Tittle : Haunted House *Chap 5*

"RENCANA HANJI"

Author: Jeruk Mandarin

Pair : Eren x Levi

Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll

Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU

Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.

Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk

-_- Eren bocah 7 tahun vs levi 35 tahun. Ini bukan pure romance aku lebih demen ke family. Tapi akhirnya romance jg karena aku suka couple Eren x Revaille :v

Semua karater mungkin OOC :v author mengalami masalah dalam mempertahankan eksistensi kekhas'an masing-masing karakter.


Semenjak mengetahui kemampuan Eren sebagai hantu. Levi menjadi penasaran dengan bocah itu. Dia ingin menggali lebih dalam potensi bocah itus ebagai hantu bahkan Levi sampai berniat melakukan serangkaian tes untuk menguji sampai mana kemampuan Eren dapat membantu pekerjaan Levi dirumah.

Pagi ini—diminggu pagi yang cerah Levi sengaja bangun lebih pagi dari biasanya, Setelah membersihkan diri dan menyantap semangkuk serela bergizi dia segera bersiap-siap untuk membersihkan setiap sudut rumah. Eren berada didekatnya mengamati pria itu dengan pandangan penuh minat.

"Eren. Karena kau bisa menggerakkan benda maka karena kau tinggal disini dengan gratis dirumahku kau juga harus membantuku bersih-bersih. Kau mengerti?" Tanya Levi yang disambut anggukan pelan dari Eren.

"Baik sekarang mari kita lihat apa yang bisa kau kerjakan." Kata Levi kemudian meletakan sebuah

sapu didepan Eren.

"Coba kau sapu lantai disini." Perintah Levi.

Eren mengangguk. Dia menatap sapu dilantai dengan serius dan tampak berkonsentrasi. Sapu itupun bergerak untuk bangun dengan perlahan. Berdiri tegak tetapi kemudian terjatuh dengan bunyi 'Tak' keras.

Levi melihat sapu yang terjatuh itu dengan kernyitan didahi. Wajahnya terlihat tidak senang dan itu membuat Eren gugup.

"Coba lagi." Perintah Levi tapi hasilnya sama saja. Eren bisa meggerakan sapu sedikit tetapi tidak bisa menggerakanya untuk menyapu. Jadi percuma saja.

Levi mengamati bocah itu dengan raut berpikir. Mungkin sapu itu terlalu berat untuk ukuran bocah sekecil Eren. Mungkin Levi harus memberinya pekerjaan yang lebih mudah. Levi meraih kemoceng dilemari dan melemparnya didekat kaki Eren.

"Kalau membersihkan debu dilangit-langit bisa kan?" Tanya Levi memastikan dengan nada mengancam.

Erenyang ketakutan hanya bisa mengangguk. Bocah itu terbang ke langit-langit dan mulai membersihkan debu-debu dan kotoran disana. Levi sesekali mengarahkan bocah itu kesana kemari memastikan semua sudut dan bagian langit-langit bersih.

"Lakukan dengan benar bocah!" Perintah Levi galak. Eren yang ketakutan hanya mengangguk patuh.
Sementara Eren membersihkan bagian langit-langit yang sangat susah dijangkau Levi dengan tubuh bertinggi pas-pasan miliknya. Dia memutuskan untuk mengerjakan hal lain seperti membersihkan lantai dan karpet dengan alat penyedot debu, mengepel lantai, mengelap jendela dan mengelap perabotan dilantai bawah.

1 jam kemudian semua ruangan dilantai bawah telah selesai dia bersihkan. Semuanya sudah bersih mengkilap. Levi menatap penuh rasa kepuasan pada hasil kerjanya. Sekarang tinggal membersihkan ruangan atas. Levi beranjak membawa peralatan kebersihanya kelantai atas.

