Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T semi M

Genre : Romance, Hurt/Comfort

Pair : Aizen x Orihime

(AiHime)

~ Moon and Sun ~

WARNING : TYPO'S, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD AMBURADUL,CRAK PAIR, ALUR KADANG CEPAT DAN LAMBAT, DLL.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X

Sudah setengah bulan Orihime menikah dengan Aizen, Raja Hueco Mundo dan tinggal di istana megahnya juga menikmati status barunya sebagai seorang Ratu sekaligus istri dari pria bersurai cokelat tersebut. Walau bisa dikatakan sebagai suami istri tapi sampai saat ini Aizen belum menyentuh Orihime dalam artian khusus hanya sebatas memeluk dan menciumnya tak lebih, Orihime tak berani bertanya karena malu juga merasa kurang pantas jika menanyakan hal itu pada sang suami, pernah terlintas dibenaknya kalau Aizen tidak tertarik dengan dirinya mungkin dirinya kurang cantik, sexy mengingat banyak wanita cantik serta berpenampilan sangat menarik didekat sang suami.

"Apa kau tak suka dengan masakan para pelayan?" tanya Aizen karena sejak tadi memperhatikan Orihime yang terus mangaduk-aduk makanannya.

"Ti-tidak,"

"Lalu kenapa kau tidak memakannya. Apa kau ingin makan yang lain?" tawar Aizen.

"Tidak perlu, masakan ini sangat enak," Orihime memasukkan satu sendok penuh sup daging dan kentang ke dalam mulutnya.

"Makanlah yang banyak, aku tak mau kau terlihat kurus seperti kekurangan makan,"

"Ya." Sahut Orihime.

Sebenarnya Orihime tidak berselera sama sekali untuk makan karena ada hal yang tengah dipikirkannya yaitu mengenai hubungannya dengan sang suami yang bisa dibilang tak ada kemajuan sama sekali bahkan mereka jarang menghabiskan waktu berdua mengingat Aizen sangat sibuk mengurus masalah kerajaan tak jarang pria bermata Hazel itu pergi keperbatasan melihat keadaan disana serta anak buahnya yang bertugas berjaga. Memang apa yang dilakukan oleh Aizen adalah menjalankan tugasnya menjadi Raja di kerajaan ini, memastikan tidak ada hal berbahaya atau ancaman dari musuh di kerajaannya walau Hueco Mundo bisa dibilang kerajaan Hollow tempat tinggal serta berkumpulnya mahkluk penghisap roh tapi sebagian dari mereka sudah berevolusi menjadi Arrancar berkat bantuan dari Aizen, bentuk dari Arrancar hampir mirip seperti manusia namun mereka memiliki topeng Hollow serta lubang ditubuh menandakan kalau mereka bukan manusia. Para Arrancar hidup seperti manusia pada umumnya mereka makan makanan yang sama seperti dimakan manusia tapi mereka bisa menghisap roh untuk kebutuhan energi kehidupan bahkan kini sebagian Arrancar menikah dan memiliki keluarga serta keturunan walau awalnya hal ini banyak ditentang karena tidak mencerminkan sebagai Hollow mahkluk penghisap roh dimana cara mereka berkembang serta berevolusi adalah saling membunuh untuk mendapatkan kekuatan tapi hal itu di ubah oleh Aizen.

Jika beberapa ratus tahun lalu Hueco Mundo masih berupa gurun pasir tandus tak berpenghuni tak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali tapi setelah kedatangan Aizen keadaan disini berubah sudah ada beberapa desa Arrancar dimana terdapat beberapa keluarga yang hidup saling berdampingan tidak bertarung sama lain memperebutkan daerah kekuasaan atau menunjukkan diri sebagai yang terkuat.

Aizen membuat kerajaan Hueco Mundo menjadi lebih baik dan hidup seperti kerajaan lainnya dimana terdapa para penduduk atau rakyat yang hidup walau di kerajaannya bukan manusia atau Quincy melainkan para Arrancar bentuk evolusi dari Hollow.

"Aizen-sama,"

"Ya, ada apa Orihime?"

"Maukah anda menemaniku berjalan-jalan di istana,"

"Maaf aku tak bisa, ada hal yang harus aku urus bersama Tia Haribel,"

"Kalau besok bagaimana? Apakah anda punya waktu luang,"

"Tidak. Besok ataupun lusa aku tidak ada waktu luang menemanimu untuk bermain,"

Orihime meremas kuat sendok ditangannya, "Kalau begitu aku akan berjalan-jalan sendiri saja,"

"Tidak boleh. Kau tetaplah berada didalam kamar jangan pergi kemanapun jika tidak bersamaku,"

Kedua mata Orihime menatap dingin sang suami, "Aku bosan dan jenuh terus berada dikamar, aku juga ingin berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama anda,"

"Jangan bersikap seperti anak kecil, Orihime, ingatlah posisimu,"

Orihime langsung berdiri dari kursinya, "Aku selesai." Ujarnya seraya pergi meninggalkan ruang makan tanpa menghabiskan makanannya.

Iris Hazel Aizen memandang sendu sosok sang istri yang pergi dengan perasaan kesal meninggalkan ruang makan. Dirinya tak ada maksud membuat marah Orihime tapi ada alasan khusus mengapa ia melakukannya.

Liquid bening mengalir deras membasahi pipi, ia berjalan tergesa-gesa ke ruang perpustakaan baca ia tak mau kembali ke kamarnya karena pastinya Aizen akan menyusulnya kesana dan menasehatinya agar tidak merajuk atau marah lagi. Apakah salah jika Orihime ingin menghabiskan waktu bersama sang suami, tidak selalu ditinggal sendirian didalam kamar.

