PS:

Selamat datang kembali di cerita FF TomRry yang sudah lama berdebu dari 7 bulan lamanya di tinggal pas lagi sayang-sayangnya.

Aku yang sudah janji waktu itu akan di update secepatnya paling lambat 2 minggu setelah update new chap. Namun, ternyata gerangan mengingkari janjinya dan mengecewakan para pembaca setiaku.

Sekali lagi, aku berterimakasih kepada semua pembaca dan pengunjung yang sudah ikut meramaikan balloon komentar dan reviews-nya yang hampir semua membangunku untuk selalu berkarya dan melanjutkannya sampai akhir.

Dikarenakan banyak kendala waktu dan jadwal kuliah, tugas yang padat. 'Inimah ngeles' tapi ini beneran.

Sampai kuputuskan di chapter 7 aku memberi SPOILER sedikit bahwa cerita ini akan berakhir di CHAPTER 8!

Yeaayyy! Horay! Sebentar lagi tamat.

Karena cerita ini tidak akan memiliki jalan cerita yang panjang bak sinetron R*TI atau kawan-kawannya. Bukan karena sang penulis malas buat panjang-panjang atau writer block. Tidak, sudah dari sononya begitu (?)

Karena sebentar lagi cerita ini mau selesai, adakah sekiranya para pembacaku mau menebak apakah ending dari cerita ini happy or sad ending? Kalau mau tebak, silakan tulis di kolom komentar ;) wahai para Shipper TomRry!

Untuk chapter 7 aku ada sountract yang cocok nih buat makin khusyuk dan bisa merasakan suasananya, biar makin baper bacanya gitu maksudnya. Hehehe :')

Yup. Sambil di denger instrumental Love in Dreams nyaa :D

Ku kasih link downloadnya untuk yang penasaran, file/d/1xmgF-7r2A8RD0GuBoItzZCbUrywuCH8y/view

Semoga suka yaa. Hehehe.

Yang terakhir,

Terimakasih juga untuk semua para pembacaku yang masih mau memberikan ku supportnya, thx btw.

Happy Reading!


THE BLACK OF FLOWER

Harry Potter © J.K. Rowlings

SEMI AU/AR, OOC, OC, Typo (s) Mature Content


Chapter 7: Love in Dreams


Tom Riddle's POV

Bunyi lembut menyerukan telinga dalam malam yang sepi. Setiap melodi terbuat dari keharmonisan not piano. Tidak ada siapa-siapa disana. Hanya dia seorang pria yang mengurung dirinya di ruangan musik. Sendiri.

Tom Riddle memainkan Love in Dreams. Jenis instrumentalnya begitu khusyuk dan memiliki arti yang cukup dalam.

Apakah lagu itu sedang mewakili perasaannya saat ini?

Di setiap jari lentiknya memainkan not piano, bibirnya terbuka sedikit merafalkan senandung, saat itu matanya sambil tertutup dan membiarkan dirinya di kuasai oleh musik tersebut.

Dalam bayangnya yang samar, ia menggambarkan ada seorang pianis yang sedang memainkan interumental ini. Di tengah panggung berkabut dan tanpa penonton. Lalu, di tengah panggung hanya ada dia bersama Harry, lampu sorot menyoroti khusus mereka berdua, dan mengikuti setiap irama dansa mereka. Kemana pun.

Pikiran Tom akhir-akhir sangat kacau. Antara memikirkan ego dan perasaannya. Ia ingin menyangkal, jika benar di katakan mereka, kalau dirinya sudah terhipnotis oleh cinta pada pandangan pertama pada Harry. Ia juga tidak terlalu bodoh. Dirinya tidak jauh berbeda dengan kepingan masa lalu yang tidak nyata, sedangkan Harry hidup di dunia yang benar-benar ada. Kalau dirinya berani bersumpah, mengemban nama sebagai Voldemort di masa depan, lantas apakah Tom mampu memperjuangan hati Harry?

Mustahil.

Tom terlahir untuk tidak di cintai. Karena, dia sendiri dan membenci cinta.

Harry Potter's POV

Ini yang ketiga kalinya Harry merasa janggal. Sejak makan malam di bangsal utama, ia memang berkumpul bersama anak Gryffindor. Saling ber high-five dan toss sambil bernyanyi maskot lagu kebangsaan asrama. Tapi, ia menyadari ada banyak mata yang sedang mengawasinya dari meja Slytherin.

Tom Riddle tidak termasuk di bagiannya. Karena, mereka adalah siswa asrama Slytherin. Tatapan mereka sulit di artikan, tetapi jika kau samakan dengan tokoh antagonis yang sedang mengincar targetnya untuk melancarkan rencana jahatnya, itu sangat mirip. Berkali-kali Harry memalingkan wajah dari mereka, satu mata berhasil memikatnya dan kembali menarik Harry untuk merasakannya lagi. Ia merasa di teror. Hanya lewat mata. Dan dia takut.

Dua laki-laki yang di duga adalah sahabatnya Tom Riddle berbisik, namun matanya terus mengekor Harry dengan tatapan siap menerkam.

Lalu, yang kedua pun juga sama. Saat itu Harry sedang bersama anak Gryffindor di taman sambil membaca buku. Namanya Avery dan Abraxas juga berada disana. Mereka terus memperhatikan Harry dari jarak jauh.

Harry tidak ingin langsung berkomentar atau sekedar meminta pendapat dari teman sebelahnya. Yang pasti, semuanya memiliki hubungan dengan Tom. Harry memilih diam.

Sampai diamnya Harry yang ketiga kali kedua sahabat Tom berulah. Mereka menguncinya di dalam gudang yang terletak di lantai 6. Tempat ketika insiden Harry Potter memergoki Draco Malfoy yang menyembunyikan lemari kutukan di episode 6. Tapi, tempat ini jauh lebih dari kata indah.

Disana Harry di paksakan untuk menyiksa seorang gadis asrama Gryffindor. Renne yang pernah menawarkannya berdansa dengannya saat Prom Night. Ia terkejut menyaksikan bagaimana kedua tangan Renne terikat kebelakang, dan mulut yang di sumpal.

Bukankah penculikan ini mirip di sinetron ftv Indonesia?

Klasik.

"Apa yang kalian lakukan?" Harry sigap berlari mendekat Renne. Ia melihat wajah ketakutannya disana.

