Name: The Reading of Naruto

Author: FCI. Arcana-paisen

Genre: Adventure, Family

Rating: T

Disclaimer: Naruto dan banyak unsur crossover lainnya sepertu Highschool DxD, Rosario Vampire, Akame ga Kill, Fate series, bukanlah milik saya.

.

.

.

Chapter 1: Uzumaki Naruto

The Watcher saat ini sedang melihat anak-anak Naruto dari berbagai dimensi yang dia ambil dari dimensinya masing-masing untuk membaca perjuangan ayah mereka menjadi seorang shinobi. Mulai dari Boruto Uzumaki, Menma Uzumaki, Minato Uzumaki dan anak-anak Naruto yang lain.

"Jadi siapa yang akan membaca buku ini?"

"Aku yang akan membacanya terlebih dahulu." Balas Boruto yang kemudian mengambil buku yang berada di tangan The Watcher "Chapter pertama, Uzumaki Naruto."

.

.

Pada suatu hari, sebuah monster rubah berekor sembilan muncul dan mengamuk di tempat bernama Konohagakure no Sato. Monster rubah itu sangatlah kuat, bahkan hempasan ekornya saja mampu menghancurkan gunung dan menyebabkan Tsunami ...

.

.

Untuk mengalahkan monster ini, orang-orang dan semua Shinobi berkumpul ...

.

.

Sampai akhirnya, muncullah seorang Shinobi pemberani yang mampu menyegel monster itu ...

.

.

Namun, dia harus berkorban kehilangan nyawanya sendiri ...

.

.

Shinobi itu dikenal sebagai ... "Yondaime Hokage."

.

.

"Jiji..." Gumam banyak anak Naruto saat melihat sosok kakek mereka saat sosok Minato Namikaze terlihat di dalam layar.

"Oh ya, The Watcher ... Bisakah aku bertanya sesuatu?" Tanya Menma A yang kemudian melanjutkan "Kurama-san adalah yang terkuat dari kesembilan Bijuu kan? Menurutmu kalau diadu dengan Great Red, siapakah yang akan menang?"

"Tentu saja Kurama-san. Benar kan minna?" Balas Boruto dan dibalas anggukan kepala oleh anak-anak Naruto yang tidak menahu tentang sekuat apa Great Red itu.

"Maaf Boruto-san. Tapi Great Red lebih kuat dari Kurama-san. Bahkan dia bisa mengalahkan dan hampir membunuh Naruto-san yang notabene-nya lebih kuat dari Kurama-san dan mempunyai 9 chakra Bijuu saat dia baru saja tiba di dimensi Asia-san." Balas The Watcher dan itu membuat banyak anak Naruto yang tidak tahu menahu tentang Great Red terkejut karena setahu mereka yang bisa mengalahkan Kurama hanyalah Juubi, Madara dengan mata Mangekyou dan Rinnegan-nya juga beberapa anggota dari klan Otsutsuki "Tapi bukan berarti Red-kun tidaklah terkalahkan. Bahkan di salah satu dimensi yang aku pantau, aku bisa melihat kalau Great Red tewas dibunuh seseorang."

Semua anak-anak Naruto yang tinggal di dimensi yang biasa dipanggil sebagai dimensi DxD dibuat terkejut saat mendengar ada makhluk yang bisa membunuh Great Red yang bisa dibilang sebagai eksistensi terkuat di dimensi DxD, bahkan ibu dari sahabat Aisha yang bernama Lilith yaitu Ophis tidak bisa mengalahkan Great Red.

Asia yang mendapatkan penglihatan tentang Bad Future setelah dirinya sekarat saat Sacred Gear miliknya diambil, langsung berkata "Apa itu—"

"Bukan..." Balas The Watcher yang kemudian melanjutkan "Yang membunuh Great Red bukanlah Trihexa. Dia adalah eksistensi terkuat yang muncul tidak tahu dari mana tapi dia punya cukup kekuatan untuk menghabisi Great Red. Tapi tenang saja, sosok ini tidaklah ada di dimensi kalian semua anak Naruto yang tinggal di dimensi DxD. Dia hanyalah ada di dimensi DxD dimana ayah kalian tidak pernah muncul dan menikahi ibu kalian."

Boruto sebenarnya ingin bertanya tentang sekuat apakah Great Red itu sebenarnya meskipun di salah satu dimensi, dia berhasil terbunuh. Tapi dia urungkan dan langsung melanjutkan bacaannya.

.

.

Hari itu pemandangan desa Konoha tak tampak seperti biasanya. Keempat patung wajah Hokage yang biasanya terlihat gagah, kini tampak tercorat-coret cat seorang bocah yang usil.

.

.

Melihat wajah sang anak usil yang mencoret-coret patung dari para Hokage terdahulu, Alisa melihat sang anak usil itu terlihat familiar dan itu membuatnya berkata "Apa itu tou-chan sewaktu dia masih muda?"

Para anak dari Naruto yang mendengar itu terlihat tidak merespon perkataan Alisa karena merasa malu melihat kelakuan usil ayahnya saat dia masih kecil.

Sedangkan dengan Boruto, alis dia terlihat berkedut dan berkata "Dasar baka-oyaji. Seenaknya saja dia memarahiku karena melakukan itu, padahal dirinya sendiri sama saja."

Dan hal itu membuat semua orang disana menahan tawa.

.

.

"Wahahaahahaha." Tawa bocah nakal itu sambil terus mencorat-coret.

.

.

Sementara itu di gedung Hokage, dua shinobi melaporkan hal ini ...

.

.

"Hokage-sama!"

.

.

"Ada apa? Apa Naruto membuat masalah lagi?" Tanya sang Sandaime Hokage, Hiruzen Sarutobi.

.

.

"Iya! Dia berulah lagi, kali ini di monumen Hokage." Balas seorang shinobi.

.

.

Seorang shinobi yang berada di dekatnya juga berkata "Dan kali ini, dia menggunakan cat."

.

.

"Hmm ..."

.

.

"Jadi siapa dia dan apa hubungannya beliau dengan ayah?"

Mendengar pertanyaan Asia, Akira pun menjawab "Dia itu adalah Sandaime Hokage, Hiruzen Sarutobi. Dia adalah sosok Hokage yang menjabat sebelum jiji. Tapi karena kematian jiji, Hiruzen-jiji terpaksa harus menjadi Hokage kembali. Dia juga merupakan sosok yang dianggap kakek oleh tou-chan."

"Apa dia masih hidup Akira-san?"

"Nanti kau juga tahu sendiri." Balas Akira dengan nada sedih. Bisa dilihat kalau Boruto dan Himawari juga sedih karena mereka juga tahu nasib sosok yang dianggap kakek oleh sang ayah itu

.

.

Kembali ke tempat si bocah nakal ...

.

.

Di bawahnya, tepatnya di atas gedung Hokage, tampak orang-orang berkumpul untuk melerainya ...

.

.

"Hey! Berhenti membuat masalah!"

.

.

"Hentikan perbuatanmu itu!"

.

.

"Kau akan membayar semua ini!"

.

.

"Lihat apa yang dia lakukan!" Teriak orang-orang yang berada disana.

.

.

"Aku tidak tahu kenapa tapi aku merasa sebagian dari mereka membenci tou-chan dan itu bukan karena kejahilannya." Ucap Minato, Menma dan Seneca terlihat setuju akan perkataan Minato dan Akira, Miyuki, Boruto, Menma dan Natsumi yang mengetahui alasan sebenarnya mereka terlihat membenci ayahnya hanya diam seribu bahasa saat mendengar kata-kata Minato.

.

.

"Diam kalian orang-orang bodoh!

.

.

Tak seorang pun dari kalian berani melakukan hal ini! Tapi aku bisa. Itu berarti aku hebat kan!" Teriak bocah bernama Naruto itu ke orang-orang dengan senyum khasnya.

.

.

"Gzzzz, apa yang bocah bodoh itu lakukan?"

.

.

Dari tengah kerumunan orang-orang itu, Sandaime Hokage muncul.

.

.

"Hokage-sama! Maafkan aku soal ini." Ucap Iruka yang juga ada disana.

.

.

"Siapa itu?" Tanya Menma A

"Dia itu guru pertama dari otou-sama." Balas Natsumi yang kemudian bertanya pada anak dari sosok yang telah membunuhnya, hampir membuatnya membunuh adiknya dan juga selalu membuat masalah pada ayahnya "Bukan begitu Boruto-san?"

"Ya begitulah..." Balas Boruto yang melanjutkan "Meskipun beberapa dari kami mengganggap beliau sebagai kakek kami."

Akane B, Alisa dan Yuu tidak menyangkal itu karena mereka bertiga juga mengganggap Iruka sebagai kakek.

.

.

"Oh, Iruka?"

.

.

"Apa yang kau lakukan!? Ini masih jam pelajaran! Cepat turun dari sana bodoh!" Teriak Iruka.

