Disclaimer: Haikyuu (c) Furudate Haruichi

Warning: Typo, ooc, slash, dll

.

.

.

His Boyfriend is Mr. Refreshing

.

.

Para anggota reguler klub voli Seijou berdiri di depan gym. Mereka semua baru selesai latihan dan sudah mengenakan jaket klub voli. Semuanya menunggu sang kapten yang mengintruksikan mereka untuk tetap tinggal seusai latihan.

"Maaf sudah membuat kalian menunggu."

Semua menoleh pada suara Oikawa. Mereka mengangkat alis begitu melihat sosok familiar yang digeret Oikawa dengan raut segan. Seorang pemuda dengan rambut ash blond memakai gakuran hitam legam. Mereka semua bertukar pandang.

"Seperti yang kalian minta, aku akan perkenalkan kalian pada pacarku," sahut Oikawa merangkul pemuda yang ia bawa. "Sugawara Koushi."

"Hai," pacar Oikawa tersebut menggaruk pipi salah tingkah. "Ah, ini terlalu mendadak dan memalukan untuk memperkenalkan diri, apalagi kita sudah bertemu sebelumnya… Sugawara Koushi, dari Karasuno, dan um.. ya aku pacar Oikawa." Sahut Sugawara dan membungkuk kecil memberi salam.

"Halo!"

Semua langsung membalas sapaannya ramah dan mendekat mengerubunginya. Membuat Sugawara sedikit terkejut dan makin salah tingkah.

"Aku sudah mendengar banyak tentangmu."

"Aku selalu pikir kau itu imut sejak Inter-High."

"Sebenarnya sejak pertandingan latihan sih."

"Wah, kau ternyata lebih imut ya dari dekat begini."

Semua perkataan mereka yang saling bersahutan membuat Sugawara malu dan kikuk.

"Tunggu, apaan sih yang kalian bilang," sela Oikawa mengambil satu langkah ke depan Sugawara. "Hey, nggak ada kontak yang diperbolehkan, cuman aku yang bisa nyentuh Suga-chan. Huuush… hussh…" lanjutnya sambil mengibaskan tangan dengan arti mengusir.

"Huuuuu…" semua kompak berseru protes. "Jangan bertingkah kayak pacar deh Oikawa!"

"Aku emang pacarnya!"

"Omong-omong," Sugawara menyikut Oikawa. "Apa yang sudah kau ceritakan pada semuanya?" tanyanya dengan pipi yang sedikit bersemu. Mengingat tadi mereka mengatakan kalau sudah mendengar banyak soal dia.

"Dia selalu ngomong betapa imut pacarnya sampai rasanya kuping kita copot," jawab Kindaichi.

"Dia selalu mengulang 'pacarku imut' jadi dia kayak burung beo," sambung Kunimi.

"Juga, dia sudah begitu semenjak kalian belum jadian," tambah Yahaba dan Watari kompak.

"Ah, kalian ngomongin hal yang memalukan saja," ujar Oikawa mengibaskan tangan.

"Untuk informasimu, dia memberitahu kita beberapa hal yang riskan," sahut Iwaizumi menarik perhatian Sugawara.

"Aku melakukan ini dan itu dengan pacarku atau wajah dan suara pacarku itu benar-benar sesuatu." Hanamaki dan Matsukawa memberi detail.

Wajah Sugawara kontan memerah hebat karena malu. Dicubitnya pipi Oikawa kuat-kuat.

"Aw, aw, aw," wajah Oikawa tidak menampakkan penyesalan. "Hittai, ittai, Suga-chan," sahutnya kurang jelas karena pipinya masih ditarik Sugawara.

Akhirnya Sugawara melepaskan pipi Oikawa sebelum membiru. Hanya saja jejak merahnya akan lama hilang.

"Sakit…" rengek Oikawa mengusap pipinya.

'Dia pantes ngedapetinnya,' batin semua rekan setimnya.

"Tapi kalau itu rasa sakit dari Suga-chan, aku senang kok," sahutnya menyeringai kecil.

"Wah…" Matsukawa memelototinya.

"Ngeselin banget," cibir Hanamaki.

