DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO

Pairing : Narusaku

Rated : T

Genre : Drama Fantasy

Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.

Story by me serriello

DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V

.

.

.

.

"sebenarnya Anda tidak perlu repot-repot datang ke perjamuannya Yang Mulia, perjamuan itu sifatnya tidak resmi." Marry berkata sembari menyisir rambut merah muda Sakura, permaisuri cantik itu tengah berendam dengan di kelilingi para dayang nya.

"Saya tau itu Marry." Sakura tersenyum, memamerkan kurva cantik di wajahnya.

"tapi saya tidak ingin mengecewakan Duchess Liliana dengan ketidak hadiran saya, dia telah mengundang maka wajib bagi saya untuk datang. Ditambah Lagi jadwal saya tidak padat." Marry mengangguk mengerti.

Permaisuri Sakura memang dikenal selalu ramah dan mau menghadiri jamuan para bangsawan bahkan bangsawan rendahan sekalipun.

.

.

.

.

"Aku dengar kau akan pergi ke kediaman Duchess Liliana menghadiri jamuan bersama Menma?" Naruto memotong kentang di atas piringnya dengan santai, Sakura melirik presensi Naruto berada dan mulai mengelap ujung bibirnya dengan sapu tangan.

"Seperti nya anda sudah mendengar itu." Jawab Sakura kalem kemudian meminum segelas rum yang sudah disediakan disampingnya.

Ruang makan ini sangat besar, terlalu besar hanya untuk mereka berdua makan. Para pelayan dan penjaga berdiri di balik pintu dan para koki segera keluar sesudah menyajikan makanan, ruangan ini terlalu senyap karena hanya menyisakan mereka berdua.

Sakura kembali mengambil alat makannya dan menyendok sesuap kentang rebus yang di tumbuk halus, sengaja ini memang menu diet nya, berbeda dengan sajian Naruto yang semua makanannya tampak di goreng.

"Apakah perlu sampai kau pergi bersama Menma?" Lanjutnya, pemuda yang telah menjadi raja sejak 3 tahun yang lalu itu nampak menaikan satu buah alisnya, iris nya yang biru secerah langit musim panas nampaknya menelisik ingin tau maksud dari Sakura.

Wanita merah muda itu nampak terusik, merasa risih di tatap sedemikian rupa hingga akhirnya ia mengangkat wajah nya.

"Lalu apakah kau bersedia pergi bersama ku?"

Mendengar itu nampaknya cukup mengejutkan bagi Naruto, apa ini termasuk sebuah ajakan mendadak? Menghadiri jamuan tidak lah wajib bagi keluarga kekaisaran apalagi Raja.

Ini bukan suatu hal yang penting dan jika mereka tidak pergi maka Tuan rumah akan memaklumi. Tapi apa yang membuat Sakura bersikeras pergi ke sana bahkan sampai mengajaknya?

"Aku tidak berpikir akan pergi, masalah di Negara jauh lebih penting dibanding menghadiri jamuan seperti itu." Katanya sambil kembali melanjutkan makan.

"Kalau begitu tidak masalah bukan jika aku pergi bersama Pangeran Menma, lagi pula dia tidak sedang sibuk." Sakura kembali meneguk rum nya dan nampak memperhatikan reaksi Naruto dari balik gelas di depan wajahnya.

Pemuda pirang itu nampak mengeraskan rahangnya, Sakura tidak tau jika memakan kentang goreng perlu mengunyah sekuat itu.

"Tidak masalah memang, tapi apa kah itu perlu? Kau bisa pergi sendiri bersama para dayang mu. Ku rasa itu cukup." Katanya lagi, sukses membuat Sakura yakin bahwa hubungan antara Menma dan Naruto memang tidak ada baiknya bahkan mungkin semakin memburuk dengan keadaan bahwa Sakura begitu dekat dengan Menma.

