Naruto © Masashi Kishimoto

.

Teratai putih

.

Mempersembahkan

.

Keabadian dari Janji

.

Pair: Senju Hashirama x Haruno Sakura

Genre: romance, hurt/comfort

Rate: M

Warning : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s), OOC

.

Keabadian dari Janji

.

"Di hadapan para saksi dan keluarga. Aku, Senju Hashirama akan mengambilmu, Haruno Sakura sebagai istriku yang sah. Aku akan menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Aku bersumpah untuk menghargaimu, mengabdikan hidupku untukmu, setia kepadamu dalam pikiran, ucapan dan perbuatan hingga maut memisahkan. Aku akan menjadi suami yang akan selalu melindungimu, menjagamu dan tidak akan pernah berpaling darimu dalam setiap keadaan. Senang maupun susah selama hidupku. Inilah janji dan sumpahku kepadamu."

.

"Di hadapan para saksi dan keluarga. Saya, Haruno Sakura akan mengambilmu, Senju Hashirama sebagai suami saya yang sah. Saya akan menerima segala kelebihan dan kekuranganmu. Saya bersumpah untuk menghargaimu, mengabdikan hidup saya untukmu, setia kepadamu dalam pikiran, ucapan dan perbuatan hingga maut memisahkan. Saya akan menjadi istri yang akan selalu menghiburmu, menopangmu, mendukungmu, dan tidak akan pernah berpaling darimu dalam setiap keadaan. Senang maupun susah selama hidup saya. Inilah janji dan sumpah saya kepadamu."

.

.

Keabadian dari Janji

.

.

Mereka duduk di salah satu bangku di halaman depan kuil sekarang. Hashirama masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang ia pakai saat menemukan Sakura. Pada dasarnya, pakaian mereka bertiga masih sama dan tidak berubah. Mereka tidak repot-repot pulang dan berganti baju.

Ini tampak sangat aneh. Bahkan pendeta kuil memandang mereka dengan wajah penuh ketidakpercayaan. Bukannya apa. Mereka datang bertiga secara tiba-tiba dan meminta sebuah upacara pernikahan untuk Hashirama dan Sakura. Tanpa persiapan. Tanpa rencana. Tanpa apapun.

Orang mana yang tidak akan terkejut dengan kedatangan pasangan ingin menikah semendadak itu. Namun, pendeta tidak mengatakan apa-apa dengan keterkejutannya. Dia tetap melakukan sebuah upacara pernikahan yang khidmat untuk mereka berdua dengan disaksikan oleh miko dan adiknya, Tobirama.

Berbicara tentang Tobirama, pria itu meninggalkan mereka berdua di halaman. Dia sendiri tampaknya sedang berbicara dengan pendeta. Entah tentang apa, Hashirama tidak tahu dan tidak berniat mencari tahu. Itu meninggalkan Hashirama duduk berdua dengan istrinya.

Hashirama menatap langit.

Istrinya...

Dia sudah menikah sekarang...

Dan dia masih belum bisa mempercayainya.

Dia memiliki seorang istri sekarang. Seorang istri yang harus dia jaga. Yang nyawanya akan bergantung pada Hashirama. Terutama dengan musuhnya yang bertebaran di mana-mana dan ketidakmampuan Sakura untuk bertarung.

Siapa menyangka? Dia yang telah menolak habis-habisan untuk menikah di pagi hari, sekarang telah memiliki seorang istri yang akan mendampinginya sampai maut memisahkan. Dia menyadari beratnya kata-kata dalam sumpahnya. Sumpah dan janjinya sangat berat.

Hashirama memandang istri di sampingnya. Duduk tenang dengan tangan yang terlipat di pangkuannya. Tangan itu begitu polos. Jari-jarinya begitu polos.

Bodohnya Hashirama. Ini pernikahan mereka dan Sakura tidak memiliki cincin atau bahkan benang merah yang melingkar di jari-jarinya yang mungil. Itu hanya tampak begitu polos.

Tidak ada cincin apapun di rumah. Atau bahkan hanya cincin yang diwariskan orangtuanya pun Hashirama tidak memilikinya. Tidak ada tradisi untuk menurunkan cincin pernikahan dalam keluarganya. Jika sesuai kebiasaan, Hashirama seharusnya memberikan cincin yang telah sejak lama dia pesan untuk pernikahan mereka.

