Chapter #5

.

Disclaimer

Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.

Terdapat adegan dewasa. Diharapkan pembaca bijak dan tidak dibawah usia 17 tahun.

Warning

Cerita ini hanya fiksi semata, segala yang tertulis hanya untuk tujuan semata.

Note

Cerita ini terinspirasi dari Sugar Daddy yang sempat trending di Twitter. Penulis tidak bermaksud apapun dan sekali lagi ini merupakan hiburan semata.

Perhatikan

Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda.

Sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda.

Last

Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis berdasarkan tagar yang sempat trending di twitter. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.

Selamat membaca.

.


.

Seluruh rasa keingintahuan Baekhyun datang tiba-tiba. Banyak hal yang ingin ditanyakan pada Daddy-nya itu yang malah memilih pergi ketimbang berbicara padanya guna menjelaskan.

Setidaknya Baekhyun harus sadar diri. Dirinya bukan siapapun kecuali seorang remaja tunawisma sekaligus yatim piatu.

Hampir saja ia menangis mengingat kenyataan yang ada.

Seolah memiliki telepati, pemuda yang duduk di ranjang milik Chanyeol itu merasakan sesuatu yang datang.

Namun langkahnya aneh dan Baekhyun tak bisa selancang itu untuk pergi menghampiri sedang dia bukan siapapun disini.

Bagaimana jika itu pencuri? Atau bahkan polisi yang siap menangkapnya karena Chanyeol menyembunyikan remaja secara ilegal dalam rumahnya.

Baekhyun urung dan memilih diam selagi suara langkah itu semakin jelas ke arahnya.

"Oh?"

Disanalah tatapan mereka bertemu.

.


.

Chanyeol mempercepat langkahnya. Tak sabar sekaligus khawatir. Remaja yang dia tinggal itu tak tahu apapun. Belum ada pengenalan mengenai rumahnya dan Baekhyun hanya tahu jalan menuju kamar mandi dan ranjang.

Begitu sebaliknya.

Saat sampai di lift, perasaan aneh menyerang dan Chanyeol tak ingin itu malah membuatnya panik.

Dan saat ia membuka sandi pintu, menaruh seluruh kantung yang ia bawa pada meja bar dapur kemudian berjalan menuju kamarnya, disinilah dimulai.

"Oh halo, Chanyeol. Mengapa tak memperkenalkan dia padaku?"

Alisnya mengernyit wajahnya sangat serius dan Baekhyun hanya duduk dengan segala ketakutan yang ia hadapi, belum lagi wajah Chanyeol berubah menjadi menyeramkan, penuh amarah.

"Ikuti aku," Si tinggi menarik perempuan yang duduk di ranjangnya bersama dengan Baekhyun dengan tatapan ketakutan.

Si mungil mendengar bantingan pintu menutup hingga kedua bahunya terangkat—kaget.

.


.

Tangan wanita itu ia lepas dengan menyisakan bekas kemerahan dari tekanan jemari besar milik Chanyeol.

Wanita itu mendengus sebal dengan sakit yang ia rasakan dan lihat, wajah Chanyeol serius bukan main sedang dia tersenyum kecil.

"Wah, Chanyeol. Aku tak menyangka. Hebat, sangat hebat."

Tanpa menghiraukan cengkraman Chanyeol yang membekas, wanita itu, Yoora menepuk tangan dengan senyum paling lebar.

"Mengapa kau datang kesini?" Suara berat diiringi tatapan membunuh menjurus pada Yoora yang mengernyit balik.

"Apa aku perlu izin untuk mengunjungimu, adikku?" Jawabnya jenaka.

"Kita tak saling kenal. Sekarang pergilah."

Chanyeol menunduk dan mencoba menenangkan dirinya yang penuh dengan amarah.

Namun wanita itu malah meluruskan kakinya di sofa hitam ruang tengah tanpa merasa bersalah.