Abraxas tertawa terbahak-bahak. Wajahnya mengingatkan pada tokoh ayah Malfoy, tidak jauh berbeda mereka begitu mirip. Sampai ia berhenti tertawa dan akhirnya ia menjawab pertanyaan Harry.

"Ini kekasihmukan?" Tanya Abraxas sambil terus tertawa. Tangannya menjambak rambut Renne. Harry mencoba melepaskan tangan sialan itu, tapi Avery lebih dulu menerkamnya dari belakang, bukan sesuatu yang perlu kau bayangkan dengan ehem – ehem, tapi terkaman biasa yang dilakukan oleh seorang penjahat dan korbannya.

Renne tidak bisa berteriak. Mulutnya dibekam lakban hitam. Harry bersumpah ingin merapalkan kutukan Avada Kadavra untuk yang sekali terakhir jika mengetahui siapa yang melakbannya seperti itu. Jika di lihat dari sudut pandang film biru, bukankah Harry dan cowok – cowok lainnya sedang ingin meng - gangbang gadis itu?
Tapi jangan pernah kau pedulikan, karena Harry hanya pantas di gangbang untuk Tom seorang.

"Lepaskan!" Harry berusaha melepaskan diri, usahanya sia – sia karena tenaganya jauh lebih lemah dari Avery. Ini yang kali pertama wajahnya menunjukan kekesalan. Ia tidak terima seorang perempuan di perlakukan buruk seperti itu. Jika Harry ditawari untuk menggantikan posisi Renne, tidak masalah baginya kalau saja Tom yang memperlakukan kasar padanya.

Sial!

Lagi – lagi haluan nakal terbesit secara tidak sengaja di waktu seperti ini. Bukankah, tubuhnya sedang tidak ingin berkata munafik? Tiba – tiba saja ia teringat tontonan Wesley pada liburan musim dingin lalu, sebuah tontonan yang membuat si penonton kepincut ikut merasa kesakitan serta nikmat akan siksaan dari kenakalan bercinta.

"Ini jenis film apa, Ron?" Harry berkata nyaris berbisik malu – malu.

Ron celingak – celinguk mengawasi sekitar sebelum menjawab pertanyaan bodoh sahabatnya, "Diam! Ini film BDSM. Tonton saja!" Itu kata – kata terakhir yang terngiang dibenak Harry hingga terbayang sosok Tom – lah yang ada di imajinasi Harry sambil mengkasarinya dengan pecutan nakal.

"Aku tidak segan melapor kalian pada kepala sekolah." Harry memberi ancaman. Namun, reaksi Avery dan Abraxas tidak sesuai apa yang ia harapkan. Wajah bodoh bagai keledai idiot itu tertawa terbahak – bahak menertawai keluguan Harry yang bersok seperti pahlawan. Sampai akhirnya pukulan mengenai perutnya.

"Kupikir Gryffindor perlu menggantikan simbolnya jadi anjing. Kau tau kenapa, karena Gryffindor tidak jauh berbeda dengan anjing yang selalu patuh dengan majikan." Setelah itu Avery tertawa menggelitik. Harry tidak berkoar – koar lagi. Sekarang dimana kata 'pahlawan Gryffindor' kebanggaan Hogwarts yang selalu melambungkan tinggi namanya itu, dimana sebutan itu lagi yang selalu memanggilnya dengan kata 'pahlawan' hingga kini ia masih menciut untuk menolong gadis di hadapannya. Harry merasa dirinya tidak berdaya. Lemah. Tidak apa jika lemah berada dekat Tom, bila itu membawanya mencapai kepuasan seksual. Tapi, lemah di hadapan orang – orang yang sedang membutuhkan pertolongannya adalah kata – kata paling haram untuk di akui.

"Kalian adalah tumbal yang pantas untuk tuan kami." Kaya Abraxas, menyodorkan tongkatnya ke wajah Renne.

Air mata menetes demi sedikit dari sudut mata gadis itu. Tidak tega. Harry benar – benar tidak tega menyaksikannya. Tangannya masih bisa mengambil tongkat di kantong. Hati kecil mengatakan ambil segera tongkat itu dan lawan mereka, setelah itu bawalah Renne bersamamu ketempat aman. Beberapa detik ia memikirkan rencana tersebut, beberapa menit untuk mematangkan keputusannya. Melihat Abraxas dan Avery yang masih asik melecehkan Renne, walau kondisi Harry masih terkekang oleh 'pelukan' Avery, tidak menghalangi jalan keluar rencananya untuk meraih tongkatnya. Harry sigap memberontak sesaat, mengambil tongkat itu dan merafalkan mantra lebih cepat dari Avery dan Abraxas. Mereka berdua terpental jauh – tertimbun oleh tumpukan buku – buku.

Harry kemudian melepaskan tali pengikat dan lakban yang membekap mulut Renne.

"Oh terimakasih Daniel." Renne menangis sesegukan.

"Tidak apa – apa Renne. Kau baik – baik saja?" Tanya Harry. Ia memberikan saputangan miliknya pada gadis itu. "Pakailah, hapus air matamu." Untuk kali terakhir Harry baru bisa mengucapkan kata romantis sampai hati Renne semakin meluluh dan menggebu oleh rasa cintanya pada Harry. Sebelum ada kata lain yang membuatnya merasa canggung, Renne menyosorkan bibirnya pada Harry. Membekap bibirnya, menguncinya erat – erat oleh pelukan. Ciuman yang cukup berlangsung lama, dan Harry hampir terhanyut oleh bibir lembut milik seorang cewek yang baru saja ia tolong.

Ya, bibir seorang cewek.

Ini asli cewek.

Bukan cewek jadi – jadian atau seorang cowok.

Ciuman lepas sepihak, kali ini wajah Renne semakin memerah dan matanya sembab. Bukankah gadis itu mengingatkan pada adik Ron. Cantik sekali. "Aku berterimakasih banyak padamu." Ia menghela napas dalam. Wajahnya mulai serius. "Aku mencintaimu, Daniel."

Harry tertegun, wajahnya berkata tidak tau apa yang harus diucapkan, ketika seorang gadis yang pertama menyatakan perasaannya pada laki – laki yang di taksirnya. Bukankah hal itu memerlukan mental, keteguhan hati dan usaha walau hanya satu kalimat saja? Bahkan untuknya sangat berat menyatakan perasannya pada seseorang yang di sukainya.

