Chapter sebelumnya...
"Oh iya, satu lagi. Gadis itu memiliki rambut berwarna merah muda yang langka."
Chapter 26. Feeling Clueless
Sekarang malam hari, dan Sakura sedang ada di dalam mobilnya yang berhenti di tepi jalan. Matanya menatap sebuah gerbang tinggi nan kokoh tak jauh dari tempatnya berada.
Sakura menurunkan kaca mobil lalu terbanglah sebuah drone kecil minim suara disertai sebuah kamera yang terhubung dengan monitor di dashboard mobilnya. Tangannya memegang remote kontrol guna mengendalikan drone itu mendekati sebuah bangunan besar nan mewah. Di gerbangnya terdapat ukiran nama Senju-Namikaze.
Terlihat sudah mengenali rute yang sedang dilalui, Sakura dengan mudah mengendalikan drone itu terbang lebih tinggi guna menghindari jangkauan cctv. Setelah itu menuju jendela sebuah kamar yang memiliki lubang ventilasi. Drone berhenti tepat di ventilasi itu. Kamera lalu menyorot sedikit ke bawah. Tepat ke arah seorang pemuda yang sedang duduk di kursi belajar.
Namun bukannya belajar, pemuda itu justru bermain dengan sebuah boneka rubah kecil berwarna jingga berekor sembilan. Menggoyangkan boneka itu dan mengajak bicara, seakan benda itu adalah temannya.
Di sisi lain, Sakura sedang memperhatikan dengan seksama monitor di dashboard mobilnya. Ia tersenyum lembut dan sesekali tertawa kecil kala melihat tinggkah Naruto yang menurutnya lucu dan menggemaskan.
Melihat pemuda pujaannya seperti ini cukup untuk mengembalikan suasana hatinya yang sedikit kacau karena insiden dirinya dan nenek sang pemuda itu siang tadi.
* * *
Senin siang di kantin Konoha Gakuen seperti biasanya, ramai. Di sebuah meja panjang terjadi perbincangan.
"Ino-chan, bagaimana keadaanmu? Apa demammu sudah hilang?" tanya Fuu.
Ino mengangguk sambil tersenyum. "Iya, sudah. Sekarang aku baik-baik saja."
"Maaf. Kami tidak sempat menjengukmu," sesal Tenten. Fuu dan Karui mengangguk.
Ino tertawa kecil. "Jangan berlebihan girls, aku hanya sedikit kurang sehat. Ini sakit ringan dan sekarang sudah baik-baik saja."
"Apa Chouji dan Shikamaru menjengukmu?" tanya Shizuka.
"Ya, tentu. Mereka juga membawakanku banyak makanan sehat seakan aku bisa menghabiskannya. Pada akhirnya mereka jugalah yang memakannya. Dasar tetanggaku yang konyol." Ino menggelengkan kepalanya. Shikamaru hanya diam, sedangkan Chouji meringis malu.
"Itu bagus. Setidaknya dua di antara kita menjengukmu," kata Karui.
"Teman-teman, selama seminggu kita menghindari topik tetang mereka, setelah ayah mereka meninggal. Namun aku tidak tahan lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Shizuka sedikit pelan tetapi tetap menarik perhatian Ino dan yang lainnya.
"Apa yang ingin kau katakan, Shizuka-chan?" tanya Fuu.
Melirik Shimura bersaudara yang sedang makan ia melanjutkan, "Saat kita datang ke rumah mereka. Aku melihat lima wanita dewasa duduk di barisan depan. Berdasarkan rambut kelima wanita itu dan anak-anak keluarga Shimura, serta cara Shimura bersaudara menyebut kelima wanita itu di pemakaman, maka aku dan Shikamaru mempunyai kesimpulan yang sama bahwa--"
"Mereka terlahir dari wanita yang berbeda. Dengan kata lain, mereka satu ayah, tetapi berbeda ibu," potong Neji dan membuat teman-temannya menatapnya.
"Kau memperhatikannya juga?" tanya Shizuka. Neji hanya mengangguk.
"Eh, apakah itu berarti ucapan Sai saat itu benar?" tanya Lee.
