PARK'S FAMILY HOUSE
MAIN CAST:
- Park Chanyeol
- Byun Baekhyun
SUPPORT CAST:
- Wu Yifan
- Oh Sehun
- Kim Jongin
- Do Kyungsoo
- Kim Jongdae
- EXO Member
- Yook Sungjae (BTOB)
Rated: M
Lenght: Chaptered
Summary:
Bagi Baekhyun, pindah sekolah pun juga meninggalkan Jepang adalah hal terberat dalam hidupnya. Baiklah, ia memang lahir di Seoul, tapi kalau masalah tumbuh remaja hingga terjerumus dalam pergaulan bebas, Baekhyun melakukan semuanya di Tokyo. Adapun semua hal terberat berubah menjadi mimpi buruk ketika ia bertemu dengan anak bungsu keluarga Park.
"Selamat datang di rumah keluarga Park, Baekhyuniee."-
(Chanbaek, Krisbaek, and EXO)
note: chapter kali ini mengandung banyak isu sensitif, aku harap kalian memaklumi karena semua yang aku tulis dalam cerita ini semata-mata untuk kepentingan alur cerita.
Kalau kalian kurang nyaman dan tidak berkenan, aku harap kalian memberitahuku, tetapi please, beritahu aku dengan bahasa yang baik dan sopan, ya..
Untuk beberapa alasan, Baekhyun memilih bungkam dan mengalihkan pandangannya ke mana saja, asal itu tidak bertatapan langsung dengan netra Chanyeol yang sedari tadi meliriknya sesekali. Entah bagaimana caranya, keduanya kini berakhir di ruang musik yang sepi, duduk bersebelahan tanpa ada satupun suara yang berbicara.
Chanyeol saat ini sedang berusaha mengumpulkan keberanian, mereka berdua butuh berbicara untuk menjelaskan hubungan keduanya. Karena biar bagaimanapun, Chanyeol tidak ingin Baekhyun beranggapan dirinya buruk karena terlalu sering mencampuri urusan pribadinya. Tapi kembali lagi pada ingatan tentang ciuman yang mereka bagi di toilet, memikirkannya membuat wajah Chanyeol terasa panas. Ia menjadi malu, keberaniannya kembali surut. Itu menyebalkan, Chanyeol seakan pengecut di sini.
"Kita melewatkan satu jam kelas, Chanyeol."
Si jangkung tersentak, buru-buru mengalihkan kagetnya dengan melihat arloji, memastikan sendiri berapa lama waktu yang mereka lewatkan setelah bel berakhirnya waktu istirahat berbunyi. "Kau benar, haruskah kita kembali sekarang?"dalam hati, Chanyeol sedang merutuk sekarang. Ia benar-benar bodoh, seharusnya itu bukanlah kalimat yang tepat untuk meluruskan situasi.
"Kukira kau ingin berbicara denganku, mengingat kau yang membawaku kemari."
Netra Chanyeol membola, kembali berpikir tentang bagaimana meraka berakhir di ruang musik. Benar, selepas insiden di toilet berakhir, Chanyeol ingat dirinya lah yang menarik Baekhyun untuk kemari. Tapi mau bagaimana lagi, ia sendiri juga merasa bingung harus memulai perbincangan mereka dari mana.
"Katakan saja apa yang ingin kau katakan, Chanyeol.."
Chanyeol menoleh, mereka bertatapan cukup lama. Dan Chanyeol cukup merasa tenang dengan tatapan teduh yang Baekhyun berikan. "Apa kau menganggapku memanfaatkanmu? Atau, apakah kau menganggapku terlalu mencampuri urusanmu, Baekhyun?"
Baekhyun memutus tatapan mereka, kali ini lurus menatap ke depan tanpa arti. "Tidak juga, aku belum berpikir sampai ke sana."
"Apa itu artinya, aku cukup mengganggu?"
Baekhyun menoleh kembali, hampir tertawa karena tatapan polos Chanyeol. "Tadinya, ya. Tapi sekarang tidak, aku tahu kau orang yang baik, Chanyeol."
Chanyeol melepaskan desahan lega, tubuhnya menyandar pada tembok di belakangnya, sementara kaki-kaki panjangnya ia luruskan. "Aku hanya takut kau menganggapku buruk, sejujurnya."
Baekhyun mengikuti posisi Chanyeol, sebelum menjawab. "Apa menurutmu pendapatku penting?"
"Tentu saja!"Chanyeol menyentak tajam, lantas itu membuat Baekhyun tertawa halus.
"Aku tahu sebuah kisah yang cukup rumit, apa kau ingin mendengar kisahku?"
Chanyeol mengangguk. "Berceritalah, aku akan mendengarkan."
Belum sempat Baekhyun memulai ceritanya, tahu-tahu ponsel Chanyeol berbunyi. Yang lebih mungil memberikan gestikulasi untuk Chanyeol mengangkat panggilan lebih dulu.
"YAK, PARK IDIOT CHANYEOL, DIMANA KAU SEKARANG?! JANGAN LUPA KALAU SEBENTAR LAGI KITA PRESENTASI SEJARAH, KAU SIALAN?!!"
Chanyeol mendesis jengkel, suara Kyungsoo memang terlalu menggelegar untuk seukuran teriakan. Mungkin lain kali Chanyeol harus menyuruh Duo Kopi-Susu untuk jangan membiarkan Kyungsoo meneleponnya. "Kau sialan, telingaku hampir pecah, dasar menyebalkan! Aku tahu tentang presentasi, aku masih mengingatnya-"
"Kalau begitu cepat kembali ke kelas, bodoh!"
Chanyeol mengiyakan sambil menggerutu, kemudian melotot pada ponselnya setelah sambungan terputus oleh Kyungsoo.
"Sepertinya kita harus kembali sekarang."Baekhyun bangkit, membersihkan celananya sejenak, lantas mengulurkan tangan untuk membantu Chanyeol berdiri.
