Tittle : Haunted House *Chap 6*

"HANTU GEDUNG OLAHRAGA KAMPUS"

Author: Jeruk Mandarin

Pair : Eren x Levi

Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll

Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU

Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.

Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk

-_- Eren bocah 7 tahun vs levi 35 tahun. Ini bukan pure romance aku lebih demen ke family. Tapi akhirnya romance jg karena aku suka couple Eren x Revaille :v

Semua karater mungkin OOC :v author mengalami masalah dalam mempertahankan eksistensi kekhas'an masing-masing karakter.

.

.

.

Levi—Pria single 35 tahun membeli rumah baru yang membawanya bertemu dengan Eren (7 Tahun) hantu penghuni rumah baru Levi. Bagaimana jadinya jika Levi yang tidak suka anak-anak harus serumah dengan hantu berisik dan menyebalkan seperti Eren?

.

.

.

Untuk story chapter 7 ini mungkin berasa lompat jauh yak dari cerita sebelumnya tapi author udah lupa rencana awalnya gimana jadi yang ada diotak aku ketik ajha soalnya aku bikin ini cerita tahun 2016-2017. Hahaha~


Beberapa hari berlalu dengan cepat. Levi menjalani hari-hari kerjanya seperti biasa dan soal hubunganya dengan Hanji tak ada yang berubah. Mereka tetap berhubungan baik. Levi tidak memperpanjang masalah karena dia tidak pernah bisa marah lama-lama pada wanita yang satu itu. Keduanya tidak pernah lagi membahas perihal ibu Levi yang sakit dan Levi harus berterimakasih karena Hanji sudah menyerah campur tangan dengan masalahnya jadi untuk sekarang Levi bisa fokus pada pekerjaanya dikampus yang akhir-akhir ini menjadi 2x lipat lebih melelahkan karena sudah mendekati hari Ulangan Tengah Semester. Hal itu membuat jadwal mengajarnya semakin ketat saja. Dia bisa mengajar untuk sehari penuh. Diwaktu senggangnya dia gunakan untuk memeriksa tugas-tugas mahasiswa. Sebelum uts datang Erwin meminta semua Dosen untuk menyelesaikan pekerjaanya sebelum hari ulangan tengah semester tiba. Disamping itu para dosen juga harus membantu para mahasiswa yang kesulitan dikelas. Semakin banyak mahasiswa yang bermasalah didalam kelas maka penilaian terhadap kinerja dosen bisa dianggap semakin buruk. Dosen yang memiliki kinerja tidak bagus berpotensi untuk dipecat dan walaupun Levi tidak mungkin akan dipecat karena dia kenal baik dengan Erwin tetapi dia tidak ingin mengecewakan dan menjadi beban. Ini adalah bulan pertamanya di universitas dan dia harus bisa menunjukkan kinerja bagus. Dia sudah membidik dirinya harus bisa menjadi dosen terbaik untuk universitas tahun ini. Oleh karena itu dia benar-benar bekerja keras. Dia menghabiskan hampir keseluruh waktunya bergelut dengan semua pekerjaanya dan walaupun melelahkan dia tidak sedikutpun mengeluh.

Melihat Levi yang begitu serius dengan pekerjaanya, Eren kecilpun agaknya mengerti dan tidak sekalipun mengganggunya. Dia masih suka mengikuti Levi ke kampus seperti biasa dan dia sudah tidak pernah lagi membuat kegaduhan dimalam hari yang membuat Levi tidak bisa tidur nyenyak. Eren benar-benar telah berubah sikap menjadi seorang anak yang baik.

Ketika Levi punya jadwal mengajar Eren akan duduk diteras depan dan menunggu sampai Levi selesai kemudian mengikuti Levi ke kantornya dan hanya berdiri dipojokan mengamati Levi yang sedang bekerja serius dengan bosan.

Yep~ Seperti apa yang dilakukanya sekarang~

Eren hanya melayang rendah dipojokan dengan wajah murung. Diluar matahari terik bersinar cerah dan angin sepoi-sepoi berhembus melalui jendela. Eren mengintip dan menatap iri pada pemandangan diluar.

Dia ingin keluar dan bermain. Tapi dia ragu Levi akan mengijinkanya keluar.

