DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO
Pairing : Narusaku
Rated : T
Genre : Drama Fantasy
Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.
Story by me serriello
DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V
.
.
.
.
"apa ada yang bisa saya bantu lagi Yang Mulia?" Marry kembali bersuara mana kala mereka mulai memasuki lapangan hijau yang sangat luas menuju ke istara Chiara.
"Tidak" jawab Sakura singkat. Ia hanya ingin cepat sampai istana tersebut dan ingin memastikan apa selir Raja ada disana? Ya mungkin saja Raja Naruto itu sudah memiliki selir bukan? Dan ia ingin memastikan sendiri seperti apa wajah selir itu jika memang ada.
"Ah Pangeran Menma, sedang memanah rupanya." Marry langsung membungkukan badan begitu mereka sampai dibelakang seorang pria tinggi tegap dengan pakaian bangsawan nya, tidak terlalu mewah tapi tetap terkesan glamour dan aura bijaksana menguar begitu saja. Pemuda itu membalikan badan, masih dengan anak panah ditangan kiri nya dan sebuah busur panah berukuran cukup besar ditangan kanan nya, ia mengernyit heran ketika iris nya bertemu pandang dengan iris hijau Sakura.
"Apa Yang Mulia Permaisuri sedang punya banyak waktu luang sampai-sampai ia mau menginjakan kaki ke istana kotor ini?" Ucapnya tak menanggapi sapaan Marry tadi, ia lebih tertarik memusatkan atensi pada Sakura sepertinya.
"Ah iya, saya hanya sedang jalan-jalan dan tertarik untuk kemari. Tidak apa-apa kan? Lagipula istana ini terlalu cantik untuk dilewatkan dan jauh dari kata kotor seperti apa yang baru saja anda sebutkan." Jawab Sakura santai, ia sesekali melirik Marry karena takut salah berucap, pasalnya ia masih tidak tau dan tidak paham siapa pemuda tinggi didepan nya ini.
Jika di lihat dari visual nya, pemuda ini mirip penggambaran Raja Naruto, minus rambutnya yang hitam kelam tidak blonde seperti yang digambarkan sebagai sosok Raja Naruto keturunan dari Namikaze.
"Oh benar juga, istana ini memang cantik jika saja tidak ada yang mengotori nya dulu." Kata nya sambil kembali membelakangi Sakura dan para pelayan nya serta melesak kan satu anak panah itu tanpa aba-aba yang sukses menancap pada sebuah papan sasaran tali jerami.
"Dulu?" Gumam Sakura. Sedetik kemudian iris emeraldnya membulat, mata nya terbelalak mana kala ia ingat siapa sosok yang ada didepan nya kini. Pemuda pemilik punggung ini adalah Menma, Menma putra tunggal Raja Minato dari selir nya. Hana, seorang penari telanjang yang amat sangat dibenci seluruh keluarga Uzumaki, keluarga dari ibu kandung Naruto yang saat itu seorang permaisuri.
Ia ingat kini, pada sebuah scene dimana pembantaian itu terjadi, pada novel disebutkan bahwa semua Uzumaki membantai habis-habisan istana Chiara dengan tujuan membunuh Hana karena tak terima Putri dari Uzumaki diremehkan, mereka merasa Raja menginjak-injak harga diri mereka dengan mempunyai selir yang merupakan seorang penari telanjang yang jelas-jelas bukan berasal dari keluarga bangsawan terhormat bahkan hingga lahir seorang putra hingga akhir nya pembantaian itu terjadi disuatu malam yang mencekam. Sakura yakin, pemuda ini pasti lah Menma putra Raja dari ibu selir Hana.
"Maukah anda mengajari saya memanah?" Seru Sakura tiba-tiba saat Menma nampak hendak bergeming dari posisi nya, pemuda itu kembali berbalik. Menautkan alis nya bingung dengan permintaan sang Permaisuri.
"Anda ingin belajar memanah Yang Mulia?" Menma mengulang lagi, memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi. Gadis dengan surai merah muda itu mengangguk.