Yang lebih jangkung menerima uluran tangan itu. Baekhyun menepuk bahunya singkat dan bersiap pergi, sebelum Chanyeol menghentikannya dengan mencekal tangannya. "Berceritalah saat di rumah nanti, jangan melupakannya, mengerti?"
Baekhyun tersenyum, kemudian mengangguk. "Baiklah, kalau aku tidak melupakannya."guraunya yang membuat Chanyeol mendengus geli.
Mereka berjalan beriringan, kemudian berpisah saat di belokan menuju koridor utama. Sebelum punggung Baekhyun menaiki tangga menuju lantai 2, Chanyeol sempat mendengarnya mengatakan terimakasih dengan bisikan halus.
Chanyeol tentunya tersenyum, entah untuk alasan apa, mungkin karena punggung Baekhyun yang berjalan menaiki tangga terlihat menawan, ataukah karena ucapan terimakasih sepintas lalu tadi.
Sewaktu Baekhyun kembali ke kelas, itu bertepatan dengan berakhirnya jam pelajaran sastra klasik, sehingga ia berniat masuk kelas setelah guru Ahn keluar, tetapi itu bertepatan pula dengan Sungjae yang keluar lebih dulu, hingga nyaris menabraknya. Ia berlarian tergesa, nampak seperti orang yang kehilangan akal di koridor lantai 2. Bahkan teriakan guru Ahn ia abaikan sepenuhnya. Tentu saja Baekhyun dibuat bingung, disamping merasa kesal nyaris terjatuh karena tabrakan Sungjae tadi.
Baekhyun masuk kelas melewati pintu sebelah kiri, yang berarti ia masuk melalui belakang. Berjalan perlahan dan atensinya tertuju pada sosok Taeil yang duduk sendirian, sementara di sebelahnya kosong karena Sungjae tidak ada. Taeil duduk di barisan kedua dari depan, dan Baekhyun lebih dulu mengambil buku untuk pelajaran berikutnya sebelum mengampiri teman sebangku Sungjae itu.
Si lelaki dingin itu hanya melirik tanpa mengucapkan apapun saat melihat Baekhyun mengambil duduk di sebelahnya.
"Taeil-ah, apa kau tahu Sungjae pergi ke mana?"
Taeil masih melanjutkan catatannya, tanpa melirik Baekhyun, namun ia tetap menjawab. "Aku tidak tahu, si berandal itu tidak sempat berkata apapun dan langsung bergegas pergi setelah menerima pesan masuk."
Baekhyun mengerutkan dahi, mulai merasa takut Sungjae terlibat hal buruk, atau lebih tepatnya sedang berurusan dengan masalah balapan liar terkait Cheetah.
"Jangan khawatir, dia akan berhenti balapan. Reaksimu di koridor tadi mengejutkannya, dan itu sudah cukup untuknya mengerti bahwa kau tidak ingin balapan lagi. Kurasa ia akan merelakan Cheetah, kau tenang saja."
Baekhyun berdecak kagum, pernah mendengar tentang Taeil yang memiliki kemampuan seperti cenayang dari Sungjae, namun tidak menduga kalau Taeil benar-benar memilikinya.
"Aku tidak bisa membaca pikiran orang lain, Baekhyun."kali ini Taeil menoleh, sudut bibirnya sempat berkedut melihat wajah takjub Baekhyun. "Aku hanya sangat pandai menganalisa situasi, itu saja."
"Apapun itu, kau luar biasa, Taeil-ah."
Taeil berdecih geli, masih tanpa menoleh ke arah Baekhyun.
"Taeil, begini.. Kau tahu rumah Sungjae di mana?"
Mendengar pertanyaan itu diajukan, Taeil langsung menghentikan kegiatan mencatatnya dan menoleh dengan ekspresi tidak terbaca. "Baekhyun-ssi, kau ini benar temannya Sungjae?"
Pertanyaan itu tentunya berhasil membuat Baekhyun terdiam, hanyut dalam sebuah dimensi di mana banyak pertanyaan lain ikut pula hanyut di dalamnya. Mungkin bisa dibilang Sungjae tahu betul bagaimana Baekhyun sesungguhnya, tapi itu tidak berlaku sebaliknya. Baekhyun menyadarinya sekarang, sosok Sungjae, dia adalah teman dekat, namun di satu sisi terasa begitu asing dan jauh.
"Apa terjadi sesuatu sebelumnya?"
Sehun menggeleng sambil meringis kebingungan, respon itu sontak membuat Chanyeol mengalihkan atensi dari Kyungsoo dan Jongin yang sedang mengobrol diselingi tawa, poin pentingnya adalah tanpa adu mulut tajam, di depan mereka.
"Kurasa terjadi sesuatu pada mereka berdua."Chanyeol kembali berkomentar, dan Sehun langsung memberikan anggukan, tanda setuju.
"Kemarin mereka masih bertengkar, apa aku benar?"
Kali ini giliran Chanyeol yang mengangguk.
"Kau benar. Haruskah kita tanyakan ke mereka?"
Sehun memasang wajah berpikir. "Haruskah?"ia balik bertanya.
Chanyeol ikut memiringkan wajah, atensinya kembali terfokuskan pada Kyungsoo yang tertawa geli karena guyonan Jongin yang menurut Chanyeol sendiri sama sekali tidak lucu.
"Apa sebaiknya kita biarkan saja?"
Sehun kembali meringis sambil menggeleng berulang kali. "Kurasa tidak perlu. Aku akan pergi menanyakannya."
Chanyeol sontak mengekor Sehun yang sudah lebih dulu mengambil posisi diantara Kyungsoo dan Jongin.
"Apa kalian sedang kesurupan?"
Pertanyaan bodoh tentu saja. Kyungsoo menyerengit bingung, sedang Jongin tak tanggung langsung menggeplak kepala Sehun. Chanyeol sontak tertawa keras.
"Kenapa memukulku?!"Sehun merengek, mendelik tajam pada Jongin yang baru saja mendesah jengah karena kelakuannya.
