Tittle : Haunted House *CHAP 1*
Annoying Ghost Named Eren
Author: Jeruk Mandarin
Pair : Eren x Levi
Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll
Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU
Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.
Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk
-_- Eren bocah 7 tahun vs levi 35 tahun. Ini bukan pure romance aku lebih demen ke family. Tapi akhirnya romance jg karena aku suka couple Eren x Revaille :v
Semua kakrater mungkin OOC :v author mengalami masalah dalam mempertahankan eksistensi kekhas'an masing-masing karakter.
.
.
.
Levi—Pria single 35 tahun membeli rumah baru yang membawanya bertemu dengan Eren (7 Tahun) hantu penghuni rumah baru Levi. Bagaimana jadinya jika Levi yang tidak suka anak-anak harus serumah dengan hantu berisik dan menyebalkan seperti Eren?
.
.
.
Levi membuka matanya merasakan hawa hangat dari mentari pagi menembus melalui jendela mengenai wajahnya. Iris hitamnya mengerjap sesaat, ditatapnya langit-langit kamar tempatnya sekarang dengan heran. Otaknya kembali mencerna kejadian semalam dimana dia terkunci dikamar itu entah bagaimana bisa Levi tidak tau tapi yang jelas sekarang ini sudah pagi dan itu artinya dia harus berangkat kerja karena ini merupakan hari pertamanya mengajar di universitas baru. Tapi mengingat bahwa dia terkunci dikamar itu semalaman bagaimana sekarang dia akan keluar? Pikir Levi frustasi. Ia tidak mungkin menghubungi Hanji karena ponselnya saja ada dikamar dan dia tidak mungkin melompat dari jendela mengingat kamar ini berada di lantai dua. Tidak! Dia tidak mau menderita patah tulang atau semacamnya yang membuatnya harus di opname seminggu penuh di RS. Levi masih waras untuk melakukan tindakan nekat itu!
Menghela napas panjang, Levi beranjak bangun dari ranjang berdebu yang semalaman menjadi tempat berbaringnya. Ia sedikit meregangkan otot-ototnya yang kaku, terdengar suara seperti tulang yang bergeletuk ketika dia melakukan peregangan kecil. Semua bagian tubuhnya kini terasa pegal. Tidur ditempat yang tidak empuk memanglah tidak dianjurkan bagi orang berkepala tiga sepertinya. Itu tidak akan baik untuk tulangnya dan Levi harus meyakinkan diri untuk tidak pernah tidur disana lagi. Selamanya. Titik!
Levi menghembuskan napas berat. Pandanganya berkelana ke sekeliling kamar yang berdebu dan kotor. Semua barang disana penuh debu dan sudah usang. Levi akan mengingat untuk memberishkan kamar itu ketika dia punya waktu senggang. Kembali berpikir tentang masalahnya sekarang Levi berjalan terseok menghampiri pintu kamar yang semalam seingatnya terkunci. Dia hanya termenung didepan pintu beberapa saat seperti menimbang dan ragu. Merasa jengah dengan keraguanya Levi akhirnya memutuskan untuk meraih gagang pintu dan memutarnya cepat. Terdengar bunyi ceklek ketika gagang itu diputar. Kening Levi mengernyit heran mendapati pintu bisa dibuka. Ia bahkan menemukan kunci yang semalam masih menggantung begitu saja dipintu. Bagaimana bisa? Mungkinkah…
'Dia dikerjai!' Pikir Levi dongkol. Pasti ada seseorang dirumah ini selain dirinya dan mempermainkanya.
Sialan! Pikir Levi murka. Ia berjalan lebar untuk mencari orang yang mungkin sedang bersembunyi dirumahnya dan mengerjainya semalam. Tapi beberapa saat dia berkeliling kesana kemari kesekeliling rumah tak ada tanda-tanda ada orang selain dirinya disana. Semuanya normal seperti seharusnya. Lalu sebenarnya apa yang membuatnya terkunci semalam dirungan itu? Apa mungkin hantu? Levi mengedarkan pandanganya kesekitar dengan pendangan waspada. Mustahil! Levi menggeleng dengan pikiran konyolnya.
