DISCLAIMER : MASASHI KISIMOTO

Pairing : Narusaku

Rated : T

Genre : Drama Fantasy

Warning : OOC, OC, AU, TYPO, MAINSTREAM THEME etc.

Story by meserriello

DONT LIKE DONT READ MINNA BUT I HOPE U READ THIS AND LIKE IT:V

.

.

.

.

"selir kata mu?" Marry terkejut, ia takut pendengarannya bermasalah tapi ketika dia sadar bahwa Countess Vian mengangguk, dengan segera dia menoleh pada sang permaisuri.

Sakura nampaknya tidak terkejut, wanita itu segera berjalan mendahului yang lain dan menuju sumber pembicaraan.

Vian yang berjalan mengikuti Sakura dan lainnya lantas tercengang mana kala wanita lavender itu tengah memetik bunga dari semak-semak rimbun di belakang istana ini.

"Berani nya anda memetik bunga di istana permaisuri! Ini bukan daerah anda!"

Countess Vian yang memang pada dasarnya tipikal wanita barbar, dia jelas marah ketika ada orang lain berada di lingkungan permaisuri tanpa izin dan bahkan tanpa dosa nampak memetik bunga seenak jidatnya.

"Hentikan itu Countess." Sakura segera mencekal pergelangan tangan Vian ketika gadis muda itu hampir saja menampar pipi Hinata, wanita lavender yang di gadang-gadang menjadi selir Raja.

"Tapi Yang Mulia dia telah lancang memasuki istana dengan kaki kotornya, ini adalah daerah kekuasaan anda Yang Mulia." Vian nampak nya masih tidak terima sedangkan wanita lavender itu mulai berkaca-kaca, pipi nya memerah terkejut disentak sedemikian rupa bahkan hampir ditampar jika saja wanita bersurai merah muda yang di sebut 'Yang Mulia' itu tidak mencegah nya.

"Maafkan kami Yang Mulia." Dua dayang di belakang Hinata segera membungkuk meminta maaf sepenuh hati dengan segala penyesalannya, dia tau bahwasannya selir tidak boleh memasuki istana kediaman ratu dengan alasan apapun kecuali mendesak.

"Nona Hinata memaksa ingin memetik bunga nya, kami sudah bilang tidak boleh. Mohon maklum Nona Hinata belum tau peraturannya Yang Mulia." Salah satu dari dayang tersebut kembali bersuara, ia mencengkeram kain baju bagian dadanya sebagai bentuk penyesalannya, iris nya mulai sembab, sepertinya dia mulai bersiap untuk menangis. Bukannya memarahi, Sakura justru menaikan satu alisnya.

"Baroness Libertine? Bukan kah anda sekarang harusnya tengah mencuci pakaian saya? Kenapa disini?" Sakura menatap tajam wanita tadi, wanita paruh baya itu terkejut nampaknya ia sangat panik, susah payah menelan ludah hingga akhirnya ia punya cukup keberanian untuk berkata.

"Yang Mulia Raja meminta saya berhenti bekerja sebagai dayang Anda Yang Mulia, beliau ingin saya menjadi dayang selir Nona Hinata." Katanya sambil menunduk dalam-dalam.

Bukan hanya Sakura yang terkejut namun hampir semua dayang nya membelalakkan mata.

Apa-apaan ini, ini jauh lebih cepat dari pada Novel. Tidak bisa dibiarkan, jika terus-terusan begini hari kematiannya akan jauh lebih cepat datang.

Hari ini dayang pribadinya sudah diambil, lalu besok apa? Satu persatu semuanya akan hilang dan Sakura berniat menjaga hal itu supaya dia tidak mati untuk yang kedua kali nya tapi nyatanya ini jauh dari ekspektasi, Baroness sudah diambil dihari pertama selir datang, apa maksudnya?

Padahal harusnya Baroness akan dipindahkan oleh Raja 3 hari setelah selir bajingan itu ada. Kenapa jadi jauh berbeda dari novel nya.

Sakura menggertakkan giginya dalam diam, tanpa berkata apapun bahkan tak perlu repot-repot bereaksi apapun dia lantas berbalik arah dan meninggalkan tempat penuh dengan aura kedinginan.