"Itu mungkin saja. Namun dari yang kulihat, interaksi mereka terjalin dengan baik. Jadi sepertinya kemungkinan untuk tuan Shimura berselingkuh dengan empat wanita berbeda cukup kecil," ujar Gaara.
"Gaara-kun benar. Setelah kuingat-ingat, interaksi mereka terasa dekat dan akrab," ujar Tenten.
"Iya, iya, kurasa juga begitu. Bahkan jika itu aku, aku tidak akan sudi berpura-pura dekat seperti itu," tutur Karui.
"Hmm. Ya, benar," ucap Fuu.
"Teman-teman, apa kalian ingat restoran yang kita datangi bersama atas rekomendasi paman Naruto-kun?" tanya Shizuka.
"Pemilik restoran adalah salah satu dari lima wanita itu, dan anak-anaknya yang dia ceritakan tak lain yakni Shimura Bersaudara," kata Shikamaru.
"Ah ya benar, itu dia. Aku baru menyadarinya," kata Karui.
"Dunia memang sempit," ujar Sai dengan senyum khasnya.
"Apa yang kau pikirkan, Ino-chan?" tanya Tenten.
Ino yang tampak sedang berpikir, berkata, "Ah, hanya berpikir kalau misalnya kita kesampingkan kata 'selingkuh'. Jadi, apa menurut kalian mungkin, jika tuan Shimura menikahi lima wanita berbeda? Dan jika dilihat dari usia mereka--" Ino menatap Shimura bersaudara. "--maka itu berarti tuan Shimura menikahi tiga wanita berbeda di waktu yang berdekatan."
"Tiga? Ya ampun, banyak sekali. Apakah satu saja tidak cukup? Tou-san dan Erro-jii saja memiliki satu pasangan sudah cukup," heran Naruto.
"Aku ingin seperti Tou-san dan Erro-jii saja. Satu pasangan sudah cukup," lanjutnya.
"Wah, itu sangat bagus. Aku mendukungmu, Naruto-kun," ujar Fuu disertai acungan jempol.
"Sangat bagus jika kau seperti itu, Naruto-kun," ucap Ino.
"Sai, bagaimana menurutmu?" tanya Neji.
"Terlepas dari tuan Shimura yang menikah, bukan selingkuh. Aku masihlah benar jika mereka terlahir dari wanita yang berbeda," jawabnya.
Shino membenarkan letak kacamatanya yang sedikit melorot lalu berkata, "Tentang pemuda berambut hitam yang kita lihat bersama Shimura Bersaudara saat berlibur. Chouji berkata jika pemuda itu kakak mereka, dan saat hari pemakaman, hal itu ternyata benar."
"Ah ya, pemuda itu. Di antara mereka, dia yang paling sigap saat Ino pingsan," tutur Chouji.
Seakan telah memikirkan sesuatu, Shizuka berkata, "Kehadiran pemuda itu sebagai saudara Shimura Bersaudara bisa dimengerti karena mereka memiliki lima ibu, dan rambutnya juga cocok dengan salah satu dari para ibu. Namun, bagaimana dengan gadis mahasiswa kedokteran itu? Dia juga kakak mereka, bukan?"
"Gadis mahasiswa kedokteran?" Ino bertanya dengan dahi berkerut.
"Ah Ino-chan, kau mungkin tidak tahu. Karena kami pun baru tahu saat kau pingsan."
"Gadis itu juga membantumu ketika kau pingsan, Ino," ujar Shikamaru.
"Benarkah?" Shikamaru mengangguk.
"Respon mereka juga sangat cepat dan sigap. Pemuda berambut hitam yang membagi tugas, meski kakaknya meralat tempat kamarnya, dan adik-adiknya melakukan tugasnya dengan baik," tutur Neji.
"Banyak dari mereka yang menolongku?" tanya Ino. Pasalnya Shikamaru maupun Chouji tak memberitahunya secara rinci dan dirinya juga enggan bertanya perihal itu. Jadi ketika kini ia tahu, itu membuatnya penasaran.