Tepat ketika itu terdengar bunyi bell pintu dari depan dan teriakan cempeng yang sangat dihafal oleh Levi.
"Levi! Levi…!" Teriak Hanji menggedor pintu.
.
.
.
"Kenapa kau lama sekali?" Gerutu Hanji sebal ketika melihat Levi baru keluar dari rumah 10 menit kemudian setelah drama lebaynya menggedor pintu dengan keras.
"Hm." Balas Levi pendek seraya mengunci pintu rumahnya. Setelah selesai ia menyimpan kunci itu lagi disaku celananya. Ia kemudian berputar pada Hanji yang sedang duduk dibalkon beranda dengan menggembungkan kedua pipinya—ngambek.
Levi menghembuskan napas dalam.
"Maaf, ada sedikit masalah." Ujar Levi kalem membuat Hanji langsung mengernyitkan kening.
"Masalah apa?" Tanya wanita nyentrik berkacamata itu penasaran.
"Hanya masalah kecil. " Jawab Levi pendek seraya mulai melangkah ke mobil Hanji diparkir.
"Masalah apa Levi ceritakan!" Rajuk Hanji mengekori pria berambut ebony itu kemobilnya.
Kemudian terdengar sayup-sayup teriakan Hanji yang meminta penjelasan dari Levi tapi pria itu mengacuhkanya. Kedua orang itu tampaknya tak menyadari ada sosok bocah bermata hijau dengan rambut coklat mengamati mereka sejak tadi dari jendela kamar lantai 2.
.
.
.
"Kau akan turun?" Tanya Hanji ketika mobilnya menepi didepan halaman sebuah bangunan besar sebuah universitas ternama dijepang. Ditempat itulah Levi nantinya akan mengajar sebagai dosen dan ini merupakan hari pertamanya bekerja disana.
"Hm—" gumam Levi sebagai sahutan. Pria ebony yan sejak tadi sibuk dengan ponselnya untuk mengecek jadwalnya hari itupun mendongak. Menatap keluar jendela dan benar saja—mereka ternyata sudah sampai dan Levi tidak memperhatikan sejak tadi.
Levi melepas beltnya, tak lupa ia meraih tasnya di jok belakang kemudian membuka pintu mobil tapi suara hanji membuatnya berpaling lagi.
"Perlu aku jemput?" Tanya Hanji yang dijawab gelengan kepala oleh Levi.
"Aku akan pulang naik bus saja." Jawabnya.
Hanji hanya mengangguk membiarkan Levi keluar dari mobilnya. Wanita nyentrik berkacamata itu hendak menyetater mobilnya tapi seketika dia malah teringat sesuatu. Dibukanya jendela mobil, matanya mengedar dan menemukan Levi belum terlalu jauh dari mobilnya.
"Levi!" Teriak Hanji keras membuat sang pemilik nama yang dipanggil berbalik. Beberapa pasang mata disekitar tempat itu juga ikut melihat pada Hanji dengan tatapan ingin tahu.
"Hati hati! dan Fighting!" Seru Hanji seraya tergelak. Ia kemudian segera tancap gas sebelum Levi benar-benar membunuhnya kali ini.
Selepas mobil Hanji yang terlihat sudah keluar dari halaman kampus Levi menghela napas berat. Cobaanya berat sekali rupanya mempunyai teman singting seperti Hanji—pikirnya merana.
Levi menggeleng mengusir pikiran buruk barusan. Walau bagaimanapun Hanji adalah orang terdekatnya jadi tak seharusnya dia berpikir bahwa hanji adalah sebuah cobaan. Levi tampaknya terlalu sibuk dengan pikiranya sendiri sampai dia tak fokus pada jalan didepanya. Ia jadi tanpa sengaja menabrak seorang gadis berambut kuning menyala yang kebetulan berdiri ditengah jalan menyebabkan map yang dipegang oleh gadis berambut kuning menyala itu terjatuh.
"Maaf aku tidak melihatmu." Ujar Levi seraya memungut map itu untuk dia serahkan pada sang pemilik.
Gadis berambut kuning menyala itu tersenyum menerima map miliknya.
"Tidak apa-apa sir." Balasnya dengan senyum manis.
"Hm—" Balas Levi pendek.
