Chanbaek
.
.
Pagi itu, Chanyeol sudah berada di rumah Baekhyun. Seperti pagi-pagi biasanya, Chanyeol datang ke rumah Baekhyun, kemudian mengajak Baekhyun berangkat ke sekolah bersama. Aneh bukan, seorang sahabat rela mengantar jemput sahabatnya tanpa maksud apapun. Hei, tentu saja. Chanyeol menyukai Baekhyun sejak awal pertemuan mereka yaitu pada hari pertama mereka bersekolah di school performing art seoul. Sejak saat itu, Chanyeol selalu berada di samping Baekhyun mengikuti kemanapun gadis tersebut pergi.
Baekhyun menyukai hal-hal berbau romantis, pernah waktu valentine tahun lalu, Chanyeol memberikan boneka bear, satu buket bunga mawar merah dan coklat. Setelah memberikan semua itu, malamnya Chanyeol mengajak Baekhyun dinner dengan nuansa romantis. Menurut teman-teman terdekat mereka, apa yang Chanyeol lakukan sudah melebihi batas sebagai seorang sahabat. Tapi Baekhyun bersikukuh kalau Chanyeol melakukan semua itu berdasarkan rasa cinta sebagai seorang sahabat 'nya.
Bukan hanya itu saja, asal kalian tahu. Baekhyun itu maniak strawberry. Barang apapun yang berbentuk strawberry pasti ia beli. Bahkan makanan dan minuman pun berlaku begitu, ia akan menggila saat menemukan makanan dan minuman berbau strawberry. Cita-cita Baekhyun adalah menikahi laki-laki yang memiliki kebun strawberry di belakang rumahnya. Dan Chanyeol saat ini sedang membuat rumah kaca untuk dijadikan kebun strawberry sesuai harapan Baekhyun.
Dari semua penjelasan diatas, apakah Chanyeol melakukan semua itu sebagai sahabat atau sebagai seorang kekasih?
Anehnya lagi, Baekhyun menikmati semua perlakuan manis Chanyeol terhadap dirinya.
Kini Chanyeol duduk dengan hikmat di meja makan keluarga Byun, menikmati sarapan bersama keluarga besar Baekhyun. Hampir setiap pagi Chanyeol sarapan di rumah Baekhyun, bahkan orang tua Baekhyun dengan senang hati menyiapkan susu rasa pisang kesukaan Chanyeol agar lelaki itu menikmati sarapan bersama mereka.
"Chanyeol, kau datang?" sapa Baekbeom ketika melihat kehadiran Chanyeol.
"Iya, hyung."
"Baekhyun belum turun?" Baekbeom duduk bersebrangan dengan Chanyeol. "Haish. Anak itu kalau sudah berdandan lama sekali. Padahal cuma mengolesi eyeliner tapi lama sekali." Baekbeom menggerutu.
"Untung saja, Chanyeollie sabar." Ibu baekhyun terkekeh.
"Kau yakin Chanyeol tidak menyukai anak bungsuku, Baekhyun?" Goda Ayah Baekhyun. Lelaki itu melipat koran yang sedang ia baca, lalu menatap Chanyeol dengan jahil.
"Ah! Ti-dak! Ahjussi. Kami hanya bersahabat." jawab Chanyeol gelapan.
Ketiga orang tersebut hanya tertawa. Mereka sudah mengetahui perasaan Chanyeol tanpa perlu repot-repot menanyakan hal tersebut pada Chanyeol. Dilihat dari cara Chanyeol menatap Baekhyun saja sudah sangat jelas kalau mata Chanyeol menyiratkan kekaguman yang begitu mendalam pada Baekhyun. Chanyeol sendiri suka salah tingkah kalau Baekhyun membalas tatapan matanya, Chanyeol suka buru-buru menundukan kepalanya karena Chanyeol tidak ingin Baekhyun melihat wajahnya merona. Dan belum lagi Chanyeol yang rela menjemput Baekhyun padahal jarak rumah Chanyeol ke sekolah itu sangat dekat, jika Chanyeol menjemput Baekhyun tandanya lelaki itu harus memutar balik karena jarak rumah Baekhyun ke sekolah itu cukup jauh. Sudah jelas bukan. Kalau Chanyeol benar-benar memperlakukan Baekhyun bukan sebagai seorang sahabat tapi sebagai seorang kekasih, 'nya.
