Chapter #6

.

Disclaimer

Apapun yang tertulis disini hanya fiksi belaka. Penulis tidak bermaksud untuk mencemarkan nama EXO dan tokoh lainnya. Jika terdapat kesamaan dengan kejadian nyata, maka itu murni ketidaksengajaan penulis.

Terdapat adegan dewasa. Diharapkan pembaca bijak dan tidak dibawah usia 17 tahun.

Warning

Cerita ini hanya fiksi semata, segala yang tertulis hanya untuk tujuan semata.

Note

Cerita ini terinspirasi dari Sugar Daddy yang sempat trending di Twitter. Penulis tidak bermaksud apapun dan sekali lagi ini merupakan hiburan semata.

Perhatikan

Sugar daddy adalah istilah slang untuk menyebut pria yang menawarkan dukungan finansial maupun materiil kepada seseorang yang lebih muda.

Sugar daddy merupakan sebutan untuk pria dewasa kaya yang menghabiskan uangnya demi membelanjakan kekasih maupun simpanannya berbagai barang. Kekasih atau simpanan tersebut biasanya berusia jauh lebih muda.

Last

Segala tulisan dari cerita ini merupakan fiksi penulis berdasarkan tagar yang sempat trending di twitter. Penulis tidak bermaksud apapun. Maksud dari tulisan ini hanya untuk hiburan semata.

Selamat membaca.

.


.

Seperti berjalan di antara bebatuan tajam tanpa berlasakan apapun. Langkahnya ia seret dengan pandangan menunduk kebawah sedang sosok disebelahnya berbanding terbalik.

Mata burung hantu itu malah melayangkan kembali seluruh tatapan sinis siswa yang memenuhi lorong dengan segenap bisikan dan sesekali cercaan menghujani.

Bukan untuknya, melainkan yang disamping sedang bersusah payah menjadi tuli setidaknya untuk beberapa saat hingga lemparan kebencian itu berhenti padanya.

Kedua remaja itu masuk ke kelas yang tak kalah memanas dengan tiga orang perempuan menyambut di pintu masuk.

Dadanya besar hingga seragam itu hampir meledak dan kancing itu seakan meminta tolong.

Bibir merah berlapis tint itu tersenyum, tatapan matanya meneliti dari bawah hingga ujung rambut kemudian mengangkat dagu yang sedang menunduk.

"Singkirkan tanganmu." Kyungsoo berucap tegas. Tak berpengaruh apapun.

"Well, membuat kematian palsu dan menjadi pemurung demi sejumlah uang? Baekhyun bisa, benar bukan?"

Satu tamparan keras mendarat indah tepat di pipi perempuan lancang dengan mulut kurang ajar itu. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Kyungsoo dengan nafas terengah dan sorot amarah.

"HENTIKAN!"

Semua bubar saat wali kelas datang dengan kayu panjang kemudian memukulkannya pada papan tulis dan para siswa hening seketika.

"Joohyun, Kyungsoo dan Baekhyun. Ikuti aku." Ucapnya yang kemudian berjalan menuju lorong luar.

Kyungsoo mendecih sebal dan tak lupa menatap sinis Joohyun dengan tatapan membunuh.

Tangannya menggandeng Baekhyun yang sedari tadi diam untuk menuntun keluar disusul perempuan itu dibelakang.

.


.

Mereka berdiri berjejer dengan Joohyun yang di tengah persis di depan wali kelasnya yang bernama Kim Jun Myeon.

"Bae Joohyun." Satu persatu secara bergantian ia menyebutkan nama ketiga anak didiknya di depan seluruh guru. Junmyeon sendiri tak tega tapi berpura-pura tidak tahu bukanlah pilihan.

Nafasnya ia tarik pelan, "Aku rasa tak perlu ada penjelasan apapun darimu." Lanjut pria berusia 29 tahun itu sambil menepukkan kayu panjang di genggaman pada tepapak tangan kiri.

"Saem.." Rengek Joohyun dengan wajah memelasnya terlihat bagai Dewi diluar namun Iblis di dalam.

Kayu itu ia hentakkan ke meja di belakangnya hingga rengekan Joohyun berhenti dengan dia yang menutup mulut rapat-rapat.

Junmyeon mengangguk dan kedua matanya menutup serta alis yang naik.

Kyungsoo disana siap memukul wajah pria didepannya namun ia urungkan ketika sadar bahwa mereka dipisahkan garis umur dan Kyungsoo dengan terpaksa harus hormat, mau tak mau.

"Kau," Kayu panjang itu mengarah lantang pada Kyungsoo yang terkesiap. "Jelaskan padaku, mengapa kau mengukir seni pada wajah Dewi Rembulan ini."