Orihime tahu saat ini pria bermata Hazel itu sedang sibuk belum memiliki waktu luang untuknya padahal setelah kepulangannya dari perang seminggu lalu Orihime berharap bisa lebih dekat dengan sang suami tapi nyatanya tidak. Aizen hanya mengajaknya sekali ke salah satu desa Arrancar dan memperkenalkan pada mereka sebagai Ratu di Hueco Mundo juga istrinya tapi setelahnya tak sekalipun Aizen memiliki waktu luang untuknya.

Pergi ke perpustakaan yang terletak dilantai atas mungkin bisa membuat Orihime sedikit lebih tenang melupakan sejenak perasaan gundahnya serta menghabiskan waktu disana mengingat tak ada hal yang bisa ia lakukan didalam istana padahal biasanya dulu saat masih berada di desa bersama beberapa pelayan serta pengawal yang masih setia dengan mendiang sang ayah setiap harinya Orihime pasti ada kegiatan tidak seperti saat ini hanya berdiam diri didalam kamar bingung mau melakukan apapun bahkan keluar kamar pun dilarang harus meminta ijin pada sang suami dan Orihime merasa berada di sangkar emas.

Nelliel, wanita cantik bersurai hijau bergelombang yang selama ini melayani Orihime tengah pergi ikut bertugas bersama suaminya, Nnoittra Gilga di perbatasan untuk memantau keadaan disana. Padahal jika ada wanita cantik bersurai hijau bergelombang itu hari-hari Orihime pasti akan menyenangkan karena ada saja cerita menarik darinya.

"Hiiiksh..." isak Orihime.

Saat ini Orihime menangis sendirian didalam perpustakaan, meluapkan perasaan sedih dihati. Disaat seperti ini Orihime menjadi rindu rumah dan ingin pulang, tapi ia tak bisa. Hampir satu jam Orihime menangis karena lelah menangis Orihime ketiduran diatas sofa tanpa tahu kalau saat ini para pelayan serta Aizen sibuk mencari dirinya.

Pintu perpustakaan terbuka dan seseorang berjalan masuk menghampiri Orihime yang tertidur diatas sofa. Jarinya mengusap lembut pipi Orihime yang basah karena air mata, ada perasaan bersalah menyusup dihati mengetahui sang istri menangis.

"Maafkan aku, Hime."

Digendongnya tubuh Orihime ala bridal style dan membawanya ke kamar untuk dibaringkan diatas kasur karena tak mungkin ia membiarkan gadis bersurai oranye kecokelatan ini tidur di atas sofa.

Dibelainya lembut wajah sang istri yang tengah terlelap tidur namun kegiatannya terganggu saat merasakan sesuatu tengah bergejolak dari tubuhnya. Tangan Aizen terkepal erat menahan rasa sakit yang tiba-tiba mendera dan ini bukan pertama kali terjadi. Tubuh Aizen menghilang cepat bak angin karena menggunakan jurus Shunpo, sebuah jurus pemindah tubuh yang hanya bisa dilakukan serta kuasai oleh para Shinigami para penjaga serta pelindung kerajaan Soul Society.

Keringat dingin membasahi wajah Aizen, dicengkeram kuat dadanya menahan rasa sakit ditubuhnya.

"Apakah ini sudah waktunya?" tanya Ulquiorra dengan nada cemas.

"Antarkan aku keruangan itu dan jangan biarkan siapapun masuk kesana."

Ulquiorra diam tak menjawab karena ia takut tak bisa menepati perkataan pada sang Raja. Ulquiorra membantu Aizen ke suatu tempat dimana tak ada satupun cahaya yang terlihat disana hanya ada kegelapan. Espada bermata Emerald ini membaringkan tubuh sang Raja ditengah-tengah ruangan dimana terdapat sebuah segel.

"Pergi sebelum aku hilang kendali dan membunuhmu." Usir Aizen.

Ulquiorra membungkukkan tubuh meninggalkan Aizen yang tengah kesakitan, tak lama ia pergi terdengar suara jeritan panjang dari Aizen dan Ulquiorra hanya bisa diam seraya memejamkan kedua mata mendengarnya karena tak ada yang bisa ia lakukan sama sekali mengingat ini sudah sering terjadi jika bulan baru muncul, dari ribuan anak buah yang dimiliki Aizen di istana hanya Ulquiorra satu-satunya orang yang mengetahui rahasia besar sang Raja dan tak pernah sekalipun menceritakannya pada siapapun.

~(0)-(0)~

Iris abu-abu milik Orihime memandang sekeliling ruangan yang didominasi warna putih, tak ada puluhan rak buku yang berjejer rapih serta ia tidak berada diatas sofa berbahan beludru bewarna merah marun.

"Kenapa aku ada disini?" gumam Orihime yang menyadari kalau sudah berada didalam kamar.

Siapa orang yang sudah memindahkannya ke dalam kamar, apakah mungkin penjaga atau pelayan? Tapi itu tidak mungkin, mereka tidak berani melakukannya karena takut dihukum oleh Aizen karena berani menyentuh Orihime sekalipun apa yang dilakukan mereka adalah memindahkannya ke dalam kamar.

Jika memang benar Aizen yang menggendong dan membawanya ke kamar, kemana pria bermata Hazel itu? Orihime tidak melihatnya keberadaannya bahkan tak ada suara shower yang terdengar dari dalam kamar mandi menandakan kalau Aizen benar-benar tak ada di sini.

Orihime menyibakkan selimut yang dipakainya lalu berjalan ke kamar mandi untuk membasuh wajah dan menggosok gigi setelahnya berganti pakaian.

Pintu kamar terbuka dan para pelayan masuk membawakan makan untuk Orihime.

"Orihime-sama," panggil pelayan mencoba mengecek sang Ratu ada dikamar atau tidak.

"Ya, aku disni," sahutnya seraya keluar dari kamar mandi.