"Jahatnya.." Ucapnya sambil merenggangkan kedua kaki tangan dan di lihatnya kembali bekas di tangan kirinya masih jelas dan belum menghilang. Yoora mendecih sebal.

"Keluar selagi aku masih baik padamu."

Tapi yang dihadapan adalah seorang pria tinggi dengan mata serius dan tubuh yang tegang serta tangan yang dikepal.

Masih, tak ia hiraukan.

"Kenalkan aku dengan jalangmu yang baru itu~"

"KELUAR!"

Teriak Chanyeol menggelegar hingga Yoora tersadar dengan kedua bahunya terangkat serta matanya sempat tertutup untuk beberapa detik.

Yoora yang keras kepala itu akhirnya berdiri dan menatap Chanyeol yang jauh lebih tinggi.

"Dengar, kau boleh memiliki jalang di bawah umur tapi aku ingatkan, aku bukan seorang baby sitter dan sebaiknya kau memilih pilihan yang tepat, Chanyeol."

Wajah serius Yoora dengan penuh keyakinan berbicara dengan Chanyeol yang berdiri persis di depannya kemudian membuang muka.

"Jangan lari dari kenyataan, terimalah semua konsekuensimu."

Langkahnya menjauh dari Chanyeol yang masih berdiri di tempatnya.

Dan tersadarkan saat bantingan pintu sangat keras membuyarkan lamunannya.

Chanyeol tak hiraukan wanita itu dan segara menghampiri Baekhyun yang pasti sangat terkejut dengan semua ini.

Nihil.

Tidak ada siapapun di ranjangnya dan Chanyeol berpindah mencari dalam kamar mandi dan masih sama.

Keluar menuju ruangan lain dan tetap saja, tidak ada sosok yang ia cari.

Chanyeol mengacak rambutnya dan menggeram kesal hingga suara beratnya menjalar keseluruh ruangan.

.


.

Yang dicari sedang duduk di luar apartemen dengan kaos putih tipis yang menyelimuti.

Dingin menusuk hingga ketulang dan gigi gemetar akan suhu malam dan memaksa keluar.

Mengapa tidak, wanita itu datang tiba-tiba ke rumah milik Chanyeol. Baekhyun tak bisa bohong. Dia sangat cantik dengan rambut cokelat keemasan yang panjang dan berkilau. Matanya tidak terlalu sipit dan tubuhnya sangat ideal.

Baekhyun merendah, memikirkan segala hal yang merasuki otaknya dan dia benci itu.

Dia datang dengan tatapan sinis kemudian tersenyum tiba-tiba. Bagaimana Baekhyun tidak ngeri?

Diluar dugaannya, wanita itu malah mengelus rambutnya dan menatap wajahnya. Baekhyun tidak bodoh, beberapa detik lalu dia mungkin terlihat sangat jahat dan sekarang wajah ibanya membuat Baekhyun semakin ngeri sekaligus bingung.

Kedua tangannya memegang pundak remaja itu dengan penuh keyakinan. Dia tak berbicara apapun kemudian beralih dengan menggenggam tangan Baekhyun.

Tidak seburuk saat pertama kali dia datang, wanita itu kembali mengelus rambut hingga pipi Baekhyun yang mulai menirus.

Senyuman tulusnya menjalar dan Baekhyun kulum sendiri.

Setiap sentuhannya mengingatkan akan sosok Ibu yang berpulang beberapa waktu lalu. Baekhyun terenyuh sendiri.

Suasanya menjadi hangat kala itu dan berubah tegang saat Chanyeol yang datang tiba-tiba.

Baekhyun semakin tak mengerti dengan situasi saat wanita itu malah meminta Chanyeol untuk memperkenalkannya.

Sedang Chanyeol jelas terlihat marah dengan seluruh tatapan seriusnya kemudian menarik wanita itu keluar kamar.

Mengingat semua itu, Baekhyun merasa dia hanyalah benalu yang tinggal dirumah seseorang tanpa membantu apapun dan sekarang dia menghancurkan suatu hubungan.

