Btw, Makasih yaa semangatnya :3

*Lynx Aquarius

=Hayoo penasaran :3 Stay terus yaa . Btw makasih semangatnya :)

*Huang Mingzhu

=Sini tumbangnya di sisi saya (?) Wkwkwkw. Ingat, ga boleh halu ya :v Btw makasih yaa semangatnya :)

*Vieeny03

=Siap ce. Makasih yaa semangatnyaa :) di tunggu

Oh ya saya mau kasih referensi gambaran untuk Tom dan Harry. Kalian bisa copy paste link nya. Biar kamu bisa tambah halu :)

/images/k3xekP

(Saya pakai gambaran Harry kaya di film Killing Your Darlings)

(Dan untuk Tom saya pakai gambaran yang ini. Penampilannya agak old sedikit)

/images/8hvSH9

[INFO PENTING]

Saya akan update cerita ini selambat-lambatnya dua minggu sekali dengan jumlah words 7k - 10k dan bila saya update seminggu sekali jumlah words sekitar 5k-6k. Saya usahakan update sesuai ketentuan itu. Jadi ga akan ada php ya :p

Happy Reading ❤❤❤


SEMI AU/AR, OOC, OC, Typo (s) Mature

Chapter 6: Desire


'Selalu saja seperti ini' Tom mendesah lagi. Ekspresinya terlalu datar untuk di jelaskan, melihat bagaimana mereka tertangkap basah sedang melakukan sesuatu hal kotor. Seolah Tom sama sekali tidak menyesalinya.

Avery bergeming di posisi pertama di mana dia baru saja membuka pintu dan –boom!

Kedua pria yang saling menabur kasih di atas ranjang. Seketika tujuan awal dia datang kemari pun menjadi lupa, alasan apa yang nanti akan dia katakan.

Tom dengan santainya, duduk memunggungi Avery tidak berniat melirik ke belakang. Dia kesal. Kesal dengan dirinya sendiri. Lupa kunci pintu.

"Kalau tidak ada hal yang penting sebaiknya kau keluar, Avery." Tom merendahkan suara dan menyebut namanya terlampau mengancam. Nada itu menyentak Avery merinding.

Tidak.

Pengikut setianya terus merajuk, tatapan melongo kosong dan mulut mangap. Otaknya terus berpikir.

"Tidak ada tuan."

Tom tertunduk, berdesah berat, "Tutup pintunya."

Avery memgangguk, dan masih sedikit ketakutan. Ia bergegas keluar dan menutupnya. Dari dalam, Tom mengunci rapat-rapat pintu itu. Kali ini bila orang yang datang lagi kekamar, ia lekas merafalkan mantra cruciatus itu padanya.

Harry sadar tidak sadar, mengerjap-ngerjapkan matanya sesaat. Menyaksikan wajah Tom yang berkeringat, peluh karena kegiatan pra-klimaks.

Ohh... sexynya.

Sebenarnya ia juga tidak terlalu sadar, apakah ini hanya haluan, mimpi basah, orang yang mencoba mengendalikan pikirannya atau memang kenyataan. Terakhir kali dia mengingat, dia meneguk tiga gelas wine. Setelah itu, ia di tarik ke sebuah ruangan. Dan terbang.

Merasa tubuhnya di topang oleh benda yang sekejap ingin menidurinya. Terlelap hebat sampai mata itu mau merapat. Cepat, Tom kembali melumat Harry. Sial, kedatangan Avery membuat ejakulasinya tertunda. Harry melihat samar, senyum seringai itu muncul, tersembunyi di balik tengkuk. Rupanya bukan seringai, tapi bibir yang menggesek sepanjang leher hingga pundak. Dari dekat, si pemilik rambut hitam mengeluarkan aroma shampo menthol yang memabukan. Harry merintih ke enakan. Bukankah pada pertemuan ketiga mereka Tom melakukan hal yang sama? Rasa yang bergejolak jauh berbeda.

Punggung Harry melengkung, tangan bertumpu mencengkram erat seprei. Ingin mengacak. Kepala tertunduk. Bibir Tom hangat, tipis, lembut, tidak berhenti mengecup. Geli nikmat yang membuat Harry ingin menggigit bibir kuat-kuat.

Sadarnya kembali, Harry bertemu pada mata biru gelap milik Tom. Berpas-pasan.

Bayangkan, wajahnya ketika sedang di bawah kembali terbangun hanya di tatap sekejap. Sehebat itu kah cara dia memandang korbannya?

"Riddle," desahnya, terengah kecil.

Mendengar desahan Harry, menyebut nama belakangnya, pelukan Tom menguat. Kecupannya semakin liar. Lebih lapar lagi. Memberikan jejak cinta di permukaan kulit telanjang. Di pagut, di jilat, di hisap dan bibirnya berhenti pada leher di samping. Menggigitnya.

"Ahn. Ah."

Tom merengkuhnya sehingga dia tidak jatuh merosot. Di angkatnya ketepian, hingga menjangkau lebih keatas. Harry mengangkat wajah dan merintih keras, sesaat Tom mencoba menyentuh miliknya yang masih di balut celana Calvin Clein.

"Sebut namaku lagi, Harry." Nadanya merengek manja. Erotis. Tom mengusap milik Harry naik turun oleh telapak tangannya.

Tak ada halangan. Tak ada penolakan lagi. Tom melepas semua helai pakaian Harry hingga menampilkan tubuh telanjangnya yang bikin lemah di bawah sana. Sudah mengacung tegak keatas. Di angkat pelan-pelan kedua lutut, menekuk keatas. Wajahnya tepat berada di depan pantat Harry. Ia menyaksikannya sambil membayangkan hal kotor, ingin merasakan dirinya memasuki lubang sempit tersebut. Terdengar nikmat sekali. Harry terkesiap, merasakan setengah dirinya terangkat. Ia setengah membungkuk, tangannya meraih dan menjambak rambut Tom.

"Jangan Tom. Jangan di situ."

"Aku tidak rela membiarkanmu menahannya sendirian. Tidak kuat. Biar aku saja." Tom menundukan kepala, merendah hingga menyentuh area permukaan kulit di sekitar sela-sela pantat. Lidahnya berpindah menjilat disana. Sambil menyaksikan Harry mengerang. Kemudian, Tom memasukan jari, keluar masuk lembut. Memutar, menggaruk dinding rektum. Ia merasakan jari tengahnya di jepit rapat. Sempit sekali. "Relax," Tom berkata rendah. Nada baritonnya mengguncang iman.