Jika wanita itu mampu mendahului cerita lalu kenapa dia tidak bisa? Tunggu saja.

.

.

.

.

"Yang Mulia gawat! Countess Vian dimasukan kedalam penjara oleh Raja!" Duchess Victoria berseru didepan Sakura yang tengah membaca buku di meja kerja nya, iris hijaunya terbelalak kaget mendengarnya, ada apa ini sampai-sampai Vian dimasukan ke penjara secara tiba-tiba.

Tanpa pikir panjang ia segera keluar dari kantornya disusul Marry yang baru muncul dari tempat cuci pakaian bersama para dayang lainnya.

"Yang Mulia anda mau kemana?!"

.

.

.

.

Brak

Dengan satu dorongan saja mampu membuat pintu tinggi besar itu terbuka, dari sini Sakura dapat melihat Naruto yang tengah sibuk dengan laporan kenegaraan nya, disampingnya ada Kiba yang sedikit terkejut dengan kedatangan Sakura yang tiba-tiba.

"Ada apa?" Katanya sambil melirik sakura yang kini sudah berdiri kokoh didepan meja nya.

Sakura nampak terengah-engah namun sekuat tenaga menjaga ekspresi muka nya, dia selalu terlihat dingin, setidaknya itu bagi Naruto.

"Apa maksudmu dengan memasukan Countess Vian ke dalam penjara secara tiba-tiba?" Sakura nampaknya tidak ingin basa basi, ia ingin langsung ke inti. Naruto tampak mendecih kemudian meletakan pena nya dengan sedikit kesal.

"Dia hampir menampar selir ku lalu apa salah nya? Wajar bukan?" Katanya santai sambil memandang remeh Sakura.

Itu cukup menjengkelkan. Tidak, Bukan cukup tapi memang menjengkelkan. Sakura memejamkan matanya sejenak mencoba menekan emosi yang memburu dalam hatinya. Perasaan kesal yang ditahan lebih menyesakkan dibanding gaun yang diikat kencang secara paksa yang ia kenakan.

"Yang Mulia, aku bahkan belum memberikan restu untuk selir mu." Sakura menggigit bibir bawahnya kesal bukan main, dia memang tidak mencintai Raja Naruto, setidaknya untuk sekarang tapi dia tau bahwa permaisuri Sakura yang sesungguhnya benar-benar mencintai Raja, jadi tentu saja dia marah melihat betapa tidak pedulinya Raja Naruto terhadap istri nya.

"Aku punya hak istimewa, tanpa perlu menunggu izin mu aku bisa memiliki selir bahkan sampai 3, lalu apa masalahnya? Bukan kah kau kemari karena ingin bertanya kesalahan dayang mu? Aku sudah menjelaskannya tadi." Katanya dingin kemudian kembali menyambar penanya dan menandatangani laporan di atas meja.

"Selir anda yang pertama membuat masalah, dia dengan seenaknya memasuki daerah ku jadi bukan kah Countess tidak bersalah ? Dia hanya mencoba melindungi hak tuannya." Sakura mendongakkan kepala nya, mati-matian menahan air mata, sebenarnya dia bukan tipikal wanita lemah tapi menghadapi pria dingin dan tak perduli padanya cukup menyakitkan juga.

"Jadi maksudmu harusnya aku memasukan Hinata ke dalam penjara?" Alisnya naik sebelah ada raut tidak terima di sana.

Sakura membuang pandangannya asal, oh ayolah dia tidak ingin menangis di depan Raja, dia tidak ingin terlihat lemah. Perang bahkan belum di mulai, dia tentu tidak mau kalah begitu mudah.

Untuk menuju kemenangannya setidaknya dia harus kuat Dan mampu menunjukan siapa yang berkuasa.

"Aku tidak meminta anda melakukan itu aku hanya meminta keadilan ku. Daerah itu adalah hak ku jadi wajar ketika dayang ku mencoba memberi peringatan pada siapapun yang melanggar aturan termasuk selir anda." Katanya, Naruto kembali mendongak memandang remeh Sakura kemudian berkata.

