Tittle : Haunted House *CHAP 2*
A Dream
Author: Jeruk Mandarin
Pair : Eren x Levi
Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll
Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU
Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.
Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk
*-* Chap 2 dateng. Btw chap depan Levi bakalan nyoba ngusir Eren.
.
.
.
Levi—Pria single 35 tahun membeli rumah baru yang membawanya bertemu dengan Eren (7 Tahun) hantu penghuni rumah baru Levi. Bagaimana jadinya jika Levi yang tidak suka anak-anak harus serumah dengan hantu berisik dan menyebalkan seperti Eren?
.
.
.
Itu merupakan kali kedua Levi terbangun dari tidur bukan karena bunyi jam weker tetapi karena hawa hangat mentari pagi yang menyentuh wajahnya. Pria 35 tahun itu mengerang malas ditempat tidur, ia berguling kesamping seraya menarik selimutnya sampai ke dagu dengan mata masih terpejam erat. Baru beberapa detik ia dalam posisi seperti itu gumpalan debu yang entah dari mana datangnya terhidup olehnya membuat Levi mendadak bersin hebat dan seketika terbangun sepenuhnya. Ia mengerang kesal, menggosok hidungnya yang luar biasa gatal dengan tengan. Apa-apaan ini? Seingatnya dia selalu memastikan membersihkan debu yang menempel disetiap sudut rumahnya jadi bagaimana mungkin dia bersin? pikir Levi setengah jengkel.
Pelan-pelan ia membuka matanya lebar. Mengerjap beberapa kali sampai semuanya jelas. Keningnya seketika mengernyit heran mendapati pemandangan ruangan yang tak asing lagi dimatanya. Seketika ingatan semalam berputar dibenaknya dimana dia bertemu dengan bocah hantu aneh bernama Eren.
Eren? Alis levi mengernyit mengingat nama itu.
Ia beranjak bangun dari tempat tidur. Bola mata hitam pekatnya mengedar keseluruh penjuru ruangan yang berdebu, dan kotor. Semua barang disana sudah lusuh dan tak terawat.
"Bocah?" Suara Levi memecah kesunyian yang ada.
"…."
"Bocah dimana kau?" Teriak Levi kali ini lebih keras. Mungkin suaranya sudah sampai bawah.
Beberapa detik menunggu tetap tak ada sahutan yang datang.
"Eren!" Teriaknya lagi tapi beberapa saat kemudian tetap saja tak ada seorangpun yang menyahutinya.
Levi tampak hanya diam mematung disamping tempat tidur untuk beberapa saat Surai ebonynya kemudian menggeleng dengan seulas senyuman miring terlukis dibibirnya.
'Aku pasti sudah gila' pikirnya kemudian berjalan menuju pintu seraya membantingnya kuat.
Brak!
Pintu hijau ruangan itu berdebam keras kemudian dengan dorongan gaya kembali tertutup rapat dengan sendirinya. Ruangan itu kembali sunyi senyap dengan hanya sesosok tak kasat mata tampak melayang didekat tempat tidur. Sosok itu—Eren menatap pintu hijau yang tertutup itu dengan pandangan sendu.
"Dia tidak bisa melihatku." Gumamnya seraya menatap pada tanganya sendiri yang transparan.
.
.
.
"Kau lama sekali."
"Hm." Gumam Levi sebagai sahutan. Ia mengunci pintu rumahnya kemudian memasukkan kembali kunci itu kedalam tasnya. Ia menoleh pada Hanji dan hanya bisa menghela napas melihat wajah temanya yang sedang ditekuk persis seperti kemarin.
Levi menghela napas lelah, "Maaf ada sedikit masalah." Ujarnya datar.
Hanji—salah satu orang yang paling ingin tahu segalanya tentang Levipun seketika matanya berbinar-binar.
"Masalah apa Levi? Ceritakan! Ceritakan! Ceritakan padaku!" Jeritnya heboh.
Levi mengabaikan kegilaan temanya itu dan memilih untuk menghampiri mobil Hanji yang terparkir dibawah pohon didepan rumahnya.