Harry tersentak. Menggelinjang.

Harry tak melepaskan tangannya, ia terus menarik-narik rambut itu hingga terseret. Beberapa detik sesaat, Tom menyentuh prostat. Puncaknya. Di samping itu, Tom menekan pucuk kepala penis Harry yang sudah berlendir secara bersamaan. Menahan Harry menyemburkan spermanya.

"Ahh..." Seketika Harry merasakan panas merayapi sekujur kulitnya, dari kaki hingga kepala. Ini kali pertama seorang menyentuh miliknya. Rasanya begitu hebat dan luar biasa nikmat. Tapi, tubuhnya meronta-ronta. Miliknya ingin segera di keluarkan. Tapi, tangan itu menghalangi jalur keluar. Napas Harry memburu, tidak kuasa menahan libido. Terlintas yang ada di pikirannya, ia ingin cepat-cepat muncrat. Menepas jari-jari nakal Tom, dan membiarkannya. Tetapi, Tom tidak mengizinkan. Ia ingin Harry merasakan siksaan bertubi-tubi, bagaimana seorang yang hampir mencapai klimaks, lalu di gagalkannya terus menerus, sampai tenaga habis terkuras. Lalu, berulang kali melewati fase ejakulasi.

Menyeringai, Tom melilitkan kedua tangan Harry. Membelitnya dengan ikat pinggang.

"Dengan begini kau tidak bisa berontak, Harry." Tom terkekeh.

Napas Harry terkecat, berusaha memberontak dengan menggeliat seperti sapi yang mau di qurban. Ia menahan erangan saat jemari kulit ereksinya di garuk lembut. "Hn –tunggu, Tom." Harry mendorong dada Tom.

Menahan rintihan, Harry sendiri tidak sadar sejak kapan kakinya di buat mengangkang seperti ini, dan terikat pula tangannya oleh gesper.

Tom sudah tau bagaimana cara membuat Harry mendesah lebih dari itu. Lalu, dengan nakalnya Tom menyusuri lubang pantat Harry, menggunakan lidahnya memasuki dan menjelajah kedalam. Di sodoknya. Maju mundur. Sempit dan rasanya aneh.

"Tom Riddle, Ahn –ah!" Harry merintih dahsyat. Berani bertaruh, desahan erotisnya menggetarkan dinding. Ia merasakan sesuatu yang masuk kedalam, menggeliat masuk. Sensasinya memabukan akal sehat. Belum saja Tom menyentuh. Mengocok penis Harry yang sudah berdiri tegak dengan gagahnya. Makin cepat. Sodokan lidah itu keluar masuk.

Dimanakah Tom belajar soal seks? Hari-hari yang di lakukannya seperti biasa adalah belajar, belajar dan menyusun strategi jahatnya di masa depan.

Bunyi basah mengisi kamar.

Harry tersengal, tak bisa sepenuhnya bilang tak suka. Gila. Harry benar-benar merasa kecanduan dengan setiap sentuhan yang Tom berikan. Sangat nikmat. Siapa sangka, Tom pandai main kocok dan melejitkan birahinya seperti ini.

Bertahan. Bertahan.

Tom kembali menjulurkan lidah, panas dan licin, bergerak mengeksplor rongga mulut Harry. Bergulat lidah dan saling menyedot saliva. Harry membalas ciumannya, tidak mau kalah. Ia menggigit bibir bawah sampai berdarah, Harry menyesap desiran darah yang keluar dari milik Tom.

Di bawah sana, Tom mengocok. Ia menginginkan seks ini lebih berjuta kali nikmatnya.

"Tunggu sebentar Harry." Ia meraih sebuah benda panjang kecil, entah apa namanya, dan ia masukan benda itu menusuk lubang ereksi Harry. Mencoba menahan jalur klimaksnya.

Terkesiap, Harry mengejang. Tubuhnya bergetar. Merintih kesakitan. "Lepaskan benda itu. Lepaskan. Sakit sekali."

Tom menyeringai. Lalu, sesaat setelah enam menit pemanasan, ia tersadar bahwa dirinya ingin segera cepat menjebol lubang sempit itu. Di lepasnya semua pakaiannya. Terlihatlah benda miliknya yang sudah teracung tegak minta di gagahi.

Harry sepintas melihatnya, merinding ketakutan. Cukup besar. Tidak habis pikir dirinya mencoba terjun ke dunia masa lalu Tom dan berakhir malah berpetualang seks dengannya. Tersadar, oh –Tom Riddle yang akan menggenjotnya sekarang.

Kemudian, ia melumasi miliknya dengan lotion. Suaranya becek-becek menggelitik.

"Jangan. Kumohon Jangan –"

Tidak peduli. Tom perlahan memasuki miliknya. Sebelum itu, ia bermain sebentar di bibir pantat Harry yang mengerut dan terbuka sedikit. Tom tidak langsung memasukinya, ia mengerti bermain duel tongkat mainnya harus pelan-pelan.

"Akhhh –!"

Tom baru mencelup masuk sedikit demi sedikit,dan menahan diri setiap kali Harry merintih kesakitan. Merasakan ereksinya diisap kuat oleh Harry, Tom mendongak. Pasti nikmati sekali rasanya.

Harry tidak bisa mengcengkram apapun sebagai alat bantu penopang. Tubuhnya sedikit membungkuk, meraung-raung minta di lepaskan. Tangannya terikat, sengaja menyembunyikan wajahnya yang merah.

"Oh –Harry ini mengagumkan sekali." Dia mendesah. Setengah miliknya di telan dinding rektum. Lanjut, ia bergerak, memajumundurkan tubuh. Keluar. Masuk. Menggerus didalamnya dan mengeksplorasi prostat milik Harry tanpa ampun.

Harry terlalu syok, kacau, bergairah dan sudah lupa memberontak. Dirinya mulai sadar sepenuhnya. Jelas benar-benar sadar apa yang ia sedang lakukan dan bersama siapa. Harry hanya merintih, menggeliat yang ia bisa. Tak lama sampai tubuhnya bergerak menyambut milik Tom.

Ketika itu Harry melihat Tom menyeringai kelaparan di atasnya.

