"Kamu yakin nih Sas?" Lima kali berturut-turut, Sasuke hanya bisa meringis ketika mendengar pertanyaan berulang-ulang yang dilontarkan Kakashi Sensei. "Seminggu belakangan kok tidak ada satu anak pun yang melakukan pelanggaran?"

Mereka pada tobat kali.

Batin Sasuke ingin menjawab demikian. "Saya tidak mengerti, Sensei."

"Sebenarnya bagus, tapi aneh juga kalau tiba-tiba ruang bimbingan dan konseling jadi sepi begini."

Ini rahasia, hanya beberapa orang saja yang tahu benar sikap asli Hatake Kakashi. Dia humoris dan merupakan tipe orang yang selalu easy going, tapi semua siswa maupun siswi tampaknya sudah terlebih dulu menilai buruk citranya sebagai guru khusus bimbingan dan konseling. Tidak seperti para tenaga pengajar yang lain, Kakashi Sensei lebih bisa dekat dengan Sasuke lantaran usia cowok itu tidak jauh beda dari mendiang putranya yang telah meninggal sejak dua tahun lalu setelah satu tahun penuh melawan kanker otak. Satu point pentingnya lagi, Kakashi Sensei dan Sasuke sering kali sepemikiran untuk mengurangi tingkat kenakalan siswa di sekolah.

"Nggak ada yang coba-coba mengancam kamu kan Sas?" Tuh, belum apa-apa sudah menebak. "Si cewek Senju itu, maybe?"

Wah berabe.

"Semua aman terkendali Sensei, tidak ada yang mengancam saya atau apa pun." Sudah diputuskan, Kakashi Sensei tidak boleh mengetahui perihal kesepakatannya dengan Sakura. "Kalau begitu saya permisi dulu."

Niat hati ingin cepat-cepat menghindar. "Tunggu sebentar."

"Y-ya?" Sayang sekali Kakashi Sensei masih ingin berlama-lama.

"Saya dengar club bela diri segera ikut turnament, siapa yang mewakili?" Hampir saja serangan jantung. "Kamu Sas?"

"Bukan, Sensei. Tahun ini jadi tahun terakhir saya di club, sebagai ketua saya akan lebih memfokuskan diri untuk para junior saya. Kalau masalah turnament, Hyuga Neji dari kelas XI IPS yang akan mewakili."

Rautnya mulai datar. "Oke, good luck."

"Terima kasih Sensei, permisi."

Selebihnya, Kakashi Sensei hanya mengangguk memberi persetujuan. Sasuke lantas keluar ruangan dengan tenang, sebisa mungkin bersikap baik-baik saja meski hatinya ingin berteriak murka. Sialan cewek itu! Seumur-umur, baru kali ini Sasuke berani membohongi Kakashi Sensei. Ia bahkan berkali-kali merutuk, semoga tidak ada makhluk seperti Sakura lagi di dunia ini. Satu saja bikin repot, apa lagi jika ada ribuan. Aduh, Sasuke mulai ngaco dengan pemikirannya. Tidak sadar akan kehadiran Sakura yang sejak tadi menjadi biang masalah hari ini, itu karena emosinya tengah berkecamuk. Sulit memutuskan, antara berhenti atau melanjutkan. Baru setengah jalan, tinggal seminggu lagi penderitaannya usai.

"Elo memang best banget Beb."

Tanpa menoleh, Sasuke tahu jelas suara menyebalkan itu Sakura. "Maksud lo?"

Singkat saja.

"Berbohong pada Kakashi Sensei kalau semuanya aman terkendali." Ketahuan banget nih anak habis mencuri dengar, Sasuke diam-diam meliriknya sinis tanpa sedikitpun menghentikan langkah. "Padahal nyatanya elo sedang ada something sama gue."

"Yang elo maksudkan dari kata something itu apa? Jangan melebih-lebihkan."

"Gue nggak pernah melebih-lebihkan, apa yang keluar dari mulut gue adalah fakta. Apa perlu kita kissing lagi supaya kepala elo nggak kena penyakit amnesia dadakan?"

Fuck!

Separuh tidak tahan, Sasuke menarik pergelangan tangan Sakura masuk ke dalam ruang UKS sampai cewek itu mengaduh. "Pelan-pelan dong, kasar banget jadi cowok?!"

Biarkan saja, tidak ada ampun.

"Loh, Sak? Sas? Pada ngapain?"

Wadawww.