"Tentu, kenapa tidak?" Jawab Sakura yakin. Lama tak ada suara akhirnya pemuda itu pun mengangguk pelan.
"baik lah, saya akan mengajari anda." Menma menyerahkan busur panah nya pada Sakura yang tentu disambut dengan senang hati oleh nya.
"Yang Mulia Alaric!" Seruan keras itu berasal dari seorang prajurit dengan pakaian armor lengkap nya. Sakura berbalik, menatap tak paham dengan maksud tujuan sang prajurit.
"Ya?" Tanya nya menggantung, memberi kesempatan bagi sang prajurit untuk melanjutkan ucapannya yang sempat terbata, pemuda itu berkeringat dingin. Berulang kali membuang pandangan asal serta meneguk ludahnya panik.
"Yang Mulia Alarice sedang mengamuk di penjara bawah tanah. Duke Alter terancam nyawa nya. Yang Mulia Alarice bahkan menodongkan pedangnya wahai Yang Mulia Permasuri." Prajurit itu menunduk, memberi salam setelah menyampaikan kondisi dan keadaan. Sakura mengernyitkan keningnya. Raja Naruto Berulah? Kenapa?
"Sudah ku duga, ada saja kekacauan yang terjadi di istana selama bocah itu menjabat sebagai Raja." Celetuk Menma singkat.
"Jaga bicara anda Pangeran Menma." Todong sang prajurit tepat di belakang leher Menma, sebilah pedang panjang yang berpendar menyilaukan mana kala bersinggungan dengan cahaya matahari. loyalitas seorang prajurit terhadap Tuan nya.
"Sudah, hentikan. Ayo kita ke penjara bawah tanah!"
"Baik Yang Mulia!"
.
.
.
.
"kata kan pada ku ada berapa banyak manusia sampah seperti mu?!!" Makian itu menggema disepanjang lorong remang-remang ini.
Pria tinggi tegap dengan pakaian bangsawan nya, rambut emas bercahaya, mata biru shappire yang memancarkan kebencian serta dendam, jelas sekali bahwa ia adalah Raja Naruto. derap langkah kaki menginterupsi hingga akhirnya sang Raja menolehkan kepala menuju atensi Sakura berada. Wanita itu membelalakan mata nya tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Naruto menodongkan pedang pada seorang tawanan, pria paruh baya yang sudah babak belur dan dalam kondisi berlutut serta tangan nya diikat ke belakang, bukan kah ini terlalu kejam? Darah segar mengalir dari leher Duke Alter mana kala Naruto menekan pedangnya sebagai ancaman.
"Ada apa ini Yang Mulia?" Tanya Sakura karena tak tahan melihat ringisan Duke Alter mana kala ujung pedang itu melukai lehernya. Naruto kembali menoleh kepada antensi Sakura berada, ia menyeringai singkat.
"Yang Mulia Permaisuri, apakah anda harus sekali datang kemari? Ini bukan daerah teritorial anda." Ucapnya penuh penekanan, Sakura tau arti ucapan Naruto adalah bahwasannya ia tak perlu ikut campur urusannya.
Jika saja yang tengah berdiri sekarang ada lah Permaisuri Sakura yang sesungguhnya maka ada kemungkinan bahwa ia akan berbalik dan membuang muka seakan tidak terjadi apa-apa, sejak dulu 'ia' selalui diberi kan pendidikan bahwa 'apapun yang menjadi urusan Raja, Permaisuri tidak berhak mencampurinya' dan 'ia' cukup tau itu tapi sayangnya yang berdiri disini saat ini adalah Sakura, gadis modern yang terjebak dalam ruang imaji sebuah novel. sebagai seseorang dari zaman modern tentu hal ini tidak benar dimata nya maka tidak heran kalau sekarang ia tengah mendongakan kepala nya menatap sang Raja dengan selangkah lebih maju nya.
"Beritahu aku apa permasalahan nya maka aku bisa menilai siapa yang salah dan hukuman apa yang pantas." Ucap nya dingin. Ah tidak, baru sehari ini saja ia sudah dapat mendalami peran Permaisuri Sakura, entah kenapa ia merasa ada koneksi antara ia dan Ratu Sakura.
