Tittle : Haunted House

Author: Jeruk Mandarin

Pair : Eren x Levi

Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll

Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU

Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.

Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk

*-* Chap berapa ini minna-san? akoh sampe lupa. Btw maap yak gak rajin update. Aku suka ini FF sebenernya, udah ada plotnya tapi kadang aku stuck mikir adeganya. Jadi ya seret-seret gitu deh :v btw ini masih panjang kok lalala~ entah berapa chap lagi pokoknya please enjoy ajha yak aku gak mikirin kalian harus komen sih soalnya aku sendiri suka ceritanya jadi apapun yang terjadi kalo aku ada ide pasti aku lanjut kok. yeah btw sorry buat Levi jadi OCC :v btw Levi beneran makin ekspresif dan OCC gommen

Btw maaf kalo ada typo ya apalagi bagian panekuk :v

.

.

.

Levi—Pria single 35 tahun membeli rumah baru yang membawanya bertemu dengan Eren (7 Tahun) hantu penghuni rumah baru Levi. Bagaimana jadinya jika Levi yang tidak suka anak-anak harus serumah dengan hantu berisik dan menyebalkan seperti Eren?

.

.

.

.

"Ohayou sir." Suara kekanakan khas anak kecil itu merupakan hal pertama yang menyambut Levi dipagi hari. Suara yang aneh—sangat aneh untuk seseorang yang tinggal sendirian di mansion besar seperti itu. Jadi jika dia tinggal sendirian lalu suara siapa itu?

Kepala ebony miliknya bergulir kesamping—keningnya mengernyit mendapati seorang bocah dengan surai coklat dan mata hijau zamrud melayang menghampirinya dengan senyuman ceria yang kelewat bersinar dan menyilaukan.

Eren—Levi berpikir melihat Eren dipagi hari seperti itu terasa seperti keganjilan saja.

"Hentikan cengiran bodohmu itu bocah." Gerutu Levi sebal. Ia beranjak bangun dari tempat tidurnyaberniat untuk langsung mandi dan sarapan karena perutnya mlai terasa keroncongan.

"Sir bisa mendengarku?" Pertanyaan itu sukses membuat Levi yang baru beberapa langkah dari tempat tidur langsung berputar untuk melihat pada bocah yang lebih muda dengan pandangan tajam.

"Kau pikir aku tuli?" Tanyanya dengan melipat tanganya angkuh.

Eren menggeleng. Wlaupun Levi sudah terlihat menakutkan tapi bocah itu malah terlihat tak takut sama sekali. Senyumanya makin lebar dan iris zamrudnya makin berkilauan.

"Apa sir bisa melihatku juga?"

Levi memutar bola matanya mendengar pertanyaan bernada polos tapi terkesan bodoh itu.

"Apa kau juga berpikir aku buta?" Tanya Levi balik dengan nada sinis. Dia ternyata tersinggung dengan pertanyaan-pertanyaan Eren sejak tadi.

Eren menjawabnya dengan gelengan, "Tidak sir! Tentu saja tidak."

"Mmm—" Levi berdengung menunggu penjelasan.

"Se-sebenarnya ini pertama kalinya anda menyahuti sapaan pagi Eren." Cicit ocah 7 tahun itu lirih.

Pertama kali—Levi menggaris bawahi kata itu dalam benaknya. Apa itu artinya Eren sudah sering menyapanya dipagi seperti ini tapi Levi tidak bisa melihat ataupun mendengarnya seperti sekarang? Jika iya lalu kenapa sekarang dia bisa melihat Eren dipagi seperti ini? Seingatnya dia memang hanya melihat bocah itu pada malam hari saja tepatnya menjelang tengah malam. Tapi hari ini kenapa berbeda? Matahari bersinar diluar sana tapi kenapa Levi bisa melihat bocah itu?

"Sir…?" Panggil Eren cemas melihat si pria yang lebih tua hanya termenung dengan pandangan kosong kearahnya.