.

.

"Oh tidak, itu Iruka-sensei"

.

.

Naruto tak mampu mengelak lagi.

.

.

Akhirnya, Naruto tertangkap. Tubuhnya diikat dan kemudian dibawa ke depan ruang kelas.

.

.

"Syukurin kau, dasar baka-oyaji." Ucap Boruto yang tertawa terbahak-bahak saat melihat sang ayah diikat dan diseret oleh Iruka sama seperti yang dia lakukan kepadanya karena salah satu dari kejahilannya. Anak-anak Naruto yang lain termasuk Himawari hanya bisa facepalm melihat Boruto tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.

.

.

"Besok adalah hari ujian akhir sekolah akademi dan dan kau telah gagal dua kali! Ini bukan waktu yang tepat bagimu untuk membuat masalah, bodoh!" Bentak Iruka.

.

.

"Terserah..." Balas Naruto acuh tak acuh.

.

.

"Ini seriusan?" Tanya Menma A yang kemudian melanjutkan "Sosok Shinobi terkuat seperti tou-chan yang kekuatannya hanya bisa diimbangi oleh Sasuke-sensei bisa sampai gagal ujian tiga kali?"

Yang lain seperti Minato, Asia bahkan Natsumi juga tidak menyangka kalau sang ayah bisa gagal ujian berkali-kali padahal ayahnya termasuk salah satu Shinobi terkuat. Akane B yang mendengar itu langsung menjelaskan "Ayah gagal karena dia kurang bisa menggunakan teknik bunshin dengan benar. Aku tahu kalau kalian akan bilang kalau ayah pengguna merupakan salah satu pengguna Kage Bunshin terbaik yang bisa membuat 100 atau 1000 bunshin tapi teknik bunshin biasa berbeda dengan teknik Kage Bunshin. Karena ayah mempunyai chakra pool yang lumayan besar maka ayah tidak akan bisa menggunakan teknik bunshin biasa tapi beda ceritanya dengan Kage Bunshin yang akan membagi chakra ayah secara rata ke setiap klon-nya. Jadi ayah yang mempunyai chakra reserve yang besar akan mengalami kesulitan saat menggunakan teknik bunshin biasa yang membutuhkan sedikit chakra tapi tidak dengan teknik yang menggunakan chakra besar seperti Kage Bunshin.

"Masuk akal."

.

.

"!"

.

.

Iruka semakin kesal, dan akhirnya ...

.

.

"Saatnya untuk ujian "Henge no jutsu", semua orang berbaris!"

.

.

"Apa!?"

.

.

Murid-murid terkejut mendengar ujian dadakan ini. Beberapa dari mereka juga mulai menatap Naruto dengan tatapan benci karena merasa kebandelan dari Naruto inilah yang membuat Iruka membuat ujian dadakan.

.

.

"Berubahlah menjadi wujudku dengan sesempurna mungkin!" Ucap Iruka dan kemudian murid-muridpun memulai ujiannya.

.

.

Murid-murid mampu berubah wujud ke Iruka dengan baik. Hingga akhirnya, tibalah giliran Naruto ...

.

.

"Oke, bagus, selanjutnya ... Naruto Uzumaki."

.

.

"Huh, si bocah pencari gara-gara ..."

.

.

"Ini semua salahnya."

.

.

Mendengar gerutuan para siswa disana kecuali Sasuke yang hanya diam tanpa ekspresi, Shikamaru dan Chouji membuat Alisa merasa geram. Dia tahu ayahnya nakal dan karena perbuatannya itu membuat mereka semua murid disana mendapatkan ujian dadakan. Tapi tetap saja, dia tidak suka melihat tatapan kebencian yang mereka berikan pada ayahnya.

Akane B yang melihat kemarahan sang adik yang dia coba pendam langsung menggenggam tangan sang adik untuk menenangkannya, dan itu membuat sang adik berkata "Arigatou, onee-chan."

"Sama-sama, Alisa-chan."

.

.

"Baik."

.

.

Naruto melangkah maju, dan kemudian bersiap ...

.

.

"Henge!"

.

.

Naruto memusatkan chakra, bersiap untuk berubah dan ...

.

.

Boft

.

.

Dia pun berubah. Namun bukannya berubah wujud menjadi Iruka, dia malah berubah menjadi wanita seksi tanpa busana.

.

.

Wajah banyak lelaki disana seperti Minato, Menma A, Arashi dan Akira memerah bahkan mereka sampai mimisan membuat banyak sanak keluarga mereka disana malu mempunyai saudara seperti mereka. Sedangkan The Watcher tidak terlihat begitu peduli dengan hal itu sedangkan Menma B masih terlalu polos dan tidak mengetahui apa-apa walau dia pernah mandi bersama dengan dua kakaknya dan saudara kembarnya yang entah kenapa tidak bersama dengan dia dan kedua kakaknya saat ini.

Luna yang melihat itu pun mendengus dan berkata "Semua pria sama saja, menjijikkan."

"Hey!" Teriak Minato, Menma A, Arashi dan Akira yang tidak terima dengan perkataan putri dari Man-Hater Goddess itu, tapi hal itu tidak digubris oleh Luna "Tidak semua pria seperti itu."

'Andai saja kau ada disini Percy.' Batin Luna yang menghela nafas karena ketidak hadiran kekasihnya karena dia merasa Percy adalah pria yang perfect menurutnya sama seperti ayahnya dan dia tidak mesum. Andai saja kau tahu, Luna kalau kekasihmu itu sama saja mesumnya dengan beberapa saudaramu dari berbagai dimensi itu.

.

.

"!"

.

.

Iruka nosebleed, darah dari hidungnya mengalir begitu deras.

.

.

"Tapi fakta berkata lain, para saudaraku dari berbagai dimensi." Ucap Luna membuat alis beberapa pria disana berkedut sedangkan para gadis disana terlihat menahan tawa saat melihat kemarahan saudara-saudara mereka yang ditahan.

"Kau memang agak savage sama seperti ibumu, Luna Uzumaki." Balas The Watcher pada Luna yang terlihat tidak merasa tersinggung sama sekali mendengar sindiran The Watcher.

.

.

"Wahahahahaha."

.

.

Naruto kembali ke wujudnya semula.

.

.

"Aku menamai jutsu ini ... Oiroke no Jutsu!"

.

.

"Bodoh!" Teriak Iruka yang terlihat kesal karena dipermalukan di depan banyak orang seperti itu "Jangan menciptakan jutsu aneh seperti itu."

.

.

Setelah jam istirahat, Iruka meminta agar Naruto membersihkan patung wajah Hokage yang ia corat-coret.

.

.

"Aku tak akan meninggalkanmu sampai semua akibat dari kenakalanmu ini tuntas." Ucap Iruka yang mengawasinya dari atas patung.

.

.

"Huh, memangnya aku peduli ... Lagipula selama apapun tak ada yang menungguku dirumah ..."

.

.

Naruto menundukan kepala sambil terus mengusapnya, tampak dia sedang menyembunyikan suatu rasa sedihnya.

.

.

Anak-anak dari Naruto itu tampak sedih saat mendengar perkataan Naruto. Mereka bisa mengerti apa yang ayahnya rasakan walaupun kisah mereka tidak sekelam sang ayah. Seperti Lucina dan Menma yang tidak bisa merasakan rasa sayang sang ayah selama bertahun-tahun atau Akane A yang harus kehilangan sang ibu sejak lahir.

"Kau tidak apa-apa, Akane-chan?"

"Aku tidak apa-apa onee-chan." Balas Akane A yang menghapus air matanya dan kemudian melanjutkan "Aku pikir hidupku menyedihkan karena harus berpisah dari ibuku sejak lahir, tapi ayah malah mengalami hal yang lebih daripada aku."

Mendengar itu sang kakak pun memeluknya dan menenangkannya

.

.

"Naruto ..."

.

.

Iruka melihatnya dan seolah bisa mengerti.

.

.

"Apa?"

.

.

Naruto kembali memasang wajah cemberut dan melihat Iruka.

.

.

"Ummm, jika semuanya telah bersih, akan aku traktir kau ramen malam ini." Ucap Iruka.

.

.

"Ah!"

.

.

Naruto tersenyum senang.

.

.

"Oke! Kalau begitu aku akan bekerja keras sekuat mungkin!" Ucap Naruto.

.

.

Malam tiba dan Iruka pun benar-benar mentraktir Naruto ramen di kedai Ichiraku ...

.

.

Melihat makanan favorit mereka di layar, anak-anak dari Naruto terlihat mengeluarkan liur-nya dan berkata "Ah, ramen..."

"Hmm, coba saja ramen itu ditambah es batu. Pasti akan semakin sempurna."