Butuh waktu agak lama bagi Levi menyelesaikan pekerjaanya dilantai atas karena memang ruangan diatas selama ini belum terpakai jadi masih banyak debu dimana-mana. Terutama satu kamar yang menjadi sumber masalahnya sejak pindah kerumah ini.

"Eren." Panggil Levi dan poff dalam detik berikutnya Eren sudah berdiri dihadapan Levi.

"Ya sir?" Jawab Eren tampak tak bersemangat. Kegiatan bersih-bersih ini membosankan baginya.

"Bantu aku bersihkan kamarmu." Kata Levi seraya menenteng alat-alat kebersihan andalanya menuju kamar Eren.

Eh? Eren tak menduga Levi akan berkata seperti itu.

Bocah kecil itu terlihat terkejut untuk beberapa saat tetapi cepat-cepat mengekori Levi menuju kamarnya yang selama ini kotor. Penuh dengan debu dimana-mana.

Eren mengamati Levi yang sedang sibuk melepas gorden, sprei dan selimutnya yang kotor dan berdebu memasukanya kedalam keranjang cucian. Gerakanya cepat dan terampil seolah sudah terbiasa melakukanya. Eren menatap terpesona pada keterampilan bersih-bersih Levi.

"Jangan hanya bengong bocah!. Bersihkan disana." Perintah Levi dengan nada jengkel seraya menunjuk sebuah lemari usang dipojokan yang tampak ditutupi berdebu tebal.
Eren tampak ingin protes tetapi melihat tatapan mengerikan Levi dia menurut saja. Dia membawa kemocengnya kearah lemari dan mulai membersihkanya. Walaupun begitu bola mata hijaunya masih saja fokus pada apa yang sedang dilakukan Levi karena menurutnya apapun yang dilakukan pria yang lebih tua selalu terlihat menarik.

Kekiri kekanan kemoceng itu bergerak membuat debu-debu yang ada dilemari beterbangan keseluruh penjuru ruangan. Tapi bocah itu tak sadar karena dia sibuk memperhatikan Levi yang sedang mengelap jendela. Kening levi mengernyit melihat ada banyak debu baru menempel dijendela yang baru dia bersihkan. Bola matanya mengikuti asal debu-debu berterbangan itu dan diapun mendengus keras sepeti sapi melihat Eren yang bengong menatapnya.

Dengan langkah lebarnya Levi menghampiri Eren dan...

Pletak!
Eren terduduk seketika merasakan kepalanya yang tiba-tiba sakit karena Levi menjitaknya dengan sadis dan tanpa perasaan.

"Berhenti main-main bocah. Bersihkan dengan benar." Kata Levi jengkel.

"Maaf sir." Kata Eren dengan cengiranya yang bagi levi sangat menyebalkan untuk dilihat.

Levi mendengus kemudian membawa sprei selimut dan gorden milik Eren ke keluar kamar untuk dicuci diruang bawah.

Selepas Levi pergi Eren hanya bisa menghela napas dengan wajah murung. Dia kembali menekuni pekerjaanya membersihkan debu dikamarnya seraya menggerutu pelan dan berpikir bahwa Pekerjaan ini membosankan dan dia lebih senang mengikuti Levi dan melihatnya melakukan pekerjaanya.


Ditengah hari ketika matahari semakin terik pekerjaan bersih-bersih Eren dan Levi akhirnya selesai juga. Seluruh penjuru rumah telah bersih dan mengkilap dan Levi tampak sangat puas oleh kerja kerasnya dan Eren.

"Kerja bagus bocah!" Puji Levi membuat Eren yang sejak tadi tampak bete dan murung seketika menjadi cerah dan ceria.

"Ehm." Eren mengangguk dengan senyuman lebar dan tampak bangga. Dalam hatinya dia membatin senang karena berhasil mendapat pujian dari Levi. Hehe

"Sekarang saatnya memasak makan siang." Gumam Levi.