"Ya. Pemuda bersurai gelap itu dengan sigap datang lalu memberi arahan pada adik-adiknya. Dia memberi arahan untuk membawamu ke kamar miliknya, tetapi gadis mahasiswa itu mengusulkan agar kau di tempatkan di kamarnya saja. Ia lalu memberi arahan pada Kiba Shimura untuk menghubunggi dokter, dan arahan untuk Karin agar mengambil air minum hangat untukmu."
"Respon cepat mereka juga sama cepatnya dengan sikap mereka yang langsung bertindak seolah tak terjadi apa-apa," tutur Gaara.
"Benar-benar cepat." Lee mengangguk setuju kala ia mengingat kejadian itu.
"Kalau begitu, apa maksud dari pertanyaanmu tadi, Shizuka-chan?" tanya Ino.
"Persamaan dari segi fisik. Mereka berenam berbeda satu sama lain. Namun, kini kita tahu dari mana asal perbedaan itu, tetapi untuk gadis itu, aku belum tahu. Mungkinkah dari kalian ada yang tahu?" jelas sekaligus tanya Shizuka.
"Benar. Dari fisik, gadis itu juga tak memiliki persamaan dengan yang lainnya," ujar Karui.
"Ya ampun, aku baru menyadari itu," kata Karui menepuk dahinya sendiri. Beberapa dari mereka berkata tidak dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala.
"Mungkinkah dia terlahir dari wanita lainnya yang tidak ada di sana saat hari itu? atau mungkin saja ibunya sudah tiada," terka Sai.
"Yah, itu mungkin saja," ujar Tenten.
Fuu mengangguk. "Benar. Hal itu memang mungkin."
"Shikamaru, bagaimana denganmu? Hari itu ayahmu terlihat sangat mengenalnya. Apa kau tahu sesuatu?" tanya Shizuka.
"Eh, Shikaku-ojisan?" Dahi Ino mengernyit.
"Ya Ino-chan. Hari itu ketika kau sedang ada di kamar, paman Shikaku datang. Dia terlihat akrab dengan gadis mahasiswa itu," jelas Shizuka.
Shikamaru menjawab, "Aku sudah bertanya. Ayahku memang mengenal gadis itu sejak lama, tetapi mereka sudah beberapa tahun tak bertemu. Ayahku mengenalnya karena ibu dari gadis itu adalah teman dekatnya." Shikamaru menatap Sai. "Kau benar Sai, ibunya memang wanita lainnya, bukan salah satu dari lima wanita itu, dan kau juga benar bahwa ibunya memang sudah tiada. Ibunya meninggal sepuluh tahun yang lalu."
"Apakah ada informasi lainnya yang kau tahu?" tanya Neji.
"Ya, ada." Neji menatapnya penasaran. "Mendiang ibu gadis itu adalah satu-satunya puteri dari keluarga Otsutsuki."
"Otsutsuki?" Teman-temannya terkejut.
"Wow, keluarga mereka memang rumit," komentar Karui.
"Bukankah puteri Hagomoro Otsutsuki meninggal setahun setelah dia lulus universitas? Kenapa ini baru meninggal sepuluh tahun yang lalu?" tanya Tenten.
"Harus diketahui jika dalam keluarga berpengaruh, kuat, dan terkemuka. Akan selalu ada hal yang disembunyikan, meski lingkaran sosial mereka pada akhirnya mengetahuinya juga. Namun setidaknya, masyarakat umum atau orang awam yang tidak masuk dalam lingkaran sosial mereka, tidak akan pernah tahu," ujar Gaara.
"Selain itu, ada beberapa kasus yang bahkan lingkaran sosial mereka tidak tahu, dan hanya anggota keluarga saja yang tahu. Bukan begitu, Shikamaru?" lanjutnya.
Shikamaru mengangguk. "Itu benar, dan lingkaran sosial itu juga tidak akan menyebarkannya ke khalayak umum karena jika hal tersebut terjadi di keluarganya, maka dia menginginkan hal yang sama."
"Kenapa begitu rumit hanya dengan mendengarnya," ujar Fuu.