"Chanyeollie jangan dipusingkan apa yang tadi Ayah Baekhyun katakan, ya." Ibu Baekhyun tersenyum. "Kami senang karena Chanyeollie selalu menemani Baekhyun. Menjaga Baekhyun di sekolah, sehingga kami tidak terlalu mengkhawatirkan anak itu karena Chanyeollie tahu sendiri sifat Baekhyun seperti apa. Terima kasih karena sudah menjaga uri Baekhyunniee, ya!"
Huft. Entah mengapa perasaan Chanyeol menghangat setelah mendengarkan kata Ibu Baekhyun. Heol seolah-olah mendapatkan restu dari calon mertua hehe. Lelaki itu tersenyum, kemudian menganggukan kepalanya.
"Itu sudah kewajibanku sebagai sahabat Baekhyun, Ahjumma."
"Jangan panggil aku, ahjumma Chanyeollie! Kau bisa memanggilku, ibu. Seperti Baekhyun memanggilku. Dan satu lagi, jangan memanggil Ayah Baekhyun dengan sebutan ahjussi, panggil Ayah saja sudah cukup." Ibu Baekhyun menatap Chanyeol yang tersenyum, kikuk.
"Ah! Baiklah. Ibu." Chanyeol menunduk menyembunyikan rona wajahnya. Ia tidak ingin menjadi bahan ejekan baekbeom hyung, jika sampai lelaki itu melihatnya.
"Eoh! Chanyeollie!" seru Baekhyun setelah melihat Chanyeol duduk berhadapan dengan Baekbeom. "Aku kira kau tidak datang menjemputku."
"Dia sudah menunggumu dari tadi, Baekhyun." sahut Baekbeom kesal.
Sedangkan Baekhyun hanya menganggukkan kepalanya, lucu lalu bergumam 'oh'
Sudah seperti kebiasaan bagi Chanyeol ketika Baekhyun sudah duduk di sampingnya, maka tangan besar Chanyeol dengan cepat mengolesi roti dengan selai strawberry kemudian menaruhnya di piring Baekhyun. Dan Chanyeol melakukan itu hampir di setiap hari saat mereka sarapan bersama.
Baekbeom bergidik ngeri, "Cih, sahabat apa yang melakukan hal-hal seperti itu." kata Baekbeom ketika melihat Chanyeol menaruh roti di piring adiknya. "Kalian pantasnya menjadi pasangan suami-istri tahu." protesnya, lagi.
"YA! Oppa!" Baekhyun menggeram kesal.
Ibu Baekhyun berdehem, "Kalian tidak baik meributkan hal seperti itu di meja makan." katanya dengan wajah serius.
Setelah mendengarnya, Baekhyun terdiam. Kemudian melanjutkan acara sarapannya dan memakan roti yang Chanyeol buatkan tadi. Sungguh beruntungnya hidup Baekhyun dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Walaupun kadang kedua orang tua Baekhyun sibuk, begitu juga dengan Baekbeom yang mulai sibuk membantu Ayahnya menjalankan perusahaan hingga tidak bisa menemani Baekhyun dirumah, dan Baekhyun harus bersyukur karena Chanyeol selalu berada disampingnya ketika dia membutuhkan teman untuk diajak bicara, menemani disaat dirinya merasa kesepian, dan saat Baekhyun membutuhkan seorang pendengar untuk sekedar bercerita tentang kesehariannya, dan Chanyeol-lah satu-satunya orang yang bisa melakukan semua itu.
"Aku sudah selesai." ucapnya setelah menghabiskan satu gelas susu rasa strawberry.
"Let's go, Chanyeollie."
Namaku Byun Baekhyun. Siswi kelas 11-1, memiliki teman sebangku bernama Park Chanyeol. Jika kalian melihat kami berdua, tolong dipisahkan. Hehe.
~ Chanbaek ~
Hoam. Baekhyun menguap.