"Mesum," ketus Kunimi.

"Sugawara, kesini! dia berbahaya," desis Iwaizumi.

Yang lain hanya terdiam dengan wajah menyiratkan shock.

"Stop menatapku dengan mata dingin begitu!"

"Ahahaha," Sugawara tertawa. "Kalian dekat sekali ya."

Melihat Sugawara yang sudah nyaman, Oikawa kembali menatap teman-temannya. "Nah, sekarang akan aku kenalkan semuanya."

"Ini anak kelas satu, Kunimi-chan." Kunimi mengangguk singkat pada Sugawara begitu Oikawa menyebut namanya.

"Oh!" Sugawara mengangkat tangan dan mensejajarkannya dengan tinggi Kunimi. "Kau cukup tinggi untuk ukuran anak kelas satu," komentarnya. Kemudian pemuda berambut kelabu itu meletakkan tangannya pada puncak kepala Kunimi dan mengelusnya lembut. Tersenyum lebar.

Kunimi awalnya terkejut tapi langsung nyaman begitu Sugawara mengelus kepalanya. Apalagi melihat senyum cerah pemuda yang lebih tua itu. 'Benar-benar beda dari anak-anak kelas tiga kita! Nggak ada satupun yang lembut kayak ini.'

Kunimi merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya. "Apa kau mau permen karamel?" tanyanya menyodorkan sebuah permen karamel kesukaannya.

"Eh, kau memberikannya padaku? Makasih," ujar Sugawara dengan senang hati menerima permennya.

Dan hal itu membuat Oikawa shock seketika. 'Kunimi-chan langsung menyukainya?!'

"Tapi…" Oikawa menyipitkan mata dan menempelkan jemari di dagu melihat keduanya yang asyik berbagi permen.

"Kau suka makanan manis?" Sugawara bertanya.

"Tidak juga," jawab Kunimi datar seperti biasa.

"Hey, mereka berdua… bukankah mereka imut banget begini?" ujar Oikawa sweatdrop.

"Itu kita setuju," rekannya sesama kelas tiga mengangguk.

Setelah Sugawara menghabiskan permennya, Oikawa menuntunnya pada Kindaichi. "Juga anak kelas satu, Kindaichi."

"Hallo," sapa Kindaichi singkat.

"Oh kau lebih tinggi daripada Kunimi-chan!" sahut Sugawara kagum, mengukur tinggi Kindaichi seperti yang ia lakukan pada Kunimi. "Lebih tinggi dari mu bahkan," ujarnya menoleh pada Oikawa.

Sugawara mengelus puncak kepala Kindaichi dengan ekspresi berpikir. Begitu ia selesai mengelus kepala Kindaichi ia kembali menoleh pada Oikawa.

"Kau memanggil Kageyama, Tobio-chan, kan?"

"Eh, yup?" jawab Oikawa mengedipkan mata bingung dengan pertanyaan tiba-tiba Sugawara.

"Kau menambahkan chan untuk Kunimi. Tapi kenapa Kindaichi hanya Kindaichi? Mereka kan dari SMP yang sama."

Kindaichi terdiam kaget. 'Dia menyadari sesuatu yang secara tanpa sadar sudah mengangguku!'

Sugawara menyipitkan mata pada Oikawa dengan sikap tak setuju. "Jangan mendiskriminasinya karena dia lebih tinggi dari mu!"

"Eh, bukan begitu! Kindaichi rasanya cuman pas dengan Kindaichi, jadi…" ujar Oikawa panik.

Sugawara beralih kembali pada Kindaichi dan mengabaikan Oikawa yang masih sibuk membela diri.

"Namamu Kindaichi, jadi mungkin kau ingin dipanggil Kin-chan?" cengirnya cerah memperlihatkan deretan gigi putih yang rapi.

Kindaichi merasa sebuah panah baru saja dilesatkan ke jantungnya.

"Aku tidak mau dipanggil Kunimi-chan, panggil aku Akira saja," ucap Kunimi yang tiba-tiba sudah berada di depan Sugawara dan menggenggam kedua tangannya.

