Chapter #3
.
Disclaimer
Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.
Terdapat adegan dewasa. Diharapkan pembaca bijak dan tidak dibawah usia 17 tahun.
Warning
Cerita ini hanya fiksi semata, segala yang tertulis hanya untuk tujuan semata.
Note
Cerita ini terinspirasi dari Sugar Daddy yang sempat trending di Twitter. Penulis tidak bermaksud apapun dan sekali lagi ini merupakan hiburan semata.
Perhatikan
Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda.
Sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda.
Last
Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis berdasarkan tagar yang sempat trending di twitter. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.
Selamat membaca.
.
.
"Mari mulai dengan yang mudah dulu, Baekhyun"
Chanyeol berbisik lembut pada Baekhyun dan membuatnya merinding seketika.
Bisikan setan seolah membuat Baekhyun tidak menolak, juga tidak menerima perlakuan Chanyeol.
Tidak tahu mengapa, Baekhyun merasa dirinya diperlakukan tidak sewajarnya oleh Chanyeol. Dan Baekhyun terlalu bodoh untuk mengetahui itu.
Setiap sentuhan yang Chanyeol lakukan memberi reaksi pada Baekhyun. Tangan besarnya lebih dulu meraba bagian betis Baekhyun, kemudian membawanya hingga ke selangkangan.
Baekhyun mengunci mulutnya, menahan sesuatu yang seharusnya sudah ia keluarkan dari tadi. Sedang Chanyeol sibuk dengan selatan Baekhyun yang sudah menegang sempurna.
Dan Chanyeol bukanlah seorang laki-laki yang dapat menahan hawa nafsunya. Berjarak sebelas tahun dengan Baekhyun, membuatnya sudah layak disebut lelaki dewasa. Chanyeol bukanlah sosok yang haus akan seksualitas.
Puncak birahinya berada pada seorang pria yang kini sedang menutup mata pasrah di hadapannya. Bertanya pada dirinya sendiri bagaimana bisa remaja berumur enam belas tahun adalah orang pertama yang akan menikmati keperjakaannya.
Chanyeol menghujani leher Baekhyun dengan ciuman panas. Menghisap, dan berakhir dengan bercak merah, dan Chanyeol bangga akan itu.
Setiap hisapan yang Chanyeol beri mungkin memang menggairahkan sekaligus membuat Baekhyun merasa rendah.
Kurangnya pengenalan tentang hubungan seks tanpa ikatan resmi, nyatanya membuat Baekhyun tenang dan menerima setiap perlakuan Chanyeol terhadapnya tanpa protes.
Chanyeol kemudian mengalihkan tujuannya menuju bibir Baekhyun yang memang belum ia ajak berciuman. Namun reaksi Baekhyun berada diluar ekspetasi Chanyeol sendiri. Baekhyun mengalihkan wajahnya dari Chanyeol untuk menghindar.
Baekhyun mencoba menenangkan nafasnya, "Mengapaahh...haah... Daddy seperti ini?" Nyatanya, ucapan Baekhyun dengan setengah desah membuat Chanyeol merasa lebih tertantang.
Kemudian Chanyeol menarik pelan dagu Baekhyun, "Sst.. Baekhyun tidak usah banyak tanya, hmm? Ikuti saja kata Daddy, ini akan menyenangkan," Chanyeol mengatakannya dengan tenang sedang tone suaranya tegas untuk Baekhyun.
"...hanya akan sedikit sakit." Chanyeol menambahkan.
Dengan menenggelamkan semua perasaan buruknya, Baekhyun meyakinkan diri dan menyerahkannya pada Chanyeol yang notabenenya adalah orang yang baru ia kenal.
Sesuai perkataannya, Chanyeol bermain pelan dan tidak memaksakan Baekhyun yang jika pada akhirnya pria mungil itu malah akan memekik di telinganya.
Chanyeol menggendong keluar tubuh Baekhyun dari dalam bathup dengan gaya bridal style, sedang Baekhyun mengalungkan tangannya pada leher Chanyeol.
Kedua anak adam itu berjalan menuju ranjang ukuran raksasa dengan keadaan telanjang tanpa selehai benang pun.
Rasa takut semakin berkumpul dalam dada Baekhyun dan mengeratkan lemgannya yang bertumpu pada leher Chanyeol.
"Daddy..."
"Hmm?"