"Kau benar-benar tidak memiliki hati Yang Mulia Ratu, Hinata tidak tau aturannya seperti itu, dia masih belum bisa beradaptasi disini dan wajar kalau sampai dia tersesat hingga ke sana. Seharusnya anda bisa memakluminya."

"Kalau begitu harusnya anda juga mampu memaklumi bahwa Countess Vian tidak tau jika selir anda tidak paham aturan."

Hening, Kiba yang terjebak dalam perang dingin ini bahkan bingung harus berbuat apa. Dia hanya membuang pandangan asal dan bertingkah pura-pura tidak dengar. Dia tau hubungan antara Raja dan Ratu memang tidak akur bahkan jauh dari kata harmonis tapi memergoki keduanya beradu argumen sekarang langsung di depan mata jujur saja baru kali ini dia alami. Kiba ingin pergi tapi Naruto tak memberi perintah apapun padanya, posisinya jadi serba salah.

"Katakan pada Ksatria Tobi segera bebaskan Countess Vian." Perintahnya, kemudian Naruto kembali sibuk dengan pekerjaannya.

Sakura segera menghela napas lega begitu Kiba mengangguk mengerti dengan titah tuannya.

.

.

.

.

"Yang Mulia!!"

Segera setelah Ksatria Tobi membuka jeruji kayu itu, Countess Vian langsung memeluk Sakura sambil menangis, di pipinya terdapat beberapa lebam dan juga jejak tanah di sana. Sakura memeluknya hangat sambil mengelus punggung wanita muda itu dengan sayang.

"Sudah tidak apa-apa, kau sudah bebas." Katanya.

"Sungguh Yang Mulia?"

Sakura mengangguk sebagai jawaban, Countess Vian kembali memeluknya erat.

"Maaf saya memeluk anda dalam keadaan kotor begini Yang Mulia, maaf saya telah membuat anda malu."

Sakura menggeleng cepat kemudian menghapus jejak air mata Vian dengan ibu jarinya.

"Kamu tidak bersalah, justru apa yang kamu lakukan sudah benar Countess. Anda membela saya dengan baik. Sekarang mari kita keluar."

Senyuman mekar diantara kedua nya, Sakura segera membimbing Vian untuk keluar dari penjara bawah tanah yang lembab bersama Kiba dibelakang mereka.

.

.

.

.

"Aku tidak tau kalau daerah itu tidak boleh dimasuki sembarangan Yang Mulia."

Gadis lavender itu mulai berkaca-kaca, pipi nya memerah entah karena malu atau justru sedih karena ia merupakan penyebab perang dingin antara Raja dan Ratu. Tentu saja dia juga dengar bahwa dayang ratu yang tadi hampir menamparnya itu dimasukan ke penjara oleh baginda raja.

"Tidak apa-apa Hinata, itu kan karena kau tidak tau. Lain kali jangan ke sana lagi. Yang Mulia permaisuri pasti tak suka."

Naruto membelai lembut surai lavender itu, Hinata menyenderkan kepalanya pada dada Naruto. Mereka tengah bermesraan di sebuah sofa empuk di istana raja.

"Lain kali aku tidak akan ke sana lagi, tapi bunga di sana tumbuh sangat cantik." Hinata memanyunkan bibir nya iri, dia sempat bertandang ke istana Chiara tadi dan sempat melihat-lihat sekitar, tidak ada yang istimewa. Jika di bandingkan dengan istana milik permaisuri tentu saja itu jauh berbeda. Mereka memiliki levelnya masing-masing.

"Itu pasti karena permaisuri merawatnya dengan baik. Dia memang suka berkebun." Jawaban Naruto justru menambah kekesalan Hinata, bukannya memberikan dia fasilitas yang sama, setidaknya memberi perintah para pelayan untuk menanam bunga yang sama dengan milik permaisuri, Naruto justru memuji Ratu nya. Tentu saja Hinata makin kesal.

"Kalau begitu Hinata juga mau berkebun seperti permaisuri." Katanya, Naruto sedikit melirik Hinata dari ujung matanya, dia tersenyum.

"Boleh saja, istana Chiara juga perlu sesuatu supaya terlihat hidup sepertinya."

.

.

.

.

"Yang Mulia, kita bertemu lagi."