Bukan tidak mungkin rumor menyebar antara kedua nya apalagi sejak fakta bahwa Sakura meminta langsung Menma untuk mengajarinya panahan, dibanding belajar bersama guru yang ahli Sakura justru bersikeras belajar bersama pemuda itu.

Tentu saja Naruto mendengarnya, sebenarnya dia tidak ingin ambil pusing. Apapun yang menjadi tindakan Sakura dia Tidak ingin mengetahuinya tapi desas desus itu makin santer diperbincangkan diantara para bangsawan lain dan cukup mengganggu baginya.

Jika memang Sakura memiliki kisah cintanya ataupun tertarik dengan Menma sebenarnya Naruto tak mau ambil pusing hanya saja semua itu akan berdampak pada citra nya dan itu yang sebenarnya di khawatirkan Naruto.

Dia tidak cukup tuli untuk pura-pura tidak mendengar rumor bahwa hubungannya dengan Sakura tidak baik maka permaisuri mencari pria lain untuk mengisi presensi kosong itu atau bahkan rumor tentang dirinya yang bisa jadi tidak mampu membawa kebahagian bagi permaisuri bukan kah itu sudah cukup membuat telinga nya memerah? Menjengkelkan, maka dari itu sebisa mungkin dia ingin mengawasi tingkah laku Sakura, disaat dia hampir bernafas lega karena perjamuan tinggal menghitung hari dan Sakura tak perlu belajar bersama Menma lagi justru malah semakin parah dengan berita bahwa permaisuri ingin pergi bersama 'guru' memanahnya.

"Aku memang bisa pergi tanpa Menma, tapi aku rasa akan lebih baik jika pergi bersama nya ditambah lagi aku akan meminjam busur milik nya jadi aku rasa membawa sang pemilik busur sepertinya tidak masalah." Sakura menjawabnya dengan santai, menyelipkan sehelai poni panjangnya yang lolos kebalik telinganya.

Tidak dapat dipungkiri sebenarnya menurut Naruto tingkah laku Sakura itu sexy ditambah lagi iris kehijauan yang memukau itu menatapnya dengan seduktif, apakah permaisuri tengah mencoba merayunya? Oh tidak ini bukan waktu yang tepat untuk mengagumi lagipula sejak kapan dia berpikir bahwa permaisuri bisa jadi secantik ini.

Dia tidak pernah memperhatikan Sakura barang sekali. Mungkin hanya sesekali melihatnya dari samping atau pun dari belakang, mereka juga pernah tidur bersama dan berhubungan badan tapi itu dapat dihitung dengan 10 jari tangan meskipun pernikahan mereka sudah menginjak 3 tahunan.

"Terserah pada mu." Katanya kemudian dia bangkit dan membenahi posisi kerah jubah emas nya, berdehem pelan mencoba menekan perasaan ingin mengecup bibir ceri permaisuri meskipun dia tidak memiliki alasan untuk tidak melakukannya, toh mereka adalah suami istri tapi ego dan gengsinya memimpin kali ini.

"Aku akan pergi turun ke rakyat dan mengunjungi daerah-daerah terpencil bersamaan dengan perginya kau ke kediaman Duchess Liliana. Sampaikan salam ku pada nya." Kemudian dia berlalu, setelah mendengar pintu terbuka kemudian tertutup kembali Sakura yakin Naruto sudah pergi.

'apa dia cemburu?'

.

.

.

.

"Saya tidak menyangka jika anda benar-benar akan pergi bersama saya Yang Mulia." Menma memulai pembicaraan ketika mereka berdua sudah didalam kereta kuda.

Kediaman Duchess Liliana jauh berada di sebrang sana dari istana maka dari itu mereka perlu naik kereta kuda yang di khususkan untuk bepergian jauh. Tepat satu jam setelah kepergian rombongan dari Raja yang menuju ke tengah-tengah kota.

