Disclaimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance, Hurt/Comfort, Supranatural

Pair : Aizen x Orihime

(AiHime)

~ Moon and Sun ~

WARNING : TYPO'S, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, CRAK PAIR, EYD AMBURADUL, ALUR KADANG CEPAT DAN LAMBAT, DLL.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X0X

Hueco Mundo sebuah tempat gersang dan bertandus karena sejauh mata memandang hanya akan terlihat hamparan gurun pasir tanpa ada satupun pepohonan hijau terlihat tumbuh dan kalau ada tanaman itu hanya berupa pohon mati tanpa adanya daun sehelai pun karena ditempat ini pepohanan ataupun bunga-bunga tak dapat tumbuh karena tak ada matahari hanya ada sebuah bulan besar yang bersinar menyinari Hueco Mundo selama ribuan tahun ini, mengingat Hueco Mundo adalah tempat tinggal para pada Hollow, Menos atau Gillian, Arrancar, Aducjhas, Vasto Lorde atau biasa disebut sebagai Espada sebuah evolusi tertinggi dari Hollow musuh dari para Shinigami penghuni kerajaan Soul Society.

Sebuah istana berdiri megah ditengah-tengah Hueco Mundo, dengan beberapa bangunan berdiri tinggi menjulang disetiap sudut istana para pengawal kerajaan menjaga bahkan beberapa Menos Grande terlihat berkeliaran disekitar istana menjaga dan menghalangi siapapun orang yang hendak masuk ke dalam istana tanpa ijin.

Orihime turun perlahan dari atas ranjang, berjalan sepelan mungkin agar tidak mengeluarkan suara berisik membangunkan pria bersurai cokelat yang tengah terlelap tidur, tujuan Orihime yaitu ke arah jendela kamar seraya melilitkan kain putih panjang menutupi sebagian tubuh polosnya yang terdapat beberapa tanda kemerah-merahan di leher serta dada hasil tanda kepemilikan yang sengaja diberikan untuk mengukuhkan sekaligus membuktikan kalau dirinya kini sudah menjadi milik pria bermata Hazel denga surai cokelat tersebut.

Wanita cantik bersurai orange kecokelatan panjang ini berdiri tenang di bawah jendela kamar, wajahnya agak terdongak, memandang penuh arti bulan besar di atas langit Hueco Mundo dari balik jendela dengan menyingkap gorden bewarna putih polos, memandangi pemandangan di luar kamar yang entah mengapa sangat menarik atensinya sejak terbangun setelah melewati malam panas bersama Aizen. Tak perlu dijelaskan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan pria bersurai cokelat tersebut cukup dengan tanda kemerahan di sekitar tubuh serta noda merah di atas sperai yang menjadi alas kasur menjadi jawaban sekaligus saksi bisu dimana kehormatannya sebagai seorang wanita sudah terenggut namun dirinya merasa senang sekaligus bahagia.

Wajah Orihime sendiri sangat terlihat cantik dengan rambut oranye kecokelatan yang tergerai indah hingga sepinggang walau agak sedikit berantakan karena kegiatan diatas ranjang tadi. Kini Orihime sudah merasa menjadi wanita seutuhnya dengan memberikan kehormatannya pada pria yang dicintai sekaligus suaminya.

Tapi setelah terbangun dari tidur, tiba-tiba saja hatinya diselimuti perasaan rindu becampur gelisah memikirkan nasib para pelayannya yang selama bertahun-tahun terus menjaga, merawatnya layaknya keluarga sendiri di desa tempat tinggalnya setelah terusir dari istana. Kalau saja bukan demi kedamaian seluruh kerajaan Soul Society, Orihime tak mungkin pergi dari kediamanan mungilnya meninggalkan keluarganya, demi mengorbakan diri sebagai pengantin Raja Hueco Mundo sekaligus menjalankan tugas seorang putri kerajaan atas nama kedamaian seluruh Negeri dengan menikahi penguasa Hueco Mundo sebagai salah satu bentuk perjanjian damai antar kedua kerajaan yang selama ini terus bertikai.

Berkat pernikahan keduanya, akhirnya perang antar dua kerajaan berakhir kini tak akan ada lagi air mata kesedihan ataupun isak tangis kehilangan orang terkasih terdengar menggema diseluruh negeri ataupun asap pembakaran dari jasad Shinigami yang gugur di medan perang menghiasi langit Soul Society, keadaan sudah damai tanpa harus saling bertarung, ataupun mengangkat senjata satu sama lain.

Netra abu-abu miliknya menatap lurus kedepan, sorot matanya terlihat begitu sendu.

Langit Hueco Mundo terlihat gelap tanpa pernah dihiasi bintang satupun sama seperti saat Orihime pertama kali menginjakkan kakinya di tempat yang sejauh mata memandang hanya akan ada hamparan gurun pasir tandus dimana sebuah bulan besar sebagai penerang, udara disini juga cukup dingin karena terkadang angin berhembus cukup kencang menerbangkan jutaan butiran pasir gurun.

Sudah satu bulan Orihime tinggal di istana nan megah ini, menjadi istri sekaligus Ratu di kerajaan Hollow yang merupakan musuh dari kerajaan Soul Society tempat tinggalnya dahulu. Saat datang ke tempat asing nan menakutkan ini sebagai pengantin sekaligus persembahan, Orihime berpikir kalau Aizen nantinya akan memperlakukannya seperti seorang tahanan, mengurungnya didalam penjara yang gelap karena Orihime adalah seorang musuh tapi pemikiran itu salah besar.