Renne menggenggam tangan Harry, menuntut jawaban saat itu juga. Matanya berbincar dalam redup kegelisahan, ia berkata lagi. "Aku mencintaimu."

Eh,

Di tengah kedamaian adegan pernyataan cinta ini tidak semulus di kebanyakan EFTV atau sinteron cinta dadakan di SCTEPE. Seseorang yang tidak ingin hadir menjadi orang ketiga, tapi itu diam – diam yang di harapkan Harry.

"Selamat malam Gryffindor." Tom menyahut lantang. Senyum sinis mengemban di udara, tidak enak di pandang. Suara hentakan pantofel membuat degup napas Harry tidak beraturan, ketangkap basah telah melakukan hal tak senonoh. Ia enggan membalik, tapi keadaan memaksanya harus menerima konsekuensi. Tom Riddle enggan mengusik. Namun, wajah tidak bisa berbohong, ia cuman tidak suka gadis itu ada di sisinya.

"Ohh! Sepertinya aku baru saja menganggu kalian." Tom menekan di akhir kalimat.

"Ini bukan yang kau maksud." Harry beralasan, agak tergugu – ketakutan, "Apa ini semua rencanamu, Tom?" Harry mengalihkan pembicaraan dan menembaknya dengan segelintir tuduhan yang membuat dahi Tom berkerut.

Meragukan memang, tetapi ia tidak pandai beralasan. Apalagi belum lama Harry baru saja di kecup oleh gadis itu. Teringat sejak malam pertama kasus Prom Night bercinta dengan Tom sampai ia kini merasa malu ke cyduck berselingkuh.

Tidak! Ini bukan salahnya. Ini semua salah Renne. Gadis itu yang pertama menyosor bibirnya pada Harry.

"Kenapa?"

Tom berjalan mendekatinya, Harry menjauh dan berusaha melindungi Renne. Tatapan mata Tom yang dingin, tidak sedikitpun Harry dibuat gentar tetapi Renne bergidik ngeri. Tom menarik tangannya, merebut kembali Harry dari saingannya yang telah berhasil mencuri bibir laki - lakinya, tidak terima Tom hampir merafalkan mantra tetapi secepat kilat Harry berhasil menangkis.

"Aku baru ingat, dia cowok yang mengajakmu berdansa bukan? Kukatakan padamu Daniel, jangan pernah berurusan dengan anak asrama Slytherin. Mereka itu licik!" Renne mengumpat dibalik raut wajah kebencian.

Degup Harry hampir meledak jika saja kalimat awal Renne tidak diucapkan. Gadis itu menuntut jawaban. Tapi, yang dikatakannya sepenuhnya benar.

Slytherin itu kumpulan orang – orang licik.

Umpatan gadis tersebut sama sekali tidak membuat Tom terusik. Namun, berbeda dengan Harry yang nyaris malu, mendengar rentetan kalimat gadis itu membawa Tom dalam kebahagiaan yang tak bernilai harganya, bahwa ia telah di akui.

"Aku tidak peduli sebutan buruk apalagi untuk kami. Menyatakan perasaan cinta padanya dan menciumnya?" Tom tergelak tawa merendah. "Menyedihkan. Hal seperti ini membuat ku jijik."

"Lupakan Tom. Aku hanya ingin memastikanmu bahwa ini bukan rencana mu kan, atau memang ya?"

Harry gelagapan. Berusaha mengalihkan topik.

Baru semalam Harry berjuang keras untuk tidak bertemu lagi dengannya. Menyiksa batin lantaran bau wangi tubuhnya terasa masih menempel, padahal Harry sudah berkali – kali mandi wajib.

Tom memandang diam Harry. Merasa cemburu dan iri terhadap gadis itu yang sangat mudah mengutarakan perasaannya. Tapi, egonya terlalu tinggi sehingga Tom menutupinya dengan kemunafikan.

Ahh x10

Tom Riddle menyeringai. Gadis itu semakin takut untuk menjawab. Sehari – hari apa yang di lihatnya, hanya sekumpulan serangga penganggu yang selalu datang untuk mencuri, menghancurkan dan menggagalkan harapan. Tak ada cemburu sedikitpun, tapi jika kau cukup pintar membaca hatinya, Tom sedang berusaha menyembunyikan rasa cemburunya. Bagaimanapun, Harry miliknya. Fakta bahwa banyak gadis diluar sana yang ingin memiliki laki - lakinya, dan Tom harus melawan banyaknya saingan para gadis – gadis normal. Tetap tidak bisa.

"Daniel, aku percaya apa yang kau katakan tadi, dia pasti dalang yang merencanakan semua ini. Aku tidak akan segan walau perfek sekalipun memperlakukan siswanya buruk, kan ku laporkan pada kepala sekolah." Renne mengancam.

"Cruciatus!" Tom merapal. Amarahnya meletup – letup.

Harry kalah cepat. Mantranya sukses mengenai Renne. Tubuh gadis itu merontak kesakitan, ia menjerit menahan sakit dan menggeliat – liat bagaikan laba – laba di lilit ular.

Harry ditarik berdiri dan di papah menjauh darinya hendak ia mau menyusul gadis itu. Rasa kecemburuan yang menggebu – gebu membutakan akal sehat Tom. Sudah terlalu lelah menahan kecemburuan, Harry di bopong ke sudut tapi Harry memberontak dan menahannya sampai disitu. "Kau bodoh sekali Harry!" Ujar Tom meraih kerah bajunya, diangkatnya keatas. Tercium wangi tubuhnya namun, Tom tidak bisa mengelak untuk segera menciumnya.

"Jangan pernah sakiti perempuan, Tom!" Harry berteriak. "Aku tidak terima!"

Setelah Harry mengungkap fakta terakhir, hatinya sedikit mencelos, merasa bersalah telah menyakiti. Akhirnya Tom membiarkan sejenak, meredakan luapan emosinya untuk mendengarkan Harry.

Mungkinkah mengalah?

"Jika ada yang ingin kau sampaikan, katakan padaku sekarang." Harry memojokan. "Jangan berlagak sok pecundang didepan ku namun kau berani melawan perempuan."