"Maaf jika hamba berteriak memanggil anda,"

"Tak apa. Oh, ya aku ingin bertanya saat ini kalian membawakan aku makan malam atau sarapan?" tanya Orihime seraya duduk diatas kursi.

"Kami datang membawakan makan malam untuk anda,"

"Makan malam?!" Orihime tampak bingung mendengarnya jadi bisa dibilang tadi Orihime sedang tidur siang bukan beristirahat malam padahal ia merasa sudah tidur lama.

Jujur saja Orihime belum mengerti bagaimana cara menghitung hari di Hueco Mundo mengingat tak pernah ada siang maupun pagi disini hanya ada malam mengingat tempat ini diterangi oleh bulan purnama besar tak ada matahari yang bersinar. Sebenarnya Nelliel pernah memberitahukan bagaimana cara menghitung hari dan mengetahui waktu di Hueco Mundo namun Orihime lupa karena tidak terlalu menyimak waktu Nelliel menjelaskan.

"Semoga anda suka dengan hidangannya, kami akan kembali satu jam lagi,"

"Terima kasih."

Orihime menatap nanar sekuntum bunga mawar merah diatas vas bunga dan itu adalah pemberian Aizen untuknya, biasanya ia akan merasa senang menerima bunga mawar dari Aizen tapi tidak kali ini.

Makan malam yang dibawakan para pelayan sudah habis dimakan Orihime tanpa sisa, perutnya terasa lapar mungkin karena kebanyakan tidur siang membuat tenaganya sedikit terkuras. Selesai makan Orihime mengganti pakaiannya dengan gaun tidur bewarna putih satin sebenarnya semua pakaian Orihime didalam lemari bewarna putih tak ada warna lain saat bertanya pada Aizen kenapa tidak ada warna lain untuk pakaiannya pria bermata Hazel itu mengatakan kalau warna putih adalah pakaian ciri khas dari kerajaan Hueco Mundo bahkan seluruh penduduk di kerajaan ini memakai pakaian bewarna putih tak ada warna lain padahal Orihime ingin mencoba menggunakan gaun dengan berbagai warna yang pastinya terlihat sangat indah. Terkadang Orihime merasa rindu memakai kimono atau yukata berbagai motif serta warna yang selalu dikenakannya sewaktu masih berada di Soul Society.

Dheg'

Perasaan Orihime tiba-tiba tidak enak dan wajah sang suami langsung terbayang di pikirannya. Apakah terjadi sesuatu dengan pria bersurai cokelat itu karena tak biasanya Orihime seperti ini. Saat pelayan masuk untuk mengambil piring kotor bekas makan Orihime bertanya apakah mereka melihat sang suami dan dengan jujur para pelayan menjawab tidak mengetahui dimana sang Raja tapi beberapa penjaga melihat pria bersurai cokelat itu pergi bersama Ulquiorra entah hendak pergi kemana.

Perasaan tak enaknya ternyata terbukti pasti sesuatu telah terjadi pada suaminya dan ia harus mencari tahu. Tanpa berpikir lagi Orihime memutuskan untuk pergi dari kamar.

Saat Orihime keluar dari kamar, para penjaga mencegahnya meminta sang Ratu untuk tetap berada didalam kamar karena Raja sudah memerintahkan mereka untuk tidak mengijinkannya pergi tapi Orihime tetap bersikeras ingin keluar mencari sang suami sekalipun harus melawan penjaga akan ia lakukan.

Sebuah perisai kuning menghiasi seluruh tubuh Orihime, "Minggir jangan halangi jalanku," ujar Orihime dengan nada penuh ancaman.

"Kami mohon Orihime-sama, hilangkan perisai anda,"

"Tidak! Aku ingin mencari Aizen-sama dan melihat keadaannya, jangan halangi aku," teriak Orihime dengan nada tinggi.

"Tapi kami..."

"Biarkan Orihime-sama lewat," sela Ulquiorra yang tiba-tiba datang.

Para penjaga membungkuk memberi hormat pada salah satu Espada di Hueco Mundo Aizen sekaligus Espada kepercayaan sang Raja orang yang sangat mereka hormati dan takuti selain Aizen.

"Aku akan mengantarkan anda ke tempat, Aizen-sama,"

"Terima kasih."

Sebenarnya Ulquiorra merasa sangat bersalah pada sang Raja karena mengajak Orihime menemui Aizen dimana nantinya gadis bersurai oranye kecokelatan itu akan mengetahui rasahia terbesar dari sang Raja yang selama hampir seratus tahun ditutupi dari siapapun juga Ulquiorra harus melanggar janji pada Aizen untuk tidak memberitahukan mengenai keadaannya terlebih pada Orihime, orang yang paling tidak ingin Aizen tahu mengenai rahasia besar dalam hidupnya.

Ulquiorra terpaksa melakukan hal ini, ia ingin melihat seberapa besar dan tulus perasaan Orihime pada sang Raja sekaligus mengetahui apakah gadis bersurai oranye kecokelatan ini layak atau tidak menjadi pendamping hidup dari Aizen karena jika nyatanya Orihime lari ketakutan bahkan pergi meninggalkan kerajaan saat mengetahui rahasia Azien maka orang pertama yang akan menghabisinya adalah Ulquiorra sendiri sekalipun nantinya Aizen pasti akan membunuhnya tapi ia tak peduli, Espada bersurai hitam ini menginginkan dan melihat sang Raja bahagia serta mendapatkan pendamping yang pantas untuknya. Demi bisa melihat pria bermata Hazel itu bahagia, senang apapun akan dilakukannya sekalipun harus melanggar janji yang sudah ia pegang teguh selama lebih dari seratus tahun.