"ini bukan urusan mu Yang Mulia Ratu!" Bentak Naruto kesal, urat-urat amarah muncul di keningnya, tatapan bengis ia layangkan tanpa ragu terhadap wanita yang merupakan istri nya.
"Saya tau Yang Mulia, penjara bawah tanah ini adalah daerah dari istana milik anda tapi saya patut tau juga ada apa disini, apa anda lupa bahwasannya saya adalah istri anda?" Sakura menaikan satu alisnya. Sungguh, bersikap anggun bukan lah karakteristiknya tapi entah kenapa perangai ini sangat cocok untuk nya saat berada di dimensi ini, secara natural ia bertingkah tanpa diperintah. Apakah Paermaisuri Sakura berlaku seperti ini selama di kerajaan? Rasa nya tenang, anggun dan tegas dalam waktu bersamaan.
"Tapi anda tidak patut ikut campur Yang Mulia! Urusan anda bukan disini." Bantah Naruto lagi, rumor Raja kepala batu ternyata benar ada nya.
"Beritahu saja apa kah sesulit itu Yang Mulia Alarice? jika anda memberi tahu sejak tadi maka saya tidak akan terlihat semenyebalkan itu." Sakura membungkuk pelan sebagai rasa hormatnya terhadap Raja.
Naruto terdiam, ia menurunkan sedikit pedang nya. Melihat hal ini lantas Kiba segera membungkukan badan nya kemudian lekas berkata.
"Maaf Yang Mulia Ratu, Duke Alter adalah pengkhianat, dia telah mencuri data keuangan kerajaan dan mencoba memanipulasi nya kemudian ia juga berniat membakar kantor Yang Mulia Raja hal ini ia lakukan demi balas dendam karena saran nya tentang pertahanan kerajaan di tolak Yang Mulia Raja secara langsung saat perjamuan bulan lalu." Kiba membungkuk sopan memberi penghormatan, ia adalah kaki tangan Naruto, orang kepercayaan nya yang berasal dari kalangan bangsawan atas. Keluarga nya memiliki reputasi yang baik serta dikenal sebagai keluarga terdekat kerajaan, banyak saudara atau keluarga nya yang menjadi 'orang kerajaan' pula sama seperti diri nya, selain itu ia amat sangat cerdas dan berwawasan maka tidak heran jika ia pun menjabat sebagai penasehat Raja.
"Begitu rupa nya. Yang Mulia Raja, tanpa mengurangi rasa hormat ku kepada anda tapi saya rasa wajar jika anda memiliki pengkhianat." Ucapan Sakura membuat semua mata terbelalak tak terkecuali Duke Alter dan Raja Naruto.
"Anda sangat teritorial serta keras kepala wahai Yang Mulia, kenapa menerima pendapat orang menjadi hal yang sulit bagi anda? Memang apa salah nya mendengarkan saran Duke Alter? Sangat disayangkan karena anda bertindak gegabah dalam hal ini, menolak secara langsung? Itu mempermalukan harga dirinya.."
"dan sekarang kau berniat mempermalukan harga diri suami mu?" Naruto berbalik menghadap Sakura sepenuhnya, menatap nya tajam dengan ekspresi bengis nya tapi bukannya takut Sakura justru menatapnya dalam.
"Anda bahkan tak membiarkan saya menyelesaikan ucapan saya Yang Mulia, pertahanan yang utama dalam kerajaan adalah rakyat, otoritas kerajaan, serta Raja dan Ratu itu sendiri, jika hubungan anda dengan otoritas kerajaan saja tidak harmonis bagaimana anda membangun Negara? Bukannya mendapat kerjasama yang baik anda justru mendapat musuh lebih banyak bahkan musuh dalam selimut." Sakura berteriak dalam hati nya, sungguh beruntung ia sempat membaca buku tentang 'tata krama sebagai Permaisuri' serta 'tatanan negara yang bijak' yang ada di dalam rak buku pribadi Permaisuri di perpustakaan istana.