"Baekhyun takut." Si mungil mengeluh tiba-tiba, Chanyeol mengernyit. "Takut untuk apa, hm?" Suara berat berpadu dengan lembut Chanyeol bercakap pada Baekhyun nyatanya membuat hati anak itu luluh. Seketika urung mengungkapkan apa yang hendak ia sampaikan.
Tangan besar itu mengusap helai halus puncak kepala Baekhyun, "Ingat dua hal saat kau denganku Baek," Chanyeol mengambil jeda. Baekhyun mendongak bingung.
"Aku akan memberikan apapun yang kau mau asal—"
"Aku bersamamu." Baekhyun melanjutkan. Chanyeol mengangguk dua kali lalu tersenyum tipis.
"Juga, kau tidak perlu merasa takut pada apapun jika kau tetap bersamaku, Baekhyun."
Tiba-tiba Baekhyun merasakan detakan aneh dalam dirinya. Untuk yang kedua kalinya, namun kali ini sedikit berbeda. Lelaki mungil itu tersenyum merona dan menutup wajahnya dengan kedua tangan kecil itu.
Sekali lagi itu membuat Baekhyun ragu, berfikir apakah ia bisa mempercayai seorang yang baru ia kenal. Hanya dalam waktu beberapa hari.
Memang Chanyeol tak pernah melakukan hal buruk sejak pertemuan pertama mereka. Pria tinggi dengan rambut hitam legam itu selalu berlaku baik juga lembut padanya.
Hal itulah yang sesekali menjadi pertanyaan setiap kali Chanyeol mulai dekat dengannya.
Tidak salah bukan jika Baekhyun sedikit curiga. Setidaknya menaruh sedikit dari sekian banyak ruang yang nyatanya membuat Baekhyun lambat laun menjadi nyaman setiap kali Chanyeol bersikap lembut padanya.
Tidak perlu takut...
Baekhyun mengulang kembali kalimat Chanyeol dalam hati. Benar, Chanyeol selama ini baik dan lihat dari wajahnya. Apakah pria itu terlihat seperti orang jahat? Pedofil? Atau pemimpin geng mafia raksasa di Korea?
Seharusnya Baekhyun membuang jauh-jauh rasa khawatirnya jika Chanyeol mengatakan ia akan dapat apapun dan tak perlu merasa takut jika kau dengannya.
Dengan Chanyeol.
Baekhyun teringat, ia adalah seorang remaja. Remaja yang sedang melanjutkan pendidikan tingkat Sekolah menengah atas.
Tahun depan adalah tahun kelulusan.
Sekolah dengan senang hati memberi Baekhyun cuti seminggu akibat kemalangan yang menimpanya.
Hati siapa yang tak terenyuh ketika melihat remaja di usianya yang masih belia sudah ditinggal kedua orang tua.
Ibunya yang baru saja meninggal, Baekhyun seolah tak memiliki alasan untuk pulang.
Kalau di pikir-pikir, hidup ini seolah tak ada yang melarang lagi.
Untuk sosok Ayah, juga. Sejak saat itu Baekhyun bahkan tak sudi jika pria yang menjadi ayah kandungnya itu singgah di benaknya.
"Memikirkan apa hm?" Suara berat itu menyapa dari telinga kiri. Baekhyun tertegun, "Bukan apa-apa..."
Chanyeol ingat, Baekhyun sedang ada dirumahnya. Remaja itu bisa dibilang tunawisma. Mengingat rumah sewaan miliknya sudah jatuh tempo.
Lalu kini, dimana Baekhyun akan bernanung? Satu-satunya tempat yang menawarkan tempat tinggal dan fasilitas lengkap tidak lain adalah bersama Chanyeol.
Baekhyun tidak ingin merepotkan pria itu dengan tinggal bersamanya. Selama ini, Chanyeol memang selalu memperlakukan Baekhyun dengan baik.
Mulai dari membelikannya pakaian, makanan dan hadiah terakhir yang tak sempat Baekhyun sampaikan pada Malaikat tanpa sayapnya.
Pria mungil itu mendongak. Sungguh, Chanyeol berjuta kali lipat tampannya dilihat dari bawah sini.
Chanyeol mendekatkan tubuhnya pada Baekhyun yang mulai memejamkan matanya perlahan.
Wajah mereka berdua berhadapan. Baekhyun dapat merasakan terpaan hangat nafas Chanyeol. Mencoba memikirkan hal-hal baik dibalik pejaman matanya.
Baekhyun bukanlah anak yang kesepian, kurang perhatian, atau butuh kasih sayang.
