"Sudah kuduga. Sulit merasakan chakra Kakashi. Aku pikir karena peredaran chakra ditubuhnya tidak stabil makanya Sharingan-nya juga tidak aktif." Tsunade melipat kedua tangannya diatas meja sambil berpikir serius.

"Lalu bagimana dengan ingatan Kakashi-sensei?" Sakura kembali bertanya pada Tsunade.

"Aku juga tidak tahu mengenai itu. Mungkin karena luka di kepalanya, kalian sediri lihatkan bagiamana parahnya luka-luka Kakashi kemarin."

Ketiga Iryƍ-nin kebanggaan Tsunade itupun mengangguk menyetujui ucapan Tsunade.

"Apa yang akan Tsunade-sama lakukan selanjutnya?" Kali ini Ino yang bertanya.

"Kita hanya harus terus memeriksa keadaan Kakashi, aku juga harus mempelajari beberapa hal untuk itu, ah Sakura, kau kuperintahkan untuk menjaga Kakashi selama keadaannya belum baik, dan laporkan padaku jika ada yang aneh." Perintah Tsunade kepada Sakura yang langsung disetujui olehnya. "Hai."

Setelahnya Sakura dan Ino keluar dari ruang hokage.

"Hah, aku benar-benar merasa tidak enak dengan Sensei-mu Sakura." Ino membuka percakapan selagi mereka berjalan bersama keluar dari gedung hokage.

"Tidak apa. Lagi pula Sensei memang orang yang seperti itu, tentu saja dia akan lebih memilih menyelamatkan teman-temannya." Sakura menjawab perkataan Ino sambil teringat kata-kata Kakashi saat pertama kali mereka berada di tim tujuh.

'Dalam dunia shinobi mereka yang melanggar peraturan memang sampah! Tapi, Shinobi yang meninggalkan temannya jauh lebih buruk dari sampah!'

Sakura tentu saja selalu mengingat pelajaran pertama yang di berikan Kakashi, walaupun itu juga artinya bahwa ia tidak pernah melupakan seseorang lainnya yang mungkin sekarang sedang berkelana mengelilingi dunia untuk menebus dosa-dosanya. Sasuke.

Sakura menghela napasnya, kenapa tiba-tiba dia mengingat pria berambut raven itu. Seharusnya sekarang yang ia pikirkan adalah Sensei-nya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.

"Ada apa Sakura?" Ino bertanya setelah mendengar helaan napas dari Sakura.

"Tidak. Kalau begitu aku ke rumah sakit dulu yah Pig! Jaa ne!" Sakura berlari meninggalkan Ino sambil melambaikan tangannya.

"Mattaku!"

Sakura menggeser pintu ruangan inap Kakashi perlahan, takut mengganggu pria itu.

"Oh sensei, kau sudah bangun?" Ucap Sakura basa-basi sambil berjalan mendekati Kakashi yang saat ini tengah duduk bersandar di tempat tidurnya.

Sakura mengambil tempat duduk di samping Kakashi, dan melihat pria itu yang melamun, sama sekali tidak menghiraukan perkataanya tadi.

"Tunggu! Ada yang aneh." Kali ini inner Sakura yang berbicara.

"Sensei! Kenapa kau melepas maskermu?!" Suara Sakura yang begitu keras membuat Kakashi menoleh. Dan benar saja, pria itu tidak menggunakan maskernya.

Sakura menatap wajah Kakashi yang datar, perlahan semburat merah muncul diwajahnya.

'Demi Kami-sama! Kakashi-sensei sangat tampan.' Inner Sakura menjerit melihat bagaimana tampannya Kakashi. Hidungnya yang mancung, rahangnya yang tegas, dan bibirnya yang pas, tidak tebal ataupun kecil seperti yang mereka bayangkan sewaktu masih genin, oh dan jangan lupa tahi lalat kecil yang berada di sebelah kiri, dekat bibirnya, membuat ia terlihat semakin seksi.

"Ada apa?" Akhirnya Kakashi buka suara setelah melihat Sakura yang masih kaget melihatnya.

Sakura segera menutup hidungnya dengan tangannya sendiri, takut kalau saja sudah keluar darah dari hidungnya. Dengan cepat Sakura mengambil masker putih yang tergeletak di meja dan memasangkannya di wajah Kakashi.

"Sensei kau tidak boleh melepas maskermu, sungguh!"

Kakashi memiringkan kepalanya tanda heran. Menurutnya, gadis berambut merah muda tersebut sangat berlebihan.

"Lalu kenapa?" Kakashi kembali bertanya karena penasaran.

Sakura yang sudah duduk kembali di kursinya kini sudah bisa mengontrol dirinya sendiri, 'Sial karena wajah Kakashi, aku sekarang pasti seperti wanita gila di hadapannya.' Inner Sakura kembali berbicara.

"Kau tidak pernah membuka maskermu sembarangan Sensei. Aku bahkan berani bertaruh kau tidak pernah membukannya kecuali waktu mandi, atau makan. Itupun pasti kau lakukan dengan kecepatan cahaya." Jelas Sakura.