Harry tarik napas dalam – dalam lalu melirik kearah Renne sedikit. Gadis berambut pirang mirip Ginny meringkuk tergeletak di lantai, meringis menahan nyeri. Mengapa hatinya tiba – tiba menjadi iba pada gadis itu?

Jujur saja, kalaupun Tom mengungkapkan perasaannya yang sama seperti Renne lakukan pada Harry, ia belum siap menerima, bukan menerima sebagai kekasih, ia takut terjebak dengan perasaan cintanya yang terlalu kuat sampai ia tenggelam dan terjebak selamanya di masa lalu Diary Tom. Jika apa yang dikatakan Dumbledore benar adanya, maka nama Harry tidak akan pernah terlahir di dunia nyata, tempat kehidupan yang seharusnya ia duduki.

Tom ketawa keras – keras, "Kau lucu sekali Harry."

Harry tidak mengindahkan kata – kata Tom, 'apa yang dia maksud lucu sekali' mungkinkah itu rayuan klasiknya atau semacamnya. Terdengar menggelitik, tapi Harry sedikit terbungah.

Tak menyerah sampai disitu. Tom menarik pergelangan Harry, mendekap tubuhnya kedalam peluk hingga menempel satu sama lain. Tidak menghiraukan keadaan Renne yang masih disitu atau kedua temannya yang mungkin saja datang tiba – tiba mempergoki sang tuannya ber – homo – an dengan siswa Gryffindor. Tubuh Harry terasa begitu hampang saat di tarik olehnya, tidak ada pemberontakan sekalipun karena Harry menginginkannya juga.

"Muggle kotor yang suka berselingkuh. Tidak heran banyak orang – orang berdarah lumpur di luar sana yang hobi berselingkuh. Setelah bercinta satu malam denganku dan kau menerima ciuman gadis itu." Tom mengeratkan dekapannya, tangan sebelahnya menggerayang, meremas benda kenyal di balik jubah hitam Harry. Rindu akan pantatnya yang menepok – nepok miliknya.

Suatu keberuntungan bagi Harry karena Renne tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.

"Daniel!" Kata Renne kesal. "Pergi dari sini!"

Harry tidak teralihkan pandangan dari Tom, seolah terkunci rapat hanya dia seorang yang hanya kau tatap. Tom Riddle tersenyum yang pertama kali. Ia dengan sengaja menggesek bibir bawah Harry, dan siap memaggut. Bibir yang lembut, Harry jadi tidak bisa bertanya lagi.

"Lepaskan dia! Aku akan berteriak dan mereka akan menghukummu!" Ia berteriak. "Cepat pergi!"

Tom menghembuskan napas, berkata tenang. "Kenapa kau berisik sekali, nona? Aku hanya sedang menggoda laki - lakiku." Ucapnya spontanitas

"Tom apa yang kau katakan!?" Kata Harry patah – patah. Lidahnya nyaris susah mengecap kata demi kata. Dia baru saja merasa terbang. "Kau tidak perlu berkata seperti itu."

Renne terkesiap. Bergeming. Ia merasa jijik, "Hah? Aku semakin tidak mengerti. Apa maksudnya semua ini?"

Tom akhirnya pasrah. Memutar bola mata – bosan, "Maaf, aku kehabisan waktu untuk menjelaskanmu." Kata Tom.

"Tom lepaskan tanganku –"

"Apa yang dia maksud, Daniel? Apa maksudnya?"

"Kau masih mengemban nama palsu itu, oh, aku merasa diriku istimewa karena hanya akulah yang tau siapa namamu."

Harry melepaskan diri dari dekapan Tom, tetapi pria berambut klimis hitam legam itu tidak sama sekali mengizinkan prianya mendekati gadis tersebut. Sampai akhirnya Abraxas dan Avery datang menghampiri mereka.

"Tu – tuan, maafkan aku." Kata Avery tergugu. Ia tunduk hormat.

"Tuan? Sampai sejauh itu kau panggil mereka tuan?" Renne menyerocos.

Tom sama sekali tidak mengindahkan omongan itu. Ia masih menatap diam pada Harry, seolah masih belum bisa melepaskan Harry terlalu jauh darinya.

Hening.

Tom mengalah, mundur.

Harry enggan menolak.

"Ayo pergi dari sini, ada yang harus aku lakukan dengan buku absensi kalian." Tom meleos pergi tanpa sepenggal kata perpisahan. Kedua temannya mengekor dari belakang dan sosoknya menghilang kemudian.

.

.

Segaris benang yang baru saja di tarik oleh pria itu, Harry merasa bersalah kali lipat. Baru saja juga ia ingin mengatakan.

Menyampaikan.

Kalau Harry ingin meminta maaf.

.

.

Sudah berhari – hari Tom tidak menampakan diri. Di bangsal utama, kantin, perpustakan dan jembatan 'cinta' tempat cocok yang pas buat ngapel berduaan sambil menikmati indahnya alam.

Hingga pagi ini pun Harry belum melihat jambulnya, terhitung seminggu setelah perkara ketangkap basah berselingkuh 'tidak sengaja' bersama Renne. Harry kembali masuk kelas dengan langkah lesu. Mata menjilat ubin kelas selagi berjalan. Ada debaran kecil menyertai langkahnya.

Pagi ini, mata kuliah terakhir penutup liburan, Astronomi gambar bentuk rasi bintang dan maknanya yang di ikuti beberapa siswa Gryffindor dan Hupplepuff. Harry, seperti biasa, duduk di belakang menyendiri sambil membuka buku setebal kitab dengan malas.

Seisi kelas langsung diam, menyimak, memasang konsentrasi penuh pada penjelasan bab zodiak. Sebenarnya apa hubungannya zodiak dengan ilmu sihir. Lagi – lagi Harry penasaran tentang zodiak Tom Riddle. Setelah dua minggu mereka bercinta hardcore tak terelakan pembiacaraan hal – hal dirinya belum sempat di tanyakan. Bukan gengsi, melainkan rasa canggung di sertai rasa kemarahan Harry padanya sebagai sosok pembunuh orangtuanya.

Harry merutuki perasaan bodohnya, mengapa bisa hati kecilnya berlabuh pada psikopat tampan dan gila itu. Jangan pernah kau lupakan cara Tom menatapnya.

Harry ingin memaki. Pelajaran astronomi tidak berlansung lama, dan bunyi bell berdering, lekas secepat kilat Harry keluar kelas. Dengan rasa rindu yang tak terbendung.