Mendengar perkataan Seneca, banyak anak-anak dari Naruto terlihat terkejut dan menatap Seneca seperti dirinya merupakan orang yang gila sedangkan sang kakak hanya bisa facepalm saat melihat hal itu karena dia sudah tahu sekali kegilaan adiknya itu.

"Es batu dalam ramen. Ke—Kegilaan macam apa ini?" Tanya Minato dengan nada frustasi. Yang lain juga merasakan rasa frustasi yang mendalam sama seperti Minato

Seneca yang mendengar itu pun menatap tajam Minato dan berkata "Apa maksudmu kegilaan? Ramen dengan es batu itu adalah perfection. Benar kan onii-chan?"

Melihat semua tatapan orang-orang kecuali The Watcher menatapnya, Menma pun meneguk ludah dan berkata "Seneca-chan... Aku tahu kau itu adikku yang cantik dan manis tapi bisa tidak kau tidak membuatku malu disini."

Mendengar perkataan itu membuat putri bungsu dari Naruto Uzumaki dan Grayfia Lucifuge itu cemberut dan membuat banyak orang menahan tawa, membuatnya menatap tajam mereka semua.

"Selera kalian semua itu payah."

Mendengar celetukan Seneca, mereka semua kecuali The Watcher pun membatin 'Seleramu saja yang agak gila, Seneca-san.'

.

.

"Naruto ..."

.

.

"Ng?"

.

.

Naruto makan ramen dengan lahap-nya.

.

.

"Kenapa kau melakukan hal seperti itu pada monumen Hokage?"

.

.

"Apa kau tidak tahu, siapa Hokage itu?" Tanya Iruka.

.

.

"Tentu saja aku tahu ..." Balas Naruto.

.

.

"Umumnya mereka yang bergelar Hokage, adalah mereka yang terkuat di desa ini bukan?

.

.

"Dan di antaranya ada Yondaime Hokage yang telah menyelamatkan desa dari monster Kyuubi."

.

.

"Lalu kenapa kau melakukannya?"

.

.

Mendengar pertanyaan Iruka sekali lagi, dia berkata dengan nada tegas "Yah, suatu hari nanti aku juga akan menjadi Hokage, dan aku akan melampaui mereka semua!"

.

.

"Kenapa dengan dia?"

"Kakakku selalu merasa bersalah karena dia merasa ayah tidak bisa menjadi Hokage karena dia dan membiarkan Elemental Nation di dimensi kami hancur."

Mendengar perkataan Arashi, Boruto pun berkata pada Aisha "Apa ayah benar-benar mencintai ibumu?"

"Tentu saja tou-chan mencintai kaa-chanku! Apa-apaan pertanyaanmu itu?" Tanya Aisha yang tidak terima atas pertanyaan Boruto yang merupakan putra dari sang ayah dan sosok yang telah hampir membunuhnya berkali-kali saat dia masih bayi dan bahkan dia juga hampir membuat sang kakak membunuhnya saat dia masih bayi karena dia menggunakan teknik Edo Tensei pada sang kakak. Karena kebenciannya pada sosok Hinata Hyuga di dimensi-nya, dia bahkan sudah mengeluarkan Power of Destruction di tangannya dan sudah siap untuk dia lemparkan ke Boruto.

"Kalau kau tahu itu kenapa kau bertingkah seperti itu?" Balas Boruto dengan tenang, walaupun dia sudah bersiap mengeluarkan mata Jogan miliknya kalau Aisha benar-benar menyerangnya "Ayah pergi dari Elemental Nation di dimensimu untuk menemui ibumu karena beliau mencintainya. Dengan kau bertingkah seperti itu sama saja kau tidak menghargai rasa cintanya pada ibumu."

"Tapi impian ayah—"

"Kau pikir menjadi Hokage adalah impian dari ayah? Kau salah besar Aisha-san. Keinginan terbesar ayah hanya satu, diakui oleh semua warga desa Konoha karena dia mempunyai Kyuubi di dalam tubuhnya dan itu sudah tercapai setelah dia melawan Pain." Balas Boruto yang mendekatinya dan kemudian mendekati Aisha dan menepuk kepalanya dengan lembut seperti yang biasa dia lakukan pada Himawari "Jadi berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Toh masih banyak dunia dimana ayah tidak menjadi Hokage tapi dia tidak masalah dengan itu. Seperti di dunia Menma-san dan Asia-san."

Aisha menangis terharu karena perkataan dari sosok yang merupakan anak dari musuh bebuyutan ayahnya itu apalagi saat Boruto memperlakukannya seperti adik kecilnya sama seperti yang sering kakaknya, Natsumi lakukan. Kemudian dia menghapus air matanya dan berkata "Kau baik. Tidak seperti ibumu di dimensiku, Boruto-san."

Boruto yang mendengar kejahatan versi lain dari ibunya di dimensi Aisha hanya bisa berkata "Versi ibuku di duniamu memang seseorang yang psikopat dan gila, tapi bukan berarti dia juga bersifat sama seperti di dimensiku. Menurutku, bahkan dunia ini tidak berhak menerima keberadaan ibuku karena dirinya yang terlalu baik. Kalau begitu, saudariku dari dimensi lain. Aku akan melanjutkan bacaanku."

Natsumi yang melihat kedekatan Boruto dan adik kecilnya yang cantik dan manis itu terlihat menahan kesal 'Ugh, sepertinya posisiku sebagai kakak di hati Aisha-chan akan digeser oleh Boruto-san.'

.

.

"Dan kemudian aku akan membuat desa mengakui kekuatanku ..." Ucap Naruto lagi.

.

.

"Uhm, Iruka-sensei, aku memiliki sedikit permintaan"

.

.

"Kau ingin tambah ramen lagi?"

.

.

"Bukan ... Bisakah kau meminjamkan pelindung kepalamu itu padaku?"

.

.

Naruto tertarik pada pelindung kepala yang dipakai tiap shinobi Konoha.

.

.

"Oh, maksudmu ini?" Ucap Iruka yang memegang pelindung kepala miliknya dan kemudian dia melanjutkan "Tidak boleh. Benda ini adalah benda yang akan kau dapatkan suatu saat nanti di hari kelulusanmu, benda ini juga menandakan bahwa kau telah dewasa. Mungkin kau akan mendapatkan pelindung kepala besok."

.

.

"Aah, nggak asyik ..." Balas Naruto.

.

.

"Hahaha, jadi karena itu malam ini kau tak memakai googlemu?"

.

.

"Beri aku semangkuk lagi!"

.

.

Melihat ayah mereka memakan banyak ramen membuat mereka kagum dan terheran-heran dimana ayahnya menyimpan semua ramen yang dia makan. Akane A yang melihat itu tersenyum pada kakaknya dan berkata "Sama seperti kakak. Kakak juga sering makan banyak ramen seperti tou-chan, tapi tubuh kakak masih langsing dan ramping seperti biasa. Aku jadi iri pada kakak."

"Hush, Akane-chan." Balas Lucina yang wajahnya telah memerah karena perkataan adiknya.

"Aku memang menyukai ramen sih. Tapi menurutku, Hamburger masih lebih baik daripada ramen."

'Pengkhianat...' Batin semua anak Naruto kecuali Himawari karena tahu Boruto lebih menyukai fast food seperti Hamburger dibandingkan dengan ramen.

"Aku kecewa padamu, Boruto-san." Ucap Aisha yang ucapannya menusuk ulu hati Boruto yang paling dalam saat mendengar salah satu saudaranya dari dimensi lain itu kecewa padanya hanya karena berbeda kesukaan. Sedangkan Momoshiki yang melihat itu hanya mentertawakan nasib partnernya itu, membuatnya sedikit kesal

.

.

"Apa!?"

.

.

Keesokan harinya di kelas, ujian akan segera dimulai ...

.

.

"Untuk lulus, kalian harus bisa menggunakan Bunshin no Jutsu." Ucap Iruka yang mulai menjelaskan aturannya dan kemudian dia melanjutkan "Ketika kalian dipanggil, harap kalian memasuki ruangan selanjutnya."

.

.

"Oh tidak, jangan jutsu itu. Jutsu itu adalah kelemahanku." Pikir Naruto dan kemudian dia melanjutkan dengan mantap "Tapi ... Akan kulakukan!"

.

.

Dan ketika namanya dipanggil, dia pun masuk ke ruangan yang telah disediakan dan bersiap di hadapan dua juri, Iruka dan Mizuki.

.

.

"Perhatikan baik-baik ..." Ucap Naruto yang bersiap dan membuat handseal.

.

.

Boft!

.

.

Naruto menciptakan sebuah bunshin, namun sebuah bunshin yang gagal.

.

.

"Aku ... Gagal." Pikir Naruto yang sudah menundukkan kepalanya dengan lesu.

.

.

"Iruka, ini kali ketiga ia mengikuti ujian dan ia telah mampu membuat sebuah klon, kenapa tidak kita luluskan saja?" Ucap Mizuki yang mulai mempertimbangkan Naruto.