Sang Raja Hueco Mundo memberinya sebuah kamar yang sangat besar sekaligus mewah berisikan barang-barang mewah, bahkan ada sebuah ranjang besar di tengah kamar berhiaskan kelambu dimana kamar pemberian sang Raja sangat jauh lebih bagus dari kamar miliknya di desa. Para pelayan di istana selalu memenuhi segala macam kebutuhannya bahkan melayaninya dengan penuh hormat namun walaupun diperlakukan bak seorang Ratu tapi sikap Aizen begitu dingin bahkan menjaga jarak membuat Orihime sedikit tidak nyaman sekaligus sedih karena seakan kehadirannya tidak dianggap, apalagi rasa sepi selalu menghinggap di hati karena tak ada teman yang bisa diajak berbicara ataupun berbagi keluh kesah, tak hanya itu saja Orihime juga tak diijinkan pergi keluar istana walau hanya sekedar melihat-melihat pemandangan di luar yang sejauh mata memandang hanya ada hamparan gurun pasir tandus dengan alasan demi keselamatannya senidiri mengingat di sekitar istana di kelilingi Hollow tingkat Gillian yang bersembunyi, dan tinggal di dalam tanah dimana sewaktu-waktu muncul ke permukaan untuk mencari mangsa berupa Hollow kecil atau sejenisnya.

Tenyata di balik semua sikap dingin serta acuh Aizen ada penyebabnya, pria bersurai cokelat itu memang sengaja menutup hatinya rapat-rapat karena menyimpan sebuah rahasia besar dalam hidupnya, dan setelah Orihime mengetahui rahasia terbesar Aizen keadaan pun berubah sikap Aizen yang tadinya dingin, cuek kini menjadi lebih hangat bahkan sangat perhatian, Orihime bisa merasa sedikit lega sekaligus senang karena pernikahannya dengan Aizen bisa berjalan baik seperti harapannya.

Walau pun disini Orihime merasa nyaman karena para pelayan melayaninya dengan baik, sikap Aizen pun penuh perhatian serta mencintainya setulus hati tapi masih saja ada sebuah perasaan mengganjal memikirkan keadaan para pelayannya yang berada di Soul Society, bagaimana keadaan mereka saat ini. Apakah pihak istana memperlakukan mereka semua dengan baik serta memberikan kehidupan yang layak sesuai janji.

Sungguh Orihime benar-benar rindu sekaligus cemas, ingin bertemu melihat keadaan para pelayannya tapi tak mungkin jika pergi seorang diri ke Soul Scociety sebab kini Orihime sudah bukan bagian dari kerajaan roh tersebut. Mengepalkan kuat tangan di depan dada, sorot mata Orihime memandang penuh rindu ke arah bulan seraya melantunkan doa kepada Kami-sama berisi harapan agar selalu melindungi orang-orang yang dikashinya.

Karena terlarut dalam lamunannya sendiri, Orihime tidak menyadari seseorang tengah berjalan mendekat dengan senyuman kecil menghias wajah.

"Apa yang sedang dilamunkan, istriku yang cantik ini?" goda Aizen seraya melingkarkan kedua tangan dipinggang sementara dagunya ditaruh diatas bahu telanjang Orihime.

"Anda sudah bangun, Aizen-sama," diusapnya lembut pipi sang suami dari samping.

Diciumnya sekilas bahu Orihime yang tak tertutupi apapun dan bisa Aizen rasakan harum tubuh milik Orihime yang selalu memabukkan apalagi bercampur keringat hasil percintaan mereka tadi membuat gairahnya yang sudah tertidur terbangun kembali, "Aku tak bisa tidur kalau kau tak ada disampingku,"

Senyuman lembut menghiasi wajah cantik Orihime, menyandarkan kepalanya di dada telanjang milik sang suami, "Bukankah selama ini, anda selalu bisa tidur tanpa kehadiranku," kekehnya pelan disertai senyuman kecil.

"Mulai sekarang dan selamanya kau harus menemaniku tidur," kata Aizen mutlak tak ingin di bantah apalagi di tolak.

Kedua sudut ujung bibir Orihime terangkat, "Permintanmu adalah perintah untukku, Aizen-sama." Sahutnya pelan menuruti keinginan Aizen tanpa merasa keberatan ataupun terbebani sama sekali.

Aizen membalikkan tubuh Orihime perlahan agar mereka bisa saling berhadapan satu sama lain memandangi manik mata mereka yang berbeda warna, "Apakah tubuhmu masih terasa sakit?" diusapnya lembut pipi gembil sang istri yang merona malu.

Orihime menggeleng pelan, "T-tidak." Sahutnya malu.

"Maaf sudah menyakitimu." Aizen membawa Orihime dalam pelukkan hangat.

Orihime menempelkan wajahnya pada dada bidang Aizen menghirup dalam-dalam aroma maskulin milik suaminya, telinganya bisa dengar jelas suara detak jantung Aizen yang saat ini berdegup kencang. Apa saat ini Aizen sedang gugup pada Orihime karena dadanya berdegup sangat kencang seperti sebuah genderang perang menjadi melodi tersendiri di keheningan kamar yang hanya ada mereka berdua ditemani temaran sinar bulan yang menyeruak masuk dari jendela kamar. Orihime membalas pelukkan Aizen dengan melingkarkan kedua tangan lalu mengusap lembut punggung telanjang Aizen mencoba memberi ketenangan serta menyalurkan perasaan sayangnya.

"Hime," panggil Aizen lembut.

"Ya." Orihime mendongakkan wajah menatap teduh sang suami karena perbedaan tinggi mereka berdua cukup jauh.

Aizen mendekatkan wajah, meraih bibir merah Orihime yang terlihat begitu menggoda, melumatnya pelan bibir ranum sang istri yang sedikit agak bengkak. Orihime memejamkan mata, menikmati sekaligus membalas ciuman dari Aizen yang penuh kelembutan sekaligus hasrat. Mereka berciuman selama hampir satu menit karena butuh pasokan udara, Aizen melepaskan pagutannya namun tak menjauhkan wajah, menempelkan keningnya lalu menatap wajah cantik Orihime yang bersemu merah.

"Berjanjilah kau akan terus berada disisiku, selamanya." Katanya menuntut.

"Ya. Aku akan selalu berada disisi anda, apapun yang terjadi." Orihime meraih tangan Aizen di sisi kepalanya lalu mengenggamnya kuat dimana sebuah cincin berwarna hitam melingkar indah di jari manis.

"Terima kasih. Aku mencintaimu."

"Aku juga, mencintai anda Aizen-sama."

Aizen mengecup sekilas bibir Orihime dan membawanya kedalam pelukkan hangat, keduanya berdiri di bawah jendela saling memeluk, berbagi kehangatan satu sama lain dan bulan di langit menjadi saksi cinta mereka berdua.