Tetapi baru saja dia hendak menuju dapur untuk memasak dari arah depan rumah terdengar suara mobil berhenti. Levi yang penasaranpun membuka pintu untuk melihat tamu yang datang dan wajahnya berubah bete melihat sosok Hanji keluar dari mobil. Ini pasti gila bukan? Dia telah melihat wanita itu selama seminggu penuh dari senin sampai jum'at karena Hanji mengantarnya bekerja dan pada saat weekend dia masih harus menghadapi wanita itu lagi? Ouch sial~ Levi berkata dalam hati dengan merana.

"LEVIII!" Hanji berlari heboh menghampiri Levi yang berdiri diambang pintu dengan ekspresi dingin miliknya.

"Mau apa kau kesini?" Tanya Levi terdengar judes.

Tapi—Bertemu setiap hari dan dekat membuat Hanji tak sedikitpun menggubris nada menyebalkan dan tidak suka yang Levi lontarkan padanya. Dia sudah kebal dan terbiasa. Bahkan wajah Hanji semakin berseri-seri mendapat sambutan dingin seperti itu.

"Levi! Kau pasti sangat merindukanku kan? Makanya kau pasti cepat-cepat membuka pintu setelah mendengar suara mobilku dari dalam rumah!" Goda Hanji dengan wajah malu-malunya yang bagi Levi sangat menjijikan.

"Dalam mimpimu!" Kata Levi seraya menonyor dahi hanji dengan keras membuat wanita berkacamata itu terhuyung mundur seraya mengaduh dan mengelus dahinya yang agak nyeri.

"Ya! Kau ini kasar sekali sih! Pantas saja kau selama ini jomblo!" Gerutu Hanji kesal. Ucapanya itu langsung mendapatkan death glare mematikan dari Levi.

"Ya oke... oke aku minta maaf. Aku hanya bercanda." Kata Hanji mengalah dengan cepat.

"Jadi apa yang membawamu kemari?" Tanya Levi mengalihkan topik. Dia memang sengaja tidak memperpanjang masalah karena malas meladeni drama lebay Hanji.

"Ehm~ Jadi begini sebenarnya hari ini aku ingin mengajakmu pergi ke rumah sakit."

Kening Levi refleks mengernyit, "Kerumah sakit? Kenapa? Siapa yang sakit? Kau sakit?" Tanya Levi bingung.
Hanji menggeleng.

"Yang sakit adalah temanku."

"Temanmu yang mana?"

"Teman … teman SMA-ku!."

"Lalu?"
"Dan aku ingin kau menemaniku menjenguknya."

"Kenapa aku?" Tanya Levi tidak mengerti.

"Karena Erwin sedang sibuk dan akan canggung jika hanya aku sendirian yang pergi." Kata Hanji dengan wajah murungnya.

Levi mengangguk-angguk mengerti. Ini memang bukan pertama kalinya Hanji datang merengek padanya untuk minta tolong diantar kesana kemari saat Erwin sedang sibuk. Tapi yang mengherankan adalah ini pertama kalinya Hanji minta ditemani pergi ke rumah sakit. Biasanya kan jika ada temanya yang sakit dia pergi sendiri? Dengan kepribadianya yang aneh itu, menurut Levi Hanji bukan tipe orang yang gampang canggung walaupun dia pergi sendiripun tidak apa-apa. Bukankah ini aneh? Mungkinkah teman ini adalah orang yang berbahaya atau sejenisnya? Kalau begitu Levi terpaksa harus ikut pergi.

"Baiklah. Aku akan pergi. Kau tunggulah sebentar aku akan bersiap." Kata Levi kemudian bersiap pergi tapi Hanji tiba-tiba malah menahan lenganya.

"Kau benar-benar akan pergi denganku kan?" Tanya Hanji memastikan. Levi membatin heran melihat Hanji yang terlihat terkejut dengan keputusanya untuk ikut dan yang mengherankan adalah kenapa Hanji terlihat gelisah seperti sedang menyembunyikan sesuatu?