"Kau.." Naruto menggenggam pedangnya erat, emosi nya ia tahan. Baru kali ini ia ditentang, sejak dulu ia tak pernah dihalangi dalam melakukan apapun yang ia mau. Tapi sekarang istri nya yang bahkan berbicara dengannya pun barang 3 kaki dalam seminggu itu berani berbicara banyak seakan-akan ia paling paham segala nya? Memalukan.
Ia dan Sakura menikah karena politik, perluasan daerah kekuasaan dan memperkuat kerajaan tidak lebih tidak ada cinta tidak ada perasaan.
Brak!
Naruto melempar pedangnya asal kemudian berlalu begitu saja melewati Sakura beserta para dayangnya.
"Masukan Duke Alter ke dalam penjara! Siapkan hukuman gantung pada nya!" Sakura menghela nafas, pria ini benar-benar definisi monster tanpa hati.
.
.
.
.
"Anda membaca buku lagi Yang Mulia Alaric?" Marry membungkuk sopan meskipun ia tau, Sakura tak memandangnya.
"Yaa.. seperti yang anda lihat, bagaimana kabar mu Marry?" Sakura membalik lembar demi lembar kertas yang tengah ia baca, sebuah buku tentang tata kerajaan serta strategi-strategi aneh yang menurut nya membosankan namun ia wajib memahami nya.
"Sebuah kehormatan bahwa saya masih diberi kesehatan dan kebahgiaan sehingga hari ini saya masih mampu mendampingi anda Yang Mulia." Marry kembali membungkuk sopan. Wanita paruh baya dengan rambut hitam kelam serta badan bak jam pasir itu tersenyum simpul melihat betapa anggun nya wanita yang ia agungkan dikerajaan ini.
Keluarga Alrez adalah pelayan kerajaan Olivier yang setia, nenek buyutnya telah menjadi kaki tangan atau dayang bagi para Ratu Olivier terdahulu sejak generasi pertama hingga sekarang ia masih diberi kesempatan untuk menjadi pelayan Ratu Sakura, Permaisuri dari Negara Maja Valeria. Wanita anggun keturunan bangsawan asli dari pasangan Raja Kizashi dan Ratu Mebuki dari Olivier. Cantik, cerdas, baik hati, anggun, sopan santun, lemah lembut, muda dan bertalenta, serta pesona nya itu. Sebuah anugerah bagi keluarga Alrez untuk mendampingi nya, maka dari itu sebuah kebanggaan tersendiri bagi Marry saat ini. Ia sudah menemani sang Ratu sejak Ratu masih berusia 10 tahun, tak heran kalau sekarang Marry merasa ia seperti melihat anaknnya sendiri yang telah tumbuh menjadi wanita kuat dan cantik meskipun ia tau ia tak pantas.
"Apa ada berita bagus Marry? Atau sesuatu yang ingin anda kata kan?" Sakura kembali menyingkap lembar kertas kecoklatan itu, buku dengan ukuran extra besar bersampul hitam pekat ini lama kelamaan cukup menarik juga baginya, sayang jika dilewatkan bukan? Lagipula masih banyak hal yang ingin dia ketahui tentang kehidupan kerajaan terutama sebagai Permaisuri.
"Anda dipanggil Yang Mulia Raja Alaric, Ratu." Sakura mendongak, menghentikan rutinitas membaca nya sekejap.
'raja? Memanggil?'
"mari saya antar Yang Mulia."
.
.
.
.
"Akhirnya anda datang." Naruto membalikan badan mana kala suara pintu terbuka serta langkah kaki itu menginterupsi kegiatan dirinya menatap taman dari jendela kantor sekarang.
"Sebuah kehormatan." Sakura membungkuk pelan, memberi hormat pada sang suami. Naruto mendecih membuat Sakura mengernyir pelan. Apa-apaan? Ia memberi hormat tapi malah dapat decihan ejekan? Yang benar saja.
