Sakura membuka pintu apartemen yang akan di tempati Kakashi saat ini.
"Tadaima."
Kakashi melirik gadis itu seolah berkata 'memangnya dia pulang kerumahnya?'
"Ayo masuk Sensei."
Kakashi mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru apartemen tersebut, tidak begitu besar tapi tidak begitu kecil untuk di tinggali seorang diri. Kakashi bertanya-tanya apakah ia sudah mempunyai seorang kekasih atau bahkan seorang istri? wangi khas wanita langsung menyeruak masuk ke dalam hidungnya ketika dia masuk rumah ini.
"Apa aku sudah punya istri?" Pertanyaan langsung Kakashi membuat Sakura yang ternyata saat itu sedang meneguk air langsung tersedak.
"Hah? Apa Sensei bercanda?"
"Tsunade-sama bilang kau akan mengantarku kerumah, tapi aku tidak yakin apakah rumah feminim ini adalah rumahku." Kakashi kini sudah berdiri di sebelah Sakura sambil menepuk nepuk belakang Sakura.
"Tentu saja. Ini rumahku. Sebenarnya aku sudah bilang dengan Shisou kalau lebih baik Sensei sementara tinggal di rumahku, jujur saja ini seperti lebih mempermudah. Maksudku kalau Sensei tinggal disini aku tidak perlu repot pergi kerumah Sensei untuk merawatmu, dan juga rumahku dekat dengan rumah sakit jadi tidak apa-apa kan?"
Kakashi mengangguk paham dengan penjelasan Sakura yang agak sedikit panjang. Intinya dia ingin Kakashi tinggal di rumahnya agar ia tidak kesusahan.
"Kau tidak masalah tinggal dengan seorang pria?"
"Pria?" Sakura bertanya kembali.
"Maksudmu aku wanita?"
Sakura terkekeh mendengar jawaban Kakashi. Yah, walaupun sebenarnya ia yang salah karena lebih dulu menanyakan hal aneh kepada Kakashi.
"Tidak. Maksudku Sensei tentu saja pria. Tapi Sensei tetap Kakashi-sensei iyakan? Bagiku tidak masalah, Sensei juga bukan orang asing."
"Bagaimana kalau Sasuke cemburu?"
"Sensei berhentilah membawa nama Sasuke-kun." Ucap Sakura. Ia tidak mengerti kenapa Kakashi selalu menyebutkan nama Sasuke, yang dia yakin bahkan pria itu tidak tahu yang mana dan seperti apa Sasuke.
"Jadi, di mana kamarku Sakura?"
Sakura menunjuk sebuah pintu yang terletak tidak jauh dari mereka. Kakashi segera melangkahkan kakinya menuju pintu yang dimaksud Sakura.
"Ada apa?"
"Aku ingin tidur, rasanya kepalaku sedikit pusing."
Kakashi meneruskan langkahnya dan membuka pintu, kemudian berjalan menuju tempat tidur tanpa melihat sekelilingnya.
Sakura sendiri hanya melihat Sensei-nya itu berjalan menjauh dan membiarkannya istirahat. Gadis ini tahu kalau memang Kakashi terkadang masih merasa sedikit sakit di bagian kepalanya, walaupun tidak separah beberapa minggu yang lalu. Karena itu ia memutuskan untuk membiarkan Kakashi tidur sementara dirinya juga perlu mengerjakan beberapa laporan rumah sakit dan istirahat.
Kakashi mengerjapkan matanya beberapa kali sebelum menyesuaikan pengelihatannya di ruangan yang minim cahaya ini. Hanya seberkas cahaya yang tampak melalui sela-sela gorden yang menutupi jendela kamarnya. Ia tidak ingat sudah berapa lama dirinya tertidur hingga mentari ternyata sudah tidak menampakkan dirinya lagi.
Kakashi perlahan turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah pintu dan membukanya. Aroma masakan yang tercium membuat perutnya sedikit bergetar tanda ia lapar.
"Sensei sudah bangun? Aku memasak sedikit, meskipun tidak yakin apakah enak, setidaknya kita harus mengisi perut iyakan?" Ucap Sakura sambil menata meja makan ala kadarnya. Hanya ada nasi, sup miso dan telur gulung. Sungguh ala kadarnya.
Kakashi mengambil tempat duduk di hadapan Sakura sambil menurunkan maskernya.
"Ittadakimasu."
Kemudian menggerakkan sendoknya, mengambil kuah sup yang asapnya masih sedikit mengepul itu.
Kakashi mencoba masakannya!
Perlu di catatat Sakura adalah salah satu dari beberapa gadis atau wanita yang tidak begitu pandai memasak. Bukan tidak pandai dalam artian sangat buruk atau tidak bisa, terkadang gadis itu bisa membuat masakan yang enak ataupun sebaliknya. Dan sekarang ia gugup karena Kakashi sedang mencoba masakannya.
Ini adalah pertama kalinya ia memasak dalam kurun waktu yang cukup lama. Semenjak perang dunia berakhir Sakura menjadi lebih sibuk di rumah sakit, ia tidak sempat memikirkan untuk latihan memasak, kadang ia memasak sendiri dirumah dan memakan masakannya yang ala kadarnya, ia lebih sering sarapan atau makan siang bersama teman-temannya di rumah sakit, sementara untuk makan malam kadang gadis itu lebih memilih untuk tidak makan dengan alasan diet.
