"Naruto, kau ingat pesanku?" tanya nenek dengan lembut.

"Tentu saja, baa-chan," balasku sambil memandang netra karamelnya.

Menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian aku berkata.

"Seorang healer mempunyai empat peraturan. Pertama, healer tidak boleh menyerah mengobati orang lain selama orang itu masih bernafas. Kedua, healer tidak boleh terlibat dalam pertempuran langsung. Ketiga, healer adalah orang yang terakhir kali mati dalam setiap kondisi. Keempat, hanya yang menguasai bya- ouch!"

Kalimatku terhenti ketika nenek memberikan pukulan cinta ke kepalaku.

"Kau masih belum siap untuk itu, Naruto."

Mendengar ucapan nenek, tanpa sadar aku pun sedikit mengerucutkan bibirku.

"Aturan keempat adalah aturan yang aku buat sendiri ...," ucap nenek dengan lirih.

Aku sedikit terkejut mendengar fakta yang baru saja aku ketahui. Aku kira, itu adalah aturan yang memang sudah umum bagi seluruh healer.

"Aku membuat aturan keempat setelah aku memutuskan untuk menjadi healer macam apa aku ini. Karena itulah, Naruto ... carilah pengalaman sebanyak-banyaknya, dan putuskan aturan keempatmu sendiri."

Begitu, ya? Ah, aku rasa aku mulai sedikit mengerti. Meskipun masih samar, aku sudah mampu memahaminya.

Dengan ini, seluruh beban di hatiku telah terangkat semua. Tidak akan ada rasa penyesalanku yang tertinggal.

Kereta kuda telah berhenti tepat di depan rumah kami, sang kusir yang merupakan kenalan dari kakek sedikit memberi salam ke arahnya.

Aku tersenyum ke arah kakek dan nenek, dan mereka juga tersenyum ke arahku. Aku memandangi setiap inchi dari tubuh mereka, memasukkannya ke ruangan terdalam di otakku, dan mengunci rapat-rapat agar kenangan ini tidak akan pernah hilang selamanya.

Merasa puas, aku pun memberi salam terakhir ke kedua orang yang selama ini telah berkorban banyak demi membesarkanku, dan merawatku penuh cinta.

"aku berangkat."

"Ya, selamat jalan."

Ini adalah perpisahan yang membuatku sedih. Tapi ini bukanlah akhir dari segalanya. Karena suatu saat, aku pasti akan kembali lagi ke sini, pasti.


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 2 : Jangan Pernah Pergi Ke Ibu Kota.


XxxxX

Udara sejuk khas kota Edo di pagi hari menyambutku ketika aku baru saja turun dari kereta uap. Perjalanan menggunakan kereta uap yang sebelumnya kukira akan menjadi sesuatu yang menyeramkan, ternyata tidak seburuk seperti yang aku kira. Rumor bahwa kereta uap adalah monster ular raksasa yang menyamar ternyata tidaklah benar, dan nyatanya aku pun tidak dimakan monster ketika kereta memasuki terowongan yang gelap.

Huh, dasar. Sejak awal kan memang tidak masuk akal jika ada yang seperti itu? Hanya orang penakut yang percaya dengan rumor murahan seperti itu. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan penakut seperti mereka.

Tu- tunggu dulu, bukankah aku salah satu orang yang percaya dengan rumor itu? Tidak-tidak, ini bukan berarti aku itu penakut atau semacamnya, ya. Aku hanyalah manusia yang ekstra waspada dengan kondisi di sekitarku. Setidaknya, itulah yang nenek ajarkan padaku.

Kugelengkan kepalaku dengan sedikit pelan, berharap menghilangkan pikiran-pikiran tidak jelas yang mulai timbul di kepalaku. Sekarang bukan waktunya memikirkan itu, prioritas utama saat ini adalah mencari lokasi Akademi Sihir Shouka Sonjuku.

Aku dengar dari beberapa orang di sekitarku, di stasiun ini ada sebuah peta besar yang menggambarkan jalan-jalan di Edo yang berisi lengkap dengan tempat-tempat penting di dalamnya. Mataku melihat ke sekeliling stasiun untuk mencari peta itu, tidak ada satu pun sudut yang kulewatkan sama sekali.

Tidak berselang lama, aku akhirnya menemukan sebuah pigura besar yang di letakkan di salah satu dinding di stasiun ini. Di sekeliling pigura tersebut, banyak sekali orang-orang berkerumun yang melihat sesuatu di dalamnya.