Tapi entah mengapa, rasanya saat bersama Chanyeol ia merasakan seluruh perasaan aneh. Pria tinggi itu tak melakukan apapun, dia bisa merasakan nyaman bersamanya.
Setidaknya, sampai ia bisa merasakan hari esok.
.
.
Pagi selanjutnya, Baekhyun bangun dan mengusap kedua matanya. Mencoba mengumpulkan segala tenaga dan berjalan keluar kamar.
Seperti biasa, Chanyeol tidak pernah ada disampingnya di setiap pagi.
Tidak masalah, karena pria berusia 27 tahun itu sedang sibuk di dapur dengan beberapa potong roti serta selai.
Apakah Baekhyun menyukai sarapan pagi yang biasa ia santap dengan susu segar dari kulkas, begitu pertanyaan Chanyeol saat ia sudah melapisi beberapa roti dengan selai.
Dan beruntung, hari ini maid Chanyeol sedang libur hingga dua pekan. Sebenarnya ia ingin memanggil maid lain, melihat ini adalah kesempatan baginya agar Baekhyun bisa memiliki alasan bangun lebih awal untuk melihatnya menyiapkan sarapan.
Dan benar saja, pemuda mungil itu tersenyum kecil sedang Chanyeol mencoba bersikap biasa.
"Duduklah, akan kubuatkan sarapan." Chanyeol berkata lembut sambil menyapukan selai strawberry pada roti kemudian Baekhyun mendudukkan bokongnya pada kursi bar berwarna putih.
Matanya berbinar saat selai strawberry itu menjadi lapis roti.
Sudah berapa lama Baekhyun tidak memakannya? Kira-kira sekitar 10 tahun lalu?
Bagaimana bisa ia melupakan rasa manis kesukaannya yang menjadi makanan favorit semasa kecil.
Sayang, Chanyeol hanya mengoleskan sedikit dan Baekhyun mengernyit.
"Mengapa terlalu sedikit? Tambahkan sedikit lagi~" rengek pemuda itu.
"Tidak baik terlalu banyak memakan manisan, Baekhyun." Goda Chanyeol jenaka.
Wajah cemberut Baekhyun merespon Chanyeol yang kemudian tertawa kecil.
"Cium aku, disini. Kuberi sebanyak yang kau mau." Chanyeol kemudian menyentuh pipinya agar Baekhyun melakukannya disana.
Sebenarnya jika bukan ingin merasakan strawberry, Baekhyun pasti tidak akan melakukannya.
Tapi ini Chanyeol, dan juga strawberry.
Kedua hal yang menjadi favoritnya sekarang.
Baekhyun menunduk, berfikir bagaimana dia akan memulai sedang Chanyeol masih menunggu.
"Cepat, atau aku berubah akan pikiran." Ucap Chanyeol setelahnya.
Baekhyun langsung melayangkan ciuman dalam pada pipi Chanyeol.
Pria itu malah tersenyum sendiri dan keadaan menjadi kaku setelahnya.
Baekhyun menunduk kembali setelah mencium Chanyeol lebih dulu.
Namun Chanyeol menarik lengannya kemudian.
Karena bukan Park Chanyeol namanya jika kau hanya memberikan satu ciuman singkat di pipi, bukan?
.
.
Mereka berakhir di atas ranjang besar milik Chanyeol dengan Baekhyun yang sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Setelah kejadian semalam, Baekhyun tidak memberi kesempatan pada Chanyeol. Dan ia bisa menerima itu.
Berbeda dengan sekarang.
Entah efek apa, Baekhyun seolah tak memiliki tenaga apapun. Pemudia itu telah menghabiskan satu toples penuh selai strawberry kemudian Chanyeol mencium bibirnya ganas dan masih terasa manis selai dan khas mulut Baekhyun.
Chanyeol mencium ceruk lehernya meninggalkan bercak kemerahan disana.
Kemudian menuju bagian yang akan menjadi puncak pagi ini.
Dibawah sana, milik Chanyeol telah menegang sempurna. Rasa penasaran pada dirinya bergejolak saat mulut Baekhyun tak henti-hentinya mengeluarkan desah kenikmatan.
Chanyeol membantu Baekhyun melepaskan semua sesaknya dengan memainkan jari dalam lubang miliknya yang sudah basah.
Kemudian kedua jarinya ia jilat sesudahnya.
