"Sai."

Pria bersorot mata dingin itu memandang tuannya yang duduk diatas kursi mahal dengan cerutu disudut bibirnya, menunggu ucapan berikutnya yang akan menjadi tugas baginya.

"Kupercayakan tugas ini padamu. Incarlah putri penerus Yamanaka itu, dan hancurkan dia."

Tuannya itu kemudian meletakkan foto seorang gadis berambut pirang tersenyum manis memakai gaun biru dengan buket bunga ditanganya. Sai menerima foto itu, memandangi lamat- lamat. Pria yang duduk di kursi itu memandanginya dengan tajam.

"Kau masih harus membayar dosamu di masa lalu,"kata pria tua itu penuh penekanan.

Sai mengalihkan pandangannya dari foto itu. Kali ini ia mendongak menatap lawan bicaranya tanpa mengucapkan sepatah katapun. Selama dua detik ia membalas tatapan pria itu, ia akhirnya mengangguk.


.

This is a work of fan fiction using characters from the Naruto world, which is trademarked by Masashi Kishimoto. All of characters created and owned by Masashi Kishimoto and I do not claim any ownership over them or the world of Naruto.

.


Suurr... Suurr...

Ino menggoyangkan kaki telanjangnya yang tergantung dari kursi seraya memandangi pria kurus didepannya tengah menuangkan kopi hitam kedalam cangkir- cangkir keramik mahal. Aroma kopi yang wangi memenuhi dapur, ikut merileksasi siapapun yang menciumnya. Aroma kopi itu seolah- olah menawarkan aromaterapi yang cukup baik untuk menjadi penawar rasa lelah. Ino tersenyum ketika Sai meletakkan cangkir berisikan kopi itu ke depannya.

Sai menarik kursi dihadapan Ino, sembari duduk. Ino meniup pelan kopinya lalu menyeruput nikmat. Ia mendesah ketika sensasi hangat itu mengaliri tenggorokannya, membuat dirinya segar. Sai yang melihat dewi cantik itu menikmati kopi racikannya itu hanya tersenyum kecil, seraya menikmati kopinya sendiri. Sai memandangi Ino yang duduk memakai kemeja putihnya yang sedikit kebesaran ditubuh mungil gadis itu, menampakkan belahan dada karena kancing yang terpasang hanya beberapa buah itu. Rambut Ino sudah terikat rapi lagi diatas kepala, mempesona seperti biasanya.

"Aku masih saja ingat rasa kopimu. Berbeda dari yang lain."

Sai mengalihkan pandangannya, menatap Ino. Ino memandangi cangkir kopinya sendiri, menumpukan kedua sikunya diatas meja. Sai bisa melihat maha karyanya disekitar leher putih Ino, samar- samar.

"Bukankah ini agak aneh? Kita biasanya berbicara membahas seputar kabar dunia luar, rokok dan kopi saat awal- awal dulu-"

"Lalu sekarang kita malah membahasnya di ranjang?"Sai memotong lembut seraya menyeringai kecil.

Ino terkekeh. "Ya. Tak kusangka hubungan kita menjadi semakin aneh semakin kesini, bukan?"

Sai mengerti apa maksud kalimat Ino barusan. Ia memilih untuk tersenyum tanpa mengucapkan apapun setelah Ino berucap demikian. Ia bahkan tak bisa menyimpulkan hubungan macam apa yang mereka lalui saat ini, meski sudah menghabiskan hasrat bersama dan bertukar bisikan penuh cinta setiap harinya. Tapi ia menikmatinya, meski rasa bersalah terus merundung hatinya saat ini.

"Sai-kun,"panggil Ino.

"Ya?"

"Bagaimana kalau aku berubah pikiran soal menikah?"

Sai tertegun kala mendengar ucapan mendadak Ino itu. Ino menyeruput cangkir kopinya pelan, seraya menatap Sai. "Kurasa... tak semua laki-laki itu buruk."

Sai tidak memberikan respon apapun. Ia menunggu Ino mengucapkan apa yang ia pikirkan.

"Dan aku rasa aku menemukan satu pria yang bisa kupercayai untuk itu."

"Syukurlah,"kata Sai seraya tersenyum lembut. Ia menyeruput kopinya, memberikan dirinya ketenangan luar biasa. Ketika kafein itu masuk kedalam tubuhnya, pikirannya menjadi semakin tenang. "Pria itu pasti seorang pria baik, karena ia mampu membuatmu berubah pikiran untuk menikah."