Orihime berjalan mengekor dibelakang Ulquiorra yang menuntunya entah kemana mengingat sepanjang mereka berdua berjalan hanya ada lorong kecil sempit dan gelap yang terlihat tidak ada ruangan apapun sampai mereka berdua tiba di sebuah ruangan berukuran cukup besar dengan pintu besi yang sudah berkarat.

"AAAAAA!" teriak seseorang dari dalam.

Jantung Orihime berdegup kencang mendengar suara jeritan orang yang berada didalam ruang tersebut.

"Apakah anda masih ingin tetap masuk?" tanya Ulquiorra menyakinkan.

"Ya, aku ingin masuk kesana dan melihat apa yang sebenarnya terjadi," jawab Orihime dengan nada penuh ketegasan.

Ulquiorra langsung membuka pintu besi itu dan saat masuk sejauh mata memandang hanya ada kegelapan yang terlihat, dengan langkah kaki sedikit gemetar Orihime melangkah masuk kedalam ruangan mengikuti Ulquiorra.

Pria bermata Emerald itu menaruh obor yang dipegangnya di pinggir dinding dimana terdapat tempat untuk menaruh obor.

Keadaan diruangan ini cukup remang-remang karena hanya ada satu obor menjadi penerang namun samar-samar iris abu-abu milik Orihime melihat seseorang dengan sekujur tubuh berwarna putih tengah meringkuk di pojokkan membelakangi mereka berdua. Helain rambut cokelat yang dilihat Orihime, membuatnya menyakinkan kalau sosok itu pasti Aizen, suaminya.

"Aizen-sama," panggil Orihime pada sosok putih yang tengah meringkuk di pojokkan.

"Pergi!" teriak Aizen mengusir Orihime.

Aizen berusaha mengusir Orihime agar tak mendekatinya, ia takut jika nanti hilang kendali dan melukai sang istri.

Tapi Orihime tidak mengidahkan perkataan Aizen dan tetap mendekatinya, sementara itu Ulquiorra berdiri diam di kejauhan melihat keduanya seraya menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi.

Orihime berdiri tepat dibelakang sang suami, "Aizen-sama,"

"PERGI!" teriak Aizen seraya membalikkan tubuh menatap garang sang istri.

Kedua mata Orihime membulat sempurna melihat sang suami.

Sosok Aizen yang biasanya terlihat tampan dengan rambut cokelat tertata kebelakang kini terlihat sangat menyeramkan dan menakutkan dimana wajahnya tertutup topeng Hollow berwarna hitam dengan deretan gigi tajam, rambutnya berubah panjang, terdapat tiga lubang di bagian tengah tengah tubuhnya dan memilik enam sayap berwarna putih dimana setiap sayap diujungnya terdapat kepala dengan topeng Hollow berwarna putih juga terdapat dua mata di sayap tak ketinggalan di dahinya seperti ada mata namun berwarna kuning. Seluruh tubuh Aizen berwarna putih namun kedua tangan dan kakinya berwarna hitam, sosok Aizen mirip seperti kupu-kupu karena memiliki sayap namun tidak terlihat cantik ataupun indah seperti binatang yang memilik sayap berwarna warni tersebut.

Tubuh Orihime menegang kaku bahkan seluruh tubuhnya gemetar hebat melihat sosok sang suami yang menyeramkan seperti monster atau bisa dibilang dalam bentuk Hollow mahkluk penghisap jiwa. Walau merasa takut dan syok tentunya melihat bentuk lain sang suami tapi itu tak membuatnya pergi meninggalkannya, walau langkah kaki Orihime terasa berat seperti ada sebuah beban berat dikedua kaki tapi ia berusaha berjalan mendekat.

Aizen berdiri membelakangi Orihime, enggan melihat sang istri yang ekspresi wajahnya terlihat ketakutan juga jijik melihat sosok lain darinya. Kesadaran Aizen masih ada tak sepenuhnya dikuasai sosoknya yang berupa Hollow.

Kedua tangan Orihime melingkar dipinggang Aizen, ia memeluk dari belakang sang suami, "Aku tak akan lari atau pergi meninggalkanmu, Aizen-sama,"

Sesaat tubuh Aizen berdiri kaku namun kesadarannya hilang dan sepenuhnya dirinya sudah dikuasai oleh insting Hollow-nya.

"GWHOAAAA!" teriak Aizen keras.

Tangan Aizen menebas tubuh Orihime membuat darah segar mengalir dari lengan kirinya tapi itu tak membuatnya merasa takut ataupun berlari pergi meninggalkan sang suami yang kini dalam wujud Hollow sempurna.

Ulquiorra masih berdiri diam melihat semuanya tak berniat membantu atau menolong sang Ratu yang diserang oleh Aizen karena ia ingin melihat apa yang akan dilakukan gadis bersurai oranye kecokelatan tersebut. Apakah Orihime akan berteriak melarikan diri, menangsi ketakutan atau menyerang Aizen karena menggapnya sebagai musuh. Segala kemungkinan bisa saja terjadi dan Ulquiorra harus memastikan sendiri serta melihat dengan kedua matanya sendiri apa yang akan dipilih serta lakukan oleh gadis bermata abu-abu tersebut.

Orihime berdiri memandang penuh kasih sosok sang suami, kini dirinya mengerti mengapa Aizen menjaga jarak dan terlihat sedikit dingin padanya, Aizen tak mau Orihime melihat sosok lain dari dirinya takut jika nantinya akan dibenci, dipandang jijik atau bahkan Orihime pergi meninggalkan karena merasa takut.

Kedua tangan Orihime terbuka lebar menunggu sosok sang suami yang berlari menerjang dirinya, pedang hitam yang berada ditangan Aizen berhasil menusuk pundak kanan Orihime namun kedua tangan Orihime melingkar erat di tubuh sang suami mengurungnya dalam pelukkan hangat.

"Aku mencintaimu, Aizen-sama..." ujarnya lirih.