Ia pikir tiga tahun yang lalu, pertama kali Harry bertemu Tom dalam sosok memori. Baru pertemuan pertama saja, ia rupanya cukup agresif. Sudah bilang kalau dia memang ingin bertemu dengannya, Harry seorang. Sejak itu Tom memang belum pernah menyentuhnya sehelai pun. Tapi, dia terus berkoar-koar menebar kata-kata manis yang mengancam tentunya, bikin jantung Harry dag dig dug. Cara dia menatap ituloh, bisa menelanjangi orang.

Sialnya, belum sampai tiga bulan Harry sudah di jebol. Lubang perawannya di ambil alih oleh pria psikopat gila. Dia pikir, Draco Malfoy atau Ron Weasly yang nempel terus bakal memperkosanya diam-diam. Miliknya juga akan selalu di jaga untuk Ginny nanti setelah resmi menikah. Sekarang lihatlah, Harry pasrah tergeletak di depan Voldemort, minta secepatnya di gagahi.

Tom Marvolo Riddle memasukinya. Kepala tumpulnya hangat licin saat menusuk Harry tepat pada kelenjar prostat. Tom menggoyang tubuh Harry, memompa berulang-ulang pada pusat kenikmatannya. Ranjang berderit nyaring di buat bergoyang.

"Ahh –" Harry melenguh. Ia merasa tidak nyaman. Ingin di lepaskan dari ikatan gesper. Memohon pada Tom minta di lepaskan.

Akhirnya, Tom melepaskan tali pengikat. Membiarkan kedua tangan itu segera mencakar punggungnya nanti.

"Sebut namaku." Tom meminta. Lanjut menggerus kedalamannya. Keluar. Masuk.

Harry bergeming, tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan menutupi wajah dengan tangannya. Tom mulai geram, ia kemudian menepas tangan yang mengganggu pandangannya itu. Meminta Harry sambil melihat dirinya.

Harry menggigit bibir bawah. Merintih. Ia mencoba mengatur dirinya sedemikian mungkin agar merasa nyaman. Tapi, cara bermain Tom cukup lembut. Lalu, Harry merengkuh punggung itu, mengalungkannya di leher. Harry sudah mulai menerima.

Dari jarak dekat, Harry bisa melihat pantulan dirinya di mata Tom. Memalukan. Hembusan napas membara menyapu permukaan kulit wajah.

"Sebut namaku, Harry." Tom menggigit telinganya.

"Ahn –ah."

Yang dibawah sana, Tom mulai mempercepat tempo. Makin cepat. Sampai mulut Harry terbuka setengah untuk memasok udara. Salivanya mengalir dari sudut bibir, Tom menjilat.

"Ahn –Tom."

Lama kelamaan tubuh Harry mulai bergetar. Tercekat, Harry membawa tangannya ke punggung Tom. Mencakar dari bawah naik keatas, lalu meremas tengkuk lelaki itu. Ia jambak rambut Tom.

Menggeram, Tom menggigit sekitar puting Harry. Di lumatnya ganas, sampai membuat banyak bercak merah di sekujur kulit putih itu.

Gairah seks mulai mulai memuncak, tetapi benda itu tidak kian lepas dari lubang ereksinya. Menyakitkan. Ingin ia segera melepasnya dan menyembur keluar klimaksnya. Tom tidak mengizinkan. Tom semakin mempercepat tempo arus keluar masuk. Menghentakan bokong Harry agar lebih dalam menembus lubang.

Harrry terkesiap. Seluruhnya telah basah bermandikan keringat.

Ini dahsyat sekali. Bermain seks dengan Tom membuatnya gila. Luar biasa rasanya. Harry memekik, terus berkali-kali merintih menyebutkan namanya dalam desah. Sial. Kenapa ia harus takluk pada sosok calon pangeran kegelapan itu? Kenapa ia harus pasrah menyerahkan tubuhnya pada orang yang telah membunuh kedua orang tua dan temannya. Ini gila. Ia datang kemari untuk membunuh Tom, mengembalikan miliknya yang di rampas tidak datang kesini untuk bercinta dengannya.

Tiba-tiba kaki Harry dibuka lebar, dan Tom memasukinya dengan keras. Menghunuskan miliknya dengan kasar.

" –Ahh!"

Tom kemudian melepaskan pengait benda yang menghalangi jalur keluarnya cairan Harry. Seketika, terakhir hentakan yang di buatnya, semburan cairannya memuncrat kemana-kemana.

Spermanya tumpah-tumpah. Menyemprot ke dada bidang Tom.

Selama beberapa detik, tubuh Harry mengejang dan mengentak karena nikmat. Napasnya memburu cepat. Degup jantungnya seperti berpacu dengan waktu, selama ia klimaks, Tom tak berkedip memandangi reaksi wajah dan tubuhnya. Harry terkulai lemas.

Namun, Tom belum mencapai klimaks. Ia keluarkan penisnya dan ia putar tubuh Harry, kebelakang dan membuat Harry menungging. Tangannya melayang, kedua bokongnya ia tampar kencang. Detik berikutnya, Tom Riddle kembali memasuki tubuh Harry.

Harry merintih sekencang-kencangnya dengan lutut yang baru saja lemas di paksa menopang kembali tubuhnya lagi.

Kali ini Tom menggenjotnya lebih kasar. Ia mempercepat keluar masuk miliknya yang masih mengeras di dalam sana. Harry sibuk menjerit, Tom menjambak rambutnya hingga kepalanya terangkat keatas. Dari belakang Harry, tangannya menggerayangi pantat. Memukulnya berulang kali, sambil menghentakan tempo yang terbilang ekstrem.

Sekilas, Tom melihat bercak darah keluar dari sela, menetes ke seprai putihnya. Ia baru sadar, kalau Tom cukup kasar. Kemudian, Tom sambil menggerayangi tubuh Harry. Memainkan putingnya, menjepit dan menariknya.

Belum puas dengan gaya kedua, Tom Riddle melepas sejenak miliknya dan menarik Harry agar berpangku pada tubuhnya, kebawah sedikit. Tom rebah di bawah, menyaksikan Harry diatasnya duduk dengan kedua kaki mengangkang lebar. Milik Harry mengacung tegak lagi.