Jika boleh, Kyungsoo benar akan memuntahkan seluruh isi perutnya kehadapan, mendengar Pak Tua ini melayangkan godaan menjijikan itu.

Kyungsoo memutar bola mata dan menggidikkan bahu. "Aku rasa dialah yang lebih pantas menjelaskan."

Jawaban itu ia bagi pada perempuan yang berdiri disamping kirinya itu mengernyit kemudian.

"Yak! Mengapa aku—" Tangannya menempeleng kepala Kyungsoo refleks.

"Aku yang melakukannya." Baekhyun yang sedari tadi hampir dilanda bisu akhirnya angkat bicara.

Pernyataannya mengagetkan seisi ruangan begitu pula denga Kyungsoo yang mengernyit tak mengerti.

"Mengapa kau—" Kyungsoo berbisik pelan dan sesekali memindah tatapakan dari si tua didepannya kembali ke Joohyun dan Baekhyun sendiri.

"Tidak heran. Kalian berdua, kembali ke kelas." Junmyeon menyimpulkan senyum dan melambaikan tangan pertanda dua orang selain Baekhyun harus enyah darinya.

"Tidak! Aku! Aku yang melakukannya!" Kyungsoo berteriak dari kejauhan dengan tubuhnya yang dibawa keluar oleh salah seorang guru lainnya.

"Lepas! Baekhyun! Kau tidak—"

Hingga suaranya hilang dari balik daun pintu begitu pula dengan rupanya yang Baekhyun tak sempat lihat.

Joohyun berdiri disana dengan mengulum tawanya kemudian melepaskannya keudara bak menonton komedi paling lucu.

"Wanita gila." Tatapan sinis lainnya menghujani Joohyun yang masih berdiri dan merapihkan bajunya kemudian melenggang pergi meninggalkan Kyungsoo.

Di dalam sana, Baekhyun merunduk. Ia tak menjawab setiap pertanyaan yang menuju padanya dan tak sekali dua kali kayu itu di pukulkan ke meja dan Baekhyun terkaget.

"Skors selama seminggu kurasa impas dengan kelakuanmu."

Keputusan telah ditetapkan dengan guru lain yang mengangguk setuju dari meja masing-masing.

Baekhyun membungkuk pelan dan berjalan keluar.

Kyungsoo masih disana terkesiap saat pintu membuka dan menampilkan sosok Baekhyun.

"Harusnya aku yang bersaksi kesana bukan—" Kalimatnya terhenti dengan Baekhyun yang menahan pundak Kyungsoo. Hampir berjalan masuk kembali namun keputusan sudah bulat adanya.

"Tak apa Kyung. Aku pantas." Baekhyun kemudian tersenyum pahit dan menatap Kyungsoo dengan wajah sedih hampir menitihkan air mata.

Nafasnya ia tarik perlahan. Mulutnya seakan berat untuk mengatakan, "Maafkan aku, Baek." Yang bermata burung hantu menyesal dengan suara tulus.

Baekhyun menggeleng sekali lagi diiringi senyum keterpaksaannya. Kyungsoo muak.

Muak dengan kepalsuan Baekhyun yang nyatanya menyayat hatinya sendiri. Mengapa bisa Baekhyun membuat seolah dirinyalah antagonisnya disini.

Dengan tawarannya yang baru saja dia berikan sebagai tanda memulai hubungan dan disinilah mereka dengan Baekhyun yang seakan menarik busur panah di pihak yang benar.

Kyungsoo tak mengerti. Tujuannya adalah meringankan beban anak itu setidaknya satu, namun hari ini seolah melipat gandakannya menjadi seribu.

Baekhyun yang terdiam itu melenggang pergi dengan Kyungsoo yang masih terpaku di tempatnya.

Jika dia berniat untuk memikul beban yang di tanggung Baekhyun, maka tak ada gunanya jika dia hanya berdiri disini dengan Baekhyun yang pergi.

Kyungsoo membawa langkahnya pada pintu tempat Baekhyun keluar.

"Aku yang melakukannya. Aku punya bukti."

.


.

Di waktu yang sama, di tempat yang berbeda. Saat itu Chanyeol hanya berdiri mematung menatap sosok yang sangat tak asing baginya.

Ipar Yoora, wanita berambut pendek sebahu dengan wajah kecil dan bibir pucat, juga seorang bayi merah di gendongan.

"Chanyeol..." Perempuan itu menyebut pria tinggi yang hanya menatapnya kosong.

Bukan berarti Chanyeol tidak menyangka semua yang ia lihat disini adalah mimpi. Karena nyatanya pria itu memang pernah menanam benih pada perempuan itu.