Gadis berambut kuning menyala itu masih terus tersenyum. Tetapi senyumanya seketika luntur ketika menatap pada Levi? Kenapa denganya? pikir Levi heran.
"Tampaknya ada yang mengikuti anda sir."
Kerutan didahi Levi makin tebal. Ia celingkukan kekiri dan kanan tapi tak ada orang lain dilobby selain dirinya dan gadis berambut kuning menyala itu. Levi kemudian berbalik tapi tak ada seorangpun dibelakangnya.
Tingkah Levi yang demikian mungkin terlihat lucu dimata gadis berambut kuning menyala itu karena gadis itu kemudian malah terkikik membuat Levi menyadari bahwa dia sedang dipermainkan.
"Kau mengerjaiku." Kata Levi dingin.
Merasakan aura hitam dari Levi—gadis berambut kuning menyala itupun berdeham untuk menghentikan paksa tawanya. Ia menunduk dalam terlihat sangat menyesal dnegan tindakanya.
"Maaf sir saya tidak bermaksud kurang ajar. Hanya ingin memberitahu anda saja."
"Ya." Balas Levi dengan nada amat datar. Dia sebenarnya masih cukup dongkol dengan ulah usil gadis berambut kuning menyala itu yang mengerjainya. Beraninya dia—pikir levi geram.
"Ngomong-ngomong anda pasti sir Levi kan? Dosen jurusan hukum yang baru?" Kata gadis berambut kuning menyala itu sedikit mendongak.
"Hm—" Gumam Levi membenarkan.
Gadis berambut kuning itu lagi-lagi tersenyum, "Nama saya Petra sir. Sir Erwin meminta saya untuk menjadi asissten anda mulai sekarang. Mari saya antarkan ke ruangan anda."
Kening Levi mengernyit mendengarnya.
"Aku tidak butuh asisten."
Petra yang baru saja hendak melangkah seketika berbalik, wajahnya masih berhiaskan senyum.
"Jika anda keberatan silakan bicara langsung dengan sir Erwin karena beliau yang memerintahkan saya. Saya hanya mejalankan tugas darinya."
Kali ini Levi tak membantah. Dia hanya berjalan mengekori Perta sambil sesekali menengok kebelakang memastikan tak ada seorangpun yang tengah mengikutinya seperti yang Perta katakan.
.
.
.
Hari pertama Levi mengajar terasa tak ada bedanya dengan hari-hari dimana dia mengajar di universitasnya yang lama. Ia memang orang yang tak suka basa-basi terlalu lama jadi ketika dia telah selesai memperkenalkan diri sebagai dosen baru ia langsung memulai pembelajaranya di dalam kelas. Ada sekitar 20 mahasiswa yang mengikuti kelasnya pagi ini, cukup sedikit memang karena mata kuliah Levi bukanlah mata kuliah umum jadi hanya mahasiswa jurusanya yang bisa ikut #apa deh ini narasi Lol
"Silakan pelajari halaman 35. Diskusikan dengan temanmu lalu buat laporanya untuk diserahkan pada saya minggu depan. " Ujar Levi memenuhi ruangan. Kelaspun yang semula tenang mulai terdengar keributan ketika para mahasiswa akhirnya pindah duduk untuk mencari teman sekelompok.
Selagi para mahasiswanya ribut, Levi memilih menghempaskan dirinya pada kursinya seraya membuka kembali buku agendanya. Ia meneliti buku agendanya—setelah ini masih ada satu kelas lagi yang harus dia isi tapi—
Levi menoleh kesekitar, tiba-tiba ia merasa ada seseorang yang sepertinya sedang memperhatikanya sejak tadi. Ia mengedarkan matanya keseluruh penjuru kelas dan mengernyit menemukan seorang gadis bersurai hijam pendek dengan syal merah disayap kiri tengah melotot padanya sejak tadi. Apa-apaan dia? pikir Levi heran.
Merasa penasaran dengan tingkah tak wajar itu, Levi beranjak dari kursinya untuk menghampiri meja gadis dengan syal merah marun itu.
"Apa ada yang ingin kau katakana padaku nona?" Tanya Levi.