'tenang sakura, ratu sakura itu anggun!'
Tegas nya dalam hati, sambil tersenyum simpul ia melangkah lebih dekat.
"Apa anda memanggil saya hanya untuk mendecih ditengah-tengah kesibukan anda dalam mengurus Negara wahai Yang Mulia?" Pelan tapi pasti, penyataan sekaligus pertanyaan itu menohok ulu hati.
"Benar sekali, saya amat sibuk mengurus Negara, bagaimana jika anda yang mengurus?" Sakura tersentak mendapat pertanyaan seperti itu dari Naruto, entah mengandung ejekan atau tidak Sakura tak tau.
"Kenapa anda berkata seperti itu Yang Mulia?" Sakura memasang wajah datar nya, sungguh ini semua natural. Ia tidak memaksakan diri, hanya saja nalurinya yang berjalan sendiri. Lagi-lagi ia merasa terkoneksi dengan Permaisuri Sakura.
"Kenapa? Keberatan? Bukan kah anda adalah wanita pandai bicara yang tadi saya temui? Jika anda sudah pandai bicara dan melawan suami bukan kah itu berarti anda pun siap menjadi kepala Negara disini?" Sindir Naruto tajam, ia menyender pada bingkai jendela dengan senyuman misteriusnya. Entah, sulit didefinisikan apa maksudnya.
"Tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada anda Yang Mulia, jika Ratu masih memiliki Raja maka ia mengatur Negara dari balik punggung suami nya, jika saya maju ke garis depan sebagai pemimpin Negara sedangkan saya masih memiliki Suami maka Raja akan di cap sebagai pemimpin yang gagal serta tidak berguna, bukan kah begitu? saya tidak bermaksud banyak bicara, hanya menyuarakan pendapat saya tentang tindakan anda. Jika anda terus seperti itu, bukan tidak mungkin bahwa musuh dalam selimut anda akan bertambah banyak." Sakura berjalan pelan menuju sofa, kemudian mendudukan diri. Naruto menatap nya, memperhatikan gerak geriknya dengan shappire tajam nya.
"Tau apa anda tentang ini? Sudah merasa pintar?" Sindirnya lagi, Sakura menghela nafas. Naruto tipe penekan yang dominan ia ingin menunjukan kuasanya bahwa hanya ia yang berhak tak terkecuali meskipun ia tengah berbicara dengan Ratu, istri nya.
"Tidak banyak yang saya tau, tidak cukup pintar untuk menandingi anda dalam hal stategi melawan musuh dalam medan perang. Saya akui anda mahir dalam hal ini.." ucap Sakura menggantung, kalimat terakhir itu menimbulkan senyum simpul pada bibir Naruto.
"Tapi jika boleh saya bicara, anda bodoh dalam hal menangani musuh dalam selimut Yang Mulia." Sakura menghela napas nya pelan lantas kembali melanjutkan.
"pantas saja anda memiliki banyak sekali oposisi meskipun mereka masih dalam kubu yang sama dengan anda. Itu karena anda tak mengindahkan suara mereka dan tak mau mendengar apa-apa. Harusnya anda dengar orang lain dan resapi apa yang menjadi saran nya bukan hanya menuruti ego anda saja yang belum tentu sejalan dengan mereka atau bahkan belum tentu benar." Lanjut Sakura santai.
"Tau apa anda tentang hal ini? anda ingin mengguruin ku? Hah?" Naruto menegakan posisi berdirinya, kening nya berkerut menahan amarah, Sakura sudah cukup banyak bicara baginya.
"Saya tidak ingin mengguri anda Yang Mulia. Saya hanya ingin anda sadar bahwa apa yang anda lakukan itu tidak benar. Jika anda ingin kerajaan mu sejahtera dan damai serta semua orang mencintai mu maka cintailah mereka juga." Naruto menolehkan kepala nya pada Sakura, mengernyit tak suka. Jika saja bukan karena ia putri Mahkota dari kerajaan Olivier lantas tak ada alasan baginya untuk menikahi gadis sok pintar serta tidak menarik ini.