"Kau memang pantas dipukul, dasar orang gila."Kyungsoo menjawabnya dengan cibiran. Tentunya itu membuahkan decihan sinis dari Sehun.
"Tapi serius, apa kalian memutuskan untuk berbaikan sekarang?"Chanyeol melempar tanya.
Baik Jongin maupun Kyungsoo, keduanya membutuhkan jeda untuk sekiranya menjawab pertanyaan itu.
Setalah melirik Kyungsoo sekilas, Jongin kemudian kembali memfokuskan atensinya pada novel bertema historikal di tangannya. "Sejak kapan kami bertengkar, memangnya?"sahutnya acuh.
"Tapi kali-"
"Aku dan Jongin, kami berdua baik-baik saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Tidak akan ada yang berubah diantara kami, kalian tenang saja."Kyungsoo menukas dengan santai. Ia menutup buku novel di tangannya, bangkit dan mengulurkan tangannya pada Jongin yang sontak saja memiringkan wajah, tidak mengerti maksud si mata burung hantu.
"Ayo pergi ke kantin, Jongin. Kau bilang kita akan pergi ke kantin setelah bacaanku sampai di halaman 143."Kyungsoo menjelaskan maksudnya, sontak saja Jongin kembali memaku atensinya pada novel di tangannya, mengulum senyum sembari menandai halaman terakhir bacaannya.
Sedetik berikutnya uluran tangan Kyungsoo ia terima. Tanpa memperdulikan Chanyeol dan Sehun, keduanya melenggang pergi menuju kantin.
Tapi, tepat sebelum keduanya berbelok, Chanyeol berujar sesuatu yang membuat Kyungsoo memandangnya bingung dan Jongin yang memberinya desisan geram.
"Soo-ya, lain kali kau harus mencari tau arti kombinasi 143, ya."
Dan Sehun yang ikut menambahkan.
"Apapun dan bagaimanapun hubungan kalian berdua, ingatlah satu hal bahwa sampai kapanpun kami berdua tetaplah teman kalian."
Senyum Jongin mengembang sempurna, tangan Kyungsoo kembali diraihnya, kembali meneruskan langkah keduanya menuju kantin, namun luput memperhatikan bahwa sempat pula senyum Kyungsoo terkembang, ia tidak sebodoh itu, sebenarnya.
"Sungjae tidak ada di rumah, ya?"
Taeil yang baru saja selesai mengecek keberadaan teman satu rumahnya di kamar, sontak memberikan gelengan kepala saat Baekhyun melemparkan pertanyaan tersebut.
"Lagipula Sungjae tidak akan berada di rumah pada jam segini, Baek. Terlalu dini baginya untuk pulang."
Baekhyun mengekori Taeil yang berjalan ke arah dapur. "Kau benar. Lalu, mengapa kau mengajakku ke sini?"
"Memberitahukanmu beberapa hal."Taeil memberikan jeda sebentar untuk meminum air mineral. "Karena jika aku tidak memberitahukannya padamu, si bodoh itu belum tentu mau melakukannya, dan pada akhirnya, aku takut kalian berdua berakhir salah paham."
"Aku tidak terlalu mengerti maksudmu, Taeil-ah."
Decakan terdengar, ulah Taeil. Kemudian ia beranjak pergi, diikuti Baekhyun pula mengekorinya.
"Sungjae pernah bilang kalau kau adalah teman dekatnya, tapi dari yang kulihat kau sama sekali tidak mengerti apapun tentang dirinya."ia menarik kursi bar, mendudukinya. Memberikan Baekhyun isyarat untuk ikut duduk pula di sampingnya.
"Sungjae tidak bercerita banyak tentang dirinya, apalagi tentang keluarganya. Aku hanya tahu kalau ia memiliki adik, dan kedua orangtuanya bercerai-"
Taeil segera memotong perkatan Baekhyun untuk meralat beberapa hal yang tidak sesuai fakta. "Adik tiri lebih tepatnya, dan orangtuanya tidak bercerai, melainkan memilih pisah rumah semenjak Sungjae memutuskan pindah ke Seoul dan tinggal hanya berdua dengan adiknya."jelasnya kemudian.
"Aku tidak tahu mengengai itu, sewaktu Sungjae pindah, dia hanya bilang bahwa terpaksa harus kembali tinggal di Seoul untuk mengikuti orangtuanya."
Taeil berdecak keras, ada berapa banyak kebohongan yang diutarakan si bodoh Sungjae untuk menutupi kisah hidupnya? "Kedua orangtuanya saat ini tinggal terpisah di Jepang sana, sedangkan Sungjae memilih membawa adiknya kembali ke Seoul."
Baekhyun terdiam, perasaannya campur aduk. Agak merasa kecewa saat memikirkan Taeil lebih tau akan Sungjae daripada dirinya. Baekhyun pikir selama ini, dia adalah orang yang paling mengerti tentang Sungjae. Ternyata ia salah. Taeil bahkan tahu betul seluk beluk kehidupan Sungjae. Sekarang, ia merasa seperti bukan sahabat Sungjae seperti yang selama ini ia percayai. Ia merasa tidak berguna.
"Apa yang sebenarnya terjadi, bisa kau menceritakannya padaku?"
Taeil menoleh, memaku atensinya pada muram yang bergelayut di wajah Baekhyun. Ia bisa mengerti, Baekhyun mungkin merasa telah dibohongi oleh kisah baik-baik saja yang Sungjae ceritakan padanya.
Ia menarik seulas senyum. Kau membuatku penasaran, Baekhyun..
"Aku tidak tahu apakah tindakan tepat untuk memberitahumu, disaat Sungjae sendiri tidak menceritakan apapun tentang kepindahannya padamu."ujarnya memancing.
Agaknya ada hal dari hubungan Baekhyun dan Sungjae yang membuat Taeil tertarik. Yang satunya sengaja berbohong entah karena alasan apa, yang satunya lagi perduli namun entah seperti apa bentuk pedulinya hingga membuat kata peduli itu seperti tak bermakna.