Levi tidak bisa menahan dirinya untuk menatap temanya itu dengan tatapan curiga.

"Ya?"

Hanji mengangguk kemudian melepaskan lengan Levi dan membiarkan pria itu masuk kedalam rumah lagi sementara dia menunggu dengan duduk diberanda depan.

Levi menutup pintu dan langsung menuju kamarnya untuk mandi dan bersiap pergi. Eren mengikuti langkah Levi dibelakang.

"Bolehkah Eren ikut sir?" Tanya Eren penuh harap.

"Tidak." Jawab Levi tanpa perlu berpikir. Ucapanya terdengar tak mau dibantah itu membuat Eren mengerucutkan bibirnya dengan maksud mencibir. Yeee~! walaupun dilarang Eren akan tetap mengikuti Levi diam-diam nanti. Tapi seolah mendengar suara hati Eren itu Levi tiba-tiba berbalik dan menatap Eren dengan pandangan tajam.

"Dengar ya! Jangan mengikutiku kali ini atau kau mungkin tidak akan bisa tidur didalam rumah malam ini."

Nyali Eren mengkerut medengar ancaman Levi itu. Eren melupakan fakta bahwa Levi masih memiliki jimat sakti yang menyebalkan itu untuk mengancamnya.

"Baiklah sir. Eren tidak akan ikut." Gumam Eren dengan sedih dia masih trauma untuk sendirian didunia luar. Levipun tampak puas kali ini dan ia kembali melanjutkan langkahnya ke kamar sedangkan Eren memutuskan untuk pergi bermain dikamarnya.

20 menit kemudian Levi keluar dari dalam rumahnya dengan penampilan semi-formalnya. Sebuah kemeja biru, celana jeans hitam panjang, dan jaket hitam membalut pas tubuh pendeknya membuatnya terlihat sangat modis dan menawan. Dia tak lupa untuk mengunci pintu sebelum menghampiri Hanji yang duduk bengong diberanda depan.

"Ayo segera pergi." Ajak Levi membangunkan Hanji dari lamunanya.

"Ya~ya..." Sahut Hanji tergagap kemudian bersama Levi keduanya berjalan menuju mobil.


Mobil yang Hanji kemudikan berhenti diparkiran sebuah rumah sakit terbesar dan terkenal dikota. Hanji keluar dari dalam mobil dengan membawa parsel buah ditanganya sedangkan Levi membawa buket bunga lily yang tampak cantik. Keduanya memang sempat mampir ke toko dipinggir jalan untuk memberi hadiah untuk teman Hanji yang katanya sedang sakit itu.

"Kau tau nomor kamarnya kan?" Tanya Levi seraya menutup pintu mobil.

Hanji mengangguk mengiyakan.

"Kamar VIP nomor 46." Jawab Hanji. Diapun memimpin jalan memasuki lobby rumah sakit. Levi hanya mengikuti dibelakangnya dengan wajah setengah berpikir atas gelagat mencurigakan Hanji hari ini. Temanya itu sejak tadi terlihat sangat gelisah sejak ia datang dan levi tau bahwa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi atau telah direncakan oleh Hanji dan kemungkinan adalah~
Levi teringat ucapan Hanji dimobil waktu itu bahwa Ibunya sedang sakit dan mungkinkah~
Deg.
Langkah kaki Levi membeku seketika memikirkan kemungkinan yang satu itu. Hanji yang berjalan didepanya menoleh karena tidak lagimendengar langkah kaki Levi mengikutinya. Merasa ganjil wanita berkacamata itupun berbalik.

"Kenapa?" Tanya Hanji bingung melihat Levi yang seolah blank ditengah lorong rumah sakit.

"Kau... Tidak bohong padaku kan?" Tanya Levi dengan nada getir.

Iris Hanji melebar dibalik kacamatanya. Mungkinkah Levi sekarang sudah tau rencananya?

