Time Rewind

Blue Exorcist Kazue Kato

Story Here Athanasia976

Hal yang Rin tahu adalah, akan ada hari dimana dia akan dibenci oleh teman-teman. Dia terus memghitung hari kapan itu terjadi, Amaimon sudah mulai akan bermain dengannya dan saat itulah identitasnya akan terbongkar. Apa yang akan dia lakukan, dia juga masih belum menarik pedangnya dan juga belum masuk ke ruang rahasia tempat ayahnya menyimpan pedang.

Rin sudah tahu apa yang akan terjadi dimasa depan, meskipun dalam time line ini, Ayah Shiro masih hidup tapi berapa lama dia akan hidup, usia Shiro sudah tidak muda lagi. Berapa lama ayah akan bertahan sementara bahkan saat ini Satan juga memparasit mata Yukio. Dia mengawasi semuanya baik dari sisi ayahnya atau adiknya, oleh sebab itu Rin harus berhati-hati dalam bertindak agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Rin hari ini kedatangan ayahnya lagi Shiro. Dia datang tepat saat Yukio dan dirinya sarapan.

"Pagi ini hari yang cerah, mama

Seperti biasa ayahnya akan datang dengan candaan garing untuk meledeki Rin, namun Rin sama sekali terlihat tidak peduli alih-alih membuat Shiro merasa seperti tidak melihatnya sama sekali.

"Masih pagi, ayah sudah kesini, kupikir kau akan sibuk seperti biasannya." Ketus Rin.

"Kenapa memangnya, aku hanya ingin makan bersama kalian, apa salahnya." Kata Shiro.

Entah mengapa hari ini mendadak Rin memilki mood yang buruk. Rin juga sebisa mungkin membuang wajah ketika Yukio menatapnya, dia tidak suka melihat matanya lebih tepatnya pengintip di matanya.

Masalanya dua orang di depannya ini terhubung secara langsung dengan Satan. Rin tidak nyaman karena di awasi.

"Ngomong-ngomong kau sudah ada kemajuan." Shiro menanyakan.

"Kemajuan apa?." Rin balik serius pada Shiro.

"Apa kau punya pacar." Shiro menyikut lengan Rin.

"Kupikir apa yang mau ditanyakan." Rin mendelik tajam.

"Kau lihat Yukio dia punya banyak penggemar, setidaknya kau punya satu." Kata Shiro.

"Aku bukan kau yang saat mudanya play boy yang suka main perempuan….ooppss." Rin keceplosan menyebutkan masa lalu Shiro.

Untuk sesaat Shiro terkejut sambil memuncratkan teh yang sedang dia minum.

"Tentu saja, aku ini dulu tampan dan terkenal." Bual Shiro.

Rin berwajah masam saat Shiro mengatakannya. Iya benar Shiro banyak pacar karena dia playboy. Shiro pernah menceritakan bahwa masa SMA yang punya band. Omong kosong dia bohong soal itu, tapi Rin tidak memberikan banyak respon saat itu. Dia sempat berpikir ayah angkatnya keren walaupun kenyataanya menyakitinya.

Untuk beberapa hal Rin bersyukur walaupun Shiro terlihaot brengsek dimasa muda tapi dia orang baik. Dia cukup berhasil menjadi seorang ayah, walaupun tidak sempurna, lagipula mana ada yang sempurna.

Tapi dia lebih khawatir pada Yukio. Yukio mudah sekali frustasi. Hal ini lah yang selalu dia khawatirkan, Saat kecil Yukio sudah terlihat dewasa karena pergaulannya, untunglah dia terkenal jika tidak, dia mungkin akan di anggap anti sosial karena menarik diri dari pergaulan. Dulu Rin sangat ingin seperti Yukio, dia bahkan bertanya-tanya sisi mana dari dirinya yang membuat Yukio iri padahal dia itu sempurna. Andai saja dunia normal, mungkin masa kecilnya akan menyenangkan Yukio tidak perlu berlatih keras untuk menjadi exorcist dan dia akan punya waktu untuk bermain dengannya. Rin dulu heran mengapa Yukio selalu sibuk belajar meskipun itu libur merasakan ada benteng besar antara dia dan Yukio. Ayahnya hanya mengajarkan Rin cara memasak. Sementara dia bersusah payah sendirian. Rin tahu kenapa ayahnya membedakan mereka. Secara kasar itu dimaksudkan karena Rin tidak akan becus jika menanggung tanggung jawab seperti itu. Rin tahu diri bahwa dia itu bodoh dan urakan. Tapi seandainya Yukio tahu bahwa dia beruntung, dia lebih di sayangi oleh ibu Yuri dibandingkan dia. Bahkan ibu Yuri mengikutinya sejak dia balita walaupun tidak lama karena Yukio yang takut karena jiwa ibu Yuri yang tidak utuh sehingga terlihat menakutkan. Sedangkan Rin tidak melihatnya sama sekali. Jika kehidupan selanjutnya ada dia ingin lagi bermain membuat boneka salju bersama Yukio. Itu jika kehidupan selanjutnya berlaku untuk Rin.

