Tittle : Haunted House *CHAPTER 8*
"DIKEJAR SILUMAN ANJING"
Author: Jeruk Mandarin
Pair : Eren x Levi
Cast : Levi Ackerman, Eren Yaeger, Mikasa Ackerman, Hanji, Shasa dll
Genre : Horror, Family, Shounen ai, Friendship, romance, AU
Semua karakter milik Hajime Isayama sensei.
Saya hanya pinjam untuk bahan delusi saya :v wkwkwk
.
.
.
Memikirkan couple yang kamu suka membuat idemu mengalir deras seperti air terjun! Yeah! Semoga author punya banyak ide buat ngelari ini FF yak.
.
.
.
"Apa yang ingin kamu makan?"Tanya Levi pada Mikasa yang berjalan disampingnya. Keduanya telah keluar dari lingkungan kampus dan kini telah mencapai jalan depan.
Eren mengikuti keduanya selangkah dibelakang dengan wajah cemberutnya yang lucu. Bocah itu tampak tidak rela melihat Levi pergi makan malam dengan Mikasa.
"fastfood." Jawab Mikasa pendek.
" kalau makan direstoran dekat sini?" Usul Levi yang disambut anggukan setuju oleh Mikasa.
Keduanya berjalan sekitar 200 meter dari kampus dan berhenti disebuah restoran keluarga cepat saji bertuliskan 'Hoki-Hoki Bento'. Wajah Eren seketika ceria melihat sepasang patung lucu berukuran besar didepan restoran.
"Sir Levi! Apa itu sir! Itu lucu sekali!"Tanya Eren menunjuk patung itu dengan gembira.
Levi mendengar bocah itu tetapi dia enggan menjawabnya karena dia masih ingat untuk tidak bicara dengan Eren ditempat tidak ingin dianggap orang aneh.
"Sir-sir! Lihat lihat mereka memasang tulisan berkedip-kedip!"Teriak Eren menunjuk tulisan berkedip-kedip diatas pintu restoran.
Lagi-lagi Levi mengabaikan bocah itu.
"Sir! Sir! Sir Levi!" Teriak Eren bersemangat. Bocah itu tanpa sadar menarik-narik lengan kemeja Levi membuat Levi mendesis jengkel dan diam-diam dia mejitak kepala Eren.
"Diam!"Desis Levi tampak kesal.
Mendapati reaksi Levi yang tidak bersahabat Eren mengerucutkan bibirnya dan mengikuti pria itu dan Mikasa kesebuah meja dipojokan.
Levi mendudukan dirinya berseberangan dengan Mikasa sehingga keduanya berhadapan. Masing-masing meraih buku menu yang tersedia dan mulai membuka-buka halamanya. Eren yang penasaran dengan menu yang setoran itu sajikan mengintip dari belakang bahu Levi dan wajahnya berninar-binar kenuh kekaguman melihat gambar-gambar makanan dibuku menu. Semuanya tampak enak. Ahhh~ Andai saja dia bisa ikut makan.
"Mau pesan apa?" Tanya Levi mengalihkan perhatianya dari buku menu pada Mikasa yang tengah serius mengamati buku menu.
"Aku ingin chicken katsu dan nasi, Ebi goreng, sukiyaki dan es jeruk." Kata Mikasa seraya menutup buku menu dan meyingkirkanya ke bagian pinggiran meja.
"Baik. Kau tunggu disini sebentar. "Kata Levi kemudian beranjak dari kursinya. Eren mengikuti langkah pria itu tetapi bukanya ke langsung counter untuk memesan Levi malah pergi kearah toilet laki-laki.
Suasana toilet malam itu terlihat sepi hanya ada Levi dan Eren disana. Mengetahui tak ada siapapun disana Levi menghela napas. Dia berbalik untuk menatap Eren dengan tatapan dinginya.
"Dengar bocah! Aku sudah cukup lelah dengan ulahmu hari ini jadi untuk sekali ini saja jangan membuat masalah!" Kata Levi memperingatkan.
"Tapi Erenkan tidak membuat masalah apapun sir." Eren membela diri.
Setelah kenakalan yang Eren lakukan sore ini. Bagi Levi dengan hanya melihat bocah itu berada disekitarnya sudah seperti sebuah masalah untuknya. Dia merasa terganggu.
"Kau pergi dan tunggu aku didepan restoran!" Perintah Levi mutlak.
"Tapi sir?" Eren membuka mulutnya untuk memprotes tetapi melihat mood Levi yang sepertinya sedang buruk bocah itu memilih mengatupkan bibirnya lagi dan mengangguk dengan lesu.