"Ceritakan saja, yang harus aku lakukan hanya bersikap seolah tidak tahu ketika di depannya, bukan?"
Taeil hanya diam saja, menatap Baekhyun dengan tatapan sukar diartikan. Detik berikutnya melontarkan tanya. "Kau tahu'kan pergaulan Sungjae ketika di Jepang seperti apa?"
Baekhyun mengangguk.
"Berarti kau juga tahu juga mengenai orientasi seksual Sungjae?"
Jeda cukup lama. Atensi Taeil bergulir pada botol air mineral yang semakin erat dicengkram Baekhyun sebagai pelampiasan perasaannya yang semakin tidak karuan. Aku benar tidak tahu apa-apa rupanya, Baekhyun hanya bisa tersenyum sedih untuk itu.
"Tidak tahu, selama aku berteman dengannya, aku tidak pernah melihatnya menyukai orang lain atau bahkan terlibat dalam kisah romansa."sahutnya dengan suara yang memelan.
Taeil mengangguk-anggukan kepalanya diiringi kekehan singkat. Kemudian keluarlah kisah panjang dari mulutnya. "Sungjae adalah seorang anak yang dibesarkan oleh Ayah tunggal. Sejak kecil, setiap kali Sungjae menanyakan mengenai keberadaan Ibunya, Ayahnya selalu saja marah dan berakhir memukulnya. Entah di umur ke berapa, Sungjae akhirnya memutuskan untuk berhenti bertanya semenjak dia akhirnya mengerti penyebab Ayahnya selalu saja marah ketika ditanya mengenai keberadaan Ibunya."Taeil sengaja menjeda kisahnya sementara memperhatikan ekspresi di wajah Baekhyun.
"Dia terlahir dari seorang rahim laki-laki.."lanjutnya kemudian.
Baekhyun terkejut. Sedikit tidak menduga akan mendengar kisah yang demikian.
"Maksud kau-"
Taeil mengangguk. "Kau benar. Ayah tunggal yang membesarkan Sungjae adalah Ibunya, orang yang melahirkan Sungjae."
Baekhyun memilih diam, meskipun banyak tanya yang menggumpal di kepalanya. Dan Taeil yang mengerti pun memilih melanjutkan kisahnya.
"Ayah Sungjae—Yook Yeon Seok, dulunya tinggal di Korea dan bekerja sebagai seorang bartender di sebuah Bar kenamaan. Bertemu dengan seorang dokter laki-laki yang kebetulan singgah ke Bar untuk melepas penat. Aku tidak tahu siapa nama si dokter itu, Sungjae pun ketika bercerita hanya memanggil namanya dengan sebutan Dokter Kim. Mereka bertemu, dan kemudian saling jatuh cinta. Tapi sayang, pepatah yang mengatakan jika profesimu adalah dokter, maka yang harus kau nikahi adalah dokter pula adalah suatu kebenaran. Jalan tiga tahun hubungan keduanya, orangtua si dokter Kim baru mengetahui ternyata anak semata wayang mereka adalah penyuka sesama jenis. Tentu saja, hubungan keduanya ditentang. Berakhir si dokter Kim dijodohkan dan mereka dipaksa berpisah. Naas, tiga bulan kemudian barulah Ayah Sungjae tahu kalau dirinya ternyata hamil. Ingin meminta tanggung jawabpun akan terasa sangat salah, sebab si dokter Kim tadi sudah menikah dan sepertinya hidup bahagia. Maka dengan bekal tabungan yang tidak seberapa, Ayah Sungjae memutuskan untuk merantau ke Jepang, melahirkan dan membesarkan Sungjae seorang diri tanpa ada bantuan siapapun."
Baekhyun tetap bergeming. Sepertinya ia perlu jeda panjang untuk memproses mengenai seluruh kenyataan sebenarnya dari kebohongan yang selama ini dipercayainya.
"Bertahun-tahun kemudian, si dokter Kim itu bercerai dengan istrinya, memutuskan untuk hidup atas dirinya sendiri dan memilih hidup berpisah dari keluarganya. Selama setahun penuh mencari keberadaan Ayah Sungjae dan ketika tahu sosok yang dicarinya berada di Jepang, dokter Kim itupun menyusulnya. Mereka bertemu, merajut kasih kembali dan memutuskan untuk menikah."
"Bagaimana dengan Sungjae? Apa dia senang mengetahui Ayahnya menikah dengan seorang laki-laki?"
Taeil sontak menggeleng. "Tentu saja tidak. Kau pikir alasan apa yang membuat Sungjae jadi anak berandalan selain daripada untuk memberontak pada ayahnya?"ia mendengus.
"Tapi Ayahnya tetap saja menikah, Sungjae yang sudah kehabisan cara untuk melarang pernikahan itu terjadi, pada akhirnya memutuskan untuk menerima kenyataan. Sungjae dan Ayahnya kemudian pindah rumah ke kediaman keluarga dokter Kim. Di sana Sungjae betemu dengan anak laki-laki dokter Kim, jarak umur mereka hanya terpaut dua tahun. Anak dokter Kim tadi bernama Kim Jongdae, sosok yang periang, selalu tersenyum dan baik. Kepribadiannya sangat berbanding terbalik dengan Sungjae. Awalnya Sungjae berniat untuk menjaga jarak dengannya, tapi siapa yang menyangka nasibnya begitu sial?"Taeil mendesis kesal.
"Apa mereka terlibat suatu hubungan?"
Taeil kontan mengangguk. "Hm, kau benar. Si bodoh Sungjae malah jatuh cinta dengan adik tirinya sendiri. Setelah melalui dilema penolakan atas perasaannya, pada akhirnya Sungjae kalah. Si bodoh itu tidak lagi dapat menampik perasaan sukanya pada adiknya yang manis."