"Levi." Hanji berjalan menghampiri Levi yang kini menatapnya dengan penuh kemarahan.

"Levi dengar. Kau harus menemui ibumu. Dia sedang sakit keras sekarang dan dia ingin bertemu dengan putra satu-satunya." Bujuk Hanji memohon.

Levi mengulas senyum sinisnya. Wajahnya masih lurus seperti biasanya tetapi Hanji tau bahwa temanya itu sedang sangat kesal sekarang bahkan mungkin membenci apa yang dilakukan Hanji ini.

Hanji mengakui bahwa dia memang bersalah kali ini. Tetapi dia melakukanya karena niat tulus untuk membantu Levi berdamai dengan masa lalunya.

"Terimakasih atas kepedulianmu Hanji. Tapi sudah aku katakan padamu berkali-kali bahwa aku tidak peduli dengan wanita tua jahat itu dan aku tidak ingin kembali padanya. Jadi berhentilah melakukan hal tidak berguna seperti ini. Kau mengerti?" Kata Levi dengan nada tenang miliknya tetapi penuh aura hitam mengancam.

Dia mendorong kasar bunga lily putih ditanganya pada Hanji yang hanya bisa pasrah menerimanya. Setelah itu Levipun pergi begitu saja dengan langkah cepat tanpa sekalipun berbalik. Hanji hanya bisa menatap sosok Levi yang menjauh itu dengan helaan napas lelah.

Dia menatap parsel buah dan bunga lily ditanganya bergantian dengan tatapan sedih. Dia kemudian menghampiri seorang pasien anak-anak yang sedang duduk dibangku tak jauh darinya.
"Maaf adik kecil apa kau suka bunga dan buah? Ini untukmu ya." Kata Hanji memberikan parselnya dan bunga yang dibawanya pada gadis kecil itu. Tanpa menunggu balasan ucapan terimakasih Hanji berlari kecil menyusul Levi yang sudah berjalan jauh didepan.

"Levi tunggu aku!" Teriak Hanji berlari mengejar Levi yang berjalan cepat. Untunglah Hanji berhasil menyusulnya bahkan menarik lengan jaket Levi agar pria itu berhenti.

"Levi Aku minta maaf. Kau benar, aku seharusnya tidak ikut campur dalam masalahmu ini." Kata Hanji terdengar sangat menyesal.

"Sudahlah lupakan." Kata Levi dingin. Dia kembali melanjutkan langkahnya dan Hanji hanya bisa mengikutinya dengan kepala menunduk dalam dan wajah murung.

Keduanya hampir mencapai halaman depan ketika tanpa diduga seorang gadis yang tampak tak asing tiba-tiba berlari kearah Levi dan berhenti tepat ditengah jalan membuat Levi dan Hanji harus menghentikan langkahnya karena kaget.

Gadis cantik dengan rambut sebahu dan tampak familier itu...

"Mikasa?" Levi menatap Mikasa dengan kernyitan kening bingung. Sedangkan Hanji dibelakang Levi terlihat terkejut.

"Apa yang anda lakukan disini sir?" Tanya Mikasa terdengar penasaran. Tapi entah kenapa Hanji bisa merasakan sejumput nada gembira didalam suaranya. Ada apa ini? Kenapa gadis itu gembira melihat Levi disini? Mugkinkah ada sesuatu yang terjadi diantara mereka? Hanji menatap mikasa dan Levi bergantian dengna curiga.

"Aku hanya datang untuk sekedar check up kesehatan biasa disini." Jawab Levi bohong.

Mikasa mengangguk-angguk mengerti sinar matanya meredup setelah mendengar jawaban Levi itu dan Hanji menjadi semakin penasaran akan hubungan keduanya.

Mungkinkah gadis itu menyukai Levi dan berharap Levi menjawabnya dengan ingin bertemu dengan gadis bernama Mikasa itu? Aduh jika itu benar maka Hanji menyesal 7 turunan telah memberikan bunga lilynya pada gadis kecil tadi. Seharusnya dia simpan bunga itu agar Levi bisa memberikanya pada gadis bernama Mikasa ini.