Hubungan jenis apa yang mengikat Chanyeol dengan wanita itu dan yang pasti Baekhyun yakin mereka sangat dekat.

Semakin banyak hal aneh yang berputar di kepalanya dan Baekhyun menundukkan kepalanya guna menghilangkan semua dan itu tak bekerja.

Saat didengarnya langkah besar dan cepat dari belakang, kepalanya menoleh pelan dan tubuh besar mendekapnya erat.

Itu, Chanyeol.

.


.

"Aku pikir aku kehilanganmu," ucap Chanyeol dengan suara lirih memeluk Baekhyun yang hanya diam melongo.

Tak heran, tentu saja Daddy-nya itu menemukannya dengan mudah. Baekhyun tak kemanapun dan hanya duduk di halaman apartemen dengan suara kendaraan malam yang tak begitu ramai menjadi pengiring malam dinginnya.

Jelas ia dengar jantung Chanyeol berdegup kencang. Pria yang jauh lebih tua darinya itu memeluk erat dan tak main-main, Baekhyun refleks membalasnya kemudian mengelus rambut hitam miliknya kemudian.

Aroma tubuh yang sangat kentara, sangat jelas sama seperti di pertemuan pertama mereka.

Pria ini patut di acungi jempol karena telah berhasil merebut hati Baekhyun, sekali lagi dan terus akan begitu.

.


.

Pagi datang menjemput. Baekhyun yang terbangun lebih awal dengan sinar si jago merah menembus jendela.

Ingin bangkit namun tubuhnya terhalang lengan besar seorang pria yang masih terlelap dengan mata sembab dan kemerahan.

Wajah polosnya saat tertidur sekali lagi membuat Baekhyun terenyuh. Bagaimana bisa, jelas tadi malam pria ini dipenuhi tatapan amarah seolah ingin membunuh dan kini dia bisa berubah 180 derajat bedanya.

Bibir tebal itu Baekhyun kecup pelan dan pipinya memerah kemudian. Menyimpan malunya sendiri dan bersiap untuk bangun.

Lengan besar yang menghalanginya menarik tubuh Baekhyun kembali ke dekapan.

"Tetaplah disini," dengan mata tertutup Chanyeol berucap dan Baekhyun tak mengatakan apapun hanya mengangguk paham.

Rasa bingung dan canggung menyerang saat si besar tak ingin dia pergi kemanapun.

Saatnya Baekhyun untuk bertanya pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa setega itu meninggalkan pria dengan tubuh bongsor ini sendirian dan saat menemukannya ia sangat kacau dengan mata yang basah.

Baekhyun balas pelukan itu dan menaruh wajahnya pada dada telanjang Chanyeol.

"Aku disini."

.


.

Suasana pagi berubah menjadi canggung dengan Baekhyun yang selalu bangun lebih akhir dan Chanyeol yang sudah berdiri sambil menyiapkan sarapan.

Jelas matanya masih bengkak akibat menangis semalam dan Baekhyun merasa sangat bersalah akan itu akhirnya membuka suara.

"Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya si mungil sambil menggosok matanya yang masih melihat sesuatu tergambar kabur di otaknya.

Namun Chanyeol hanya tersenyum hingga lesung pipinya terlihat dan Baekhyum kaget akan itu.

Pasalnya, sebelum Chanyeol di radang amarah kemarin tak sekalipun ia melihat senyum Daddy itu diikuti dengan lesung pipi yang menjadi pelengkap.

Dan pagi ini menjadi awal pertemuannya.

"Kau sangat cantik saat tidur." Jawab Chanyeol yang sibuk dengan roti selai strawberry kesukaan Sugar Baby-nya itu.

Begitukah?

Si mungil mengulum senyum dan berusaha agar Chanyeol tak tahu betapa sulitnya menahan senyum tersipu tepat di depannya.

Dan kau begitu tampan saat tidur.