Tanpa ada yang menyadari, ada sosok Sungjae yang sedari tadi memperhatikan pembicaraan mereka berdua tanpa berani menyela atau bahkan meneriaki Taeil untuk menghentikan kisahnya. Semua kalimat yang keluar dari mulut Taeil terasa bagai hantaman kuat bagi Sungjae. Rasanya masih sama, masih terasa sangat sakit, pun dibuntuti perasaan menyesal yang teramat. Sungjae bahkan tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika tahu Taeil menceritakan kisah hidupnya pada Baekhyun. Rasa-rasanya ia bahkan sulit untuk beranjak pergi dari sana.
"Aku tahu kau mendengarnya sejak tadi, Sungjae-ya.."suara Taeil terdengar berupa desisan, membawa Sungjae kembali pada kenyataan di tempat. Patah-patah pria dengan marga Yook itu mengangkat wajah, membawa lurus tatapannya pada sosok teman satu rumahnya itu.
Sedangkan Baekhyun, ia terlonjak bangun dari duduknya, terkejut mendapati Sungjae berdiri mematung di ambang pembatas dapur.
Atensi Taeil sejurus masih bertautan pada tatapan pesakitan Sungjae. Kepalang tanggung, pikirnya. Ia memilih untuk melanjutkan. "Mau aku teruskan ceritanya?"tawarnya pada Sungjae yang masih saja bergeming di tempatnya berdiri.
"Taeil, hentikan! Apa kau tidak meliha-"
Taeil mengalihkan tatapannya pada Baekhyun. "Kau yang memintaku untuk menceritakan kisah sebenarnya, Baekhyun.."desisnya menjawab.
"Tapi-"
Seakan tidak mendengar, Taeil kembali melanjutkan kisahnya. "Setelah itu, Sungjae menyatakan perasannya pada Jongdae. Tapi tentunya Jongdae menolaknya mentah-mentah, ia bahkan histeris mengata-ngatai kakak tirinya dengan berbagai umpatan tidak suka. Tapi si bodoh Sungjae berusaha untuk membuat Jongdae mendengar penjelasannya, hingga akhirnya Jongdae pergi dari rumah-"
Baekhyun yang geram, refleks mencengkram kerah baju Taeil, memberinya tatapan tajam yang bergetar. "Kau gila?! Hentikan, demi apapun hentikan saja kisahnya! Aku sudah tidak peduli lagi, jadi hentikan saja. Kau menyakiti Sungjae.."
Anehnya, Taeil malah tersenyum menanggapi amarah Baekhyun. Bukannya merasa takut, ia tetap melanjutkan. "Terhitung tiga hari Sungjae tidak bisa menemukan keberadaan Jongdae, bahkan Jongdae yang bersekolah di asrama pun tidak berada di asramanya."
"Dia diculik oleh salah satu musuhku di area balapan, dan diperkosa hingga mengalami sebuah trauma."tanpa Baekhyun duga sama sekali, Sungjae malah meneruskan kisah yang sempat dijeda oleh Taeil. Suaranya begetar, berusaha kuat menahan tangis.
"Setelah kejadian itu, Jongdae tidak mau berbicara dengan siapapun termasuk denganku, bahkan sewaktu-waktu histeris sendiri saat ingatan buruknya databg. Ayahku dan dokter Kim bertengkar hebat tanpa tahu masalah yang sebenarnya selain daripada Jongdae yang diculik dan diperkosa ramai-ramai oleh lelaki. Aku bahkan tidak berani menceritakan kisah yang sebenarnya sehingga kebenaran ini masih tidak ada yang mengetahuinya. Dokter Kim gila itu berniat memasukkan Jongdae ke dalam rumah sakit jiwa, dan ayahku menentang kerasa mengenai ide itu. Mereka berdua kemudian berpisah karena perbedaan pemikiran, Ayahku bahkan enggan untuk bertemu dengan dokter Kim lagi. Jongdae berakhir masuk ke rumah sakit jiwa, namun aku menjemputnya dan membawanya kabur ke Korea. Dokter Kim tahu aku membawa kabur Jongdae, tapi si sialan itu membiarkannya saja, bahkan menyuruhku untuk jangan pernah membawa Jongdae bertemu dengannya lagi."Sungjae berakhir menangis, tidak meraung memang, sepertinya ia masih berusaha untuk menjaga kewarasannya untuk tidak meledak dalam tangisan menyedihkan.
Baekhyun tidak tahu kenyataan hidup Sungjae bisa semenyedihkan ini. Sosok teman yang selama ini selalu dianggapnya periang, tidak tahu malu bahkan sering membuatnya jengkel karena ulahnya yang menyebalkan, ternyata menyimpan beban seberat itu di pundaknya. Melihat Sungjae yang menangis dengan bahu yang bergetar, kedua tangan terkepal erat, dan kepala yang menunduk dalam seperti itu sungguhan sangat menyakiti Baekhyun. Hingga ia pun ikut menangis, merasa menyesal karena tidak pernah tahu kenyataan beban yang ditanggung temannya itu dan sialnya selalu merasa hidupnya paling menderita selama ini.
Bekhyun-ah, ada banyak hal di dunia ini yang harus lebih kau perhatikan..
"BANG! I SHOOT YOU!"
Tepukan keras, disusul teriakan yang tiba-tiba tentunya membuat sosok lelaki tinggi berambut pirang terlonjak kaget. Ia memicing sinis pada si pelaku yang kini terkekeh kegelian karena berhasil mengejutkannya.
Rasa kaget telah berlalu, si rambut pirang kembali melanjutkan aktivitasnya, memperhatikan intens ikan hias di dalam akuarium. Menghiraukan si mata rubah yang kini bewajah masam karena diabaikan.
"YAK, Kris Wu!"
Seolah teriakan si mata rubah tidak terdengar, Kris masih bergeming, namun tatapannya tetap fokus mengikuti pergerakan sepasang ikan yang saling berkejaran di dalam akuarium.
Ia tersenyum.. Syukurlah kalian berdua masih nampak riang. Aku harap kalian berdua tidak merindukan Ryuji..