Dahi Lee mengernyit. "Jadi hal yang dikatakan Tenten itu tidak benar?"
"Tidak. Sebenarnya itu bukan meninggal, tetapi sudah tidak ada dalam daftar keluarga. Awalnya yang kutahu juga seperti Tenten, karena aku baru tahu saat ayahku memberitahu," kata Shikamaru. "Karena aku juga baru tahu hal ini, kurasa selain hanya lingkaran sosial yang tahu, generasi selanjutnya juga sebenarnya tidak boleh tahu hal yang disembunyikan itu."
"Jadi kalian juga tidak tahu?" tanya Fuu pada teman-temannya yang berasal dari Konoha dan keluarga yang menurutnya tinggi, tetapi mereka menggeleng. Tanda tidak tahu.
"Koneksi ayahmu sangat kuat, Shikamaru," komentar Sai. Menilai dari Shikamaru yang tahu dan yang lainnya tidak. Kalimatnya memang tidak salah.
"Teman-teman, apa menurut kalian anak pertama dari keluarga Shimura itu mewarnai rambutnya?" tanya Shizuka. Mereka menatapnya.
"Memangnya kenapa?" tanya Ino.
"Rambutnya berbeda," kata Shizuka. "Gadis itu adalah cucu Hagomoro. Dari yang kutahu, rambut keluarga Otsutsuki hanya memiliki dua warna, yaitu cokelat dan putih. Selain itu, kita juga tahu ketika hari pemakaman, dalam foto tuan Danzou yang dipajang rambutnya berwarna cokelat, sedangkan rambut gadis itu memiliki warna yang berbeda."
"Apa kau tahu sesuatu, Shikamaru?" tanya Chouji.
Shikamaru menggeleng. "Tidak. Aku terfokus pada rasa penasaran atas hubungan yang dimiliki oleh ayahku dan gadis itu, hingga tidak bertanya tentang itu."
"Memangnya apa warna rambut gadis itu?" tanya Ino bingung.
"Merah muda," jawab Tenten.
Merah muda?
Samar-samar dalam benak Ino memutar memori tentang sosok perempuan berambut merah muda yang menatapnya dengan pandangan rindu, sedih, takut, dan senang.
"Akh!" seru Ino sambil memegang kedua sisi kepalanya, membuat teman-temannya menatapnya khawatir terutama dua pemuda di kiri dan kanannya.
"Hei Ino, ada apa? Kau kenapa? Apa kau sakit?" tanya Chouji bertubi-tubi sembari memegang bahunya.
"Ino, kau pucat. Aku akan mengantarmu ke ruang kesehatan," kata Shikamaru. Raut khawatir terlihat jelas di wajah dan sorot matanya.
Siapa pun kau, aku tidak akan kalah darimu pinky sialan!
"Ti-tidak. Aku-aku baik-baik saja." Ino berusaha menguatkan dirinya.
"Kau tidak terlihat baik-baik saja Ino-chan. Pergilah ke ruang kesehatan bersama Shikamaru-kun," kata Shizuka, yang lainnya mengangguk.
"Ya, Ino-chan. Sepertinya kau sakit," kata Naruto
"Itu benar, Ino-chan," ujar Karui.
"Aku ingin bertahan. Jika aku tidak bisa, aku akan patuh," kata Ino keras kepala.
Chouji menatap Shikamaru. Pemuda Nara itu melihat alis Ino yang bertaut dan tangannya yang menggenggam erat rok seragamnya, tampak bertekad. Ia lalu memberi anggukan pada Chouji.
"Baiklah Ino, tetapi jangan terlalu memaksakan diri," ujar Chouji. Ino mengangguk pelan. Shikamaru lalu membuka tutup botol air mineral dan memberikannya pada Ino.
Keadaan hening beberapa saat, hingga mereka melihat Ino yang tampak membaik, mereka tampak kembali santai.
"Shikamaru, apa tidak ada hal lain yang kau tahu tentang keluarga itu?"
Mereka semua sontak menoleh ke arah pemuda yang baru saya mengeluarkan kalimat pertamanya selama percakapan ini, Sasuke. Bahkan Shino pun sudah berbicara.