Topeng Hollow yang melekat di wajah Aizen langsung pecah menampilkan wajah tampan miliknya dengan iris Hazel.

Tubuh Orihime ambruk jatuh tak sadarkan diri setelah mengungkapkan perasaannya, Aizen meraih tubuh sang istri yang bersimbah darah pedang yang menusuk pundak Orihime menghilang disertai topeng Hollow miliknya namun rambutnya masih panjang.

Kedua mata Hazel Aizen melebar sempurna melihat keadaan sang istri.

"Orihime," lirihnya menatap sedih wajah sang istri.

Dibelainya penuh kasih wajah sang istri, "Jangan tinggalkan aku, Hime...aku tak bisa hidup tanpamu,"

Aizen bisa merasakan hembusan nafas dari sang istri menandakan kalau gadis dalam dekapannya masih hidup walau bisa dibilang tengah sekarat. Digendongnya tubuh sang istri dan dengan cepat pergi menghilang dari ruangan bawah tanah.

Pria bersurai cokelat panjang ini berteriak kencang memanggil para medis dan teriakkan sang Raja membuat para pengawal serta pelayan takut sekaligus cemas karena tak biasanya Raja berteriak seperti itu.

Para Arrancar medis berlarian panik ke kamar sang Raja dengan membawa peralatan medis, entah apa yang sebenarnya terjadi dan mengapa Raja terlihat begitu panik.

"Apa yang bisa kami lakukan untuk anda, Yang mulia,"

"Cepat kalian obati, Orhime! Selamatkan nyawanya jika tak mau nyawa kalian melayang," ujar Aizen dengan nada mengancam.

"Ba-baik, Yang mulia,"

Para Arrancar medis yang sebagain laki-laki mulai memeriksa keadaan sang Ratu dan melihat luka yang dialami, mereka terpaksa merobek bagian depan gaun tidur milik Orihime demi bisa mengobati luka tusuk dari pedang Aizen.

Luka yang dialami Orihime cukup parah dan jika tidak segera ditangani bisa gawat, sekuat tenaga mereka berusaha menolong sang Ratu dan menyelamatkannya dari kematian dimana nyawa mereka semua saat ini tengah menjadi taruhan.

Aizen berdiri cemas disamping ranjang, memandang nanar sosok sang istri yang tengah terbaring lemah tak berdaya dan ia menyalahkan dirinya sendiri karena sudah melukai Orihime atau bisa dibilang nyaris membunuh gadis paling berarti dalam hidupnya.

"Aku mohon, bertahanlah Hime." Batin Aizen.

~(0)-(0)~

Darah segar mengalir dari tubuh Ulquiorra.

Pria bersurai hitam ini terbaring tak berdaya setelah tubuhnya di hujam oleh pedang hitam milik Aizen.

Wajah Aizen terlihat sangat marah karena Ulquiorra sudah melanggar janjinya sekaligus membahayakan nyawa sang istri karena mengantarnya ke ruangan bawah tanah untuk melihat dirinya yang tengah berubah menjadi Hollow, untung saja nyawa Orihime bisa tertolong walau kini sang istri masih terbaring lemah tak sadarkan diri atau bisa dibilang koma karena luka yang dialaminya.

Aizen tidak akan memaafkan Ulquiorra sekalipun Espada bermata Emerald itu adalah anak buah kepercayaan juga tangan kanan Aizen tapi kesalahannya kali sangat besar dan harus menerima hukuman atas perbuatannya itu.

Ulquiorra diam tak melawan saat Aizen menghajar, menghunuskan pedang ke tubuhnya karena memang ia pantas mendapatkannya sekalipun harus mati ditangan sang Raja karena keputusaannya waktu itu tapi Ulquiorra merasa senang karena mengetahui kalau Orihime adalah gadis yang tepat untuk Aizen dan ternyata perasaan gadis bersurai oranye kecokelatan itu sangat tulus serta dalam untuk pria bermata Hazel tersebut membuat Ulquiorra yakin kalau Orihime pasti bisa membahagikan Rajanya.

Semua orang yang berada diruangan ini diam menatap adegan didepan mereka dengan berbagai pandangan ada yang merasa senang, takut bahkan sedih khususnya Espada bersurai kuning dengan kulit eksotis salah satu Espada di kerajaan Hueco Mundo yang merasa sedih bahkan menangis dalam hati melihat keadaan Ulquiorra jika saja ia memiliki keberanian lebih ingin rasanya berlari menghampirinya untuk menolong serta membantu Ulquiorra dari hukuman sang Raja tapi ia tak bisa hanya berdiri diam melihat semuanya tanpa melakukan apapun.

"Ulquiorra." Batinya sedih.

Aizen mengangkat tinggi pedangnya dan hendak menyerang Ulquiorra dan bisa dipastikan Espada bermata Emerald ini pasti akan mati terkena serangannya.

"Yang mulia," teriak seorang pelayan yang berlarian ke tengah aula menginterupsi Aizen.

"Ada apa?" tanya Aizen dingin.

Pelayan ini duduk berlutut dihadapan sang Raja dengan kepala tertunduk penuh hormat, "O-Orihime-sama sudah siumana dan beliau menanyakan anda," ujarnya menyampaikan kejadian penting pada Aizen.

Aizen langsung pergi berlari meninggalkan aula kerajaan, tak lama setelah sang Raja pergi para Espada yang bersimpati pada Ulquiorra menghampirinya dan membantunya untuk bangun walau ditolak oleh Espada bermata Emerald itu tapi mereka tetap membawanya ke ruangan perawatan untuk mendapatkan pertolongan dari tim medis.

Pintu kamar terbuka kasar, saat Orihime menoleh ia menemukan pria bersurai cokelat dengan rambut ditata kebelakang berlari menghampiri.

"Aizen-sama," panggilnya pada sang suami.