.

.

.

.

.

.

.

.

Byakuya duduk gelisah di kursi singgasana miliknya, raut wajahnya terlihat begitu resah menunggu kedatangan pembawa pesan yang sengaja dikirimnya beberapa hari lalu ke Hueco Mundo untuk memberikan surat darinya berisikan pembatalan pernikahan antara Aizen dengan Orihime berharap penuh kalau pria bersurai cokelat tersebut akan menyetujuinya, karena Byakuya akan mengirimkan kembali seorang putri dari keluarga bangsawan yang jauh lebih cantik, sexy dan menarik menggantikan posisi Orihime mengingat kalau gadis bersurai oranye kecokelatan itu adalah seorang putri terbuang tak seharusnya Aizen menikahi gadis seperti itu. Tapi bukan itu yang sebenarnya menjadi alasan utama Byakuya ingin membatalkan pernikahan Orihime, dan hanya dirinya saja yang mengetahuinya.

Setelah duduk cemas menunggu akhirnya sang pembawa pesan tiba di istana, wajah Byakuya yang sejak tadi tegang terlihat sedikit lebih tenang, kedua sudut ujung bibirnya terangkat berharap kalau pesannya dibaca serta diterima oleh Aizen dengan baik.

"Hormat hamba pada Yang mulia," sang pembawa pesan duduk berjongkok memberi hormat.

"Apa kau sudah memberikan pesanku pada, Aizen?" tanya Byakuya tak sabaran ingin mendengar berita baik dari sang pembawa pesan.

"Sudah Yang mulia, beliau sudah membacanya,"

"Lalu mana balasan surat darinya dan apa yang dikatakannya," kata Byakuya penasaran

Pembawa pesan ini membungkuk tubuh dalam, raut wajahnya nampak takut menatap wajah sang Raja, "Maafkan hamba Yang mulia, Raja Heuco Mundo mengatakan kalau sampai kapapun tidak akan melepaskan Orihime-sama apapun yang terjadi, dan apa yang sudah didapatkannya tak akan pernah dilepaskannya. Begitu yang beliau katakan pada hamba." Terang sang pembawa pesan sesuai dengan perkataan Aizen padanya sesaat sebelum pergi meninggalkan kerajaan Hueco Mundo.

Rahang Byakuya mengeras, rasa marah yang begitu besar muncul membuat wajahnya yang seputih susu terlihat memerah menahan amarah yang sedang meluap-luap mengerti akan suasana hati sang Raja, sang pembawa pesan hanya duduk pasrah dihadapannya berharap kalau nyawanya bisa selamat.

"Pergilah, sebelum aku berubah pikiran." Usir Byakuya dingin.

"Ba-baik Yang mulia."

Byakuya memijit keningnnya, para pengawal sekaligus penasehat istana yang berada di dekatnya tak berani bertanya apapun karena mengetahui kalau kini suasana hati sang Raja sedang tidak bagus dan itu terlihat jelas dari raut wajahnya.

Memukul meja di depannya meluapkan perasaan kesalnya lalu bangkit dari duduknya kemudian pergi dengan tergesa-gesa meninggalkan aula istana tanpa berkata sepatah kata pun dengan di ikuti oleh Kasim juga beberapa pelayan di belakang. Pria bersurai hitam ini masuk ke kamar pribadinya lalu menutup kencang pintu, tak mengijinkan siapapun masuk ataupun mengganggunya karena saat ini ingin sendirian.

Raut wajah Byakuya yang biasanya nampak tenang, datar tak ada ekspresi sama sekali kini berubah menyeramkan karena marah sekaligus kecewa atas penolakan Aizen yang enggan mengembalikan Orihime.

"Aaaaaaaa!" teriak Byakuya marah.

PRANG!

Suara benda pecah terdengar jelas dari ruangan pribadi Byakuya, sang Raja Soul Society.

Para pelayan yang berdiri menunggu di luar kamar pribadi sang Raja menunduk dalam, rasa takut bercampur rasa cemas menyelimuti hati tapi mereka semua tak bisa masuk untuk melihat ataupun bertanya apa yang membuat sang Raja marah, berdiri menunggu itu yang bisa dilakukan mengingat mereka semua hanyalah para bawahan kelas rendah dimana harus menjaga sopan santun di hadapan Tuan mereka. Berdiri menunggu denga setia di luar tanpa mengeluarkan suara sepatah katapun untuk berkomentar adalah hal terbaik yang bisa dilakukan jika masih ingin tetap bekerja juga sayang nyawa.

Pria bersurai hitam ini meluapkan kekesalan serta amarah dihati karena Aizen menolak membatalkan pernikahan dengan Orihime padahal sudah dia pilihkan gadis paling cantik pengganti Orihime tapi Aizen tidak mau, malah tetap mempertahankan Orihime. Apakah pria bermata Hazel itu sudah mengetahui rahasia mengenai Orihime maka dari itu tak mau membatalkan pernikahannya dan tetap mengurung Orihime di kerajaannya.

"Sial!" Racau Byakuya.

Sosok Byakuya yang terkenal tenang, tegas, dingin, dan selalu berwajah stoick berubah jika menyangkut urusan Hisana, mendiang sang istri. Padahal dirinya sudah menemukan cara membangkitkan kembali sang istri dari kematiannya tapi Aizen menghalangi. Apapun dan bagaimanapun caranya Byakuya harus mendapatkan Orihime, mengambil benda yang ada didalam tubuh gadis bermata abu-abu tersebut demi bisa membangkitkan Hisana dari kematian sekalipun harus mengobarkan bendera perang kembali dengan kerajaan Hueco Mundo, dirinya sudah tidak peduli lagi. Baginya dunia ini terasa sangat sepi, hampa bahkan tak berarti sama sekali tanpa ada Hisana disisinya sekalipun harus menghancurkan kerajaan Hueco Mundo juga mengorbankan rakyatnya untuk bisa membangkitkan kembali Hisana dari kematian. Semuanya demi Hisana, matahari di dalam hidupnya yang kini terasa gelap dan dingin.