Remasan Tom berpindah ke depan, ke bagian kelamin Harry yang beberapa waktu lalu sudah klimaks. Di sentuhnya lagi, di usap, di kocok seperti sedang mengayunkan tongkat sambil merafalkan mantra. Pokoknya panas. Harry mendesah melolong panjang, kakinya bergetar dan kedua tangannya menahan pada tubuh Tom. Sulit untuk Harry menahan tubuhnya dengan posisi duduk.

"Tom–" desah Harry lebih kuat ketika Tom mulai menangkup kedua bokongnya.

Sambil menyeringai jahat, Tom mengusap permukaan kulit itu. Di tekuk lututnya sebelah agar Harry bisa bersandar leluasa sambil naik turun. Tangannya sesekali membelai pipi, "Harry, cepat masukan."

"Aku sudah tidak kuat," keluh kesah Harry nyaris terjungkal.

Akhirnya Harry menurut. Kali pertama baginya menyentuh dan memegang kelamin sejenis milik orang lain, rasanya geli-geli aneh. Kalau boleh jujur, ukuran milik Tom terbilang sangat pas di genggamannya. Lalu, ia kemudian memasukan benda itu kedalamnya.

Meringis, Harry merasakan benda itu terlalu menusuk kedalam. Sungguh luar biasa. Sakit tapi nikmat. Harry menindih, dengan penuh nafsu kembali perlahan ia mulai gerakan tubuhnya naik turun. Tom mendesah, tak terlupakan kedua tangannya ikut membantu menggeraka bokong Harry agar di percepat saat sesi keluar masuk–naik turun . Lelaki itu menyadarinya dan terkekeh, dengan jemarinya ia mencubit gemas dua puting di dada Harry berulang. Sambil mempelajari, titik mana saja agar Harry lebih terangsang.

"Bagaimana Harry, kamu menikmatinya?" tanya Tom Riddle memandangi Harry yang terkesiap dan terengah berulang.

Harry merajuK, bingung bagaimana ia harus menjawabnya. Tapi, jika dia boleh bermuka dua, ia ingin mengatakan kalau ini nikmat sekali. Baru pertama kali bagi Harry ena ena bersama orang lain, biasanya selalu main sendiri sambil nonton JGV bareng Ron kalau waktu lagi senggang.

Temponya makin melambat. Harry sudah tidak kuat menggerakan tubuhnya. Napasnya memburu cepat, dan melihat Tom yang di bawah terus menerus merekam Harry yang bersusah payah menggoda milik Tom agar kembali tegak mantapnya.

Mulai geram, Tom membanting Harry dengan ganti pose keempat. Kali ini Tom bersungguh-sungguh akan memperlakukan Harry sangat kasar. Dengan penis yang masih tertancap, berulang kali Tom menggerus kedalaman sampai mentok, menjebol prostat Harry.

Berpaling ke posisi pertama. Tom memperat pelukannya. Menggigit di sekitar tubuh Harry. Jarinya bergerayangan menyentuh luka Harry, di tekannya kuat-kuat sampai mengeluarkan sedikit percikan.

Harry menjerit kesakitan berkali-kali. Mulutnya terbuka lebar dan Tom memagut bibir Harry sampai berdarah. Hingga di antara keduanya tidak di berikan sejenak untuk memasok udara.

Suara Tom yang seksi mengeluarkan desah-desah sampai Harry terbius oleh erangannya. Ia lupa untuk merasakan sakit.

Detik-detik ketika Tom memasukan jarinya kedalam mulut Harry, mencolok-colok seisinya menjepit lidah, Harry malah menikmatinya, kemudian menjilat sela-sela Jari Tom. Meninggalkan bekas saliva yang menempel disana, mengulumnya rakus sambil mata Harry memagut tertuju padanya.

Sementara selangkangan Harry makin basah karena di gagahi dari bawah. Ia merasakan dirinya akan klimaks lagi.

Di telinga Harry, Tom berbisik mengancam namun masih terdengar seduktif sambil terus menyodoknya. Semakin mendekati klimaks. Tanpa sadar, Harry ikutan goyang. Bantu sedikit Tom mempercepat gerakan keluar masuk. Menyambut milik Tom.

"Ahh –ah!" Hampir menuju klimaks. Sudah tidak tahan.

Secara bersamaan yang kedua kalinya Harry sukses mengeluarkan cairan kenikmatan, muncrat tumpah-tumpah. Tak luput, Tom kecipratan sedikit oleh spermanya. Di jilat Tom, rasanya asin –amis. Menggairahkan. Tom juga sukses membuahi cairan itu di dalam Harry. Setelah keluar rasanya, Tom merasa tubuhnya lemas dan enteng sekali.

Sponanitas, Tom terjatuh rebah di samping Harry dan terkulai dengan tubuh telanjang. Langsung tidur peluk-peluk.


Bermalam perang duel tongkat, Harry banyak mendapatkan bercak merah tanda cinta di sekitar tubuh. Terutama bagian leher. Kemudian, ia mencoba mengerjap mata berkali-kali menyadarkan dari lelah penatnya main semalaman. Ia tidak menemukan cahaya matahari, seperti biasanya di kamar Gryffindor. Harry garuk pipi salah tingkah mendapati dirinya telanjang bulat di balut selimut putih. Seingatnya, dia tidak mempunyai selimut warna itu. Samar-samar memandangi sekeliling, ini bukan kamarnya. Lantas, jeritannya tertahan hendak matanya menangkap sosok laki-laki berdiri di depan cermin membelakangi Harry.

Tom mengenakan blazer abu khas seragam berlencana perfek Slytherin. Pundaknya menampilkan otot yang tegap dan gagah, terlihat seperti pahatan patung dewa Yunani yang terlewat sempurna. Ia bercermin, menyisirkan rambut hitam legamnya dengan sedikit mendongak, sehingga Harry tak sengaja memandangi kontur lehernya dari pantulan cermin. Bilamana keringatnya meleleh sedikit ke dagu, turun perlahan hingga ke leher, dan membasahi area tulang selangka yang menonjol. Jika Tom mencoba meneguk sesuatu dan jakunnya ikut naik turun, jangan abaikan bila sekecil desahan keluar dari sela bibirnya yang basah dan semerah cherry. Menggoda. Matanya yang tegas, lalu menatap Harry di balik pantulan. Hal sekecil apapun bisa membuatnya kembali menegang lagi.

Harry tergugu walau cuma di tatap sekejap, tubuhnya jadi lemas.