Ino bangkit berdiri. Ia berjalan mengitari meja, tangannya bergerak mengelus meja hingga terhenti tepat didekat kursi Sai. Sai menoleh, dan Ino memegang rahangnya seraya mengecupnya pelan. Sai membalas kecupan itu, lalu ia tersenyum pada Ino.

"Waffle atau omelete?"

"Aku lebih menginginkanmu,"bisik Ino seraya menaiki pangkuan Sai. Sai mendongak, memandangi wajah rupawan diatasnya yang membusungkan dadanya. Dagu Sai menggesek pelan payudara telanjangnya yang hanya dilapisi kemeja tipis itu, namun cukup memberi sensasi geli bagi Ino sendiri. Lalu ia turun, menyelaraskan bibirnya pada bibir tipis Sai.

Ia menduduki paha Sai, fokus pada ciuman yang ia berikan saat ini. Sai akhirnya bereaksi, menerima ciuman itu seraya tangannya bergerak menggosok punggung Ino hingga kemejanya berantakan. Sai merengkuh pinggang Ino, lalu tangannya bergerak membuka kancing- kancing baju Ino, namun dua kancing terbawah tidak dibukanya.

Sai melepaskan pagutan mereka, lalu ia meletakkan hidungnya ke bahu Ino yang masih bertanda merah akibat ulahnya. Ino mengerang kecil, meremas tengkuk leher Sai. Sai meremas bokong Ino, membuat Ino tanpa sadar mengangkat pinggulnya. Sai tersenyum kecil menyadari fakta bahwa Ino juga tidak memakai celana dalam sama sekali.

Sai langsung mengangkat Ino, bergeser lalu membaringkan Ino diatas meja makan. Ino menjilat bibirnya sensual, membuat Sai nyaris kehilangan kendali seandainya ia tak ingat akan adanya cangkir- cangkir mereka disana. Sai hendak mengambil cangkirnya agar tidak mengenai Ino namun—

PFAAANG! PRAAAAANG!

Ino sudah mendorong cangkir- cangkir itu dengan impulsif dari mejanya, mengotori lantai dengan beling dan noda kopi. Aroma kopi menguar dengan tajam namun semakin membuat gairah meletup- letup. Ino membuka kakinya dengan sengaja, memamerkan selangkangannya sendiri.

"Sai-"

Sai tersenyum kecil seraya naik keatas meja langsung, menerkamnya tanpa ampun. Lagi, mereka melakukan hubungan itu diatas meja makan rumah Ino. Untuk kesekian kalinya.

Desember tahun lalu.

Sai masih mengingat segala detail pertemuannya dengan gadis yang ia puaskan ini. Di kafe yang menjadi latar tempat awal jumpa mereka, yang berada disudut perkotaan dengan menjual pemandangan sungai dan pepohonan dari taman. Ia bekerja disana sejak sepekan lalu, mengawasi setiap pengunjung yang datang dengan seksama dibalik kesibukannya sebagai barista dibalik meja order.

Pukul sembilan pagi. Perempuan itu selalu datang di jam yang sama, memesan kopi yang sama setiap harinya. Ia datang demgan tas mahal di tangan kiri, pakaian rancamgan desainer ternama dan outfit bermerk dan wajah yang rupawan.

Seluruh karyawan disini mengenalnya walau tak pernah berani mendekatinya secara pribadi karena mereka tahu, perempuan ini terlalu kaya. Dan kasta itu memberikan tembok tersendiri disekeliling tubuh gadis molek itu.

Espresso.

Sai hapal betul pesanan gadis itu setiap harinya. Tak lupa pula menutup pesanan dengan sebungkus rokok Marlboro merah. Ia terus mengamati gadis ini selama sepekan hingga akhirnya ia beegerak maju.

"Selamat pagi, Yamanaka-san. Ada yang bisa dibantu?"

Gadis itu mendongak ketika ia sedang mencari uang tunai dalam tasnya, memandangi Sai dengan alis terangkat. Sai mengulas senyum manis, matanya ikut memancarkan keramahan. Gadis itu menunggu Sai untuk mengatakan sesuatu, namun Sai memilih untuk diam.

"Kau bukan kasir,"kata Ino. "Espresso. Hot."

"Ada lagi?"

Gadis itu meraih buku menu, membolak- balikkan bagian makanan. Ia mengerutkan dahinya, seraya menilik pesanan. Sai memecahkan keheningan dengan memberikan beberapa saran menu favorit disana.

"Aku merekomendasikan yang ini dan yang satu itu jika Anda ingin sarapan yang sempurna. Espresso adalah teman dari menu itu, Yamanaka-san."