"Hisana..." lirih Byakuya pilu memandang bingkai foto mendiang sang istri yang terpajang rapih ditengah ruangan tengah tersenyum lembut dalam balutan Yukata bercorak bunga Sakura bewarna peach.

Senyuman hangat serta suara lembut yang selalu memanggil namanya penuh rasa cinta serta hormat itu sungguh membuat Byakuya dirundung perasaan rindu, ingin memeluk kembali serta menghirup dalam-dalam aroma tubuh sang istri yang begitu dicintainya. Sungguh dunianya terasa sepi, hampa bahkan Byakuya tak merasa hidup tanpa kehadiran Hisana disisinya yang selalu mendukungnya dalam situasi apapun.

"Hisana...Hisana..." lirihnya membelai lembut bingkai foto sang istri.

Liquid bening mengalir deras membasahi pipi, wajahnya menatap sendu sekaligus penuh rindu bingkai foto mendiang sang istri tercinta, "Akan aku hidupkan kembali dirimu, sekalipun harus mengorbankan segalannya."

Byakuya membalikkan tubuh, menghapus kasar pipinya, sorot matanya terlihat dingin.

SRAAK!

Membuka kasar pintu kamar, para pelayan yang sejak tadi berdiri menunggu di luar langsung membungku hormat diselimuti rasa takut kepada Byakuya.

Byakuya berdiri angkuh di ambang pintu, raut wajahnya begitu dingin dengan sorot mata tajam dan mengitimidasi, "Katakan kepada Jenderal kerajaan untuk memerintahkan seluruh pasukannya menangkap lalu penjarakan seluruh pelayan yang pernah melayani Orihime!" titah Byakuya mutlak tak bisa diganggu gugat sama sekali.

Kasim yang mendengar titah sang Raja merasa terkejut, tak menduga kalau perintah seperti itu akan keluar dari mulut pria bersurai hitam itu yang mana sebenarnya melanggar perjanjian dengan Orihime, Ratu kerajaan Hueco Mundo sekaligus istri dari Aien penguasa dari kerajaan Hollow tersebut. Namun tak ada yang bisa dilakukan olehnya yang merupakan seorang pelayan Raja, ia tidak berani mengomentari ataupun memberi saran lidahnya terasa kelu tak bisa di gerakkan karena rasa takut mendalam pada sang Raja terlebih.

Dan, dengan perasaan berat hati sekaligus rasa bersalah mendalam, sang kasim mau tak mau harus menuruti titah sang Raja, "Baik, Yang mulia." Jawabnya patuh walau sebenarnya hati kecilnya berteriak menolak.

Tak lama sang Kasim pun pergi menemui Jenderal kerajaan, menyampaikan titah sang Raja, dan reaksi yang diberikan dari salah satu pejabat isatana itu pun sama. Sang Jenderal kerajaan kaget luar biasa bahkan bingung dengan perintah sang Raja yang dinilainya adalah sebuah kesalahan fatal, sekaligus melanggar perjanjian damai, terlebih jika hal ini sampai terdengar ke telinga pihak kerajaan Hueco Mundo bukan tak mungkin Orihime akan merasa marah, kecewa, karena Raja mereka sudah melanggar janji bahkan berbuat sewenang-wenang kepada rakyat kecil.

"Yang mulia, apakah anda tidak bisa menarik kembali titah anda," kata sang Jenderal mencoba merubah pikiran sang Raja yang kini sedang di penuhi amarah.

Kedua mata Byakuya memincing tajam, "Tidak. Lakukan tugasmu atau kau juga ingin aku penjarakan bersama mereka," Byakuya berdiri dari singgasananya berdiri menunjuk ke arah sang Jenderal yang duduk berlutut di hadapannya.

"Tapi, Yang mulia..."

"Sudah cukup, Jenderal. Aku tak mau mendengar apapun darimu, lakukan tugasmu sebagai pelayan kerajaan." Kata Byakuya dingin.

Pria bersurai hitam dengan rambut di kuncir satu kebelakang ini pun tak bisa berbuat banyak ataupun melanggar titah sang Raja walaupun sebenarnya salah. Dan, dengan berat sekaligus rasa bersalah mendalam mau tak mau dirinya menangkap satu persatu pelayan Orihime yang kini sudah hidup tenang sebagai rakyat biasa membaur dengan penduduk lainnya di Soul Society, menjebloskan mereka semua ke penjara bawah tanah tanpa kesalahan apapun.

Teriakkan protes dari para mantan pelayan Orihime terus menggema di telinga pria bersurai hitam dengan kuncir satu ini. Sebenanrya dirinya tidak tega, namuan ia tak bisa menolak perintah sang Raja yang harus di patuhi, dan jalankan sepenuh hati sebagai abdi negara walaupun itu salah sekalipun karena sudah terikat sumpah, janji setia hingga mati pada kerajaan Soul Society.

"Tuan Jenderal, kenapa kami di kurung disini? Apa kesalahan kami, pada Raja?" tanya seorang wanita muda bersurai kuning pendek dalam balutan Kimono lusuh.

"Maafkan aku, Nona." Jawab sang Jenderal dipenuhi rasa bersalah mendalam dihati.

Pria ini pun berjalan meninggalkan penjera tak mempedulikan teriakkan protes juga marah yang ditujukan kepadanya, "Maaf." Lirihnya.

Penangkapan mantan pelayan Orihime membuat seluruh pejabat istana kaget, sekaligus marah karena tindakan itu bisa memicu amarah dari Orihime yang kini sudah berstatus Ratu di kerjaan Hueco Mundo. Apakah Byakuya sengaja melakukannya untuk mengibarkan bendera perang setelah kedamian di negeri ini baru saja tercipta. Para menteri pun mulai ikut berkomentar, mengeluarkan pendapat mereka karena tak bisa membiarkan tindakan bodoh Byakuya karena bisa membahayakan kerajaan.

Disaat para pejabat istana menunjukkan sikap protes keras hal itu tak membuat Byakuya bergeming ataupun membebaskan para pelayan Orihime yang ditahan. Pria bersurai hitam ini malah ikut menjebloskan para pejabat kerajaan bahkan memberikan hukuman berat kepada siapapun yang berani menentangnya.