Ketemu, itu dia. Peta yang kucari-cari sedari tadi diletakkan di dalam pigura tersebut. Pantas saja banyak orang-orang yang mengerumuninya. Kupikir, orang-orang ini juga sangat asing dengan kota Edo, sama sepertiku.

Aku mendekat ke arah pigura tersebut berada. Kupandangi baik-baik peta yang ada di sana. Aku sangat takjub dengan gambaran kota Edo yang ada di dalam peta tersebut. hanya dari melihat skala yang dipakai peta itu, aku bisa menebak kalau Edo adalah kota yang sangat luas.

Ah, itu dia. Aku rasa aku menemukan lokasi Akademi Sihir Shouka Sonjoku di peta itu. Sekarang, tinggal menemukan tempat stasiun ini, lalu mencari jalan-jalan mana saja yang harus kulewati.

Aku mencubit sedikit daguku untuk membantuku dalam berpikir. Aku tahu, ini tidak ada hubungannya sama sekali antara mencubit dagu dan berpikir. Hanya saja, pose ini terasa nyaman ketika sedang berpikir, dan pose ini juga membuatku terlihat sedikit keren, kan?

Aku mengamati jalan-jalan yang akan kulewati di peta. Pandangan mataku hanya terfokus pada gambaran jalanan di kota Edo yang terpampang di depanku. Setelah merasa selesai, aku pun memejamkan mataku dan sedikit tersenyum kecut.

Brengsek, bagaimana bisa aku mengingat semua jalan yang harus aku ambil, sialan? Terlalu banyak perempatan dan jalan-jalan bercabang lainnya di Edo! Selain itu, jarak stasiun ini dengan Shouka Sonjoku benar-benar jauh!

Stasiun ini berada tepat di kawasan pusat kota Edo. Sedangkan Shouka Sonjoku berada di kawasan perbukitan di sisi Timur kota Edo. Jika dihitung dari skala yang digunakan peta ini, maka jarak antara stasiun ini dengan Shouka Sonjoku kira-kira sekitar 55 kilometer.

Itu berarti, aku membutuhkan sekitar sembilan jam perjalanan untuk sampai ke sana. Tidak, berjalan kaki sembilan jam bukanlah masalah bagiku. Masalah utamanya adalah, aku tidak bisa mengingat dengan baik rute-rute yang harus aku ambil.

Ah, tentu saja. aku kan bisa mencatatnya di kertas. Jadi, tidak akan ada masalah bahkan jika aku lupa jalan sekali pun.

Kukeluarkan satu persatu barang pribadiku yang kutaruh di tas punggungku. Aku tidak peduli meskipun orang-orang di sekelilingku melihatku dengan pandangan aneh. Karena bagiku, lebih baik menjadi orang aneh daripada tersesat di kota yang sangat besar ini.

Tidak ada, bagaimana bisa tidak ada satupun buku catatan maupun alat tulis yang kubawa?

Tidak-tidak-tidak. Ini pasti tidak nyata, kan? Aku yang kutu buku ini, bisa-bisanya lupa membawa buku catatan? Serius? Apa ini serius? Hei, seseorang tolong beri tahu aku kalau ini hanya ilusi, kan?

Kepalaku mulai terasa sedikit pusing, kedua tanganku pun otomatis memegangi kepalaku yang terasa semakin berat. Apa ini berarti aku akan menjadi gelandangan ibu kota? Sial-sial-sial, membayangkannya saja sudah membuatku ingin menangis.


XxxxX

"Tuan, apa kau tahu arah ke-."

"Permisi, bolehkah aku ber-."

Hembusan napas lelah keluar dari mulutku. Aku sudah lupa berapa kali aku menghela napas seperti itu. Yang aku ingat hanyalah, tiap kali ada orang yang mengabaikanku ketika bertanya jalan, maka saat itu juga aku menghela napas.

Huh, benar-benar deh, para orang ibu kota ini.

Aku bisa saja naik kereta kuda dan langsung minta diantar ke Shouka Sonjoku. Tapi, seketika aku teringat pesan nenek, kalau ongkos kereta kuda di ibu kota sangatlah mahal jika dibandingkan dengan kota di dekat desaku.

Ah, di sana ada sepasang laki-laki dan perempuan. Jika aku bertanya ke laki-laki itu, pasti dia akan memberi tahu, kan? Maksudku, berbuat baik ke pemuda tidak berdaya sepertiku ini, itu pasti memberi poin lebih di mata pasanganmu. Ini adalah psikologi dasar yang bisa kau temui di mana saja.