Eren memberanikan diri terbatuk untuk menarik perhatian pria yang Lebih tua. Tetapi sayangnya Levi tidak sedikutpun merespon. Hal itu membuat Eren menjadi gugup.

"S-sir. B-bolehkah Eren pergi keluar?" Cicit Eren dengan suaranya yang agak keras.

Levi tidak juga menyahut. Eren menatap pria itu dengan ragu tetapi dengan sedikit tekad dia memberanikan diri menyelinap keluar. Eren melayang menembus mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang dan berhenti di taman ditengah kampus.

Pemandangan yang hijau dan matahari yang terang membuatnya tersenyum cerah. Eren mengamati kesekeliling taman dan mendapati taman disekitarnya saat itu ramai oleh para mahasiswa yang terlihat sibuk berbincang dibawah pohon dengan leptop dipangkuan mereka.

Merasa kesepian dan tak ada yang dapat dikerjakan Eren memutuskan untuk menghampiri salah satu kerumunan dan iseng-iseng menyimak apa yang sedang mereka perbincangkan.

"Kalian sudah dengar beberapa hari ini kampus kita gempar oleh cerita hantu!" Cerita Seorang mahasiswa botak membuka topik.

"Maksudmu cerita mahasiswa senior yang katanya melihat bola terbang dilapangan basket gedung olahraga kampus kita malam-malam?" Sahut mahasiswa lain kali ini seorang gadis dengan perawakan seperti laki-laki. Kulitnya sawo matang dan penampilanya sangat gahar seperti preman.

"Ya! Yang itu! Bahkan katanya tidak hanya pada malam hari. Beberapa mahasiswa dari klub basket kampus juga pernah melihat bola menggelinding sendiri dilapangan padahal tidak ada angin tidak ada hujan." Mahasiswa botak itu kembali melanjutkan.

"Hoax." Komentar pedas gadis berambut sebahu dengan syal tebal merah disamping Eren. Eren mengamati gadis itu dan entah kenapa gadis itu terlihat tidak asing?

"Semua itu sungguhan! Itu bukan cuma rumor seram belaka. Sekarang kampus kita berhantu!" Kata pemuda botak itu lagi berusaha mengais kepercayaan teman-temanya tapi sia sia saja karena diantara ketiga temanya tak satupun terlihat percaya dan peduli.

"Aku sih tidak percaya." Kata Mikasa dengan cuek. Dia lantas membuka bukunya dan tenggelam lagi dalam bacaan mengabaikan pemuda tanpa rambut itu mengomelinya karena jengkel.

"Ya mikasa! Kau harus percaya padaku atau kau mungkin suatu saat akan dihantui oleh hantu kampus kita ini."

"Ya Connie! Jika salah satu diantara kita berempat akan diganggu oleh hantu jelas orang itu adalah kau duluan karena kau tidak bisa berhenti bicara yang aneh-aneh!" Komentar gadis pirang disebelah Mikasa.

"Krista! Apa kau bilang hah?" Connie berkata dengan kesal.

Bukanya minta maaf Krista malah membuang muka seolah tidak peduli dengan Connie yang kesal.

Tanpa keempatnya sadari Eren menyimak percakapan mereka seraya berpikir dan merasa penasaran dengan hantu yang keempatnya bahas. Apakah mungkin Eren bisa menemukan sesuatu seperti sebangsanya dikampus ini? Eren ingin mengeceknya sendiri tapi dia agak takut. Dia kan takut hantu. Tapi...

Eren juga ingin tau bagaimana Hantu sebenarnya terlihat. Eren memutuskan untuk meninggalkan grup mahasiswa itu dan segera menuju gedung olahraga kampus dimana ada lapangan basket yang dimaksud.


Butuh waktu agak lama untuk Eren menemukan gedung olahraga kampus. Karena dia jarang keluar dan berkeliling pengetahuanya tentang area kampus juga terbatas. Dia sempat tersesat saat berkeling tadi. Tapi untunglah setelah berputar-putar tidak jelas selama beberapa waktu, bocah itu akhirnya sampai disebuah bangunan besar yang tampak seperti gedung olahraga kampus.