Namun pernikahan ini mendadak. Dia tidak memiliki waktu untuk mendapatkan cincin semacam itu. Hashirama hanya bisa menghela napas dan menelan kekecewaannya. Upacara pernikahan mereka jauh dari sempurna.

Akhirnya, Hashirama mengatupkan tangannya. Dengan mokuton membentuk sebuah cincin pernikahan untuk istrinya. Meskipun terlambat dan tidak sempurna, Hashirama ingin memberikan sesuatu untuk istrinya.

Setelah membuka tangannya, Hashirama memandang bentuk cincin kayu dengan ukiran yang cukup indah menurut standar Hashirama. Ukurannya tidak akan membuat tangan mungil Sakura nampak tenggelam. Hashirama tersenyum.

Dia kembali menatap Sakura. Kemudian mengambil tangan Sakura dari pangkuannya. Menggenggamnya dengan lembut. Hashirama mendapatkan pandangan bingung dari Sakura.

"Tanganmu sangat polos, itu membuatku merasa bersalah," Hashirama mengeluarkan cincin. "Aku mencoba membuat cincin ini seindah yang aku bisa," Kemudian Hashirama dengan lembut memasukkan cincin itu ke dalam jari manis kanan Sakura. Hashirama tersenyum puas. Cincin itu melingkar dengan tepat di jari Sakura. "Namun tampaknya tidak terlalu bagus." Hashirama tertawa canggung.

Sakura memandang jari tangannya yang dengan indah terhiasi oleh cincin dari Hashirama. Gadis itu diam, dan membuat Hashirama takut. Apakah dia telah melakukan kesalahan? Apakah dia tidak menyukainya?

Namun sejenak, Sakura tersenyum dengan lembut. "Ini sangat indah, Tuan. Sungguh."

Mata hijau itu tampak terpana memandang cincin di jarinya. Hashirama terdiam. Betapa pemandangan itu begitu indah di matanya.

"Kau tidak kecewa?" Tanyanya.

Sakura memandang Hashirama bingung. "Kecewa? Mengapa anda berpikir begitu, Tuan?"

"Kau menikahiku. Namun, aku bahkan tidak bisa memberikan upacara pernikahan yang layak untukmu. Tidak ada cincin, tidak ada shiromuku. Bahkan dengan menikahiku, kau akan mendapat banyak musuh." Ujar Hashirama khawatir.

Sakura menggelengkan kepalanya. "Saya tidak kecewa dengan upacara pernikahan ini. Saya bangga bisa menikah dengan Tuan Hashirama. Juga saya tidak takut dengan banyaknya musuhmu. Saya tidak tahu, namun saya hanya merasa tenang dan aman dengan bersamamu."

"Kenapa?"

Sakura mengangkat bahunya. "Mungkin karena sumpah dan pernikahan yang telah kita ucapkan?"

Benar. Sumpah dan janji pernikahan.

Hashirama akan memastikan bahwa dia tidak akan melanggar sumpah pernikahan yang telah ia ucapkan. Tidak akan pernah. Hashirama tersenyum dengan tekad.

"Kau benar. Sumpah dan janji itu tidak akan pernah aku langgar."

Sakura tersenyum kepadanya. Dia menatap jemari Hashirama. "Anda tidak memiliki cincin, Tuanku."

"Hm?" Hashirama mengikuti arah pandangan Sakura. "Ah kau benar."

Sakura memiringkan kepalanya. "Bukankah anda juga harus memakainya?"

"Haruskah?"

"Ya." Sakura mengangguk.

Hashirama membentuk wajah kekanakan. Dia membentuk sebuah cincin yang identik dengan milik Sakura. Hanya berbeda dalam ukuran.

"Nah aku memilikinya sekarang." Ujarnya menunjukkan cincin.

Dia sudah setengah jalan untuk memasukkan cincin itu ke dalam jarinya sendiri, sebelum Sakura menghentikan gerakan itu. Sakura memandangnya tidak setuju dan mengambil cincin itu dari tangannya. Meninggalkan Hashirama dalam kebingungannya.