"Apa maksud mu?" Tanya nya kesal, ia merasa terhina tentu saja.
"Memimpin kerajaan tidak hanya dengan kekuasaan, kekerasan serta egoisme. Anda harus menggunakan hati juga. Hal ini diperlukan saat diskusi, penjamuan, rapat dan pertemuan antar otoritas Negara maupun dengan perwakilan dari bangsawan lainnya. saya benci menyebut ini sebagai penjilat tapi menggunakan hati serta perasaan terbuka dapat memperkuat kerajaan anda." Sakura bangkit dari duduk nya kemudian membungkuk sopan.
"Saya pamit Yang Mulia Raja." Ucap nya lagi, disusul suara pintu tertutup meninggalkan Naruto yang masih melongo tak percaya dengan apa yang didengar nya.
"Kenapa ia jadi tambah banyak bicara?"
Brak!
Naruto memukul meja kerja nya keras, menimbulkan denyut nyeri di sana.
.
.
.
.
"Sedang memanah lagi pangeran Menma?" Sakura berjalan dengan santai nya diatas rerumputan hijau ini mendekati seorang pria yang tengah sibuk dengan panah dan busurnya itu.
"Seperti yang anda lihat Yang Mulia." Ia membungkuk memberi penghormatan kemudian tersenyum singkat.
"Bagaimana kejadian kemarin? Saya dengar Duke Alter tetap di gantung, benarkah?"
Sakura menghela nafas, hal itu lagi. sejujurnya ia tak nyaman. sistem pemerintahan disini memang begini dan cukup kejam baginya yang berasal dari dunia modern.
"Ya seperti yang sudah anda dengar, memang begitu ada nya. Saya tidak bisa menyelamatkan nya." Jawab Sakura murung, agak sedikit bersalah rasa nya.
"Menyelamatkan? Anda berniat menyelamatkan seorang penghianat istana Yang Mulia?" Tanya Menma, cukup menarik baginya.
"Ya menurutku Duke Alter tidak sepenuh nya salah. Dia marah karena perbuatan Yang Mulia sendiri yang tidak mau mendengar saran nya." Menma menyeringai, kembali berbalik menghadap papan sasaran kemudian siap menembakan anak panah. Ia menarik tali string sampai ke pipi kanan nya. Sambil memicingkan mata kanan nya ia lantas berkata.
"Menarik, ada kemajuan seperti nya. Anda terkenal sangat tidak ekspresif dan sekarang justru anda cemberut, anda juga sejak dulu tidak pernah mau terlibat apapun dengan urusan Raja Naruto, apalagi kalau sampai menyangkut hukuman. lagi pula penghianat tetap penghianat. Meskipun saya tidak menyukai kerajaan ini tapi disini lah saya di besarkan, setidak nya saya pun tak mau ada perusuh di kerajaan ini."
Jleb!
Lagi-lagi anak panah nya tepat sasaran. Ia kembali menarik satu buah anak panah dari balik punggungnya.
"Kalau di ingat-ingat juga, anda sudah banyak bicara ya Yang Mulia. Apa suasana hati anda baik?" Menma menoleh kan kepala nya menghadap Sakura yang sekarang tengah bingung harus menjawab apa, bahkan untuk menelan ludah saja susah payah.
'gawat, seperti apa sih permaisuri Sakura ini? Apa dia orang yang sangat dingin?'
"Ekhem.." Sakura berdehem pelan untuk mencairkan suasana.
"Ya mungkin, aku memang sedang dalam suasana hati yang baik." Jawab nya asal, Menma menganggukan kepalanya kemudian kembali menembakan 1 anak panah yang lagi-lagi tepat sasaran.
"Seperti nya ada yang ingin anda sampaikan Yang Mulia? Sampai-sampai anda datang kemari seorang diri tanpa pengawasan pelayan anda." Sakura tersentak, pemuda ini peka dan cerdas. Hanya dengan melihat dirinya sekilas, pemuda ini mengamati sekeliling juga rupa nya. Dia pengamat yang bagus. Definisi Pangeran kerajaan yang tenang namun dapat menjadi ancaman suatu waktu, Ia mengamati dalam diam.