Ruang olahraga dikampus letaknya dibagaian belakang kampus karena disana ada lahan luas yang juga bisa digunakan sebagai trek lari dan taman hijau khusus untuk lari santai. Gedung olahraga itu terpisah agak jauh dari gedung lain dikampus jadi suasananya agak sepi. Eren menatap kanan dan kirinya yang tidak ada orang lewat. Pantas saja kalau muncul cerita bahwa digedung ini ada hantunya mungkin bisa saja benar karena suasana ditempat itu benar-benar mendukung untuk munculnya hantu. Terpencil, sepi, suram, dan agak gelap.

Eren menatap pintu besi berwarna biru didepanya dengan ragu. Haruskah dia masuk kedalam? Tapi bagaimana jika didalam benar-benar ada hantunya? Bagaimana jika hantu itu menyeramkan dan Eren nanti dimakan? Tapi bagaimana jika hantu itu terlihat seperti Eren manusia biasa? Eren mungkin bisa berteman denganya dan belajar beberapa hal tentang dunia hantu.

Eren telah berjalan sejauh ini jadi mungkin dia akan masuk saja? Eren meneguk ludahnya. Dia memberanikan diri untuk menembuskan kepalanya kearah pintu besi itu membuatnya bisa melihat isi dari ruang olahraga yang gelap itu.

Ruangan basket itu kosong dan agak gelap hanya ada cahaya matahari sore yang malu-malu masuk dari celah kecil diatap gedung.

"P-permisi? A-apa ada orang disini?" Tanya Eren. Suaranya lemah tetapi terdengar keseluruh penjuru ruangan karena efek sekitarnya yang sepi.

"..." Tak ada balasan darimanapun.

Eren kecil mengernyitkan kening. Dia semakin dibuat penasaran. Mungkin apa yang dikatakan kakak-kakak mahasiswa itu tidak benar? Digedung olahraga tidak ada hantu?

Eren memberanikan diri menembus pintu besi dan masuk sepenuhnya. Dia melayang ditengah lapangan yang luas dan menatap sekitarnya yang gelap dengan pandangan agak was-was.

"Hallo? Adakah orang disini?" Tanya Eren kali ini dengan teriakan. Suaranya menggema keseluruh penjuru ruangan. Tetapi menunggu beberapa saat dengan sabar tak ada sahutan apapun.
Eren menjadi yakin bahwa rumor yang diceritakan kakak botak itu tidak benar. Tidak ada hantu disini.
Fyuh~ Eren menghela napas lega. Dia merasa sangat lega karena ternyata tidak ada hantu yang harus dia lihat hari ini walaupun ya dia agak kecewa sih tidak bisa punya teman baru. Tapi tidak apa deh ini lebih baik ketimbang dia yang mungkin saja dimakan oleh hantu lain.

Merasa penasaranya sudah terjawab Eren memutuskan bahwa dirinya harus segera kembali ke ruangan Levi karena hari sudah hampir menjelang gelap. Levi sebentar lagi pulang dan Eren tidak boleh sampai tertinggal.

Yosh~ Eren baru saja berniat untuk terbang pergi saat tiba-tiba sebuah tangan menyekapnya dari belakang dan dia merasakan hawa dingin kuat dari balik membulatkan bola mata hijau zamrudnya terkejut. Lalu entah kenapa semuanya berubah menjadi kegelapan.


Bip bip bip

Bunyi alarm ponsel itu membuat sang pemilik otomatis menghentikan pekerjaanya. Levi segera mematikan leptopnya dan meraih ponselnya untuk mematikan alarm. Dia terlihat menggerak gerakan tubuhnya yang lelah dengan gerakan ringan agar otot-ototnya yang sejak tadi kaku bisa rileks sejenak. Istirahat sejenak Levi kemudian membenahi barang-barangnya dan bersiap untuk segera pulang. Dia masih harus mengoreksi PR mahasiswa habis ini. Walaupun dia lelah tetapi dia harus bisa menyelesaikanya sebelum besok jadi dia harus segera pulang. Hanya butuh beberapa menit saja sampai semua barang-barang Levi telah rapi didalam tas kerjanya dan sekarang saatnya pulang.
"Ayo pulang bocah." Kata Levi tanpa perlu otaknya komando. Kata-kata itu akhir-akhir ini terlalu sering dia ucapkan dan entah sejak kapan sudah menjadi kebiasaan baru baginya.