Alasannya sederhana. Ibunya.

Dua tahun lalu, Chanyeol baru saja mendapat gelar sarjana kedua dan Ibunya sudah tak sabar agar putra bungsunya itu memiliki pendamping dan segera menimang seorang cucu.

Dari Chanyeol.

Namun jawabannya adalah gelengan kepala yang sedari dulu tak pernah berubah. Chanyeol tak pernah membahas tentang ketertarikannya membangun hubungan, terlebih itu adalah rumab tangga, belum sanggup ia bayangkan bahkan dalam khayalan sekalipun.

Setelah Ayahnya meninggal setahun sebelumnya, perusahaan mobil mewah yang telah menjadi warisan turun temurun itu turun kepada putra bungsu yang sudah sejak lalu dididiknya agar kelak ketiadaannya bisa digantikan pada orang yang tepat.

Dan pilihannya tak salah. Sangat tepat sasaran. Penjualan semakin bagus dan saham tak pernah turun. Semakin baik setelah Chanyeol mengelolanya sendiri.

Hari indah berganti suram saat Ibunya di vonis kanker darah dengan perkiraan umur yang hanya beberapa bulan.

Yoora, putri sulungnya sudah berkeluarga dan berhasil memiliki sepasang putra putri manis. Namun pernikahannya gagal dengan suaminya yang mengakhiri.

Wanita itu tak mengapa. Selagi ia masih memiliki dua malaikat sebagai alasan untuk hidup, juga Ibunya yang sangat senang dengan malaikat kecilnya itu. Perceraian tidak menjadikannya sebuah mimpi buruk.

Tapi senyum bahagia berubah masam setiap kali Chanyeol datang dengan senyum yang terukir diwajahnya dengan lesung pipi.

Wanita paruh baya itu masuk ke kamar dan hal ini terus terjadi hingga di penghujung hayatnya.

"Aku ingin kau menikah, Chanyeol. Dengan pilihanku, Yeun."

Matanya menutup dengan tangan yang baru saja mengusap lembut rambut hitam legam milik putra bungsunya yang disusul dengan raungan tangis yang pecah hingga keseluruh ruangan.

Esoknya Yoora menyusun acara sederhana guna menyatukan dua insan itu.

Dengan Chanyeol yang bahkan tak tersenyum seinci pun dan Yeun yang menjadi canggung.

Hubungan keluarga Park dengan Jung sudah terjalin sejak Nyonya Park di sekolah menengah, katanya.

Saat keluarga Park menanam modal pada seorang penipu yang hampir membawa seluruh uang mereka ke China dan disanalah keluarga Jung menangkap basah dan hubungan mereka terjalin erat hingga saat ini.

Acara pernikahan berlangsung dengan baik dan malam itu merupakan pertama kalinya Yeun seranjang dengan sosok yang bahkan baru ia temui.

Berbekal cerita orang-orang dan Ibunya, Yueun tak bisa menolak melainkan menerimanya lapang dada karena itu adalah permintaan langsung yang selalu di ajukan mendiang dulu.

Hingga kabar mengejutkan datang.

Yeun hamil.

Setahun setelah pernikahan mereka.

Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan. Mencoba menghapus semua ingatan yang tiba-tiba datang menyerang.

Pria itu melangkah keluar dengan Yoora yang berteriak memanggil namun Chanyeol sudah melaju kencangnya.

Baekhyun.

Nama itu terus terlintas di benak setiap saat.

Remaja yang baru ia jumpai nyatanya mampu membuatnya gila.

Diacaknya rambut hitam dikepala lalu membantingkan tangannya pada kemudi mobil.

Tepat sekali, Baekhyun berada di depan pagar sekolah pada jam makan siang dengan Chanyeol yang sudah ada disana.

Sebuah kebetulan, mungkin.

Pria tinggi itu turun menghampiri.

"Chanyeol..." Baekhyun menyapa, namun pria itu tak mengindahkan Baekhyun. Alih-alih menggenggam tangannya kemudian membawanya menuju mobil.

"Aku rindu." Tubuhnya ia bawa dalam dekapan kebingungan. Baekhyun pikir Chanyeol akan marah dengannya yang pulang lebih awal. Ternyata pria itu bahkan tak bertanya apapun melainkan ucapan rindu.

Tanpa basa basi, Chanyeol mengemudi dengan Baekhyun yang masih dilanda bingung. Seluruh perasaannya teraduk.

Disaat seperti ini, masih ada Chanyeol yang selalu disisinya. Baekhyun ternyata tak benar-benar sendiri.