"Ya aku juga tidak menyangka jika akhirnya Raja mengizinkan kita." Sakura tersenyum simpul, ada secarik kain tule yang menutupi wajahnya yang dijahit rapi tersambung bersama topi merah maroon nya, beberapa bulu juga menjadi hiasannya, dia nampak cantik dengan riasan itu ditambah lagi rambutnya yang di gelung kebelakang dan dihiasi beberapa mutiara asli.

Menma tersenyum, dia tidak mengerti kenapa Raja bodoh itu bersikap dingin kepada seorang permaisuri yang cantik jelita. Sakura bahkan dijadikan simbol dari kesucian dan cinta kasih oleh para rakyat, banyak para bangsawan yang tengah hamil datang ke istana untuk minta di berkati oleh permaisuri, bukan cuman bangsawan bahkan para rakyat jelata sekalipun dan dia mau memberkati mereka tanpa beban. Benar-benar sosok permaisuri yang dicintai.

"Apakah ada sesuatu di wajah dan pakaian ku sehingga anda memandangi ku seperti itu?" Sela Sakura membuyarkan tatapan terpana Pangeran Menma dan itu membuat Menma tertawa, dia ketahuan.

"Tidak ada kecuali kesempurnaan. Anda terlalu sempurna sebagai seorang manusia Yang Mulia" Puji nya kemudian disusul gelak tawa Sakura.

"Terimakasih."

"Anda patut menerima nya." Menma mengatakan itu dari lubuk hatinya.

Sejujurnya dia tidak pernah sedekat itu dengan sang permaisuri. Dia hanya pernah melihatnya beberapakali dan itu dari jarak yang lumayan jauh.

Pertama saat pernikahan Raja dan Ratu, kedua saat penobatan jabatan dan kemudian pertemuan di beberapa jamuan resmi di istana, dia tidak diperbolehkan lebih dekat dengan keluarga kekaisaran karena status sosialnya dan meskipun begitu dia juga tidak ada niatan untuk melangkah lebih dekat dengan permaisuri Raja, tidak tertarik lebih tepatnya.

Tapi menyadari fakta bahwa permaisuri Sakura cukup berbeda dari pada yang dia bayangkan sepertinya menarik juga, bukan hanya karena parasnya dan rambut merah muda istimewanya tapi juga kepribadiannya.

Terkadang Sakura begitu polos namun berwibawa dan tegas selaiknya seorang Ratu. Jika saja dia mengetahui sifat asli Sakura jauh sebelum ini, sepertinya Menma tidak akan keberatan membantu ratu kapan pun dia mau.

Beberapa kali Sakura melongok kan kepalanya dan melambai kepada para rakyat disepanjang jalan mereka menuju kediaman Duchess, beberapa diantaranya berteriak kegirangan mana kala mereka menyadari bahwa Permaisuri Yang Agung telah menyapa mereka, bahkan ada yang menangis karena tak percaya sosok yang telah menjadi role model nya berpapasan dengan nya di jalan.

Ini menambah citra seorang permaisuri yang dicintai, Menma memang tidak menyangkalnya tapi melihat pancaran kegembiraan didalam iris hijau itu membuat Menma makin yakin bahwa Sakura menyapa para rakyat bukan untuk tujuan politik apapun tapi memang karena dia ingin.

"Saya mendengar bahwa anda sering sekali mendengarkan aspirasi dari rakyat di luar 'pertemuan umum' dan anda juga tidak keberatan menemui mereka yang datang dengan tujuan tertentu." Menma kembali berbicara saat kereta mereka telah melewati kerumunan para gadis yang tengah menenun kain di depan rumah dan sekarang kereta kembali memasuki daerah perkebunan yang sepi.

Biasanya sebulan sekali warga di berikan kesempatan untuk datang ke istana untuk menyampaikan aspirasi di 'pertemuan umum' di sana para warga yang telah di sortir oleh para Duke akan diizinkan memasuki aula istana untuk menyampaikan aspirasi mereka, yang paling penting dan dianggap darurat lah yang diizinka, entah itu masalah hukum, ketidak adilan ataupun keluh kesah tentang upah dan sebagainya dan mereka akan bertemu dengan Raja dan Permaisuri secara langsung.