Sosok Byakuya, sebagai Raja yang baik, penuh rasa adil tinggi juga wibawa kini hilang tergantikan menjadi Raja kejam, angkuh tak berperasaan. Menentang Byakuya sama saja menggali kuburan sendiri.

Para mantan pelayan Orihime yang di jebloskan ke dalam penjara merasa bingung karena tidak melakukan kesalahan fatal namun satu kesalah yang mereka perbuat adalah pernah melayani Orihime, dan Ichigo sendiri sebagai salah satu Komandan Gotei tiga belas hanya bisa berdiri diam tak bisa berbuat apapun dengan perbuatan kejam Byakuya, padahal Orihime sudah mengorbankan diri dengan pergi ke Hueco Mundo demi kedamaian Soul Soceity, dan Byakuya sudah berjanji akan memastikan seluruh pelayan Orihime mendapatkan kehidupan yang baik, tapi kini mereka semua harus di penjara bahkan disiksa dengan kejam.

Entah apa yang ada dipikiran Byakuya hingga melakukan hal gila, dan kejam seperti itu tapi bisa dipastikan jika kabar ini sampai terdengar ke telinga Orihime bukan tak mungkin perang tak bisa terhindarkan lagi mungkin kehancuran Soul Society sudah di depan mata hanya tinggal menunggu waktu saja.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah malam penyatuan beberapa waktu lalu hubungan Orihime dengan Aizen setiap harinya semakin mesra bahkan sangat dekat, tak jarang para pengawal ataupun pelayan di kerajaan melihat sang Raja tengah tersenyum kecil disamping sang Ratu atau memeluknya mesra, sebuah pemandangan langka apalagi para pengawal sangat mengerti kalau sang Raja memiliki sikap yang luar biasa dingin, angkuh bahkan kejam kepada siapapun yang menentangnya namun semenjak kedatangan Orihime ke kerajaan sebagai istri sekaligus Ratu, sikap, sifat Aizen perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih lembut, perubahan pada Aizen ada yang merasa senang karena kini Raja mereka sedikit lebih manusiawi namun tak sedikit yang berpendapat kalau hal itu bisa membuat Raja mereka menjadi orang lemah, tidak kuat, gagah seperti dahulu karena terlalu tunduk pada Orihime bahkan sering menghabiskan waktu di ladang bunga atau menemaninya berjalan-jalan disekitar Hueco Mundo menikmati pemandangan dari pada melatih para Espada bertarung atau melihat latih tanding para pasukan yang semakin hari tidak terkontrol karena sudah jarang dilakukan latihan khusus mengingat kini mereka sedang melakukan genjatan senjata dan keadaan sedikit lebih tenang.

Karena keadaan sudah damai, tak banyak kegiatan yang dilakukan para Espada. Padahal dulu setiap harinya mereka selalu disibukkan dengan pertarungan, memantau daerah perbatasan untuk memata-matai pihak musuh, tak jarang bertarung dengan para Shinigami hingga tubuh penuh luka tak jarang hampir kehilangan nyawa tapi semua itu tak membuat mereka semua takut malah sangat bersemangat, juga senang karena pada dasarnya jiwa mereka adalah petarung, seluruh hidupnya di dedikasikan untuk bertarung untuk menjadi yang terkuat.

Tapi kini, hal yang mereka lakukan hanya duduk-duduk santai di istana ataupun sesekali ke perbatasan melihat keadaan apakah ada musuh atau tidak. Dulu ketika perang masih berkecambuk jarang sekali bisa mereka bersantai seperti ini, waktu untuk tidur saja kurang bahkan sering kali tak tidur karena harus mengawasi keadaan sekitar perbatasan.

BRAK!

Grimmjow meninju keras meja di depannya hingga hancur, "Brengsek!" racaunya kesal.

Syazel, dan Starrk hanya duduk santai, diam tak berkomentar apapun melihat ulah dari Sexta Espada bersurai biru tersebut yang sedang kesal karena belakangan ini Aizen jarang mengadakan latihan tempur bersama untuk mengasah kemampuan sekaligus unjuk kekuatan mengingat perang sudah berakhir namun belum tentu musuh hilang siapa tahu saja pihak Soul Society diam-diam sedang menyusun rencana dengan mempersiapkan pasukan untuk menyerang Hueco Mundo kapan saja.

Grimmjow benar-benar sangat benci dengan Orihime karena kehadirannya adalah perusak, pembawa bencana besar untuk kerajaan Heuco Mundo. Gara-gara kehadiran Orihime seluruh perhatian Aizen hanya terfokus padanya bukan pada kerajaan, bahkan Grimmjow melihat di mata Aizen sudah tak ada gairan atau pun semangat berperang setelah menikahi gadis bersurai orange tersebut.

Ketiga Espada ini tengah duduk santai di salah satu ruangan di sudut istana dekat perpustakan besar kerajaan, awalnya tak ada hal aneh ataupun perdebatan terjadi diantara ketiganya semuanya nampak tenang. Namun tiba-tiba saja Grimmjow mengamuk tanpa alasan menghancurkan meja di depannya untung saja Syazel, dan Starrk sudah mengambil gelas berisikan kopi agar tidak ikut hancur karena luapan kekesalan Grimmjow.

"Kau kenapa?" tanya Syazel dengan nada tenang menyesap pelan minumannya.

Grimmjow menggeremutukkan gigi, "Cih~ Gadis itu pembawa bencana," dengus Grimmjow sebal disertai rasa benci.

"Oh," sahut Syazel santai menanggapi.

Espada bersurai hitam sebahu ini mendesah pelan, memangku gelas kramik berisikan kopi yang hanya tinggal setengah juga sedikit dingin, "Tahan emosi, dan amarahmu karena itu bisa membahayakan dirimu sendiri," Starrk memperingatkan.

Bukan tanpa alasan jika Espada berwajah pria dewasa ini berbicara seperti itu, takut jika sewaktu-waktu Ulquiorra lewat, akan sangat bahaya jika sampai mendengar celotehan Grimmjow yang seperti orang mabuk berat akibat minuman keras walau nyatanya sejak tadi mereka bertiga tengah menikmati secangkir kopi tanpa gula buatan salah satu pelayan di dampingi sepiring kue.