Air liur menjadi pelumas alami yang Chanyeol ambil dari lidah Baekhyun dan juga miliknya.
Lubang Baekhyun sangat basah hingga membasahi sprei.
Tanpa basa-basi apapun, Chanyeol melesatkan penisnya perlahan.
Baekhyun berteriak, matanya mengeluarkan air. Kedua tangannya berpegang pada sebuah bantal yang mengalasi kepalanya.
Chanyeol memegangi pinggang pemuda itu, mendorong masuk penis raksasanya pada lubang Baekhyun yang sangat-amat sempit.
Saat kepala penis itu berhasil masuk, cairan merah mengalir. Chanyeol sempat panik sesaat, namun ia tak peduli dan mendorong seluruh hingga memenuhi lubang Baekhyun.
Sempit, ketat, dan hangat. Penisnya seperti merasakan pijatan didalam disana. Chanyeol mencoba bergerak perlahan sedikit-demi sedikit.
Nyatanya itu malah membuat Baekhyun berteriak lebih dan tubuhnya basah karena keringat.
Itu membuatnya semakin cantik, Chanyeol mengusap tubuh mungil itu mulai dari wajah, pipi hingga berhenti di pinggang.
Kedua tangannya memegang pinggang Baekhyun, siap untuk menggerakkan penisnya.
"Akhh..." keluh Baekhyun. Chanyeol bahkan belum bergerak sedikitpun. Hatinya sempat iba melihat wajah pasrah Baekhyun dibawahnya.
"Tahan sedikit, Baekhyun." Bisik Chanyeol.
Pria itu bergerak cepat tanpa tempo yang tepat. Tubuh Baekhyun sangat terguncang saat pergerakan tiba-tiba tanpa perkiraan itu menusuk tubuhnya.
Lubang itu sangat sempit dan menekan. Jadi, Chanyeol pikir ia perlu membuatnya lebih luas sedikit.
Tapi nyatanya, penis itu malah semakin tertekan dan Baekhyun keluar lebih dulu.
Chanyeol membawa cairan putih itu pada Baekhyun dengan mulutnya yang terbuka kemudian menelan itu semua.
Chanyeol tesenyum kemudian.
"Haah, ahh. Kau... sangat ketat, Baekhyun!"
Chanyeol menampar sisi kiri bokong Baekhyun dan menyisakan bekas kemerahan disana.
Baekhyun masih menutup mata. Manahan seluruh sakit dan kenikmatan jadi satu.
Saat dirasa sudah cukup, Chanyeol memutar tubuh Baekhyun.
Disanalah ia melihat bokong putih dan padat milik pemuda berusia 17 tahun yang sangat indah.
"Ahh, Baekhyun, kau membuatku sangat ingin menusukmu!"
Kemudian satu tamparan mendarat di bokong kanannya dengan keras. Chanyeol kemudian memaju mundurkan dengan teratur dan Baekhyun sudah bisa menyamai pergerakan Chanyeol.
Satu tangannya memegang pundak Baekhyun dan satunya lagi menggenggam penis Baekhyun yang sudah lemas akibat pelepasan yang terus menerus.
Keringat mulai mebasahi Chanyeol setelahnya. Suhu ruangan menjadi semakin panas hingga Baekhyun berkata, "Chan, ahh, Daddy... s-sakit.."
Chanyeol sudah tak peduli. Dirinya berada di luar kendai. Tubuhnya semakin mempercepat tempo dan Baekhyun mendesah membuatnya semakin bersemangat.
Sedikit lagi, Chanyeol hampir sampai dan ia mencium dua belah bokong Baekhyun dan mendorong kuat kedalam kemudian disanalah pelepasan Chanyeol.
"Ha... kerja bagus." Kata Chanyeol kemudian tubuh Baekhyun ambruk setelahnya.
"Baekhyun? Baekhyun!"
.
.
Sebuah panggilan telepon berdering. Chanyeol mengangkatnya dengan malas.
Saat ia melihat nama yang memanggil bertuliskan Yoora Noona, Chanyeol segera menjawab.
"Sampai kapan kau mau meninggalkan anakmu, Chanyeol?"
To be continued...
.
.
Mari simpan tanggal 5 Juli 2019 sebagai panen momen Chanbaek atas jasa bapak Oh Sehun.
Sebagai rasa terima kasih, bakal ada karakter baru di kisah ini. Nantikan segera!
(Udah kaya iklan aja)
SUGAR DADDY