Kembali lagi dengan Kakashi.
Pria itu sudah menyeruput kuahnya. Kemudian mengedipkan matanya beberapa kali, sebelum kemudiam mengagguk kecil dan melanjutkan makannya.
"Enak?" Sakura bertanya karena belum sama sekali menyenyuh makanannya, sejujurnya ia bahkan ragu dan takut mencoba makanannya sendiri.
Kakashi hanya meliriknya kemudian mengambil telur gulung dan memasukkannya kedalam mulutnya dan mengambil sesuap nasi.
Melihat Kakashi yang tidak berekspresi sambil terus memasukkan makanan kedalam mulutnya Sakura akhirnya sedikit yakin kalau masakannya kali ini setidaknya bisa ditelan.
Ia mengambil kuah sup dan mencicipinya, kemudian menatap Kakashi.
"Hambar." Sementara yang ditatap hanya balas menatapnya dan melanjutkan makannya seolah-olah ia tidak terganggu dengan rasa hambar di sup miso nya.
Sakura kemudian mengambil telur gulung, baru sekali gigit, Sakura nyaris mengeluarkan telur itu kembali sebelum Kakashi menyuapkan nasi dengan cepat kedalam mulut Sakura.
"Makan dengan nasi."
Sakura mengunyah makanannya dengan kesal dan langsung meneguk air, ia hampir mati tersedak akibat ulah Kakashi. Berlebihan.
"Bagaimana bisa Sensei memakan telur itu!"
Kakashi kemudian kembali mengambil telur gulung yang asin itu, menaruhnya diatas nasi kemudian memakannya lalu mengambil sedikit kuah sup, ia menatap Sakura seolah berkata 'Begitu caranya.'
"Ah." Sakura akhirnya paham kenapa Kakashi makan dengan cara seperti itu secara berulang sejak tadi, untuk mengurangi atau menyeimbangi rasa asin dari telur itu. Sakura tersenyum simpul, hatinya terasa hangat mengingat Kakashi tidak protes terhadap masakannya, bahkan pria itu tetap memakannya sementara dirinya sendiri hampir memuntahkannya.
Sakura tiba-tiba mengingat ia pernah dimintai Naruto untuk membawakannya makanan ketika masih berada di rumah sakit setelah perang dunia ninja. Naruto memuntahkan makanan yang ia buat di hadapannya, dan berakhir dengan Naruto yang dihadiahi pukulan mentah yang mendarat di kepalanya.
Sakura terus memperhatikan Kakashi makan.
"Ada apa?"
Sakura akhirnya tersadar, kemudian menggeleng.
"Ini pertama kalinya aku melihat Sensei makan di hadapanku. Biasanya saat menjalankan misi Sensei jarang makan bersama kami, kalaupun makan bersama Sensei selalu menghabiskan makanan dengan kecepatan cahaya, padahal kami sangat ingin melihat wajah Sensei." Jawab Sakura sambil teringat masa lalu.
"Sekarang kau bisa melihatku sepuasnya, sepertinya kau yang menang." Ucap Kakashi kemudian beranjak dari meja membawa peralatan makannya ke wastafel.
"Biar aku yang cuci."
"Habiskan makananmu Sakura."
Setelah mencuci peralatan makannya Kakashi kembali masuk ke dalam kamar, ia menekan saklar lampu, dan memperhatikan ruangan yang didominasi warna putih dan gorden yang berwarna biru.
Di dalam kamar ini terdapat dua rak yang cukup besar, Kakashi melangkahkan kakinya dan melihat-lihat buku Sakura.
Seperti yang ia duga hampir semuanya buku tentang medis, kemudian ia berbalik menghadap sebuah meja baca yang terletak di seberang rak buku, dan berada tepat di sebelah tempat tidur. Ia mengambil sebuah bingkai foto yang terpajang rapi di atas meja tersebut.
Kemudian ia tersenyum lemah sambil mengusap foto itu. Salah satu hal penting yang ia lupakan. Sekarang Kakashi bertanya-tanya kenapa dua wajah yang berada di foto ini terlihat seperti tidak akur.
"Apa kalian terpaksa berfoto bersama?" Kakashi bertanya ketika merasakan kehadiran seseorang di sebelahnya. Sakura mengangguk.
"Mungkin seperti itu. Sensei sampai harus memegang kepala mereka agar mereka mau menghadap kamera."
Kakashi terkekeh dengan pelan. Ia melirik Sakura yang juga memperhatikan foto ditangannya. Tidak. Ia memperhatikan pria berambut raven itu.
Tatapan itu.
Rasanya perasaan Sakura benar-benar terpancar dari matanya.
Anak nakal dan gadis kecil di foto yang ia pegang ternyata sudah tumbuh dewasa.
- To Be Continued -
A/N: Saya heran pas lihat hasil up saya disini, kok beberapa kata yang seharusnya garis miring jadi lurus yak, padahal di wp miring