"Tidak ada, Sasuke."
Neji menatapnya dengan bibir yang menyeringai tipis. "Kenapa Sasuke? Kau terlihat tertarik dengan keluarga Shimura. Heh, seperti bukan dirimu saja. Apa kau bertanya karena penasaran tentang pemuda yang memiliki kemiripan denganmu itu? Atau karena kakakmu tercinta yang datang ke pemakaman?"
"Bercerminlah, Hyuuga. Sebelumnya kau pun bertanya sepertiku," cibir Sasuke. "Selain itu, bagaimana denganmu? Jangan kau pikir aku tidak tahu kalau kau bertanya karena ingin tahu tentang salah satu dari ibu mereka yang memiliki mata sama denganmu. Bukan begitu, Tuan Muda Hyuuga?" lanjutnya dengan seringai, sedangkan Neji terdiam.
Memang benar jika Neji bertanya karena berharap Shikamaru tahu tentang salah satu ibu Shimura yang mencuri perhatiannya ketika di pemakaman. Bagaimana tidak, gadis kembar itu sudah memiliki mata yang sama dengannya, mata khas klan Hyuuga. Dirinya sudah berbaik hati menganggap itu sebagai kebetulan meski di hatinya terasa mengganjal. Namun, saat ia melihat wanita itu, ia yakin itu bukan kebetulan. Orang pun tidak akan lagi berpikir suatu hal aneh itu kebetulan jika terjadi secara berulang!
Kesamaan matanya dengan Hanabi dan Hinata ia anggap sebagai kebetulan. Namun ia akan merasa sebagai idiot jika saat melihat wanita itu yaitu ibu mereka dan berpikir itu masih kebetulan. Ia merasa pasti ada sesuatu. Saat di pemakaman ketika ia bisa melihat dengan jelas mata wanita itu, dirinya terus memperhatikannya, dan tak disangka bahwa Sasuke mengetahuinya!
Suasana menjadi hening, hingga pemuda blonde menuangkan jus jeruknya ke dalam jus tomat Sasuke. Menimbulkan suara air yang khas.
"Apa yang kau lakukan, Dobe?!"
Dengan cepat Sasuke mencengkram tangan Naruto, menghentikan tangan itu terus menuang cairan kuning ke dalam jus tomat kesuakaannya.
"Aku sudah kenyang dan kelebihan minum. Ini gelas keempatku, dan aku tak bisa menghabiskannya. Jadi aku berbaik hati memberikannya padamu. Lagi pula jus tomatmu tersisa sedikit lagi," jawabnya polos.
"Bodoh," desis Sasuke.
"Jangan memarahinya Sasuke. Dia berjasa atas cairnya suasana buruk akibat Neji dan dirimu," ujar Shizuka disertai tawa kecil. Sasuke hanya mendengkus.
"Karena ucapan kalian berdua tadi, aku jadi ingin bertanya," kata Shizuka. "Neji-kun apa hubunganmu dengan gadis kembar itu? Dibanding dengan saudara-saudaranya aku merasa mereka memiliki kemiripan denganmu." Neji terdiam.
"Ah ya benar, mata kalian sama. Bukankah mata itu hanya dimiliki oleh klan Hyuuga?" tanya Fuu. Karui mengangguk setuju.
"Tidak ada hubungan apa-apa," jawab Neji.
"Benarkah?" Tenten memastikan.
"Ya." 'Itu yang kutahu saat ini'
"Hei Sasuke! bukankah gadis berkacamata itu pernah menjadi rekanmu saat olimpiade tahun lalu?" tanya Sai.
Sasuke melirik gadis Shimura berambut merah berkacamata di meja tak jauh dari mereka. "Ya, dia rekanku."
"Kau banyak berinteraksi dengannya?" tanya Ino yang kini tampak lebih baik.
"Tidak. Jika berinteraksi itu hanya sebatas pelajaran, selebihnya tidak ada."
"Tidak seru," keluh Fuu dan Karui bersamaan.
"Kenapa kau payah sekali? Itu kesempatan bagus untuk mendekatinya," kata Karui. "Yah jika kau tertarik padanya," lanjutnya.