"Kau benar." Ucap Levi ambigu membuat Eren terlihat bingung.

"Benar apanya?"

"Ini aneh aku bisa melihatmu." Gumam Levi terlihat masih berpikir.

Bibir kecil Eren membentuk bulatan lucu.

"Apa kau tau sesuatu kenapa aku bisa melihatmu sepagi ini?" Tanya Levi penasaran. Ia mungkin terlihat peduli dengan keanehan yang dialaminya ini. Tapi sebenarnya Levi hanya ingin memastikan bahwa dia tidak perlahan-lahan menjadi gila. Tinggal serumah dengan hantu, berbicara dengan hantu, dan menyentuhnya—Levi berpikir interaksinya itu mungkin dapat memicu suatu gangguan psikologis lain yang berbahaya dan mematikan. Dia hanya tak mau itu terjadi! Mungkin setelah ini dia perlu menemui paranormal atau psikiater?

"Sayangnya Eren juga tidak tau sir." Jawab Eren polos. Yeah… Levi memang seharusnya tidak mengharapkan sebuah jawaban logis dari bocah 7 tahun itu. Apa yang bisa dilakukan bocah 7 tahun? Mereka hanya anak-anak polos yang suka bermain bahkan melihat tipe seperti Eren Levi yakin bocah itu sangat tidak suka belajar!

Levi menghela napas—menyerah untuk tidak memusingkan hal itu. Ia berputar lagi berniat melanjutkan perjalananya menuju kamar mandi tapi suara dering ponsel dinakasnya membuatnya harus menyimpan keinginanya untuk nanti. Menjawab telpon dulu sepertinya lebih penting baginya karena dia berjalan menghampiri nakas dimana ponselnya tergeletak disana dengan layar yang berkedip-kedip dan bunyi nyaring.

"Hallo?"

"Pamaaaannnn~~~~" Rengek suara cempreng dan kekanakan dari seberang telpon. Suara anak-anak yang terlalu nyaring itu bahkan sampai membuat Levi harus menjauhkan ponsel dari telinganya agar tidak tuli seketika. Barulah setelah suara itu berhenti Levi kembali menempelkan ponsel pada telinganya.

"Hey boy. Kenapa kau terdengar semangat sakali huh?"

"Paman Levi lupa ya." Terdengar suara kecewa diseberang.

"Lupa?" Gumam Levi seraya berpikir.

"Paman kan sudah janji akan main kerumah hari ini. Paman lupa?"

Hemmm….. Levi harus mengakui dalam hati bahwa dia lupa janji yang satu itu. Semalam dia memang sudah bilang kan akan mengunjungi rumah Hanji untuk bermain dengan keponakanya—Armin.

"Tentu tidak. Paman tidak lupa."

Sebuah helaan kecewa meluncur dari seberang, "Paman jelas lupa. Paman bahkan belum datang sampai sekarang."

"Paman akan segera kesana."

"Sungguh?"

"Mm—mm"

"Yey! Armin tunggu!"

Pik

Levi meletakan ponselnya kembali ke nakas. Melalui ekor matanya ia melirk pada jam yang sudah menunjukkan bahwa saat itu hampir tengah hari dan itu artinya Levi sangat kesiangan—bukan hanya kesiangan tapi sangat kesiangan! Shit!

Levi bergegas menuju kamar mandinya menghiraukan pandangan sendu dari Eren yang sejak tadi memperhatikanya.

.

.

.

"Kenapa kau menatapku terus bocah?" Tanya Levi sebal. Pancake dengan topping madu cair dan buah cerri segar dihadapanya tak lagi terasa nikmat bagi Levi kerena seorang bocah terus saja menatap ngiler pada hidangan sarapan paginya.

Eren—bocah itu tergagap mendengar pertanyaan Levi yang terdengar terganggu.

"Uhmm-maaf sir. Hehe…" Si bocah bermata hijau itu nyengir lebar seraya menggaruk pipinya sendiri.