"Baik." Kata Eren sendu.
Puas. Levipun keluar dari toilet dan langsung menuju ke counter makanan sedangkan Eren menuju ke depan resto seperti perintah Levi. Bocah itu berdiri persis didekat boneka ikon restoran. Berdiri sendirian seperti bocah tersesat menatap orang-orang yang berlalu-lalang dengan pandangan polosnya.
Andai jika dia manusia hidup mungkin sudah banyak yang menghampiri bocah manis itu untuk dengan perasaan simpatik dan perhatian. Tapi sayangnya dengan tak terlihatnya ia bagi manusia normal eksistensinya didunia seolah terabaikan begitu saja. Orang-orang hanya lewat begitu saja tanpa sekalipun menyadari bahwa ada seorang anak berdiri disana dengan perasaan kesepian dan dicampakkan oleh dunia ini. Sungguh bocah yang malang…
Eren mendongak untuk menatap langit yang malam itu tanpa awan dengan bola mata hijaunya yang sendu. Ada banyak bintang-bintang cantik berkelip-kelip dilangit tetapi keindahanya seolah tak mampu membuat perasaan bocah itu menjadi lebih baik.
Dia menyesal kenapa dia tidak hidup. Ah andai dia hidup pasti akan menyenangkan pergi makan malam dengan sir Levi direstoran ini…
.
.
.
"Aku pesan chicken katsu dan nasi 2, Ebi goreng 1, sukiyaki 1, es jeruk 1, Yakiniku 1, dan ocha dingin 1."Kata Levi pada gadis penjaga counter.
"Untuk meja berapa sir?"
"Meja 3."Jawab Levi datar.
" total XXXX Yen sir."Kata gadis discounter itu dengan senyuman sopan.
Levi mengeluarkan dompetnya, "Dapatkah aku membayar dengan kartu kredit?"Tanya Levi memastikan.
"Tentu saja."
Levipun mengeluarkan kartu kreditnya dan menyerahkanya pada gadis di gerakan cekatan tak sampai 5 menit Levi sudah mendapatkan struk pembayaran atas tagihan makananya dan kartu kreditnya kembali.
"Pesanan anda akan segera dibuat dan diantarkan ke meja anda ."
"Hm. Terima kasih banyak."Levipun kemudian pergi untuk kembali ke mejanya. Dia duduk ditempatnya semula. Mikasa menatap gerakan pria itu dengan ekspresi gugup.
"Maaf merepotkan sir."Kata Mikasa yang merasa tak enak hati.
"Hm."Gumam Levi sebagai balasan.
Keduanya kemudian terdiam sibuk dengan aktifitas masing-masing. Mikasa memperhatikan Levi diam-diam dengan wajah berpikir, dan Levi sibuk menatap keluar jendela resto dimana dari kursinya dia dapat melihat sosok mungil Eren berdiri didekat boneka besar didepan resto. Levi mengamati bocah itu dalam diam. Melihat bocah itu celingukan sendirian seperti itu membuat Levi merasa sedikit bersalah. Eren saat itu terlihat seperti bocah yang benar-benar menyedihkan dan kesepian bahkan yang mengiris hati adalah orang-orang tak ada yang terlihat peduli padanya.
Tapi tunggu—Kenapa Levi harus memikirkanya? Levi menggelengkan kepalanya mengusir pikiran-pikiran aneh yang tadi sempat hinggap dibenaknya. Dia tidak pernah terlalu peduli dengan seseorang dan akan sangat aneh jika dia peduli pada seseorang tetapi itu bukan manusia.
Tepat ketika itu seorang pelayan laki-laki datang menghampiri mereka dengan troli berisi makanan. Pesananya ternyata sudah jadi. Pelayan laki-laki itu meletakan satu persatu menu diatas meja, menatanya dengan rapi kemudian pamit pergi dengan sopan.
Levi menatap makanan dimeja dengan ekspresi puas.
"Itadakimasu." Kata Levi dan Mikasa hampir bersamaan. Keduanya meraih sumpit masing-masing dan mulai makan dengan tenang dan hening tanpa perbincangan apapun.