Kemudian kembali, Sakura mengambil tangan Hashirama. "Tugas saya untuk memasukkannya ke dalam jemari anda, Tuanku."

Jemari tangan Sakura yang mungil menggenggam tangan Hashirama dengan lembut. Memasukkan dengan perlahan cincin itu ke dalam jemari Hashirama. Memunculkan beberapa ide di dalam kepalanya. Ketika Sakura akan menarik tangannya, Hashirama menghentikan dan menggenggam tangan Sakura.

"Biarkan aku melakukan sesuatu." Hashirama menutup tangan Sakura yang memiliki cincin dengan kedua tangannya. Menyalurkan untaian cakra ke dalam cincin mereka. "Dengan begini, jika kau dalam kesulitan, masukkan sedikit cakramu ke dalamnya, dan aku akan tahu."

Sakura memandang heran pada Hashirama. "Tapi, Tuan, saya tidak bisa menggunakan cakra saya. Saya hanya warga sipil sekarang."

Hashirama berpikir. Benar juga. Sakura tidak bisa mengendalikan cakranya. Namun ada satu cara. "Apa aku diperbolehkan melakukan sesuatu padamu?"

"Apa?"

"Dengan menyatukan inti cakra kita."

Sakura memandang skeptis. "Apakah cakra bisa bekerja dengan seperti itu?"

Hashirama tertawa. "Tentu."

"Bagaimana bisa?"

"Meskipun kau tidak bisa menggunakan cakra, kau masih memiliki inti cakra. Aku hanya menyatukan milik kita." Hashirama menjelaskan.

Sakura memandangnya bingung. "Tidak ada efek samping?"

Hashirama tersenyum. "Tentu saja ada. Namun untuk sekarang, tidak ada."

"Apa?"

"Dari yang aku pelajari, kita akan bisa merasakan satu sama lain dengan otomatis. Namun itu hanya terjadi jika ikatan kita disempurnakan. Jika belum, kita tidak akan merasakan hal semacam itu. Karena itu kau masih harus berusaha memikirkanku dengan sangat keras agar aku tahu apa yang kau rasakan."

"Yang anda pelajari?"

Hashirama mengangguk. "Aku suka mempelajari banyak hal. Begitulah aku menemukan topik tentang inti cakra dan ingin tahu apa yang bisa dilakukan olehnya."

Sakura mengangguk. "Apakah itu menyebabkan kita ketergantungan satu sama lain?"

"Tidak."

Sakura mengangguk lagi. "Kalau begitu anda bisa melakukannya pada banyak orang. Itu cukup praktis untuk memberikan titik koordinat pada sekutu, apalagi dalam perang."

Hashirama memerah. "Oh tidak. Aku tidak akan memberikan saran itu pada orang lain. Hanya padamu seorang. Bahkan dalam seluruh hidupku, hanya padamu."

"Kenapa?" tanya Sakura bingung.

Hashirama menggaruk kepalanya. "Karena itu tindakan yang sangat intim."

"Oh?" Wajah Sakura memerah. "Apa ini berbicara tentang penyempurnaan juga?"

Hashirama semakin memerah. "Kau tahu, penyempurnaan terjadi saat kita... uhm... di kamar... uhm... dan... dan memiliki dinding privasi hanya untuk kita berdua," Astaga Hashirama sangat malu. "Ini... tentang sesuatu... yang suami dan istri lakukan."

Sakura terdiam dalam pengetahuan baru ini. Dia merunduk mengerti. Wajahnya juga sama merahnya dengan Hashirama. "Baiklah, Tuan. Saya mengerti."

"Jadi, apa kau akan menerimanya?" Tanya Hashirama ragu. Sakura semakin menundukkan kepalanya. Hashirama dengan panik melambaikan tangannya. "Bukan! Bukan penyempurnaan. Hanya tahap sebelum itu. Kita tidak akan melangkah sejauh itu jika kau tidak menginginkannya."

Sakura terdiam. Membuat Hashirama panik dan ketakutan. Waktu diam Sakura sungguh mendebarkan dan membuatnya cemas setengah mati.

"Baiklah."

Hashirama tampaknya punya gangguan pendengaran. "Apa?"