Sejenak ia menginginkan bau harum tubuh laki – lakinya, Tom yang sudah mencuri hatinya dengan cinta buta.

Sama sekali tidak bertanggungjawab.

Sudah pula menanam benih, juga sudah membuatnya jadi baper dengan status yang ga jelas.

TTM?

HTS?

Atau sebutan apalah yang kalian tau, yang pasti mesra – mesraan namun cuman sebatas teman.

Natal pun tiba. Septimus mengajak Harry kerumahnya untuk merayakan natal bersama di rumahnya. Rumah itu tidak jauh berbeda dari rumah Ron yang sekarang, hanya saja ada perubahan di bagian pekarangan dan ruang makan.

Harry di sambut baik oleh keluarga Wealsy, yang tidak di ketahui siapa – siapa saja yang berada disini. Begitu banyak orang.

"Siapa namamu nak?"

"Dia Daniel, mom." Septimus menjawabnya.

"Oh ayolah, dia manis sekali bukan. Sayang ambilkan kotaknya." Kata ibunda Septimus. Ia memberi sedikit belaian di pucuk kepala Harry. "Kau harus makan disini okay."

"Oh ya. Baik. Terimakasih."

"Lihatlah Daniel, merepotkan sekali bukan mommy ku." Dia berbisik. "Kau tau, dia sangat baik kalau didepan orang lain, tapi lain halnya kalau sedang bersama ku, bawaannya marah – marah terus. Aku tidak tau jalan pikir para ibu – ibu di luar sana kek gimana. Apakah ibu mu seperti itu, Daniel?"

"Eh, ntahlah." Harry tidak banyak berkomentar. Lantaran cukup menyayat bila membicarakan kedua orangtua, karena ia tidak diizinkan untuk bertemunya secara nyata.

Sambil mengalihkan pikirannya tentang dendamnya dan kerinduannya pada Tom, ia berusaha mencari kesenangan dan memaksanya untuk berbahagia bersama orang lain. Menyibukan diri di saat di landa kegalauan akan kerinduan pada Tom Riddle.

Harry berpesta, saling bertukar kado, memanggang daging sapi dan barbeque, lalu bermain challence, memakan permen segala rasa dengan hukuman Streak Out di depan kolam ikan.

Harry menginap di rumahnya selama 5 hari setelah natal.

.

.

Liburan musim dingin sisa 2 minggu. Awal januari mulai masuk kembali. Rencananya sudah jauh lebih matang dari sebelum – sebelumnya. Yaitu bagaimana cara melenyapkan Diary Tom yang kedua kali dan membuatnya ia memanggil kembali Basilik, menghancurkannya dengan taringnya yang sama dilakukan saat tahun kedua saat menyelamatkan Ginny. Sudah tidak ada pilihan Harry harus kembali ke masa depan. Dengan segala cara apapun.

Septimus menunggu Harry di gerbang, wajahnya sumringah memancarkan aura kebahagiaan sebagaimana reaksi alamiah menginjaki hari libur. Kira – kira itu gambarannya. "Hey Daniel! Selamat pagi." Ujar Septimus. Harry berjabat tangan, balas menimpalinya. "Oh hey. Pagi juga."

"Kau mau ikut dengan ku pergi minum bersama teman – teman lainnya?"

"Eh, apa itu tidak masalah?" Jawab Harry.

Septimus mengangguk senang, "Ya. Kau tau, Hogwarts tidak melarang kami untuk pergi minum, ya asalkan usiamu sudah diatas 16th. Kau sudah 16th?"

"Mungkin. Aku lupa dengan hari kelahiranku."

"Astaga. Ayo kita bersenang – senang."

Suasana libur desa Diagon Alley begitu ramai di musim dingin. Banyak orang berlalu – lalang menikmati segala jajanan khas desa sihir idaman para penyuka cerita fantasi. Menjadikan Diagon Alley adalah tempat yang cocok untuk para Introvert yang ingin bermain didalam dunia magic. Harry duduk di sebelah Septimus, sambil menunggu bir datang, mereka bermain UNO. Sampai tidak memperdulikan keadaan sekitar, kalau salah satu pengajar Hogwarts diam – diam ikut menonton permainan mereka. Tapi, Harry tidak ikut bermain kartu, ia memilih menonton sambil menunggu pesanan datang, sambil merindukan sosok wajah Tom Marvolo Riddle yang kini kian tak tertahankan. Ini sangat menyiksa.

Apa perasaanmu diterjang rindu selama dua minggu penuh tanpa kabar dari si dia?

Menyakitkan.

Apakah ini balasan untuk Harry karena ia terlalu sulit mengungkapkan kesalahannya?

Harry menoleh, menyadari tatapannya. "Kenapa aku ada disini?"

Septimus yang berada di sisinya menyadari, "Kau bicara dengan siapa?"

"BUKAN!" Harry menggertak tanpa disadari. Dia bingung, dia canggung dan seketika Harry melangkah cepat keluar dari bar tanpa menghiraukan panggilan teriakan dari teman sekamarnya.

Ini sangat menyakitkan untuk Harry. Di kala detik – detik terakhir yang harus diingatnya adalah rencananya untuk membunuh Tom, tapi mengapa hati kecilnya tidak bisa mengalihkan rasa rindunya yang tak tertahankan. Harry kehilangan arah, tak tau kemana ia pergi, tidak ada lagi teman yang bisa di ajak ngobrol, curhat, seolahnya semua sirna oleh kegundahannya.

Dengusannya membuat jantung Harry berdentum. Cara Tom mengulum bibirnya, bagaimana saat ia membuat Harry merasa nyaman oleh setiap sentuhannya. Teringat akan malam pertamanya. Begitu indah dan luar biasa. Begitu menyakitkan dan menyedihkan.

Harry berlari dengan tatapan kosong, tak kala langit mulai senja tanpa ia sadari. Sudah berapa jam ia habiskan untuk membuang waktunya hanya berjalan kesana – kemari.

Kalau saja ada Hermione dan Ron berada di sisinya, andaikan liburan musim dingin ini tidak terlalu hampa, dan banyak hal – hal yang akan di lakukan bersama mereka untuk menikmati liburan. Yang kedualinya jika Harry berandai – andai Ron dan Hermione ada disini, di saat Harry sedang melanda kegalauan ia pasti akan berterus terang dan mencurahkan isi hatinya kepada sahabatnya tanpa rasa canggung.