"Tidakkah kau tertarik dengannya, Sasuke-kun?" tanya Fuu.
"Aku benci mengatakann ini, tetapi bahkan dengan kacamata, dia tetap terlihat cantik," kata Karui.
"Dia juga pintar," sambung Fuu.
"Tidak suka menggoda," tambah Karui.
"Serta memiliki body yang bagus," kata Fuu.
"Terakhir..." ujar Karui menggantung.
"Dia termasuk siswi yang banyak diincar para siswa," ucap keduanya bersamaan.
Tenten, Shizuka, dan Ino hanya tertawa geli, sedangkan lelaki hanya memandang Sasuke dan terkekeh. Pemuda itu hanya mendengkus dan berpura-pura tidak mendengar, mesi matanya sempat sekali melirik Shimura berambut merah itu yang tentunya tak luput dari mata sipit Shikamaru.
"Teman-teman, bisakah kita kembali membahas hari berkabung itu?"
"Memangnya ada apa, Gaara?" tanya Naruto penasaran. Begitu juga yang lainnya.
"Tidakkah ada yang aneh dengan raut wajah mereka?"
"Eh, raut wajah?" Beberapa dari mereka mengernyitkan dahi.
"Keluarga itu tak terlihat sedih seperti yang seharusnya mereka rasakan," ujar Gaara. Mereka terdiam. Mengingat raut wajah keluarga Shimura.
"Gaara benar, mereka tidak terlihat sedih sama sekali." Sai setuju.
"Ah iya. Mereka terlihat tenang," kata Lee.
"Bahkan terlalu tenang jika mengingat orang yang meninggal adalah ayah mereka," kata Shizuka.
Tampak berpikir sesaat, Neji berkata, "Mungkinkah itu ada hubungannya dengan tuan Shimura yang meninggal bersama seorang wanita asing?"
"Kalau begitu, bukankah seharusnya mereka terlihat kecewa atau sedih, bukan tenang seperti itu? Seakan yang terbujur kaku bukan anggota keluarga mereka," tutur Shino.
"Kalaupun mereka bersedih saat hari meninggalnya, bukankah jejak mata bengkak masih akan terlihat saat kita datang? Bahkan setidaknya sorot mata mereka akan meredup, terlihat sedih atapun lainnya. Bukannya tampak tenang seolah tak terjadi apa-apa," kata Tenten.
"Mereka bahkan dengan sigap membantu Ino yang pingsan dan meninggalkan peti mati ayah mereka. Itu bukan hal yang bisa dilakukan dengan mudah oleh orang yang dalam suasana hati yang kacau," tambah Gaara.
"Benar. Bahkan gadis berambut merah dan berkacamata itu menunggui Ino-chan yang pingsan bersama kami, hingga ia harus pergi ke pemakaman dan digantikan oleh karyawan ibunya," ujar Shizuka.
"Keluarga mereka sepertinya rumit," komentar Fuu.
"Aku merasa semakin kita tahu, semakin kita merasa tidak tahu. Karena saat kita mengetahui hal yang sebelumnya ingin kita ketahui, kita justru mendapatkan hal baru yang harus dipecahkan," ujar Shikamaru.
* * *
Senin malam, Sakura ada di kamar paman pertamanya, Indra. Lebih tepatnya ruang kerjanya.
"Berhenti menunjukkan raut wajah burukmu itu dan katakan ada apa?" tanya Indra kala ia sudah selesai dengan pekerjaannya dan sang keponakannya masih setia berbaring malas dengan ekspresi amat sangat sedih.
"Aku sedih," kata Sakura.
"Keluar. Pergi mandi lalu kembali dengan kondisi waras," kata Indra setelah terdiam atas jawaban Sakura. 'Kau bahkan mengadakan pesta barbeque saat ayahmu meninggal, dan sekarang kau sedih tanpa alasan yang jelas? Memang tidak salah jika aku berpikir kau tidak waras'
"Oji-san tidak mengerti," keluhnya dengan tangan yang mengusap pipinya, seakan ada jejak airmata.