"Tom Riddle?" Harry mendengus sebal. Pura-pura menyembunyikan malunya. "Kenapa aku ada disini?"

Tom menghela napas yang terlalu panjang. Sebelum berbalik, ia sibuk mengaitkan beberapa lencana di sekitar kerah seragamnya. Tom yang masih berdiri di depan meja rias, memandang Harry yang masih bertelanjang bulat berbalut selimut miliknya. Sedikit membangkitkan syahwat.

"Aku membawamu kesini setelah Prom Night selesai." Jawabnya dingin. Acuh tidak acuh.

Harry melirik kearah matanya, lewat kaca dan menyadari wajah Tom yang baru di ingatnya semalam, samar-samar, memalukan sekali. Terkesiap Harry merasa wajahnya mungkin sudah membekas rona merah.

"Kenapa–?"

Tom memotong kalimat Harry cepat, "Yeah. Aku memperkosamu tadi malam. Harry Potter."

Harry berakting seperti pria terkena syndrom High Tension ASD Type. Semampunya ia tidak terlalu memasang ekspresi idiot. Sesekali ia bergerak kemudian mencari baju-bajunya. Sial, tangan itu tidak bisa meraihnya, bajunya tergeletak berceceran di lantai. Ia harus berdiri dan maju beberapa melangkah untuk mendapatkannya. Tom sigap mengerti apa yang di maksud Harry, ia memandang kebawah lalu...

Tom Riddle memang seorang pemburu muggle, darah lumpur ia habisi nantinya, dan membunuh orang-orang yang di rasanya menyebalkan.

Yang paling menggetarkan adalah sorot matanya. Sekali kedip, meleleh lah kau.

Teringat bagaimana kehadiran dia pertama kali di tahun kedua Harry. Sulit di lupakan.

Belum cukup siksaan birahi sepanjang tadi malam, usai Prom Night, Tom Riddle sudah bermain dua ronde dengan empat gaya berbeda. Tubuhnya yang lebih dominan tepat menghujam Harry. Menahan kedua tangan Harry yang sempat berontak. Dinding pertahanan rontok di buatnya, padahal masih pagi buta.

Harry tersipu, bersumpah ia tidak bisa mengindahkan rona merah memenuhi wajahnya saat ini. Jarak diantara mereka telalu dekat, Tom nyaris melumatnya lagi. Tetapi, Harry masih bergeming dengan tatapan matanya fokus lurus pada Tom. Napas memburu terlalu cepat, sehingga ia perlu menggunakan mulutnya untuk memasuk udara. Walau demikian Tom mendengar seolah itu seperti desah.

"Katakan padaku, apa tujuan mu kemari?" Tom menguntit pertanyaan.

Kontak mata yang mencuri napas sesaat, Harry kebingungan mencari kata, dia memilih merajuk.

"Apa yang sedang kamu cari?"

Harry bergeleng cepat, "Ti–tidak. Apa maksudmu?"

Tom sigap bangkit berdiri sambil memperbaiki kerah bajunya yang sedikit berantakan. Lalu, berdiam sejenak di depan pintu, menunggu jawaban.

"Jangan membodohi ku, Harry. Aku sudah tau namamu mu yang sebenarnya. Kau datang dari masa laluku, melalui diary milikku." Tom menekankan kalimatnya. Lekas kemudian ia berangsur pergi meninggalkan Harry di kamar , sampai ia tidak berkutik sedikitpun.

Harry duduk di ranjang dengan ekspresi kosong yang sulit di jelaskan. Sesaat, menahan untuk bernapas, menggigit bibir dan menyapukan jari ke sela sudut bibirnya. Sebagaimana yang terbayang adalah ketika tangan itu menyapu permukaan bibir Harry yang basah. Mengingat-ingat kembali awal tujuan pertama Harry tiba disini. Apa yang sedang ia cari?

Harry menggeram pelan.


Tom Riddle's POV

Tom menonton tanpa berkedip. Memperhatikan orang-orang yang sibuk berbisik, saling berbagi gosip ke teman sebelahnya. Bila menurutmu masih kurang panas, apa yang akan kau lakukan bila kalian menyaksikan seorang teman yang sedang membicarakanmu dari belakang?

Menyebalkan?

Tom Riddle tidak merasa terganggu jika memang itu tidak berpengaruh terhadap misinya. Peristiwa malam Prom Night yang tau hanya Avery, sahabatnya saja. Tetapi, ia akan langsung menyalahkan Avery jika dirinya di gosip berkhianat dengan siswa Gryffindor.

Sebenarnya sekolah Hogwarts tidak mempermasalahkan bila kalian kedapatan bercinta, asalkan tidak tercyduk oleh staff guru dan kepala sekolah. Aman bila di lakukan selama mereka masih satu asrama. Lalu, bagaimana kalau bercinta dengan dua asrama yang berbeda?

Siswa-siswa Hogwarts di jaman masa lalu Tom Riddle memiliki sebuah aturan yang terbilang cukup menggelitik telinga.

Salah satunya adalah tentang bermain seks dengan pasangannya yang beda asrama, mereka siapapun itu akan di label sebagai pengkhianat. Konsekuensinya tidak terlalu buruk, mereka akan di jauhi dan di usili oleh asrama mereka masing-masing. Bilamana berita menyebar sampai ke telinga guru, lima puluh point akan di potong. Jangan lupakan soal detensi yang pasti akan membuatmu gila hampir dua minggu.

Akhir-akhir ini Tom merasa khawatir. Kunci rahasia dirinya soal malam Prom Night hanya Avery yang tau. Tapi, tidak menuntut kemungkinan orang-orang sudah berprasangka demikian, fakta, kecerobohan Tom di pesta dansa menuai banyak kritikan dan hujatan dari kalangan cewe dan cowo. Mungkin diantara sekian banyaknya mereka tentu mengira, Tom pasti telah bermain ranjang.

Citra diri sebagai siswa teladan dan menyematkan nama Tom Marvolo Riddle sang ketua atau perfek asrama Slytherin yang terkenal karena kecerdasan, dan ketampanannya, ternodai sangat mudahnya hanya karena desas desus gosip tak berakar Tom Riddle adalah seorang gay.

Sebenarnya bukan berita heboh. Tapi, bagaimana nasibnya kelak ia akan menjadi seorang penguasa dunia sihir terkejam dan orientasinya belok –menyamping kepinggir gara-gara Harry Potter.

