"Hallo, lo di mana Sas?"

Sejujurnya Sasuke tidak berminat menghubungi Naruto, tapi hari ini moodnya mendadak memburuk lantaran berada di situasi menyebalkan. Kakak perempuannya bilang, Sasuke hanya akan mengantarnya sampai stasiun. Tapi ketika sampai di tempat tujuan, teman-temannya telah pergi duluan. Izumi mengamuk, tentu saja. Dan berakhir Sasuke yang menjadi korban. Statusnya sebagai penegak kedisiplinan sekolah, tapi malah mangkir dari sekolah. Doi bahkan masih mengenakan seragam putih abu-abu, kelayapan di jalanan sejak pagi hanya demi mengikuti sekumpulan mahasiswa yang tengah berlibur di pantai. Lebih parahnya, Izumi seperti tengah bersenang-senang di atas penderitaan adik cowoknya itu.

"Pantai."

"Hah? Ngapain?"

"Nyawer."

"Yang benar woi?! Bukannya sekolah, malah bolos. Ini nih, kayaknya elo sudah ketularan si cewek Senju bandel itu."

Senju lagi.

Sasuke malas membahas dan beralih ke topik lain. "Bikinin surat izin, gue ada acara keluarga."

"Parah lo, parah!"

"Bikinin Nar!"

"Ya!!!"

Sampai di situ, Sasuke lantas kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku. Untung saja dia membawa jaket, paling tidak benda itu bisa menutupi penampilannya yang mencolok. Sekalian menghindari hal-hal tidak diinginkan seperti tertangkap satpol PP, murid SMA kelayapan di luar ketika jam belajar mengajar masih berlangsung. Jika itu semua terjadi, Kakashi Sensei mungkin saja terkena serangan jantung. Sasuke ngeri membayangkan, berharap memiliki pilihan lain saja seperti menghadapi tingkah gila Senju Sakura sepanjang waktu. Bagaimana cewek itu sekarang? Seragamnya? Make up nya? Sepatunya? Sasuke berjanji, sebagai gantinya besok akan menjadi hari pembalasan.

"Sas, elo mau minuman kaleng?" Tidak perlu bertanya! Sasuke sudah gondok setengah mati. "Jangan diam gitu. Mumpung elo di sini, sekalian aja nikmati pemandangan."

Pemandangan? Bagus.

"Tuh, banyak cewek-cewek pakai bikini. Cuci mata dong." Terus terang Sasuke sama sekali tidak menyangka jika Izumi akan mengatakan hal demikian, tapi apa yang dikatakan Izumi memang benar. Sasuke sejak tadi menemukan banyak sekali cewek dengan hanya mengenakan bikini. Kakaknya juga sama, tapi bawahannya masih memakai hotpans. "Dah ya, gue mau gabung teman-teman gue dulu. Lo jangan ngilang, kalau mau jalan-jalan sekitaran sini aja."

Lengkap sudah, Sasuke semakin jengkel.

Kenapa orang-orang sangat menyukai tempat seperti ini? Matahari begitu terik hingga Sasuke merasa kulitnya akan terbakar, lebih enak bersantai di rumah sambil menonton berita di televisi. Mantan suami menghujat mantan istrinya sendiri bau ikan asin, Sasuke terkadang suka ikut-ikutan nimbrung bersama Ibunya. Owalah dasar human!

"Eh, anak SMA ngapain kelayapan di sini?"

Sangat familiar, rasanya-rasanya ada yang aneh. Maunya tetap sendiri, tapi ada saja yang mengganggu ketenangan. Sasuke tidak bisa menghirup udara dengan leluasa, lalu dugaannya seratus persen terbukti tatkala menemukan Sakura berdiri di sebelahnya. Sialnya lagi, cewek itu mengenakan bikini maroon yang mempertontonkan hampir keseluruhan tubuhnya yang luar biasa seksi. Kulit seputih kapas, payudara besar, pinggang berlekuk, lalu pantat yang bulat berisi. Mati saja! Diam-diam Sasuke berharap bisa menjumpai Ibu Menteri dan minta ditenggelamkan. Tidak di sekolah, tidak di rumah, tidak di pantai. Di mana pun, Sakura selalu membayangi. Akhir-akhir ini Sasuke menyadari kewarasannya yang mulai terguncang, semua salahnya.

"Lo ngapain di sini, cewek? Ngestalker gue?"

Rupanya, pertanyaan Sasuke langsung membuat raut wajah Sakura berubah. "Lah elo ngaca dong, Beb?! Ngapain juga elo di sini? Pakai seragam sekolah pula."

Wah iya, Sasuke lupa.

- 0 -

Usat punya usut, Sakura rupanya datang bersama cowok yang Sasuke ingat sebagai pacar Izumi. Mereka berdua sengaja datang belakangan lantaran ada keperluan lain. Baru deh, ketahuan alasan kenapa kakaknya ngotot tetap berangkat. Sasuke dongkol bukan main, ujung-ujungnya dia yang sengsara karena menjadi tertawaan semua orang. "Senewen lo udah amit-amit ya? Ke pantai pakai seragam sekolah, smart!"