"Ayo!" Teriaknya ketika tak melihat Hanji mengikutinya. Wanita berkacamata nyentirik itu hanya mendengus, melipat tanganya dengan angkuh diberanda seolah-olah tidak mendengar seruan Levi padanya.
Hanji ngambek rupanya.
Levi melihat pada jam tanganya sendiri dan mendapati itu hampir jam 8. Dia ada kelas pagi hari ini dan itu akan berlangsung 10 menit lagi. Levi menghela napas lelah.
"Hanji!" Teriaknya dengan setengah jengkel. Tapi Hanji malah bersikap seolah-olah tidak mendengarnya. Temaanya itu malah bersikap seolah-olah tengah mengamati kukunya yang indah padhal Levi tau bahwa temanya itu sangat jarang pergi ke salon.
Levi merasa geram tapi dia tidak mungkin melampiaskanya pada Hanji jadi yang dapat dia lakukan hanyalah menghela napas berat dan mungkin opsi terakhir adalah mengalah saja.
"Akan aku ceritakan dimobil jadi sekarang cepatlah!" Ujar Levi setengah berteriak mengingat jark mereka yang cukup jauh. Mendengar ucapan Levi Hanji langsung menyeringai lebar. Wanita nyentrik itu melompat riang menuju mobilnya dimana Levi tengah membuka pintu mobil.
.
.
.
Levi melepas beltnya ketika mobil hanji menepi dihalaman universitas. Ia hendak beranjak turun tapi hanji menarik lenganya kuat.
"Kau bohong." Gerutu Hanji dengan bibir manyun.
Levi memutar bola matanya jengah mencoba melepaskan tanganya tapi kekuatan Hanji tampaknya tak bisa dispelekan.
"Aku sudah mengatakan alasanya padamu kan? Sekarang lepaskan." Ujar Levi dengan tatapan tajam yang manusuk tapi Hanji tampaknya sama sekali tak takut karena wanita nyentrik itu malah menggeleng. Tanganya makin erat mencengkram pergelangan tangan Levi.
"Alasan macam apa itu? Kau selalu telat bangun pagi karena tikus dirumahmu banyak dan kau tidak bisa tidur semalaman jadi kau telat? Itu sungguh alasan yang tidak masuk akal Levi."
Levi memutar bola matanya jengah. Ia tau bahwa akan sulit untuk membodohi Hanji tapi mengatakan kebenaran padanya juga tak mungkin, "Terserah kau mau percaya atau tidak."
Hanji terlihat tak puas tapi ia tak berkomentar apa-apa lagi dan memilih melepaskan lengan levi begitu saja. Levi berdecak mendapati pergelangan tanganya yang merah.
"Aku pergi." Ujarnya.
Levi hendak membuka pintu mobil tapi suara Hanji membuatnya harus menoleh lagi pada temanya itu.
"Levi?"
"Hm?"
Hanji menghela napas, pandanganya penuh sesal menatap Levi, "Maaf aku tidak bermaksud kasar."
"Hm.." Dengung Levi sebagai sahutan. Pria yang selalu datar itu tak bereaksi banyak membuat Hanji terlihat gugup.
Hanji membuka mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu yang penting. Tapi tampaknya ia tak bisa karena wanita itu malah menggeleng kemudian terdengar seolah tengah merubah topik. "Apa perlu aku panggilkan pengusir hama untukmu?"
Levi sebenarnya mengamati kejanggalan dari sikap temanya itu pagi ini. Tapi Levi tak ingin berkomentar jadi ia hanya menggeleng.
"Tidak perlu Hanji. Aku akan mengurusnya sendiri." Ujar Levi yang disambut anggukan Hanji.
"Oke~ Kalau begitu. "
"Hm.." Setelah memastikan bahwa perbincangan mereka benar-benar selesai Levi lantas membuka pintu mobil tanpa menyadari Hanji yang menatapnya dengan wajah setengah berpikir.
Blam.
Levi menutup pintu mobil meninggalkan Hanji yang kemudian mengacak rambutnya sendiri seperti orang gila.