Pening, Harry beristirahat di kedai makanan dekat pintu gerbang selatan pemukiman. Lalu, memesan cream soup dan hot tea kepada si pelayan wanita berambut ikal tersebut.

Tidak menunggu waktu lama, hidangan pesanan Harry tiba di meja dengan sulap amazing. Harry makan perlahan. Tak seperti cara anak berdarah Slytherin atau berdarah murni yang selalu menjaga etika saat makan, bagaimana cara menggunakan garpu dan sendok secara bersamaan tanpa menimbulkan dentingan ribut yang mengganggu. Peduli setan. Harry melahapnya kerasukan.

Harry kembali memesan wine, diteguknya rakus 'seakan ini masih kurang dan aku perlu beberapa botol untuk menghilangkan stressku'

Sambil seruput sedikit – sedikit, Harry melirik satu persatu pelanggan yang ada disini. Semuanya di dominasi oleh bapak – bapak berjenggot tebal dan wanita tua. Harry ingin melolong pasrah karena salah masuk tempat.

Detik itu, Harry tiba – tiba menoleh kearah luar. Pintu dibiarkan terbuka, dan sekilas terhilat sosok Tom Riddle baru saja melewatinya.

Dia sendiri.

Mungkinkah hanya orang yang mirip saja dengannya, kebetulan lewat sini atau...

Harry langsung tersedak, saking senangnya telah melihat keajaiban bahwa matanya masih terbilang cukup bagus untuk melihat sesuatu. Matanya terus mencari, dan Harry cepat – cepat membayar bills – nya lalu keluar menyusul seseorang yang di maksud.

Kurang ajar sebab Tom sudah membuat Harry merasa baper. Harry membatin. Mengutuk.

Butiran salju membubuhi jalan setapak Hogsmeade. Semua tampak di dominasi warna putih. Sedikit teringat lagu Love in Dreams yang pernah di mainkan oleh siswa Gryffindor di ruang musik. Setiap notnya yang terlalu memilukan untuk di hayati, mengisahkan cerita dramatis di baliknya, tanpa liris tanpa kata – kata yang mewakili. Harry terjebak oleh lagu itu, bernostalgia sendiri.

Yang di carinya tak kunjung muncul. Harry kehilangan jejak, tetapi berharap cemas bahwa ia tidak salah lihat. Orang yang dilihatnya barusan memang Tom Riddle atau hanya haluannya saja. Harry dibuat bimbang, kenapa dia begitu merindukan sekali sosoknya.

Harry terus memandang kesegala arah. Kiri, kanan, depan, belakang, maju, mundur. Tak tahan dan salah tingkah di depan banyak orang yang berlalu – lalang, di pandang aneh oleh mereka. Buru – buru ia mengambil jalan kesebelah kiri, dan berniat kembali ke asrama.

Harapan pupus sudah. Jejaknya hilang di tutupi salju.

Namun, lamunannya membuyar. Barulah ketika Harry kembali sadar, sosok yang di carinya berada di hadapannya. Akhirnya waktu mempertemukan kedua mata mereka.

Adu pandang mereka jadi lebih lama dalam jarak yang jauh. Harry merasakan darahnya berdesir kecil.

"Harry?" Tom memanggil dengan nada yang rendah. Matanya terkunci pada satu tiitk, yaitu Harry. Nadanya kalem, setenang salju.

Harry langsung bicara serius, "Darimana saja kau?"

Baru saja ia sadar, kenapa bisa tiga kata ambigu mencelos keluar dari mulutnya. Bukankah, itu menandakan kalau Harry mencarinya. Harry Cuma bisa diam setelah itu, mendadak speechless, mendadak bego.

"Kau mencariku, Harry?" Tanya Tom. Ia berjalan perlahan mendekat. Harry masih bergeming. Kaku sekujur kakinya tidak bisa digerakan.

Harry hela napas, memandangi lekat – lekat kedua mata Tom intens. "Uhm, yeah. Aku tadi hanya bercanda, jangan kau anggap serius."

Bohong! Harry sedang mencoba membohong dirinya sendiri lagi.

Tom mengangguk, menatap kosong Harry, tapi ia terus melangkah maju sampai berjarak 7cm dengannya. "Aku baru saja ingat apa yang pernah kau katakan waktu itu, saat kau bersama gadis Gryffindor dan memaksaku untuk mengatakannya padamu." Kata Tom.

"Aku tidak ingat apapun."

"Ya aku percaya kau mengingatnya, karena kau memintanya dan sekarang aku akan menjawabnya." Tom mulai berbicara serius.

Harry semakin gelagapan saat di tatap olehnya seperti itu. Semakin canggung. Harry mengiya lemah. Tetapi sambil mengiya, matanya terus meminta penjelasan. Bukankah, bisa dikatakan ia munafik?

"Ya." Kata Tom patah – patah, tidak biasanya wajahnya yang selalu dingin seperti es kini terlihat begitu hangat di mata Harry. "Aku mencintaimu, Harry."

Dari posisinya saat ini, Harry bisa saja rubuh seketika di tempat. Bukannya ingin diangkat bak seperti tuan putri yang akan di gendong oleh pangeran ke istana kerajaan atau kekamar, tetapi mau tak mau ia yang sedang mencoba bertahan berdiri dihadapannya harus mendengar pernyataan cintanya dari gebetan satu malamnya.

Harry tiba – tiba susah berkedip – tidak tau juga cara bernapas yang benar. Harry salting setengah mati. Sampai tidak menyangka mengapa calon penguasa jahat seperti dia, yang berusaha akan membunuhnya di masa depan kelak, berusaha mencelakai kehidupan Harry, dan telah membunuh kedua orangtuanya, kini berdiri dihadapan Harry menyatakan cintanya.

Pernahkah ia bilang bahwa Tom Riddle sama sekali tidak menyukai hal – hal cinta? Sampai ia begitu membenci kata – kata tersebut.

Lantas ada apa dengan hari ini?

"Apa maksudmu, Tom?" Harry mencoba mengelak. Ia malu sekali. Wajahnya hampir merah semua.