Tak seorangpun terlihat brusaha mencairkan suasana canggung yang terjadi dan Levi diam saja karena dia memang tidak tertarik untuk akrab dengan Mikasa. Tapi berbeda halnya dengan Mikasa yang terlihat begitu tertarik pada Levi karena pria itu bisa merasakan bahwa Mikasa berkali-kali mencuri-curi pandang padanya dan ketika Levi memandangnya balik gadis itu membuang muka dengan gerakan lucu, LOl~
Maunya apa sih? Batin Levi bete. Hal itu terjadi beberapa kali dan Levipun akhirnya menyerah. Dia harus mengatakan sesuatu!
"Waktu itu dirumah sakit. Apa yang kau lakukan disana?"Tanya Levi akhirnya memutuskan untuk mencari topik random. Dia hanya berniat basa-basi saja karena jika tidak dia yakin bahwa gadis didepanya itu tidak akan berhenti menatapnya.
Mikasa tersentak mendengar pertanyaan itu. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk menatap Levi dengan ekspresi gugup.
"Oh waktu itu… Saya menjenguk seseorang sir."
Levi hanya mengangguk sebagai respon. Dia melanjutkan makan dengan tenang. Sementara Mikasa terlihat semakin gelisah. Dia bahkan berkali-kali menatap pria didepanya dengan wajah berpikir keras.
"S-sir?"Panggil Mikasa ragu.
"Hm?" Dengung Levi sebagai sahutan
"Jika anda tidak keberatan dapatkah anda datang kamar vip nomor 46 di rumah sakit Rose?"
Deg.
Tubuh Levi seketika membeku karena keterkejutan. Dia mengangkat wajahnya dari mangkuk ditanganya untuk bertemu pandangan dengan Mikasa yang tampak tegang.
.
.
.
Menit-menit Eren lalui dengan kebosanan. Dia menghela napas mengamati orang-orang yang lewat dengan pandangan bosan. Dia ingin segera pulang. Begitulah kiranya yang dipikirkan bocah itu. Tapi kebosananya seketika lenyap melihat dari arah kejauhan tampak seekor anjing besar berbulu hitam tampak mengejar anjing kecil berbulu krem menuju kearahnya. Dua anjing berkejaran itu melewati tempat Eren berdiri membuat bocah itu dilanda perasaan marah karena menurutnya anjing hitam itu anjing yang jahat karena mengejar anjing kecil yang lemah seperti itu.
Merasa jiwa kepahlawananya terpanggil Eren mengikuti dua anjing itu.
"Ya heiii! Berhenti jangan ganggu dia!" Teriak Eren meneriaki anjing hitam itu tapi anjing itu tidak sedikitpun peduli pada teriakanya.
Tiga mahluk itu kejar-kejaran sampai disebuah gang kecil yang agak sepi. Itu adalah gang buntu. Anjing kecil krem itu terpojok karna tidak lagi bisa kabur. Eren yang melihat itu diliputi kengerian. Jika dia tidak melakukan sesuatu anjing itu pasti mati diterkam anjing buas hitam.
Beruntung. Eren menemukan sebuah batu didekat kakinya. Dengan kekuatanya dia melempatkan batu itu pada tubuh si anjing hitam besar.
Pluk!
Batu itu sukses mendarat di tubuh anjing hitam besar membuat anjing itu kini berbalik menatap Eren dengan pandangan marah. Anjing kecil krem itu ternyata cukup cerdik karena dia memanfaatkan kesempatan itu untuk berlari kearah Eren dan bersembunyi dibelakangnya dan cicitan ketakutan.
"Jangan ganggu dia!" Kata Eren melotot pada anjing hitam besar itu. Dia tidak sekalipun takut karena dia yakin 100% bahwa anjing hitam besar itu tidak akan bisa melakukan apa-apa padanya. Mahluk hidup kan tidak bisa menyentuhnya!
Ya setidaknya begitulah menurutnya sampai dia melihat sendiri anjing hitam itu menggeram semakin marah. Kemudian tubuhnya tiba-tiba membesar seukuran manusia dewasa. Matanya berubah merah darah sepenuhnya, taringnya memanjang dengan air liur yang menetes deras dan ekornya terbelah menjadi 2.
Eren menganga lebar melihat perubahan mengerikan itu. Itu! Itu bukan anjing biasaaaa! Teriaknya meruntuk dalam hati. Mengetahui bahaya yang mengintai nyawanya itu Eren cepat-cepat kabur dengan kecepatan penuh. Anjing kecil krem yang tadi sempat diselamatkan juga Eren mengikuti bocah itu untuk kabur.