"Aiiisssshhhh aku tidak bisa memberitahunya!" Jeritnya gemas. Hanji menutup wajahnya dengan tangan, pandanganya jatuh pada secarik kertas yang menyembul dari tas kerjanya.
"Bagaimana aku membritahunya?" Gumamnya bermonolog ria.
.
.
.
Pukul 5 sore semua kelas Levi berakhir hari itu. Ia mengucapkan salam kepada seluruh mahasiswanya kemudian Levi berjalan cepat keluar kelas. Pria 35 tahun itu berjalan cepat menyusuri lorong panjang dan sepi menuju ke kantornya.
"Tap."
Levi mendengar suara langkah dibelakangnya. Ia menoleh kebelakang tapi tak didapati siapapun disana. Kening Levi mengernyit heran. Levi kemudian melanjutkan langkahnya lagi tapi entah kenapa kali ini ia merasa sedang diawasi.
Levi mendengus, ia sebenarnya sangat tidak suka diikuti oleh siapapun apalagi penguntit.
"Keluarlah." Ujar Levi lantang seraya menghentikan langkahnya tiba-tiba.
Sosok yang sejak tadi bersembunyi dibalik tiang terlihat keluar malu-malu dari tempat persembunyianya.
'Dia lagi'—Pikir Levi jengah mendapati seorang gadis dengan syal merah marun berdiri beberapa meter darinya.
"Kenapa kau mengikutiku?" Tanya Levi dengan suaranya yang dijaga agar tidak terdengar marah. Ia sebenarnya luar biasa kesal tapi ia tentu tak mau citranya buruk didepan mahasiswa bimbinganya jadi Levi terpaksa harus memakai topeng.
"Anoo—" Gadis bersyal merah itu terlihat ragu-ragu.
"Katakan saja." Kata Levi kalem.
"Bolehkah saya bertanya sir?"
"Hm?"
"Apa anda akan menjawab pertanyaan saya?"
Levi mengernyit, tapi tak ayal dia mengangguk juga. "Ya."
"Boleh saya tau nama keluarga anda?"
Kening Levi menukik tajam. Terlihat tak menyukai pertanyaan itu.
"Kenapa kau bertanya nama keluargaku?" Tanya Levi dengan nada dingin.
"Karena saya ingin tahu."
Levi hanya diam untuk beberapa saat. "Aku tidak bisa menjawabanya."
"Anda bilang akan menjawabnya."
"Nama itu sudah lama aku buang jadi jangan tanyakan lagi."
Gadis bersyal merah itu lantas hanya tersenyum tipis.
"Itu jawaban anda sir." Ujarnya kemudian membungkuk. Levi hanya diam memperhatikan punggung gadis yang menjauh itu dalam dia. Dia merasa pernah melihat siluet yang mirip seperti itu. Tapi Levi tidak tau harus menyamakanya dengan siapa. Itu mungkin sudah lama sekali dan Levi tidak ingat.
.
.
.
Levi tengah tertidur pulas ketika malam itu ia terbangun secara tiba-tiba karena kegaduhan dari lantas atas. Levi menghela napas lelah, ditariknya selimut tebalnya sampai kepala. Dalam kegelapan selimut miliknya Levi menghela napas seraya mencoba memejamkan matanya erat lagi dengan pikiran yang berkelana antara ingin menghajar eren karena ulahnya atau membiarkanya saja. Levi sebenarnya sangat ingin beranjak dari tempat tidurnya untuk memberi pelajaran pada bocah berisik itu, tapi entah mengapa tubuhnya terasa berat untuk berpisah dengan tempat tidurnya yang hangat dan empuk. Ia tentu masih tidak lupa kejadian-kejadian kemarin malam dimana dia meninggalkan suraganya ini dan keluar kama lalu dipagi hari ia menemukan dirinya terbangun dikamar usang dan penuh debu milik Eren dan Levi sama sekali tidak mau! Biarlah kali ini Eren membuat keributan sampai terdengar oleh tetangga sebelah rumah, kali ini Levi benar-benar tidak akan peduli.