.

.

Melihat sosok Mizuki, membuat semua anak Naruto yang tinggal di Konoha menatapnya dengan tatapan benci dan itu membuat beberapa anak Naruto yang tidak tinggal di Konoha seperti Menma A, Seneca, Natsumi, Aisha, Arashi, Asia, Mordred dan Menma B menatap mereka dengan keheranan.

'Kenapa mereka menatapnya seperti itu? Siapa dia sebenarnya?'

.

.

"Ah!"

.

.

Naruto tersenyum, masih ada harapan baginya. Namun kata-kata Iruka membuat harapan Naruto hilang sepenuhnya.

.

.

"Tidak bisa, Mizuki." Ucap Iruka dengan tegas "Semua siswa berhasil membuat dua bunshin dengan baik. Sedangkan Naruto, dia hanya mampu membuat satu dan itupun bunshin yang gagal. Kita tidak bisa meluluskannya.

.

.

"Sebagai seorang anak, aku kecewa karena Iruka-san memperlakukan ayah seperti itu. Tapi sebagai seorang guru, aku mengerti posisinya." Ucap Menma A yang kemudian berkata "Semua guru tidak ada yang ingin muridnya gagal, tapi bukan berarti dia meluluskan ayah kalau beliau belum bisa melakukan apa yang diminta Iruka-san."

"Kau bicara seperti seorang sensei yang sebenarnya, Menma-san."

"Benarkah?" Balas Menma yang menyeringai saat mendengar perkataan Minato "Aku tidak merasa begitu."

"Wajar sih kalau kakak bicara seperti itu." Balas Seneca yang kemudian melanjutkan "Kau kan di masa depan menjadi guruku dan Kagami-kun bersama dengan Iriana-neechan. Kau dan Iriana-neechan merupakan pasangan guru yang serasi dan jadi role model bagi hubungan beberapa siswa di akademi sepertiku."

Wajah Menma pun memerah karena hal itu, meskipun Minato sedikit cemburu karena tahu pacarnya saat ini menikahi saudaranya dari dimensi lain di dimensi Seneca.

.

.

Disaat hari kelulusan tiba, anak-anak Akademi bersukaria karena telah resmi menjadi genin dan mendapat ikat kepala shinobi Konoha ...

.

.

Mereka bersukaria, merayakannya dengan orangua mereka.

.

.

Akan tetapi berbeda dengan mereka, Naruto yang tak lulus hanya bisa termenung sendiri di ayunan sambil melihat ke arah mereka dengan tatapan penuh kesedihan ...

.

.

'Tou-chan...' Batin anak-anak Naruto itu dengan sedih.

Melihat itu Boruto pun berkata 'Maafkan aku karena telah menyepelekan kehidupanmu sebelum sampai ke titik yang sekarang tou-chan.'

.

.

"Kerja bagus, itu baru anakku."

.

.

Para orang tua memuji anak-anaknya.

.

.

"Kini, kau adalah lelaki sejati."

.

.

"Aku sangat bangga padamu, nanti malam akan kubuatkan makanan kesukaanmu."

.

.

"Hey, coba lihat anak itu ..."

.

.

Salah seorang orang tua melihat sinis ke Naruto yang termenung.

.

.

"Dia itu satu-satunya bocah yang tidak lulus ya ..."

.

.

"Yah, keputusan yang bijak ... Anak itu memang tak pantas menjadi seorang Shinobi."

.

.

Kata-kata itu membuat banyak anak dari Naruto geram, tapi perkataan The Watcher membuat mereka terdiam "Manusia biasa selalu membenci hal apapun yang tidak mereka pahami. Tapi aku kagum dengan ayah kalian. Dengan tekad dan kerja kerasnya, semua perjuangannya telah terbayarkan. Mereka semua telah mengakui keberadaan ayah kalian sekarang."

Layar pun berubah dan memperlihatkan dimana sosok Naruto yang disambut layaknya seorang pahlawan karena telah berhasil melawan Pain, membuat mereka semua tersenyum.

"Bisa kau lanjutkan, Boruto-san."

"Tentu saja."

.

.

"Karena dia itu adalah ... Aah, untuk apa kita membicarakan itu."

.

.

Di tengah kerumunan, tampak juga Sandaime Hokage...

.

.

"Iruka, aku ingin berbicara padamu."

.

.

"Iya, Hokage-sama?" Sahut Iruka.

.

.

Sementara di ayunan tempat tadi Naruto berada, dia sudah tampak tak ada.

.

.

Naruto telah pergi ...

.

.

"Naruto ..."

.

.

Mizuki bertemu dengan Naruto di jalan dan kemudian menyapanya.

.

.

"Mizuki-sensei?"

.

.

Mereka bertemu dan setelahnya, guru dan murid itupun pergi ke suatu tempat untuk bercakap-cakap.

.

.

"Iruka-sensei adalah orang yang serius." Ucap Mizuki yang melanjutkan "Orangtuanya meninggal ketika ia masih kecil, dan dia hidup sendiri setelah itu."

.

.

"Tapi, kenapa dia selalu mengumpatiku?" Tanya Naruto.

.

.

"Dia melakukan ini demi kebaikanmu sendiri, tou-chan. Dia ingin kau menunjukkan keberhasilanmu dengan kerja kerasmu sendiri."

Mendengar perkataan Akira, semua orang bahkan The Watcher terdiam. Tapi mereka setuju atas apa yang dikatakan Akira Uzumaki, putra dari Naruto Uzumaki dan Moka Akashiya.

.

.

"Mungkin dia melihat dirimu sama dengan dirinya. Dia mungkin ingin melihatmu menjadi kuat ... Dia sama denganmu, dia juga tidak memiliki orang tua, sama sepertimu."

.

.

"Tapi aku berharap untuk lulus." Ucap Naruto.

.

.

"!?"

.

.

Mizuki terkejut.

.

.

"Itu ... Baiklah. Aku akan memberitahukanmu sebuah rahasia yang spesial." Ucap Mizuki.

.

.

"Eh?"

.

.

Naruto tak mengerti.

.

.

Ingin rasanya beberapa dari anak-anak Naruto berteriak kepada Naruto untuk tidak mempercayai Mizuki, tapi mereka tahu hal itu tidak akan merubah apapun, jadi mereka lebih memilih untuk diam.

'Maafkan kami, tou-chan.'

.

.

Dan kemudian setelah mendengar penjelasan itu, malam harinya Naruto mengendap-endap menuju rumah Hiruzen ...

.

.

"Apa yang kau lakukan di rumahku malam-malam begini?"

.

.

"Eh ..."

.

.

Melihat Hiruzen memergokinya, Naruto tidak tinggal diam. Dengan cepat, dia mengeluarkan jurusnya ...

.

.

"Oiroke no Jutsu!"

.

.

"Jutsu ini lagi? Tou-chan serius. Aku tidak yakin jutsu itu bisa mengalahkan seorang ninja yang diakui kekuatannya di seluruh desa." Ucap Menma A yang melihat jutsu laknat buatan ayahnya. Untungnya dia bisa menahan hidungnya untuk mimisan seperti tadi dan mempermalukan dirinya sendiri. Minato dan banyak laki-laki disana juga menahan diri untuk tidak mimisan di tempat.

.

.

"Uaaaahhhh!"

.

.

Hiruzen yang bahkan seorang Hokage tak mampu berbuat banyak. Dia hanya bisa pingsan dengan darah mengucur dari hidungnya.

.

.

"Aku tarik kembali kata-kataku. Jutsu ini sangat berbahaya, bahkan seorang Hokage pun dibuat tidak berdaya olehnya."

Mendengar perkataan Menma A, beberapa dari mereka pun hanya membatin 'Kalau beliau tidak mesum, jutsu itu juga tidak akan berhasil kepadanya. Dasar jiji payah.'

.

.

"Ketemu!"

.

.

Naruto menemukan sebuah gulungan, hal yang dicari-carinya dan kemudian membawanya pergi ke tengah hutan.

.

.

"Ayo kita lihat, jutsu pertama adalah ... Kage Bunshin no jutsu ... Apa!? Kenapa hal ini dimulai dari hal yang tidak kusukai?" Keluh Naruto yang membaca isi gulungan jutsu terlarang itu.

.

.

Anak-anak Naruto menahan tawa karena mendengar perkataan Naruto yang terlihat membenci salah satu dari teknik yang ada di gulungan itu padahal nantinya jutsu itu akan menjadi jutsu andalannya di masa yang akan datang.

.

.

Sementara itu di kamarnya, Iruka terbaring dan teringat akan percakapannya dengan Sandaime Hokage ...

.

.

-Flashback-

.

.

"Iruka ..."

.

.

"Iya, Hokage-sama?"

.

.

"Aku mengerti apa yang kau rasakan. Tapi dia memang sangat mirip denganmu..."