Helaan nafas terdengar berat, olah Brian-nama aslinya Kang Yonghyun, namun ia lebih suka dipanggil Brian Kang. Ia bersedekap dada, menatap penuh pada sosok Kris yang masih betah memandangi akuarium.
"Hei, Kris Wu!"Yang disebut namanya akhirnya menoleh. Memberinya tatapan kesal.
"Apa?"tanyanya ketus.
Brian terkekeh geli, merasa senang karena sudah ditanggapi. Namun bukannya menjawab, ia malah melempar dirinya duduk di sofa yang berada tidak jauh dari posisi Kris. "Tumben sekali kau berada di rumah?"ia balik melempar tanya.
Tidak ada jawaban, Kris malas menanggapi dan kembali melempar atensinya ke akuarium. Ikan-ikan hiasnya lebih menarik dibandingkan menanggapi Brian yang tidak jelas.
"YAK, WU YI FAN!"
Sentakan keras itu berhasil membuat Kris kembali menatap tajam sosok Brian yang tersenyum kemenangan di tempatnya. "Jawab pertanyaanku, bedebah."
Kris melengos jengkel. "Aku akan menjawabnya andai saja kau berhenti memanggilku demikian."sahutnya malas.
"Apa yang salah? Itu nama aslimu, kan? Dasar aneh."ia malah mencibir. Mengundang Kris semakin jengkel atas keberadaannya.
"Pergi saja kau ke neraka! Menyebalkan sekali."Kris menggerutu sebal. Ia beranjak bangun dari posisi duduk bersila-nya di lantai, kehilangan minat memperhatikan akuarium dan berganti mengambil duduk di seberang Brian.
"Akhir-akhir ini kau banyak melamun, Kris."
Kris berdeham, mengiyakan. Enggan berkomentar lebih jauh.
"Ryuji mana? Tumben sekali akhir-akhir ini tidak terlihat mengekorimu."Brian bertanya dengan kalem, sengaja memancing rasa kesal Kris lebih jauh. Karena siapa lagi memang jikalau sosoknya tidak ada bisa membuat Kris betah berjam-jam memperhatikan ikan hias di akuarium, selain Ryuji? Sepasang ikan hias dan akuarium bulat itu pemberian dari Ryuji, dan Kris sanggup memandangi akuarium itu berjam-jam bila Ryuji sedang tidak berada di dekatnya.
Kris berdecak keras, benar saja semakin kesal karena sosok Brian."Berhenti bertanya, bodoh! Kau tidak lihat aku sedang tidak dalam mood yang bagus untuk meladenimu?"sahutnya uring-uringan.
"Kali ini apa lagi yang membuat Ryuji mengabaikanmu? Karena kau main perempuan lain?"
Kris cemberut, kembali mengingat-ngingat hal yang dilakukannya sebelum Ryuji pergi ke Korea tanpa pemberitahuan apa-apa. "Aku sudah lama tidak main perempuan."namun ia tetap menyahut jujur.
Brian tertawa, mengejek. "Iya, tidak main perempuan. Tapi main laki-laki, kan?"
"Tidak juga, kau sialan!"
"Ya, ya, dan ya, katakan itu pada seseorang yang lehernya penuh dengan bercak kissmark."Brian melengos.
"Apa susahnya mengaku, sih? Kau itu selalu ada main di belakang Ryuji, dan kukatakan sekali lagi, kau selalu melakukannya. Sudah seperti laki-laki brengsek sejati saja kelakuanmu itu, Kris.."ia mencerca sepenuh hati.
Kris semakin cemberut, merasa tertohok dengan kebenaran yang tidak bisa ia bantah itu. Brian benar, ia memang lelaki brengsek. Ia tidak terlalu baik untuk Ryuji.
"Aku bahkan masih sangat heran hingga kini tentang mengapa Ryuji masih betah berada di sisimu."omelan si mata rubah masih berlanjut, bahkan seolah tidak menyadari kalau di sekeliling Kris penuh dengan aura mendung-kesedihan.
"Kapan kau itu mau berubah? Kau seyakin itu memang Ryuji akan terus menerus berada di sisimu? Bisa saja kan dia bosan karena status hubungan kalian yang tidak jelas dan pada akhirnya memilih pergi meninggalkan-"
"Apa masih sempat?"Kris tiba-tiba bertanya, kepalanya yang semula menunduk, kini terangkat dan balas menatap dengan penuh kesungguhan pada Brian yang tengah menatapnya penuh tanya.
"Apa?"
"Kalau aku memberinya kejelasan status hubungan kami, apakah ia akan berubah pikiran dan memilih kembali menetap di Jepang?"
Brian mencerna ucapan Kris dengan cepat. "Ahh, jadi Ryuji sudah memilih pergi darimu, begitu?"
Kris diam saja.
"Kalau bertanya sempat atau tidaknya, aku bukan Tuhan yang tahu segalanya, jadi aku tidak bisa memastikan jawaban yang benar adalah sempat atau tidaknya. Tapi, jika ditanya pendapatku.. Mungkin ini saatnya untukmu, Kris. Timingnya sangat tepat. Mengapa tidak kau saja yang gantian memperjuangkan Ryuji?"
"Hei, perhatikan langkahmu, nak!"
Seruan dan tarikan pada lengannya, lekas menyadarkan Baekhyun yang nyaris saja menginjak saluran air yang terbuka lebar karena mengalami perbaikan.
"Oh, paman. Maaf, aku sedang tidak fokus." Baekhyun mengambil jarak, menjauhi saluran air tersebut. Ia kembali menoleh pada Paman Park yang kini ikut mensejajarkan langkah dengannya.
"Paman sedang apa?"
Paman Park menyerengit, ia kemudian mengangkat handuknya—memberi isyarat tidak langsung kalau ia sedang jogging sore hari. "Basa-basimu itu aneh sekali, nak. Tidak natural." Paman Park mencibir. "Bagaimana kabarmu?"
"Basa-basimu lebih terdengar tidak natural, Paman." Baekhyun terkekeh geli.