"Tidak ada alasan untuk mengusir mereka atau pun tidak mau menemui mereka, mereka telah menghabiskan setengah hari untuk menunggu ku datang, jadi apa salahnya?" Sakura tersenyum mengatakannya dan itu cukup membuat Menma kembali kagum, jawaban yang di luar ekspektasi.

"Itu benar, saya paham." Katanya sambil menganggukan kepala.

.

.

.

.

"Yang Mulia telah sampai." Kata seorang pelayan sambil mengibarkan bendera biru dengan lambang matahari ditengah nya.

Segera setelah itu semua orang bersiap dengan posisi nya, membungkuk sedalam-dalam nya begitu figur sang permaisuri agung mulai muncul dari dalam kereta, wanita merah muda itu dibalut dengan pakaian merah maroon indahnya dengan beberapa aksen jahitan berwarna emas, dia tersenyum sumringah.

Setelah itu muncul sosok pangeran muda setelah nya, pemuda itu memakai jubah berwarna biru dongker kontras dengan pakaian permaisuri, tidak terlalu mewah apalagi istimewa tapi Menma sudah biasa ditambah lagi pandangan penuh tanya dari para hadirin di sana yang menatapnya ingin tahu, sebagain mungkin tak mengenalinya tapi separuh dari para hadirin tau dia siapa itu terbukti dengan suara bisik-bisik yang langsung berkumandang.

"Yang Mulia saya sangat merasa terberkati, anda benar-benar datang kemari." Itu Duchess Liliana, wanita paruh baya dengan gaun berwarna ungu gelap serta berambut hitam legam, Sakura tersenyum untuk menanggapi nya, selagi Marry membenahi rok bagian belakangnya yang terlipat akibat diduduki selama dalam kereta dia kembali bersuara.

"Memang tidak ada kewajiban untuk menghadiri jamuan, Duchess. tapi aku rasa tidak ada salah nya memenuhi undangan lagi pula saya sangat tertarik dengan kompetisi panahannya." Sakura tersenyum namun dia segera sadar ketika pandangan Duchess justru tertuju pada presensi di sebelah kirinya membuat ia sadar, dia tidak datang sendiri.

"Ah ini pangeran Menma, adik Raja Naruto, putra dari ibu selir Hana dia adalah guru panahan saya. Saya harap anda tidak keberatan saya datang bersama nya." Sakura kembali bersuara menjelaskan ketidak pahaman mereka, segera setelah itu Duchess dan semua hadirin nampak menganggukan kepala nya. Sepertinya pertanyaan mereka terjawab sudah.

"Tidak masalah Yang Mulia, mari jalan nya lewat sini."

.

.

.

.

"Saya masih tidak percaya anda mau datang ke perjamuan sederhana ini Yang Mulia." Pernyataan Duchess Liliana nampak nya disetujui para hadirin lainnya.

Sekarang para wanita tengah makan dan meminum teh di meja out door yang menghadap langsung lapangan memanah, dari sini Sakura bahkan dapat melihat Menma tengah mengetes tali string busur miliknya dengan melesakkan beberapa anak panah dan para bangsawan muda lainnya sibuk memuji nya.

"Aku sudah bilang ini bukan masalah besar Duchess, oh iya Raja menitip salam untuk anda." Sakura tersenyum dan Duchess nampak tersipu malu.

sebenarnya mereka semua asing bagi Sakura tapi untungnya dia sempat bertanya pada Marry sebelum mereka berangkat tentang siapa saja yang kira-kira akan datang ke perjamuan dan beberapa nama telah di sebutkan, Marry bahkan menyebutkan ciri-ciri mereka secara spesifik seperti wanita dengan tahi lalat di atas bibir dengan pakaian berwarna hijau itu pasti bernama Countess Aunn dan wanita dengan topi berwarna kuning cerah dengan beberapa pernak pernik yang dipakai lebih dari cukup itu pastilah Archducess Tian, wanita yang dikenal suka memamerkan kekayaan, sepertinya kali ini dia tidak terlalu menonjolkan harta mengingat permaisuri ada satu meja dengannya. Setidaknya dia punya etika.