.


.

Pria itu memberhentikan mobilnya dan membuka pintu untuk Baekhyun. Mereka berada di basement dan Baekhyun tak yakin dimana ia berada sedang si tinggi menggapai tangan Baekhyun yang satu untuk di gandeng.

Pipinya memerah dan dengan susah payah di sembunyikannya.

Sebuah lift tak jauh dari mereka berhenti menjadi tujuan Chanyeol.

Dan saat sampai, mereka berada di sebuah mall yang sangat besar dan bahkan Baekhyun tak pernah terbayangkan bisa berada disini.

Sorot mata orang-orang tertuju pada dua orang yang sedang bergandengan. Mengapa tidak, Baekhyun mengenakan seragam sedang hoodie abu-abu serta celana pendek membalut tubuh jangkung Chanyeol.

Sebuah toko mewah bernuansa putih serta coklat jadi tujuan.

Baekhyun tidak bodoh untuk mengetahui tempat itu merupakan salah satu toko mewah, melihat bagaimana karyawan pria dan wanita berseragam hitam menyambut ramah didepan.

Saat keduanya melangkah masuk, matanya tertuju pada etalase yang di penuhi tas-tas mewah.

Cara bagaimana tas itu di tempatkan, lampu-lampu yang menyinari setiap barangnya, serta pengunjung dengan tampilan elegan.

Dengan dirinya yang hanya seorang siswa yang sedang di skors datang kesana.

Siapa dia selain bukan siapa-siapa?

Kepalanya ia tundukkan. Meratapi dirinya dengan tampilan yang sangat tak pantas untuk datang ketempat seperti ini.

"Kau tidak, Baekhyun." Itu Chanyeol. Baekhyun mengerjap saat mengetahui si jangkung membuka suara.

Pria itu memberikan Baekhyun sebuah kaos untuk ia kenakan. Baekhyun mengernyit bingung.

"Untukmu." Ucap Chanyeol kemudian. Seorang pegawai wanita menawarkan dirinya untuk membawa Baekhyun ke ruang ganti.

Baekhyun tak sengaja melihat harga di label dan ia terkejut bukan main.

"4.708.640 Won?" Mulutnya terbuka mengucap setiap angka yang tertera. Baekhyun hampir menjatuhkan rahangnya sedang pegawai disana khawatir kemudian Baekhyun segera keluar.

Pegawai itu memberikan Baekhyu setelan lengkap seperti celana dan lainnya. Ia bilang bahwa pria tinggi disana yang menyuruhnya memberi yang terbaik di toko.

Baekhyun kaget bukan main. Chanyeol benar-benar memanjakannya tanpa melihat materi hingga pipinya memerah sempurna dan kedua sudut bibirnya terangkat.

Chanyeol berdiri menunggu Baekhyun mengganti pakaian dan ketika berbalik, remaja itu terlihat sangat rupawan dengan setelan kaos dongker dan celana jins yang cukup ketat.

Melihat itu, Chanyeol tersenyum. Bagaimana kain itu membalut kakinya dan matanya tertuju pada Baekhyun yang padat.

Tangannya Chanyeol raih untuk di genggam. Mereka pergi dengan senyuman yang masih terukir sempurna di wajah indah Baekhyun.

.


.

Baekhyun lupa kapan terakhir ia membeli baju.

Kapan terakhir kali dia membeli celana.

Juga, kapan terakhir kali dia bisa bersama seorang yang...

...dincintainya.

Kekar tangan Chanyeol menggenggam erat lentik tangan milik Baekhyun. Keduanya menyita perhatian pengunjung yang lain untuk sekedar berbisik atau bahkan memotret mereka.

Chanyeol tak ambil pusing dan terus melangkah.

Tempat selanjutnya adalah toko yang tak kalah mewahnya yang menjual gadget.

Baekhyun ingin protes. Si mungil takut uang Chanyeol terhambur hanya untuk dirinya yang bukan siapa-siapa.

Tanpa sadar, Baekhyun menarik pelan tangannya. Chanyeol kemudian menunduk dan mengernyit.

"Ada apa?" Si jangkung bertanya heran. Baekhyun menggeleng. Nyalinya berubah ciut saat hazelnya bertemu dengan gelap mata lain yang menatapnya serius.

Lagi, Chanyeol membawa Baekhyun ke toko serupa. Kali ini berbeda, tempat itu cukup ramai dengan pengunjung. Baekhyun tidak bodoh, tidak lain adalah toko smartphone dengan nuansa ke abu-abuan.

Matanya tertuju pada sebuah benda tipis yang cukup besar.