Gadis dengan syal merah itu tersentak—terlihat baru menyadari bahwa Levi sudah ada dihadapanya. Gadis itu sedikit mendongak untuk menatap pada wajah Levi yang tanpa ekspresi.
Mulutnya terbuka tapi kemudian gadis bersyal merah itu malah menggeleng pelan.
"Tidak ada sir."
Kening Levi mengernyit terlihat makin heran. Tapi ia terlihat tak mau mempermasalahkanya karena Levi hanya mendengus kemudian melangkah menuju deretan belakang untuk melihat apa yang mahasiswa lain sedang lakukan.
.
.
.
Di waktu sepertiga malam sama seperti kemarin Levi terbangun lagi ketika telinganya mendengar suara benda-benda berjatuhan dan suara anak menangis dari lantai atas. Levi mencoba mengabaikan suara-suara itu, ia kembali memejamkan matanya membungkus dirinya sendiri dengan selimutnya yang hangat tapi suara tangisan dan benda jatuh itu malah semakin keras saja terdengar membuat kesabaran Levi lama-lama habis. Disibaknya selimut dengan kasar, kemudian ia melangkah lebar menuju lantai atas tempat suara berisik itu berasal. Levi menekan saklar lampu didekat tangga dan lampu diatas seketika menyala. Suara benda berjatuhan dan tangis anak kecil itu masih terdengar. Levi mengikuti asal suara itu dan berhenti didepan pintu berwarna hijau zamrud yang merupakan tempat dia terkunci kemarin malam.
"Ya hei! Bisa tenang sedikit tidak?!" Teriak Levi menggedor pintu hijau itu dengan keras. Suara benda jatuh dan tangisan anak kecil seketika berhenti membuat suasana menjadi kembali hening. Levi mendengus, menyeringai tipis penuh kepuasan kemudian ia hendak berbalik untuk kembali lagi kekamarnya tapi sesuatu menarik lengan piamanya mencegahnya agar tidak pergi. Levi berbalik untuk melihat apa yang menahanya. Tapi tak ada siapapun, ia kemudian menunduk dan seketika menyernyit heran mendapati sesosok anak dengan rambut coklat dan mata hijau tengah menarik lengan piamanya.
"Ya hei bocah! Apa yang sedang kau lakukan huh?" Tanya Levi terdengar dingin. Dia memang tidak pernah ramah dengan mahluk menjengkelkan bernama anak-anak.
"S-sir jangan pergi." Ujar bocah bermata hijau itu terbata. Bocah itu terlihat tengah ketakutan, tubuhnya bergetar dan disudut matanya sedikit basah.
Levi mendengus terlihat tak sedikitpun peduli atau kasihan pada bocah bermata hijau itu, "Lepaskan." Desis Levi tajam tapi bocah bermata hijau itu menggeleng pelan menolak perintah Levi dan malah menggenggam lengan piama Levi makin erat dengan jari-jari mungilnya.
"Ya hei bocah! Aku bilang lepaskan kau dengar tidak?" Teriak Levi keras seraya menarik kasar lengan piamanya membuat dirinya bebas dari tangan mungil yang sejak tadi menahanya.
Bocah bermata hijau itu terlihat makin bergetar kepala coklatnya menunduk dalam, bola mata hijau zamrudnya terlihat mulai berkaca-kaca siap menangis dan Levi sungguh benci melihat pemandangan menjijikan seperti itu.
"Ya hei bocah." Panggilnya membuat bocah bermata hijau itu mendongak padanya dengan wajah penuh tanda tanya.
"Apa yang kau lakukan dirumaku?" Tanya Levi heran. Itu merupakan pertanyaan pertama yang mengganggunya sejak tadi.
Bocah bermata hijau itu tak menjawab dan hanya berkedip-kedip polos untuk beberapa saat, "Ini rumah Eren."
Levi mengernyit, "Eren?"
Bocah bermata hijau itu mengangguk, menunjuk dirinya sendiri dengan jari mungilnya, "Eren."
"Oh jadi namamu Eren." Sahut Levi acuh ia terlihat sama sekali tidak tertarik dengan obrolan dengan bocah aneh ini ditengah malam. Sekarang dia mulai mengantuk lagi jadi gangguan ini harus segera dibereskan.