Tapi...
Levi mengernyit mendapati Eren tidak ada diruanganya. Kemana dia? Levi bergegas keluar ruangan dan mendapati Petra yang sedang mengemasi barang-barangnya. Gadis itu tengah bersiap-siap untuk pulang.

"Ada yang bisa saya bantu sir?" Tanya Petra heran melihat Levi yang mengedarkan pandanganya kesudut-sudut ruangan kerjanya seolah sedang mencair sesuatu.

"Kau melihat bocah itu?" Tanya Levi yang disambut gelengan kepala dari Petra. Tidak perlu dijelaskan siapa bocah yang Levi maksud karena satu-satunya bocah dikampus itu ya cuma Eren. Lol~
"Maaf sir saya tidak melihatnya. Saya ada jadwal mengajar tadi pukul 4 dan baru beberamap menit yang lali saya kembali kesini."

Levi mengangguk. Wajahnya masih datar tetapi Petra tau bahwa bossnya itu sedang gusar.
"Mungkin dia hanya sedang berjalan-jalan diluar sir karena cuaca diluar sedang bagus." Kata Petra berusaha menghibur.

"Kemana kiranya dia pergi?"

Petra tersenyum simpul, "Mari saya bantu mencarinya sir."

Levipun mengangguk. Mengikuti Petra yang memimpin jalan menjelajah kampus mencari Eren. Mereka ke ruang-ruang kelas, ke taman, ke kantin, ke ruang dosen yang lain, ruang rektor, ruang musik, dll tapi hasilnya nihil.

Aneh sekali. Petra yang diawal tampak tenangpun sekarang terlihat cemas. Mereka telah menjelajah kampus sampai detail sudutnya tapi Eren belum juga ketemu padahal hari sudah semakin sore dan dua orang dewasa itu mulai kelelahan.

"Maafkan saya sir kita belum bisa menemukanya." Kata Petra murung. Gadis itu terlihat merasa bersalah karena tidak bisa membantu Levi kali ini.

"Hm." Levi menghela napas panjang.

Petra yang berjalan pelan disampingnya menggigit bibirnya dan menunduk dalam.

"Sudah jangan dipikirkan. Mungkin saja dia sudah pulang."

Petra menggeleng. Gadis itu sebenarnya menyembunyikan sesuatu dari Levi bahwa perasaanya sangat jelek saat itu. Dia tidak bisa merasakan keberadaan Eren dimanapun. Biasanya walaupun kecil dan samar dia bisa merasakan roh anak itu. Sebagai seorang yang diberkahi dengan kemampuan spesial sejak lahir Petra bisa merasakan keberadaan roh yang jaraknya agak jauh darinya dengan berkonsentrasi dan memanggil nama roh dalam hati. Tapi entah kenapa kali ini. Roh Eren tidak bisa dia ketahui posisinya dan ada beberapa kemungkinan yang bisa menyebabkan itu terjadi dan semua kemungkinan itu Petra yakin tidak ingin Levi dengar.

"Berhenti disini. Aku lelah." Kata Levi. Mereka berhenti disebuah bangku didekat Mesin penjual minuman otomatis. Levi mengeluarkan beberapa koin dan memasukanya menekan tombol dan detik berikutnya 2 kaleng minuman, kopi dan jus stroberi keluar dari mesin. Levi memberikan kaleng jus itu pada Petra sedangkan kopinya dia minum sendiri. Petra hanya menggenggam erat kaleng jus ditanganya tanpa terlihat ingin meminumnya. Gadis itu tampak setengah melamun memikirkan sesuatu. Melihat itu Levipun menghela napas. Menepuk kepalanya pelan membuat Petra tersadar dan menatap pria tampan yang berdiri didepanya itu dengan pandangan bertanya.

"Aku bilang jangan dipikirkan. Bukan salahmu kita tidak dapat menemukanya."

Petra tersenyum mendengar kata-kata Levi itu. Walaupun Levi terlihat dingin sebenarnya dia adalah pria yang baik dan peduli pada apapun disekitarnya. Dia hanya tidak pintar mengungkapkanya dalam bentuk ekspresi wajah dan tindakan. Tapi memang mungkin itulah pesonanya.