"Dan kenapa kau bertanya?" Tanya Levi heran.

Mikasa terlihat gugup. "Ano… Saya kira anda datang untuk menjenguk seseorang."

Hanji yang menyimak percakapan keduanya rasanya ingin menjerit dalam hati mengatakan bahwa memang itulah sebenarnya dia dan levi ada didirumah sakit ini! Eh—Maksud Hanji jikasaja Rrencananya tadi berhasil. Eh tapi kenapa Mikasa tau?

"Kau berharap aku menjenguk seseorang disini?" Tanya Levi merasa aneh.

Entah kenapa gadis yang satu ini terlihat aneh baginya. Dia sering sekali menguntit Levi dikampus dan yang paling mengganggu Levi adalah dia seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting padanya.

"Bukan itu maksud saya sir. Saya hanya uhm—" Kata-kata Mikasa itu terintrupsi oleh dering ponselnya. Gadis itu dengan gugup meraih ponselnya dan menjawab panggilan. Dia berkata dengan sipenelepon dengan "ya" 3x kemudian menutup sambungan telepon.

"Saya permisi sir. Semoga hari anda menyenangkan." Mikasa membungkuk dengan sopan kemudian berjalan pergi. Setelah melihat Mikasa pergi Levipun kembali melanjutkan perjalananya ke parkiran depan. Hanji walaupun ingin mengejar Mikasa untuk melakukan wawancara panjang tentang hubunganya dengan Levi tetapi dia juga tidak mau ditinggal Levi yang sedang tidak dalam kondisii suasana hati baik. Jadi dia memutuskan untuk menyyimpan semua rasa ingin tahunya dan mengejar Levi ke parkiran depan.

"Siapa itu Lev?" Tanya Hanji seraya membuka pintu mobilnya.

"Mahasiswaku." Jawab Levi pendek. Iris Hanji seketika melebar sempurna.

'Jadi sekarang gebetan Levi adalah cewek mahasiswa cantik berambut pendek bernama mikasa itu ya? Mungkinkah ini cinta terlarang antara Dosen dan Mahasiswa' Pikir Hanji menyimpulkan. Dia terkikik menyeramkan atas delusinya sendiri sebelum akhirnya masuk ke mobil dan mengemudi keluar dari lingkungan rumah sakit.


Langit telah sepenuhnya menggelap ketika Levi akhirnya sampai didepan rumahnya. Dia keluar dari mobil Hanji diikuti oleh Hanji yang juga ikut keluar.

"Maaf untuk hari ini Lev." Kata Hanji sungguh-sungguh. Wajahnya penuh penyesalan yang mendalam.
"Hm." Dengung Levi sebagai balasan. Wajahnya datar tetapi tidak ada lagi riak emosi apapun dan Hanji bersyukur karenanya. Walaupun hari ini dia telah membuat masalah yang keterlaluan bagi Levi tetapi syukurlah pria itu tidak membencinya.

"Kalau begitu sampai jumpa besok." Kata Hanji berpamitan dengan canggung. Dia masuk kembali kedalam mobilnya dan Levi hanya menatap mobil Hanji yang menjauh.

Selepas kepergian Hanji Levi terdiam beberapa saat dihalaman depan dengan pandangan mata kosong. Entah kenapa walaupun dia berusaha untuk tidak memikirkan ucapan Hanji, Levi terus saja memikirkanya sepanjang perjalanan pulang tadi. Entah kenapa mendengar bahwa Ibunya sakit dan sikapnya sekarang membuatnya merasa bersalah. Hanji benar. Bahwa dia seharusnya pergi menjenguk Ibunya karena walau bagaimanapun wanita itu telah berjasa melahirkanya kedunia ini tetapi Levi justru bersikap kejam dengan berusaha mengabaikan kondisi ibunya yang sekarat. Bagaimana jika wanita itu mati tanpa Levi pernah melihatnya lagi untuk terakhir kalinya?

