Suara buku yang ditelakkan secara kasar di atas meja membuat seekor babi yang sedang tertidur digendongan Shizune bangun dengan kaget. Tonton.
"Ada apa Tsunade-sama?"
"Belum ada laporan dari anak itu?" Tsunade menyandarkan dirinya di kursi kebesarannya di kantor hokage.
"Sepertinya Sasuke-kun butuh waktu lebih. Ia berada sangat jauh dari desa."
"Haah. Ini membuatku kesal saja." Tsunade menatap malas tumpukan buku medis yang berada di hadapannya. Disela waktu luangnya, bukannya ia gunakan untuk menikmati sake kesukaannya, ia malah justru harus terjebak dengan hal merepotkan seperti ini.
Kakashi itu sesuatu yang aneh. Maksudnya kasus hilang ingatannya. Mereka selalu memeriksa Kakashi secara rutin selama hampir satu bulan ini, dan tampaknya isi kepala perak pria itu baik-baik saja.
Tsunade akhirnya menghela napas dengan resah.
"Bawakan aku sake!"
.
Di tempat lain, di tengah hutan, seorang pria dengan jubah hitamnya melangkah di tempat bekas pertempuran yang masih tersisa, dengan mata merah menyalanya, ia mengedarkan pandangannya dengan sebelah mata tertutup poninya yang mulai memanjang.
Setelah menerima perintah misi beberapa hari lalu melalui burung gagak desa, ia segera bergegas ke tempat yang dimaksudkan di gulungan yang ia terima. Ia sedang tidak berada di sekitar desa, ia berada di negara lain. Dan butuh waktu berhari-hari untuk sampai di tempat ini.
Bekas-bekas pertempuran masih tersisa, tapi ia tidak menemukan petunjuk yang tersisa dari orang-orang yang sudah menyerang sensei-nya. Ia bahkan mengaktifkan mata kirinya, menampilkan pola mata rinnegan dengan perpaduan tamoe sharingan. Kekuatan rikudou-nya.
Sasuke berjalan menjauh dari tempat tadi, sekitar tiga puluh menit dari tempat tadi pria itu menemukan perkampungan, tidak begitu ramai, hanya ada beberapa rumah yang di bangun dengan tenda.
Ia menatapnya lama dari jauh, tentu saja tidak menggunakan sharingan-nya.
Sasuke tersadar sampai sebuah bola bergulir di dekat kakinya. Ia mengambilnya kemudian berjalan mendekat ke arah tiga orang anak yang menatapnya sedikit ketakutan.
Sasuke menatap tajam anak-anak itu, walaupun tidak seserius sebelumnya, kemudian berjongkok menyerahkan bola tersebut kepada seorang anak.
"Dimana orang tua kalian?"
"Mereka sedang mencari makanan, mugkin di sungai."
"Sudah berapalama kalian tinggal di tempat ini?" Sasuke bertanya dengan serius seperti sedang mengintrogasi seorang anak kecil.
Tiba-tiba seseorang mengintruksi pembicaraannya dengan anak kecil ini. Wanita itu membawa keranjang berisikan ikan-ikan segar yang baru saja ia tangkap. "Siapa kau?"
"Shinobi Konoha."
Anak-anak yang tadi berbicara dengan Sasuke langsung lari bersembunyi dibalik wanita itu.
"Apa yang shinobi konoha lakukan di sini?"
"Kau tahu sesuatu tentang pertempuran yang tejadi belum lama ini disekitar sini?" Sasuke tidak menjawab pertanyaan wanita itu, dan malah berbalik bertanya.
"Aku tidak tahu, kami tinggal secara nomaden."
Sasuke menatap wanita itu tidak ada kebohongan dimatanya, dan lagi ia bisa memastikan kalau mereka bukanlah seorang shinobi.
"Sebenarnya, boleh aku menceritakan sesuatu?" Wanita itu bertanya kepada Sasuke dengan sedikit gugup.
...
Entah sudah berapa lama mereka bercerita dan entah bagaimana dirinya sekarang berada di antara beberapa orang yang yang mengelilingi api unggun sambil menyantap ikan bakar hasil tangkapan mereka.
Seorang pria yang Sasuke ketahui sebagai suami wanita tadi kembali berbicara. "Intinya mereka meneliti dan mencari tahu jurus-jurus rahasia suatu desa atau clan yang ada."
Tepat seperti yang diberitahukan di gulungan.
"Lalu?"
"Apa? Aku hanya tahu itu. Itu berdasarkan cerita-cerita yang aku dengar selama kami berpindah-pindah."
Sasuke hanya diam. Dari cerita yang ia dengar persis seperti yang di katakan Godaime, hanya saja ia tidak tahu kapan mereka akan muncul atau kemana mereka akan pergi selanjutnya.