Matanya terpejam, kelas sejarah memang sangat membosankan untuk Baekhyun yang tidak memiliki minat belajar mengenai sejarah tanah kelahirannya. Andai saja, guru sejarahnya tampan, mungkin Baekhyun sedikit bersemangat mendengarkan penjelasan dari guru tersebut. Tapi, ya namanya juga pelajaran sejarah jadi yang mengajar juga ya sudah berumur dan sedikit pikun. Rupanya bukan hanya Baekhyun saja yang merasa bosan, semua teman sekelasnya merasakan bosan, belum lagi hujan lokal yang terjadi karena gurunya terlalu bersemangat menjelaskan. Sang guru menjelaskan masalah yang sudah berlalu, terus kenapa sekarang masalah itu diungkit kembali? Bukankah Korea Selatan sudah merdeka? Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, benar begitu? Baekhyun berpikir seperti itu.
Baekhyun melirik Chanyeol yang sedang tertidur dibangkunya. Huft, rasa kasihan kini menyelimuti hati Baekhyun. Ia kasihan pada Chanyeol karena setiap pagi harus bangun lebih pagi kemudian pergi ke rumahnya, dan menjemputnya. Tentu saja itu mengganggu jam tidur Chanyeol, hingga kebiasaan baru Chanyeol yaitu tidur di jam pelajaran pertama. Orang yang berani membangunkan Chanyeol adalah Baekhyun. Teman lainnya, jangan harap. Chanyeol tidak banyak memiliki teman selain Baekhyun, dan teman-teman Baekhyun yang Chanyeol anggap sebagai temannya sendiri. Selebihnya tidak ada.
"Chanyeol ah!" bisik Baekhyun sambil mengguncang pelan bahu Chanyeol.
"Hm"
"Chanyeollie, bangun." pintanya.
Chanyeol membuka matanya, mengubah posisinya menghadap Baekhyun. "Aku sudah bangun. Ada apa hum ?"
"Huft. Aku bosan."
"Kalau bosan tidur saja." Chanyeol memberi saran.
"Cih, aku tidak bisa tidur dengan mudah sepertimu, bodoh." sungut Baekhyun.
Chanyeol terkekeh pelan, "Ya sudah. Kalau begitu dengarkan yang dijelaskan Kim Sonsaengnim."
Baekhyun tersenyum, lalu mengangguk layaknya anjing yang patuh pada perintah majikannya. "Aku mau Chanyeollie juga ikut mendengarkannya."
"Iya. Aku juga akan memperhatikanmu." Chanyeol menggodanya.
Okay. Baekhyun menunduk malu, kemudian ia kembali menatap papan tulis dan mulai mencatat apa yang sedang Kim Sonsaengnim tulis di papan tulis. Sementara Chanyeol, dia tersenyum sendirian seperti orang gila. Memperhatikan Baekhyun merupakan salah satu hobi Chanyeol setelah lelaki itu mengenal dengan baik siapa Byun Baekhyun itu.
"Kau lihat, Jongin ah." Sehun melirik Chanyeol sedang tersenyum memandangi Baekhyun. "Kurasa Chanyeol menyukai Baekhyun."
Jongin mengangguk, setuju dengan Sehun. "Aku rasa bukan hanya kita saja yang menyadarinya, tapi seluruh murid di sekolah ini pun mengetahuinya."
"Hm. Benar itu."
"Sehun kau sadar apa yang baru saja kita lakukan?" Jongin menatap sehun tajam.
Sehun mengangkat bahunya, "Memangnya apa?"
"Hey bung! Kita menggosipkan teman kita sendiri" Jongin meninju pelan lengan Sehun.
"Tidak masalah. Selama dia tidak mendengarnya." Sehun terkekeh.
"Kalau begitu aku akan mengadu pada Chanyeol." Jongin mengancam.
"Dan bukan hanya aku saja yang kena, tapi kau juga." Sehun mendelikkan mata, lalu Jongin tertawa pelan.
Bel istirahat berbunyi. Chanyeol dengan antusiasnya menyeret Baekhyun ke kantin sekolah agar mereka mendapatkan tempat duduk yang strategis. Tahu sendiri keadaan kantin di saat jam istirahat jika terlambat sebentar saja tidak akan mendapatkan tempat duduk. Chanyeol membenci keadaan seperti itu, ketika ia dan Baekhyun harus makan siang terpisah -tidak duduk bersama karena bangku kantin yang penuh, mau tidak mau Chanyeol duduk sendiri dan Baekhyun duduk bersama teman perempuannya-
"Kyungsoo-AH!" Baekhyun berdiri dan melambaikan tangan kepada gadis bertubuh mungil, sedikit berisi dan bermata bulat.