"Itu bukan basa-basi, anak muda. Paman bertanya sungguh-sungguh. Bagaimana kabarmu? Apa sekolah berjalan dengan baik? Apa kau mengalami kendala berbahasa atau lainnya?"
Baekhyun berhenti melangkah, sedang Paman Park yang tadinya sedang berlari-lari kecil, begitu sadar Baekhyun menghentikan langkahnya, ia kemudian ikut berhenti dan berkacak pinggang di tempatnya. Jarak yang terbentang antara ia dan Baekhyun terhitung lima langkah. "Hoi, anak muda, kau terlalu banyak melamun, kau tahu itu, kan?" Paman Park tidak lupa berkacak pinggang saat mengatakannya.
"Tidak sedang melamun, Paman. Hanya sedang berpikir bagaimana menjawab pertanyaan itu dengan seharusnya."
Paman Park tersenyum. "Sudah tahu bagaimana cara menjawabnya, belum?"beliau bertanya lagi. Langsung dijawab Baekhyun dengan gelengan.
Yang lebih tua melangkah mendekat, senyum hangatnya masih terpatri sempurna di wajahnya yang masih diselimuti ketampanan meskipun sudah berusia tidak lagi muda. Sebelah tangannya terangkat, mengusak-ngusak rambut hitam Baekhyun dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Kau hanya perlu berkata dengan jujur, nak. Tentang perasaanmu, tentang keinginanmu, atau bahkan tentang emosimu, kau hanya perlu jujur dengan dirimu sendiri. Mulai belajar ya, berekspresi dengan baik, hm.."
Baekhyun terdiam. Rasa-rasanya, ia mengerti, tetapi terasa pula ucapan Paman Park susah untuk dipahami.
Kau hanya perlu jujur tentang dirimu sendiri..
Kenapa kata-kata itu sungguhan sulit untuk ia pahami maknanya?
Paman Park menegakkan tubuhnya, elusan di rambut Baekhyun sudah berhenti ia lakukan. Bahu Baekhyun ia tepuk sekali, gestikulasi untuk yang lebih muda untuk ikut kembali melangkahkan kakinya.
"Kalau aku menceritakan sesuatu, apakah Paman akan mendengarkannya?"
Langkah kaki Paman Park kembali terhenti. Seketika pikirannya penuh tanya, berapa banyak yang sudah ditahan oleh Baekhyun hingga untuk dapat menceritakan sesuatu saja ia harus mempertanyakan ketersediaan orang lain terlebih dahulu untuk dapat mendengarkan kisahnya.
"Tentu saja, aku akan mendengarkannya, Baekhyun-ah." ujaran Paman Park terdengar begitu sejuk, Baekhyun sudah sejak lama tidak merasakan perasaan hangat seperti ini. Rasanya seperti ia bukanlah sebentuk beban, eksistensinya ada dan dimaklumi.
"Kau hanya perlu menceritakannya dengan perlahan, dan aku akan medengarkan semuanya dengan baik."
"Aku tidak tahu harus memulainya dari mana.."Baekhyun akhirnya membuka suara setelah cukup lama tidak ada konversasi yang terjalin. Ia merasa bimbang kembali.
Kepalanya yang semula menunduk, sontak membawa atensinya pada Paman Park yang sedari tadi sibuk membolak-balik daging di atas pemanggang, sejurus menaruh potongan daging yang sudah matang ke piringnya. Senyum hangat pria paruh baya itu terulas, tidak ada balasan apapun keluar dari mulutnya, hanya sebatas gestikulasi ia tampilkan—bahwa ia akan menunggu dan mendengarkan apapun yang akan Baekhyun katakan dengan baik.
"Sejujurnya, aku tidak tahu harus bagaimana, Paman. Semuanya terasa tidak benar. Seperti tidak ada satupun tertata dengan baik, semuanya berada pada komposisi yang salah." Nafasnya terhela. "Sejujurnya aku juga bingung mengapa aku membawa komposisi dan tatanan ke dalam upayaku bercerita. Aku tidak handal melakukannya."
"Tidak perlu harus menjadi handal memulai pembicaraan untuk bisa bercerita sesuatu, Baekhyun.."Paman Park menanggapi seadanya.
Baekhyun lekas menyuap satu potongan daging, begitu ia lihat Paman Park akan kembali menaruh potongan daging ke piringnya. "Aku tahu itu, hanya saja aku tidak terbiasa melakukannya. Aku sudah terbiasa menyimpan dan mengelola apapun yang aku pikirkan seorang diri, jadi begitu Paman bertanya dan menyarankanku untuk bercerita, aku jadi bingung menanggapinya seperti apa."
"Berarti aku bukanlah orang yang tepat untuk bisa kau beritahu tentang ceritamu, nak."
"Aku tidak mengerti."
Baekhyun itu, anak ini, bagaimana bisa Paman Park menjabarkannya ya.. Anak sahabatnya ini hanya tidak bisa dan tidak tahu bagaimana caranya berekspresi dengan baik. Entah apa saja yang sudah ia lalui selama 18 tahun hidupnya. Tidak ada yang tahu.
"Kalau kau ingin bercerita kepada seseorang, dan kau merasa nyaman menceritakannya kepada orang tersebut, itu tandanya orang utu merupakan orang yang tepat dan kau percayai. Kau tidak lagi perlu takut dicerca akan kisahmu, atau bimbang untuk bercerita apapun padanya hanya karena takut membebani. Apa selama ini kau memiliki seseorang yang seperti itu?"
Butuh hening selama tiga detik untuk Baekhyun berpikir dan mencerna pertanyaan itu. Tidak ada siapapun yang terpikirkan di kepalanya. "Kurasa aku tidak memilikinya.." Ia menjawab.
"Bahkan bukan kepada orangtuamu sendiri?"
Baekhyun lantas menggeleng. "Mereka bahkan tidak punya waktu untuk sekedar mengucapkan selamat pagi atau membalas sapaan selamat tidurku, apa yang bisa aku harapakan dari hal itu?"