"Kunimi-chan?! Aku bahkan belum dipanggil dengan nama belakangku!" protes Oikawa. Pemuda berambut cokelat gelap itu menggaret pacarnya menjauh.

Kunimi dan Kindaichi memasang wajah kecewa.

"Kageyama punya senpai yang lembut kayak begitu, nggak adil…" gumam keduanya.

Oikawa membawa Sugawara ke hadapan sisa kouhainya. "Kelas dua, Yahaba-chan dan Watacchi."

"Hallo," sapa keduanya bersamaan.

"Yahaba-chan adalah seorang setter dan Watacchi punya pengalaman sebagai setter," jelas Oikawa lebih lanjut.

"Heh~ kita semua teman-teman sesama setter," ujara Sugawara riang, memberikan senyum cerahnya yang membuat ketiga pemuda lain meleleh.

Tiba-tiba Sugawara diam. Matanya menempel menatap Watari tanpa berkedip. Lebih tepatnya ke arah kepala libero Seijou tersebut.

Dan tanpa aba-aba ia meletakkan kedua tangannya ke atas kepala Watari. Cukup untuk membuat Yahaba dan Oikawa ikut terkejut kebingungan.

"Hm, ada apa Suga-chan?" tanya Oikawa heran.

"Aku entah kenapa ngerasa ingin mengelusnya kalau melihat rambut model biksu," jawab Sugawara berkonsentrasi mengelus kepala Watari yang berambut sangat pendek. Kalau di Karasuno, sudah jelas Tanaka yang menjadi korban utamanya.

"Suga-chan, elus kepala ku juga!" rengek Oikawa.

"Eh? Aku akan mengelusmu kalau kau makai rambut model biksu juga," jawab Sugawara ringan, masih asyik mengelus kepala Watari.

"EEEEHHH?! Apa yang harus kulakukan?!" Oikawa langsung pundung dengan dramatisnya.

Sugawara tidak mempedulikannya kembali. Matanya melirik ke samping Watari. Dia beranjak pada Yahaba dan kemudian mengelus kepala Yahaba dengan senyum lembut.

"Eeehhh?! Yahaba-chan nggak pakai rambut model biksu!" Oikawa protes berat. "Kau juga mengelus kedua anak kelas satu tadi!"

"Aku selalu mengelus kouhai."

Oikawa menegakkan sikap tubuhnya. "Aku kouhaimu dengan jarak satu bulan," timpalnya. Mengingat dia lahir pada bulan Juli sedangkan Sugawara di bulan Juni.

"Ditolak!"

"Dia mengelusku…" bisik kedua anak kelas dua yang masih tenggelam dalam euforia perlakuan Sugawara terhadap mereka.

"Dia menaklukan semua kouhai kita secepat kilat," bisik Iwaizumi terperangah.

"Fluffy healing dari lahir, sugoi," puji Matsukawa yang diangguki Hanamaki.

"Suga-chan…" Oikawa pundung karena ditolak untuk dielus lagi.

"Kalau kau potong rambutmu kayak biksu, Sugawara bakalan mengelusmu dan baguskan?" sahut Iwaizumi menyikut Oikawa.

"Nggak! Aku bakalan ngebuat rumor soal biksu yang terlalu tampan!" rengek Oikawa lebay. Iwaizumi memberinya tendangan di tulang kering yang menyebabkan pemuda yang lebih tinggi mengaduh kesakitan.

Sugawara terkekeh pelan dan keduanya menghentikan aksi komikal mereka.

"Ini sahabatku dari kecil, Iwa-chan!" ujar Oikawa menunjuk pada Iwaizumi.

"Hai," sahut pemuda itu pendek. "Kau menjauh sebentar!" tukasnya pada Oikawa dan memberi gestur mengusir.

"Eh, eeeeehh?!"

Iwaizumi langsung menuntun Sugawara untuk menjauh beberapa langkah. Oikawa memasang tampang sedih seperti anak anjing yang baru dimarahi.

"Jadi," Iwaizumi berdehem. Sugawara memiringkan kepala bingung.