.

.

Setelahnya, Iruka teringat masa lalu saat monster Kyuubi mengamuk ...

.

.

"Kita harus tetap menjaga area ini sampai Yondaime Hokage tiba." Ucap seorang shinobi.

.

.

Sementara itu, shinobi lain tampak tengah mengevakuasi penduduk, dan salah satunya adalah Iruka.

.

.

"Biarkan aku pergi! Ibu dan ayahku masih tetap bertarung disana!" Teriak Iruka kecil yang mencoba untuk melawan. Namun, shinobi itu tetap membawanya ke tempat yang aman secara paksa.

.

.

Asia yang mendengar itu hanya bisa menatap lirih Iruka kecil yang terlihat di layar. Dia juga merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan counterpartnya saat dia harus melihat ayah dan pamannya mati dan dia tidak bisa melakukan apapun dan hanya bisa kabur dari sana.

"Kau tidak apa-apa onee-chan?"

"Ah, aku tidak apa-apa Mo-chan."

.

.

Tok!

.

.

Tok!

.

.

Seseorang mengetuk pintu dan hal itu membuat lamunan Iruka berhenti ...

.

.

"Ada apa?"

.

.

Iruka membuka pintu rumahnya dan ternyata itu Mizuki.

.

.

"Kita harus pergi ke tempat Hokage-sama, Iruka. Naruto, mencuri gulungan rahasia itu ..." Ucapnya.

.

.

"!?"

.

.

IIruka kaget saat mendengar kabar itu dan langsung bergegas meninggalkan Mizuki yang masih berada di rumahnya.

.

.

"Hmm, aneh. Bukannya dia yang meminta ayah melakukan itu. Kenapa disini dia terlihat seperti ingin menjatuhkan nama tou-chan?

Mendengar pertanyaan Menma A, The Watcher pun berkata "Kau masih naif, Menma-san. Apa sedari tadi kau tidak menyadari kenapa saudara-saudaramu itu menatap orang bernama Mizuki itu dengan benci. Karena mereka tahu Mizuki itu adalah orang yang busuk."

Menma A dan yang lain pun terkejut mendengar ucapan The Watcher itu "Benarkah itu?"

"Itu memang benar. Mizuki memanfaatkan ayah untuk mendapatkan gulungan itu, lalu dia akan menjualnya ke desa besar yang akan membayar mahal atas jutsu-jutsu yang berada di gulungan itu. Lalu dia akan membunuh ayah dan dirinya akan menjadi pahlawan desa karena telah menghabisi ayah yang notabene-nya akan dianggap pengkhianat karena telah mencuri gulungan jutsu-jutsu terlarang milik desa Konoha."

'Sialan!'

.

.

Setelahnya, di depan kediaman Sandaime Hokage, beberapa orang shinobi tampak tengah berkumpul untuk bersiap mengejar Naruto..

.

.

"Dia tidak akan lolos kali ini, Hokage-sama!" Ucap salah seorang dari mereka.

.

.

"Ya, benda itu adalah gulungan rahasia dari Hokage sebelumnya. Jika digunakan pada jalur kejahatan, maka akan membuat sebuah masalah besar." Ucap Sandaime Hokage yang kemudian melanjutkan "Sudah setengah hari gulungan itu dicuri, kita harus menemukan Naruto secepat mungkin."

.

.

"Baik Hokage-sama!"

.

.

Para shinobi itupun berpencar dengan cepat.

.

.

Salah satu dari shinobi pengejar itu adalah Iruka, dan kini ia sedang berada di atap sebuah gedung, melihat-lihat dimana Naruto berada. Akan tetapi, Naruto tak terlihat dimanapun ...

.

.

Hingga akhirnya, Iruka berpikir untuk mencarinya di hutan "Aku harus segera mengecek ke hutan.

.

.

Sementara itu, Mizuki juga ikut mencari ...

.

.

"Aku harus menyebarkan kebohongan di desa lalu akan kurebut gulungan itu dari Naruto dan membuat Naruto seolah lenyap bersama dengan gulungan itu." Pikir Mizuki dengan licik.

.

.

Yang lain saat mendengar itu dan sudah menyadari jahatnya Mizuki langsung menatap sosok Mizuki dengan tajam. Bahkan Aisha sudah membuat Power of Destruction di tangannya dan akan dia lemparkan ke layar yang menampilkan wajah Mizuki tapi tangannya ditahan oleh The Watcher sampai kekuatan pemusnah yang menjadi trademark dari klan Bael itu menghilang.

"Maaf..."

"Tidak masalah. Aku bisa mengerti kemarahanmu dan yang lain."

.

.

Di hutan, kini Iruka telah menemukan Naruto ...

.

.

"Aku menemukanmu, Naruto!"

.

.

Iruka membuat dia terkejut dan berteriak "Aah! Aku menemukan si mimisan!"

.

.

"Akulah yang menemukanmu, bocah bodoh!" Bentak Iruka yang kesal karena Naruto mengingatkan dirinya pada kejadian yang telah membuatnya malu habis-habisan.

.

.

"Hehehe, benar juga. Kau yang menemukanku, sensei. Oh iya, aku baru saja mempelajari suatu hal." Ucap Naruto dengan polosnya.

.

.

"Hey, kau seperti habis dipukuli. Apa yang kau lakukan disini?" Ucap Iruka yang melihat Naruto terlihat babak belur.

.

.

"Tak usah pedulikan hal itu. Hey, Iruka-sensei. Aku akan mecoba sebuah jutsu yang hebat. Jika aku berhasil, maka luluskanlah aku. Pinta Naruto.

.

.

"!?"

.

.

Sejenak Iruka kaget dan kemudian berpikir "Jadi, dia berlatih disini sampai membuat tubuhnya babak belur?"

.

.

"Naruto..."

.

.

"Ng?"

.

.

"Darimana kau mendapatkan gulungan itu?" Tanya Iruka

.

.

"Oh ini? Mizuki-sensei yang memberitahukanku tentang gulungan ini, dan tempat penyipanannya" Balas Naruto yang kemudian melanjutkan "Dia bilang jika aku menunjukkan kemampuan ini padamu, maka aku akan diluluskan."

.

.

"Mizuki?"

.

.

Iruka kaget saat tahu kalau ternyata rekannya sesama guru terlibat atas pencurian yang dilakukan muridnya itu.

.

.

Batttts!

.

.

Tiba-tiba puluhan kunai melayang ke arah mereka. Iruka mendorong tubuh Naruto agar dia tak terkena. Namun sebagai gantinya, Iruka harus menahan tembakan kunai itu.

.

.

"Kakek!"

Mendengar teriakan Alisa yang melihat sosok kakeknya terluka, membuat sang kakak Akane B langsung memeluk dan menenangkannya "Jangan khawatir, Alisa-chan. Kakek itu kuat. Kalau kakek kenapa-napa, tidak mungkin kita bisa bertemu dengan beliau kan."

Bahkan Yuu yang biasa-nya selalu bersifat seperti kucing dan anjing dengan kakaknya juga ikut menenangkannya "Kejadian ini berada di masa lalu, baka Aneki. Aku tahu dimensi ini berbeda dengan dimensi kita. Tapi beberapa kejadian masih sama seperti di dimensi kita. Kalau kakek masih hidup saat ini, berarti dia berhasil selamat kan?"

"Kau benar. Arigatou, Yuu."

.

.

"Kerja bagus. Kau telah berhasil menemukan si bodoh itu, Iruka." Ucap si pelempar kunai yang ternyata adalah Mizuki.

.

.

"Aku mengerti sekarang. Jadi kaulah yang berada di balik semua ini, Mizuki." Ucap Iruka yang saat ini sedang menahan rasa sakit dari tembakan kunai Mizuki.

.

.

"Naruto, berikan gulungan itu padaku!" Pinta Mizuki.

.

.

"Huh apa? Apa yang terjadi disini? Hey?! Ada apa ini sebenarnya?" Ucap Naruto tak mengerti. Pada awalnya dia melakukan ini hanya agar Iruka meluluskan dirinya. Tapi kenapa kejadiannya jadi seperti ini? Kenapa salah satu gurunya melukai gurunya yang lain.

.

.

"Naruto ... Apapun yang terjadi, jangan berikan gulungan itu padanya." Pinta Iruka yang kemudian melanjutkan "Gulungan itu adalah gulungan rahasia, yang didalamnya ditulis ninjutsu terlarang dan Mizuki memanfaatkanmu untuk mengambil gulungan itu!"

.

.

"Naruto, sebenarnya tidak aka gunanya kau memiliki gulungan itu. Aku akan memberitahukanmu sebuah kebenaran." Ucap Mizuki.

.

.

"Jangan bilang kalau dia akan—"

"Sepertinya begitu..."