Anjing menyeramkan yang terlihat seperti monster buas itu tentu tak membiarkan keduanya lolos begitu saja. Dia mengejar Eren yang kini berbelok kearah jalanan yang ramai oleh orang-orang. Eren berpikir bahwa anjing itu tidak akan mengikutinya sampai ke keramaian karena orang-orang akan melihat monster itu. Tapi ternyata dugaanya salah. Semua orang seolah tak ada yang melihat monster itu mengejar Eren. Orang-orang yang ditabrak oleh anjing itu terjatuh tetapi mereka tampak kebingungan karena tidak melihat apapun menabrak mereka. Iris hijau Eren melebar melihat itu.
.
.
.
"Kenapa kau bisa tau kamar itu?"Tanya Levi curiga..
"Itu kamar dimana ibu saya dirawat."Jawab Mikasa dengan suara tercekat.
Tak! Sumpit yang Levi pegang seketika terjatuh dimeja begitu saja. Dia menatap Mikasa dengan tatapan tak percaya. Apa katanya? Dia pasti salah dengar kan?
"Kau—Ini?"Levi berkata dengan seketika kosong dan sepertinya dia telah kehilangan kemampuan otak jeniusnya untuk beberapa saat.
Melihat respon Levi yang sudah sesuai dugaan Mikasapun merasa bersalah. Gadis itu menunduk dalam.
"Setelah dia meninggalkan anda menikah lagi dan memiliki anak yaitu saya,"
"Jadi itukah hal yang selalu ingin kau katakan padaku?"Tanya Levi mulai mengerti alasan Mikasa sering sekali menguntitnya dikampus selama ini dan kenapa gadis itu selalu terlihat ingin mengatakan sesuatu kepada Levi.
Mikasa mengangguk pelan, "Saya tidak tau bagaimana mengaku pada anda karena saya pikir jika anda tau, Anda akan langsung membenci saya sebagaimana anda membenci ibu anda."
Levi mengusap kasar wajahnya dengan matanya mengamati gadis didepanya dan dia merasa bodoh tidak pernah berpikir kemungkinan sampai sejauh itu bahwa Mikasa adalah adiknya. Pantas saja ketika Levi melihat punggung gadis itu dia selalu teringat dengan seseorang dan itu ternyata adalah ibunya. Perawakan mereka mirip , postur tubuh mereka mirip, tinggi badan mereka mirip dan wajah keduanya walaupun tidak sepenuhnya mirip tetapi Levi yakin begitulah wajah ibunya ketika ibunya seumuran mikasa. Oh Shit! Bagaimana mungkin dia selama ini tidak tau?
Melihat Levi yang diam Mikasa memberanikan diri mengangkat wajahnya menatap pria itu dengan pandangan sirat akan permohonan.
"Saya mengerti luka hati yang anda alami sir. Tapi bertahun-tahun setelahnya Ibu anda menyesali dosanya kepada anda. Dia datang ke stasiun kereta setiap hari berharap bisa bertemu dengan anda dan minta maaf. Tapi tak sekalipun dia bertemu dengan anda."
"..." Levi hanya mendengarkan dengan ekspresi datarnya. Dia tidak tau bagaimana harus merespon. Semua penjelasan Mikasa ini terlalu tiba-tiba dan sulit diterima.
Melihat Levi yang tampak dingin dan tanpa ekspresi membuat Mikasa tidak bisa menahan kecamuk dihatinya itu meraih selembar tisu dimeja dan terisak keras.
"Apa yang telah dia lakukan kepada anda memang tidak bisa dimaafkan. Tapi tolong! Untuk
sekali ini saja datang dan jenguk dia karena mungkin waktu dia tidak akan lama lagi."
Deg.
"Kau bilang apa?"Tanya Levi terkejut untuk yang kedua kalinya.
Mikasa terisak sejenak. Dia menghapus wajah cantiknya dengan lembaran tisu yang lain.
"Dokter bilang jantungnya semakin lemah setiap hari dan satu-satunya keinginanya adalah bertemu dengan anda dan minta maaf. Saya mohon sir~ Walaupun anda sudah tidak mengakuinya sebagai ibu dan anda tidak mengakui saya sebagai adik anda tolong jenguk dia. Dia benar-benar merindukan anda selama ini."Kata Mikasa disertai isakan pilu.
Levi menatap gadis menyedihkan didepanya dengan pandangan kosong. Hatinya tiba-tiba terasa sakit. Luka lama dihatinya sekarang ini seolah sedang kembali meneteskan darah. Levi menyentuh dadanya sendiri yang kini berdenyut nyeri. Dia tidak ingin merasakan perasaan ini lagi. Kenapa rasa sakit ini harus kembali dia rasakan?