Levi mulai berpikir bahwa bocah itu akan merasa senang jika Levi terus memperhatikanya jadi alternatif terbaik adalah mengabaiknya saja sampai bocah itu lelah kemudian tidak mengganggu Levi lagi.
Sekitar 15 menit berlalu dengan Levi yang berhasil mencegah dirinya melompat dari temapt tidur dan menghajar Eren, suara-suara dari atas mendadak berhenti begitu saja, mmbawa suasana rumah kembali ke kesunyian. Levi menghela napas lega. Ia kemudian berguling kearah sebaliknya, menarik selimutnya sampai dagu kemudian perlahan-lahan kelopak mata Levi yang sejak tadi berat terpejam erat membawa sang pemilik kealam mimpi.
.
.
.
"Sir…"
"Sir…"
Kening Levi mengernyit mendengar suara itu terus memanggilnya. Merasa terganggu Levi membuka sedikit kelopak matanya. Pandanganya buram tetapi ia masih bisa melihat wajah ketakutan Eren didekat tempat tidurnya.
"Sirr…" Gumam Eren dengan bola mata yang berkaca-kaca menatap Levi.
Sang pria yang lebih tua tampaknya tidak sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ia seperti masih setengah tidur karena Levi hanya bergumam tak jelas sebagai sahutan.
"Hm…" Dengung Levi sebagai sahutan. Kelopak matanya yang berat hendak kembali terpejam tapi suara Eren lagi-lagi membuat kelopak matanya terbuka sedikit.
"Sir… temani Eren dikamar sir. Eren takut…" Bisik Eren lirih. Bola mata hijaunya menatap kesekitarnya dengan was-was. Tubuh mungil Eren tampak bergetar melihat kegelapan disekitarnya. Buliran bening sudah tampak mengalir melalui sudut matanya.
"Pergilah tidur dikamarmu bocah." Gumam Levi seraya menarik menarik selimutnya makin tinggi agar hangat. Udara disekitarnya entah kenapa mendadak begitu terasa dingin dan menusuk tulang.
"Eren takut sir." Cicit Eren. Tangan kecilnya menghapus butiran-butiran bening yang meluncur dari sudut matanya. Bocah itu terisak lirih tampak tak ingin mengganggu Levi.
Levi mendengus, "Kalau begitu tidur saja disini jika kau takut." gumamnya tanpa sadar.
Sang bocah bermata hijau menggeleng, "Eren tidak suka disini. Eren cuma suka kamar Eren."
"Pergilah, jangan ganggu aku bocah." Ujar Levi seraya memejamkan matanya lagi kemudian beberapa detik berikutnya napas Levi terdengar teratur. Ia sudah jatuh kealam mimpi. Meninggalkan sesosok bocah mungil yang hanya bisa termenung didekat tempat tidurnya seraya menatap Levi kecewa dengan bola mata hijaunya yang basah.
"Sir.." Panggil Eren lagi dengan suaranya yang terdengar pecah. Tangan mungilnya bergerak—hendak menyentuh pada selimut yang membungkus tubuh Levi tapi sayangnya tangan bocah itu tak dapat menyentuhnya. Tangan mungil itu menembus begitu saja seolah-olah hanya meraih udara kosong.
Eren terpeku sejenak dengan pandangan kosong pada wajah tenang Levi yang tertidur pulas.
"Andai Eren bisa menyentuhnya." Pikir Eren sedih. Setetes air mata meluncur mulus dipipinya.
.
.
.
Sesosok bocah berjalan riang menggandeng tangan besar dan hangat seorang wanita cantik dengan surai hitam panjang nan menawan. Bocah kecil itu terlihat sangat gebira terlihat dari mulutnya yang sejak tadi tak bisa diam menyanyikan lagu khas kanak-kanak favoritnya yang sangat ia hafal sambil sesekali melompat-lompat ceria.
"Levi-chan pintar menyanyi ya!" Ujar wanita dengan surai hitam panjang itu dengan senyuman hangatnya.
