Pair : Sasuhina
Rate : M
Genre : Angst, Romance, Drama
Warning: Typos, Full of Drama, Explicit Sexual Content, Explicit Language, Suspense, etc
It Can't be
Hinata mundur beberapa langkah. Ia melepas pakaiannya satu persatu membuat Sasuke membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dilakukan gadis di hadapannya.
Suhu tubuh Sasuke meningkat seperti terbakar melihat Hinata yang dengan santainya menanggalkan helai demi helai pakaiannya. "Apa yang kau lakukan?". Sasuke menahan tangan Hinata yang mencoba melepas helaian pakaian yang tersisa di tubuhnya.
"Bukankah ini yang kau mau, Uchiha-san?". Hinata menghempaskan tangan Sasuke dan melanjutkan apa yang sudah ia mulai.
Sasuke mengalihkan pandangannya, berbalik menjauh dan memunggungi Hinata. "Jika kau masih melanjutkannya, kau akan menyesalinya nanti, Hinata".
"Apa yang akan berubah, Uchiha-san?".
"..."
"Penyesalanku, apakah ada artinya bagimu?".
"..."
"Lagipula, tak ada yang tersisa sekarang".
Sasuke tahu apa yang Hinata maksudkan mengarah kemana. 'Naruto'. Kehilangan sahabat bodohnya membuat gadis itu kehilangan dunianya. Sungguh Ironis. Ia mengepalkan kedua tangannya kuat. Lagi-lagi, dia menjadi alasan gadis itu menderita. "Benarkah?". Tanpa pikir panjang ia membalikkan badannya, melangkah menghampiri Hinata dan menarik lengan gadis itu ke arahnya. "Kali ini kau sendiri yang mengundangku, Hinata". Bisiknya pelan sebelum akhirnya menciumnya.
Tubuh Hinata menjadi tegang seketika. Yang dikatakan Sasuke memang benar. Kali ini, dirinyalah yang memberikan peluang bagi pemuda itu untuk memiliki tubuhnya.
"Aku bukanlah orang baik yang akan pergi begitu melihat seorang gadis menelanjangi dirinya sendiri untuk diriku, Hinata". Bisiknya di antara ciumannya hingga membuat Hinata merinding mendengarnya. "Jika kau ingin menghentikanku sekarang, maka semuanya sudah terlambat". Sasuke mendekap tubuh Hinata, mendorongnya dan dengan cepat membaringkannya di sofa. Sasuke mencium leher jenjang Hinata sambil menopang tubuh gadis itu dengan lengan kirinya.
Sentuhan-sentuhan Sasuke di tubuhnya membuat Hinata tanpa sadar mencengkram lengan pemuda itu. Ia membiarkan Sasuke melakukan apa yang ia inginkan pada tubuhnya. Dan yang lebih buruk adalah, ia bisa merasakan area kewanitaannya mulai basah dan otot-otot vaginanya mengencang.
Tak pernah dalam hidup Sasuke begitu terobsesi pada tubuh seorang wanita. Gadis yang sekarang berada di bawahnya begitu menggoda. Untuk beberapa hari ia berhasil mengendalikan dirinya saat berada di sekitarnya. Ia seharusnya malu pada dirinya sendiri karena selalu membiarkan instingnya sebagai laki-laki mengambil alih dirinya. Ia seharusnya bisa mengendalikan dirinya sendiri. Tapi tidak. Yang bisa ia pikirkan adalah kesenangannya menjelajahi dan mencicipi bagian demi bagian tubuh Hinata. Dan kesempatan yang gadis ini berikan, membuatnya kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan membuatnya semakin menginginkannya. Seperti yang terjadi sekarang, ia tak bisa mengendalikan tangannya untuk menyentuh kulit lembut Hinata. Semua pada Hinata sangat menggoda. Ia menyeringai menemukan kelembaban di antara kedua kakinya. Ia membelainya pelan pada awalnya. Kemudian bergerak mengikuti ritme pinggul Hinata. Ia bisa merasakan getaran kecil yang mengguncang tubuhnya saat mendengar lenguhan kecil dari gadis di bawahnya. Ia menyapukan mulutnya di bibir Hinata yang sedikit terbuka, rahang hingga ke daun telinganya. Tangannya masih bermain dengan klitorisnya dan akhirnya menemukan titik kesenangan yang berhasil membuat tubuh Hinata menggeliat dengan permainan jari-jarinya.