Mendengar perkataan Boruto, Akane B berkata "Apa dia mau cari mati? Bukannya Sandaime-sama sudah membuat peraturan tentang siapapun yang mengatakan status tou-chan sebagai seorang Jinchuuriki ya?"

Boruto hanya mendengus saat mendengar perkataan Akane "Apa gunanya peraturan itu. Toh, status tou-chan sebagai Jinchuuriki tetap bocor juga."

"Sebenarnya peraturan apa yang kalian ributkan."

Saat mendengarkan pertanyaan Minato, Alisa pun berkata "Dulu sekali, Hiruzen-jiji membuat sebuah peraturan. Siapapun yang mengatakan status tou-chan sebagai Jinchuuriki akan dibunuh di tempat itu juga dan detik itu juga.'

"Woy! Bukannya itu terlalu ekstrim?"

"Walaupun peraturan itu terdengar ekstrim bagi kalian yang tidak tinggal di Konoha. Menurutku, peraturan itu tidak ada gunanya. Karena seperti yang aku bilang. Walaupun ada peraturan itu, tetap saja status tou-chan sebagai Jinchuuriki Kurama-san masih bocor juga." Balas Boruto dan kemudian dia teringat dengan Danzo atau yang biasa dibilang Kegelapan Desa Konoha. Shinobi yang terlibat dengan terjadinya Pembantaian Klan Uchiha yang akhirnya mati karena Obito dan Sasuke Uchiha 'Kalau saja kau belum mati. Aku sendiri yang akan membunuhmu, Danzo Shimura. Semua orang yang mengganggu perdamaian yang telah dicapai tou-chan dan Sasuke-sensei harus dieksekusi.'

.

.

"Jangan!" Teriak Iruka. Dia tak mau Mizuki memberitahu Naruto tentang 'kebenaran' yang dimaksud oleh Mizuki.

.

.

"12 tahun yang lalu, kau tahu monster Kyuubi yang telah disegel itu, bukan? Sejak saat itu, peraturan spesial diterapkan di desa ini ..." Ucap Mizuki.

.

.

"Sebuah peraturan?"

.

.

"Namun, aturan ini tidak boleh diberitahukan kepadamu."

.

.

"Tidak boleh diberitahukan padaku? Peraturan apa itu? Beritahukan padaku!" Pinta Naruto.

.

.

"Hehehe."

.

.

"Melihatnya tertawa seperti itu, membuatku semakin ingin menonjoknya."

"Kau tidak perlu marah seperti itu, Menma-san." Balas Boruto yang mendengar kekesalan Menma A "Dia sudah berada di neraka saat ini."

"Apa maksudmu?"

"Kau lupa tentang peraturan yang dibuat oleh Sandaime Hokage?"

"Kau ada benarnya."

.

.

"Aturan ... Aturan yang seperti apa?" Tanya Naruto dengan nada tidak sabar.

.

.

"Aturannya adalah tidak seorang pun diizinkan berbicara tentang fakta bahwa kau adalah jelmaan monster Kyuubi." Jawab Mizuki.

.

.

"Apa? Apa maksudmu?"

.

.

Mata Naruto terbelalak setelah mendengar fakta ini.

.

.

"Hentikan!" Teriak Iruka.

.

.

"Dengan kata lain, ini berarti bahwa kaulah monster Kyuubi yang telah membunuh orang tua Iruka dan menghancurkan desa." Ucap Mizuki yang kemudian melanjutkan "Kau telah disegel oleh Hokage yang kau kagumi dan—"

.

.

"Hentikan!"

.

.

Iruka kembali berteriak supaya Mizuki menghentikan upaya miliknya untuk memberitahu kebenaran tentang Naruto, tapi Mizuki mengabaikannya "Selama ini kau telah dibohongi oleh semua orang. Tidakkah kau merasa aneh? Semua orang di desa membencimu! Bahkan Iruka, dia juga membencimu!"

.

.

"Kau salah! Kakek tidak akan mungkin membenci ayah."

"Kami tahu itu, Alisa-chan... / Alisa-san..." Balas semua orang yang melihat ekspresi kemarahan putri tunggal Naruto Uzumaki dan Chelsea ini.

.

.

"SIalan!"

.

.

Naruto terlihat begitu kesal.

.

.

"Tidak akan ada yang akan mengasihimu!" Teriak Mizuki lagi.

.

.

Sementara itu, Iruka masih tampak terengah-engah dan teringat akan perkataan Sandaime Hokage.

.

.

"Dia tidak pernah merasakan cinta kasih orang tua dan dibenci oleh banyak penduduk desa. Jadi untuk menarik perhatian, dia pun membuat masalah. Dia ingin keberadaannya diakui oleh orang lain, makanya dia bertindak seperti itu ... Padahal dalam hatinya, dia benar-benar sakit.

.

.

...

.

.

"Gulungan itu digunakan untuk menyegelmu!"

.

.

Mizuki menembak Naruto dengan sebuah Fuma Shuriken.

.

.

Jraaasshh!

.

.

Shuriken itu menancap dengan sempurna ...Akan tetapi, bukan pada Naruto, melainkan Iruka. Iruka menahannya dengan punggungnya ...

.

.

"Kenapa?"

.

.

Naruto benar-benar tak mengerti.

.

.

"..."

.

.

Sejenak Iruka terdiam, dan kemudian bercerita ...

.

.

"Orang tuaku ... Semenjak mereka meninggal, tak seorang pun mengakuiku. Aku selalu bertingkah layaknya orang bodoh hanya untuk mencari perhatian orang lain. Terlebih aku tidak terlalu pintar dalam hal belajar dan membuat PR. Jadi aku rasa ini hal yang benar. Daripada aku tidak diakui, lebih baik aku bertindak bodoh seperti ini. Tapi rasanya begitu sakit."

.

.

Iruka telah bergelinang air mata, tapi dia belum selesai "Naruto, kau juga pasti merasa sakit. Aku minta maaf Naruto. Jika saja aku melakukan pekerjaanku dengan baik, kau tidak harus seperti ini."

.

.

"!"

.

.

Tiba-tiba Naruto berlari.

.

.

"Naruto!"

.

.

Iruka berteriak namun Naruto tetap pergi.

.

.

"Haha. Naruto bukanlah tipe orang yang mudah mengganti pendirian hatinya. Dan sepertinya, dia akan menggunakan gulungan itu untuk membalas dendam. Kau lihat matanya tadi kan? Mata monster yang sesungguhnya." Ucap Mizuki.

.

.

"Tidak bisakah dia diam!"

.

.

"Naruto tidaklah seperti itu!" Bantah Iruka.

.

.

"Yah, itu bukan masalah bagiku. Aku akan membunuh Naruto dan merebut gulungan itu dan lalu aku akan berurusan denganmu nanti."

.

.

Mizuki pergi mengejar Naruto.

.

.

"Ukh, tidak mungkin ..." Ucap Iruka yang mencoba bangun tanpa memperdulikan lukanya.

.

.

Di sisi lain, tampak para shinobi pengejar sedang berkumpul ...

.

.

"Kita harus membunuhnya, dia sangat berbahaya."

.

.

"Jika kau menemukannya, segera bunuh dia!" Ucap mereka.

.

.

"Tch, ini benar-benar buruk." Ucap Minato yang menganalisa peristiwa yang diterima oleh sang ayah "Belum ayah mencuri gulungan itu saja, mereka sudah membencinya. Apalagi sekarang, setelah ayah melakukan ini? Kalau orang-orang ini menemukan ayah terlebih dahulu, ayah bisa dalam bahaya."

"Aku setuju denganmu, Minato-san." Balas Akira yang melanjutkan "Apalagi mental ayah sedang dalam titik rendahnya karena perkataan si keparat Mizuki itu. Aku harap jiji menemukan dia terlebih dahulu."

.

.

Sementara di kediaman Sandaime Hokage, dia telah menemukan Naruto dan mengawasinya dengan bola kristalnya.

.

.

"Mizuki memberitahukan hal itu padanya. Sekarang dia pasti sangat marah. Kekuatan yang tersegel dalam dirinya dan ditambah dengan gulungan itu, Kyuubi mungkin akan mempengaruhi Naruto untuk menghancurkan segel dan membuatnya menghancurkan desa ini kembali. Perbandingannya memang hanya satu berbanding sejuta. Tapi, ini tidak mustahil. Dan jikapun itu terjadi—"

.

.

Sandaime Hokage pun langsung sadar dari lamunannya dan memberikan titah "Cepat tangkap dia!"

.

.

Kembali ke tempat Naruto, tampak Iruka tengah mengejarnya ...

.

.

"Naruto! Cepat, berikan gulungan itu! Mizuki ada dibelakangmu!" Teriak Iruka.

.

.

Buaaakkk!

.

.

Akan tetapi, Naruto menghantam tubuh Iruka hingga terpental.

.

.