Tak tahan dengan semua kenyataan dan omong kosong Mikasa. Levi tiba-tiba beranjak dari kursinya—meraih tasnya kemudian keluar dari restoran dengan langkah lebar dan cepat tanpa sekalipun menatap Mikasa yang menatap kepergianya dengan sedih.
.
.
.
Levi keluar dari restoran dan tak terkejut tidak melihat Eren dimanapun. Kemana bocah itu? Baru ditinggal sebentar saja sudah membuat kekacauan lagi pikir Levi jengkel.
Tapi dia berusaha tidak memikirkanya. Dia sudah kelelahan dan ingin segera pulang. Kepalanya juga sakit dan hatinya terasa berat setelah perbincanganya dengan Mikasa beberapa saat lalu.
Dia tidak susah-susah mencari Eren kali ini. Biar saja bocah itu hilang kemana. Toh malah bagus untuk Levi dengan pikiran itu Levi berjalan meninggalkan depan restoran. Dia bermaksud menuju halte bus didekat kampusnya untuk pulang. Tapi tak disangka ditengah perjalananya itu dia melihat Eren terbang ke arahnya dengan wajah ketakutan dan panik. Ada seekor anjing kecil berlari dibelakang bocah itu. Kenapa dengan dia? Pikir Levi heran. Tetapi keherananya itu terjawab sudah melihat angin besar dibelakang Eren. Angin itu seolah-olah punya bentuk dan membuat kekacauan bahkan mampu memotong daun dan ranting ditrotoar jalan. Apa itu angin puting beliung? Batin Levi tercengang melihat angin aneh itu.
"Sir Levi! Tolong Eren!" Teriak Eren ketakutan.
Levi masih diam ditempatnya memikirkan sebenarnya angin apa itu. Eren sudah hampir sampai ditempatnya begitupun dengan angin aneh itu yang mengejarnya mendekat. Levi mungkin saja akan ikut terhempas juga oleh angin aneh itu jika saja tidak ada sebuah kertas kuning tiba-tiba meluncur dari belakangnya.
Kertas kuning yang bersentuhan dengan angin aneh itu terbakar. Kertas itu menciptakan kobaran api merah membakar udara kosong tetapi kobaranya seolah-olah telah mengenai sesuatu yang tak kasatmata.
"Sir Levi lari!"Seru sebuah suara dibelakang Levi. Sebelum dia dapat berbalik untuk melihat siapa itu tanganya sudah lebih dulu ditarik oleh seseorang.
Seorang gadis bersurai kuning dan itu adalah Petra? Sedang apa gadis itu disini?
"Petra apa yang terjadi?"Tanya Levi bingung karena Petra tiba-tiba muncul dan menyeretnya berlari sekuat tenaga seperti itu. Keduanya berlari berlari mengikuti Eren.
"Lari terus sir! Kita harus menemukan tempat sembunyi!"Kata Petra dengan napas ngos-ngosan dan wajah lelahnya.
"Sembunyi dari apa?"Tanya Levi masih tidak paham.
"Siluman!" Jawab Petra.
Levi tampak terkejut dengan jawaban itu tetapi dia membiarkan Petra menariknya berlari.
"Eren cari tempat persembunyian.!" Teriak Petra panik.
Eren menoleh pada gadis itu dan mengangguk. Mereka berbelok memasuki sebuah kawasan taman dan bersembunyi disebuah wahana perosotan anak-anak. Petra mengintip dari celah kecil yang ada dan terkesiap melihat siluman berbentuk anjing yang sejak tadi mengikuti mereka telah sampai ditaman dan tengah celingukan mencari keberadaan mereka.
"Petra apa yang terjadi?"Desis Levi meminta penjelasan tetapi gadis itu sudah menutup mulut Levi dengan tangan agar pria itu tidak membuat suara apapun. Seolah mendengar suara Levi tadi anjing Siluman itu mendekati tempat persembunyian ketiganya. Hidungnya mengendus-endus sesaat dan mulutnya menyeringai dan kemudian dia mengibaskan ekornya kuat-kuat dan …
Duar!
Perosotan yang menjadi tempat persembunyian ketiganya tiba-tiba meledak dan ketiganya beserta anjing kecil terlempar dan berguling-guling ditanah. Levi merasakan seluruh tubuhnya nyeri tak tertahankan dia juga merasakan siku tanganya sakit tetapi dengan mengumpulkan semua kekuatanya dia perlahan bangkit. Bola matanya dia menatap puing-puing perosotan yang hancur dengan pandangan tak percaya.