"Berhenti terlihat menjijikan dan katakan dengan jelas, atau kuseret kau keluar dari kamarku."
"Baiklah, baiklah." Sakura bangkit dari posisi berbaringnya lalu mulai duduk dengan benar. Indra menunggu dengan sabar, tetapi Sakura tak kunjung bicara.
"Oji-san, aku ingin liburan."
Pak!
Tepat setelah Sakura berucap, Indra segera meraih buku cukup tebal di mejanya dan melemparnya dengan kuat pada Sakura yang tepat mengenai wajahnya.
"Akh!" Sakura mengaduh.
"Pergi dari sini sekarang juga," desis Indra.
Sakura mengambil buku yang jatuh ke lantai lalu melemparkannya ke meja Indra. "Maaf," ucapnya.
"Aku sudah melangkah maju, tetapi sepertinya tidak berakhir baik," ujar Sakura. Indra menaikkan satu alisnya.
"Naruto," kata Sakura membuat Indra mengerti. Lelaki itu mengangguk.
"Sekarang dia tahu."
"Siapa?" tanya Indra.
"Lady Senju, Tsunade."
Satu alis Indra naik. "Kau benar-benar melakukan yang kau ucapkan, mendekati keluarganya lebih dulu." Indra terkekeh lalu bertanya, "Bagaimana dia bisa tahu?"
"Aku memberitahunya."
"Lalu?"
"Dia memukulku dengan kuat?" Sakura menunjuk sudut bibirnya.
Indra tertawa kecil. "Kapan itu terjadi?"
"Hari sabtu."
Mengingat sesaat, Indra berkata. "Pantas saja kau tidak pulang dan memilih tidur di hunian sejak hari itu hingga hari ini. Untuk menghilangkan bekas 'buah tangan' dari calon nenek mertua rupanya."
"Bisa kau ceritakan bagaimana kejadiannya?"
"Aku mengantar dokumen timku sekaligus mengambil file kepindahanku ke bagian yang lain. Saat akan masuk aku mendengar percakapannya bersama seseorang via telpon, bahwa dia akan menunangkan Naruto setelah kelulusan dan menikahkannya saat ia lulus kuliah. Itu membuatku gusar. Jadi aku membuka kasar pintunya. Lalu semuanya berjalan normal, hingga saat aku berjalan kembali, pembahasan itu berlanjut. Aku berteriak lalu ia kesal. Membatku memilih untuk mengatakan yang sebenarnya. Jadi kubilang jika aku mencintai Naruto dan ingin menikahinya," kata Sakura.
"Namun, ia memintaku mendekat dan tiba-tiba dia memukulku dengan keras. Dia juga berpikir jika aku berbohong, tetapi kubilang jika aku serius," lanjutnya.
Menatap Sakura, Indra berkata, "Saki, aku tidak tahu harus bangga atau malu dengan yang kau lakukan itu. Sangat berani cenderung nekat bahkan mendekati bodoh. Hal bagus jika dia hanya memukulmu, bukan mematahkan tulangmu."
'Mematahkan tulangku? Dia sudah memiliki keinginan untuk itu dan hampir dia lakukan!'
"Jadi apa yang harus kulakukan?"
"Sudah kubilang, membuatmu coass di rumah sakit itu adalah bantuan terakhir dariku. Jadi kau harus melakukannya sendiri dengan batas waktu yang sudah kutentukan. Gunakan akalmu."
Indra lalu melanjutkan. "Namun jika aku harus memberi saran, akan kusarankan agar kau mendekatinya dengan dua arah. Maksudku, karena Senju sudah tahu, tentu kau tidak bisa diam saja dan harus membuat gerakan lagi agar dia tak menganggapmu omong kosong. Namun, kau juga harus mulai mendekati bocah itu secara langsung dengan cara yang --" Mata Indra yang menatap Sakura menajam. "--normal."
Chapter 26 selesai.
-oOo-
A/N : Sampai jumpa chapter depan.
Just Noober-Chan : Seiring waktu akan tahu itu alamat apa wkwkw. Terima kasih atas reviewnya, ya :)