Starrk sebenarnya bukan orang yang suka ikut campur urusan orang lain ataupun ikut berkomentar apalagi bergosip layaknya seorang wanita, namun kali ini dirinya harus mengingatkan Grimmjow tentang perkataannya yang bisa saja membawa masalah besar karena membicarakan mengenai sang Ratu.

"Aku tahu kau sedang marah karena sudah lama tidak berlatih tanding dengan Aizen-sama, tapi aku rasa perkataanmu tadi sudah kelewatan." Kata Starrk setenang mungkin.

"Ck...apa peduliku. Dia memang sumber bencana karena menjadi titik kelemahan Aizen-sama." Sahut Grimmjow penuh benci.

Syazel mengangkat kedua sudut ujung bibirnya membentuk sebuah senyuman atau lebih tepatnya seringai, "Lalu, apa kau ingin menghabisinya?" tanyanya memancing Grimmjow.

"Tentu. Aku ingin membelah tubuhnya menjadi dua dengan pedangku ini." Grimmjow menyeringai kejam membayangkan tubuh Orihime yang mati bersimbah darah.

Perasaan takut Starrk akan kehadiran Ulquiorra yang bisa saja datang kapan saja terbukti, tanpa mereka bertiga sadari kalau ternyata sejak tadi Ulquiorra, Espada kepercayaan sang Raja mendengarkan semua perbincangan ketiganya, padahal sejak awal perbincangan Starrk sudah mengawasi keadaan sekitar memastikan tidak ada tanda-tanda keberadaan dari Espada kepercayaan sang Raja namun ternyata Espada bermata Emerald ini sangat pintar menghilangkan hawa keberadaannya hingga tak disadari oleh ketiga rekan Espada-nya.

Sebenarnya Ulquiorra bisa saja menyerang Sexta Espada itu, membelah tubuhnya menjadi dua bagian karena mulutnya yang begitu lancang menghina bahkan hendak mencelakai sang Ratu, tapi saat ini dirinya harus bisa menahan diri tidak terpancing emosi. Akan ada hukuman yang lebih baik untuk Grimmjow dari pada sebuah kematian.

Espada tampan bermata Emerald ini berjalan pelan meninggalkan ketiganya, tak berminat lagi menguping pembicaraan dari ketiga rekan sesama Espada.

.

~(-)-(-)~

.

Siang ini tak seperti biasanya, Aizen tiba-tiba saja meminta seluruh Espada duduk berkumpul di aula istana, sebuah hal langka mengingat sudah jarang sekali ada pertemuan seperti ini dilakukan semenjak genjatan senjata dengan pihak kerajaan Soul Society, dan Ulquiorra sebagai Espada kepercayaan sang Raja mengumumkan kepada seluruh rekan sesama Espada tanpa memberitahukan alasan jelas untuk apa mereka dikumpulkan.

Meja panjang dengan berbagai hidangan makanan serta wine kualitas terbaik terhidang rapih diatas meja, beberapa pelayan pun berdiri menunggu dibelakang siap melayani jika dipanggil atau diperlukan. Satu persatu para Espada datang, lalu duduk di kursi mereka masing-masing sesuai urutan dari nomor di tubuh mereka namun pengecualian untuk Ulquiorra walaupun di dada kirinya terulis nomor empat tak menjadikannya harus duduk dikursi urutannya, Ulquiorra duduk tepat disamping Aizen berhadapan dengan Strakk yang merupakan Espada dengan nomor urut satu sekaligus Espada terkuat.

Pos penjagaan sementara waktu harus mereka tinggalkan, dan diserahkan kepada salah satu anak buah kepercayaan mereka sampai urusan dengan sang Raja selesai. Walau mereka semua bisa dibilang adalah rekan satu tim namun tak menjadikan mereka semua bisa akur ataupun bertegur sapa satu sama lain.

"Lama tak berjumpa, Tia Harribel," sapa Starrk mencoba mencairkan suasana dingin diantara mereka selama ini.

Espada berkulit eksotis ini diam seribu bahasa tak menanggapi perkataan Starrk yang sedang mengajaknya berbicara, karena matanya hanya fokus memandangi sosok Ulquiorra.

Starrk hanya bisa mendesah berat karena lagi-lagi diabaikan, oleh gadis yang ditaksirnya.

Dan, Syazel yang sedari tadi terus memperhatikan hanya bisa tersenyum meledek melihat lagi-lagi temannya itu diabaikan oleh Tia Harribel yang sudah terlihat jelas menaruh hati pada Espada berhati dingin, Ulquiorra.

Seluruh Espada sudah berkumpul termasuk Ulquiorra namun Aizen belum terlihat sampai suara derap langkah kaki terdengar menggema ke seluruh ruangan yang hening. Akhirnya orang yang mereka tunggu datang, namun ada hal yang membuat para Espada sedikit bingung terkecuali Ulquiorra dengan kehadiran Orihime dalam pertemuan kali ini walau status dari wanita bersurai orange kecokelatan itu adalah Ratu disini tapi pertemuan kali ini pastinya akan membahas mengenai strategi perang atau semacamnya. Seluruh Espada langsung berdiri, membungkuk memberi hormat pada sang Raja juga sang Ratu bentuk rasa hormat.

"Terima kasih kalian semua sudah mau datang," ujarnya seraya duduk di ikuti oleh para Espada.

"Ada hal penting apa yang ingin anda sampaikan pada kami semua?" tanya Grimmjow tak sabaran dengan melirik sekilas ka arah Orihime yang berdiri tak jauh dari meja.

Aizen tersenyum sekilas, "Duduk, dan nikmati saja dulu hidangan kalian, nanti aku bicarakan pelan-pelan," jawabnya santai seraya mempersilahkan anak buahnya menikmati hidangan yang sudah disediakan para pelayan.

Para pelayan yang sejak tadi berdiri pun mulai melakukan pekerjaan mereka, menyuguhkan makanan bahkan menuangkan wine ke dalam gelas kristal yang sedari tadi masih kosong belum terisi sama sekali.

