Sudah tidak terhitung berapa kali Izuna melihat sepupu laki-lakinya keluar masuk kamar mandi hanya untuk menggosok gigi, hal demikian terjadi berulang-ulang selagi ia bermain games di ponsel. Normalnya sikat gigi tiga kali atau pun dua kali sudah cukup untuk menjaga kebersihan, tapi Uchiha Sasuke melakukan sesuatu yang sangat berlebihan. Heran, Izuna benar-benar tidak habis pikir. Satu kali lagi, Sasuke terlihat masuk ke dalam kamar mandi kemudian keluar dalam beberapa menit. "Lo kenapa?"
"Hn?"
"Sikat gigi kok terus-terusan gitu, gigi lo banyak dugong?"
Dugong mbahnya!
Sasuke mengumpat dalam hati menyadari kesalahan yang diperbuat Izuna. "Senewen! Kalau belum fasih ngomong mending nggak usah sok deh. Yang benar tuh jigong, bukan dugong!"
"Ya pokoknya itu lah, sebelas dua belas." Uchiha Izuna baru satu setengah tahun di Tokyo dan tinggal sementara di kediaman keluarga Uchiha. Usut punya usut, cowok berdarah Uchiha tetapi kelahiran Kanada berusia dua puluh tiga tahun itu rupanya tertarik untuk mempelajari budaya Jepang lebih mendalam. "Why? Ada masalah?"
Pertama kali dalam hidupnya, dicium makhluk bernama cewek selain Ibunya sendiri. Sasuke tidak pernah membayangkan jika sensasinya akan terasa seluar biasa itu, gejolak-gejolak aneh membucah sedemikian hebat. Kebanyakan anak-anak cowok di sekolah berkomentar jika Senju Sakura sangat seksi dan menggoda, berparas menarik, juga memiliki dua aset yang berukuran lumayan besar. Masih terasa jelas bagaimana efek yang diberikan, tubuh Sasuke membeku menyadari bibirnya dikecup mesra. Selain itu, tubuh mereka yang tidak ada jarak membuat dada bidangnya tertekan payudara bulat milik Sakura. Bajingan! Munafik jika Sasuke mengatakan tidak terangsang.
"Gue nanya Sas, kok elo malah bengong?"
Sejujurnya ini berlebihan, tetapi Sasuke sungguh tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana bibir hangat Sakura menempel. Tidak sampai di situ, selanjutnya giliran seluruh isi mulut Sasuke yang menjadi obyek kenakalan Sakura. Cewek itu tidak hanya mengecup, tapi juga mengulum lidah hingga dengan seenaknya mengajak saling bertukar saliva. Maka dari itu Sasuke berulang-ulang menggosok gigi agar segala bakteri di dalam mulutnya hilang, hitung-hitung untuk mengantisipasi jika saja Sakura memiliki penyakit menular. Dasar! Bibirnya sekarang sudah tidak perjaka lagi, semua karena tragedi sial yang diakibatkan Senju Sakura.
"Bro, gue mau tanya?"
"Lah barusan elo juga tanya."
"Bukan itu."
"Terus apa?"
Bilang tidak, ya?
Sasuke menggulirkan pandangannya ke luar jendela di mana gerimis mulai membasahi bumi. "Lo pernah ciuman nggak?"
"Ya pernah lah, di negara barat hal semacam itu sudah biasa." Benar juga. "Kenapa? Lo baru nyium cewek lo?"
Cih! Cewek.
Menurut Sasuke, cewek hanyalah sesuatu yang merepotkan. Seperti Sakura kasusnya, tidak pernah dalam satu hari tidak membuat Sasuke naik pitam. "Nggak."
"Terus?" Mustahil doi mengaku kepada Izuna jika menjadi korban. "Elo kan lagi pubertas, nyantai saja deh kalau cerita ke gue."
Bahasan menarik, tapi Sasuke malas menjawab dan memilih keluar dari kamar. Mengingat-ingat kembali, bibir tipisnya telah tersentuh cewek menyebalkan itu. Sasuke tanpa sadar menggosok-gosok bibirnya menggunakan ibu jari sembari melangkah ke lantai bawah. Lalu ia harus dikejutkan dengan keberadaan seseorang yang menjadi alasannya bisa seperti ini, benar-benar sinting! Sasuke menampar pipi kanannya sendiri berusaha menyadarkan, hanya saja suara feminim Sakura sudah terlebih dulu masuk ke indra pendengarannya. Alhasil, Izumi kakak ceweknya beserta cowok berambut merah yang Sasuke yakini sebagai kakak Sakura ikut-ikutan menatapnya.