Akan seperti apa perasaanya nanti? Levi sibuk dengan pikiranya sendiri. Dia tidak menyadari Eren yang memperhatikanya dari jendela kamar lantai 2 dengan pandangan penuh tanda tanya.

Malam ini karena perasaan dan pikiranya yang kacau Levi memutuskan untuk tidak langsung masuk kerumah. Dia pergi mencari minimarket terdekat dan membeli beberapa pack rokok dan beer. Sebenarnya dia tidak suka mengkonsumsi keduanya bersamaan karena dia suka gaya hidup sehat dan bersih tetapi kadang-kadang saat sedang stres dan dia tidak tau harus curhat pada siapa Levi hanya bisa melampiaskanya dengan merokok dan minum-minum. Kadang-kadang seperti ini tidak apa-apa kan? Pikir Levi menghibur diri.

Dia menghentikan langkahnya ditaman kompleks. Dia menghempaskan pantatnya pada sebuah bangku ditaman itu dan menyalakan rokoknya. Dia merokok dengan tenang dan diam. Asap putih mengepul dari mulut dan hidunya dan perlahan-lahan seolah membawa rasa penat dan stresnya pergi Levi merasa lebih santai. *Ya Tuhan author sebenarnya geregetan bayangin Levi ngerokok gitu* author mimisan*.

Dia mengalihkan perhatianya pada sekeliling taman yang saat itu sepi. Taman itu memang taman yang sebenarnya dikususkan untuk bermain anak-anak. Ada banyak mainan anak disana seperti perosotan, jungkat jungkit, ayunan dan kotak pasir tapi sayangnyya sekarang sudah terlalu larut untuk anak-anak bermain. Jadi wajar saja tidak ada siapapun disana selain Levi. Ya begitulah yang levi pikirkan sampai tanpa sengaja matanya menangkap seorang bocah bersembunyi dibalik pohon tak jauh darinya.

Aish bocah itu! Levi mematikan rokoknya yang sudah hampir habis.

"Eren! Kemari kau." Teriak Levi jengkel.

Mendengar suara Levi yang lantang itu Eren yang sejak tadi mengikuti Levi dengan sembunyi-sembunyipun langsung gugup dan panik.

"Eren!" Panggil Levi lagi kali ini dengan nada memerintah.

Eren yang ketakutan hanya bisa patuh. Dia menghampiri Levi dengan kepala menunduk dalam.

"Kenapa kau suka sekali mengikutiku huh?"

"Maaf sir. Eren hanya khawatir karena Sir Levi tampak murung jadi Eren ingin memastikan bahwa sir Levi baik-baik saja." Cicit Eren lirih.

Levi menatap bocah didepanya dengan datar seraya meraih rokok baru dan menyesapnya dengan santaai. Dia tampak tak berniat untuk berhenti walaupun didepanya adalah anak-anak.

"Sir. Sejak kapan anda merokok?" Tanya Eren tiba-tiba.

"Kenapa?" Tanya Levi terdengar tidak suka mendengar pertanyaan itu.

Eren beringsut mundur.

"Uhm~ Ini pertama kalinya Eren melihat sir Levi merokok."

Levi tidak menanggapi ucapan bocah itu dia malah dengan santai meraih kaleng beernya dari dalam kantong plastik didekatnya dan meminumnya. Baginya masa bodoh dengan bocah hantu yang satu ini. Toh dia kan bukan manusia. Dia tidak akan bisa meniru kelakukan buruknya yang satu ini jadi Levi tidak perlu merasa sungkan atau bersalah telah merusak moral polos Eren. Lol~

Mendapati Levi yang tidak menggubrisnya Erenpun terbatuk kecil membuat Levi kembali menatapnya dengan pandangan heran.