"Huh, kenapa ayah melakukan itu?" Tanya Aisha yang kebingungan saat melihat sang ayah memukuli Iruka sampai terpental.

"Nanti kau juga tahu sendiri, Aisha-chan."

Mendengar Boruto terlihat dekat dengan sang adik, Natsumi langsung memeluk erat sang adik dengan erat dan menatap tajam Boruto yang anehnya tidak ditanggapi oleh Boruto sama sekali.

'Aku tidak akan menyerahkan imouto-chan padamu, Boruto-san.'

"Onee-chan, lepaskan aku! Kau terlalu erat memelukku. Aku kesusahan bernafas disini."

"Ah! Gomenne, imouto-chan."

.

.

"Huh, kenapa kau melakukan itu Naruto?" Tanya Iruka tidak mengerti.

.

.

Boftt!

.

.

Dia berubah. Ternyata yang tadi adalah Iruka palsu, Mizuki yang menyamar.

.

.

"Oh, jadi begitu. Pantas saja."

.

.

"Darimana kau tahu kalau aku adalah Mizuki?"

.

.

"Karena aku adalah Iruka."

.

.

Bofft!

Ternyata Naruto tadi juga palsu. Dia hanyalah Iruka yang menyamar.

.

.

"Jadi begitu ya ..." Ucap Mizuki.

.

.

Sementara Naruto yang asli, dia terlihat sedang bersembunyi di balik pohon tak jauh dari mereka sambil mengamati percakapan antara Mizuki dan Iruka.

.

.

"Huh, kau berubah wujud untuk melindungi orang yang bahkan telah membunuh orang tuamu?"

.

.

"Aku tidak ingin gulungan itu jatuh ke tangan orang yang salah sepertimu!"

.

.

"Dasar bodoh! Naruto dan aku sama saja. Jika kau menggunakan kemampuan yang terdapat di dalam gulungan itu, kau bisa melakukan semua hal semaumu. Tidak mungkin monster berekor sembilan itu tidak menggunakan gulungan itu, tidak seperti asumsimu." Ucap Mizuki.

.

.

"Ya kau benar ..." Balas Iruka.

.

.

Banyak yang terkejut mendengar itu, tapi beberapa seperti Alisa yang sangat respek pada Iruka dan saudara-saudarinya, Boruto dan Himawari sekaligus Miyuki dan Akira masih terlihat yakin pada Iruka. Dan hal itu, membuat The Watcher kagum pada mereka.

.

.

"!"

.

.

Dari tempat dia bersembunyi, Naruto mendengarnya.

.

.

"Ternyata benar, bahkan Iruka-sensei juga ..."

.

.

"Memang benar kalau monster Kyuubi akan melakukannya. Tapi, Naruto berbeda. Dia adalah seorang anak yang aku akui sebagai muridku yang hebat." Ucap Iruka yang melanjutkan dengam senyum "Mungkin dia bukanlah pekerja paling keras. Mungkin dia memang kikuk, tidak diterima, dan dia telah mengetahui bagaimana merasakan rasa sakit didalam hatinya. Dia bukanlah monster Kyuubi, dia adalah warga desa Konoha. Dia adalah Naruto Uzumaki."

.

.

"Hikss ..."

.

.

Mendengarnya, Naruto benar-benar terharu.

.

.

Tidak hanya Naruto, anak-anak Naruto dari berbagai dimensi juga terharu saat mendengarkan perkataan Iruka terutama putra-putri Naruto dari trio assassins Night Raid yang sudah mengganggap Iruka sebagai kakek sendiri.

"Aku tahu kau bukanlah orang seperti itu kakek."

Sang kakak dan adik yang mendengar itu hanya tersenyum saat mendengar perkataan Alisa.

.

.

"Terserah!"

.

.

Mizuki bersiap dengan shurikennya lagi.

.

.

"Akhh!"

.

.

Luka yang didapat Iruka tadi kembali terasa.

.

.

"Iruka, tadi aku mengatakan kalau aku akan berurusan denganmu nanti. Namun, sekarang aku mengubah pikiranku." Ucap Mizuki yang telah bersiap untuk melemparkan Fuma Shuriken miliknya "Cepatlah kau mati!"

.

.

Belum Mizuki melemparkan Fuma Shuriken miliknya. Dia sudah di tendang oleh Naruto yang tiba-tiba muncul sampai rebah.

.

.

"Hajar dia, ttebana." Ucap Seneca tanpa sadar dan membuat banyak orang menatapnya. Saat menyadari tatapan mereka, wajahnya pun memerah dan langsung berkata "Maaf..."

"Tidak usah minta maaf seperti itu, Seneca-san. Beberapa dari kalian juga seperti itu kok." Balas The Watcher yang kemudian melanjutkan "Kakakmu juga seperti itu kan?"

"The Watcher itu benar, Seneca-chan." Ucap yang kakak yang tiba-tiba saja memeluknya "Kau tidak perlu malu akan hal itu. Anggap saja itu warisan dari nenek kita, ttebasa."

Seneca tidak menjawab apa-apa, tapi dia tersenyum saat mendengar perkataan sang kakak 'Arigatou, onii-chan.'

'Aku tidak tahu kau mempunyai verbal tick yang sama persis sepertiku, Menma-san.'

.

.

"Naruto!?"

.

.

Iruka terkejut.

.

.

"Kau akan menyesal telah melakukannya ..." Ucap Mizuki yang kembali bangun setelah terkena tendangan Naruto.

.

.

"Jangan pernah menyentuh Iruka-sensei. Atau akan kubunuh kau ..." Ucap Naruto yang terlihat sangat marah pada Mizuki.

.

.

"Kau bodoh! Kenapa kau datang kesini, cepat lari!" Teriak Iruka yang terlihat khawatir pada Naruto. Apalagi perbedaan kekuatan Naruto yang merupakan seorang Genin, melawan Mizuki yang merupakan Chunnin sepertinya.

.

.

"Hahaha, aku akan membunuh anak sepertimu dengan satu serangan saja!" Ucap Mizuki.

.

.

"Coba saja sampah! Akan kukembalikan rasa sakit ini seribu kali lipat!" Ucap Naruto yang terlihat bersiap untuk membuat sebuah segel tangan.

.

.

"Lakukan saja monster Kyuubi no Yoko!" Tantang Mizuki yang merasa lebih superior daripada Naruto karena dirinya merupakan seorang Chunnin, sedangkan musuhnya hanyalah seorang murid akademi yang bahkan tidak pernah lulus 3 kali.

.

.

"Kage Bunshin no Jutsu!"

.

.

Naruto mengeluarkan teknik seribu bayangan.

.

.

"ApApa yang terjadi?" Tanya Mizuki kebingungan.

.

.

"Hebat! Ayah bisa melakukan Kage Bunshin dalam percobaan pertama padahal ayah sungguh kesulitan saat menggunakan teknik bunshin biasa." Ucap Menma B yang kemudian melanjutkan "Sepertinya Akane-san besar. Chakra ayah yang besar mempengaruhi keberhasilan teknik bunshin milik ayah."

Yang lain tidak membantah karena yang dikatakan oleh Menma B ada benarnya

.

.

"Ada apa hah? Bukankah kau ingin membunuhku dengan satu kali serangan?" Tantang Naruto saat dia dan ribuan bunshinnya mengelilingi Mizuki.

.

.

"Naruto, kau ..."

.

.

Iruka tak mampu berkata apa-apa.

.

.

"Baiklah kalau begitu, biar aku yang mulai ..."

.

.

"Aakhhh!" Teriak Mizuki yang menjerit kesakitan saat ribuan Naruto itu menyerang Mizuki sekaligus.

.

.

"Hehe, dia membuat lebih dari seribu bayangan. Setiap klonnya bahkan merupakan tubuh dan bukan bayangan. Mungkin, dia memang akan melampaui Hokage sebelumnya." Pikir Iruka.

.

.

Melihat mahakarya yang dia lakukan pada Mizuki, Naruto menghampiri Iruka dan berkata "Hehe, sepertinya aku sedikit berlebihan."

.

.

"Kemarilah, Naruto. Ada sesuatu yang ingin aku berikan padamu." Ucap Iruka.

.

.

Kembali ke para shinobi pengejar, mereka berkumpul setelah sebelumnya mencari ...

.

.

"Apa ada yang menemukannya?"

.

.

"Tidak!"

.

.

"Gawat, ini sangat buruk."

.

.

"Dia pasti sudah jauh dari sini."

.

.

Mereka semua khawatir.

.

.

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap Sandaime Hokage yang tiba-tiba datang.

.

.

"!?"

.

"Hokage-sama?"

.

.

"Dia akan segera kembali nanti." Ucap Sandaime Hokage

.

.

Kembali ke tempat Naruto lagi ...

.

.

Iruka meminta Naruto mendekat dan memintanya menutup mata, serta memberikan sesuatu padanya ...

