"Tentu saja menjadi Hokage."
"Benar juga, seharusnya Kakashi-senpai akan menjadi Rokudaime dalam beberapa bulan lagi. Apa yang akan anda lakukan Tsunade-sama?" Yamato bertanya dengan Tsunade yang tentu saja hanya bisa menghela napasnya, tidak mungkin ia menjadikan Kakashi yang saat ini sedang lupa ingatan ini untuk menjadi hokage.
"Aku akan mencari cara untuk mengembalikan ingatan Kakashi. Sementara itu, Sakura harus tetap mengawasinya."
"Aku juga! Aku juga! Aku akan menjaga Sensei!" Naruto berseru dengan cukup semangat kemudian mendapat tatapan tajam dari Sakura.
"Kau harus belajar dan menjalankan misi yang banyak Naruto! Kau tidak akan menjadi hokage dengan begitu mudahnya walaupun sudah menyelamatkan dunia."
"Jadi, apa lagi yang ingin kau ketahui Sensei?"
Disinilah Naruto, duduk di sebelah Kakashi sambil menceritakan kisah tim tujuh yang begitu panjang kepada Kakashi. Sementara Sakura juga ikut menambahkan dan mengoreksi beberapa bagian dari cerita Naruto yang sedikit dia lebih-lebihkan. Sungguh ada beberapa bagian yang sangat berlebihan misalnya, kalau dia adalah shinobi paling tampan dan populer saat ini. Sakura tidak bisa menyangkal kalau memang Naruto adalah shinobi paling populer saat ini, dalam artian tentu saja karena dia adalah pahlawan yang berhasil menyelamatkan dunia, tapi Sakura benar-benar menolak dengan sangat bagian yang mengatakan kalau ia shinobi paling tampan.
Hanya karena Naruto menyelamatkan dunia bukan berarti ia menjadi tampan bukan? Lagipula selama perang dunia shinobi, Sakura sedikit banyak melihat beberapa shinobi desa lain yang memiliki paras yang bisa dikatakan 'lumayan'.
"Sasuke-kun bahkan tetap lebih tampan, Naruto."
"Uh Sakura-chan."
"Jadi, di mana yang bernama Sasuke?" Akhirnya satu pertanyaan yang cukup tabu keluar dari mulut Kakashi. Bukan karena apa, hanya saja sulit dan terlalu berat untuk menceritakan kisah Sasuke, dan itu membuat Naruto bingung harus memulainya darimana.
"Etto... Sasuke sedang menjalankan misi yang panjang, nanti aku akan menyuruhnya bertemu dengan Sensei kalau dia sudah pulang."
Kakashi hanya mengamati raut wajah Naruto yang terlihat kebingungan saat ia mengajukan pertanyaannya tadi, sementara Sakura hanya memandang lantai yang bahkan tidak terlihat menarik sama sekali dengan semburat merah yang terlihat di wajahnya. Ah, sekarang Kakashi mengakui dia cukup penasaran dengan muridnya yang bernama Sasuke.
"Ya sudah, kalau begitu aku akan pergi ke ichiraku ramen, Sensei cepatlah sembuh, aku akan mentraktirmu kalau kau sudah keluar dari rumah sakit, ichiraku ramen mungkin akan mengembalikan ingatanmu dengan rasanya yang lezat. Jaa ne." Naruto melambaikan tangannya kepada Kakashi dan Sakura sambil berjalan keluar dengan cengiran khas di wajahnya.
"Jadi Sakura menyukai Sasuke, eh? Dan sepertinya Naruto itu menyukaimu Sakura." Kakashi memecah keheningan mereka.
Sakura dengan cepat menoleh melihat Kakashi. "A--apa maksudmu Sensei?"
Sakura gugup. Cukup jelas dimata Kakashi kalau perkataannya tadi memang benar.
"Tidak apa-apa. Jadi apa kau sudah berpacaran dengan Sasuke?" Kakashi kembali bertanya dan Sakura sekarang mati-matian menahan kepalan tangannya agar tidak mendarat di kepala perak Kakashi. Sensei-nya ini benar-benar membuat wajahnya memanas.
"Tidak. Lagipula Sasuke-kun sedang pergi misi dalam waktu yang lama, aku bahkan tidak tahu kapan dia akan pulang."
"Menunggunya yah." Kakashi senang menggoda muridnya berkepala merah jambu ini.
"Sensei, sejak kapan kau jadi semenyebalkan ini?" Sakura memasang wajah cemberutnya sambil menatap Kakashi.
"Bagaimana aku yang biasanya?"
"Kakashi-sensei yang biasanya adalah orang yang tenang, baik, dan tentu tidak suka menggoda muridnya sendiri."
"Apa aku menggodamu? Kau merasa tergoda? Bagian mana yang membuatmu merasa tergoda, kata-kataku atau wajahku?"
'Itu! Semua kata-kata dan wajahmu mempermainkanku sensei!' Inner Sakura meronta.
"Sudahlah Sensei terlalu banyak bicara, sepertinya kepalamu benar-benar bermasalah." Sakura mengalah, dalam artian tidak ingin Kakashi terus memojokkannya dan membuatnya malu. Sakura membantu Kakashi untuk merebahkan badannya, karena Sakura tahu Kakashi pasti sudah tidak kuat duduk lebih lama.