Menma menghampiri rombongan Sakura dan para dayang nya yang tengah berjalan bersama di sebuah jalan setapak menuju taman belakang istana Chiara, di sana milik ratu dan Sakura hendak mengunjungi itu, sebuah taman dengan air mancur ditengahnya.

"Ah pangeran Menma." Sakura menyunggingkan seulas senyum menawan dan Menma segera membungkuk sopan sebagai penghormatan.

"Kau akan berlatih memanah lagi?" Tanya nya begitu manik hijau musim semi nya menangkap presensi sebuah busur besar digenggaman Menma dan sebuah sarung anak panah terpatri indah di pinggang pemuda itu, Menma tersenyum kemudian mengangguk.

"Aku mau bunga nya ditanam sebelah sini, jangan lupa yang warna ungu muda ya."

Suara lembut dan ceria itu menginterupsi keduanya, Sakura dan Menma menoleh bersamaan mencari sumber suara riang di pagi hari itu.

"Aku mau tumbuhan merambat ini tumbuh ke pagar semak nya. Pasti cantik seperti milik permaisuri." Katanya lagi, Sakura melirik si pemilik suara dari balik punggung Menma yang tengah menoleh ke titik yang sama dengan nya.

Wanita bersurai lavender itu tersenyum riang. Ditangannya ada beberapa bibit bunga peony warna warni, sepertinya dia sedang berkebun bersama para dayang nya itu. Baroness Libertine ada disana, membantu dia menggali tanah didepan pagar semak.

"Astaga Yang Mulia apakah dia tengah meniru tanaman anda?" Countess Vian terkejut ketika dia mendapati beberapa kesamaan dalam tata letak bunga nya, dia menutup mulutnya tak percaya. Menma nampak memutar bola matanya bosan. Sakura yang menyadari itu lantas melontarkan pertanyaan.

"Kenapa anda bersikap seperti itu pangeran? Apakah hari anda terganggu oleh wanita itu?" Sakura tersenyum simpul, bersikap seramah mungkin.

"Wanita itu berisik dan berkat dia Raja jadi sering mengunjungi istana ini. Aku benci bertatap muka dengan Raja." Menma menggendikan bahunya kemudian lantas berkata.

"Sepertinya anda mendapat saingan baru Yang Mulia, benar kata Countess dia agaknya ingin meniru anda."

Sakura terkekeh pelan kemudian dia kembali melihat presensi wanita itu dan bergumam.

"Ada lebih dari 8000 rakyat ku yang seperti dia, itu artinya ada kemungkinan Raja memiliki selir lagi yang setara dengannya atau justru lebih tinggi derajatnya, jika dia meniru ku seperti nya percuma. seberapa keras usaha nya untuk mengambil perhatian Raja sepertinya itu hanya sementara sampai nanti Raja mendapat mainan nya yang baru."

Para dayang nampak saling pandang sedangkan Menma tertegun dengan sarkasme Sakura, wanita ini benar-benar di luar dugaan nya.

Sejak kemarin memang Sakura terlihat biasa saja bahkan untuk ukuran permaisuri yang baru dimadu sekali pun dia terlihat lebih kalem dan tidak memberikan reaksi yang berarti, jauh berbeda dengan permaisuri lainnya yang bereaksi berlebihan bahkan salah satu diantara nya pasti sudah menyusun rencana untuk saling mencelakai.

"Ah aku permisi dulu Yang Mulia, aku harus berlatih memanah." Pamit Menma dengan seulas senyum di bibirnya. Sakura mengangguk sebagai persetujuan dan mereka kembali berjalan.

Tanpa Sakura sadariseringai lebar terpatri di wajah tampannya.

"Yang Mulia ternyata ada disini!"

Selepas kepergian Menma, Sakura segera berjalan menuju taman lagi namun langkahnnya kembali terhenti mana kala suara riang penuh kegembiraan itu menghalanginya.

Seorang wanita bersurai lavender berlari menghampirinya dan memegang tangannya dengan binar keceriaan dalam irisnya. Melihat itu semua para dayang tentu saja kaget.