"Aku tahu itu." Jawab Chanyeol tiba-tiba seolah memiliki telepati dengan batin milik Baekhyun.

"Hm?" Remaja itu menatap Chanyeol bingung dan tersadar setelah melihat senyum Chanyeol terpatri di wajah tampannya.

Pria itu terkekeh kemudian mencium pipi Baekhyun sebagai ucapan 'Selamat Pagi' yang sempat ia lewatkan saat masih di ranjang.

Lagi, Baekhyun tak siap dengan perasaan aneh miliknya yang seolah membunuhnya perlahan dengan seluruh sikap manis Chanyeol terhadapnya.

Pagi itu sangat damai dan tidak siapapun menganggu ketenangan dua anak adam itu.

.


.

Sudah dua hari berselang dan saatnya bagi Baekhyun kembali kesekolah.

Jujur, masih berat baginya untuk pergi dan jika boleh ia lebih suka berada dalam hangan dekapan Chanyeol yang menemaninya belakangan ini.

Baekhyun sedikit banyak mulai berubah.

Daddy sudah membelikan seragam untuk Baekhyun kenakan tanpa mengambilnya dari rumah mereka karena untuk sampai kesana ternyata memakan waktu satu jam.

Pria itu sudah menyiapkan semua kebutuhan Baekhyun saat pertama kali dia datang.

Seolah yakin bahwa Baekhyun akan terus disana selamanya.

Baekhyun selesai dengan roti kesukaannya kemudian meneguk segelas susu yang Chanyeol siapkan untuknya.

Kemudian melenggang menuju pintu untuk berjalan kaki namun Chanyeol memanggilnya dan berkata tak ada jalan kaki lagi jika Baekhyun bersamanya.

Pria itu mengeluarkan mobilnya yang lain dan yang pasti itu berbeda dengan yang Baekhyun naiki kemarin.

Warnanya putih dan saat Baekhyun masuk, untuk pertama kalinya ia tersadar mobil saja bisa sebegitu indahnya jauh lebih layak dari pada rumahnya dulu.

Mereka tiba di depan gerbang sekolah dengan Chanyeol yang turun guna membukakan pintu untuk Baekhyun yang turun setelahnya.

Seluruh mata menatap pada mobil mewah dan pria tompan yang bersama dengan,

"Baekhyun? Pfft." Tawa seorang perempuan disana.

"Yang benar saja," sambung perempuan lain yang berasal dari salah satu kumpulan.

Dari jauh, Baekhyun dapat melihat kumpulan itu kini sedang menertawakannya. Chanyeol datang memegang tangannya tanpa mengatakan apapun dan masuk ke kawasan sekolah.

Semua pandangan tersita padanya yang dengan tampan melangkah masuk bersama dengan Baekhyun yang menunduk berusaha menutupi wajahnya agar tak ada yang tahu tapi usahanya sia-sia karena sejak tadi seluruh tatapan sudah habis menelanjangi Baekhyun.

Chanyeol datang menuju ruang yang bertulis 'ruang guru' kemudian berbicara pada seorang guru wanita yang jelas tersenyum palsu dan berbicara layaknya penggoda di klub malam. Bukan main manisnya.

Pertemuan itu guna untuk memastikan bahwa Baekhyun tak sepenuhnya sendiri dan ia memiliki seorang wali di sekolahnya.

Urusan selesai, Chanyeol keluar dengan mengecup pipi Baekhyun kemudian.

"Aku pergi." Ucapnya lalu pergi meninggalkan Baekhyun yang masih mematung

Baekhyun tersipu malu saat pria itu tiba-tiba melakukannya tepat di depan ruangan guru dan saat ini nyawa Baekhyun di pertaruhkan.

Antara seluruh guru yang menyaksikannya atau seluruh siswa yang diam-diam memotretnya.

Lagi, segala pikiran buruk kembali menyerang.