Professor McGonagall pernah menyinggung portkey sejenisnya, jam pemutar waktu di tahun ketiga Harry saat itu ia dan Hermione mencoba menyelamatkan Buckbeak hewan kesayangan Hagrid. Apa yang nanti kan kalian lakukan saat kau memilih menghitung mundur waktu, dan secara tak sengaja membuat kesalahan, semuanya akan berdampak dan terjadi bentrokan dimensi waktu dengan masa depan.

Yang di katakan Dumbledore soal portkey adalah jika kalian menggunakannya melalui benda milik seseorang, ingatan di masalalunya dan di masanya akan terhubung. Bilamana orang itu masih hidup.

Mengapa Tom Riddle berhasil menebak nama Harry Potter dan identitasnya secepat itu?

Jawabannya adalah sejak pertama kali Tom menyentuh luka di dahi Harry saat pertemuan pertama. Di sentuh sekali, masih samar-samar, hingga di sentuh terus menerus perasaan dan pikiran Voldemort di masa depan terhubung padanya di masa lalu.

Sulit di jelaskan, tetapi itulah gambarannya.

Keinginan Voldemort di masa depannya tentu ingin membalaskan dendam dan melenyapkan Harry Potter, keinginan tersebut juga tersampaikan pada Tom Riddle.

Terengah dari lamunannya sejenak. Tom merasa dirinya memang sudah tertarik pada Harry. Kemudian, ia berencana akan membunuh Harry agar Voldemort di masa depannya tak perlu repot lagi mencarinya. Ia akan menyeret Harry agar tak kembali ke masa depan. Bagaimana ia tau soal Portkey?

Jangan pernah sepelekan pengetahuannya, wawasannya terbilang sangat luas dan sifat liciknya mampu menjatuhkan seseorang dalam sekejap. Harry Potter akan menjadi incaran pertama. Setelah berhasil menjebol liang perawan targetnya, Tom akan menghabisi Harry.

Habis manis sepah di buang?

Mungkin pepatah itu ada benarnya juga.

"Malam ini akan ada pertemuan. Seperti biasa tempatnya." Tom memberitau pada Abraxas.

"Baik." Ia mengangguk patuh.

Para pengikut baru hasil rekrutan kedua dari pengikut setianya berbondong-bondong memasuki lorong tempat persembunyian. Lebih di kenal yaitu Chamber of Secret. Ruang rahasia milik Salazhar Slytherin. Tom selalu mengadakan sesi rapat dan pelatihan mekanisme bertarung disana. Pertemuannya bersifat rahasia dan organisasinya sangat tertutup. Hanya para pengikut yang benar-benar di percayai bisa menjaga aman tempat tersebut. Sisanya para member baru akan di mantrai Obliviate.

Tom memburu langkah memimpin jalan tanpa mencoba melirik kebelakang untuk mencuri bisikan orang-orang sebagian berbicara tentangnya.

Peduli setan.

Tom juga mengabaikan pertanyaan dari kedua sahabatnya mengenai persoalan Harry Potter.

Sial. Karena, pesta dansa semuanya jadi berlagak seperti wartawan.

Dua pekan ini Tom selalu melihat para cewek-cewek yang tiba-tiba teriak kegirangan saat bertemu dengannya, lalu setelah itu mereka saling bergosip sambil memberi cengiran kuda yang aneh. Tatapan mereka berbeda dari yang biasanya. Pokoknya sedikit menyeramkan di mata Tom.

Mereka–para cewek berlabel Fujoshi ini–telah menjelma berpura-pura mengikuti perintah Tom yang terkadang selalu saja mereka berfantasi nakal, membayangkan Tom dengan Harry Potter melakukan aksi heroik yang bisa buat nosebleed.

Semua berawal pertama kali Tom berdansa bersama Harry Potter. Titik.

Tom duduk di kursi khusus sang raja. Rapat meja bundar akan segera di mulai. Sosoknya yang fenomenal menawan hati memikat siapapun. Tom terlatih bersikap dingin, menyambut semua para pengikutnya duduk hormat di singansina. Orang-orang yang di rekrutnya sepenuhnya dari asrama Slytherin karena identitik berdarah murni atau sebagainya.

Tom memperhatikan seluruh mereka dari atas kebawah, bawah ke atas.

Dua perempuan di sebelah Avery salah tingkah. Malu-malu di tatap terlalu lama olehnya.

"Selamat malam para pengikut setia ku—" Sinis katanya. "Tidak. Hanya sebagian."

Yang lainnya serentak menyambut Tom.

"Aku sudah mengatakan dari sebulan yang lalu, sekolah kita kedatangan tamu spesial. Kalian bisa menebak siapa yang ku maksud." Senyumnya penuh ambigu."Aku tidak akan pernah menyebutkan nama aslinya. Karena hanya akulah yang pantas menjaga nama itu untukku."

Tiga cewek di sebelah kanan paling ujung cengar-cengir kuda. Dasar fujoshi tukang halu.

"Aku sudah menyusun beberapa strategi. Aku memperintahkan mu Avery dan Abraxas buatlah si anak baru itu melakukan kesalahan yang fatal, sehingga Dumbledore bisa beralih untuk tidak mencurigai kita. Sampai dia terfokus sibuk mengurusi Daniel dan akan berakhir sama seperti Hagrid. Setelah misi pertama berhasil, kalian culik dia untukku." Tuturnya.

Empat lelaki itu melemparkan pandangan bingung kepada Tom. Pastilah Tom merencanakan sesuatu yang lebih jahat dari itu. Diantara salah satunya melambai tangan, bertanya.

"Bagaimana jika misi pertama gagal di lakukan? Kita tau Professor Dumbledore sangat pintar. Apakah perlu kita menjatuhkannya juga, tidak –maksud ku kita buat insiden sampai ia di cabut jabatannya dan mengembalikan Professor Dippet sebagai kepala sekolah dengan be–"

"Aku mengerti maksudmu." Tom mencela. "Ada banyak staff sekarang lebih menyukai Dumbledore. Kau tau jika aku mengambil pilihan itu, resiko yang ku dapat jauh lebih besar nantinya. Kita harus bertahan, sampai angkatan ku lulus dan organisasi ini tetap berjalan, tunggu sampai waktu ku tiba."