Aizen berlari menerjang tubuh sang istri, mengurungnya dalam pelukkan posesif betapa dirinya sangat merindukan sang istri juga cemas memikirkan keadaannya yang tak kunjung siuman dan hari-hari Aizen terasa suram serta tak berarti tanpa kehadiran Orihime disisinya.

Para pelayan dan petugas medis langsung keluar kamar meninggalkan keduanya karena tak ingin menjadi penggangu atau melihat ke mesraan mereka berdua yang tak pantas untuk mereka saksikan karena tidak sopan.

"Hime,"

"Maaf sudah membuat anda cemas dan khawatir," Orihime mengelus punggung sang suami.

Aizen menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Orihime menghisap dalam aroma tubuh sang istri, "Aku pikir akan kehilanganmu untuk selamanya, maaf sudah melukaimu," ujarnya dengan nada lirih.

Orihime melepaskan dekapan sang suami, ditatapnya penuh kasih wajah sang suami yang terlihat sendu, "Itu bukan salah anda, Aizen-sama,"

Diraihnya tangan sang istri lalu dikecupnya pelan, "Kenapa kau berbuat bodoh seperti itu, tak tahu kan kalau aku sangat ketakutan kehilangan dirimu,"

"Maaf, tapi aku ingin mengetahui kebenaran mengenai anda dan aku sudah mengerti mengapa selama ini sikap anda dingin juga menjaga jarak denganku, semuanya anda lakukan demi kebaikanku sendiri maaf sudah bersikap kekanak-kanakkan,"

Aizen menempelkan keningnya dengan kening Orihime, "Semuanya salahku, Hime. Andai saja aku bisa lebih jujur dan berani mengungkapkan segalanya, pasti..."

"Sshhh...jangan berkata lagi, aku senang anda baik-baik saja,"

Aizen tersenyum kecil, dipegangnya kedua pipi sang istri seraya memajukannya bibirnya Orihime mengerti apa yang hendak dilakukan sang suami dan ia memejamkan kedua mata menikmati sentuhan lembut di bibirnya walau tidak dalam juga panas namun itu sangat terasa dihati karena Aizen melakukannya penuh perasaan.

"Aku mencintaimu,Orihime. Sangat mencintaimu," aku Aizen.

Kedua mata Orihime melebar sempurna tak lama liquid bening mengalir membasahi pipi ternyata Aizen juga memiliki perasaan yang sama dengannya jadi cintanya tak bertepuk sebelah tangan.

"Kenapa menangis, Hime,"

"I-ini tangisan bahagia." Orihime memeluk erat tubuh Aizen menenggelam diri didada bidangnya.

Setelah kejadian itu hubungan keduanya menjadi sangat dekat tak jarang Aizen bersikap romantis pada Orihime dan tak segan-segan menunjukkan perasaan cintanya pada gadis bersurai oranye kecokelatan itu. Nyawanya Ulquiorra selamat dan kesalahannya dimaafkan karena Orihime memohon pada Aizen untuk tidak menghukumnya mengingat apa yang terjadi waktu itu adalah keinginan Orihime sendiri, bahkan Orihime merasa harus berterima kasih pada Espada bermata Emerald itu karena sudah membantunya untuk mengetahui sisi lain dari Aizen dan membuat mereka berdua bisa saling mengungkap perasaan satu sama lain.

~(0)-(0)~

Iris abu-abu Orihime memandang takjub pemandangan disekitarnya, dimana banyak terdapat berbagai macam bunga berwarna warni ditempat ini. Orihime tidak mengira kalau akan ada kebun bunga ditempat yang terkenal sebagai kerajaan para Hollow, mengingat hanya ada bulan purnama besar menjadi penerang tak ada matahari membuat tumbuhan maupun bunga tak ada yang bisa tumbuh dan hidup disini tapi Orihime tidak mengira dan menyangka kalau didalam istana ada taman bunga secantik juga seindah ini.

Aizen tersenyum kecil melihat Orihime yang terlihat sangat senang karena diajak ketaman bunga rahasia miliknya, senyuman dari sang istri terlihat indah dan menawan bak mentari dan ia sangat menyukainya, apapun akan dilakukannya agar sang istri bisa terus tersenyum seperti itu.

"Apakah aku boleh memetik satu bunga disini?" tanya Orihime meminta ijin pada Aizen yang merupakan pemilik kebun bunga ini.

"Semua bunga ditaman ini milikmu. Ambillah sesukamu," Aizen mengusap puncak kepala sang istri.

"Terima kasih, Aizen-sama," wajah Orihime tersenyum senang.

Aizen pun ikut tersenyum menatap wajah Orihime, di saat sang istri tengah sibuk memetik bunga Aizen duduk mengamati seraya bersandar pada sebuah pohon besar, semilir angin terasa lembut membelai wajah membuatnya sedikit mengantuk dan perlahan-lahan kedua iris Hazel-nya tertutup ternyata menunggu dan menemani Orihime cukup membosankan, membuatnya mengantuk terlebih ia masih sedikit lelah karena baru pulang dari medan perang.

"Selesai!" ucap Orihime senang.

Ditatapnya senang rangkaian bunga berbentuk mahkota yang dibuatnya tadi dari berbagai macam bunga, Orihime menatap sekeliling mencari sosok sang suami.

Pria bersurai cokelat itu tengah terlelap tidur bersandar di bawah pohon, tak ingin menggangu waktu istirahatnya Orihime duduk disamping sang suami menunggunya untuk bangun tapi ternyata rasa kantuk mendera membuatnya ikut terlelap disamping suami dengan kepala menyandar dibahu Aizen.

"Engh~" lenguh Orihime perlahan.

Kedua matanya terbuka menampilkan iris abu-abu miliknya.