"Diam deh." Sakura terkekeh kecil, seusai itu dia meneguk minuman bersoda hingga tandas. Dari pada bersama Izumi, Sasori dan juga teman-temannya, Sasuke dan Sakura memutuskan pergi ke tempat lain. Hitung-hitung mencari kesempatan saling mengerjai, kompak dalam benak masing-masing. "Eh, elo tuh nggak punya baju renang lain apa selain bikini?"

"Ada masalah?" Malah jadi balik nyolot.

"Elo tuh cewek, jangan terlalu mengumbar tubuh ke orang-orang. Apa lagi ke cowok."

"Cowok kayak elo contohnya?" Mulai.

"Gue masih ingat pernah ngomong alergi sama cewek kayak lo."

"Paling-paling dikasih susu langsung lemes." Sakura kampret! Jelas-jelas yang dimaksud cewek itu menjurus ke hal-hal lebih intim. Seperti tempo lalu, Senju Sakura membuat lelucon porno sembari membusungkan dada. Sasuke tahu betul, lagi pula mereka ini sama-sama menjadi remaja di akhir pubertas. "Ayo deh, untuk hari ini saja. Please, jangan kaku."

Kaku di segala hal sudah menjadi tabiat Sasuke. "What?"

"Mana ponsel lo Sas?"

"Mau ngapain sih?" Sakura tidak menggubris, seenak hati meraba-raba saku celana Sasuke lantaran tidak mendapati apa-apa di saku seragam putihnya. "Buat apa?"

"Mumpung elo nggak kumat, moment kayak begini tuh harus diabadikan." Sasuke berusaha mencegah, tetapi Sakura sudah keburu menarik tubuhnya lebih dekat seusai menemukan ponsel hitam di dalam saku jaket. "Say, cheese!"

Tidak satu atau pun dua kali, cewek itu memaksa berfoto meski Sasuke terus menunjukkan ekspresi datar. Hanya saja, masalah seriusnya bukan itu. "You're bikini, shit!"

Uchiha Sasuke merupakan laki-laki normal, disuguhi body cewek seperti Sakura lama-lama pun akan ereksi juga. Sejak tadi sudah bersabar, rupanya Sakura sama sekali tidak bisa diajak berkompromi. Lihat tubuh seksinya, menempel intim pada Sasuke seolah mengajak bercinta di bawah terik matahari. Keparat! Ke mana perginya prodigy jutek minta ampun itu? Wajah Sasuke memerah, entah karena terlalu lama terkena udara panas atau bisa saja karena perlakuan Sakura. Tapi jangan dikira permainan akan berhenti, cewek seperti Sakura benar-benar memiliki banyak akal bulus. Sasuke harus kapok, biar tidak seenaknya bicara tanpa memikirkan kemungkinan terburuk.

"Lo suka begini sama gue, Beb?"

Begini? Or bikini?

Sasuke kehilangan fokus. "A-apa?"

Dasar! Sakura tersenyum sekilas kemudian menarik tangan Sasuke meninggalkan daratan. "Ayo, ke tengah laut."

Sasuke ketua club beladiri, tapi doi paling lemah menghadapi perempuan. "Mau ngapain sih? Seragam gue jadi basah."

"Salah lo sendiri ke pantai pakai seragam."

Semakin menjauhi daratan, seragam Sasuke otomatis basah kuyup lantaran terkena terjangan ombak. "Lo ngajakin gue ribut?"

Alhasil Sakura tertawa terpingkal-pingkal, disusul suara jeritan menggema tatkala Sasuke tiba-tiba menggendong tubuhnya lalu mengayunkannya ke dalam air. Sakura sampai terbatuk-batuk dibuatnya. "Sasuke resek! Airnya asin, bego'!"

"Memang siapa yang bilang air laut rasanya manis? Lo pikir jus jambu?"

Kembali, Sakura tertawa terpingkal-pingkal sembari mengeratkan pegangan di bahu Sasuke. Tidak ada yang menyadari seberapa dekat mereka saat ini, satu sama lain terlihat nyaman. Sasuke bahkan beberapa kali mengulangi tindakannya, lalu reaksi Sakura lagi-lagi sebuah jeritan melengking. Sampai detak itu menyadarkan, dua-duanya pasrah.

Dan pelan-pelan, sesuatu di hati menyeruak.

Dalam.

Begitu menekan.

Sasuke terpaku bukan karena gairah, tapi dia tertarik memandang mata jernih Sakura. Turun ke hidung mancungnya hingga berakhir di bibir, semuanya terlihat sensual. Apa harus? Dalam hati Sasuke ingin bersikap egois. Sekali saja mencoba, tidak masalah. Lagi pula, Sakura sudah pasti dengan suka cita menerima.

Sekejap.

Sebuah kecupan lembut yang memabukkan, diberikan Uchiha Sasuke.

Apa katanya, semua cowok sama!

To be continue...