"Jadi reaksimu barusan karena kau baru pertama kali melihat wajahku, begitu?"

BINGO!

Sakura berdehem, sambil mengalihkan pandangannya, ia merasakan semburat merah di wajahnya kembali.

"Meskipun kau muridku?" Lanjut Kakashi.

"Ya, begitulah."

Kakashi hanya diam, dan berniat untuk membuka maskernya lagi sebelum Sakura dengan sigap menahan tangannya.

"Jangan! Kenapa sensei ingin membukanya lagi?" Tanya Sakura yang sekarang sudah berada di hadapan Kakashi sambil memegang tangan pria itu.

"Menyesakkan."

Eh?

Sakura benar-benar kaget dibuatnya, ada apa dengan Sensei-nya ini? Bukankah selama ini dia terus menggunakan masker? Dan sekarang dia berniat membukanya dengan begitu mudah dan alasan yang tidak masuk akal untuk seseorang yang sudah menghabiskan hampir seluruh hidupnya dengan topeng sialan itu.

Kakashi sudah melepaskan tangannya dari Sakura dan menurunkan maskernya kemudian menarik napas dihadapan wanita itu.

'Sial aku belum terbiasa dengan wajahnya. Shannaro!'

"Kenapa aku selalu menggunakan masker?"

Kali ini Sakura pasrah dan membiarkan Kakashi menurunkan maskernya, kemudian duduk di samping Kakashi.

"Aku tidak tahu. Sejak pertama bertemu sewaktu genin kau sudah memakainya dan tidak pernah menunjukkan wajahmu. Kupikir kau sudah menggunakannya dari kecil."

Kakashi diam, mencoba membuka ingatannya mengenai dirinya sendiri. Kemudian sensasi itu datang, tiba-tiba kepalanya terasa seperti dihantam sesutu, benar-benar sakit.

"Ugh." Kakashi meringis kesakitan sambil memegang kepalanya.

Melihat Kakashi kesakitan, Sakura langsung berdiri dan memegang kepala Kakashi, mengalirkan chakra hijau yang membuat Kakashi sedikit lebih tenang.

Rasa sakitnya perlahan menghilang, Kakashi kemudian membuka matanya, menatap gadis yang ia ketahui sebagai muridnya tersebut dengan intens. Sakura menunjukkan raut wajah yang serius dan berkonsentrasi dengan chakranya.

Perlahan chakra hijau itu memudar, kemudian Sakura menurunkan tangannya dan kembali menarik masker Kakashi.

"Lebih baik Sensei tidak memaksakan diri untuk mengingat. Tanyakan saja padaku, jika ada yang ingin sensei ketahui."

"Soal itu,"

'Braak!'

"KAKASHI-SENSEI!!!"

Suara nyaring Naruto memenuhi ruangan begitu dia masuk, diikuti dengan tiga orang lainnya, Tsunade, Yamato dan juga Sai.

Naruto langsung berlari memeluk Kakashi dengan mata yang berkaca-kaca.

"Sensei, kau baik-baik saja? Bagimana keadaanmu?" Naruto menyerbu Kakashi dengan pertanyaan, sementara ia menahan sakit diseluruh tubuhnya karena pelukan Naruto yang terlalu kuat.

"Naruto! Kau memperparah keadaannya." Sakura segera menarik Naruto dan memiting kepala berambut kuning tersebut.

"Aaaahh, gomenne Sakura-chan."

"Hisashiburi Senpai." Yamato menegur Kakashi, sementara yang di tegur hanya menatapnya dengan bingung. "Ah, aku Yamato, Junior kepercayaanmu." Yamato segera memperkenalkan dirinya kepada Kakashi ketika melihat seniornya itu menatapnya dengan bingung.

"Aku Sai. Anggota Tim Kakashi."

Kakashi diam, sambil melihat Yamato dan Sai. Kemudian melirik Naruto yang mengusap kepalanya setelah diberikan pukulan oleh Sakura.

"Jadi Kakashi, bagaimana keadaanmu?" Tsunade bertanya kepada Kakashi, dan mendekat kepada pria itu. Menaruh tangannya di kening Kakashi dan mengalirkan chakra hijau.

"Yah, badanku masih terasa sakit, dan juga aku tidak mengingat apapun."

Tsunade menurunkan tangannya, kemudian menatap Sakura.

"Tadi Kakashi-sensei sempat merasa kesakitan di kepalanya karena berusaha memaksa mengingat sesuatu."

Tsunade mengangguk. "Jangan memaksakan diri Kakashi."

"Baik."

"Sepertinya aku harus menunda rencanaku terlebih dahulu." Kata Tsunade sambil menghela napasnya.

Membuat mereka yang lain menjadi bingung dengan rencana yang Tsunade katakan.

"Rencana?"

- To Be Continued -

A/N : Kritik dan saran sangat di terima