.

.

"Sekarang, sensei?"

.

.

"Ya, sekarang kau boleh membuka mata ..."

.

.

"Eh?"

.

.

Naruto kaget, Iruka tak lagi memakai ikat kepala shinobinya.

"Selamat, atas kelulusanmu ..."

.

.

Iruka tersenyum, ternyata dia memberi ikat kepalanya ke Naruto.

.

.

"..."

.

.

Naruto terdiam, begitu senang hingga tak mampu berkata apa-apa.

.

.

"Ayo kita rayakan! Akan kutraktir kau semangkuk ramen!"

.

.

Naruto memeluk gurunya ...

.

.

'Setelah ini aku akan memberitahu Naruto kalau langkah awalnya menjadi shinobi hebat baru saja dimulai. Yah, akan aku lakukan di tempat kami biasa makan ramen ..."

.

.

"Ah, akhirnya selesai juga..."

Mendengar perkataan Menma A, Boruto pun berkata "Kata siapa? Chapter 1 ini belum selesai, masih ada satu bagian lagi."

"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat baca, Boruto-san."

"Iya-iya. Aku akan membacanya, cerewet."

.

.

Tanpa sepengetahuan Iruka dan Naruto, Mizuki ternyata masih bisa melarikan diri meskipun dia sudah terlihat sulit untuk berjalan karena kekalahannya dari Naruto.

.

.

'Sialan kau Iruka, bocah Kyuubi. Kalian berdua memang menang kali ini. Tapi lain kali, akulah Mizuki yang akan menang.'

.

.

"Bagaimana kalau besok kau sudah tidak bisa melihat matahari lagi, Mizuki-san?"

.

.

"Siapa kau!" Teriak Mizuki yang kelihatan panik karena dia berpikiran kalau shinobi yang bertugas di bawah kepemimpinan Sandaime Hokage telah berhasil menemukannya. Pria yang berbicara pada Mizuki tadi memperlihatkan dirinya meskipun wujud pria itu masih samar-samar karena kegelapan malam di hutan. Walaupun begitu, Mizuki tahu siapa sosok yang menghalanginya itu dan hal itu membuatnya pucat "Kau... Mau apa kau kemari?"

.

.

"Kau tahu kan hukuman apa yang diberikan pada sosok yang menyebarkan atau memberitahukan status Naruto Uzumaki sebagai Jinchuuriki dari Konoha?"

.

.

Belum Mizuki membalas, sosok itu melesat ke arah Mizuki dan melesatkan pukulan tangannya yang beraliran listrik sampai menembus tubuh Mizuki "Jawabannya adalah kematian..."

.

.

Sosok itu pun melepaskan tangannya dari tubuh Mizuki yang kemudian terjatuh dan tergeletak di tanah dan meninggalkannya tanpa memperdulikan sumpah serapah dari Mizuki yang dia tunjukkan padanya. Setelah itu, Mizuki pun sudah tidak kuat untuk menahan luka yang dialaminya dan membuatnya mengembuskan nafas terakhirnya di kegelapan hutan yang dalam. Dan itulah akhir sang pengkhianat dari Konoha.

.

.

"Apakah dia—" Tanya Aisha

"Tidak salah lagi." Balas Boruto yang kemudian melanjutkan "Dia adalah Rokudaime-sama. Kau mengenalnya sebagai Kakashi Hatake, Aisha-chan."

Mengetahui itu, membuat banyak anak Naruto tidak tahu harus berfikiran apa tentang Kakashi. Di satu sisi, mereka senang karena keadilan telah ditegakkan pada Mizuki yang telah mengkhianati Naruto, Iruka dan desa Konoha. Tapi disatu sisi, mereka berfikir kalau hal yang telah dilakukan Kakashi tidaklah benar. Karena menurut mereka, dengan adanya kematian Mizuki, membuat dirinya bebas dari hukuman yang seharusnya dia dapatkan dari Sandaime Hokage. Menurut mereka, yang berhak menghukum Mizuki adalah Sandaime Hokage karena dia merupakan pemimpin desa bukanlah Kakashi yang bahkan saat itu belum menjadi Rokudaime Hokage.

"Lebih baik kalian hentikan itu. Kalau kalian terus-terusan berbedat tentang tindakan Rokudaime-sama itu benar atau tidak, maka kita tidak akan pernah menyelesaikan buku ini." Ucap Boruto yang kemudian melanjutkan "Jadi siapa yang akan melanjutkan?"

"Aku yang akan membacanya." Balas Menma A yang langsung dilempari buku itu oleh Menma. Tapi saat dia akan membacanya, muncul sebuah portal yang sama seperti portal yang membawa mereka ke tempat ini dan hal itu membuat mereka semua menatap tajam The Watcher dengan tajam karena mengira dia masih menyembunyikan fakta bahwa anak-anak dari Naruto Uzumaki bukan hanya mereka saja.

Melihat tatapan anak-anak Naruto itu, The Watcher pun berkata "Maaf tentang ini, semuanya. Tapi saat aku mengambil Asia-san, Mordred-san dan Menma-san, aku melakukan sebuah kesalahan kecil."

"Kesalahan kecil apa kalau aku boleh tahu?"

Mendengar pertanyaan Seneca, The Watcher pun melanjutkan "Aku lupa membawa Morgan Uzumaki Pendragon. Saudari kembar dari Menma Uzumaki Pendragon. Jadi aku akan membawanya sekarang."

Sosok yang dimaksud pun muncul. Morgan Uzumaki Pendragon adalah saudara dari Menma Uzumaki Pendragon yang lahir beberapa menit setelah Menma. Dia mempunyai rambut berwarna kuning keemasan seperti sang ayah dan sang ibu dan dia terlihat memakai jaket dengan tudung yang memiliki telinga seperti kelinci, membuat banyak anak dari Naruto yang bergender perempuan merasakan kemanisan dari sosok Morgan. Warna matanya juga mencolok. Jika Asia dan Menma mewarisi warna mata biru dari sang ayah dan Mordred mewarisi warna mata hijau dari sang ibu, warna mata Morgan bisa terbilang unik. Warna mata kirinya berwarna biru seperti sang ayah, sedangkan mata kanannya berwarna hijau seperti sang ibu. Sama seperti warna mata silver Seneca yang akan berubah menjadi kuning keemasan saat dia sedang marah besar atau saat dia sedang menggunakan kekuatan shinobi yang diwarisi dari sang ayah dan juga saat ini sedang dilatih oleh sang kakak.

"Eh... Dimana aku?" Tanya Morgan yang kebingungan soalnya sama seperti sang kakak kembar, dia juga tadi sedang tidur siang sebelum dikirim kesini dan hal itu membuatnya bingung kenapa dia bisa ada disini. Kemudian dia menatap sang kakak dan Menma, membuatnya berkata "Asia-neechan, Mordred-neechan, Menma, dimana aku sebenarnya? Dan kenapa kalian semua bisa berada disini?"

-To Be Continued-

Review:

Guest:

Lah, ane malah merasa fic kaya guna bukan strong point dari gua. Tapi kalau menurut lu bagus, ya syukur. Soal author Indo yang jarang buat fic react/reading kayak gini ya wajar. Soalnya fic kayak gini itu aslinya rumit. Lu punya banyak char tapi lu harus buat porsi yang tepat buat memperlihatkan reaksi mereka tentang hal yang ada di bacaan kita dan itu sulit. Makanya gua gak aneh kalo fic model gini gak pernah tamat atau stuck di jalan. Soalnya memang rumit banget idenya.

Morientes:

Tenang saja. Ini Morgan udah chara anak terakhir yang gua liatin. Gua bisa aja kasih liat anak Naruto sama Kurumi di fic baru gua yang bakal gua rilis 20 September entar, tapi kayaknya segini dah cukup.

FCI. Shiraki Enchanter

Tenang saja, Morgan dah char anak terakhir di fic ini. Ane bakal tambahin beberapa chara tambahan kaya dua versi dari Iriana, pacar dari Seneca yang namanya Kagami yang di dimensi Minato merupakan sohibnya Minato dan juga rival dari Aisha di dimensinya, sama sepupu dari Asia yang bernama Rosemary, tapi tidak dalam waktu dekat.

RushifaID:

Baca lah, biar ane semangat nyari cuan terus bisa beli paket data dan terus update hehehe.

FCI. Master Harem:

Idemu sangat saya apresiasi bro, tapi kayaknya ane gak bakal ubah lagi. Lagian dengan adanya Morgan, berarti ane enggak bakal nambah chara anak Naruto lagi. Kalaupun nambah itu paling pas udah jauh.

Likiya Jin:

Hmm, Nexus Event itu apaan ya?

FCI. Phantom of Emperor:

Senangnya di puji leluhur. Ane terharu deh...

FCI. Aquila'Theruch:

Thanks atas sarannya.