"Aku kira hantu tidak makan makanan manusia."

"Memang." Gumam Eren lirih. Iris hijaunya yang berkilauan seketika meredup,"—walaupun sebenarnya aku ingin." lanjutnya sepeti bisikan tapi mampu sampai ketelinga Levi yang hanya terpisah oleh meja denganya.

Tak

Gerakan tangan Levi yang sejak tadi lihai mengiris pancake seketika terhenti. Pria yang lebih tua itu mengangkat wajahnya untuk melihat pada bocah diseberang meja yang terlihat sedih. Oh tidak—apakah Eren benar-benar sedih atau hanya pura-pura saja? Apakah dia akan menangis? Ugh! Levi tidak ingin bocah itu menangis! Dia benci mendengar suara tangis Eren yang berisik. Jadi dari pada membuat Eren larut dalam kesedihanya Levi berinisiatif mendorong piringnya lebih mendekat pada bocah itu.

"Apa yang sir lakukan?" Tanya Eren bingung mendapati piring dengan panekuk yang sudah diiris itu malah sengaja digeser kearahnya.

"Makanlah."

Si bocah berkedip-kedip sesaat kemudian menggeleng, "Eren tidak bisa."

Levi menghela napas, "Kau bilang kau ingin makan itu."

"Uhm… memang iya sir. Tapi itu mustahil."

"Kenapa?"

"Karena Eren bahkan tidak bisa menyentuhnya. Lihat!" Eren terlihat mencoba menyentuh meja dan piring didepanya tapi yang ada tanganya malah menembus benda padat tersebut. Kening Levi mengernyit—heran dan takjub disaat bersamaan. Tadinya dia pikir Eren bisa menyentuh benda atau menembusnya sesuka hati tapi ternyata tidak? Tapi seingatnya semalam dia bisa menyentuh Eren kan? Dia masih ingat rasanya menggenggam tangan mungil dan dingin milik Eren. Semalam itu bukan hanya halusinasinya saja kan?

"Sir?" Panggil Eren khawatir karena Levi sejak tadi hanya diam dengan wajah berpikir dan pandangan mata yang kosong.

"Apa anda baik-baik saja?" Tanya eren seraya melambaikan tangan persis didepan wajah tampan Levi. Tapi hop! Tangan mungil yang tengah melamba-lambai itu malah ditangkap oleh pria yang lebih tua.

Tangan mungil itu berhasil ditangkap oleh Levi. Itu bukan sekedar gurauan saja. Dia bahkan bisa merasakan kulit lembut Eren yang dingin bersentuhan dengna kulit telapak tanganya yang kasar.

Levi menatap tangan mungil dalam genggamanya dengan ekspresi pucat dan keringat dingin meluncur dari sisi wajahnya.

Ini gila!—pikiranya ketakutan.

Brak!

Kursi yang Levi duduki sontak terjengkang begitu saja ketika sang pemilik mundur dengan gerakan tiba-tiba. Bola matanya tak lepas menatap sosok Eren diseberang meja yang menatapnya polos.

"S-sir? Anda baik-baik saja?" Cicit Eren khawatir. Bocah itu hendak melayang menembus meja untuk mendekati Levi tapi si pria yang lebih tua lebih dulu berseru.

"Jangan mendekat!"

Si bocah 7 tahun tersentak mendengar teriakan menggelegar itu. Tubuh mungilnya bergetar ketakutan dengan iris zamrudnya yang mulai berair. Eren terlihat akan menangis tapi bocah itu berusaha menahan tangisanya dengan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.

Levi berpikir dia mungkin terlah berteriak terlalu keras pada Eren kali ini tapi dia sendiri tidak bisa mencegah dirinya merasa begitu bingung, takut dan kalut sampai Levi merasa tidak bisa menggerakan satupun anggota tubuhnya. Dia tidak tau apa yang sedang terjadi padanya. Kenapa dia bisa menyentuh hantu? Apa dia sudah gila? Apa serumah dengan Eren membuat kewarasanya perlahan-lahan menghilang?