Kakashi tersenyum lemah dibalik maskernya. Memang sejujurnya tubuhnya masih terasa sakit, apalagi duduk lama sambil mendengarkan ocehan Naruto yang sangat panjang.
"Kapan aku bisa keluar?"
"Jangan bermimpi akan keluar dalam waktu dekat."
Yang benar saja, perkataan Sakura pada Kakashi satu minggu yang lalu memang benar, ia tidak akan keluar dalam waktu dekat, tapi seminggu kemudian tepatnya hari ini.
"Hari ini kau boleh pulang, untuk sementara kau dibebas tugaskan sebagai shinobi." Tsunade menarik kembali tangannya sesudah memeriksa tubuh Kakashi.
Sekarang Kakashi sudah benar-benar terlihat seperti Hatake Kakashi yang normal dengan seragam jounin-nya, yah minus hitai-ate -ikat kepala- karena ia sedang dibebas tugaskan.
"Sakura antar Kakashi kembali kerumahnya." Ucap Tsunade kemudian meninggalkan ruangan.
Sakura mengangguk kemudian mulai merapikan barang-barang Kakashi yang sebenarnya tidak banyak, itupun hanya barang-barang yang ia bawa ketika misi terakhirnya kemarin.
"Ayo pulang Sensei."
Kakashi dan Sakura berjalan beriringan dengan Sakura yang membawa tas ransel Kakashi. Gadis itu melirik Kakashi memperhatikan gerak geriknya, tidak ada yang berubah, cara berjalannya tetap sama, dengan kedua tangan masuk ke dalam sakunya, mata sayunya yang memandang jalan selalu terkesan malas. Jika mereka hanya melihat Kakashi dari luar mungkin mereka tidak akan tahu jika Kakashi yang sekarang bukanlah Kakashi yang dulu.
"Sensei tidak ingin bertanya sesuatu?" Sakura memulai topik pembicaraan, cukup bosan jika hanya berjalan tanpa mengucapkan sepatah katapun, jika saja ia tidak ingat Kakashi sekarang hanya 'orang biasa' mungkin sekarang mereka akan melompati atap-atap rumah agar cepat sampai tujuan.
"Misalnya?"
'Singkat, masih seperti Kakashi-sensei yang biasanya.'
"Um... Misalnya tentang desa? Teman-temanmu? Atau hal lain seperti ninjutsu?" Sakura memikirkan beberapa hal yang mungkin bisa ia beritahu kepada Kakashi.
"Ah aku ingat, kau tau beberapa hari yang lalu aku menemukan buku menarik berwarna oranye di laci rumah sakit."
"Buku oranye? Buku seperti apa?" Sakura bingung, sepertinya ia tidak pernah memeberikan Kakashi buku dengan warna seperti itu. Memang selama di rumah sakit Sakura kerap kali membawakan Kakashi beberapa buku mengenai shinobi, misalnya beberapa jurus mudah yang bisa di kuasai seorang shinobi, atau buku pengendalian chakra. Rasanya seperti Sakura sedang menjadi Sensei dari Kakashi saat menjelaskan hal seperti itu pada sensei-nya sendiri.
"Buku dengan isi yang menarik kau tahu. Sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh pria dan wanita."
Isi yang menarik?
Apa yang menarik bagi Kakashi?
Seorang pria dan wanita?
Beberapa pertanyaan seperti itu berputar-putar di kepala pink Sakura.
Sampai akhirnya ia ingat buku yang dimaksud oleh Kakashi.
"BAKA!!!"
Suara teriakan Sakura yang cukup keras membuat beberapa orang di jalan menoleh kearah mereka, sementara wajah Sakura sekarang kembali memerah. Sudah berapa kali sensei-nya ini membuat wajahnya memerah? Entah karena malu, ataupun marah.
"Hei hei tidak perlu berteriak dan memanggilku seperti itu Sakura."
Sakura mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sungguh menyebalkan. Sakura berusaha menghilangkan buku itu dari Kakashi agar pria itu bisa lepas dari kecanduannya terhadap buku dewasa itu, tentu saja buku Icha-icha. Salah satu hal baik dari Kakashi yang lupa ingatan ini adalah ia juga melupakan hobinya membaca buku mesum itu.
Dan Sakura mencoba mempertahankan hal positif tersebut dengan menyingkirkan buku laknat itu. Lalu siapa yang kembali memberikan Kakashi buku itu?
"Naruto!" Sakura menggeram dengan tertahan sambil menyebutkan nama Naruto. Tidak salah lagi. Hanya memikirkannya saja membuat Sakura ingin memukul sahabat kuningnya itu. Kakashi yang melihat aura gelap di sekitar Sakura langsung menelan ludahnya dengan gugup.
"A--ayo pulang Sakura."
- To Be Continued -
A/N :
Hmm kayaknya ceritanya biasa aja yah? Gak ada yang spesial, untuk saya sendiri sepertinya masih kurang. Kurang kasih sayang *eh*
Tidak tidak. Maaf baru up, sebenarnya saya sudah mau up beberapa hari yang lalu atau sekitar dua minggu yang lalu, tapi draf yg saya tulis hilang, jadi sedih :" dan mood menurun, terus saya jadi bingung menuangkan khayalan saya menjadi tulisan *ngeleeees teros*
Okey, gomen! Yaudahlah kalau ada kritik dan saran sangat diterima, ada typo? Kesalahan penulisan tolong beritahu saya Jaa ne!