Kepala Aizen menoleh kesamping kemudian tersenyum lembut, tangannya pun terulur, "Kemarilah, Hime," panggilnya pada sosok wanita bersurai orange kecokelatan dalam balutan gaun putih panjang yang sejak tadi berdiri mematung di sampingnya.

Merasa dipanggil Orihime berjalan mendekat, meraih tangan sang suami yang terulur untuknya, tubuhnya di dudukan di atas paha Aizen tak mempedulikan tatapan tak suka sekaligus protes dari beberapa Espada.

Wajah Orihime menunduk takut, tak berani melihat ke depan walau sebenarnya tak akan ada satupun Espada yang akan bisa ataupun berani melukainya walau seujung jari pun karena sebelum menyentuh tubuh Orihime sudah terlebih dahulu Aizen membelah tubuh orang tersebut.

"Kau kenapa, Hime? Apa ada yang membuatmu takut?" Aizen membelai lembut rambut sang istri.

Orihime menggeleng pelan namun wajahnya masih menunduk dalam, tapi Aizen menyadari tatapan takut dari sang istri. Kedua mata cokelat Aizen memincing tajam disertai senyuman dingin, "Apakah istriku ini terlalu cantik hingga harus kau pandangi seperti itu, Grimmjow,"

Ekspresi Grimmjow terlihat kaget, "T-tidak, Aizen-sama," wajahnya tertunduk takut.

Wajah Orihime masih tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat kerah baju bagian depan sang suami mencari perlindungan serta rasa nyaman dari tatapan dingin sekaligus penuh benci dari beberapa Espada yang ditujukan kepadanya.

Aizen melirik ke arah Ulquiorra, seakan mengerti tatapan dari sang Raja tanpa berkata sepatah katapun tiba-tiba saja Espada bersurai hitam ini menyerang Grimmjow yang sedang duduk menikmati wine.

Karena serangan Ulquiorra yang mendadakan membuat Sexta Espada ini tidak memiliki kesempatan untuk mengelak ataupun melindungi diri. Teriakkan lirih terdengar mengema di seluruh ruanga saat tangan kiri Grimmjow di tebas oleh Ulquiorra menggunakan pedang. Suasana yang tadinya hening namun terasa tegang kini berubah menjadi ricuh, semua Espada kaget tidak mengira kalau Ulquiorra akan menyerang Grimmjow.

Semua Espada langsung bangunn dari kursinya tapi tidak dengan Aizen yang duduk santai memandangi, kedua sudut ujung bibirnya terangkat memembuat sebuah senyuman senang lain hal dengan Orihime yang terlihat kaget sekaligus kaget karena darah mengalir mengotori meja sekaligus bau amis begitu menyengat hidung.

"Apa kau sudah gila, Ulquiorra!" teriak Syazel marah.

Ulquiorra diam tak bereaksi, pedangnya teracung ke depan ke arah Syazel, "Apa kau juga mau aku memotong tanganmu," kata Ulquoirra dengan nada mengancam.

"Kau!" Syazel berusaha menyerang Ulquiorra namun langsung di tahan oleh Starrk karena itu hanya akan memperparah keadaan.

Grimmjow memegangi lengannya, kedua matanya memincing tajam saat Ulquiorra berjalan mendekati, "Kau memang pantas mendapatkannya karena sudah lancang menghina Orihime-sama," kata Ulquiorra dingin.

Kedua mata Grimmjow membulat sempurna mengingat kembali kata-katanya beberapa waktu lalu mengenai Orihime saat berbincang dengan kedua teman sesama Espada, padahal dirinya sudah memastikan kalau tak ada hawa tanda-tanda keberadaan dari Ulquiorra tapi sepertinya dia salah karena ternyata perkataannya terdengar juga oleh Ulquiorra.

"Lalu," Grimmjow menatap Ulquiorra tajam tak mau kalah, "Apa kini kau mau membunuhku,"

"Kalau itu yang mau, akan aku kabulkan," Ulquiorra bersiap menyerang namun tepukan tangan dari Aizen membuatnya terdiam.

Semua Espada melihat ke arah Aizen yang sedang bertepuk tangan seakan sedang melihat sebuah adegan drama, bukan perkelahian berbahaya yang menyangkut antara hidup, dan mati. Sang Raja bangun dari kursinya seraya menggandeng mesra sang Ratu menghampiri keduanya.

Para Espada tak ada yang berani mengeluarka suara ataupun bertindak apapun, semuanya berdiri berlutut saat sang Raja berjalan menunjukkan sikap hormat sekaligus takut mereka karena bagaimanapun pria bersurai cokelat, bermata Hazel tersebut adalah pencipta mereka semua.

Aizen melirik sekilas keadaan Grimmjow yang cukup menyedihkan dengan tangan terpotong, darah pun masih terus mengalir mengotori lantai, "Hime," panggilnya lembut.

"I-iya..." sahut Orihime gugup sekaligus takut melihat darah yang berceceran di lantai milik Grimmjow.

"Tolong kau kembalikan lagi tangan Grimmjow,"

Semua Espada kaget terkecuali Ulquiorra yang sudah mengetahui kekuatan terpendam milik sang Ratu karena pernah melihat juga merasakannya sendiri.

"Aizen-sama itu tidak..." ujar Syazel meremehkan kekuatan Orihime.

"Diamlah." Sela Aizen dingin.

"Baik, Aizen-sama." katanya patuh seraya menundukkan kepala tak berani berkata lagi.

Orihime berjalan mendekati Grimmjow lalu duduk berjongkok disampingnya, kedua tangannya terangkat ke arah lengan Grimmjow yang sudah terpotong, "Soten Kishun."

WHUSSS~

Sebuah cahaya kuning ke emasan melingkupi tangan kiri Grimmjow yang tadi terputus akibat ditebas Ulquiorra menggunakan pedang. Semua orang diam melihat, memperhatikan apa yang dilakukan oleh sang Ratu termasuk Aizen.