Apa yang terjadi? Kenapa bisa tempat itu tiba-tiba meledak? Levi mencoba mencari jawabanya dengan mengedarkan matanya kesekitarnya tapi dia tetap tak bisa menemukan apapun yang mungkin bisa menjadi penyebab kejadian aneh yang baru saja dia alami itu.
"Ughhh~"
Erang Petra kesakitan menyadarkan Levi dari pikiranya sendiri. Gadis itu terhempas tak jauh dari Levi dan tengah dia berusaha bangkit. Levi menghampiri gadis itu untuk membantunya.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Levi memastikan.
Petra mengangguk.
"Kenapa itu tiba-tiba meledak?" Tanya Levi bingung.
"Sir! Kita harus menghentikan mahluk jahat itu!"Kata Petra menunjuk anjing siluman yang menatap Eren dengan tatatapan lapar. Tapi Levi yang tidak bisa melihat apa-apa pada tempat yang ditunjuk Petra hanya bisa mengernyitkan kening dengan ekspresi bingung.
Dia merasa aneh melihat Petra membuka-buka tasnya dengan panik dan mengeluarkan beberapa lembar kertas kuning lagi dari dalamnya. Ternyata itu bukan kertas kuning biasa. Ada tulisan-tulisan aneh seperti kaligrafi diatasnya yang membuat kertas itu terlihat seperti kertas mantra. Levi melihat Petra membasahi kertas itu dengan air bening dari dalam sebuah botol plastik.
"Air apa itu?" Tanya Levi penasaran.
"Air suci dari kuil! Ini bisa mengusir siluman dan iblis jahat!"
Anjing siluman yang semakin lapar itu berlari menuju ke arah Eren siap menerkamnya dengan sekali gigitan. Tetapi Petra yang melihat itu tidak tinggal diam. Dia bergerak cepat menuju Eren dan melemparkan kertas mantranya kearah anjing siluman itu. Tapi sayangnya anjing siluman itu cerdik dan dengan tangkas menghindar dngan gerakan gesit seolah mencemooh Petra.
"Manusia bodoh! Hahaha" Ejek anjing siluman itu menertawai wajah pucat Petra. Tangan gadis itu bergetar mendapati kertas mantranya hanya tinggal satu. Jika dia tidak berhasil mengenai siluman itu maka dipastikan besok dia tidak akan bisa pulang. Dia dan Levi pasti mati. Dia harus melakukan sesuatu. Petra menghembuskan napas panjang. Dia menatap anjing siluman itu dengan penuh tekad dan keberanian. Ini adalah kesempatan terakhirnya!
Gadis itu memikirkan sebuah rencana. Dia tiba-tiba berlari menghampiri anjing siluman itu tetapi anjing siluman itu hanya menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Kau mau mati?" Tanya Anjing siluman itu seraya tertawa kemenangan.
Petra tak gentar tetapi dia mempercepat larinya menghampiri anjing siluman itu dan setelah jarak agak dekat dia bersiap melempar kertas mantranya tetapi anjing siluman itu lagi-lagi menghindar dengan gerakan gesit.
"Bodoh hahahah!" Tawa anjing siluman itu menggelegar.
Tetapi tanpa dia sadari kali ini Petra berhasil mengimbanginya dalam sepersekian detik dan berhasil melemparkan kertas mantranya mengenai kaki depan siluman anjing itu. Bagian yang bersentuhan dengan kertas itu seketika terbakar oleh nyala api biru yang panas. Anjing siluman itu meraung kesakitan ketika api biru itu perlahan menggerogoti bagian kakinya bahkan api itu merambat naik menuju pangkal kaki dan leher.
Jika tidak dihentikan api biru itu akan membakar habis dirinya. Menyadari hal itu siluman anjing dengan mengandalkan cakarnya yang sangat tajam memotong kaki depan kananya yang terbakar. Tak ada darah yang keluar tetapi kakinya telah agak jauh dengan asap hitam dan terbakar sampai habis.
"Pendeta keparat! Berani sekali kau merusak kesenanganku!"Suara siluman anjing itu bicara dengan marah.
"Jangan ganggu bocah itu! Dia bukan makan malammu!" Balas Petra melawan.
Anjing itu menggeram marah.
"Kalau begitu kau saja yang menjadi makan malamku! Walaupun energi spiritualmu tidak seberapa tetapi sepertinya cukup untuk menumbuhkan kaki baru."