"Kau sudah bangun," ujar Aizen menatap wajah Orihime yang baru bangun tidur.

"Kenapa anda tidak membangunkanku,"

Aizen membelai wajah Orihime penuh kasih, "Kau terlihat sangat lelap, aku tak tega membangunkanmu,"

"Maaf sudah membuat anda menungguku untuk bangun," ucap Orihime penuh sesal.

"Tak apa," ujarnya seraya memakaikan mahkota bunga ke kepala Orihime.

Aizen tersenyum senang melihat sang istri yang terlihat cantik mengenakannya, "Kau sangat cantik memakainya," puji Aizen.

"Terima kasih," wajah Orihime merona merah karena dipuji oleh sang suami.

Aizen bangun dari posisi duduknya seraya mengulurkan tangan, "Ayo kita kembali, aku sudah mulai lapar," ajaknya.

"Hm." Orihime meraih tangan sang suami dan berjalan meninggalkan taman bunga.

Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju ruang makan dimana para pelayan sudah menyiapkan berbagai hidangan istimewa untuk keduanya karena ini sudah waktunya jam makan bagi sang Raja.

Aizen menarikkan kursi untuk Orihime, "Terima kasih."

Setelah Orihime duduk, Aizen pun ikut duduk dikursinya menikmati hidangan yang disajikan para pelayan. Selama makan tak ada perbicangan yang terdengar, keduanya fokus menikmati hidangan hanya terdengar suara garpu serta sendok menjadi irama di ruang makan para pelayan berdiri dibelakang menunggu keduanya selesai makan atau ada hal yang dibutuhkan mereka bisa langsung sigap melayani.

Seorang pria bersurai hitam bermata Emerald terlihat berjalan tergesa-gesa ke ruang makan dan sosok yang dituju adalah Aizen yang kini tengah menikmati hidangan sebenarnya pria tampan ini tak mau mengganggu waktu makan sang Tuan tapi saat ini keadaan tengah gawat dan ia harus segera melapor.

"Ada apa Ulquiorra?" tanya Aizen dingin seraya menyesap wine digela kristalnya.

Pria bernaman Ulquiorra ini membungkukkan tubuh memberi hormat pada sang Raja, "Maafkan jika kedatangan hamba menganggu waktu anda tapi ada hal penting yang harus saya sampaikan,"

"Apa itu?" Aizen memandang dingin Espada bermata Emerald disampingnya.

"Utusan dari kerajaan Soul Society datang dan sedang menunggu anda di aula istana,"

Aizen mengelap mulutnya menggunakan lap putih disamping piring, ia tak lantas pergi ke aula namun menghampiri sang istri yang masih menikmati hidangannya, "Setelah makan kembalilah ke kamar jangan pergi kemanapun," Aizen mengecup singkat kening sang istri.

"Ya, tapi aku mohon padamu jangan melukai atau membunuhya," ujar Orihime dengan nada memohon.

"Baiklah."

Sesaat sebelum pergi Ulquiorra membungkuk memberi hormat pada Orihime dan setelah pergi mengikuti sang Raja ke aula istana dimana utusan kerajaan Soul Society sedang menunggu. Orihime sedikit cemas dan penasaran kenapa utusan kerajaan Soul Society datang, apakah ada hal genting yang terjadi disana atau masalah dan itu membuat Orihime menjadi sedikit cemas karena bagaimanapun keselamatan rakyat Soul Society sangat ia pikirkan mengingat dirinya rela menikah dengan Aizen juga demi perdamaian kerajaan roh tersebut tak ada alasan yang lain.

Saat Aizen datang seluruh anak buahnya membungkuk memberi hormat padanya. Aizen duduk disingga sananya seraya menopang kepala menatap dingin pada pria bersurai hitam pendek dalam balutan Hakama hitam yang tengah duduk berlutut dihadapannya.

"Apa yang membuatmu kemari?" tanya Aizen dingin.

"Saya datang untuk menyampaikan surat dari Raja Soul Society," jawabnya seraya memperlihatkan gulungan surat yang dibawanya.

Ulquiorra menerima surat kerajaan dari pria itu lalu memberikannya pada Aizen.

Dibukanya surat dengan gulungan emas bertanda lambang kerajaan roh tersebut, awalnya ekspresi Aizen terlihat datar dan biasa saja sampai iris Hazelnya melebar sempurna, ekspresi wajahnya pun berubah menjadi marah bahkan surat ditanganya langsung dirobeknya menjadi dua membuat semua orang termasuk sang utusan dari kerajaan Soul Society ketakutan.

"Jangan bercanda denganku! Membatalkan pernikahan dan mengganti Orihime dengan putri lain," katanya dengan tersenyum sinis.

Aizen bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri utusan dari Soul Society, "Katakan pada Rajamu, apa yang sudah aku miliki tak akan pernah aku lepaskan sampai kapanpun. Orihime sudah menjadi istri dan Ratu di istana ini, secantik apapun putri yang kalian kirim untuk menggantikannya aku tak tertarik sama sekali," ujarnya dingin.

"Ba-baik, akan saya sampaikan," sahutnya dengan tubuh gemetar ketakutan.

"Pergilah sebelum aku membunuhmu," desis Aizen seraya mengeluarkan auranya yang menyesakkan dada.

Pria ini langsung bangun dan lari ketakutan meninggalkan aula istana karena takut dibunuh oleh Raja Hueco Mundo yang terkenal sadis dan kuat itu.

Rahang Aizen mengeras dan kedua tangannya mengepal erat menahan amarahnya yang tengah bergejolak saat ini, jika saja tadi ia tak berjanji pada sang istri untuk tidak melukai dan membunuh utusan dari kerajaan Soul Society pasti sudah sejak tadi nyawa pria itu sudah melayang dibunuh olehnya.