Gadis itu menatap Sai seraya mengangguk setuju. Sai mengulangi pesanan, memastikan tidak ada yang tertinggal lalu Ino mengangguk. "Bagaimana kau tahu namaku?"

"Bagaimana saya tidak kenal pelanggan kafe ini?"

Gadis itu tersenyum. "Benar juga."

"Oh, apakah Marlboro-nya tidak sekalian?"

Gadis itu semakin terkejut. Namun ia memilin rambutnya sekilas dan mengangguk dengan senyum terkulum. Sai meraih sebungkus Marlboro yang ada didepan kasir, menyerahkannya ke gadis itu. Sai memandangi kuteks mahal yang melapisi kuku terawatnya, lalu tersenyum manis pada gadis itu lagi.

"Kau barista disini?"

Sai mengangguk.

"Lalu apakah espresso kali ini akan berubah rasanya?"

Sai menatap gadis itu dengan ramah. "Tak perlu khawatir. Saya yang akan mengerjakannya, bukan orang lain."

Gadis itu mengangguk. Ia akhirnya membalikkan badan dengan luwes dan duduk di salah satu meja. Sai akhirny berjalan ke bagian meracik minuman, seraya mengulir senyum kecil di sudut bibirnya.

Semenjak itu, percakapan- percakapan singkat kerap diucapkan. Sapaan- sapaan lembut mulai dilontarkan setiap kali mereka bertemu, hingga akhirnya disuatu titik, perubahan hubungan mereka pun terjadi.

Pukul empat sore.

Kali ini, ia datang terlambat. Berbeda dari biasanya. Gadis cantik itu datang dengan wajah kelelahan, mengenakan pakaian yang agak kusut walaupun masih tampak elegan larena mahal. Sai melirik dari meja kerjanya, perempuan itu terlihat tidak begitu bersemangat memesan menu.

Maka setelah pesanan selesai, ia akhirnya mendatangi gadis itu. Meletakkan segelas espresso dan satu lagi vanilla latte. Gadis itu mendongak bingung. "Aku tidak memesan satu ini."

"Aku yang memesankan untukmu,"kata Sai dengan santai.

Gadis itu terkekeh. "Aku tidak terlalu menyukai minuman manis." Namun gadis itu menyilangkan kakinya dengan sensual, menatap Sai dengan senyuman kecil. "Bagaimana kalau kau sendiri yang meminumnya disini bersamaku?"

Sai tersenyum lembut. "Maaf tapi saat ini aku sedang bekerja, Yamana—"

"Kalau begitu, aku akan membayar waktumu juga."

Gadis itu mendorong kursi didepannya agar mundur dari meja, menyilahkan Sai untuk duduk. Sai hanya tersenyum, lalu gadis ìtu membuka bungkus rokoknya yang baru. Gadis itu memanggil rekan kerja Sai, menitipkan selembar cek lalu ia tersenyum pada Sai.

Dan sejak itu, petualangan mereka dimulai.

Sai menyentakkan pinggulnya keras- meras ketika klimaksnya datang. Ino mengerang, bergetar nikmat saat merasakan semburan hangat itu didalam tubuhnya. Kakinya melilit pinggang Sai, matanya sayu memandangi tato sangar didada Sai. Tanpa sadar, Ino mengecup tato itu lalu merebahkan kepalanya lagi ke meja seraya mengatur napas.

Sai menempelkan kepalanya yang berkeringat itu keatas kepala Ino. Mengatur nafasnya sendiri. Setelah dirasanya dirinya kembali ke kondisi normal, ia bangkit berdiri dan mencabut penisnya perlahan. Ino mendesah pelan, lalu Sai bergerak mengambil tisu yang ada didekat meja bar. Ia mengambilnya, lalu mulai membersihkan sisa-sisa cairan mereka yang mengalir di kaki Ino. Ino tersenyum seraya duduk membuka kakinya tanpa merasa malu, memandangi Sai yang membersihkan dirinya dengan tenang.

"Kau memang seorang gentleman sejati."

Sai mengangkat sudut bibirnya. "Apakah aku terlihat seperti itu?"

"Dimataku, ya. Itu cukup bagiku."

Sai berdiri setelah selesai dengan urusannya. Ia membuang tisu- tisu itu, lalu berjalan ke kamar. Ia meraih bungkusan Marlboro didekat ranjang, membawanya keluar ke meja makan. Ino masih duduk diatas meja makan, mengancingi kemejanya sendiri seraya merapatkan kakinya sendiri.