Tom menarik syal Harry kearahnya, dan dipagutnya bibir Harry erat – erat. Ciuman tidak berlangsung lama, Harry memutuskannya sepihak.

"Jangan pernah kau minta aku mengulanginya lagi, karena aku tidak menyukainya." Balas Tom acuh tak acuh

"Ya. Aku dengar." Kata Harry. Berusaha terlihat cool, "Sama seperti apa yang kurasakan saat ini, aku juga mencintaimu, Tom." Harry memalingkan wajah darinya.

Ini sangat memalukan.

Tom menarik lagi syal Harry dengan kasar, "Lihat mataku Harry Potter." Tom menggeram, wajahnya menjadi dingin sekali. "Jika kau tidak pernah ada disini, jika kau tidak datang ke masalalu ku lagi, Harry, jika saja kau tidak membuatku tertarik denganmu. Aku pasti membunuhmu suatu saat nanti."

"Ya, karena kau mencintaiku. Orang yang sudah menghancurkan hidupku, membunuh semua yang kumiliki dengan kesombonganmu, dan kau mencuri hatiku."

Tom tercenung, Dia teringat akan kebangkitan Voldemort di masa depannya, yang pada malam itu ia berusaha membunuh Harry, bagaimana ia tercipta dengan darahnya, yang selalu di jaga Wormtail sampai bentuk rupanya terwujud menjijikan. Dari belasan tahun lamanya menunggu.

Untuk bertemu Harry dan berbicara dengannya.

.

.

Pintu toilet menjeblak terbuka, di kunci rapat – rapat dari dalam. Lupa kalau mereka berada di dunia sihir, dimana pintu itu bisa terlihat tembus pandang oleh siapapun yang penasara ingin melihat suara ikeh – ikeh di dalam bilik menggunakan mantra.

Beruntung seribu kali lipat penduduk Knockturn Alley tidak begitu memperdulikan masalah pintu bernyanyi. Selagi bukan kedatangan Death Eaters, manusia bertopeng, dan para penyihir hitam yang selalu iseng.

Bukan juga kenakalan anak – anak kecil yang sering cari masalah dan menimbulkan keributan di toko – toko. Tidak berlaku di Knockturn Alley.

Tom membawa Harry kesalah satu kedai penjual aksesoris kegelapan, namun dibawanya ke toilet. Bukan mengajak kencing bersama, tapi kegiatan anu yang sudah terjepit di ujung celana.

Di dalam bilik toilet yang sempit, kumuh dan kotor. Tidak membuat napsu mereka menghilang hanya karena tempat ngeue nya yang kurang enak. Dengan gaya cool dan tatapan tajamnya, Tom mudah memilih siapa saja untuk di tiduri. Tampan, pintar, pangeran kesayangan Slytherin. Di hadapannya lelaki bottom yang tak bisa menolak, yang straight jadi belok. Siapa yang berani menolaknya? Tom Riddle tinggal mengacung saja.

Tak terkecuali si Harry anak yang lolos dari jeratan sihirnya sendiri, dan berbalik mengenainya, si sayang yang tak terelakan.

Tom tak peduli Harry ini homo atau lurus. Sekali pandang, sekali memancing incarannya, mustahil ia berhenti. Lubang Harry sudah ia jadikan target. Setelah pasca malam pertama setelah Prom Night yang berangsur lega menanam benih dalam prostat Harry. Hanya hitungan jam atau menit, malam yang kedua, Harry akan menjadi miliknya.

Tubuh Harry di banting kasar menghadap pintu, Tom dibelakangnya, menggencet tubuh ringkih Harry yang sudah berkeringat basah. Harry diam saja. Menerima pasrah setiap sentuhan kasarnya, namun begitu nagih untuk di simpan. Tatapannya jatuh pada mata Tom, memandangnya tajam yang hingga mudahnya menghamili anak orang sekali kedip. Di balik kemeja putih, menampilkan puting yang tampak menonjol. Tom membawa jarinya mencubit lagi puting Harry, menyelinap nakal. Ditarik dan dipelintir didalam kemeja. Dipilin dan dijepit diantara jari.

Harry menggigit bibir. Bertahan untuk tidak merintih. Menopang pada pintu, satu – satunya pegangannya agar tidak roboh.

Terkekeh, Tom kembali memasuki liang telinga Harry dengan lidah. Liat dan panas, bergerak menyusupi telinga atas, bawah, menari di permukaan kulit. Entah mengapa Harry merasa bahawa hanya dengan lidah di telinga, ia seperti sudah di penetrasi. Tom membalikan badan Harry, memkasa untuk menghadapnya.

Wajah Tom yang kini kian sexy, dan panas bagaikan bintang porno situs JGV – yang siap menerkam siapapun yang menjadi bottomnya. Apalagi, si pangeran berdarah campuran itu suka sekali menyiksa korbannya, bukan hal lain kalau sex yang kedua kali ini di lakukan secara BDSM dan bondage. Namun, Harry menyukai sisi masokisnya.

Matanya yang tajam, warna hitam pekat mengkilat tertutupi cahaya remang, dan rambutnya sebagian menutupi sebelah matanya. Harry mengalungkan kedua tangannya dileher Tom, mengayun erat, menarik dekat meminta untuk di manja lebih sadis lagi. Tom memandangi lekat, seolah ingin merekam bagaimana setiap reaksi Harry. Kemudian jemarinya turun ke dada, berdiam di tengah tonjolan puting yang mengeras dan menjilatnya rakus dengan mata nakal menatap Harry.

"Ahn!" Harry meloloskan rintihannya.

Tidak berlangsung lama untuk pemanasan atau sekedar foreplay. Tom melucuti celana Harry, menarik keluar miliknya. Beradu satu sama lain, saling mencium di antara pucuk milik masing – masing. Tom merintih nikmat. Ini kali pertama aksi gilanya bukan lagi bermain anal play. Tom mengocok dalam tempo yang cepat. Kedua tongkat yang sudah gagah menegak di adukan, berduel, saling memagut, membasahi bercak pra – cum.

Betul – betul sialan. Harry berdebar cukup gila saat miliknya berciuman dengan milik Tom. Benda jantannya tidak ingin mengalah untuk saling berpedang. Ujungnya terlihat mengkilat basah karena cairan. Berdenyut, menanti untuk dimanja.