Yang dipanggil tersenyum kemudian melambaikan tangannya.
"Baekhyunniee!" Kyungsoo memeluk Baekhyun. Mereka seperti teletubies saja selalu berpelukan ketika bertemu.
"Duduk sini saja, Kyung. Aku dan Chanyeol sengaja mencari tempat lebih dulu, agar kita bisa makan siang bersama. Huh aku merindukanmu,"
"Aku juga merindukanmu, Baek. Oh! Ya! Dimana Chanyeol-mu itu?" Kyungsoo menatap Baekhyun.
Telunjuk Baekhyun terangkat, ia menunjuk ke arah seorang anak laki-laki yang sedang memesan makanan bersama kedua lelaki lainnya.
"Itu." ucapnya.
Kyungsoo tersenyum, "Kupikir kalian berpacaran. Melihat kedekatan kalian yang begitu berlebihan. Menurutku saja, atau memang kalian benar-benar pacaran?" Tanya kyungsoo curiga.
Baekhyun menggeleng pelan. "Aniya. Kami bersahabat sungguh."
"Baiklah. Jika kau tidak mau mengaku. Aku akan menanyakannya sendiri pada Chanyeol."
Baekhyun mendengus, "silahkan tanya saja."
Kyungsoo tertawa pelan. Selalu begitu. Kata Kyungsoo. Baekhyun selalu berkata kalau Chanyeol adalah sahabat nya. Padahal dari cara Chanyeol memperlakukan Baekhyun sudah jelas sekali bahwa Chanyeol menyukai Baekhyun. Tapi yang namanya Baekhyun ya tetap saja Baekhyun. Dia tetap memandang Chanyeol sebagai sahabatnya dan tidak akan pernah mendengarkan apa yang orang lain katakan. Selain Chanyeol.
Chanyeol datang membawa beberapa makanan. Ia memberikan sekotak susu strawberry kepada Baekhyun kemudian membuka kan beberapa cemilan untuknya. Heol. Rahang Kyungsoo hampir saja jatuh melihat Chanyeol memperlakukan Baekhyun dengan baik. Iri sekali rasanya. Jongin saja selaku kekasihnya tidak pernah melakukan hal seperti itu. Sulit dipercaya memang.
"Hati-hati matamu keluar, kyungsoo-ssi." Suara berat Chanyeol berhasil menyadarkan Kyungsoo. Gadis itu menggerutu, tapi tidak bisa terdengar dengan jelas karena suasana kantin yang ramai.
"Ya! Jongin-ah! Kapan kau memperlakukan aku sebaik itu." protes Kyungsoo. Ia mencubit lengan laki-laki berkulit tan tersebut.
AUH! Jongin mengaduh kesakitan. Jika bukan pacarnya mungkin Jongin sudah membalas perbuatan Kyungsoo tadi. "Tapi sayangnya mereka terjebak friendzone, sayang." bisiknya.
Kyungsoo membulatkan matanya, "Benarkah?"
Jongin mengangguk mantab. Yup. Tidak semua yang dikatakan Kim Jongin itu benar. Chanyeol tidak terjebak dalam jalinan pertemanan setan itu. Hanya saja, Chanyeol memang belum berniat dan masih ingin menikmati hubungan mereka seperti ini.
"Hai! Chanyeol-ah." Panggil Seolhyun dengan nada dibuat seakrab, mungkin.
"Hai! Baekhyun-ssi." Sapanya, lagi. Baekhyun hanya tersenyum, kemudian melanjutkan acara makan siangnya.
Sungguh siapa yang mau memperdulikan keberadaan Seolhyun. Si gadis ular, julukannya. Semua murid di sekolah ini mengetahui betapa liciknya gadis itu. Jika Baekhyun mengacuhkan Seolhyun, begitu pula yang dilakukan para sahabat Baekhyun, termasuk Chanyeol juga mengacuhkannya.
"Hum. Baekhyun-ssi bolehkah aku ikut duduk disini?" Tanyanya dengan nada memelas tapi wajahnya mengatakan tidak.