"Terimakasih sir." Kata Petra tulus. Setelah mendengar kata-kata Levi entah kenapa beban hatinya dan rasa bersalahnya agka berkurang.

"Sebaiknya kita pulang saja. Aku pikir bocah nakal itu mungkin sudah pulang."

Petra mengangguk. Keduanya beranjak dari tempat itu. Tapi baru beberapa langkah Petra tiba-tiba berhenti dan tubuhnya membatu. Hal itu membuat Levi mengernyitkan kening dan menatap gadis itu dengan pandangan heran.

"Ada apa?"

"SIR! SAYA BERHASIL MENEMUKAN EREN! DIA ADA DIRUANG OLAHRAGA BELAKANG!"


Gelap.
Kenapa gelap?

Eren membatin bingung. Telinganya entah bagaimana tuli oleh bunyi asing sebuah mesin yang dia tidak tau. Lalu entah bagaimana dia bisa mendengar suara detak jantungnya sendiri dan napasnya. Dia seolah-olah masih hidup! Mimpi macam apa ini?

Kemudian terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat

"Kau datang." Terdengar perbincangan 2 wanita.

"Ya bibi. Maaf mengganggu. Jadwalku padat akhir-akhir ini."

Terdengar seperti suara plastik dan kertas yang bergesekan.

"Aish~ Jangan seperti itu. Seharusnya kau fokus saja pada studimu dan biarkan Bibi saja yang menjaganya."
"Tidak apa-apa bibi. Aku juga ingin datang dan melihat kondisinya sendiri."

"Terimakasih~ Dia pasti senang. Jika tau kamu datang."

"Karena itulah aku disini bibi. Aku akan disisinya menjaganya bersama bibi sampai dia bangun. Kita semua merindukan dia. Aku ingin dia segera bangun."

Kemudian eren merasakan sebuah tangan menggenggam tanganya. Tangan siapa ini? Dan siapa mereka ini? Eren sangat ingin membuka matanya dan melihat sendiri siapa yang bicara itu tapi entah kenapa dia tidak bisa terbangun dari mimpi aneh itu. Dia tidak tau dimana dia sebenarnya hanya saja entah kenapa perasaan hangat dari tangan yang menggenggamnya dan mimpi itu sendiri terasa begitu nyata.


Eren tiba-tiba membuka lebar matanya. Dia berkedip dan iris hijaunya blank untuk beberapa saat mendapati seraut wajah tampan tapi sangat pucat berjarak beberapa cm dari wajahnya. Eren berkedip lagi dan seketika berteriak keras.

"AAAAHHHH! SIAPA KAAAUUU!" Eren buru-buru terbang menjauh. Dia menatap sosok pemuda tinggi yang berdiri tak jauh darinya dengan bola mata yang bergetar ketakutan.

"Seharusnya itu pertanyaanku bocah!" Balas pemuda itu tidak terima. Dia berjalan menghampiri Eren dengan wajah kesal. Tanganya terlipat angkuh dan bola matanya yang tajam menatap Eren penuh intimidasi.
"Apa yang terjadi? Kakak ini siapa kenapa aku bisa disini?" Kata Eren kebingungan.
"Mana aku tau! Kau sendiri yang masuk ke sini." Kata pemuda itu mendengus dengan ekspresi jengkel.

Eren mencoba mengingat ingat peristiwa sebelum dia hilang kesadaran. Dia sedang menyelidiki misteri hantu ruang basket kampus dan... Eren mamperhatikan pria muda tampan dengan wajah sangat pucat didepanya dengan tatapan seksama. Mungkinkah kakak ini yang dimaksud oleh orang-orang itu? Hantu dari gedung olahraga ternyata seorang pemuda yang cukup tampan berusia sekitar 18-20 tahun dan memakai seragam polisi bahkan lengkap dengan sepatu bot hitam. Kakak hantu itu tidak terlihat menyeramkan bagi Eren. Malah lucu! Ini adalah pertama kalinya Eren melihat seseorang memakai seragam polisi seperti itu. Itu keren! Bola mata hijau zamrud Eren berbinar-binar menatap kakak hantu itu dengan pandangan takjub.