Mimpi. Itulah yang Hinata harapkan pada situasi yang ia alami sekarang. Mungkin saja apa yang terjadi pada dirinya selama ini hanyalah mimpi. Mungkin saja kehidupannya selama ini tidaklah nyata. Sungguh miris. Berapa kali ia terus-terusan mengharapkan semua yang terjadi pada dirinya selama ini hanyalah mimpi buruknya saja? Pertama kali pemuda ini memperkosanya, ia juga berharap itu semua adalah mimpi. Kedua kali, ketiga kali dan kesekian kalinya ia terus berharap semuanya hanyalah mimpi. "Ahh". Ketika ia merasakan sesuatu yang memasuki kewanitaannya, ia sadar inilah kenyataannya. Napasnya tercekat saat Sasuke menekan dada bidangnya ke tubuhnya yang telanjang dan memeluknya erat. Ia bisa merasakan salah satu tangan Sasuke menjelajah sepanjang leher dan turun ke dadanya.
Tangan besar Sasuke meremas payudara Hinata. Ia menyukai sensasi yang diberikan gadis itu saat ia menyentuhnya. Ia terus menelusuri tiap bagian tubuhnya dan tak ingin melewatkan satu bagianpun.
Hinata mengeluarkan erangan tertahan saat Sasuke mengulum daun telinganya dan suara serak pria itu memanggil namanya. Erangan-erangan semakin keras saat ia merasakan gerakan keluar masuk dari Sasuke yang semakin cepat dan kasar. Kehangatan mulut dan lidah yang basah menyapu tiap jengkal tubuhnya. Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih dalam situasi seperti ini. Tatapannya kosong menatap langit-langit apartemennya.
"Aku menyukaimu, Hinata".
-Deg-
'Suka?'. Hinata tahu pasti, bukan suka seperti yang ia maksudkan. Arti suka bagi Sasuke hanya sebatas menyatunya dua tubuh. Ya, satu-satunya yang pria ini suka dari dirinya hanyalah tubuhnya.
"Apa yang kau pikirkan?". Sasuke melihat mata Hinata yang penuh kekhawatiran.
Hinata gemetar. Ia takut keputusannya akan semakin membuat situasinya yang sudah buruk menjadi semakin buruk. Jujur saja, ia masih dalam ketakutan luar biasa jika berhadapan langsung dengan Sasuke. Ia bingung bagaimana mengakhiri hubungan ini. "Tidak ada...".
"Apakah kau masih menyukai Naruto?". Sasuke menatap Hinata tajam.
Hinata mengerutkan kening tak suka. Ia tak suka jika nama Naruto keluar dari mulut Sasuke. Ia tak suka mendengar nama itu disebutkan saat situasi mengerikan yang ia alami seperti sekarang. Mendengar nama itu membuat hatinya sakit.
"Katakan padaku!". Sasuke menghentikan gerakan pinggulnya. "Apa yang membuatmu tak puas denganku?".
"Apa kau tak mengerti, Uchiha-san?".
Pertanyaan itu membuat Sasuke mengeratkan pelukannya. Ia tahu Hinata mencoba menahan amarahnya. Dan ia sangat takut dengan kalimat yang akan dikeluarkan Hinata selanjutnya.
"Aku hanya ingin berhenti".
It Can't be
"Apa yang membuatmu tiba-tiba menerima begitu saja perjodohanmu dengan gadis Hyuuga itu, Gaara?". Temari menghampiri adik bungsunya yang sedang menikmati suasana malam di balkon kamarnya. Ia baru saja mendapatkan berita dari Sasori, bahwa Gaara tak akan memutuskan pertunangannya dengan gadis itu dan akan melanjutkannya sampai ke jenjang pernikahan.
Gaara yang mendengar pertanyaan kakak perempuannya langsung mematikan rokok yang sudah tersisa sedikit dan membuangnya. "Tidak ada". Jawabnya tanpa menatap kakaknya.