"Mari kita lakukan, Tuan, tahap sebelum penyempurnaan itu," Sakura tersenyum. Kemudian dia tampak berpikir. "Bagaimanapun, suatu saat nanti kita juga akan menyempurnakannya. Kita adalah suami istri di atas segalanya," Matanya memandang lurus pada mata Hashirama. "Namun untuk sekarang, saya rasa saya cukup setuju dengan yang anda sarankan untuk menyatukan inti cakra kita. Lagipula, itu adalah cara Tuan untuk melindungi saya."

Hashirama takjub. Tidak menyangka akan mendapat jawaban seperti itu. Hashirama tersenyum. Kembali menggenggam dengan lembut tangan Sakura, memodifikasi sedikit sistem dalam cincin. Mencari jejak cakra Sakura yang lembut dan hampir tidak ada. Itu terasa begitu sejuk dan hangat pada saat bersamaan. Hashirama tidak akan mengelak bahwa dia menyukai perasaan ini.

"Sudah." Hashirama tersenyum.

"Sudah?"

"Ya."

"Itu..." Sakura masih memandang tangannya yang berada dalam genggaman Hashirama. "Cepat."

Hashirama tertawa. "Ya. Itu cepat."

Sakura tersenyum. "Namun, saya menyukainya."

Hashirama terdiam. Senyuman Sakura telah menghentikan waktu. Mereka terdiam seperti itu untuk beberapa saat. Hashirama juga akan menikmati keindahan dari istrinya.

Itu sebelum dehaman seseorang merusak suasana menenangkan itu. Hashirama memalingkan muka dan memandang adiknya dengan kesal. Anak ini sungguh perusak suasana.

"Apa kalian sudah selesai?"

.

.

Keabadian dari Janji

.

.

Hashirama memperhatikan Sakura yang tampak gugup. Sepanjang jalan terus meremas kedua tangannya. Hashirama juga memperhatikan bahwa Sakura menjaga dirinya cukup dekat dengan mereka. Tidak terlalu dekat untuk menyerang ruang pribadi, namun juga tidak cukup jauh untuk membuatnya berada di luar jangkauannya. Dia tidak ingin membuat Sakura tidak nyaman, jadi dia membiarkan Sakura tetap berada dalam jarak itu.

Di depan gerbang klan Senju inilah mereka berhenti. Hashirama dapat melihat bahwa istrinya memandang gugup pada gerbang yang berdiri kokoh. Gadis itu menyatukan tangannya dengan saling meremas. Bahkan, Hashirama dapat melihat bahwa Sakura telah beberapa kali menarik napas dalam.

Mekanisme koping istrinya yang Hashirama tangkap dalam perilaku sang gadis. Meskipun hatinya ingin merengkuh sang istri dalam pelukannya, namun dia tidak mungkin dia memeluknya di depan gerbang seperti ini. Tidak pantas jika dilakukan karena klan masih belum tahu tentang status Sakura.

Melihatnya tampak menderita, Hashirama mendekati Sakura. Dia tidak senang melihat sang gadis tampak tertekan. Hashirama memutuskan untuk meraih tangan Sakura. Menyatukan tangan mereka dalam satu genggaman. Dia meremas tangan istrinya untuk memberikan ketenangan. Ketika dia melihat mata emerald istrinya menatapnya, Hashirama tersenyum hangat.

Hashirama menguraikan kedua tangan istrinya yang tertaut dan saling meremas. Tidak melepaskannya. Namun, Hashirama menggenggam tangan kanan Sakura dengan tangan kirinya. Menarik Sakura dengan lembut untuk mengikutinya masuk ke dalam lingkungan klan Senju.

Biasanya setiap Hashirama berjalan, anggota klan akan menyapanya. Namun sekarang, selain menyapanya, mereka menjatuhkan pandangan ke arahnya dengan penasaran. Ah bukan ke arahnya.

Sakura.

Mereka mengarahkan pandangan kepada gadis yang tangannya dia pegang dengan erat. Dia tidak pernah begitu dekat dengan seorang gadis pun. Jangankan untuk memegang tangan, berjalan berdampingan dengan seorang gadis dalam jarak yang sangat dekat saja, Hashirama tidak pernah.