"Aku minta maaf pertemuan kita kemarin sangat tidak menyenangkan padahal sebelumnya aku ingin bertemu permaisuri dengan lebih sopan maaf atas kejadian kemarin Yang Mulia." Katanya, matanya sedikit berkaca-kaca, kedua tangan Sakura masih di genggam didepan dada olehnya. Countess Vian dan Marry nampak geram melihatnya.

"Sekarang pun anda masih tidak sopan! Sebenarnya anda sudah belajar atau belum tentang tata krama bertemu Yang Mulia?" Vian kesal bukan main, ia segera melepaskan tautan tangan permaisuri dan Hinata kemudian Marry segera mengelap telapak tangan Sakura dengan saputangan khusus milik permaisuri.

"Anda ini benar-benar ishh." Vian mendesis kesal melihat betapa tidak sopannya wanita itu terhadap tuan nya sedangkan Sakura tidak berekasi apapun.

"Maaf kan kami Yang Mulia." Para dayang di balik punggung Hinata lekas meminta maaf atas keributan ini dan Sakura tetap tak bersuara. Manik hijau nya melirik ke tumpukan bibit bunga disana. Kemudian dia kembali berjalan menjauhi mereka.

"Apa Yang Mulia selalu sedingin itu?" Hinata bertanya pada para dayang nya.

"Aku kan hanya ingin menyapa." Katanya dengan cemberut muram diwajahnya.

.

.

.

.

"Dia benar-benar tidak sopan, aku hampir sakit kepala jika harus menjadi dayangnya, Baroness Libertine sepertinya harus mendapat sakit kepala berkepanjangan menghadapi wanita tanpa didikan seperti dia." Vian mengomel lagi begitu rombongan mereka sampai ditaman dan Sakura duduk di sebuah ayunan berbentuk sarang burung.

"Itu wajar Vian, bukan kah dia berasal dari jalanan?" Marry membenahi tumpukan rok Sakura yang sedikit berkerut karena dia duduk kemudian segera menyodorkan keranjang yang berisi benang dan jarum sulam pada Sakura.

"Iya itu benar, dia merupakan budak yang kabur katanya." Victoria sedikit berbisik, dia tidak ingin terpergok bergosip tentang selir meskipun dia sedang berbicara dengan permaisuri sehingga seharusnya dia tidak perlu khawatir, tetapi siapa tau jika dia pun akan berbasib sama dengan Vian nanti dan dimasukan ke Penjara bukan? Sakura tidak menimpali toh dia sudah tau asal usul Hinata dari novel yang ia baca.

"Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Raja jatuh cinta padanya." Vian nampak memijit pelipis nya kesal.

"Mungkin Yang Mulia kasihan." Kata Victoria, Semua dayang duduk dirumput tepat didepan ayunan sedangkan Sakura duduk sembari menyulam sebuah sapu tangan berwarna biru muda.

"Kasihan? Bukan karena pribadinya yang riang? Aku kira Raja ingin memiliki istri yang jauh lebih menyenangkan dibanding aku yang kelewat dingin." Sakura tersenyum sedangkan Vian segera menggeleng kuat-kuat menampik hal itu.

"Permaisuri tidak dingin, anda baik hati dan sangat perduli. Cuman memang sepertinya anda tidak memiliki kecocokan dengan Raja, seperti air dan minyak. soalnya ketika kalian bertemu pasti ada saja kesalah pahaman, apalagi raja sepertinya memiliki tingkat tempramen yang tinggi."

"Hush! Vian jaga kesopanan mu, memangnya kau siapa mengomentari kehidupan Yang Mulia." Marry menatap tajam Vian sedangkan gadis itu menggendikan bahu, dia hanya mencoba berkata jujur.

"Ssttt."

Victoria menempelkan jari telunjuknya ke bibir begitu dia melihat rombongan raja berjalan disebuah jalan setapak menuju istana Chiara, sepertinya dia ingin mengunjungi Hinata.

Tak ada sapaan, basa basi atau bahkan sekedar menoleh. Sakura yakin Naruto tau Sakura ada disini, irisnya sempat saling bertemu pandang tapi dia bersikap masa bodo dan berpura-pura tidak melihat. Sedingin itu sikap nya.

Perlahan lahan tingkah Naruto membuat nya geram, Vian benar. Dia dan naruto bagai air dan minyak, bagaimana dia bisa memenangkan hati raja dan merubah takdirnya jika sekarang saja Naruto masih bertingkah dingin terhadapnya.