"Anda akan ikut kompetisi memanah Yang Mulia?" Seorang wanita muda dengan gaun merah keunguan membuka suara dan Sakura menanggapi nya dengan mengangguk.

"Aku rasa kita semua akan kalah jika permaisuri turun tangan." Para Duchess lainnya mengangguk mengiyakan dan Sakura kembali tertawa.

"Anda terlalu berlebihan."

"Kami tau bahwa anda selalu unggul dalam segala hal Yang Mulia, bahkan dalam bidang olahraga." Katanya sambil merengut dan itu sukses membuat Sakura kembali tertawa geli.

"Nyonya, lapangan panahan nya telah siap." Bisik seorang pelayan pada Duchess Liliana, segera setelah melihat tuannya mengangguk maka sang pelayan segera membungkuk pada para hadirin dan izin mengundurkan diri.

"Apa anda sekalian sudah siap untuk bertarung diatas lapangan?" Katanya yang tentu saja disambut dengan anggukan antusias.

.

.

.

.

"Yang Mulia ini busurnya, saya sudah mengaturnya sedemikian rupa. Tali string nya baik-baik saja." Menma menyodorkan satu buah busur sedang dengan setengah menunduk, Sakura menyambutnya dengan senyum.

"Terimakasih pangeran." Katanya yang kemudian disusul dengan senyum simpul Menma, pemuda itu lantas berjalan mundur dan bergabung dengan para bangsawan pria lainnya, dia sudah menjalankan debut pertama nya sebagai bagian dari bangsawan beberapa tahun lalu dan para bangsawan yang ada disini juga ada di pendebutan tersebut maka beberapa diantara nya tidak asing bagi Menma.

"Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini."

Sebuah suara menginterupsi kegiatan Menma memperhatikan Sakura dari belakang, ia menoleh ke arah presensi suara itu muncul.

Seorang pria dengan rambut blonde panjang disisir rapih kebelakang dan sebuah gelas ditangan kanan, Menma sedikit memicing mencoba mengingat siapa pria itu.

"Senang bertemu dengan anda Menma." Pemuda itu mengecap wine dari gelas yang di bawanya. Senyum simpul nampak bahkan sejak dia mengecap setetes cairan berwarna merah.

Menma nampak tersenyum kemudian dia mendecih meremehkan, ahh dia ingat pria ini, pria dengan rambut blonde sudah pasti paman dari Naruto, Archduke Deidara.

Menma benci mengatakannya tapi memang itu faktanya, pemuda ini tau tentang pembantaian itu dan tau seluk beluk dirinya.

Ya meskipin dia juga tidak tau untuk apa Deidara menyapanya, seharusnya dia tak perlu repot-repot menyapa toh para bangsawan banyak disini dan dia bisa berbicara dengan yang lainnya tapi sepertinya Deidara punya tujuan lain dan Menma paham itu.

"Ya, mengejutkan memang. Permaisuri memintaku menemeni nya karena di perjamuan ini ada kompetisi memanah." Menma menghadap Deidara sepenuhnya kemudia dia menyeringai dan Deidara mendecih melihtnya.

"Aku tau." Katanya, tidak mengagetkan memang, Menma tau pasti rumor itu akan tersebar dengan cepat karena ini pembicaraan yang sensitif. Apalagi permaisuri meminta seorang pria dari kelas sosial yang rendah pergi ke perjamuan bersama nya bukan lah hal yang umum maka tak heran kalau Deidara bahkan sampai tau hal ini.