Levi menghela napas, "Dengar Eren. Ini bukan rumahmu lagi. Ini rumahku jadi sekarang keluar dari rumah ini."
Eren—bocah bermata hijau itu menatap Levi dengan takut-takut, bibirnya ia gigit kuat.
"Ti-dak mau." Cicitnya pelan tapi mampu didengar oleh Levi.
"Kau…" Levi menunjuk bocah bermata hijau itu dengan jarinya. Seketika ia teringat tentang peristiwa dimana dia terkunci didalam kamar kemarin malam.
"Kau yang kemarin mengerjaiku!" Tuduh Levi dengan aura hitamnya yang kental. Ia terlihat seperti hendak menguliti eren detik itu juga.
Sang bocah mungil menggeleng dengan ketakutan, ia mundur perlahan ketika Levi maju untuk menjewer telinganya. Levi hampir meraih Eren tapi dalam satu kedipan mata berikutnya bocah itu tiba-tiba menghilang dari pandangan. Kemana dia? Levi terlihat kebingungan. Ia menatap kesekitar dan heran menemukan Eren sudah ada di ujung lorong yang berjarak cukup jauh darinya. Bagaimana mungkin? batin Levi bingung.
"Kau, kenapa tiba-tiba disana?"
Eren tak menjawab dan hanya menatap Levi dengan bola mata hijaunya yang bergetar ketakutan dari jauh.
"Kau baru saja berteleport?" Tanya Levi lagi.
"Teleport itu apa sir? Apa itu semacam alat komunikasi?" Tanya Eren dengan polosnya.
Levi menghela napas, "Kenapa kau tiba-tiba bisa berpindah tempat?"
Eren terlihat berpikir sejenak. Tiba-tiba bocah itu menghilang lagi dan muncul didepan Levi dalam satu detik berikutnya membuat pria 35 tahun itu hampir merasakan serangan jantung mendadak akibat tindakan tiba-tiba itu.
"Maksud sir seperti itu?"
Levi mengangguk, wajahnya masih datar tapi sebenarnya dia sedang berusaha menormalkan detakan jantungnya yang menggila.
"Bukankah itu hal yang biasa?"
Kening Levi mengernyit sedikit. Bola matanya meneliti pada bocah bermata hijau itu dan ia cukup terkejut mendapati fakta bahwa Eren ternyata tidak menapak tanah. Bocah itu mengambang di udara.
"Kau hantu?"
Eren menggeleng, "Eren bukan hantu."
"Kau hantu."Komentar Levi lagi menyimpulkan.
"Eren bukan hantu!" Teriak Eren melengking. Bocah itu sekarang terlihat semakin menggemaskan dengan pipinya yang menggembung.
"Ya terserah saja." Balas Levi terdengar tak peduli.
Pria bersurai ebony itu kemudian berbalik hendak kembali ke kamarnya untuk tidur tapi Eren tiba-tiba muncul dihadapanya—menghalangi jalanya.
"Minggir." Desis Levi terdengar jengkel. Tapi Eren si bocah bermata hijau tampaknya tidak mudah ditaklukan hanya dengan kata-kata pedas dan aura membunuh saja karena bocah itu malah menggeleng—dengan gamblang menolak perintah Levi.
Levi merasa makin jengkel, tapi ia berusaha bersabar menghadapi mahluk menyebalkan didepanya.
"Apa yang kau mau dariku bocah?" Tanya Levi kalem.
"Temani aku tidur dikamarku sir." Pinta Eren dengan wajah memelas.
"Apa?" Tanya Levi seolah-olah dia salah dengar.
"Temani Eren tidur dikamar, Eren takut." Gumam Eren lirih.
Levi mendengus, melipat tanganya angkuh. Bola mata hitam pekatnya menatap Eren mengejek.
"Apa kau sedang mempermainkanku bocah?" Tanyanya dengan aura membunuh yang kental. Dia bahkan terlihat lebih menyeramkan dari hantu manapun yang ada didunia.
Eren menggeleng penuh kepolosan. "Eren takut tidur sendirian. Eren takut hantu."
Levi seketika berdecak, menatap pada bocah dihadapanya dengan jengkel, "Kau ini bodoh ya?"