Kepalanya menggeleng guna meniadakan segala pikiran buruk dan berjalan menunduk hingga tiba di kelas.

"Selamat datang kembali, Byun pelacur Baekhyun."

.


.

Chanyeol menginjak gas dan berlalu dari sana dengan kecepatan penuh.

Dan tiba di rumah serba putih yang paling benci ia datangi.

Dengan seluruh keterpaksaan dan berulang kali memikirkannya. Akhirnya Chanyeol sudi mendatangi tempat yang mereka sebut rumah.

"Wah, kau datang akhirnya." Yoora menyambut dengan seluruh senyuman dan Chanyeol memasang wajah muak.

"Chan..yeol?" Seorang perempuan berbaju serba putih muncul dengan menggendong seorang bayi.

.


.

Tempat ini terasa seperti neraka. Ternyata benar, lebih baik jika dia bersama Chanyeol saja dan tak perlu repot-repot pria itu mengantarnya ke neraka seperti ini lagi.

Apa yang kau pikirkan Baekhyun...

Bukankah selama ini alasan ia bersekolah adalah untuk mengejar prestasi dan kemudian menghasilkan pundi-pundi uang untuk kemudian ia nikmati bersama orang yang disayanginya yang ternyata meninggalkannya lebih dulu.

Pahit tiba-tiba menyerang dan membuatnya reflek menitihkan air mata.

"Lihat si jalang menangis"

Ucap salah seorang perempuan dari sudut kelas diiringi dengan tawa seluruh kelas sesudahnya.

Baekhyun yakin, seluruh kelas telah membicarakannya banyak hal buruk hingga akan lebih baik baginya untuk mati saja.

"Hentikan." Seorang anak di samping Baekhyun bersuara. Dia tak lain adalah ketua kelas yang selama ini selalu diam.

Bahkan Baekhyun tak ingat kapan terakhir kali mendengarnya. Kapanpun itu, intinya sekarang dia sedang menatap sinis anak perempuan yang tadinya tertawa kemudian berhenti.

Seakan merasa di selamatkan, Baekhyun berniat mengucapkan terima kasih namun si ketua kelas menarik tangannya membawanya keluar dari neraka itu.

Merekan tiba di atap sekolah dan saling pandang kemudian. Baekhyun jelas bingung.

Anak itu memeluk Baekhyun tulus dengan sedikit isakan terdengar sesudahnya.

"Aku turut berduka Baekhyun, pasti sangat berat untukmu." Berharap bisa mengintip papan nama ketua kelas yang ia lupakan namanya itu dan hampir saat berhasil melihatnya sedikit, Baekhyun ketahuan dan pelukan berakhir dengan canggung setelahnya.

Berhasil, Baekhyun melihat papan nama itu dan jelas terukir nama Doh Kyungsoo.

Kyungsoo...

Batinnya dan lega saat mengetahui nama orang yang ia dapati dengan wajah memerah dan mata sembab.

"Mengapa menangis?" Tanya Baekhyun seolah tak ada hal yang terjadi diantara mereka.

"Dasar bodoh," Anak bernama Kyungsoo itu menhapus basah di pipinya dengan lengan seragam miliknya.

"Mulai sekarang kita teman dan jangan pernah ragu untuk menyapaku." Kyungsoo berucap kemudian.

.


.

Yoora, Chanyeol dan seorang wanita semuanya melayangkan pandangan satu sama lain.

Dengan Yoora yang selalu tersenyum dan Chanyeol yang diam mematung.

"Chanyeol kau datang, aku-" perempuan serba putih itu berucap namun Chanyeol memotong kalimatnya.

"Segera urus surat perceraianmu denganku."

To be continued...

.


.

Sampah (lagi) :

Mikir keras gimana supaya konflik ga berat dan TEDENG! Berat ga berat udah aku dietin kok konfliknya beb, ehehe

Boleh minta sesuatu ga..

Review, boleh?

Terima kasih!

Regards, potato—nim.


SUGAR DADDY