"Bagaimana kabar ayahmu?"

Sai menanyakan pertanyaan itu seraya mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusan yang ia pegang. Ia menberikannya ke Ino, lalu menunggu Ino menyelipkannya ke bibir. Setelah itu ia menghidupkan pemantik api, mengarahkan api itu ke rokok dibibir Ino. Ino menghisap rokoknya agar api itu membakar rokoknya, lalu menghisap asapnya dengan santai.

Beberapa detik kemudian asap rokok itu dihembuskannya seraya menatap Sai. "Entahlah. Semakin buruk."

"Kau masih tidak merespon teleponnya?"

Ino menghembuskan nafas seraya memainkan batang rokok ditangannya itu. Sai melirik gerakan itu. Ia tahu jika Ino mulai memutar- mutar rokok ditangannya berarti ia sedang dalam kesulitan. Ada yang menggangu pikirannya sendiri.

"Aku lelah."

Sai menatap Ino yang tersenyum getir ketika mengucapkan kalimat itu dengan lirih. Ino mendongakkan kepalanya, memeluk dirinya sendiri seraya menghisap rokoknya lagi. Ino terlihat muram. "Kuharap aku tak pernah terlahir sebagai seorang Yamanaka."

Sai tertegun.

Ia tak pernah menyangka seorang gadis kaya raya dengan gemerlapan duniawi yang mengelilingi dirinya berkata demikian. Sai tidak pernah menyangka bahwa gadis yang ia lihat sebagai sosok independen dan mendominasi itu kali ini menampakkan sosok rapuh yang sesunggugnya. Sai menatap kedua manik aquamarine itu, yang dipenuhi dengan sorot kepedihan dan... kesepian.

Sai mengambil sebatang rokok, menarik kursi untuk duduk didepan Ino. Ino memperhatikan Sai yang menyulut rokoknya dengan lihai, matanya memberikan pandangan terpesona.

"Kau selalu menggairahkan setiap kali merokok."

Sai tersenyum kecil. Ia menghembuskan asap rokoknya, menghisapnya lagi. Ino memandanginya, teralihkan dari kesedohannya sendiri saat ia memandangi Sai dengan tato besar itu merokok dengan gagahnya. Sai terlihat begitu dingin, kekar dan berbahaya ketika ia duduk dengan celana dasar hitamnya, memamerkan tubuh tegapnya yang tidak begitu kurus jika diperhatikan.

"Dari semua itu.. kau terlihat berbeda saat seperti ini."

"Sebutkan teorimu,"goda Sai seraya mengerling.

Ino menghisap rokoknya, lalu menatap Sai dengan intens. "Kau misterius."

"Aku tidak minta kata sifat."

"Kau memang misterius dan sulit dipahami. Susah ditebak, bahkan aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya."

Sai menatap Ino yang menghela napas. Namun Ino menatap Sai dengan intens lalu bibirnya bergerak mengucapkan sesuatu.

"Kau seperti...sosok mafia,"bisik Ino lagi.

Dan disanalah, Sai berhenti berkedip. Ia menatap Ino langsung, membalas tatapan dalam yang diberikan Ino. Ino menatap Sai dengan pandangan penuh arti, lalu Ino mematikan rokoknya sembarangan diatas meja mahal itu. Ia menumpukan tubuhnya kebelakang dengan kedua tangan, lalu salah satu kakinya terangkat. Menyentuh tato di dada kiri Sai dengan pelan, matanya menatap tato itu lekat- lekat.

"Phoenix."

Jempol kakinya bergerak mengitari kepala burung itu, lalu bibir Ino bergumam lagi. "Kesetiaan."

Lalu Ino menatap kedua mata Sai. Tajam.

"Akatsuki."

Deg.

Sai seketika tertegun. Seluruh instingnya, dan impulsifnya seketika mati ketika kedua mata itu menghujamnya dalam- dalam. Seluruh indra waspadanya tetap tidak bangun ketika gadis itu mengucapkan kata kunci berbahaya itu, ia malah menunggu apa lagi yang akan diucapkan oleh gadis itu.

Ino menekan kepala phoenix itu dengan jempol kakinya, memberikan poin penting. Ino tidak menyunggingkan senyum sama sekali. Ia menatap tato itu dengan penuh kepedihan.

Dan sorot kepedihan itu begitu menyakitkan hati Sai, lebih dari apapun.

"Kenapa dari semuanya, kau harus dari Akatsuki?"

"Sejak kapan kau tahu?"