Tom kemudian menggiring semua pengikutnya ke ruangan yang lebih menjorok kedalam. Disana ia akan mengadakan sesi pelatihan ringan. Mulai dari cara mengayunkan tongkat yang benar, mengenalkan dan mempelajari mantra-mantra hitam serta sesi terakkhir memberikan arahan cara menyelamatkan diri dari penyihir berbasis level satu sampai menengah.

Gaduh suara dentuman sihir beradu mengiringi gemuruh jantung Tom yang sedikit menenang. Sejak itu ia selalu overthinking terhadap Avery mengenai dirinya. Sekejam dan sepintar-pintarnya Tom juga memiliki gengsi untuk menanyakan hal tersebut yang terkesannya terlalu intim. Tapi, sejauh yang di pantau Avery bersikap biasa aja tidak menimbulkan gerak-gerik mencurigakan yang kemungkinan dapat menjatuhkannya seketika.

Tom mengepalkan tangan menyembunyikan dari balik jubah. Dia terlalu lama menanti seseorang yang sudah di tunggunya bertahun-tahun, kemudian orang itu menampilkan hidungnya. Tom tidak ada pilihan untuk melawan ego, kalau dia harus membunuh Harry kelak.

Hadapi sebagaimana mestinya.

Maka dengan segenap kejantanan penuh, Tom percaya bahwa keputusannya tepat.

Tatapan yang penuh suka sekaligus membencinya. Kedatangan Harry nyaris membuat hatinya merasa terisi.

Malam itu Tom menghadiri rapat pertemuan antar ketua asrama di kantor Dumbledore. Ia menduga kalau ada topik penting yang harus di bahas di hari itu juga. Mereka duduk berdampingan di antara meja bundar kecil milik Profesor Dumbledore, ia sebagai moderator dan pembuka diskusi. Alih-alih Tom menyibukan diri dalam memberi argumen, sukar bagi Tom untuk mengalihkan pandangan dari kepala sekolah itu, yang sedari tadi terus memperhatikannya dengan mata penuh menyelidik. Tom masih belum berani membalas tatapannya, tapi ia pasti itu akan menimbulkan kecurgaan yang lebih.

Jadi di sesi diskusi Tom menjadi yang paling dominan. "Kurasa staff guru mengawasi murid-muridnya hendak pergantian pelajaran."

Professor Dumbledore menanggapi usulan dengan mengangguk pelan.

Seamus sang ketua Gryffindor menimpal. "Aku setuju. Tentu kita sebagai ketua asrama tidak menginginkan nasib yang sama seperti Hupplepuf. Maksudku, kehilangan nyawa seseorang."

"Baiklah. Aku pertimbangkan semua pendapat kalian nanti. Terimakasih sudah mau memberi usulan kepada kakek tua ini, tidak, kalau begitu kalian boleh keluar." Professor Dumbledore menyudahi rapat empat serangkai (Ketua asrama).

Tetapi, hanya Tom yang di minta untuk tetap duduk. Merasa ada hal yang mencurigakan, Tom berakting sebaik mungkin bermain peran sebagai orang baik. Tertarik, ia yang pertama membuka suara. Parau sekali.

"Ada yang bisa ku bantu?" gestur dan bahasa tubuhnya nyaris tidak terlihat sedang berbohong.

Sebelum Professor Dumbledore menjawab pertanyaan, sang professor duduk berhadapan dengannya.

Penampilannya jauh lebih muda dari masa Harry, tipikal pria paruh baya yang di senangi oleh cucu kesayangan dan orang-orang di sekitarnya. Dengan jubah putih paduan ungu dan dalamnya berbalut pakaian casual yang seperti biasanya ia kenakan. Penampilannya benar-benar menggambarkan sosok penyihir sejati –belum saja topi kerucut itu menghiasi kepalanya. Ketika ia duduk dan sedikit mencondongkan tubuhnya kearah Tom, sambil mencari-cari sesuatu dari wajah siswanya. Ia belum mengatakan apapun, masih terus memicingkan mata yang hampir segaris. Seperti mengatakan ada sesuatu yang berbeda dari Tom. Bukan sekedar tampan, Tom merasa begitu tak nyaman di tatapnya sedemikian itu oleh kepala sekolah. Nyaris dia berakting berlebihan karena baru saja ia mau membocorkan sedikit rahasianya.

"Professor?" ucap Tom.

Dumbledore mengernyit tajam.

Seperti menggali sisi misteriusnya. Ia menghela napas panjang dan menyudahi tatap menatap yang bikin ambigu, walau tidak bermaksud demikian.

"Maaf Tom." Katanya sambil membetulkan letak kacamata.

Tom mendelik kearah sang professor.

Menunggu kalimatselanjutnya.

"Aku ingin bertanya satu hal," dia memberi jeda. "Jika ada yang ingin kau sampaikan, langsung segera katakan padaku."

Tom hampir kehilangan kata-katanya, dia tau orang didepannya cukup pintar membaca isi pikiran orang lewat gestur.

"Tentu." Mengangguk patuh. "Aku pasti akan menyampaikannya se–"

" –Kematian Myrtle Merana."

Dumbledore segera menoleh detik itu juga. Matanya langsung mengunci Tom, telak. Di pandangi oleh mata itu, Tom seperti gembok yang kehilangan kunci, terkait selamanya –dia baru saja berhasil menebak apa yang di sembunyikan Tom.

Tom bergeming sampai lupa bahwa lima detik kehilangan kata-kata.

Ketika Dumbledore mengerling dan berdehem, buru-buru Tom langsung menangkap kata demi kata yang bertebaran sepintas di isi kepalanya dan segera merangkaikan kalimat. Semampunya ia terus berakting orang yang tidak merasa bersalah. "Oh... well. Tentu saja. Professor Dumbledore." Ekspresinya terbaca seperti orang yang tercyduk. Memalingkan sekilas matanya dan Dumbledore mendapatkan jawaban.

"Baiklah. Ku serahkan sisanya padamu Tom. Aku percaya kau adalah siswa yang bertanggung jawab dari ketua asrama lainnya. Ku akhiri pertemuan face-to-face kita."

Dari sudut bibirnya, Tom melempar senyum. "Tak apa professor. Aku merasa terhormat." Kemudian Tom bergegas dari bangkunya.