"Seperti nya anda tau maksud kedatangan saya." Sakura tersenyum simpul masih di posisinya, berdiri tepat di belakang Menma.
"Tidak sulit menebak maksud kedatangan dari orang paling penting di Negara ini Yang Mulia. Jika tidak ada hal yang ingin anda sampaikan tidak mungkin anda rela datang kemari seorang diri yang jelas-jelas itu dilarang." Menma mendecih, tersenyum mencibir meskipun Sakura tak dapat melihatnya.
"Jika sepenting itu, bagaimana kalau kita bicara sambil mengelilingi istana Chiara saja?" Menma berbalik, membungkuk sopan memberi penghormatan serta mempersilahkan Sakura jalan di depannya.
.
.
.
.
"Aku dengar kau tinggal disini seorang diri." Sakura berkata sambil mencoba basa basi. Menma tertawa singkat menanggapi nya.
"Harusnya anda sudah tau itu, sejak pembantaian jelas saja saya sendiri." Menma tertawa kembali setelah mengucapkan hal itu sedangkan Sakura sempat tertegun. Bagaimana bisa ia bicara seenteng itu tentang pembantaian sedangkan yang ia bicarakan adalah ibu nya sendiri. Betapa mengenaskannya pangeran ini.
"Apa tidak ada selir lain?" Sakura kembali bertanya sembari menyusuri pilar-pilar tinggi istana ini.
"Tidak ada, selir terdahulu pun semua nya tewas. Kenapa anda sangat ingin tahu dengan istana bagian barat ini Yang Mulia?" Menma melirik Sakura curiga, ia pikir Mungkin saja Sakura ingin menguasai istana Chiara karena masih kosong seperti ini, ditambah lagi ia hanya seorang Pangeran yang berasal dari kalangan bawah, tidak ada hak jika ingin melarang Permaisuri.
Ada hal yang patut diingat. Pangeran, Putri atau pun Lady selir sendiri berhak memiliki anggaraan keuangan, dayang pribadi bahkan berhak menguasai istana barat jika memang mereka berasal dari bangsawan atau juga masih keluarga dengan Permaisuri. Karena Menma berasal dari tidak kedua nya maka status 'Pangeran' hanya nama. Ia tidak berhak melarang jika memang permaisuri ingin. Ditambah lagi istana ini kosong.
"Tidak ada, saya hanya cukup tertarik dengan apa yang ada di dalam nya. Bukan ingin memiliki, tenang saja Pangeran. saya tau aturan dan saya tak ingin menjadi Ratu yang tamak. saya tidak berhak memiliki apa yang sudah di sediakan sebagai milik para selir. saya sudah memiliki hak ku sendiri yaitu Negara ini jadi tak perlu kawatir." Menma membelalakan mata nya kaget, ia tau Permaisuri memang sosok yang cerdas dan berwibawa. Ia jelas tumbuh dari kalangan bangsawan dengan kelas tinggi maka wajar ia mampu bersikap setenang ini tapi Menma tak tau jika wanita ini dapat membaca kekhawatiran orang juga. Ia pun lantas tersenyum simpul.
"Apa yang ingin anda ketahui wahai Yang Mulia, saya merasa terhormat anda bertanya langsung pada saya." Menma memangku tangannya di belakang punggung. Berjalan santai sehabis latihan memanah bukan lah hal yang sering ia lakukan. Agaknya cukup menyenangkan juga apa lagi ia menemani Permaisuri sekarang. Berdua.
"Sudah cukup seperti nya, saya hanya ingin tau apakah ada orang lain selain anda disini. itu saja lalu saya ingin menagih janji mu." Ucap Sakura, ia berjalan dengan santai dan anggun memandang ke depan sana dimana bunga-bunga bermekaran.
"Janji apa Yang Mulia?" tanya Menma tak mengerti.