- 0 -

Lambe netizen benar-benar luar biasa membahayakan, demi Tuhan Sasuke akan menembaki mereka jika saja membunuh hukumnya boleh. Hanya karena satu orang saja, seantero sekolah dihebohkan dengan tersebarnya foto antara dirinya dengan Sakura yang tengah berduaan di UKS saat jam istirahat. Pose dan keadaan mereka bukanlah sesuatu yang syur, akan tetapi melihat penegak kedisiplinan bersama biang onar justru menjadi berita yang patut dibicarakan. Sasuke sakit kepala, teman-teman sekaligus juniornya tidak berhenti melontarkan pertanyaan ini itu di group WhatsApp. Berbeda dengan Sakura yang justru terus tersenyum lebar, tampak puas akan seluruh pemberitaan tentangnya dan si tampan yang reseknya astagfirullah.

"Ayo deh jujur ke gue, elo sudah wikwik ya sama Sasuke?"

"Apaan tuh wikwik?"

"Si Sakura nggak bakal tahu wikwik, tahunya cuma ikeh-ikeh kimochi. Aduh!" Spontan Sakura menggeplak kepala Sai di bangku belakang. Pelajaran masih berlangsung namun teman-temannya dengan gila bertanya. "Bisa biasa nggak sih Sak?"

"Nggak." Sai dan Utakata banyak bertanya, sedangkan Ino hanya diam memaklumi. Nanti, ada sesi curhat pribadi sebagai sesama perempuan. "Fokus gih ke depan, kena lempar penghapus baru tahu rasa."

Dua puluh menit lagi, Utakata menghitung waktu yang berlalu hingga rasa kantuk menyerang. Ia melirik Ino yang tengah malas-malasan mendengar penjelasan Shizune Sensei mengenai karakter manusia. "No?"

"Hn?"

"Teman lo makin aneh, gue curiga jangan-jangan dia memang anu sama Sasuke."

"Gue dengar elo ngomongin gue ya Ta?!"

Fisik peri tetapi tabiat seperti nenek sihir, Sakura pantas mendapat julukan demikian. Sampai dua pulut menit berlangsung, bel akhir pelajaran berbunyi. Sempat-sempatnya Sakura membuka ponsel ketika merasakan getaran di saku, mendadak hatinya langsung doki-doki lantaran pesan itu berasal dari Uchiha Sasuke. Sakura sudah menyimpan nomor cowok itu sejak lama, tapi gengsi bila harus mengirim pesan duluan. Cowok semestinya berjuang, Sakura memilih duduk santai layaknya putri keraton ketimbang mengejar yang tidak pasti. Halah tipu! Buktinya doi bisa sampai melakukan hal diluar logika hanya demi menarik perhatian Sasuke. Suka-suka berkilah, Sakura tetap tidak bisa menampik kenyataan.

"Kenapa lo Sak? Senyum-senyum nggak jelas."

"Tahu tuh, nggak mau balik?"

"Nginap saja di sini, jadi penunggu sekolah."

Teman kurang ajar.

Sakura memutar mata bosan, membiarkan ketiga orang itu melangkah duluan keluar kelas bersama siswa yang lain. Demi Sasuke, Sakura rela pulang paling akhir untuk menghindari lambe julid para netizen. Cowok itu baru mengiriminya pesan agar Sakura menunggu di parkiran hingga keadaan cukup sepi. Sasuke selalu begitu, hobi mengajak ke tempat sepi.

Doeng!

Ini sih bukan gurauan, tangan besar Sasuke sukses membuat kening Sakura nyeri bukan main. "Mikirin apa lo?"

"Lo mau bikin gue goblok hah?"

"Lo sudah goblok." Keparat!

Sakura jengkel, asli. "Nggak usah bertele-tele Beb, bilang ke gue sebenarnya mau lo apa nyuruh gue pulang paling akhir begini?"

Akhir apanya? Sekolah sebenarnya masih ramai, ada beberapa siswa yang mengikuti jam tambahan maupun ekstrakurikuler. "Kita bakal bicarain taruhan kita lebih lanjut."

"Kenapa? Lo nyerah?"

"In your dream!"

"Terus?"

Jaga-jaga, Sakura memicingkan mata melihat gerak-gerik Sasuke. Alhasil, cowok itu juga tidak bisa mengalihkan pandangan selain pada Sakura seorang. Mata emerald memukau, turun ke hidung mancungnya, lalu bibir menggoda yang sudah pernah ia rasakan. Fokus Sas! Fokus! "Setelah gue pikir-pikir, taruhan kita sama sekali nggak fair. Elo banyak untungnya, gue banyak rugi."

"Sudah setengah jalan kok protes?"

"Seminggu ke depan gue mau elo belajar yang benar dan jadi orang baik, kalau perlu gue bakalan ngasih elo bimbel."

Sakura melongo.

Dunia sepertinya akan kiamat.

To be continue...