Disekolah, Rin memperhatikan anak-anak yang ada dikelas regulernya. Jika ini dulu dia biasanya tidak peduli sambil membaca manga, tapi dia tidak melakukan itu, manga yang baru saja keluar tahun ini cerita akhirnya sudah Rin ketahui. Ketika dia dewasa bacaannya juga telah berubah pada buku seperti Novel. Dia suka Harry Potter dan lainnya, itu pun buku itu dia dapat dari reruntuhan perpustakaan, awalnya dia benci buku dengan banyak tulisan tanpa gambar. Tapi setelah dia memutuskan membawanya dia perlahan tertarik saat membacanya.

Rin kenal semua teman kelasnya dan nama-nama mereka, dulu dia tidak tahu karena dia punya dunianya sendiri. Dia juga kenal anak kembar lain di kelas lain. Kembar yang satu itu dari yang Rin dengar seperti dia dan Yukio kembar yang saling bertolak belakang hanya saja bedanya, salah satunya adalah seorang gadis dan kakaknya adalah preman berandalan di sekolah.

Di kehidupan lalu teman Rin hanya anak kelas tambahan yang di kelas regulernya tak satupun dari teman kelas tambahannya sekelas dengannya. Dalam kehidupan saat ini Rin sangat ingin bisa mengikuti salah satu club, bergabung dengan banyak orang. Tapi dia memikirkan Yukio, dia juga tak melewati masa itu, egois baginya jika dia melakukan itu sekarang, lagipula hari kebangkitan Satan juga sudah dekat. Usianya juga sebentar lagi usianya 16 tahun.

Kurang lebih saat ini adalah, angin tenang sebelum badai. Dia juga harus memperhatikan Yukio, terutama mentalnya, anak itu sewaktu-waktu bisa menggila. Dia bahkan berubah menjadi antagonis.

Hari ini lumayan spesial, Paladin secara khusus datang untuk mengajar kelas tambahan. Itu sama sekali tidak Rin duga karena ayahnya tidak pernah muncul di kelas. Rin rasanya ingin masuk ke bawah meja untuk bersembuyi.

Seisi kelas riuh padahal enam orang, kecuali Rin langsung dengan sikap berlebihan masuk kebawah meja saat Shiro baru saja masuk ke kelas. Yang lain menjadi serius karena seorang paladin datang mengajar. Ya jika Yukio dulu dia pasti tidak merasa aneh, bagi Yukio yang tahu semua sifat keras Shiro dan tegasnya sebagai pemimpin. Tapi Rin yang lebih banyak tahu betapa konyol ayahnya itu di biara dan bagaimana saat dia muda, rasanya seperti saat ini Shiro adalah orang lain.

Perilaku Rin menimmbulkan perhatian, Shiropun menyadari bahwa Rin langsung bersembunyi saat melihatnya. Shiro heran kemudian dengan iseng memangggil Rin.

"Siapa itu murid yang bersembunyi di bawah meja." Panggil Shiro.

"Ini Okumura Pak." Shima menunjuk sambil berdiri.

"Eh maaf sepertinya ada…."

"Pak Okumura sakit, jadi dia kesakitan kalau duduk terlalu lama, jadi dia berjongkok sesekali." Kata Shima.

"Sakit apakah itu." Tanya Shiro.

"Itu sakit yang membuat penderita tidak bisa duduk dengan nyaman." Shima menjawab dengan berkedip pada Rin.