Pemuda blonde itu melangkah maju, hingga akhirnya mereka berdiri bersisian menghadap saling berlawanan kemudian Deidara mulai membisikan sesuatu.

"Tapi yang membuat ku kaget adalah bagaimana bisa seorang rendahan seperti mu bisa dekat dengan permaisuri, apakah rumor itu benar bahwa kau bermain dibalik punggung keponakan ku? Ah jika benar seperti itu aku tidak mampu menjamin tentang keselamatan diri mu." Katanya sebelum kemudian berlalu.

Menma memejamkan matanya menyembunyikan iris gelap kelam nya. Dia kesal. Tidak, lebih tepatnya marah luar biasa.

Dulu saat usianya 3 tahun pembantaian itu terjadi dan dia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan saat sesosok pria besar menggendongnya keluar dari istana Chiara setelah memenggal kepala ibunya dia tidak mampu berbuat apa-apa.

Semua nya berlalu begitu saja meninggalkan trauma besar dalam otaknya dan sekarang keluarag Namikaze itu ingin melukai dirinya secara terang-terangan hanya karena dia dekat dengan permaisuri? Ini tidak bisa dibiarkan.

Dia sudah terlalu lama diam. Dia sudah terbiasa diinjak-injak, tapi untuk hal ini dia harus melawan. Harus.

.

.

.

.

"Yang Mulia, pusatkan fokus anda pada titik paling tengah dari bantalan sasaran."

Suara lembut dari balik telinga kanan nya membuat Sakura berjengit kaget, Itu Menma dan sebuah tangan menyentuh busur yang dia pegang membuatnya bertambah terkejut.

Entah kenapa Menma bertingkah seintim ini, memang tidak berlebihan tapi ini jauh lebih dekat dari sebelumnya, kemarin saat Menma mengajarinya memanah, pemuda itu akan berdiri 2 langkah dibelakangnya dan memberikan arahan dari sana, tangannya bahkan selalu disimpan dibalik punggungnya tapi sekarng pemuda ini lebih memilih mendekat barang hanya satu senti jaraknya dan menyentuh busur digenggaman Sakura.

"Baik." Jawabnya kemudian dia mengangkat busurnya dan menempelkan tali string di pipi nya.

Sakura sudah berganti pakaian menjadi pakaian yang lebih kasual dan santai, setelan yang biasa di kenakan untuk berolahraga atau menunggang kuda. Tapi hal itu tidak mengurangi kecantikannya. Justru dia makin terlihat bagai seorang prajurit wanita tangguh yang tengah berlatih diatas lapangan.

Menma tersenyum, dari balik punggung kanan permaisuri dia mampu menangkap figur seorang pria blonde duduk di seberang sana memperhatikannya dengan segelas wine disampingnya, pemuda itu nampak tersenyum sumringah kearahnya dan Menma tau arti senyum itu.

Siapa yang mulai?

Dan mari kita lihat siapa yang menghancurkan siapa?

.

.

.

.

Sakura memusatkan fokusnya dan ketika aba-aba terdengar ia lantas menarik tali string, memicingkan mata dan melepas anak panah setelahnya.

Ia mengingat betul semua arahan dari Menma dan ketika Duke Estos berteriak angka 10 untuk yang ketiga kalinya dia bisa bernafas lega. Sakura memang baru kali pertama memanah tapi tubuh permaisuri Sakura ini sepertinya tidak kehilangan keahliannya. Dengan tubuh ini Semuanya jadi serba mudah bagi Sakura.

Akhirnya memang dia memenangkan pertandingan. Sakura berbalik dan Menma menghampirinya memberinya pelukan hangat sebagai ucapan selamat. Begitupun semua bangsawan bergantian mengucapkan selamat padanya. Ini memang bukan pertama kalinya permaisuri Sakura memenangkan sesuatu, tapi ini pertama kalinya bagi Sakura.