"Jadi kakak ini yang dimaksud hantu gedung basket?" Tanya Eren memastikan.

Pria muda didepan Eren tiba-tiba tertawa keras dengan eskpresi kepuasan dan bangga yang berlebih.

"Jadi kau tau aku bocah? Darimana kau tau aku huh?" Tanya pria muda itu terlihat senang.

"Aku mendengar mahasiswa kampus ini membicarakan kakak." Jawab Eren polos.

Pemuda itu tertawa lagi dengan ekspresi puas dan bangga.

"HAHAHA! Ternyata aku telah seterkenal itu ya! Aku bahkan tidak tau."

Eren hanya menatap kakak hantu didepanya dengan polos. Dia tidak tau kenapa kakak itu terlihat sangat senang mendengar ucapanya tapi dia senang melihat kakak itu tertawa karena ucapanya. Mereka mungkin bisa jadi teman?

"Jadi kau datang kesini karena mendengar kabar itu ya?" Tanya pemuda yang lebih tua itu memastikan.

Eren kecil hanya mengangguk dengan polos membuat pemuda hantu itu terlihat semakin senang. Dia bahkan berjongkok agar bisa mensejajarkan wajahnya dengan Eren yang kecil dan pendek. Dengan ringan dia menepuk bahu Eren.

"Nah adik kecil. Karena kau datang kesini dan tampaknya penasaran denganku maka mulai saat ini aku nobatkan kau sebagai fans pertamaku sekaligus sebagai ketua dari fansclubku."

Eren kecil hanya mengangguk. Dia tidak tau apa itu fansclub tetapi dia suka melihat hantu pria muda tampak senang dan baik.

"Nah siapa namamu adik kecil?"

"Eren."

"Nah Eren namaku Jean Kirstein. Mulai sekarang kau adalah fansku. Oke?"

Eren hanya mengangguk mengiyakan dengan polos.

"Bagus bagus!" Kata Jean dengan puas.

Eren hanya tersenyum senang ketika Jean mengelus kepalanya. Tiba-tiba dia merasa menjadi anak yang baik karena Jean bersikap ramah dan menyenangkan padanya.

"Oh ya Eren. Kau tadi tiba-tiba seperti pingsan. Apa kau baik-baik saja?" Tanya Jean terdengar khawatir.

Eren mengingat lagi dia yang tiba-tiba hilang kesadaran tadi. Dia juga tidak tau kenapa tiba-tiba bisa seperti itu.

"Eren tidak tau." Jawab Eren jujur. Dia kembali teringat mimpi anehnya barusan dan bocah itu kembali memikirkanya. Mimpi yang aneh itu baru pertama kali dia alami.

"Kau ini benar-benar bocah yang aneh." Komentar Jean. Dia menghempaskan dirinya untuk duduk lantai lapangan basket yang dingin.

Eren berkedip bingung, "Kenapa?"

Jean berdecak, "Tentu saja kan karena kau itu tiba-tiba pingsan saat aku iseng mengerjaimu! Aku pikir kau tidak akan bangun lagi dan menghilang. Tapi kau bangun lagi huh! Aku sampai kaget!"

Eren menatap pemuda itu dengan bingung. Dia ikut mendudukan dirinya didepan Jean.

"Jadi tadi itu kakak yang sudah mengagetkanku?"

Wajah Jean berubah gugup. Pemuda itu tampak terlihat merasa bersalah telah mengerjai bocah polos seperti Eren.

"Maaf hehe~ Aku hanya ingin mengerjaimu saja! Habisnya kau lucu dan imut banget!" Puji Jean seraya mencubit pipi Eren dengan gemas. Eren meringis kesakitan merasakan tangan dingin Jean mencubit pipinya . Ternyata sesama hantu bisa juga saling mencubit dan kesakitan.

"Oh ya dan jangan panggil aku kakak oke! Panggil saja aku Jean!"

Eren hanya mengangguk lagi dengan polos. Dia mengusap pipinya bekas cubitan Jean yang terasa sakit.

"Jean tinggal disini?" Tanya Eren penasaran.

"He'em." Jean mengangguk mengiyakan.

"Kalau kau? Eren tinggal dimana?"