Dia tidak gila kan? Dia merasa perlu bertanya pada seseorang sekarang. Levi berjalan cepat menuju kamarnya diikuti oleh Eren yang mengekori dengan jarak aman dibelakangnya. Bocah itu hanya diam diluar kamar memperhatikan Levi yang meraih jaket, dompet dan ponselnya dengan terburu-buru.

"S-sir mau kemana?" tanya Eren akhirnya memberanikan diri bertanya ketika dia melihat Levi memakai sepatunya.

"Aku keluar sebentar." Jawab Levi tanpa menatap Eren. Setelah selesai ia segera menghampiri pintu dan keluar dengan setengah membanting pintu.

Brak!

.

.

"Ini gila!" Ujar Levi seraya mengacak rambutnya sendiri dengan gusar.

"Anda tidak gila sir." Sahut gadis yang sejak beberapa menit yang lalu duduk dibangku taman menemani Levi. Gadis dengan rambut kuning menyala itu terlihat sedang menahan tawa melihat kondisi atasanya sekarang. Pria yang selalu tampak cool itu terlihat sangat lucu sekarang. Lihat saja wajahnya yang pucat dan rambutnya yang bernatakan. Itu sungguh imut dimata Petra.

"Aku pasti sudah gila kan? Aku bahkan bisa menyentuhnya." Ujar Levi kalap seraya menunjukkan tanganya sendiri yang tak bisa berhenti bergetar.

Petra tersenyum lembut sebagai balasan, "Itu tidaklah aneh sir."

"Itu luar biasa aneh! Dia—dia bahkan tidak bisa menyentuh benda tapi aku bisa menyentuhnya! dan dia juga bisa menyentuhku."

Si gadis mengangguk-angguk seolah memahami perasaan gusar Levi disampingnya, "Sebenarnya ada satu teori yang bisa menjelaskan semua itu."

"Teori?"

"Sebenarnya aku juga bisa menyentuh mereka." Kata Petra dengan meringis cantik.

Levi menatap gadis disampingnya takjub, "Kau bisa?"

Petra mengangguk meyakinkan, "Uhm—Itu karena aku adalah orang yang diberkati kemampuan khusus sejak lahir untuk dapat berinteraksi dengan mahluk astral seperti itu."

Levi mungkin bisa percaya dengan ucapan Petra yang satu itu tapi bagaimana dengan dirinya sendiri? Levi kan cuma orang biasa. Dia tidak lahir dengan kemampuan khusus seperti itu. Melihat hantu seperti Eren juga sebenarnya baru pertama kali untuknya lalu sekarang apa? Apa Levi sekarang punya semacam kemampuan khusus juga? kemampuanya selama ini terpendam dan baru bangkit setelah dia bertemu Eren? Itu terdengar konyol!

"Tapi aku bukanlah orang berkemampuan khusus sepertimu." Elak Levi membuat Perta mengangguk.

"Tepat sekali tapi itu tidak menutup kemungkinan anda bisa berinteaksi dengan bocah itu."

"Maksudmu?" Tanya Levi bingung.

"Hanya ada satu kemungkinan yang masuk akal sir."

"Itu adalah…?"

"Ikatan…"

"Ikatan?" Ulang Levi tak percaya.

"Jika manusia dan hantu menjadi dekat satu sama lain dan memiliki perasaan yang sama maka perlahan-lahan jembatan antara kedua dunia akan menipis. Itu memungkinkan mereka dapat saling berkomunikasi satu sama lain."

Levi membisu mendengar penjelasan itu. Dia mulai sedikit mengerti akar masalahnya. 'Perasaan yang sama' mungkin itulah sebabnya Levi bisa melihat Eren pagi ini walaupun matahari diluar sana bersinar terik, dia juga sekarang bisa menyentuh Eren. Tapi satu hal yang dia belum bisa mengerti adalah 'perasaan yang sama' itu apa?