"Maksud sir?" Tanya Eren dengan memiringkan kepalanya membuat pose yang benar-benar lucu dan imut sampai membuat author gemas.
Levi mendengus, "Kau itu hantu bocah. Kenapa takut pada hal-hal seperti itu?"
"Aku bukan hantu sir." Balas Eren tidak terima tapi Levi terlihat tidak peduli.
"Terserah." Ujarnya kemudian berjalan menembus Eren begitu saja. Ia berjalan sangat cepat menuruni tangga diikuti Eren yang melayang-layang mengikutinya.
"Sir mau kemana?"
"Tidur." Jawab Levi pendek. Ia kemudian membuka pintu kamarnya kemudian membantingnya begitu saja tepat didepan hidung Eren.
.
.
.
Levi yakin dia baru tertidur beberapa detik saja ketika telinganya menangkap suara gaduh dilantai atas. Pria 35 tahun itu mencoba mengabaiknya dengan menutup telinganya dengan bantal berharap dapat sedikit meredam kebisingan dari lantai atas tapi sama saja. Suara berisik itu tak kunjung reda bahkan berputar-putar dalam kepala Levi membuatnya merasa sangat kesal. Ia melompat lagi dari tempat tidurnya untuk melangkah lebar menuju lantai atas tepatnya menuju pintu hijau.
"Ya Hei bocah buka pintunya!" Teriak Levi menggedor pintu dengan tak sabaran.
Pintu berwarna hijau itu berderit terbuka menampakkan pemandangan kamar yang remang-remang dengan hanya cahaya sinar bulan yang menembus melalui jendela menerangi kamar tersebut. Levi mengedarkan matanya kesekeliling kamar tapi tak didapatinya siapapun disana. Diapun melipat tanganya angkuh seraya mendengus.
"Bocah?"
"…."
"Bocah dimana kau?"
"….."
Levi mendengus lagi, "Eren?"
Poffff
Sesosok bocah bermata hijau dengan rambut coklat tiba-tiba sudah ada didepan Levi.
"Berhenti membuat kegaduhan. Kau mengerti?" Tanya Levi terdengar jengkel yang langsung dijawab dengan gelengan kepala pelan dari Eren.
"Eren takut sir." Cicit Eren lirih. Bocah itu menunduk dalam dengan memainkan jari-jarinya terlihat seperti sesosok anak yang begitu malang.
"Kau—" Tunjuk Levi dengan jarinya pada tubuh kecil Eren. Kemarahan sekarang berkumpul didalam diri Levi dan dia merasa akan meledak. Bocah bernama Eren ini tidak akan selamat!
"Kau—" Walaupun semua kemarahan berkumpul dalam dirinya dan Levi merasa dia akan meledak tapi pada kenyataanya dia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Seperti semua kata-katanya tersangkut di tenggorokan dan tertelan lagi. Levi berpikir dia pasti sudah gila.
Pria berambut ebony itu menghela napas berat. Ditatapnya Eren dengan pandangan yang mulai melunak.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan dariku bocah?"
Eren tak mejawabnya dengan kata-kata. Bocah mungil itu hanya berpaling pada tempt tidurnya yang berdebu dan usang.
'Benar-benar bocah sialan!' Maki Levi dongkol. Dia melangkah lebar menghampiri tempat tidur itu kemudian membaringkan tubuhnya disana dan memejamkan mata. Eren yang melihatnya sempat melebarkan matanya, bocah itu melayang kesamping tempat tidur Levi membuat yang lebih tua merasakan kehadiranya kemudian membuka kelopak matanya lagi. Ditatapnya bola mata hijau zamrud itu dengan alis yang menukik tajam.
"Jangan ganggu aku. Aku mau tidur." Desis Levi kemudian memejamkan matanya lagi.
Eren terlihat kecewa mendengar ucpan Levi. Bocah itu kemudian melayang menuju jendela dimana tampak bulan bersinar terang dengan bintang disekelilingnya.
Eren bertopang dagu seraya menghela napas, bocah mungil itu menoleh lagi pada sosok Levi yang memungginginya. Seulas senyum manis mengembang bibir Eren.
'Eren tidak sendirian lagi.' Pikirnya dengan senyum.
.
.
.
TBC