Kedua mata Grimmjow membelalak sempurna, tubuhnya menegang kaku melihat perlahan-lahan tangannya kembali utuh seperti sedia kala padahal beberapa saat lalu putus di tebas oleh Ulquiorra. Dan, bukan hanya Grimmjow saja yang merasa luar biasa kaget namun seluruh Espada pun sama kaget bahkan merasa luar biasa syok. Mereka semua tidak pernah menyangka sama sekali kalau gadis bersurai orange kecokelatan itu bisa memiliki kekuatan dasyat di balik sifatnya yang lembut serta terlihat lemah.

Senyuman lebar menghiasi wajah Grimmjow karena lengannya kembali utuh bahkan digerak-gerakkannya mencoba apakah tangannya ini masih berfungsi atau tidak, dan ternyata Orihime mengembalikannya seperti sedia kala.

Orihime bangkit perlahan setelah tersenyum lembut ikut merasakan senang karena sudah bisa membantu walau tidak banyak.

"Sekarang kalian paham, dan mengerti kalau Orihime bukanlah Ratu lemah tak berguna yang tak memiliki kekuatan apapun." Kata Aizen lantang dengan nada tegas.

Hening.

Semua Espada terdiam kaget tak bisa berkata apa-apa terlebih Grimmjow yang tangannya baru saja ditumbuhkan kembali oleh Orihime sebuah hal yang sangat mustahil dilakukan oleh orang manapun terkecuali orang itu memiliki kekuatan seperti dewa.

Baru juga beberapa jalan melangkah hendak mengahampiri Aizen, tiba-tiba kepala Orihime terasa pening, dan pandangannya terasa kabur.

BRUK

Orihime jatuh sadarkan diri tak lama setelah menggunakan kekuatannya untung saja Aizen bersikap cepat dengan langsung menangkap tubuhnya.

Aizen menggendong tubuh sang istri ala tuan putri, "Jika ada diantara kalian yang masih meragukan, dan tak menerimanya sebagai Ratu di kerajaan ini. Katakan padaku, jangan mengatakannya di belakang, lalu bertarunglah denganku sampai mati, karena Orihime adalah wanita yang paling berharga, juga aku cintai." Ujarnya dingin lalu setelahnya pergi meninggalkan aula di ikuti Ulquiorra.

Para Espada masih tak mempercayai apa yang baru saja terjadi tapi mendengar perkataan Aizen tadi membuat mereka semua tak berani lagi meragukan apalagi sampai menggunjingkan sang Ratu dibelakang karena ancamannya sangat berat.

Dan, mulai saat ini sepertinya Grimmjow tidak akan meremehkan kekuatan Orihime, menikahi Orihime sendiri adalah sebuah pilihan yang tepat.

"Aku tarik kata-kataku yang menganggap gadis itu pembawa bencana, dan lemah. Kekuatan Kotodama yang dimilikinya luar biasa dan sangat berguna bagi kerajaan ini."

"Tepat sekali. Dan Aizen-sama, memang pintar memilih." Sambung Syazel yang sependapat dengan Grimmjow.

~(0)-(0)~

Beberapa Adjuchas dari tim medis berdatangan ke kamar pribari sang Raja, mereka memeriksa keadaan sang Ratu yang tiba-tiba saja jatuh tak sadarkan diri setelah menggunakan kekuatanya tadi untuk menolong Grimmjow sekaligus memberikan pembuktian pada seluruh Espada kalau dirinya tidak selemah yang dikira. Sementara para Adjuchas sibuk mengobati Aizen duduk di samping ranjang, menemani sekaligus cemas dengan keadaan sang istri dengan menggenggam erat tangan Orihime.

Dan, setelah hampir satu jam tak sadarkan diri, akhirnya Orihime terbangun.

"Ngh~" lenguh Orihime pelan.

Perlahan-lahan kedua mata Orihime terbuka menampilkan kedua netra abu-abunya, samar-samar ia melihat ke sekeliling ruangan dan menyadari kalau ini adalah kamar tidurnya. Apakah tadi Aizen membawanya kesini setelah jatuh pingsan. Melirik ke samping, Orihime mendapati Aizen tengah duduk menyadar dengan mata terpejam, tangannya mengengengam erat tangan Orihime membuat perasaan hangat sekaligus senang menyelimuti hati karena sikap perhatian dari sang suami.

Orihime membelai lembut tangan Aizen, "Yang mulia," panggilnya pelan.

Aizen terbangun setelahnya, wajah dipenuhi senyuman senang, "Syukurlah kau sudah sadar," katanya membelai lembut pipi sang istri.

Perlahan-lahan Orihime bangun dari posisinya, dan Aizen membantunya untuk duduk menyandar, "Maaf," kata Orihime penuh sesal memandangi wajah sang suami.

Dahi Aizen berkerut, "Untuk apa?" tanyanya bingung.

Wajah Orihime sedikit tertunduk, "Karena aku terlalu lemah, dan tak berguna sehingga semua Espada meragukanku," katanya penuh sesal, dan kesedihan mendalam.

"Itu bukan salahmu, Hime." Aizen membelai pipi Orihime berusaha menjelaskan.

"Tapi gara-gara aku anda..."

"Sssst..."

Aizen membawa Orihime ke dalam pelukkannya, membelai lembut helaian rambut sang istri dengan penuh kasih, "Aku hanya membutuhkan dirimu di sisiku bukan kekuatan mu, camkan itu, Hime,"

"Hm.."

Mengecup puncak kepala Orihime, "Tak peduli apa tanggapan mereka, bagiku kau adalah wanita hebat karena mampu menaklukan hatiku yang dingin."

Orihime menyandarkan kepalanya di dada bidang Aizen, bisa ia dengar suara detak jantungnya yang berdetak cukup cepat. Dirinya harus percaya kalau pria yang sedang memeluknya saat ini akan selalu melindungi, menjaganya dari apapun yang berusaha menyakitinya walau hanya seujung jari.

Tak akan pernah Aizen biarkan siapapun menyakiti wanitanya, apalagi sampai membuat satu-satu wanita yang dicintai bersedih, dan menitikan air mata karena akan ia buat orang itu menyesal seumur hidup atau perlu dihilangkan dari dunia ini, tak perduli itu siapapun.

TBC