"Apakah kau sudah mulai jatuh cinta pada gadis itu?". Temari menyikut lengan Gaara sambil tertawa menggoda.
Gaara tersenyum tipis. "Mungkin saja".
"Itu akan bagus jika pernikahan kalian nanti benar-benar dilandasi karena cinta...". Temari merenggangkan otot punggungnya. Ia benar-benar lelah dengan kegiatannya yang sehari-hari selalu sama. "Karena jika tidak... kalian akan berakhir dengan saling menyakiti satu sama lain".
"Kau bicara seperti orang tua yang cemas akan masa depan anaknya saja...". Kankuro yang datang dengan boneka kayu di tangannya akhirnya angkat bicara. "Kalian harus ingat rencana awal perjodohan ini..."
It Can't be
"Pagi-pagi begini Dei-nii sudah memberiku banyak masalah". Ino menggerutu sepanjang jalan area parkir kampusnya. "Apa yang akan kulakukan di kampus sepagi ini?". Ia ingin sekali menangis dan berteriak sekeras mungkin. Hari ini jam kuliahnya masih nanti sore dan ia sudah berada di kampus sekarang. Ia terpaksa berangkat pagi karena sepupunya yang tinggal serumah dengannya seenak hati mengundang mantan kekasihnya ke rumah untuk membahas masalah galerinya.
"Lepaskan aku Uchiha-san!".
"Tidak, sebelum kita bicara".
Ino mengernyit mendengar pembicaraan dua orang yang suaranya tak asing baginya. Ia mempercepat langkahnya menuju sumber suara.
"Kumohon tinggalkan aku sendiri!".
"Sampai kapan kau akan terus lari dariku, Hinata!".
Saat sampai ke tempat tujuan, Ino begitu terkejut melihat Sasuke dan Hinata sedang bersama di samping mobil yang ia tahu itu adalah mobil Hinata. "Apa yang kalian lakukan?"
"I-Ino-chan?". Hinata tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Sedangkan Sasuke masih dengan wajah stoiknya.
Ino menatap tangan Sasuke yang mencengkram pergelangan tangan Hinata. "Lepaskan dia, Sasuke!".
"Jangan ikut campur!". Desis Sasuke tak suka.
"Jika itu mengenai sahabatku, maka aku pasti akan ikut campur...". Ino menarik tangan Hinata yang digenggam Sasuke dengan kasar hingga membuat genggaman tangan Sasuke pada Hinata terlepas. "Apa yang kau pikirkan, Sasuke?". Tanyanya pada Sasuke sambil menyembunyikan Hinata di belakangnya. "Apa kau tak berpikir apa yang akan terjadi pada Hinata jika ada orang lain yang melihat kalian?".
Mendengar itu membuat Sasuke sadar. Situasi akan menjadi lebih buruk jika ada orang lain yang melihatnya bersama Hinata. Hal itu juga akan memperburuk hubungannya dengan Hinata. Jika ia berdebat dengan gadis Yamanaka itu sekarang, maka urusannya akan semakin panjang. Ia mengepalkan kedua tangannya menahan emosi. "Kita akan bicara lagi nanti, Hinata!". Ia menatap Hinata yang terus menundukkan kepalanya di belakang gadis Yamanaka itu, sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan mereka.
Setelah memastikan Sasuke sudah pergi menjauh, Ino menarik Hinata dan membawanya ke tempat lain.
"I-Ino-chan?". Hinata mencoba melepaskan genggaman tangan Ino yang semakin kuat pada tangannya, sampai tiba-tiba sahabatnya itu menghentikan langkahnya.
"Hinata-chan... apa kau menyukai Sasuke-kun?". Tanya Ino langsung pada intinya.
Hinata tak berani menatap Ino. Ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Tapi dengan segera ia menggelengkan kepalanya pelan.
Ino menatap Hinata iba. Ia tahu jika gadis di hadapannya sedang ketakutan dan tak berani mengatakan apapun. Dalam situasi seperti ini, ia tak seharusnya menanyakan hal yang membuat Hinata tak nyaman. "Hinata-chan... kau tahu sendiri jika Sakura tahu, maka-"
"Aku sudah tahu semuanya".