"Apa kau yakin?" Tanya Levi pada Petra yang sejak tadi memperhatikanya.

Petra menjawab dengan angukan, "Uhmm… Tapi sebenarnya aku sedang berpikir sesuatu tentang bocah yang selalu mengikuti anda itu sir."

"Katakan." Ujar Levi terdengar memerintah.

"Dia bukan hantu. Dia bukan juga arwah penasaran."

Levi menyimak dengan kening yang tak henti-hentinya berkerut dalam. Jadi jika Eren bukanlah mahluk astral seperti itu jadi Eren itu apa?

"Jadi?"

"Aku berpikir dia mungkin sebenarnya masih hidup." Ujar Petra yang sukses membuat Levi tercengang.

"Kau bercanda?"

Levi pikir gadis itu sedang bergurau sekarang atau mungkin hanya sedang mengatakan lelucon garing tapi nyatanya petra terlihat sangat yakin dengan pemikirkan dan ucapanya barusan, "Sepertinya rohnya dan tubuhnya berpisah dalam suatu insiden dan aku yakin—ah tidak sangat yakin bahwa tubuhnya sekarang berada di suatu tempat dan masih bernapas."

"Jadi menurutmu dia masih hidup?"

"Ya." Petra mengiyakan membuat Levi merasa kepalanya akan meledak atas informasi dari petra. Ini semua pasti omong kosong kan? Eren jelas-jelas hantu! Tidak mungkin ada manusia yang tubuh yang rohnya terpisah dan masih bisa hidup seperti kata Petra kan? Kasus seperti itu kan hanya terjadi di cerita fiksi saja. Tidak di dunia nyata.

"Anda percaya apa yang baru saja aku katakan sir?"

Levi menoleh pada gadis disampingnya. "Entahlah ucapanmu sulit dipercaya. Terlalu tidak masuk akal." Jawab Levi.

Petra tertawa dengan merdu.

"Ahahaha~ Well kedengaranya gila memang. Sir boleh percaya atau tidak terserah."

Levi mengangguk, "Untuk sekarang aku akan percaya."

Perta tersenyum, "Well kalau begitu sudah selesai kah?"

"Apa?" Levi mengerjap.

"Hm.. maksudku apa sesi curhat anda sudah selesai sekarang?"

"Apa menurutmu aku sedang curhat?" Tanya Levi balik terdengar tersingung.

Petra terkekeh membuat Levi merasa sedikit dongkol. Kenapa sekarang dia merasa tidak cool lagi dihadapan gadis itu?

Tiba-tiba terdengar suara ponsel mengintupsi keduanya. Levi yang menyadari itu adalah bunyi ringtone ponselnya segera mengeluarkan benda mungil itu dari kantong jaketnya. Dia merasa tak heran melihat nama si penelpon, merasa enggan menjawab Levi memasukkan kembali ponselnya ke sakunya.

"Aku harus pergi." Ujarnya seraya beranjak.

"Apa anda ada acara setelah ini?" Tanya Petra terdengar kecewa. Levi sebenarnya penasaran kenapa gadis itu terdengar kecewa seperti itu tapi dia juga rasanya enggan untuk bertanya.

"Aku ada janji dengan keponakanku hari ini."

"baiklah kalau begitu." Balas Petra.

"Aku pergi." Pamitnya sebelum beranjak untuk menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat.

.

.

.

Hari sudah mulai gelap ketika Levi sampai dirumahnya. Dia membuka pintu dengan bahu yang sepenuhnya merosot jatuh. Tubuhnya terasa begitu lelah setelah seharian menemani keponakan kesayanganya Armin bermain dan lari-larian kesana kemari. Levi sebenarnya tidak terlalu suka dengan kegiatan yang menguras tenaga seperti itu tapi apa boleh buat. Dia terlanjur sangat menyayangi keponakanya itu jadi tak tega menolak apapun permintaan Armin.