"Dia itu bego, licik, menyebalkan, dan punya kepribadian yang buruk, tapi dia punya sisi baik juga. Dia sering bersikap baik tapi acuh pada gadis-gadis, tapi kupikir dia benar-benar tulus dengan mu…" ujar Iwaizumi panjang lebar. Lalu pemuda grumpy itu tersenyum lembut. "Bagaimana ya mengatakannya, tolong urus baik-baik si menyebalkan itu."

Sugawara yang diam sedari tadi kemudian mengangguk dan tersenyum cerah. "Yep."

"Aku sering mendengarmu dari Oikawa," sahut Sugawara. "Kalian pasti sangat dekat, rasanya kalian berpikir yang lain begitu berharga, jadi aku sedikit cemburu."

"Huh?! Ini bukan sesuatu yang perlu dicemburukan sama sekali! Jadi kau tidak perlu khawatir."

"Ahaha, aku bercanda."

"Yah, kalau dia berbuat sesuatu yang bodoh, datang dan bicarakan denganku kapan saja," Iwaizumi mengangkat bahu santai.

Dan pembicaraan mereka diputus oleh rengekan Oikawa yang sudah memasang wajah menangis.

"Curang! Kalian selingkuh dari ku?! Apa yang harus ku lakukan kalau mereka berdua beneran jadian?! Jangan campakkan aku!" rengeknya. "Seberapa lama kalian mau ngobrol!" protesnya ngambek.

"Sugawara, kau benar-benar yakin mau dengan orang seperti dia?" tanya Iwaizumi sweatdrop.

"Eh~ ku pikir sesuatu tentangnya imut kok."

"Apa itu alasan yang kau kau buat untuk dirimu sendiri?"

Keduanya menyudahi pembicaraan mereka dan mendekat kembali pada Oikawa. Iwaizumi memberi sebuah jitakan untuk menghentikan rengekan sahabatnya.

Setelah sesi rengekan itu berhenti. Oikawa mengenalkan dua sahabatnya yang lain.

"Kelas tiga, Matsun dan Makki."

Kedua pemuda yang dimaksud maju selangkah, memasang seringai miring.

"Aku Matsukawa."

"Namaku Hanamaki."

Keduanya berucap dengan nada rendah yang berkesan sexi. Oikawa melongo menatap keduanya. "Eh, apa-apan tuh."

"Kau anak kucing yang manis," sahut Hanamaki mendekat pada Sugawara dan menggengam tangan kanannya dengan sikap elegan.

"Tinggalkan orang kayak Oikawa dan kencan denganku," Matsukawa berbisik, memegang bahu Sugawara dengan tangan kiri dan mengelus pipi Sugawara dengan tangan kanan.

"Maukah kau memimpikan… sesuatu yang menarik?" keduanya kini bak host menawan atau karakter ikemen dalam shojou manga, lengkap dengan latar bunga mawar.

"Tunggu! Karakter macam apaan itu?! Jangan menggoda dia di depan pacarnya!" jerit Oikawa.

"Eh, itu …" Sugawara gelagapan, wajahnya blushing berat.

"Jangan kerayu Suga-chan!"

"Ahaha, ini hanya candaan kok Sugawara," sahut Hanamaki mengibaskan tangan. Keduanya melepaskan tangan dari Sugawara. "Ini kue cream puff untukmu, sebagai permintaan maaf," sambungnya menyodorkan sebuah kue cream puff dengan isi saus vanilla.

"Eh, trims," sahut Sugawara kikuk menerima kuenya. 'Apa kebanyakan orang di Seijou suka makanan manis ya?' batinnya sembari memakan cream puff itu.

Hanamaki diam menontoni Sugawara mengigit cream puff kemudian tersenyum jahil. "Aku sebenarnya ingin pura-pura tidak sengaja menghancurkan cream puf dan nggak sengaja bikin wajahnya kotor dengan krim… tapi karena Oikawa bisa meledak marah maka nggak jadi."

"Makki, kalau kau berhenti! Tolong simpan aja dipikiranmu!"

"Pembicaraan kita kebanyakan soal bedroom talk, jadi…" Matsukawa tersenyum maklum pada Sugawara.