Sepertinya Sakura memang harus memutar otak sedemikian rupa.

.

.

.

.

Kesalahan fatal yang dilakukan Permaisuri pada novel adalah dia selalu mengalah, tidak berniat melakukan apapun untuk merubah nasibnya mungkin memang sengaja dibuat seperti itu karakternya tapi tentu saja tidak dengan Sakura.

Untuk ukuran seorang gadis yang pernah bunuh diri dan merasakan kejamnya mati, tentu dia tidak ingin mengalami hal yang sama untuk yang kedua kali. Maka dari itu dia bertekat dalam hati nya bahwa apapun masa depan nya setidaknya dia harus mendapat kehidupan yang layak, tidak dengan berakhir pada hukuman pancung tentu saja.

Kunci dalam hal ini adalah perhatian Naruto, dalam novel sedikit sekali interaksi antara keduanya sudah tentu itu artinya Naruto tidak tertarik dengan permaisuri karena permaisuri pun nampak tidak berusaha mencari perhatiannya.

Lalu bagaimana mendapat perhatian Raja?

Sakura memijit pelipis nya geram, denyut-denyut frustasi nampaknya mulai memenuhi seisi kepala merah mudanya.

Berkali-kali dia membaca buku dengan bentuk tulisan unik seperti kaligrafi itu mencoba mendapat fokusnya kembali namun nihil, yang merajai pemikirannya justru soal bagaimana mendapatkan perhatian Naruto dan bagaimana menguasai hati pria dingin itu.

Hal yang paling menjengkelkan nya adalah dia dan Hinata itu oposisi. Dia memiliki sifat dingin dan masa bodo, tegas serta memiliki harga diri tinggi sedangkan Hinata adalah kebalikannya, seorang gadis polos yang selalu tersenyum lebar dengan kata-kata manis yang keluar dari bibir nya, semua orang pasti akan terpikat dengannya terlepas dari latar belakangnya termasuk Naruto itu sendiri, sedikit saja usaha dan polesan etika maka tamat lah riwata Sakura dan posisi permaisuri akan tergantikan oleh wanita lavender itu dengan segera.

Tentu saja ini mimpi buruk yang perlahan-lahan akan menghampirinya. Sudah cukup baginya untuk memahami situasi, dia sudah berulangkali menghapal nama-nama dan potret keluarga kerajaan, baik keluarga Naruto dan keluarga permaisuri Sakura, sudah bosan dia mempelajari tatanan negara dan etiket seorang bangsawan, semua sudah dia pahami dalam waktu singkat apalagi ketika dia sadar bahwa tubuh permaisuri tidak kehilangan bakat nya sama sekali, dia mudah melakukan sesuatu bahkan hal yang belum pernah ia lakukan sekalipun, yang paling mengejutkannya dia bisa cepat membaca padahal tulisannya jauh berbeda. Ini jaman sebelum alfabet ditemukan tapi dia dengan mudahnya memahami tulisan.

Yang tidak bisa ia pahami dan dapatkan adalah cara mendapat perhatian.

Bagaimana caranya supaya dia selalu dekat dengan Naruto tanpa membuat pemuda itu curiga dengan perubahan sikap permaisuri, bagaimana caranya bertingkah senatural mungkin tanpa terlihat manja dan menjijikan.

Jika Hinata bisa meminta ditemani dengan melontarkan kata-kata secara langsung, lalu bagaiman memintanya secara eksplisit?

Tentu Sakura tidak ingin menghilangkan karakter asli permaisuri dan berubah menjadi jalang murahan yang menempel terus seperti lintah pada Raja hanya demi mendapat perhatiannya. Dia butuh sesuatu yang lain.

'Ayo berfikir Sakura, jadilah gadis tsundere yang sexy'

Ceklek

Ditengah-tengah kegalauan hatinya mencari cara mendapat perhatian dari Yang Mulia, sumber dari kepeningan justru tengah melangkah santai menghampiri nya tengah malam.

"Ada apa?" Sakura bertanya ketika dia melihat Naruto mendudukan diri pada sebuah sofa panjang di depan meja kerja nya.