Jadi wajar mereka begitu penasaran dengan gadis ini. Gadis yang dibawa oleh kepala klan mereka dengan tangan tertaut erat.

"Tuan Hashirama. Anda telah kembali."

Yah. Meskipun dia sangat ingin mengeluh, Hashirama tidak akan melakukannya saat ini. Dia hanya mampu menghela napas tanpa terlihat. Dia hanya ingin membawa Sakura kembali ke rumah. Tanpa harus dicegat oleh siapapun. Dia sungguh tidak ingin membuat Sakura lebih tidak nyaman.

"Seperti yang anda lihat, Nobura-san."

Nobura memberikan senyum kecil untuknya. Tampaknya tidak baik untuk Hashirama. "Anda tidak datang ke pertemuan pagi ini, sehingga kami membatalkan pertemuan tersebut."

Hashirama hanya mengangkat tangannya yang tidak memegang tangan Sakura ke kepalanya. "Ah, saya harus mengurus beberapa hal."

"Dan jika saya boleh tahu, urusan apa itu, Tuanku?"

"Yah itu..."

Hashirama agak kesulitan menjawab ini. Dia tidak mempersiapkan apapun. Lagipula ini ide adiknya yang gila. Bahkan lebih gila darinya.

"Kakak dan saya sedang menjemput istri kakak saya, Nobura-san."

Terkadang dia hanya membenci mulut bocor adiknya yang memiliki tingkat kebocoran melebihi sungai tempat dia bertemu Madara.

"Maafkan saya jika saya bertanya, namun anda menjemput siapa, Tuanku?" Nobura tampak tidak percaya.

Oh sudah pasti dia tidak percaya. Bahkan anggota klan Senju di sekitarnya sudah berkerumun seperti semut. Bagaimanapun rasa penasaran mereka akan membesar sebesar shin susenju miliknya. Bagaimana mungkin mereka tidak penasaran dengan siapa pemimpin mereka menikah? Hashirama dikenal sebagai petapa. Dia tidak pernah terlihat dengan perempuan manapun kecuali Toka.

"Istri saya, Nobura-san." Jawabnya setelah menghela napas agak panjang.

"Dan bila saya diperbolehkan bertanya, siapakah gadis beruntung ini, Tuanku?"

Nobura sungguh memiliki kesabaran dalam bertanya. Padahal Hashirama sudah melihat beberapa kerut tidak terima di wajah salah satu tetua klannya. Cukup baik bahwa Nobura tidak membentaknya.

Jadi, Hashirama mengalihkan pandangannya pada Sakura. Gadis itu telah merapat pada tubuhnya. Mencari perlindungan dari tubuh Hashirama yang jauh lebih besar darinya. Tangan mereka masih saling bertaut.

Hashirama menyadari rasa ketidakamanan Sakura. Jadi, dia menaruh tangannya yang bebas di atas tangan Sakura yang bertautan dengannya. Menggenggamnya lebih keras namun lembut dan menenangkannya. Sakura mengangkat wajahnya. Memandang wajah Hashirama dengan bertanya. Hashirama hanya menganggukkan kepalanya. Mencoba meyakinkan Sakura, bahwa dia akan aman bersamanya.

Dengan perlahan, Hashirama menarik Sakura untuk maju dan menunjukkan sosoknya yang mungil. Hashirama tidak melepaskan tangan mereka.

"Ini Senju Sakura," Ujarnya memperkenalkan Sakura. "Istri saya, Nobura-san."

Hashirama melihat Sakura memberikan ojigi dan salam yang pantas untuk menghormati tetua di depannya.

"Senju?" Tanya Nobura.

"Ya. Dia istri saya, jelas bahwa dia akan memakai nama keluarga saya, bukan?

Nobura tampak berkonflik. Wajah itu tampak tidak puas. Hashirama dapat menebak apa yang ada di kepalanya saat ini.

"Sejujurnya, ini agak mengejutkan, Tuanku."

Itu tidak mungkin hanya 'agak'. Ujar Hashirama dalam hati. "Saya dapat melihatnya, Nobura-san." Hashirama hanya dapat tersenyum canggung.