Petra mundur selangkah. Wajahnya terlihat tenang tetapi pikiranya berkecamuk memikirkan bagaimana caranya untuk bisa lari dari sini karena dia sudah kehabisan kertas mantra.
Disaat gadis itu sedang lengah memikirkan rencana baru siluman anjing itu memanfaatkan kesempatan untuk melompat kearah Petra! Gadis yang tak siap dengan serangan itu hanya bisa menutup matanya bersiap menerima jiwanya yang akan terkoyak.
Tanpa siapapun sadari Levi meraih botol air yang ditinggalkan Petra tadi dan tepat ketika siluman itu hampir mencapai Petra dia melempar botol itu dan airnya tumpah tepat diwajah siluman anjing itu.
"AAAAHHHHH!" Anjing siluman itu mengerang kesakitan merasakan rasa panas dari air suci itu mengenai bagian diwajahnya dan wajahnya yang basah terkena air suci menciptakan suara mendesis seperti suara bunyi daging yang dimasak.
"Aku tidak bisa melihat! Aku tidak bisa melihat!"Raung siluman anjing itu mengamuk menghancurkan apapun yang ada disana tanpa henti.
Levi tidak bisa melihat mahluk apapun tetapi dia bisa melihat samar-samar asap hitam ditempat siluman anjing itu berada.
"Kita harus cepat pergi." Kata Levi menyambar anjing kecil yang sejak tadi ketakutan dibelakang Eren kedalam pelukanya kemudian dia meraih lengan Petra untuk meninggalkan taman.
"Eren lari!" Teriak Levi memerintah menyadarkan bocah 7 tahun itu dari keterkejutanya.
Tak mau tertinggal Eren terbang menyusul Levi dengan gerakan cepat. Mereka berlari cukup jauh sampai kearah pusat kota yang ramai dan berhenti ditengah jalan dimana orang-orang sekitar berlalu lalang. Mereka mungkin aman disana karena disekitar mereka keramaian.
Petra dan Levi tampak mengatur napas sejenak.
"Apa kita sudah aman?" Tanya Levi menatap keselilingnya dengan was-was.
Petra mengamati sekelilingnya dan mengangguk. Levipun melepaskan lengan Petra dan mengatur napasnya yang memburu.
"Apa itu tadi?" Tanya Levi untuk kesekian kalinya.
"Itu siluman anjing sir. Siluman anjing adalah mahluk mistis yang tercipta dari roh anjing yang meninggal. Anjing yang memiliki dendam kepada manusia biasanya tidak akan mau berenkarnasi. Mereka memilih menjual jiwa mereka kepada iblis dan menjadi anjing siluman yang memakan roh manusia untuk bertahan hidup."
Levi menatap gadis itu dengan kening berkerut, "Jadi maksudmu anjing itu ingin memakan Eren?"
Petra mengangguk mengiyakan.
"Dia punya tekanan roh yang besar. Dia yang masih polos dan murni ini adalah mangsa kesukaan siluman seperti tadi. Sir mulai sekarang anda harus berhati-hati. Anda tidak boleh membawa Eren keluar dimalam hari. Terlalu berbahaya baginya."
"Aku tidak membawanya tetapi dia terus saja mengikutiku." Kata Levi kesal.
Petra tersenyum.
"Itu karena dia menyukai anda. Benar bukan?"
Levi berpura-pura tidak mendengar ucapan gadis itu dan memilih mengganti topik.
"Kau bagaimana? Apakah terluka?" Tanya Levi memastikan.
Petra menggeleng, "Tidak sir. Aku baik-baik saja dan anda?"
"Aku juga tidak apa-apa."
Petra mengangguk, "Sebaiknya anda segera pulang sir. Saya takut anjing itu akan muncul lagi."
"Ya kau benar. Aku akan naik taksi saja." Kata Levi setuju.
Petra mengangguk lagi.
"Bagaimana denganmu?"
"Rumah saya didekat sini sir. Saya akan jalan kaki saja."
"Kau yakin? Bukankah anjing itu bisa saja kembali kapan saja?"
Petra terkikik, "Sejak kapan anda begitu perhatian padaku sir?"
Levi hanya mendengus.
"Sir Levi tidak perlu cemas. Karena aku bukan target sebenarnya. Dia tidak akan berani muncul didaerah sini karena guru spiritualku rajin berburu didekat sini."
Levi tidak begitu paham tetapi karena dia ingin segera pulang jadi dia hanya mengangguk,
"Baiklah kalau begitu." Kata Levi lega.