"Aku kemari karena ingin meminta sesuatu." Katanya tanpa basa basi.

"Apa?" Sakura menutup buku tentang filosofi kuno kerajaan barat dan memusatkan perhatiannya pada sang suami blonde nya.

"Aku minta kau carikan dayang lain untuk Hinata, dia perlu lebih banyak teman." Katanya dengan santai.

Kesal luar biasa, disini Sakura pusing memikirkan bagaimana mendapat perhatiannya justru pria ini memintanya mencarikan dayang untuk musuh nya, tentu saja tidak mau.

"Aku tidak bisa." Jawab Sakura cepat, hal itu membuat Naruto segera menoleh dan menghela napas bosan.

"Kau pasti kenal banyak bangsawan, Mereka pasti menunggu lama untuk menjadi seorang dayang." Katanya lagi, dia nampak menyenderkan punggung lebarnya ke sofa dan memperhatikan Sakura dengan seksama.

Sebenarnya jika boleh jujur menurut Naruto, Sakura itu tidak buruk, dia wanita yang cantik dengan rambut unik merah muda langka yang hanya dimiliki keluarga Haruno, maniknya indah seperti batu giok dan dia berasal dari keluarga bangsawan terhormat.

Sejak lahir Sakura di didik menjadi putri mahkota dan calon permaisuri, istri idaman untuknya namun sikap dingin Sakura terhadap nya membuat dia jengkel dan berpikir mungkin Sakura tak mencintainya, baginya menghadapi Sakura sama saja dengan menghadapi pilar istana, dingin, kaku dan lebih banyak diam.

Dia bahkan tidak pernah menunjukan sikap lemah lembut, selalu tegas dan tidak mau kalah dalam beradu argumen. Dibandingkan istri bagi Naruto, Sakura justru lebih cocok sebagai kolega kerja nya.

"Aku tau, tapi akan sulit meminta mereka yang berasal dari bangsawan kelas tinggi menjadi dayang selir. Yang mereka harapkan adalah menjadi dayang ku." Jawab Sakura jujur, banyak para wanita bangsawan baik tua atau muda menginginkan posisi sebagai dayang permaisuri dan posisi dayang selir adalah yang paling tidak di inginkan kecuali dia ditunjuk secara langsung oleh Raja, permaisuri atau orang-orang dengan kewenangan.

"Memang apa salah nya menjadi dayang selir, itu bukan dosa besar bukan?" Alis Naruto saling bertautan ketika dahinya berkerut heran.

"Memang, tapi menjadi dayang dari orang dengan pangkat bangsawan lebih rendah dari nya merupakan sebuah penghinaan Yang mulia, tentu mereka akan berpikir dua kali meskipun aku merekrutnya." Jawaban Sakura agaknya kurang memuaskan bagi Naruto, terbukti dengan decakan kesal dari bibir tipisnya.

"Aku tau, maka nya aku meminta Baroness menjadi dayang nya karena Baron adalah bangsawan terendah, dia tidak akan menolak sebagai dayang selir kan. Aku tidak meminta yang berpangkat tinggi, setidaknya Baroness saja sudah cukup." Pernyataan Naruto membuat Sakura menghela napas berat kemudian kembali berkata.

"Aku akan mengatur jamuan, kita liat nanti ada kah yang ingin menjadi dayang selir." Mendengar itu ujung bibir Naruto terangkat sedikit.

Kewenangan mengangkat dayang sepenuhnya ada di tangan permaisuri kecuali dayang tersebut sudah di rekrut di dalam istana maka raja juga punya hak untuk menempatkannya atau memindahkannya, seperti kasus Baroness Libertine yang tiba-tiba dipindahkan raja. Maka dari itulah Naruto rela meminta secara langsung pada Sakura untuk mencarikan dayang.

"Kau sudah memiliki lebih dari cukup dayang, dan kau memiliki lebih banyak teman dibanding Hinata. Aku harap teman mu dapat menjadi teman Hinata juga."

'tidak mungkin'

Celetuk Sakura dalam hati dan dia tersenyum simpul, sangat tipis bahkan untuk Naruto sadari.