"Anda pasti lelah, Tuanku. Saya rasa anda membutuhkan istirahat sebelum melakukan keharusan untuk menjelaskan segalanya kepada anggota klan nantinya," Nobura memandang Sakura. "Kemudian, Nyonya Sakura pasti lelah dan membutuhkan istirahat."

Hashirama mengangguk pelan. "Terima kasih, Nobura-san."

.

.

Keabadian dari Janji

.

.

"Kau pasti sangat terkejut."

Hashirama sedang memperhatikan Sakura. Gadis itu sedang memindai setiap sudut kamar mereka. Hashirama menyarankan mereka untuk memiliki kamar terpisah. Takut Sakura tidak nyaman untuk berbagi ruangan dengannya. Bagaimanapun mereka baru saja bertemu pagi ini.

Namun sekali lagi, adiknya yang gila menentang keras gagasannya. Memberikan argumen yang membuatnya tidak memiliki apapun untuk melawan.

"Apa yang akan kau katakan pada tetua, jika mereka tahu kalian tidur di kamar terpisah? Kalian sedang berpisah ranjang? Bertengkar? Menunda kehamilan? Jangan bodoh, Kakak!"

Jadi, disinilah mereka. Memiliki beberapa kecanggunan yang beterbangan di sekitar mereka. Kamarnya tidaklah istimewa. Hanya beberapa rak buku, lemari dan futon yang tersimpan rapi di balik lemari penyimpanan geser mereka.

Sakura berbalik untuk memusatkan perhatiannya padanya. Dia tersenyum tenang kepada Hashirama.

"Terkejut karena apa, Tuanku?"

"Karena semua ini. Menikah. Bertemu Nobura-san, dan berbagi kamar denganku," Hashirama agak merenung. "Hanya itu yang bisa kuingat."

Sakura memberikan tatapan berpikir. "Saya tidak terkejut dengan itu."

"Yah aku sudah menduga...," Hashirama terdiam. "Kau tidak terkejut dengan semuanya?" Sakura menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Lalu kenapa kau tampak bersembunyi tadi?"

"Saya hanya terkejut melihat banyaknya Senju di sekitar saya," Sakura tersenyum dengan hangat. Namun Hashirama memberikan tatapan tidak percaya, yang membuat Sakura agak ciut. "Saya menyadari saya bukan seorang kunoichi. Seluruh anggota klan Senju pastilah memiliki standar yang harus dicapai oleh istri anda," Wajah istrinya jatuh. "Saya rasa, gadis sipil tidak termasuk di dalamnya."

Hashirama mendekati istrinya yang tengah berdiri di tengah ruangan. Gadis itu menundukkan wajahnya menatap lantai. Tampak begitu sedih dan termenung. Membuat Hashirama ingin membuang semua kesedihan dari wajah cantiknya.

"Aku tidak berpikir begitu. Gadis sipil atau kunoichi. Aku senang bahwa itu kau." Ujar Hashirama.

Sakura mengangkat wajahnya. "Anda akan mendapatkan banyak pertanyaan, Tuanku. Tentang status dan asal saya. Bahkan mungkin beberapa argumen yang akan menentang pernikahan kita. Anda akan sangat kesulitan karena menjaga saya di sisi anda," Sakura menatap matanya. "Kemudian, meskipun saya tahu saya akan aman bersama dengan anda, itu tidak mengubah fakta bahwa saya hanya akan menjadi beban tambahan bagi anda karena anda harus menjaga saya. Mengingat saya tidak memiliki kemampuan seorang kunoichi lagi."

Sakura tidak takut akan keselamatannya. Dia takut dia akan menjadi beban baginya. Suaminya. Hashirama meletakkan tangannya pada pundak Sakura. Memberikan gadis itu senyuman menenangkan yang dia miliki.

"Aku tidak keberatan dengan semua pertanyaan yang mereka ajukan. Aku juga akan siap dengan setiap argumen mereka. Kemudian yang terpenting, aku tidak merasa terbebani untuk menjagamu tetap aman. Kau harus ingat sumpahku padamu. Jangan pernah lupakan itu, Istriku."

Hashirama kemudian melepaskan tangannya dari pundak Sakura. Menaruh tangannya di dagunya. Memberikan pose seolah berpikir keras.