Menghela napas lelah. Levi melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal. Ia berjalan ke ruang tamu dan membeku menapati lampu-lampu rumahnya sudah menyala terang—itu mungkin Eren yang melakukanya. Levi mengamati kesekitar tapi tak ada bocah itu dimana-mana. Mungkin diatas? Entahlah~ Levi sebenarnya sedikit penasaran tapi dia memilih membuang kekepoanya itu untuk sementara dan langsung menuju kamarnya untuk mandi air hangat. Seperti biasanya Levi hanya perlu menghabiskan 15 menit untuk berendam dan keluar dengan tubuh yang segar bugar tetapi tenggorokan yang sedikit kering. Karena alasan itulah dapur menjadi tujuanya setelah mandi niatnya sih sekalian mencari cemilan di kulkas untuk teman membaca buku nanti. Tapi sebelum sampai di dapur kakinya malah berhenti diruang makan. Ruangan makan yang cukup besar itu kosong dan tampak masih sama seperti saat terakhir kali Levi pergi pagi tadi. Piring dengan panekuk dan segelas susu miliknya juga masih nganggur ditempatnya tak terjamah sedikitpun.

Levi menghampiri kurisnya tadi pagi dan duduk lagi disana. Dia meraih garpu dan iseng-iseng mencomot panekuk miliknya dan memasukkanya ke mulut. Ia mengunyah panekuk yang sudah bantet itu dalam diam. Bukanya merasa mual dengan makanan yang sudah tak layak itu Levi malah membiarkan dirinya larut dalam pikiranya sendiri mengabaikan fakta bahwa dia memakan panekuk sisa tadi pagi. Sembari mengunyah makananya Levi membiarkan pikiranya berkelana kemana-mana terutama ucapan Petra yang masih sulit dia percaya.

Benarkah? Benarkah?—pertanyaan itu terus berputar-putar mengganggu benak Levi. Aish~ tunggu dulu—tapi kenapa dia harus sepusing ini sih? Jika Eren bukan hantu pun itu kan bukan masalah baginya karena dia tidak benar-benar punya urusan dengan bocah itu kan? Jadi kenapa Levi harus pusing-pusing memikirkanya? Lagian tidak ada untungnya buat dia kan? Levi juga bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

Levi terus saja melamun sampai tak terasa panekuknya habis. Levi yang menyadari itu lantas membawa piring dan gelasnya ke bak cucian di dapur. Ia mencuci piring dan gelasnya dalam diam. Tapi entah kenapa ditengah kegiatanya itu dia malah merasa sedang diperhatikan. Dia pun berbalik untuk mencari sang tersangka. Sebuah helaan meluncur dari celah bibirnya mendapati sejumput surai coklat menyembul malu-malu dari arah pintu masuk dapur.

"Hei bocah!" Teriak Levi terdengar jengkel membuat Eren yang tengah bersembunyi tersentak kaget. Menyadari dirinya sudah tertangkap basah bocah itu keluar dari tempat persembunyianya dengan menunduk dalam.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

Eren menggeng polos, "Tidak ada, sir."

Levi sebenarnya berpikir bahwa bocah itu terlihat imut jika bertingkah seperti itu. Haha~ dan entah kenapa sih Levi rasanya jadi ingin mengerjainya.

"Apa kau bermaksud memintaku menemanimu tidur seperti biasanya?" Tanya Levi tapi Eren tak menjawab dan malah menunduk semakin dalam. Levi mengartikanya sebagai jawaban 'iya'.

"Apa sekarang kau jadi bisu bocah?" Tanya Levi lagi. Tapi Eren tak menyahutinya sepatahpun. Bocah itu hanya sesekali mencuri-curi pandang pada Levi membuat yang lebih tua lama-lama merasa gondok(?).

Membuang kekesalanya untuk nanti, Levi kembali melanjutkan kegiatanya mencuci piring mengabaikan fakta menyebalkan bahwa Eren pasti masih memperhatikanya dibelakang sana.