"Dan anjingnya?" Tanya Levi teringat anjing kecil yang tanpa sadar kini dia peluk.
"Anda bisa merawatnya." Kata Petra mengelus anjing kecil dipelukan levi.
"Tidak mau." Tolak Levi enggan. Dia meletakan anjing kecil itu ditanah tetapi Petra segera memungutnya kembali dan menyerahkanya pada Levi. Pria itu menatap petra dengan tatapan protes.
"Anda akan membutuhkanya. Anjing adalah binatang yang sangat peka terhadap segala jenis roh dan siluman. Saya tau anda tidak bisa melihat siluman dan semacamnya karena itu anda akan membutuhkanya anggap saja sebagai alarm bahaya."
Levi dengan enggan menerima anjing itu kembali.
"Baiklah dengan terpaksa." Kata Levi setengah hati.
Petra hanya itu mengalihkan perhatianya pada Eren yang bersembunyi dibelakang Levi dengan wajah blanknya.
"Sudah-sudah Eren jangan takut. Monster itu sudah pergi. Kau aman sekarang." Kata Petra menenangkan seraya mengelus kepala Eren lembut.
Eren hanya menatap gadis itu dengan bola mata bergetar dan bola mata hijaunya perlahan basah.
"Maafkan Eren hiks~ Eren membuat semuanya dalam bahaya." Eren tiba-tiba terisak.
Bocah itu tampaknya merasa sangat terpukul dan ketakutan atas peristiwa mengerikan beberapa saat yang lalu.
"Psssttt Jangan dipikirkan Eren itu bukan salah Eren kok." Kata Petra menghibur.
Eren menghapus kasar air matanya dengan tangan.
"Tapi… tapi Eren telah membuat sir Levi dalam bahaya. Bagaimana jika tadi sir Levi mati?" Tanya Eren ketakutan.
Petra melirik Levi dengan senyum sedangkan Levi malah terlihat kesal mengendar ucapan Eren itu.
"Pletak!" Levi dengan sadis menjitak kepala bocah itu.
"Siapa yang akan mati semudah itu bodoh!"
Eren mengusap kepalanya yang sakit. Petra hanya tersenyum mengamati interaksi keduanya.
Setelah tangisan Eren berhenti Levi berpamitan pada Petra. Dia menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat dan pergi dari sana bersama Eren yang duduk disampingnya dengan wajah murung dan banyak pikiran. Lol
.
.
Levi memasuki rumahnya. Dia menekan saklar lampu dan ruangan menjadi terang oleh cahaya. Dia meletakan anjing kecil yang dibawanya dilantai. Anjing itu menggonggong dengan suara lucu seraya mengibas-ngibaskan ekornya terlihat sangat senang. Levi menghiraukanya begitu saja dia memilih berjalan menuju kamarnya. Dia melepas sepatunya melempar tas kerjanya dan kemudian tanpa mengganti bajunya dia menghempaskan dirinya ditempat tidur. Dia sempat mengernyit nyeri disikunya yang tertekan oleh tempat tidur. Tapi dia tidak peduli. Dia terlalu lelah malam itu untuk melakukan apapun dan semua kekacauan yang terjadi seharian ini adalah ulah Eren. Bocah sialan itu telah membuat hidupnya sial dan bermasalah. Huh! Harusnya Levi mengusirnya sejak lama.
"S-sir? Apakah anda sudah tidur?" Tanya Eren.
Levi masih terjaga tetapi dia enggan menyahut. Jadi dia hanya memejamkan mata. Perpura-pura tertidur.
"Maaf telah membuat masalah untuk sir Levi. Maaf telah membuat sir Levi dalam bahaya karena Eren. Eren berjanji tidak akan melakukanya lagi! Eren akan menjadi anak baik yang tidak menyusahkan sir levi lagi. Eren bersumpah! Jika Eren melanggar sumpah ini maka Eren janji bahwa sir Levi boleh menghukum Eren dengan cara apapun. Eren tidak akan protes".
"..."
"Sir? Anda dengar tidak?"
Levi sebenarnya mendengarkan tetapi tidak berniat untuk membalas. Dalam benaknya saat itu hanya ada satu kata setelah mendengar sumpah Eren yang menurutnya sebuah lelucon konyol itu.
"Idiot!"Pikirnya.
Eren yang mengira Levi sudah tidur dengan kekuatanya sebagai hantu menarik selimur untuk menyelimuti tubun Levi.
"Selamat malam sir Levi." Bisik Eren kemudian pergi dengan menutup pintu.
.
.
TBC