Naruto bangkit dari posisi nya kemudian membenahi jubah cokelatnya, dia menoleh kearah presensi Sakura berada, lantas memberikan sesuatu dari dalam saku jubahnya.

"Aku mendapat itu dari Viscount Kahlel, sepertinya ini sangat cocok untuk mu." Katanya sambil menyodorkan sebuah cincin dengan permata merah muda, Sakura menatapnya sejenak kemudian lekas mengambilnya. Belum juga dia memasukan kedalam jarinya, Naruto lekas menyambar cincin itu kembali membuat Sakura sedikit terkejut.

"Saat melihat permata nya, aku teringat pada mu. Wanita merah muda disini hanya kau dan aku rasa ini dibuat untuk mu." Katanya sambil meraih tangan kiri Sakura dengan lembut.

Memakaikan cincin itu di jari ke empat nya dan menatap wajah Sakura untuk melihat reaksinya.

Sakura tersenyum, cincin ini cantik dan cocok di jari manisnya.

"Terimakasih." Katanya dan Naruto sedikit memerah, tentu saja dia tutupi dengan wajah datarnya.

"Oh iya, seminggu lagi ulang tahunmu. Kau ingin merayakannya?"

Sakura mengangkat wajahnya untuk menatap Naruto dan menjawab.

"Aku akan mengadakan pesta disini. Jika kau tidak keberatan."

Naruto mendecih lalu tertawa, dia menunduk sebelum kemudian menatap iris giok nya lagi.

"Segala perjamuan dan acara adalah hak mu untuk mengadakan dan mengaturnya, itu kuasa mu, kau bisa melakukan apapun jika kau mau dan kau pasti tau itu."

Setelah berkata demikian Naruto lantas berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, selangkah sebelum dia melewati pintu dia kembali bersuara.

"Dua hari lagi aku ingin kita pergi ke kastil barat, aku ingin menghabiskan waktu bersama mu sebelum hari ulang tahun mu, dan aku harap kau mau." Katanya sebelum kemudian berlalu.

Sakura tertegun, belum mendapat ide untuk mendekati Naruto justru pemuda itu yang memberi nya jalan.

Apa ini maksudnya Naruto ingin memperbaiki hubungan keduanya?

Jika iya, kenapa harus menunggu sampai selir itu datang?

Sakura menepuk jidatnya kesal.

Ini semua salah nya yang tidak langsung mengambil langkah.

Baiklah, anggap saja ini kunci untuk kesuksesannya.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.


Akhirnya satu chap lagi, ga tau kenapa lagi pengn ngetik aja btw aku baca di kolom review ada yg bilang fic ku mirip novel Athanasia? Apa itu? Aku belum pernah baca tapi emang sebelumnya juga ada yg bilang kalo fic ku mirip beberapa novel terjemahan hahaha mungkin karena tema nya pasaran jadi mirip2, aku juga ga hern sih mengingat tema isekai rada sulit untuk di ketik jadi mungkin rata2 jadi memiliki alur yg lumayan mirip. Tapi aku mau ngingetin deh untuk ch1 dan 2 kayanya bakal aku rombak ulang karena ada kata-kata yg tidak efisien dan ga enak di baca udah gitu terlalu sering dibilang mirip sama novel lain atau karya lain yg sudah terkenal sepertinya, jadi aku mencoba memutar otak supaya lebih terlihat berbeda walau sedikit hahahhaha tapi aku ga tau kapan bakal aku rubah, aku kabarin deh klo udah aku ubah ch 1 dan 2 nya, itupun kalo masih pada nungguin ya hahahha jadi nanti kalo kalian merasa kok alur ch1,2 ke ch3 rada beda sih atau kalian menemukan beberapa kejanggalan, memang seperti itu, ch3 dan 4 itu udh bener kok jadi klo ch 1 dan 2 kalian menemukan perbedaan yg sangat signifikan dari ch3 dan 4, itu memng yg bakal aku rombak

Btw terimakasih buat yg sudah meninggalkan jejak nya, aku baca satu-satu sampai ga ada yg terlewat hahahaha soalnya semangat menulis itu dari review pembaca, terimakasih banyakkkk *ojigi*

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKKK NYA LAGII

27 juli 2020 - seriello