Aku cukup membantu kan Rin.

Semua temannya tertawa geli, Rin tahu sakit apa yang mereka kira, itu sungguh memalukan.

"Jangan sering lelah Rin nanti itu semakin parah." Ryuji menahan tawa.

Rin mendelik pada Shima dan dia hanya tersenyum.

Kerja bagus Shima. Seratus jari tengah untuk pembelaanmu.

Saat kelas bubar Rin mengubur wajahnya di meja karena malu. Jika Shiemi sampai menawarkannya obat herbal untuk penyakit bohongan yang dikatakan Shima. Rin akan langsung menenggelamkan diri di ember.

Shima sepertinya lupa kalau Shiro adalah ayah angkat Yukio yang tentu saja seharusnya semua tahu kalau Rin berarti juga anak angkatnya.

Ya dia juga sih yang bodoh, seharusnya dia tahu kalau suatu hari Shiro pasti akan mengajar di kelas ini, mengapa harus sembunyi. Betapa bodohnya dia. Sepanjang kelas semua terasa canggung, Shiro beberapa kali menyenggolnya dengan pertanyaan. Tidakkah dia memgerti kalau Rin akan malu jika tidak berhasil menjawab. Rin masih tahu diri walaupun kehidupan sebelumnya dia sudah Exorcist kelas atas tetap saja dia masih bodoh dalam pelajaran.

Saat diluar Yukio berpasan dengannya.

"Nii-san ku dengar kau sakit, apa itu benar." Yukio bertanya dengan senyum biasa.

"Kumohon diam lah, aku rasanya akan benar-benar menjadi sakit parah." Rin mengeluh pada Yukio.

"Aku dengar dari ayah." Yukio berkata dengan curiga.

"Okumura jadi memang di katakan Shima." Ryuji tiba-tiba datang.

"Ini salahmu ya." Rin berbisik pada Yukio.

Rin kesal Yukio menanyakannya.

"Kenapa aku yang salah." Yukio menyangkalnya.

"Iya kenapa Okumura yang salah." Shima bertanya.

"Ayolah kawan, itu hanya omong kosong Shima." Kata Rin.

"Tapi kalai iya, ayah mu memang tidak tahu, atau kau tidak beri tahu." Ryuji bertanya.

"Ayolah aku hanya grogi karena aku melihat ayahku didepan kelas, sebelumnya aku tidak pernah melihatnya sebagai guru, dan semua yang dikatakan Shima, aku juga tidak habis pikir dia akan mengatakan itu." Rin mengeluh.

"Oh iya, kalau Okumura sensei anak angkatnya Tuan Paladin berarti kau juga……" Shima menutup mulutnya.

Malam itu Rin bertanya-tanya kapan ayahnya akan memberikannya Koumaken, apa dia harus menanyakannya, tapi ayahnya akan curiga jika dia menanyakannya, pasalnya ayahnya belum menceritakan soal koumaken.

Rin berjalan menaiki tangga asramanya yang gelap, Saat itu dia melihat Yukio berdiri di belokan tangga. Entah bagaimana, dia seperti melihat mata kiri Yukio seperti lebih terang dalam gelapnya tempat itu.

"Nii-san kau baru pulang, Yukio berdiri di belokan tangga, Rin yang mendongak melihatnya tanpa sadar berjalan mundur dan tepat saat itu dibawah ayah angkat muncul memanggilnya.

"Rin." Shiro memanggil.

Mendadak Rin seperti melihat masalalu, saat Rin menoleh tubuhnya jatuh terguling di tangga, hingga kesadarannya menghilang, dia hanya bisa mendengar suara saudara dan ayah angkatnya memanggilnya.

Keesokannya, Rin terbangun dia pikir semalam adalah mimpi. Tapi ketika dia mencoba bangun tubuhnya sakit, karena cedera. Rin ingat semalam sepertinya dia mengalami delusi saat melihat ayah dan saudaranya. Saat itu pula dia melihat Yukio dan ayahnya terjaga disana.

"Kau baik-baik saja Nii-san." Yukio bertanya.

"Ya aku baik-baik saja." Rin mencoba duduk.

"Apa yang terjadi sampai kau jatuh terguling seperti itu." Shiro bertanya pada Rin.

