Tidak ada yang lebih menyenangkan di senin pagi selain mangkir dari apel yang selalu diadakan setiap dua minggu sekali. Sakura adem ayem duduk di ruang lab beserta tiga temannya yang mulai dari kelas satu semua orang juluki sebagai partner in crime. Yamanaka Ino Nastiti Ayu si garang yang lebih sering dipanggil Pig. Lalu dua cowok berbeda tinggi badan, Mahadewa Ongko Yasa Utakata dan Sai Jumadil Akhir alias si muka pucat. Memiliki teman hanya itu-itu saja, Sakura benar-benar tidak becus bahkan seringkali mengompori agar berbuat yang tidak-tidak. Alasannya, selagi mereka masih muda harus senang-senang dong. Menikmati hidup, kapan lagi?

"Asli, si Sasuke memang ganteng banget. Tapi judesnya bikin pengen ngehajar." Sakura hanya tersenyum tipis mendengar cibiran Ino yang tengah menstalker Facebook Sasuke resek, sok kecapekan, dan astagfirullah. "By the way, bersyukur banget hari ini karena elo punya inisiatif sembunyi di sini Sak."

"Why?"

"Gue belum sarapan abisnya, hehe."

Tampang Ino yang seperti itu sangat mudah ditebak, Sakura hanya bisa menggelangkan kepala bersama Utakata sedangkan Sai memilih tiduran dengan bertumpu pada kakinya yang menekuk. "Lain kali sarapan, kalau maag lo kambuh bisa berabe."

"Iya, zheyenggg."

Ini sudah hampir lewat setengah jam lalu, lalu asap-asap mengepul yang diciptakan Utakata tidak kunjung menghilang lantaran cowok berbadan luar biasa tinggi itu terus saja merokok sejak apel pagi dimulai. "Gue kira masih lama, tahunya itu jam dinding kok jarumnya nggak muter."

Boleh tertawa tidak sih?

"Goblok! Jamnya mati Ta." Ino menyahuti gumanan Utakata main-main.

"Ya udah, cabut yokk. Sudah jam masuk ini."

"Bentaran napa Sak? Paling-paling juga sekarang si Sasuke lagi waiting buat cari anak-anak yang nggak ikut apel."

Nah, justru ini yang sejak tadi Sakura tunggu.

"Nggak."

"Kok enggak?"

"Nurut saja, gue jamin kita nggak bakal dapat masalah."

"Serius?"

"Dua rius."

Sebenarnya baik Ino maupun Utakata kurang yakin dengan ucapan Sakura, berasa bunuh diri kata mereka. Tapi deh, apa salahnya dicoba? "Gue ngeri."

"Bangunin gih Sai, tidur mulu tuh anak."

"Maklum, katanya semalam abis begadang sama Abangnya."

"Ngapain?"

"Toilet di rumahnya mampet, jadi deh tuh dia sama Abangnya nguras tinja."

"Anjayy, jijik." Mulut Ino yang ceplas-ceplos sudah menjadi ciri khas.

Sakura tersenyum tipis sembari melakukan peregangan, lalu doi yang pertama kali keluar dari ruang laboratorium Sains itu. Wajar jika Sasuke sering mendampratnya, salah Sakura sendiri seolah sengaja memancing. Semua orang bertaruh jika satu nama yang paling dicari Uchiha Sasuke pagi ini hanyalah Senju Sakura, dua manusia dengan tabiat dan latar belakang berbeda. Dimulai ketika masa orientasi, Sakura dikenal sangat populer diantara para anak cowok rupanya sudah cukup menarik perhatian Sasuke. Akan tetapi, semakin lama borok Sakura ketahuan juga dan Sasuke sama sekali tidak menyukai itu. Dia kan perempuan, seharusnya bisa menjaga sikap.

Dasarnya Sakura yang selalu ngaco, Utakata merasa salah langkah menuruti. Melihat bagaimana penampilan Sasuke membuatnya memijat dahi sembari memegangi bahu Sai yang masih belum seratus persen sadar. "Mampus, ada Sasuke!"

"Setan kali ah."

"Wah gila." Jangan pasang tampang nyali ciut! Ino berulang kali menyemangati diri.

Tidak ada hari tanpa sensasi.

Begitu sampai di depan kelas, Sakura seenaknya melenggang melewati Sasuke. Alih-alih langsung masuk ke dalam, cewek itu malah nongkrong di dekat pintu menunggu teman-temannya masuk. Ini menjadi tontonan yang tidak biasa lantaran Sasuke hanya diam tanpa sedikitpun memandang, kelihatannya sih memang sengaja tidak memperhatikan. Tapi realita sama sekali tidak seperti ekspektasi. Semua orang melihat, Sasuke ke sekolah hari ini dengan mengenakan ikat kepala yang menampilkan sebagian besar area jidatnya, sebagai ganti tidak adanya kain biru di lengan yang menjadi tanda posisinya sebagai penegak kedisiplinan. Sangat seksi, Sakura tersenyum lebar sembari tanpa henti melihat wajah tampan Sasuke.