"Sir. Ayahku pernah berkata bahwa merokok itu tidak baik untuk kesehatan. Itu bisa menyebabkan macam-macam penyakit berbahaya yang bisa membunuh manusia." Kata Eren bijak.

"Tau apa kau tentang kesehatan! Bocah sepertimu yang mati dengan cepat dan gentayangan sebagai hantu harusnya tidak menasehati orang yang hidup!" Balas Levi pedas.

Eren mengerucutkan bibirnya, "Eren ini bukan hantu sir!"

Levi mengabaikan bocah itu lagi dan membuka kaleng beernya yang lain dan meminumnya dengan cepat.

"Sir Levi kata ayah Eren minum-minum itu juga tidak baik untuk kesehatan." Komentar Eren lagi.
Levi mendengus untuk kesekian kalinya.

"Tau apa ayahmu soal kesehatan hah!" Balas Levi jengkel. Bocah yang satu ini sok pintar sekali sih.
"Tentu saja Eren tau karena ayah Eren kan seorang dokter! Dia telah merawat banyak orang yang sakit karena rokok dan minum-minum seperti sir Levi." Celoteh Eren dengan bangga.

Levi mengabaikanya lagi. Dia meminum beernya lagi. Dia meraih sebatang rokok dan menyalakanya dengan santai tanpa sedikitpun ingin membalas ucapan Eren.

Melihat Levi yang sepertinya enggan menanggapinya lagi membuat Eren terlihat kecewa. Bocah itu melayang untuk berdiri disamping Levi yang kini menatap pemandangan taman yang sepi dengan tatapan merenung.

"Kau punya orang tua?" Tanya Levi tiba-tiba membuat Eren seketika menoleh menatap pria itu dengan pandangan berbinar-binar. Akhirnya Levi mau bicara denganya lagi! Pikir Eren bersemangat.

"Tentu saja sir Eren punya. Ayah Eren itu seorang dokter dan Ibu Eren adalah ibu rumah tangga. Ketika ayah Eren pergi bekerja Eren akan bermain seharian dengan Ibu. Ibu Eren sangat baik dan menyayangi Eren." Celoteh Eren riang.

Levi hanya mengangguk-angguk sebagai respon balasan.

"Beruntungnya kau." Komentar Levi lirih. Membuat bocah disampingnya menatapnya.

"Kalau sir Levi bagaimana?" Tanya Eren penasaran.

"Rahasia." Jawab Levi pendek.

"Beritahu Eren sir! Ini tidak adil!"

"Apanya yang tidak adil huh?"

"Tentu saja tidak adil! Karena Eren sudah memberitahu sir Levi tentang orang tua Eren jadi sir Levi juga seharusnya memberitahu Eren tentang orang tua sir Levi!" Eren memprotes tidak terima.
"Kenapa kau ingin tau huh?" Tanya Levi tidak paham.

"Bukankah ini yang dinamakan bertukar rahasia?"Jawab Eren polos.

Levi mendengus dia membuang rokok miliknya dan menginjaknya,

"Kapan aku bilang akan memberitahukan rahasiaku? Kita bahkan tidak membuat kesepakatan apapun!"Balas Levi santai tanpa terlihat merasa bersalah.

Eren menatap Levi dengan tatapan protesnya. Tapi kapan sih Levi pernah peduli dengan protesan Eren? Hahaha

"Ini tidak adil! Sir Levi curang!" Tuduh Eren terlihat sangat kesal.

Levi hanya mengangkat bahunya dan dengan santai membawa sampah-sampah miliknya ke tong sampah terdekat dan membuangnya.

"Ayo pulang bocah." Katanya pada Eren yang masih terlihat kesal.

Eren yang masih merengut kesal itu mengikuti Levi dan sepanjang jalan dia terus saja mengoceh tentang kecurangan yang telah Levi lakukan.

TBC