"Perketat penjagaan jangan biarkan siapapun masuk ke Hueco Mundo," titah Aizen nada penuh amarah.

"Baik, Yang mulia." Sahut mereka bersamaan.

Aizen tak habis pikir kenapa Byakuya mengingingkan pembatalan pernikahan dan mengganti Orihime dengan putri dari kerajaan lain yang berada disekitar Soul Society, sekalipun pengganti Orihime sangat cantik dan menawan dirinya tak tertarik sama sekali karena yang diinginkan dan dicintainya hanyalah gadis bersurai oranye kecokelatan itu bukan gadis lain. Aizen pergi tergesa-gesa meninggalkan aula kerajaan tanpa berkata sepatah katapun pada anak buahnya yang berbaris rapih di dekat singgasananya.

~(0)-(0)~

Orihime berdiri didepan balkon kamar memandangi bulan purnama, tak ada hal yang bisa ia lakukan didalam kamar mengingat ia tak di ijinkan keluar dari kamar padahal Orihime masih ingin berjalan-jalan di sekitar istana tapi dirinya cukup senang karena diajak ketaman bunga rahasia milik Aizen yang ternyata terdapat berbagai macam bunga. Dulu sebelum menikah dan masih tinggal di mansionnya setiap hari ada saja kegiatan yang dilakukan Orihime untuk menghabiskan waktu luangnya bahkan Orihime tidak merasa keberatan sama sekali ikut bekerja diladang membantu para pelayan atau sesekali berjalan-jalan menggunakan tandu untuk melihat keadaan desa disekitarnnya mengingat perang antara Hueco Mundo dan Soul Society masih berkecambuk waktu itu tapi setelah pernikahannya dengan Aizen, ia berharap kalau perang berakhir dan para penduduk Soul Society bisa hidup tenang dan damai.

GREP

Tiba-tiba seseorang memeluk Orihime dalam belakang, dari aroma tubuhnya bisa Orihime pastikan kalau yang tengah memeluknya pasti sang suami.

"Akh~" erang Orihime kesakitan merasakan dekapan Aizen ditubuhnya sangat erat juga kencang.

"Maaf," lirih Aizen mengendorkan dekapannya.

Orihime berbalik menatap wajah sang suami yang terlihat gundah serta kesal entah apa yang terjadi dan dikatan utusan kerajaan Soul Society tadi dan sebagai istri, Orihime menyadari gelagat aneh dari pria bersurai cokelat tersebut.

"Ada apa Aizen-sama," diusapnya lembut wajah sang suami.

Iris Hazel milik Aizen menatap dalam sang istri, "Aku menginginkanmu Hime,"

Wajah Orihime merona merah dan mengerti perkataan sang suami yang mengandung maksud mungkin ini sudah waktunya ia memberikan hak Aizen sebagai seorang suami dan Orihime juga sudah siap.

Orihime tersenyum lembut menatap wajah sang suami, "Ya."

Aizen langsung mencium dalam sang istri tak peduli kalau kegiatan mereka dilihat para penjaga atau pelayan dibawah sana saat ini ia ingin mendekap erat sang istri. Digendongnya Orihime ala bridal style namun dengan mulut masih saling berpagutan, Aizen merebahkan sang istri diatas ranjang seraya melepaskan lumatannya karena butuh udara.

Kedua pipi Orihime merona merah dan nafasnya terlihat terengah-engah, dimatanya sosok sang istri sangat cantik juga menawan. Aizen melumat kembali bibir merah sang istri, kedua lengan Orihime melingkar dilehernya membuat ciuman mereka berdua semakin dalam juga panas terlebih Aizen memasukkan lidahnya menjelajah setiap inci mulut sang istri.

"Hmmphh..."erang Orihime tertahan.

Ciuman Aizen terasa sangat kasar juga dalam bahkan bibir Orihime tergigit membuat bibir bagian bawahnya berdarah. Merasakan cairan darah didalam mulutnya, Aizen melepaskan pagutannya dan merasa kaget melihat bibir sang istri terluka karena ulahnya.

"Maafkan aku," diusapnya bibir bagian bawah Orihime yang terluka.

Orihime membelai wajah sang suami yang terlihat sangat bersalah, "Apa yang membuatmu gundah dan marah Aizen-sama." Tanya Orihime lembut.

Aizen diam tak menjawab pertanyaan sang istri karena tak bisa mengatakan kalau Byakuya menginginkan pembatalan pernikahan mereka berdua, mengganti Orihime dengan putri lain, dipeluknya erat tubuh sang istri meluapkan perasaan gundah serta marah dihati. Tak akan Aizen biarkan Byakuya mengambil sang istri dari sisinya, apapun akan ia lakukan untuk melindungi apa yang sudah menjadi miliknya sekalipun harus mengibarkan bendera perang pada kerajaan roh tersebut walau perjanjian damai serta genjata senjata sudah mereka berdua buat.

TBC

A/N : Mohon maaf karena lama menelantarkan Fic ini walau sebenarnya chapter 2 sudah lama saya ketik hanya tinggal publish saja tapi karena ada sesuatu dan lain hal saya tidak mempublishnya dan baru sekarang.

Untuk kelanjutannya akan saya lanjutkan setelah lebaran dan itu beberapa bulan lagi atau mungkin tahun depan saya, bisa dibilang saya akan HIATUS dan sementara waktu meninggalkan dunia Fanfiction. Ada berbagai alasan saya untuk tidak menulis salah satunya karena pekerjaan saya di dunia nyata yang benar-benar menyita waktu.

Sebenarnya banyak Fic yang belum rampung dan masih setengah jalan, bahkan ada beberapa yang akan tamat mungkin akan saya selesaikan beberapa bulan lagi.

Saya mengucapkan terima kasih banyak kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan meninggalkan Riview serta tanggapan untuk Fic ini.

Ogami Benjiro II