Siapa pun cewek di dunia ini yang menganggap jika Uchiha Sasuke merupakan pangeran berkuda putih, maka kepala cewek itu mungkin telah terbentur sesuatu. Sakura merutuki dirinya sendiri yang juga menjadi salah satunya, terjerat dengan pesona Sasuke diawal. Alih-alih semakin tergugah, demi apa pun di dunia ini Sasuke merupakan salah satu makhluk yang semestinya dimusnahkan. "IQ lo berapa sih sebenarnya? Gini doang banyak yang salah, pantas saja rangking lo jeblok melulu."

Kok?

"Sotoy lo Beb! Akrab juga baru, nggak usah ngata-ngatain IQ gue deh."

"Gue nggak ngata-ngatain, faktanya begitu." Sialan memang. "Lagian siapa juga yang akrab sama lo? Ingat Sak, taruhan kita tinggal satu minggu. Gue sudah melewati satu minggu sebelumnya tanpa hambatan, jadi untuk satu minggu ke depan gue minta elo mau bekerja sama dengan sebaik mungkin."

Sakura sewot bukan main mendengar ajakan kerja sama Sasuke, diam-diam dia melirik beberapa orang yang hilir mudik melewati tempat nongkrong mereka. Heran, seharusnya mereka bimbel di rumah saja bukannya di Cafe seperti ini. Tidak masalah jika sepi, lah ini di mana-mana banyak orang. Terus terang Sakura kurang bisa fokus, ditambah lagi wajah galak Sasuke benar-benar membuat Sakura ingin menggeplak kepala cowok itu. Harinya sungguh sial, mau lari tapi gengsi. Ulangan di sekolah tidak bisa Sakura hindari lantaran Sasuke resek sudah stand by memberi omelan. Rasanya Love Potion di game Sakura School Simulator yang terinstal pada ponsel Sasori sangat Sakura butuhkan, agar Sasuke bisa takhluk padanya.

Ngimpi!

"Apaan nih? Sejak kapan Atta Halilintar jadi pencetus teori alam semesta? Ngaco lo."

"Gue belum lahir waktu itu, ya mana tahu."

Kesabaran Sasuke diuji, mulut Sakura sejak awal tidak berhenti memancing. "Ganti, buka buku Sains lo sekarang."

"Aduh Beb, kepala gue pusing banget nih. Kayaknya gue mau amnesia saja buat melupakan segalanya."

Doeng!

Kena, buku setebal tiga senti mengenai kepala akibat perbuatan Sasuke. "Seluas-luasnya alas masih lebih luas alasan lo."

Tidak ada pilihan lain, Sakura cemberut sembari mengeluarkan buku Sains dari dalam ransel. Sasuke hanya bisa tersenyum tipis sesaat, kemudian memperhatikan cuaca di luar sana yang diselimuti mendung. Hanya beberapa menit berlangsung, gerimis mulai berjatuhan dari atas langit. Kembali, Sasuke melihat pergerakan Sakura yang sok-sokan membaca buku. Rasanya sampai saat ini pun kehidupannya penuh liku. Apa iya hanya demi mengerti isi hati cewek, Sasuke harus melakukan konsultasi ke psikiater? Study banding ke Harvard? Bertanya kepada orang pintar? Merukiah diri? Bahkan ikut pesantren kilat? Benar-benar deh, cewek memang sulit dimengerti.

"Wah, di luar hujan." Dari tadi. "Dingin nih."

"Terus?"

"Kali aja gitu elo mau hangatin gue."

Sakura yang absurd.

Bagaimana tidak kedinginan jika seragam yang Sakura gunakan selalu press body, sudah begitu dia tidak mengenakan kaos dalaman. Sasuke bukannya sengaja mencari tahu, tetapi keteledoran Sakura yang senang skinship membuat cowok itu mau tidak mau menyadari bra merah yang samar-samar terlihat dari seragam putihnya. "Seragam lo masih juga nggak diganti?"

"Nggak."

"Mulai besok atasan lo harus longgar, rok harus selutut, pakai dasi, terus hilangin lipstick merah lo yang kayak tante-tante itu."

"Gue kira elo suka yang merah-merah gini." Sakura sepertinya sengaja, gelagatnya yang berani membusungkan dada membuat Sasuke menghela napas. "Gede ya?"