Baekhyun menggeser tubuhnya, "Silahkan duduk."
Kyungsoo memutar bola matanya, ingin sekali dia menjambak rambut panjang seolhyun. Ia teringat dahulu, gadis itu pernah mencoba menggoda Jongin. Untungnya Jongin tidak tertarik dengan tubuh ramping yang Kyungsoo lihat terlihat kurus itu. Huft. Tapi Kyungsoo belum bisa bernafas lega, setelah kedatangan Kim Seolhyun pasti akan menyusul dua orang lagi, Shin Sekyung dan Ahn Sohee. Mereka bertiga kelompok gadis perusak hubungan orang lain.
Kim Seolhyun. Terdengar dari rumor yang beredar, gadis itu pernah menjadi orang ketiga didalam hubungan Ahn Jaehyun dan Goo Hyesun sunbae. Tapi sayangnya, setelah Jaehyun menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Hyesun mengerti dan memaafkan Jaehyun. Ya. Masalahnya itu berada di Seolhyun, gadis itu benar-benar tidak tahu malu, suka berbicara besar tapi tidak ada buktinya. Dia bahkan sekarang ini sedang gencar-gencarnya mengejar Chanyeol. Setiap ada kesempatan Seolhyun selalu mendekati Chanyeol. Contohnya seperti jam istirahat ini.
"Eoh, Chanyeol-ah." panggilnya. Lalu memberikan sekotak bekal makan siang pada Chanyeol. "Ini untukmu."
Chanyeol mengernyit. Ia melirik sekilas ke kotak bekal yang Seolhyun berikan untuknya. Ia tersenyum sebentar, lalu mendorong bekal tersebut kembali pada Seolhyun. "Maaf. Tapi aku sudah kenyang."
"Baekhyunniee" panggil Kyungsoo. Ia tersenyum lebar bermaksud menertawai Seolhyun.
Baekhyun meraih susu strawberry, membuka plastik sedotan, kemudian menjebloskan sedotan tersebut di tempatnya. Ia menyelipkan sedotan ke mulut lalu menyedotnya. Tak ada yang bisa mengganggu kenikmatan Baekhyun saat meminum cairan berwarna pink itu. Kalau ada artis idolanya, Jung Jaewon, juga pasti akan terkalahkan dengan strawberry.
"YA! Byun Baekhyun." Panggil Kyungsoo. Lagi.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Berakhir dengan Baekhyun yang tersedak susu karena ulah Kyungsoo yang terus memanggil namanya.
"Kau baik-baik saja, Baekhyunie?" Chanyeol menepuk pelan bahu baekhyun, gadis itu menganggukkan kepalanya.
"Mian. Baekhyunie." cicitnya.
"Ani. Aku tidak apa-apa, Kyung." Baekhyun tertawa pelan, "Ada apa?"
"Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi, sabtu ini. Luhan, Sehun, Aku dan Jongin akan pergi ke pantai, aku sih berharap kau bisa ikut pergi bersama kami, dan Chanyeol juga. Kuharap kalian berdua bisa ikut." kata Kyungsoo.
Chanyeol dan Baekhyun saling bertukar pandang. Eye contact! Mereka berdua selalu melakukan itu, hingga akhirnya Chanyeol-lah yang mengambil keputusan. Hehe. Maklumi Baekhyun saja. Dia sudah ketergantungan dengan Chanyeol.
"Aku tidak tahu. Jika ayah dan ibu Baekhyun mengizinkan, kami akan ikut."
Namaku Park Chanyeol. Siswa kelas 11-1, hobiku menulis lirik lagu, bermain gitar, dan bernyanyi bersama my favorite girl, Byun Baekhyun. Jika kalian melihat kami duduk ataupun jalan bersama, doakan saja semoga Aku bisa menjadi kekasihnya.
•••
Tbc!
Halo! Ey! Setelah lama tidak pernah membuat FF lagi. Entah ini ada kemajuan atau tidak, saya sih merasa tidak ada kemajuan sama sekali, tapi saya bukanlah orang yang akan menyerah dengan gampang! Hehehe, tolong dimaklumi jika alurnya sedikit tidak nyambung. Dan ditunggu reviewnya, gak apa mau nulis review jelek bagus saya terima asalkan ada alasannya ~~
Pyong!