Setelah semuanya beres, Levi meletakan sarung tangan cucinya dan menghampiri kulkas. Niatnya sih untuk masak makan malam karena dia tidak kenyang makan panekuk bantet tadi. Dia perlu makanan yang layak dimakan dan mampu membuatnya tidur nyenyak. Levi mengeluarkan satu persatu bahan yang dibutuhkanya dari kulkas. Tanganya lincah sekali tapi dia yang terlalu fokus pada isi kulkas tidak menyadari dimana dia meletakan benda-benda tersebut.

"Done." gumamnya puas seraya menutup kulkas. Levi berbalik untuk mengecek bahan-bahan dimeja tapi tubuhnya malah membeku mendapati telur ayam yang tadi dia keluarkan dari kulkas malah melayang bergerak sendiri naik ke atas meja.

What the? Levi menelan ludah merasa tak biasa melihat sesuatu yang tak masuk akal seperti itu. Tapi hal tak masuk akal seperti itu selalu ada kaitanya dengan sumber ketidak-masuk-akalan itu sendiri kan?

Levi menatap Eren dan mendapati bocah itu sedang gugup menyusun kata-katanya.

"A-aku hanya membantumu sir. T-telurnya tadi jatuh." Gumam Eren lirih.

'Sudah kuduga' pikir Levi tak kaget.

"Jadi kau bisa menggerakkan benda?" Tanya Levi melipat tangan angkuh.

Eren menjawabnya dengan enggukan lemah.

"Tapi kau tidak bisa menyentuhnya. Begitu?" Tanya Levi lagi yang disambut anggukan kepala oleh Eren.

"Lalu kau bisa apa lagi?"

"M-maksud sir?"

"Selain kau bisa terbang, kau bisa menembus benda, dan menggerakanya apa lagi yang kau bisa?"

Eren mengerjap polos, bocah itu tampaknya bingung dengan maksud Levi bertanya seperti itu padanya.

Menyadari percuma saja bertanya Levi lantas menyrah, "Sudahlah lupakan." Ujarnya kemudian bersiap untuk mengolah bahan-bahan dimeja karena dia sendiri sudah semakin lapar. Dia untuk sekali lagi harus mengabaikan fakta Eren yang masih memperhatikanya bahkan sampai akhirnya Levi selesai memasak bocah itu masih berdiri ditempatnya seolah-olah menunggu Levi memberinya makan LOL

Iris zamrud Eren berbinar-binar melihat Levi yang melewatinya sempari membawa sepiring omurice yang sangat harum ditanganya. Bocah itu seperti biasa tanpa bisa dicegah mengekori Levi ke ruang makan, dalam diam Eren melihat Levi duduk di kursinya. Eren tak mendekat kali ini dia hanya mematung beberapa meter dari meja makan dengan iris hijaunya yang tak lepas dari Levi yang tengah menyantap hidanganya dengan hikmat.

"Apa?" tanya Levi merasa terganggu lama-lama ditatap seperti itu.

Eren menggeleng cepat.

"Bagianmu ada di dapur." Ujar Levi cuek lantas kembali melanjutkan menyendok omurice ke mulutnya.

Mendengar itu Eren seketika tersenyum lebar, bocah itu beranjak menuju dapur dan kembali dengan piring yang melayang didekatnya.

"Yey! Omurice! Omuriceee 3" Teriaknya kekanakan dan bahagia membuat Levi memutar bola matanya jengah diseberang meja ketika akhirnya bocah itu bergabung dimeja makanya.

"Omurice! Omurice! Omurice!" Begitu kiranya yel yel baru yang dinyanyikan Eren sepanjang makan malam dan seperti biasa Levi menjadi orang yang lagi-lagi dibuat kesal ketika Eren berisik yang tidak bisa diam.

"Berisik bocah!"

"Eren sayang sir Levi."

"Diam!"

"Sir Levi baik!."

"Aku bilang diam!"

.

.

.

TBC