"Aku tinggal dirumah. Bersama sir Levi."

Kening Jean mengernyit. "Kau bukan hantu kampus ini?"

Eren menggeleng, "Eren datang ke kampus bersama sir Levi."

Jean mengangguk-angguk mencoba memahami.

"Jadi kau ini semacam hantu yang mengikuti manusia?" Tanya Jean menyimpulkan.

"Maksud Jean?"

Jean menghela napas, "Dengar ya Eren. Setahuku hantu itu tidak bisa berkeliaran kemana-mana dengan bebas. Mereka terikat dengan sebuah tempat atau sejenisnya yang berhubungan dengan tempat kematian mereka. Itulah sebabnya mereka biasanya akan tetap disuatu tempat sampai akhirnya mereka memutuskan menyerah menjadi hantu gentayangan dan pergi berenkarnasi atau menghilang dilenyapkan."

Eren kecil tampak berpikir sejenak. "Tapi Eren selama ini bisa pergi jalan-jalan kok."

Jean menatap bocah didepanya dengan pandangan aneh.

Eren… Benar-benar bocah hantu yang aneh.

Tiba-tiba terdengar suara berisik dari depan gedung olahraga diikuti oleh pintu ruangan olahraga yang terbuka. Eren secara otomatis menoleh pada pintu besi yang terbuka itu dan wajahnya berseri-seri melihat sosok pendek Levi muncul bersama Petra dibelakangnya.

"Sir Levi!" Panggil Eren ceria. Dia terbang mendekati pria itu dengan wajah berseri-seri.
"Sir Levi bagaimana bisa kesini dan menemukan Eren?" Tanya Eren dengan nada takjub.

Pletak! Bukanya menjawab Levi malah menghadiahi bocah itu dengan sebuah jitakan sadis.

"Seharusnya aku yang bertanya bocah! Kenapa kau bisa disini! Aku mencarimu kemana-mana! Menyusahkan saja!" Kata Levi terdengar marah.

"Itu karena aku ingin bertemu dengan hantu gedung olahraga ini sir!"

Kening Levi mengernyit. "Hantu?" Tanyanya kemudian menatap sekeliling ruangan dengan tatapan penasaran.

Kepala coklat eren bergoyang ketika dia mengangguk, "Yup dan hantu itu ada di..."

Eren menolehkan kepalanya ke belakang tepat ke tempat Jean tadi duduk tapi anehnya dia tidak melihat Jean ditempatnya semula.

"Eh? Kenapa kakak itu tidak ada?" Gumam Eren kebingungan.

Levi mendengus terlihat semakin jengkel.

"Bicara apa kau ini. Ayo pulang aku masih banyak pekerjaan." Kata Levi dengan dingin.

Eren masih disana menatap sekelilingnya dengan kebingungan. Dia berharap bisa menemukan keberadaan Jean tapi sayangnya dia tidak bisa melihat Jean dimanapun.

"Eren! Apa yang kau tunggu!" Teriak Levi marah melihat Eren masih tidak bergerak ditempatnya. Eren melihat Levi bersiap menutup pintu dan mau tidak mau menghampiri pria itu.

"Maaf sir." Katanya dengan menyesal.

Levi tidak menggubrisnya dan hanya menutup pintu setelah memastikan Eren keluar dari gedung olahraga. Eren mengikuti langkah lebar Levi sambil mengucapkan maaf berulang-ulang dengan wajah menyesal karena membuat Levi kesusahan hari itu. Levi tidak menanggapi dan Petra hanya mengamati interaksi keduanya dengan bibir yang digigit kuat menahan senyum.

Eh?

Eren menatap Petra yang berjalan disampingnya selangkah dibelakang Levi dengan pandangan ingin tahu dan Petra yang sejak tadi juga tengah memperhatikan Eren balas menatapnya dengan pandangan bertanya. Gadis itu kemudian tersenyum ramah pada Eren tapi entah kenapa Eren bukanya merasa tenang dia malah merasa tidak nyaman dan takut tanpa sebab. Gadis itu terlihat baik tapi aneh~ Eren tidak suka.

Merasa takut Eren mengalihkan pandanganya pada Levi dan kembali berusaha meminta maaf.

TBC