"Elo ganteng banget Beb, gue suka."

Owalah cewek!

- 0 -

Penyesalan kok selalu diakhir?

Kan kesel.

"Sudah deh, dari tadi elo kok ngomel mulu. Persis Ibu-ibu di kompleks sebelah, kerjaannya ghibah dari pagi sampai malam." Tahu begini, Naruto lebih memilih pulang naik ojek online ketimbang numpang motor besar milik Sasuke. Tidak kendaraannya, tidak pemiliknya sama-sama gahar. "Lo tahu Sas, Kakashi Sensei sampai nanya ke gue tuh gara-gara lo hari ini nggak nyerahin satu nama pun di buku pelanggaran."

"Berisik!" Diberi tahu enak-enak, malah dia ngegas.

Ini semua karena cewek mesum itu!

Sasuke bersumpah demi marmut peliharaan kakaknya yang diberi nama Pajero, panas njobo njero. Sakura sudah pasti masuk ke dalam daftar merah, masa depan suram. Niatnya tidak sudi mengingat-ingat, tapi bagaimana bisa begitu mudahnya melupa jika doi yang notabenenya sebagai cowok normal tiba-tiba disuguhi umpan empuk.

Sakura sudah tidak waras.

"Lo masih ingat kan Beb perjanjian kita?" Bahkan boker pun yang Sasuke lamunkan tetap hal sama. "Dua minggu."

Dua minggu?

"Kalau elo kuat, gue bersumpah bakal jadi cewek penurut."

"Gue nggak butuh omongan lo doang Sak."

"Tenang, gue bukan tipe orang yang suka ingkar janji." Maunya demikian, Sakura main-main mengerling manja pada Sasuke. Salahkan keadaan sepi saat ini, berdua di ruang kosong yang desas-desusnya angker. "Gue boleh tanya sesuatu?"

"Hm."

"Lo masih perjaka ya?" Sepertinya otak manusia sekarang berada di kaki, bukan di kepala. "Gue anggap jawaban lo iya."

Resek banget! Sasuke tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya tatkala tawa Sakura akan meledak. "Jangan membiasakan bertanya hal pribadi seperti itu ke orang lain? Lo sama saja melakukan pelecehan Sak."

"Lebay deh, gue kan cuma nanya. Lagian, siapa juga yang grepe-grepe elo!"

What the fuck!

Cantik sih iya, tapi mulutnya bokep melulu. "Gue nggak suka cewek bermulut kotor."

Bulshit! Bagaimana pun juga, semua cowok sama saja jika sudah berurusan dengan nafsu mereka. Sakura tersenyum miring untuk kesekian kali, selagi Sasuke lengah ia coba melakukan sesuatu yang nekat pada cowok bermuka datar persis aspal jalanan itu. Songong sih, kan Sakura jadi sebal. Bicara memang enteng, tapi dia belum tahu rasanya diberi godaan. Si ratu seksi memang paling bisa membuat Sasuke kelabakan jika beraksi, terbukti dari reaksi menegangnya saat Sakura mendorongnya ke dinding. Edan, masa ketua club bela diri selemah ini? Sasuke menggelengkan kepala untuk menetralisir rasa pusing yang menyerang tiba-tiba, berharap semua hanya ilusi. Pada kenyataannya, Uchiha Sasuke memang lemah dalam urusan perempuan."Mau apa lo?"

"I want to kiss you."

Sekonyong-konyongnya, tujuh belas tahun hidup dan baru kali ini Sasuke mengenal cewek seagresif Sakura. Posisinya yang terhimpit di dinding begini benar-benar tidak leluasa, alhasil Sakura bisa berbuat seenak hati. Tidak tahu malu, terang-terangan menggoda cowok hingga menegang. Sasuke tidak sampai hati memikirkan jika saja Sakura ternyata melakukan hal ini ke laki-laki lain. Bibir hanya berjarak beberapa senti, lalu tubuh sintalnya yang sangat intim dengan tubuh tegak Sasuke. Demi Tuhan Sakura pasti menahan tawa merasakan ereksinya, itu semua karena tubuh bagian depan Sakura. Payudara dengan ukuran yang besar itu mendorong dada ratanya, Sasuke panas dingin. Mimpi apa semalam doi? Masalahnya, kali ini Sakura tidak segera menciumnya seperti tempo lalu.

"Tapi bo'ong."

Demikian, makhluk paling menjengkelkan di muka bumi adalah cewek. Sasuke memaki dalam hati. Itu karena tinggal sesenti saja bibir mereka bertemu, sentuhan Sakura tahu-tahu menghilang tanpa bekas.

Please, Sasuke sedang frustasi!

"Kalau ada masalah bilang, jangan ngedumel gak jelas. Gimana bisa gue ngasih wejangan ke elo kalau elonya sendiri gitu?"

"Gue nggak butuh wejangan dari lo Nar." Iyalah, kan yang Sasuke butuhkan sekarang hanya satu. "Gue cuma butuh..."

Si seksi Senju Sakura.

To be continue...