"Anda memang berbakat dalam segala hal Yang Mulia." Deidara membungkuk memberi salam, Sakura sedikit memicing. Dia agak asing dengan pemuda ini tapi nampak nya bagi pemuda itu justru sebaliknya maka dari itu Sakura lantas tersenyum sumringah dan berkata.

"Terimakasih banyak."

"Saya bangga keponakan saya memiliki anda."

Ahh, Sakura berseru dalam hati akhirnya dia tau bahwa pemuda ini paman dari Naruto. Memang rambut blonde nya ciri khas sekali dari keluarga Namikaze.

"Sekali lagi terimakasih." Sakura sedikit membungkuk memberi penghormatan atas ucapan selamat itu. Kemudian Deidara berlalu dan Sakura kembali berbincang dengan para bangsawan lainnya.

"Aku rasa kau cukup berani menantang Namikaze, apa kau pikir kau bisa melawan?" Bisiknya tepat ketika dia kembali berpapasan dengan Menma.

.

.

.

.

"Yang Mulia akhirnya anda kembali." Countess Vian membungkuk memberi penghormatan, dia tidak ikut ke perjamuan karena hanya Marry dan beberapa dayang yang diizinkan maka dari itu dia menunggu rombongan permaisuri kembali dari perjalanan dengan setengah bosan.

Biasanya dia bisa bergosip dengan Marry meskipun wanita paruh baya itu sering tidak tertarik dengan perbincangan tapi perimasuri pasti akan menanggapi celotehannya.

"Aku merindukan anda Yang Mulia." Vian nampak kegirangan bahkan dia sempat meloncat loncat kecil menyadari bahwa wanita yang ia agungkan kini berdiri didepannya, sebelumnya dia berfikir bahwa perimasuri akan pergi lebih lama tapi ternyata tidak.

"Pelan-pelan Vian, anda bisa jatuh." Marry memutar bola matanya bosan melihat Countess Vian yang begitu kegirangan sedangkan Sakura menanggapi nya dengan senyuman, dia segera berjalan bersama para dayangnya menuju istana miliknya untuk istirahat sementara para pelayan istana segera menurunkan barang-barang dari kereta, sebagian besar merupakan hadiah dari kemenangan nya dari kompetisi panahan.

Ketika rombongan mereka berjalan sampai di koridor istana Sakura dapat melihat sesosok wanita dengan rambut lavender tengah tertawa dari balik rimbunnya semak-semak yang terawat, kaki nya berhenti melangkah, ia tau wanita itu bukan pelayan dan bukan juga dari bangsawan. Meskipun ini pertama kalinya dia melihat wanita itu tapi ia yakin mimpi buruknya sudah ada di depan mata.

Menyadari permaisuri menghentikan langkah nya, lantas para dayang saling pandang. Ekspresi Countess Vian berubah menjadi muram, ia lupa mengabarkan tapi dia juga tidak ingin mengabarkannya jika bisa. Ini terlalu buruk dan dia tidak ingin permaisuri sedih, maka dengan berat hati dia pun bersuara.

"Anu Yang Mulia... anda sudah dengar Raja membawa pulang seorang... selir?"

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

Maaf untuk beberapa typo yg bertebaran dan mohon maaf juga jika ada yg ga suka sama pemenggalan kata dan penggunaan "anda-saya" wkwkwk mohon di maklumin aja soalnya ini kan ceritanya jaman kerajaan dimana sopan santun yg paling utama:'v masih banyak yg nungguin ga yaaa aku takut fic ini ga menarik walaupun aku menaruh harapan besar sama fic ini ya karena semua yg berbau pelakor itu cukup membakar emosi wkwk btw sepanjang ini masih baru permulaan loh yaa aku sebenernya juga berharap momen NaruSaku nya bakal lebih banyak ehh tapi emng belum waktunyaa wkwk

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKKK wkwkw

23 juli 2020 - Serriello