Harry tersentak saat ujung kemaluannya bersentuhan. Tom menekan, menggesek – gesek, memutar lalu mencubit nakal pelirya, kurang ajar nikmatnya. Harry tertunduk dan melenguh, melihat tangan Tom lihai sekali memainkan dua pedang sekaligus miliknya dan Harry, seperti ia sudah terlatih bermain pedang – pedangan asli. Kocokan yang semakin cepat, dan semburan cairan sperma keluar muncrat – muncrat kearah wajah mereka.

Ini kah yang dinamakan adu pedang asli.

Belum puas, Tom menjepit tubuh Harry, mengangkat sebelah pahanya sehingga Harry perlu menopang padanya. Kali ini rasa rindunya terbayarkan lunas malam ini. Sekian 2 minggu lebih lamanya Harry di buat tersiksa dengan candu sex bersama Tom Riddle. Ini kali berjuta nikmatnya dari pada bercinta bersama perempuan.

Bukankah ia belum pernah bercinta dengan lawan jenis?

Peduli setan terhadap semua rencananya. Aksi heroik untuk menyelamatkan orangtuanya adalah bullshit, alasan belaka untuk membunuh Voldemort di masa mudanya cuman omongkosong. Dari lubuk jauh di hatinya, ia merasa telah berkhianat dengan semuanya. Kabur dari masa depan, dan menjalin hubungan dengan Voldemort berusia 17thn?

Harry merintih kesakitan ketika lubang analnya di jebol lagi oleh milik Tom. Memasukan secara paksa, mengerokkan seisi didalamnya dan di sambut hangat oleh dinding kerinduan di dalam tubuh Harry.

Mereka terhubung.

"Berpegang padaku, Harry." Suaranya bercambur desahan. Sambil menunggu Harry relax, Tom berbisik, "Gila sekali rasanya bercinta denganmu Harry potter."

"Ugh! Jangan mengatakan hal – hal memalukan seperti itu." Harry berusaha menutupi wajahnya dengan tangannya, namun Tom cepat menggubris yang menghalangi wajah sang kekasihnya.

Sedikit demi sedikit, Tom memainkan in and out didalam tubuh Harry.

Suara rintihan Harry samar – samar di antara bilik toilet.

Yang kedua kalinya, Tom berbisik. "I'm in love with you, Harry."

Dan Harry terdiam seribu bahasa.

.

.

.

Terkadang, di suatu saat terbesit timbul pertanyaan besar hingga kini membuat Harry tak terpikirkan. Apa yang membuat ia menjadi terobsesi ingin mengejar bayang pujaan hatinya yang telah membunuh kebahagiaannya? Menyeretnya sampai tidak di izinkan untuk mendapatkan kasih sayang orantua, segitu teganya hanya karena Tom Riddle menginginkan kekuatan lebih dan mengorbankan nyawa orang lain? Sebodoh itukah Harry membiarkan perasaan hatinya di perbudak oleh iming – iming cinta manis dan nafsu birahi oleh Tom sendiri. Bukankah ia semestinya berhenti untuk mengagumi dan mengejar kasih sayangnya.

Perasaan ini napsu, bukan cinta. Dan napsu biasanya tak akan bertahan lama.

Tetapi,

Jika di ingat dari awal bertemu Harry dengan Tom memang kurang bersahabat. Di pertemuan yang kesekian kalinya bahkan Tom tak segan menyerangnya, sampai membunuhnya. Mana ada membunuh seseorang atas didasari cinta?

Itu gila!

Akhirnya Harry sadar.

Bahwa saat itu ia terpikat karena menatap Tom Riddle. Matanya menusuk hatinya. Untuk yang pertama kali saat pertemuan mereka di Chamber of Secret.

Saat ketika ia mengatakan, 'Mudblood bukanlah targetku lagi, namun target baru ku sekarang adalah kamu.'

Siapa yang tidak meleleh mendengar rayuan maut seperti itu? Ketika seorang gebetan telah kehilangan minat dengan mantannya, dan gebetanmu mengincar mati – matian untuk mendapatkan kamu. Ya kamu!

Malam – malam ketika Harry membayangkan sosok Tom Riddle berusia 16th untuk kali pertama seumur hidup, yang ia ingat adalah tatapan tajam itu.

Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit berlalu setelah hilangnya bulir debu pria tersebut lenyap terbakar. Bagaikan abu berterbangan yang sulit didapatkan.

Dan tertangkap kembali setelah sekian lamanya, sampai mengorbankan masa depan kehidupan Harry Potter.

Mengemban teguh atas balas dendamnya, meminta Voldemort membayar semuanya.

Namun, perasaanya tenggelam bersama Tom Riddle, dan sulit rasanya meninggalkan sang kekasih yang begitu di cintainya.

.

.

.

"Apa yang terjadi jika aku telah melompat kedalam masa lalu seseorang? Apakah aku bisa mengubah sejarah?" Harry Potter bertanya.

Dumbledore menggaruk jenggot, wajahnya menunjukan kegelisahan. Rupanya ia merasa bahwa tak sepantasnya disampaikan.

Harry menghampiri Dumbledore beberapa langkah, tepat di hadapan mejanya. Menuntut jawaban. Menuntut penjelasan, dan siap menerima kenyataan apapun.

Semudah itukah?

Dumbledore terdiam. Napas tertahan sejenak, sebelum bibirnya mengatakan sesuatu, lalu menatap Harry lekat – lekat, kalau pertanyaannya bukan sekedar kepo atau iseng – iseng. "Saya mengerti." Dia memberi jeda, "Jika kau meminta jawaban, akan ku beri. Tapi, sepertinya ini adalah kenyataan yang tidak enak di dengar."

"Katakan saja!" Harry menggeram.

"Kau tentu tidak bisa mengubah sejarah, Harry."

"Lalu, apa yang harus aku lakukan jika aku terjebak disana?"

"Kau harus membunuhnya lagi. Dalam waktu yang singkat setelah sebulan kau terjebak disana, dan jangan pernah lebih dari 37 hari."

Harry menelan ludah. "Apa yang terjadi selanjutnya?"

"Kau akan menghilang dari duniamu, dan oranglain tidak akan pernah mengenalmu. Lebih mengerikan dari kematian, bukan?" Kata Dumbledore. "Karena kematian, namamu akan selalu di ingat oleh mereka. Membuktikan bahwa kau pernah ada."

To be Continue...