Sebelum Tom melewati pintu keluar, Dumbledore berdehem lagi. "Terimakasih waktunya."

Tom membungkukan sedikit tubuh. "Sama-sama."


Harry's POV

Perlahan-lahan Harry membukakan diarynya kembali. Jantungnya berdebaran gila. Ia merasa sedang membuka rapot transkip nilai, khawatir jangan sampai nilai D dan E bertebaran memenuhi –tetapi berusaha kalem. Di bukanya cover buku itu, masih ada bekas tusukan bolong. Tidak enak di pandang. Namun, deretan nama sang pemilik masih terukir utuhnya di halaman cover paling depan.

Senyum simpul terukir dari kedua sudut bibir.

Oh sial! Harry baru saja kepikiran tentangnya.

Sudah enam hari setelah tragedi Prom Night, Harry terus memikirkan wajah Tom berulang kali, setiap malam hampir bermimpi. Di dalam mimpi itu, Harry bermain kejar-kejaran sama Tom di hutan belakang. Harry yang berperan sebagai Gerry yang di kejar oleh Tom yang berperan sebagai si kucing Tom. Namanya bisa kebetulan sama –yaa.

Selama di mimpi, Harry bersembunyi di sebuah gubuk milik si anjing yang kebetulan anjingnya adalah jenis Pitbull.

Kau tau sendirikan jenis anjing itu ganas sekali.

Bersembunyilah Harry di sana, dan Tom kerepotan untuk memasuki gubuk tersebut karena si anjing tidur terlelapnya sambil menjaga rumah miliknya. Sengaja, Harry buat keributan sehingga si anjing terbangun dan mendapati sosok Tom yang pucat kepergok sedang menganggu tidurnya.

Di hajarlah Tom sampai babak belur, Harry yang menyaksikannya tertawa puas dan memutuskan untuk melarikan diri.

Tapi, Tom disini sangat cerdik dan pintar, ia selalu tau bagaimana cara mendapatkan Harry. Suatu ketika Harry bersembunyi di sebuah toilet, ia berpikir Tom tidak akan menemukannya karena tubuhnya yang kecil akan kesulitan di temukan.

Namun, demi jenggot Merlin Harry berhasil tertangkap oleh Tom dan ia terjebak di dalamnya. Tidak ada celah lubang yang bisa meloloskan dirinya dari incaran Tom. Langsung, Tom kemudian balas dendam, mengunci jalan keluar Harry dan ia langsung menyiksa Harry dengan sebuah erangan erotis.

Seketika mimpi selalu berakhir sama, Harry terbangun dari tidurnya. Langsung cuci muka. Paginya ia cek kasur, basah sedikit.

Dua hari berlalu tidak bertemu, ia begitu tersiksa dengan perasaannya. Alih-alih membuatnya galau di mabuk rindu berkepanjangan, Tom setelah melakukan itu langsung menghilang di telan bumi.

Untungnya Harry bukan perempuan yang di tinggal bunting oleh kekasih gelapnya. Harry melihat kaki Septimus melangkah dekat.

"Hey Daniel." Sahut Septimus.

Harry sedikit mendongak, karena Septimus tinggi sekali. "Oh hey."

Septimus sosok kakek di masa depan Ron Weasly, ia bertumpu dagu termangu di balkon sebelahnya sambil memandang langit mendung. Mata birunya terpantul oleh cahaya, bersinar terang seperti berlian laut.

"Boleh aku disini?"

"Oh tentu. Ini bukan tempat sepenuhnya milikku." Balas Harry tertawa.

Septimus mengangguk, melempar senyum. "Well, Daniel. Aku ingin bertanya padamu, dari mana keluarga mu berasal? Maafkan aku jika aku pernah bertanya dua kali." Tukasnya. "Kau tau, aku pelupa parah."

"Tak apa. Aku berasal dari keluarga Black. Yang ku ingat, tidak terlalu dekat dengan mereka."

"Lalu, kau tinggal bersama siapa?"

"Uhm... dari ibu ku."

"Oh." Septimus garuk-garuk kepala bingung cari pertanyaan. "Oh ya, by the way sejak kapan kau bisa dekat dengan perfek Slytherin?"

Oh God –Harry membatin.

Di telinga Harry, kata-kata Septimus barusan di terjemahkan pikirannya menjadi: "Sudah berlama lama kalian berhubungan Tom Riddle? Apa kau sudah bercinta dengannya? Well. Daniel, kau sangat beruntung. Setidaknya jangan seret aku menjadi seperti mu." Abaikan kalimat yang terakhir.

"Aku tidak bisa mengingatnya pasti." Katanya senyum malu kucing.

"Aku tidak menyangka, aku belum pernah melihat dia bisa sedekat itu sama orang. Tom yang ku kenal dari kejauhan, dia orangnya aneh, misterius, dingin dan terlalu sempurna. Aku bahkan nyaris menebak tipenya sulit di cari di tempat ini–"

"Jangan katakan padaku kalau aku tipenya, Septimus. Ha ha ha."

Iya, seperti dirinya yang tidak ingin jujur menyadari kalau dia sudah terbius oleh setiap godaan dan sentuhan fisik yang Tom berikan.

"Tapi, kalian berdua terlihat sangat menikmatinya."

Harry hampir berteriak –hah!

Septimus selalu saja benar menebak isi hati Harry. Ia bersumpah akan bercerita pada Ron kalau kakeknya punya bakat meramal.

Harry mendelik, "Hah? Kok mana mungkin!?" Kalau di terjemahkan kalimatnya berbeda akan menjadi: "Hah? Kok kamu bisa tau?"

"Aku hanya menebaknya apa yang kulihat."

Brengsek, Septimus.

"E-Enggak kok. Manamungkin aku bisa naksir Tom. Dia itu laki-laki."

"Hey kawan. Aku mendukung siapapun yang kau suka, cowok cewek terserah. Tapi, aku berpesan padamu." Septimus mulai serius. "Jangan pernah memiliki hubungan dengan dia. Tom Riddle tidak sebaik yang kau pikir, Daniel."

Setelah Septimus berceloteh kemudian ia menyosor pergi meninggalkan Harry.

Ketika Harry berusaha menenangkan diri, dia menyangkal lagi soal perasaannya terhadap Tom.

Jangan sampai Harry menyimpan perasaan lain padanya.


To be Continue


Di tunggu reviewsnya :)