"Lagipula, siapa aku ini sampai beruntung mendapatkan istri yang berasal dari masa depan?"

Sakura agak tercengang. Namun dengan cepat Hashirama memberikan senyuman bercanda padanya. Membuat Sakura sadar bahwa Hashirama sedang mencoba membuatnya tersenyum. Itu membuahkan hasil. Sakura memberikan senyuman lega untuknya. Kemudian diikuti tawa kecil.

Bukankah itu tawa yang indah? Ah, itu bonus yang indah untuk Hashirama. Aku bisa hidup hanya dengan melihatnya tertawa.

.

.

To be Continued

.

.

a/n:

Halo halo halo...

Berapa lama tidak apdet nih cerita ya? Lama deh kayaknya hahaha

Maaf ya. Bukannya sibuk atau apa, gak terbiasa dengan alur HashiSaku (padahal salah satu pair favorit), jadi susah aja gitu nyari inspirasinya. Jadi nih cerita akan lama apdetnya, ya karena itu. Inspirasi yang sulit.

Karena kebanyakan fanfic HashiSaku atau Sakura yang travel ke masa para pendiri, biasanya Sakura jadi BAMF (Padahal disini, Sakura adalah warga sipil). Atau kalau tidak, fanfic tipe adventure. Padahal aku pengen buat fanfic yang berfokus pada mereka berdua, bukan petualangan Sakura. Dimana mereka akan memiliki taburan gula beterbangan di sekitar mereka hahaha

Udah yuk. Bales review...

Kira Frost, nah iya. Hashisaku itu langka banget. Paling2 kalo gak MadaraSakura ya TobiramaSakura. Padahal suka banget sama Hashirama...

gene44 , Gracias por venir

Hikanee, benarkah tidak pernah mengecewakan? Hahaha terima kasih sudah menjadi pengunjung tetapku ya, aku ingin mengirim banyak cinta untukmu...

evabarros351 , ola brasil... eu consegui? Escrever Hashirama sempre foi divertido para mim. O personagem de Hashirama é muito brincalhão e alegre. Mito Uzumaki? Ainda estou pensando no que fiz por ele. No entanto, não acho que exista um triângulo amoroso. Afinal, o casamento de Mito e Hashirama foi político, não achei que eles tivessem amor entre eles no começo... De qualquer forma, obrigado pela resenha. Espero que sua outra revisão ... amor de mim #Desculpe, usei o google tradutor #Peace

Febrichan2425 , timeline cerita ini adalah sebelum Konoha terbentuk. Jadi masih ada di periode Uchiha vs Senju gituuuuu

hgwartslvr , Siaaaappppppp

whiteblackshf, terima kasih ya, semoga suka dengan chapter ini ya...

uciharu nona, Udah sayangku ...

allqkxxxt, udah nih cinta...

Ksari , terima kasih, nih udah nih sayang...

Untuk semuanya, terima kasih untuk para pembaca, siapapun yang nantinya memberikan tombol favorite dan mengikuti. Kalian harus tahu, aku sayang kalian...

Arigatou, minna-san…

Sign,

Teratai putih

.

Omake

.

Hashirama kembali memandang Sakura. Tampaknya baru menyadari sesuatu yang tidak sengaja lewat dalam percakapan mereka tadi.

"Ngomong-ngomong, apa maksudmu dengan banyak Senju di sekitarmu?"

Sakura agak terkejut. "Saya hanya mengenal satu Senju, Tuanku."

"Satu?" Hashirama terkejut. "Dimana yang lainnya?"

"Shisou saya hanya mengatakan Senju tidak sebanyak itu, dan mereka lebih senang menyingkir daripada muncul ke permukaan. Mungkin lelah dengan banyaknya perang yang mereka miliki." Jawab Sakura.

"Yah itu masuk akal," Hashirama terdiam. "Siapa shisou? Kenapa dia tahu tentang itu, jika Senju lebih suka menyingkir?"

Sakura memandangnya geli. Ini aneh. Istrinya belum pernah memandang dia seperti itu.

"Senju Tsunade. Dia adalah cucu anda, Tuanku."

.

End of Omake

.