Ia memutuskan akan tetap berada disekitar sini untuk beberapa waktu, mencari informasi lebih, sebelum akhirnya kembali ke desa.
.
"Tadaima."
"Okaeri." Sebuah jawaban dari dalam rumah membuat gadis musim semi itu senang.
Saat melangkah masuk ia melihat Kakashi duduk dengan tenang di sofa ruang tamu sambil membaca buku dengan menyilangkan kedua kakinya. Sakura berjalan melewati ruang tamu dan berbelok di dapur. Ia memasukkan barang belajaan yang sempat dia beli saat perjalanan pulang dari rumah sakit.
"Sensei kau ingin makan apa?" Sakura bertanya dengan sedikit keras dari arah dapur.
"Memangnya kau bisa memasaknya jika aku minta." Sakura tersenyum masam mendengar jawaban Kakashi. Ia tidak menjawab perkataannya, hanya berjalan menuju ruang tamu dan mendudukkan dirinya tepat di sebelah Kakashi.
"Kau sudah makan?" Kakashi bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.
"Sudah, bersama Ino." Sakura menjawabnya dengan pelan sambil menyandarkan kepalanya di kursi juga menutup matanya.
"Kalau begitu istirahatlah."
Kakashi membalikkan halaman bukunya beberapa kali tanpa melirik Sakura yang duduk diam di sebelahnya. Akhirnya ia mengalihkan pandangannya dari buku ketika merasakan kepala Sakura jatuh di bahunya.
Kakashi meletakkan bukunya dan menyingkap surai merah muda yang menghalangi wajah Sakura. Parasnya terlihat sangat kelelahan, apa yang ia lalui di rumah sakit hari ini?
Kakashi menyeka bulir keringat dipelipis Sakura. Ia menghabiskan hari-harinya hanya dengan gadis merah muda ini.
Seperti di penjara. Saat Kakashi di rumah sakit ia tidak pernah keluar hanya untuk sekedar mencari udara segar atau melihat pemandangan, dan sekarang saat ia sudah diperbolehkan keluar dia malah mendekam di rumah Sakura, sudah dua hari.
Kakashi hanya khawatir tidak bisa berbaur dengan orang-orang yang mungkin akan menyapanya di jalanan atau mengajaknya bicara, ia sendiri bahkan tidak tahu apakah orang-orang kenalannya tahu kalau saat ini dia sedang mengalami lupa ingatan. Sangat menggelikan mengingat seorang ninja elite seperti Kakashi mengalami amnesia.
Ia merasa sudah cukup berada di rumah dengan melihat wajah Sakura setiap harinya, menyapa gadis itu, menggodanya tentang Sasuke, atau mendengar cerita-cerita konyol tentang Naruto atau sesuatu yang ia alami di rumah sakit. Entah sejak kapan memandangi wajah Sakura dengan beragam ekspresinya sudah menjadi hobi baru Kakashi.
Ia suka bagaimana mata emerald itu memperhatikannya.
Ia suka ketika mata itu menyipit tersenyum bersamaan dengan bibir tipisnya.
Suka ketika bibir tipis itu mengkerut mendengar ejekannya.
Ah, jangan lupa ketika gadis musim semi itu tertawa ketika mendengar lelucon payahnya.
Sekarang dia berpikir apakah dirinya yang dulu memang seperti ini? Apakah dia suka memperhatikan gadis merah muda ini?
Atau mungkin hubungan mereka sebelumnya tidak lebih dari sekedar guru dan murid. Tidak lebih sebagai senior dan junior.
Apakah mereka sering bertemu untuk sekedar makan bersama seperti yang mereka lakukan belakangan ini?
Bisa jadi hanya seperti yang Sakura katakan. Dirinya selalu makan dengan cepat, atau lebih memilih makan sendiri dibandingkan bersama dengan gadis itu atau rekan tim lainnya.
Jadi, seperti apa Kakashi yang sebelumnya menganggap Sakura?
- To Be Continued -
A/N : Mau bilang sesuatu.
Gimana yah bilangnya, sebenarnya saya udah ada gambaran dan rencana fic-nya bakal2 gimana entar, tapi... Apakah bagus di perpanjang 'basa-basi' atau to the point yah?
Basa-basi yah maksudnya alurnya lambat dikit atau langsung *jeeeeng gini loh ceritanya, wkwkwk. Serius cara nulis saya biasa-biasa aja *sadar diri* udah lama gak nulis2 cerita huhuhu, sukaknya baca, iyalah.
Cuman mau bilang itu aja, kalo saya pendam sendiri kayak ada yang mengganjal, jadi tak sampaikan disini hahahaha.
Kalau ada kritik, saran boleh, sangat boleh, but no flame, okey!