Ino dan Hinata membelalakkan matanya mendengar suara seseorang menginterupsi pembicaraan mereka. Mereka saling menatap dengan wajah terkejut hingga pada akhirnya tatapan mereka mengarah pada sosok gadis berambut merah muda yang melangkah pelan menghampiri mereka. Dengan panik Ino meremas genggaman tangannya pada Hinata yang membuat Hinata sedikit meringis kesakitan. "Sakura... sebenarnya-"
"Aku ada di sana Ino...". Kata Sakura membungkam mulut sahabatnya. "Malam itu aku juga di sana...". Ucapnya lirih. Tatapannya tertuju pada Hinata. "Malam itu aku mengikuti Naruto... dan aku mendengar semuanya...".
Mendengar pengakuan Sakura membuat Hinata dan Ino terbelalak kaget.
"Sa-Sakura-chan... a-aku".
"Selamat Hinata...". Sakura bertepuk tangan di hadapan Hinata. Kemudian ia menatap Ino dan memaksakan bibirnya menyunggingkan senyuman. "Lihatlah Ino... Kita sudah menemukan seseorang yang berhasil membuat Sasuke jatuh cinta...". Ia menatap Hinata lagi dengan raut kesedihan di wajahnya. Ia benar-benar merasa dikhianati. "Hyuuga Hinata... Gadis paling naif yang kita kenal... adalah satu-satunya gadis yang akhirnya berhasil menakhlukkan hati seorang Uchiha Sasuke...".
"Sakura dengarkan aku dulu!". Ino melepas genggaman tangannya pada Hinata dan menghampiri Sakura.
"Jangan coba-coba menjadi penengah, Ino!". Sakura terpaksa menaikkan suaranya. "Kali ini harus Hinata sendiri yang bicara".
Tangan Hinata gemetar. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia gelisah dan takut. Ingin sekali ia mengeluarkan kata-katanya untuk membela dirinya sendiri. Tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya.
"Jawablah Hinata! Apa benar jika kau pergi bersama Sasuke saat malam festival itu?". Sakura mengguncang tubuh Hinata. "Kau bahkan juga keluar bersama Sasuke di malam acara launching galeri sepupunya Ino...". Sakura tersenyum kecut. Melihat tatapan Hinata yang tampak ketakutan dan mulut gadis itu yang tak mampu bicara sudah membuktikan jika apa yang ia dengar dari mulut Sasuke memanglah benar. "Sudah sejauh mana hubungan kalian, Hinata?".
"Sakura, jika kau benar berada di sana... pasti kau juga tahu jika hanya Sasuke yang menyukai Hinata...". Ino melepaskan kedua tangan Sakura dari pundak Hinata dan memaksanya menghadap ke arahnya. "Hinata tak memiliki perasaan apapun pada Sasuke...".
"Lalu kenapa Hinata beberapa kali terlihat bersama Sasuke dan bahkan mau pergi berdua dengan Sasuke, Ino?".
Mendengar itu membuat Hinata bingung. 'bukankah Uchiha-san sudah memberitahu segalanya?'.
Ino terdiam dengan pertanyaan Sakura. Ia sendiri juga bertanya-tanya kenapa Hinata mau diajak pergi oleh Sasuke di malam pesta launching galeri sepupunya dan juga di malam festival kampus. Dari cerita Naruto, memang Sasukelah yang memaksa Hinata pergi bersamanya. Tapi Hinata bisa saja menolak dan lari darinya kan?
"A-aku sama sekali tak menyukai Uchiha-san". Hinata akhirnya angkat bicara dan mencoba membela dirinya . "Ku-kumohon percayalah padaku Sakura-chan".
"Kalau begitu buktikan pada kami, Hinata!". Sakura menatap Hinata tajam. "Buktikan jika kau benar-benar tak memiliki perasaan apapun pada Sasuke-kun!"
"Sudah cukup, Sakura!". Ino sudah tak tahan lagi. "Hinata tak perlu membuktikan apapun...".
"Aku akan mempercepat pernikahanku dengan Sabaku no Gaara". Kata Hinata pada akhirnya.
-TBC-