"saya akan pergi ke perjamuan, salah satu Duchess mengundang saya, disana akan diadakan pertandingan panah antar bangsawan. Saya rasa akan malu rasa nya jika saya mangkir dari susunan acara kunjungan tersebut. Alangkah baiknya jika anda mau mengajari, karena saya perhatikan anda sangat pandai dalam hal yang satu ini." Sakura menghentikan langkah kaki nya, menghadap Menma sepenuhnya. Menatap pemuda yang sepertinya lebih muda dari nya 5 tahun itu sambil berharap sang Pangeran mau membantunya suka rela.
Ayolah ia tak ingin semua bangsawan memandangnya aneh karena bersikap layaknya orang cupu yang tidak bisa melakukan apa-apa padahal Permaisuri Sakura berasal dari kalangan bangsawan kelas tinggi. Akan memalukan jika ia justru tak ikut andil apa-apa dalam acara nanti.
"Yang Mulia dapat meminta tolong pada dayang anda untuk mencarikan guru panahan. Kerajaan memiliki nya." Menma menjawab nya dengan tenang. Ketimbang langsung menerima tawaran, sepertinya lebih enak menolak secara tidak langsung. Karena ia tak ingin terlibat dalam hal merepotkan semacam ini. Ia belum pernah mengajari orang lain panahan, seperti nya akan sulit.
"Saya tau itu Pangeran, kerajaan kita pasti memiliki guru panahan yang amat bagus sehingga anda saja bisa sebaik itu saat berlatih bukan? hanya saja anda telah berjanji kemarin akan mengajari saya memanah." Jawab sakura yang disambut kekehan kecil Menma, Pemuda itu kembali berjalan.
"Sebenar nya sejauh apa istana Aylin dengan Chiara wahai Yang Mulia? Anda tidak tau bahwa saya diperlakukan berbeda? Saya belajar memanah sendiri tanpa guru. Bangsawan kelas bawah tidak di perbolehkan belajar dari guru yang sama dengan kalangan atas seperti anda dan juga Raja. Dan pula kami hanya mendapat pendidikan dasar bangsawan saja tidak ada pelajaran memanah atau bahkan berkuda. Kami melakukannya sendiri." Sakura tersentak, sendiri? Tapi pemuda ini berkali-kali berhasil menancapkan anak panah tepat di sasaran nya, pantas saja ia selalu melihat Menma seorang diri tanpa guru satu pun. Jika bukan bakat? lalu Apalagi?
"Kalau begitu anda memiliki bakat, Pangeran. Saya terharu melihat anda yang terus berlatih meskipun sudah mahir." Menma kembali tertawa menanggapi nya.
"Mahir atau tidak seseorang, anda wajib untuk terus berlatih Yang Mulia. Apa yang sudah anda dapatkan bisa saja hilang. Dalam hal ini adalah kemampuan ku. Jika saya tidak mengasahnya sesering mungkin, bisa saja saya akan kehilangan keahlian dalam hal memanah. Hukum alam seperti itu." Sakura tertegun. Ada benar nya juga. Sesuatu yang sudah menjadi milik mu bisa hilang begitu saja. Bagaimana jika yang dimiliki nya adalah Raja Naruto? Bisa hilang juga jika hubungan diantara ia dan Raja pun tidak baik bukan? Harus bagaimana? Ia datang kemari ingin belajar memanah bukan nya malah memikirkan hal ini.
"Bagaimana Yang Mulia? Anda ingin menghubungi guru?" Menma kembali bersuara mana kala keheningan melanda.
"Tidak, saya rasa belajar dengan anda lebih baik. Jika anda tidak keberatan tentu, lagipula anda telah berjanji Pangeran." Menma menimang kembali permintaan ini, Ratu sendiri yang meminta nya, terlebih lagi ia juga sudah berjanji. Agak tidak sopan jika menolak bukan? Apalagi kasta antara mereka berdua sangat jauh. Kemungkinan untuk kesempatan menolak itu sangat kecil.
"Baiklah."
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Tinggalkan jejak yaa :)
1 mei 2020 - Seriello