Levi kecil menghentikan lagunya sejenak. Ia menoleh pada sang wanita yang lebih tinggi. Bocah itu meringis lebar mendengar pujian sang ibu.
Lalu semuanya tetutupi kabut putih tebal. Berganti menjadi pemandangan dengan seorang bocah bersurai ebony yang menangis di stasiun kereta yang ramai.
"Huweee~ Okaasan dimana? Hiks hiks"
Levi yang lebih besar hanya terpaku, beberapa meter dari bocah yang menangis itu. Bola mata hitam pekatnya menatap pada bocah itu dengan wajah yang amat sangat tenang tanpa emosi apapun.
.
.
.
"Hiks…"
Isakan itu merupakan hal pertama yang menyapa Levi ketika ia berhasil meraih kesadaranya sepenuhnya. Keningnya berkerut heran mendengar isakan demi isakan tertahan yang bergitu dekat dengan tempat tidurnya. Levi menoleh kesamping tempat tidurnya dimana asal suara itu berasal dan menemukan seorang bocah bersurai coklat yang tak asing baginya tengah duduk dilantai seraya memeluk kaki-kaki kecilnya erat. Levi hanya diam memperhatikan bocah itu untuk beberapa saat dalam kegelapan, punggung kecil yang bergetar itu…
Sekelebat ingatan tentang mimpi tadi berkelebat lagi dalam benak pria 35 tahun itu membuat Levi menghela napas dalam. Mungkin mendengar helaan napas Levi itu membuat Eren menyadari bahwa pria yang lebih tua telah terbangun. Bocah bermata hijau itu berbalik membuat Levi bisa dengan jelas melihat wajah bocah itu yang basah. Tapi bukanya terlihat sedih, Eren malah terlihat sangat gembira melihat Levi duduk diranjangnya.
"Sirrrr….." Kata Eren dengan suaranya yang bersemangat. Bocah itu hendak melayang menghampiri tempat tidur Levi tapi yang lebih tua langsung mengibaskan tangannya. Membuat Eren harus menelan kecewa.
"Sejak kapan kau disini bocah?" Tanya Levi seraya merubah posisinya menjadi duduk.
Eren menunduk dalam terlihat menyadari bahwa dia mungkin dalam masalah besar setelah ini.
"S-sejak tadi sir." Cicit bocah itu lirih tanpa berani mengangkat wajahnya sedikitpun.
Levi mendengus, melipat tanganya angkuh, "Apa yang kau lakukan disini huh?"
Bola mata hijau Eren bergerak-gerak gelisah ditempatnya. "Eren minta ditemani untuk tidur dikamar."
Sebuah dengusan meluncur dari celah bibir Levi. Bola mata hitam pekatnya menatap pada Eren dengan tatapan sedingin es.
"Keluar dari kamarku."
Eren seketika mengangkat wajahnya. Tatapanya memohon pada Levi tapi sang pria lebih tua tampaknya bukanlah orang yang dapat merasakan kasihan karena Levi hanya menatapnya tanpa melunak sedikitpun.
"Tapi sir…" Protes Eren terdengar keebratan.
"KELUAR AKU BILANG!" Bentak Levi keras.
Eren terkesiap mendengar teriakan penuh kemarahan itu. Bocah mungil itu menatap levi untuk terakhir kalinya dengan matanya yang mulai basah sebelum kemudian melayang menembus pintu begitu saja.
Selepas kepergian Eren—Levi kembali menghempaskan dirinya pada tempat tidurnya yang nyaman. Ia kembali berusaha memejamkan matanya untuk tidur tapi kilasan mimpinya tadi berputar-putar lagi ketika kelopak matanya tertutup membuat Levi merasa begitu frustasi. Ia kembali membuka matanya, ditatapanya langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Sayup-sayup telinganya menangkap suara cegukan dari depan pintu kamarnya. Itu pasti Eren—tebak Levi tapi ia tidak peduli. Ia tidak ingin peduli…
Dan akan menjaga dirinya agar tidak lagi peduli.
.
.
.
TBC