Ino kali ini menekan dada Sai dengan telapak kakinya. Ia bisa merasakan debaran jantung Sai yang memompa dengan tenang. Ia sudah menduga seorang mafia berdarah dingin seperti ini tak akan kenal takut. Apalagi merasa terancam diposisi seperti ini.

"Mereka belum puas dengan membunuh ibuku ya,"kata Ino seraya terkekeh kecil. Lalu ia menunjukkan ekspresi paling sedih yang pernah Sai lihat, membuat hati Sai terasa sakit. Ia merasa kepedihan itu ikut menghujam hatinya, terasa mengoyak-ngoyak kala senyum getir dari gadis itu disunggingkan.

"Aku tak masalah jika kau ingin menuntaskan pekerjaanmu. Aku ingin semua ini berakhir."

Ino melompat dengan anggun dari meja, berjalan ke dapur. Ia meraih salah satu pisau didapur, meletakkannya didepan Sai. "Aku siap."

Sai memandangi pisau diatas meja itu. Ino berdiri disebelahnya, menunggu. Sai meremas rokoknya, tidak mempedulikan baranya yahg menghancurkan kulit. Ia menunggu Ino bergerak impulsif, mengubah keadaan. Namun, nihil.

Ino langsung menjatuhkan diri, duduk dibawahnya. "Aku sudah bilang, aku bersedia dibunuh olehmu."

Sai bergerak mengambil pisau itu dan mengarahkannya tepat ke bawah dagu Ino. Ino mendongak, menatap mata kelam Sai dengan pandangan serius. Sai merasa emosi aneh bergejolak dalam dirinya saat ini, membuatnya sedikit keras menekan ujung pisau itu ke leher Ino.

"Kenapa kau tidak gemetar?"

"Apakah aku harus demikian?"

"Kau memang ingin mati."

"Ya,"bisik Ino seraya menyentuh tangan Sai. Menekan pisau itu lebih keras hingga darah mulai menetes. "Bunuh aku, Sai."

"Bunuhlah Yamanaka itu."

"Gadis itu harus kau bunuh sebelum terlambat."

"Kau harus segera menghancurkan hidupnya."

Sai bisa mendengar seluruh bisikan itu. Ia mencabut pisau itu, melemparkannya dan langsung menarik Ino dalam pelukannya. Ia melepaskan pekulan, mengangkat Ino untuk duduk diatas meja dan bibirnya mulai menghisap darah yang mengalir dari leher Ino. Ino mengernyit kesakitan, Sai segera menghentikan hisapannya lalu menekan luka kecil itu dengan tangannya. Ino memandangi bibir Sai yang dipenuhi bekas darah itu, menghembuskan nafas pelan.

"Aku tak bisa,"bisik Sai.

"Kenapa? Aku tidak pernah menganggap hidupku berarti."

Sorot mata Sai menajam. "Jangan berkata konyol."

"Aku serius,"ucap Ino dengan mata berkilat- kilat penuh amarah. Ino menyilangkan kakinya dengan kesal, membuat Sai harus bergerak mundur untuk nemberikannya pergerakan. Sai menatap Ino yang menyisir rambut pirangnya dengan kasar, menandakan Ino sudah mulai kesal.

"Apalagi yang kau pikirkan? Aku sudah memberikan semuanya untukmu, kenapa kau masih ragu untuk mengambil nyawaku sekalian?"

Sai tidak membalas ucapan Ino.

"Aku sudah mati, Sai."

Sai mengepalkan tangannya ketika mendengar ucapan Ino barusan. Ino meraih kotak rokoknya, menghisap lagi sebatang seolah- olah ia sedang bersantai. Seolah- olah ia tidak ingat bahwa beberapa detik yang lalu ia nyaris dibunuh oleh pria berbahaya ini.

"Aku menunggumu mengakui semuanya padaku,"bisik Ino setelah menghembuskan asap beracun itu. Ino memainkan batang rokoknya lagi. "Tapi pada akhirnya, kau tidak pernah memberitahuku apa- apa."

Hening.

Ino merasa dadanya semakin sesak. "Kurasa disini hanya aku yang—"

"Aku mencintaimu, Ino."

Seketika, Ino tersentak. Matanya membesar dan air matanya langsung menetes ketika ia mendengar ucapan tegas itu. Sai memeluknya dalam pelukan itu, membiarkan Ino hancur dalam pelukannya.

"Kenapa semesta harus mempertemukan kita seperti ini Sai?"

Sai bahkan tak tahu jawabannya.

To be continued


.

Lovebirds

.