"Kau mau itu?" Chanyeol bertanya. Baekhyun diam dan fokus pada sehuah iPad berukuran sedang dan sibuk mencari game.

Sudah sangat lama rasanya, meninggalkan hobi yang telah sangat di gemari. Saat itu hanya sebuah komputer dan laptop super tipis yang dijadikannya media bermain.

Tidak cukup bodoh bagi Baekhyun untuk mengetahui bahwa dia bisa bermain beraneka ragam permainan dalam benda tipis itu.

Sejak teman sekelasnya sibuk dengan gadget mahal mereka di kelas, Baekhyun sedikit banyak merasa iri namun dengan berpegang pada keinginannya, bersiap-siaplah untuk tidak makan setahun.

Tanpa komando, si jangkung memberikan Baekhyun benda yang sejak tadi dipandanginya. Hazel itu berbinar, hampir lepas dari tempatnya.

Senyum tipis terukir, Chanyeol merasa bangga akan itu. Tangan-tangan besarnya menangkup wajah Baekhyun. Menatap kelam mata pria jangkung di hadapan. Jantungnya seakan berontak tak ingin memompa sedang nafas seakan tertahan.

Hanya sebuah balasan senyum yang ia beri tapi bagaimana bisa dia hampir melayangkan nyawa seseorang?

.


.

Keduanya tiba di apartemen hingga larut malam. Si mungil sudah menguap tanda mengantuk, sedang Chanyeol menggendong tubuhnya, membawanya menuju kamar.

Dibaringkannya tubuh Baekhyun dan mengelus pipinya lembut. Ia jemput bibir tipis itu dalam cumbuan panas yang memabukkan.

Rambut Chanyeol ia tarik pertanda Baekhyun ingin lebih secara tak langsung. Chanyeol menarik kaos hingga jeans milik Baekhyun hingga dilihatnya tubuh paling rupawan bahkan tanpa sehelai benang.

Chanyeol mendekati Baekhyun dan membisikkan sesuatu. Si mungil yang sangat sensitif itu tertawa saat mulut Chanyeol hanya berjarak satu senti dari telinganya sebelum ada satu kata terucap.

"Tetaplah disisiku,"

.


.

Malam itu sangat menakjubkan dengan pelepasan kesekian Baekhyun dan penetrasi ketiga Chanyeol pada dirinya.

Berakhir dengan Baekhyun yang selalu lebih dulu terlelap dan Chanyeol yang membesihkan seluruh tubuhnya.

.


.

Selalu, Chanyeol pergi lebih pagi dengan meninggalkan Baekhyun yang tertidur.

Setelah kejadian semalam, entah kenapa tubuhnya terasa mual dan lunglai. Bahkan untuk meraih secangkir air ia tak mampu.

Seluruh isi perutnya ia muntahkan dalam wastafel, berharap setidaknya ada yang di keluarkan namun hanya air dan liur yang dapat ia keluarkan.

Setelah lelah Baekhyun memutuskan untuk istirahat dan berharap rasa mual dapat hilang dalam pejaman mata.

Ternyata pikirannya cukup baik. Saat bangun tak terasa sudah jam delapan malam dan seharusnya Chanyeol sudah dirumah namun tak di dapatinya sosok jangkung yang di cari hingga pukul sebelas Baekhyun masih menahan kantuknya hanya untuk menyambut Chanyeol pulang.

Menceritakan kejadian aneh yang di alaminya hari ini. Berbagi cerita.

Baekhyun tak ingin menjadi benalu tanpa maksud. Setidaknya ia bisa menjadi rumah untuk Chanyeol, alasannya untuk kembali.

Nihil. Yang di tunggu tetap tidak datang hingga Baekhyun melihat jam yang sudah menunjukkan pukul empat pagi.

Ini aneh, selama Baekhyun disini tak pernah Chanyeol pulang lebih semenit pun.

Baiklah, mari mencoba berfikir. Chanyeol bukan seorang sepertinya yang harus pulang kerumah setelah bersekolah.

Dia pria matang yang memiliki pekerjaan. Dan bisa saja sewaktu-waktu lembur hingga pagi, Baekhyun mencoba berfikir positif.

Hingga ia lupa hari telah berganti. Lingkar matanya menghitam, tubuhnya lelah. Seluruh rasa mual di lawannya semalaman agar tak ketinggalan satu langkah pulang Chanyeol.

Suatu keajaiban, suara pintu terbuka menyapa telinga dan senyum merekah pada wajah lelahnya.

"Chan—"

Semua menjadi gelap.

To be continued...

.


.

Pesan :

Masih ada ga yg nungguin ini?ㅠㅠ


SUGAR DADDY