Rin menjadi pucat saat dia ditanya.

"Semalam itu gelap sekali aku tak melihat dengan baik." Rin beralasan.

Sebenarnya memamg lampu asrama hanya menyala di beberapa ruangan yaitu dapur, kamar 602 dan kamar Shura karena asrama ini kosong.

"Kurasa penerangan di asrama ini harus di tambah." Yukio berpendapat.

"Aku akan bilang pada Mephisto." Jawab Shiro.

Sebenarnya itu tidak perlu. Rin sama sekali tidak memerlukan itu, yang semalam itu bukan karena gelap.

Sementara itu Mephisto.

"Jadi kau kurang berminat?." Mephisto berkata sambil meminum tehnya.

"Nii-san, kulihat Okumura tidak cukup kuat." Amaimom bicara sambil makan Takoyaki.

"Iya tunggu saja sampai dia memegang Koumaken." Mephisto meminum tehnya.

Mephisto masih menunggu Shiro menyerahkan pedangnya, Koumaken pedang yang dia buat seratus lima puluh tahun yang lalu. Sementara Shiro masih berpikir untuk segera memberikannya, dia hanya tidak siap jika wujud Rin akan berubah.

Rin berjalan keluar asrama, dia melihat siluet hijau. Dia tahu itu adalah Amaimon, tapi dia tidak peduli karena dia tahu bahwa dia sedang di awasi. Rin juga tahu bahwa amaimon mungkin akan muncul atau mungkin juga tidak karena dia belum memiliki pedang.

Yukio di saat ini masih lebih tenang di banding dulu, mungkin karena ayah angkatnya masih hidup dan dia masih bisa pura-pura sempurna. Rin bahkan masin tidak percaya hari ini dia masih bisa melihat Shiro. Yukio masih belum kehilangan pembimbingnya. Setidaknya mentalnya masih baik-baik saja. Hubungannya dengan teman-temannya juga masih baik. Kemudian bagaimana kabar Grigori. Mengingatnya dia jadi ingat Shiemi dia itu kan Nephilim Shemihaza, dan juga Shima dia itu agen ganda dan Shura dia masih menyamar sebagai Yamada. Kiranya apakah akan ada perbedaan jika dia di sidangnya setelah ketahuan sebagai anak satan dan Yukio di kontrak Morinas, tapi sekarang ayah angkatnya masih hidup dan apakah ayah angkat akan di turunkan dari jabatannya sebagai Paladin atau bahkan dipenjara. Rin sejujurnya sulit melakukan semuanya sendiri, dia perlu seseorang.

Banyak yang dia pikirkan. Haruskah dia beri tahu ayahnya dan Yukio tapi mereka jendela Satan, haruskah dia beritahu Shiemi soal ini dan fakta bahwa dia adalah Nefilim Shemihaza tidak mungkin juga.

"Jadi membimbangkan ya." Kata Rin lain.

"Hmm kita tidak bisa melakukan sendiri." Kata Rin.

"Tunggu saja saat Misi di Taman Hiburan Mephyland dan Saat kemah nanti Amaimon pasti akan mengganggu, dan perlahan tapi pasti Kakek tua itu akan memberimu Koumaken." Kata Rin Lain.

Rin mengangguk, sementara Yukio ada disana, mendengar Rin bicara dan menjawab sendiri. Yukio tak mendengar secara jelas apa yang dikatakan Rin tapi sepertinya Rin bicara dengan intonasi yang berganti-ganti.

Ada apa dengam Nii-san.

Sementara Rin menatap langit cerah dari jendela, langit yang masih indah dimana dia melihat burung yang berterbangam dan langit yang juga akan menjadi suram dimana Coal Tar dengan jumlah tak terbatas menutupi angkasa. Saat dia menutup mata dia melihat kembali langit itu dan ketika membuka matanya lagi pemandangannya kembali seperti semula.

TBC

Author Note

Halo semua, sahabat Penaku. Saya kembali setelah sekian lama. Maaf saya lambat update karena saya bekerja sekarang sulit untuk saya membagi waktu. Tapi masih ingin menamatkan semuanya.

Terima kasih untuk kalian yang menunggu bahkan sampai ada yang memberikan healing Item dan juga kirim pesan pribadi ke saya. Terima kasih semuanya