Tatapan Paman Park menyendu, ia mengerti. Kurang lebihnya ia mengerti apa yang menyebabkan Baekhyun bisa seperti sekarang. "Apa kau membencinya?"
Baekhyun lagi-lagi menggeleng. "Aku menyayangi mereka. Jika aku membenci mereka, aku tidak akan berada di sini, Paman."
Paman Park sontak terkekeh kecil, dalam hati membenarkan. Ia kemudian melambaikan tangan pada pelayan, menyempatkan memesan sebotol soju beserta dua gelas kecil, lantas kembali memokuskan atensi pada Baekhyun saat pesanannya datang.
"Kau bisa meminum Soju?"
Kali ini Baekhyun menganggguk. "Aku bisa. Tapi aku pikir Paman tidak cukup terbuka untuk membiarkan anak di bawah umur meminum alkohol. Bukankah di Korea Selatan sendiri aturan itu cukup ketat?"
Paman Park tidak langsung menjawab, lantas tetap menuangkan cairan bening dari botol berwarna hijau—Soju, ke dalam gelas yang tengah dipegang Baekhyun dengan penuh adab. Begitu selesai, ia menyodorkan botol tersebut kepada yang lebih muda yang kini tengah menyerengit kebingungan. "Terima ini, dan lakukan seperti yang aku lakukan sebelumnya."
Gelas lainnya sudah tersedia, menunggu untuk Baekhyun isi. Paman Park lantas segera berujar kembali saat dilihatnya Baekhyun bergeming di tempatnya. "Aku hanya sedang mengajarimu bagaimana caranya meminum alkohol. Kau bilang orangtuamu bahkan tidak memiliki cukup waktu untuk membalas sapaan selamat pagi dan selamat tidurmu, aku juga menduga mereka tidak memiliki cukup waktu untuk ini."
Baekhyun sontak terkekeh geli, namun ia tetap melakukannya, menuangkan cairan Soju ke dalam gelas Paman Park. "Aku bisa mempelajarinya sendiri, Paman. Aku tidak sepolos yang Paman kira, Paman harus tahu itu."
Botol Soju yang ada di tangan Baekhyun baru sedetik menyentuh meja, ketika Paman Park menjawab. "Aku tahu, Baekhyun. Aku tahu tentangmu. Aku ini pegawai Blue House, kau juga harus tahu tentang ini."
"Apa Paman mengawasiku?"
Paman Park menyempatkan diri untuk meneguk Soju di gelasnya, sebelum kembali menjawab. "Sejujurnya, iya, aku melakukannya."
"Lalu kenapa Paman diam saja?"
"Tentang apa? Tentang candumu terhadap obat-obatan terlarang? Atau tentang kau yang di suatu malam menyelinap keluar mengajak Chanyeol untuk menyaksikanmu ikut balapan liar? Atau tentang minuman alkohol kesukaanmu adalah wiski? Atau tentang hal lainnya?"
Sudah sejauh apa.. Sudah sejauh mana ia diawasi.. Sudah sampai batas mana.
Baekhyun diam saja, ia tidak tahu harus menjawab seperti apa, rasanya seperti ia sudah kecolongan.
"Kau ingin aku seperti apa, anak muda?"kembali Paman Park bertanya.
Sontak saja pertanyaan Paman Park membuat segumpal rasa kesal membeludak, Baekhyun lantas dengan cepat meneguk cairan Soju di gelasnya. Meringis karena rasa pahit yang begitu tajam. "Paman tahu yang selama ini aku lakukan, Paman mengawasiku. Tapi kenapa Paman tidak mengambil tindakan apa-apa?"
"Aku mungkin saja tahu semuanya, nak. Tapi belum tentu aku memahami alasanmu melakukan itu semua. Lagipula, kau sedang berusaha keras untuk kembali ke tatanan yang benar, bukan? Kau sedang berusaha menaruh segala hal ke komposisi nya masing-masing, bagiku itu cukup. Lagian, tidak ada yang instan di dunia ini. Aku mempercayaimu, Bibi juga mempercayaimu. Orangtuamu mempercayaimu, apa itu sudah cukup juga untukmu?"
Baekhyun terdiam, apa kepercayaan dari mereka sudah cukup?
TBC
Long time no see guys..
Maaf baru sempat balik ke sini setelah sekian lama aku melupakan password buat login ke akun ini.
Awalnya, aku pengen unpub cerita-ceritaku semua di akun ini, tapi ketika aku mendapati kalau banyak dari kalian yang masih menunggu cerita ini dilanjutkan, aku jadi semangat untuk melanjutkan kembali. Aku akan pelan-pelan melanjutkan semua ceritaku ya, guys.
Maaf juga kalau buat waktu lama yang aku butuhkan sejak terakhir kali aku muncul disini. Banyak hal terjadi di real life, dan aku juga harus mengembalikan mood menulis dan merangkai kembali kata demi kata, kembali mengingat alur cerita dan segala macam, hingga akhirnya.. I'm really comeback.
Terima kasih juga atas semua komen yang kalian tinggalkan di akunku, it's mean a lot for me. Maaf karena ga bisa balas satu persatu, tapi aku pastikan kalau aku sudah membaca semuanya dan semua itu benar-benar seberarti itu buat sumber semangatku.
Maaf juga kalau sekiranya tulisanku terdapat banyak perbedaan, haha. Aku butuh waktu buat memperbaiki gaya bahasa dan menyesuaikan kembali gaya menulisku untuk cerita ini.
Anyways, aku punya akun wattpad, tapi udah aku unpub cerita-cerita yang aku publish di sana dikarenakan sudah sejak lama aku hiatus menulis karena kesibukan dunia perkuliahan.
Ps. kalian kalau mau berinteraksi denganku diluar dari sini, bisa ya. add aja Line aku atau hubungi lewat DM twitter.
twt: ayundia_r
line id: @chaann_
see you di update-an cerita selanjutnya, guys..
with love, ChocoVanillia.