"Gede, tapi kalau nggak berguna buat apa?"

Astagfirullah manusia.

- 0 -

Hujan boleh menghantam bumi dan seisinya, tetapi hal itu tidak juga bisa menyurutkan senyum Sakura. Pukul empat sore, dia baru sampai di rumah dengan diantar Sasuke. Setidaknya, cowok muka tembok itu mau bertanggung jawab memulangkan anak gadis orang. Sebenarnya Sakura penasaran akan perasaan Sasuke, rugi sekali jika doi tidak menyukai wajah cantik dan tubuh seksinya. Tapi jika memang benar begitu, cowok seperti Sasuke patut didapatkan.

"Baru pulang kok sudah senyum-senyum sendiri, kenapa hm?"

"Itu tuh, baru diantarin pacarnya. Makanya jadi senyum-senyum gak jelas."

Tidak Ibunya tidak adik cowoknya, dua orang itu sama saja. Sakura menanggapi dengan senyum aneh kemudian meletakkan sepatu yang baru dia lepas di dalam rak. Setelahnya, Sakura mengikuti perempuan cantik berdarah Jepang yang sudah melangkah duluan ke dapur. "Mama lagi buat apa?"

"Dijawab dulu dong, tadi senyum-senyum kenapa?"

"Nggak kenapa-napa kok."

"Terus yang ngantarin pulang tadi siapa?"

"Teman sekolah."

"MA! REMOT TV MANA?" Namanya Senju Akio, usia empat belas tahun dan sedang dalam masa pertumbuhan. Sakura sebenarnya sangat dekat dengan adiknya itu, tapi Akio terkadang bisa sangat berisik. "MA!?"

"Kenapa Dek?"

"REMOT TV MANA?"

"Di meja." Ampun deh.

"Bukannya Kiki harusnya ada les?"

"Libur katanya." Sakura manggut-manggut menanggapi. "Eh, dilanjut lagi dong yang tadi sayang?"

"Apanya?"

"Itu, si pacar dong."

"Mama ih, dia cuma teman bukan pacarnya Saku."

"MAMA!"

"Apa Dek??" Tampaknya sudut siku-siku mulai muncul di kepala Ibunya, Sakura meringis.

"REMOTNYA NGGAK ADA!"

"Ada! Cari yang benar!" Akio sangat mengganggu suasana. "Terus-terus, dia anaknya ganteng nggak?"

"Jelek, mirip pantat panci."

"Mama nanya serius, Saku-chan."

"Saku juga serius."

"MA! REMOTNYA NGGAK ADA BENERAN!"

Tidak ada lagi kesabaran, Ibunya jengkel bukan main. "Kalau sampai Mama yang nyari terus ketemu, kamu minta diapain Dek?"

Baiklah, Sakura tidak mau ikut campur setelah ini. Drama yang terjadi, Ibunya dengan mudah menemukan benda yang dicari Akio. Sudah begitu mereka berdua akan adu mulut hingga remaja tanggung itu hanya bisa meratapi nasib ngenesnya yang selalu salah di mata si Ibu. Jadi cowok sih, makanya mau tidak mau harus merasakan ribetnya cewek. Sakura kembali tersenyum, berlalu menuju ke dalam kamarnya yang berada di lantai dua. Kalau dipikir-pikir, menerima bimbel yang diberikan Sasuke sama sekali tidak ada ruginya. Mereka bisa lebih berlama-lama menghabiskan waktu bersama, dan Sakura tidak akan pernah bosan mengerjai Sasuke sampai kapan pun.

Ah, Sakura jadi ingat tadi.

Sasuke keceplosan bercerita jika dia tidak memiliki akun social media Instagram, kolot sekali. Alhasil, Sakura tidak berhenti mengejek hingga cowok itu membuat akun Instagram saat itu juga.

Nurut dong.

Lebih menyenangkan lagi Sakura mengetahui email dan kata sandi akun Sasuke, pesta besar nanti.

"Tuh kan, lo benar-benar jadi bucin deh kayaknya? Dari tadi senyum-senyum gak jelas." Akio lagi, dengan tampang polosnya dia berdiri di pintu kamar yang terbuka. "Jatuh cinta boleh, jadi bucin jangan."

"APA SIH LO BOCAH?!"

To be continue...