"Matsun, udah deh! Imej cowok kerenku runtuh!"

Oikawa menggembungkan pipi kesal. Sugawara hanya menghela napas. "Jangan khawatir, aku tahu baik seberapa sukanya kau soal itu," ujarnya menggeleng dengan pipi sedikit merona.

"Ah. Kyoutani," gumam Yahaba tidak sengaja melihat pemain dengan rambut dicat pirang itu lewat di dekat gym.

"Oh, bukannya dia juga anggota klub Seijou? Dia main saat Kejuaraan Musim Semi kan?" tanya Sugawara pada Oikawa.

Oikawa mengangguk. "Iya."

"Kau tidak memperkenalkannya padaku?" tanya Sugawara lagi mengangkat sebelah alis.

"Dia itu sama sekali tidak mau mendengarkanku," sahut Oikawa mengerucutkan bibir.

"Oi Kyoutani!" panggil Iwaizumi. Pemuda yang dipanggil menoleh dan berjalan mendekat. Bagaimanapun dia sangat patuh pada Iwaizumi. Kyoutani menyipitkan mata pada Sugawara. Pemuda itu sepertinya bingung mendapati seseorang yang bukan dari klub voli dan memakai seragam sekolah lain ada disana.

"Hallo," sapa Sugawara sambil tersenyum. Kyoutani tak bergeming.

"Kyouken-chan, ini pacarku Sugawara Koushi," sahut Oikawa. Pemuda yang diajak bicara membuang wajah.

"Sapa dia Kyoutani," suruh Iwaizumi. Kyoutani mengangguk padanya lalu mengangguk menyapa Sugawara.

"Kenapa kau itu hanya mau mendengarkan Iwa-chan sih?!"

Sugawara terkekeh pelan. "Senang berkenalan denganmu Kyotani-kun," sahutnya, tangan terangkat untuk mengelus Kyoutani namun pemuda itu kaget dan mundur.

"Oh maaf," Sugawara tertegun. "Aku punya kebiasaan mengelus kepala kouhai," lanjutnya sopan.

"Bolehkan?" Sugawara memiringkan kepala meminta izin. Kyoutani menyipitkan mata, tak lama mengangguk ragu.

Sugawara tersenyum senang lalu mengelus kepala Kyoutani antusias. Membuat anggota klub Seijou yang lain tertegun mengingat Kyoutani selama ini benar-benar hanya mendengarkan Iwaizumi.

"Terimakasih Kyoutani-kun, kau baik sekali," pujinya memberikan Kyoutani sebuah senyuman lebar. Kyoutani mengangguk. Ekspresinya tak jauh beda saat dia bicara pada Iwaizumi.

Oikawa menggelengkan kepala. Pacarnya itu memang punya keajaiban yang luar biasa.

.

.

"Semuanya manis dan keren, menyenangkan sekali berkenalan dengan mereka," ucap Sugawara saat ia dan Oikawa berjalan pulang.

Oikawa menghela napas panjang. "Aku memang menduganya, tapi semuanya benar-benar menyukaimu, aku jadi sedikit cemas karena kau populer."

Sugawara menyenggol lengan Oikawa dengan bahunya main-main. Tersenyum jenaka. "Orang yang kusuka itu kamu, jadi nggak perlu khawatir."

Muka Oikawa memerah. Tidak bisa kata-kata. Pemuda itu mengalihkan wajahnya sebentar kemudian berdehem.

"Hey, Suga-chan, mau ke tempatku sekarang?"

"Okay~ aku akan mengelus kepalamu di rumah nanti."

"Eh, hanya mengelus?"

Keduanya tertawa dan menautkan jemari tangan.

.

Tbc

.

A/N:

So, Basically ini kayak translate dari doujin Introduce My Boyfriend. Jadi tolong dimaklumi penulisan ku kayak begini ^^

Doujinnya bagus tapi aku ngerasa kurang bisa nge-ekspresiinnya. Nah, aku gak tau mau ngebacot apa selain terimakasih udah baca dan mohon tinggalkan jejak :)

Regards

Ai19