"Sas, elo kenal sama Sakura?"
"Nggak!" Loh kok?
- 0 -
Penampilan Sakura rupanya tidak jauh beda dari penampilannya di sekolah yang lebih suka mengenakan pakaian pres body hingga menonjolkan lekuknya, bawahan hotpans dengan atasan berbelahan rendah hingga mempertontonkan bagian payudara. Dia benar-benar masuk kriteria tipe cewek penggoda yang seharusnya Sasuke jauhi. "Dari pada mempertontonkan benda nggak berguna, mending lo tutupin itu lo pakai pakaian yang lebih sopan."
Dasar kuno! Sakura hanya mendecih kecil sembari melipat kakinya. "Jadi gimana?"
"Apanya yang gimana?"
"Perasaan baru kemarin loh kita ciuman, masa' sekarang lo lupa?" Tidak waras.
"Lo jangan-jangan sudah biasa melakukan dengan banyak cowok ya?" Bukannya menjawab pertanyaan Sasuke, Sakura malah terkekeh kecil sambil lalu memainkan ponselnya. Jujur saja, keadaan ini begitu buruk bagi Sasuke. Ibunya lebih senang berbicara bersama Izumi dan Sasori si mas pacar. Akhirnya, suka tidak suka Sasuke terpaksa menemani Sakura di teras belakang. "Teh hangatnya diminum, jangan didiemin doang."
"Nggak di sekolah, nggak di rumah lo tetap saja kaku Sas. Pantas saja anak-anak pada kabur kalau berhadapan sama lo."
"Itu karena gue punya wibawa."
Wibawa yang membuat semua orang ingin menempiling kepala cowok menyebalkan itu, Sakura bersumpah jika dirinya termasuk salah satunya. "Tapi sayang deh, elo terlalu kolot untuk ukuran anak jaman sekarang."
"Terserah mau elo atau siapa pun bilang gue kolot, yang jelas gue nyaman dengan kehidupan yang seperti ini." Menjadi cowok baik-baik yang juga sangat berhati-hati menjaga pergaulan, itu sebabnya Sasuke begitu bangga bisa menjadi penegak kedisplinan di sekolah. "Jangan karena kita remaja, kita bisa berbuat seenaknya."
Cerdas.
Sakura jadi memikirkan sesuatu yang pastinya akan sangat menyenangkan. "Gini deh, gimana kalau kita buat taruhan?"
"Nggak, jangan mimpi bisa melakukan hal aneh-aneh Sak. Sampai kapan pun gue punya alergi sama cewek nakal seperti lo."
Sempat merengut sebal, Sakura tetap ngotot memaksa. "Cemen."
Sampai kapan? Sasuke sejak tadi ingin mengumpati sesuatu lantaran tiba-tiba kehilangan fokus ketika tanpa sengaja melirik belahan payudara Sakura. Serius nih, apa dia tidak kedinginan mengenakan pakaian seminim itu? Ditambah lagi urat malunya di mana? Sasuke bersumpah jika dirinya berjenis kelamin perempuan maka pakaian yang akan ia kenakan paling tidak harus menutupi mulai dari leher hingga mata kaki. Persetan dengan trend ataupun style masa kini, kesopanan lebih nomor satu dari apa pun. Ya begitulah kurang lebih pemikiran Sasuke yang dalam sekejap hancur lantaran wajah Sakura tahu-tahu berada di depannya di jarak beberapa senti.
"Oke kalau elo nggak mau, mulai detik ini gue bakalan semakin sering bikin elo kerepotan mengatasi kenakalan gue di sekolah."
"Gue nggak akan kerepotan selama ada Kakashi Sensei."
"Oh, tukang ngadu."
Bendera perang telah dikibarkan.
Sasuke secara refleks sedikit mendorong bahu Sakura agar jarak intim mereka terhapus. "Heh, cewek! Mau lo apa sih sebenarnya?"
"Ayo, kita buat taruhan." Itu lagi.
"Jangan aneh-aneh!"
"Kalau elo yang menang, gue janji bakalan jadi cewek penurut. Tapi kalau gue yang menang, siap-siap saja jatuh ke pelukan gue."
"Tidur lo terlalu minggir, buruan ke tengah."
"Seriusan nih, lo mau nggak?"
Siapa pun orang yang mengiyakan tawaran Sakura, maka orang itu sudah pasti tidak waras. "Apa taruhannya?"
Termasuk Sasuke sekaligus.
To be continue...