Maksudku, aku sangat sering melihat kakek yang sedang cari muka di depan nenek.

Aku pun menghampiri sepasang pria dan wanita tersebut. Ketika jarak antara diriku dan mereka sudah cukup untuk mengawali pembicaraan, aku pun mulai bertanya kepada si pria.

"Permisi, tuan. Apa kau tahu jalan ke arah Akademi Sihir Shouka Sonjoku?"

Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut mereka. Yang ada hanya tatapan bingung yang mereka arahkan ke arahku.

"Apa dia kenalanmu, sayang?" tanya si gadis yang akhirnya memecah keheningan.

"T- tentu saja tidak, kan? Haha," balas si pria.

"Ya, tentu saja. Maksudku, lihat saja pakaiannya. Apa dia pemulung, atau orang desa?" ucap si gadis yang secara ajaib sangat menusuk hatiku.

"Benar, kan? Tidak mungkin aku punya kenalan seperti mereka, bahkan dalam mimpiku sekali pun," sambil berkata, si pria menggandeng tangan pasangannya dan berjalan melewatiku begitu saja.

Oi-oi-oi, tolong berhenti berbicara seperti itu, sialan! kalian benar-benar menyakiti perasaanku, tahu tidak? Maaf saja kalau aku ini hanya orang desa.

Dalam momen ini, rasanya aku ingin masuk ke kamarku saja, lalu berbicara dengan tembok seharian penuh. Serius ini.

Tapi jika dilihat-lihat, memang penampilanku sangat berbeda dengan orang-orang yang tinggal di ibu kota. Pakaian mereka nampak sangat bagus dan bersih. Tidak ada tambalan kain di pakaian mereka, sangat berbeda dengan baju yang sekarang kupakai. Bagaimana menjelaskannya, ya? Itu seperti terlihat pakaian mereka adalah pakaian yang baru dibeli dari toko.

Tidak perlu jauh-jauh membandingkan dengan pakaianku. Bahkan pakaian mereka jika dibandingkan dengan pakaian orang-orang kota di dekat desa tempatku tinggal pun terasa berbeda.

Ketika aku terus berjalan menyusuri jalan ibu kota Edo dengan hanya mengandalkan ingatanku saja, sesuatu yang sangat manis tercium di hidungku. Aku sangat mengenal aroma ini. Tidak salah lagi, ini adalah aroma dari oshiruko yang baru diangkat dari panci!

Yah, aku tahu kalau aku tadi sudah memakan bekal dari nenek untuk sarapan. Tapi, memakan oshiruko untuk memperbaiki mood-ku, tidak buruk juga, kan?

Ketika aku masuk ke dalam dan melewati pintu masuk, terdengar suara lonceng yang menjadi tanda bahwa ada pengunjung yang datang. Kulihat seisi rumah makan ini, desain ruangannya cukup menarik. Tidak terlalu mewah, tidak juga terlalu sederhana. Semuanya terasa memiliki perpaduan yang pas.

Satu-satunya yang berada di pikiranku sekarang, semoga mereka tidak menendang keluar orang desa sepertiku.

Pelayan yang menyadari adanya tamu yang baru datang pun menghampiri diriku dengan senyum ramah. Dia mengantarkanku menuju meja kosong yang masih tersedia.

"Ah, tolong oshiruko-nya, ya?" pesanku setelah tiba di tempat duduk.

"Untuk minumnya, tuan?"

"Kalau itu ... mungkin, segelas ocha akan nikmat."

"Saya ulangi pesanan anda, tuan. Semangkuk oshiruko dan segelas ocha-."

"Semangkuk? Tidak-tidak, tolong dua mangkuk, ya?"

"Baik, maafkan saya. Dua mangkuk oshiruko dan segelas ocha akan segera datang."

Si pelayan yang merasa pekerjaannya di sini telah selesai pun mulai berjalan meninggalkanku sendirian. Alunan instrumen musik yang dimainkan di sini membuat perasaan setiap pengunjung menjadi lebih tenang, tidak terkecuali diriku.

Mungkin, sebagian orang akan merasa bingung karena aku memakan dua mangkuk oshiruko sekaligus. Apalagi aku adalah seorang healer yang seharusnya memperhatikan kadar glukosa yang aku makan.

Tidak ada yang salah dengan anggapan itu, memang. Karena jika kau terlalu banyak mengonsumsi glukosa, maka penyakit-penyakit seperti kerusakan pada gigi, obesitas, gangguan jantung, alzheimer, diabetes, bahkan hiperglikemia bisa menyerangmu.

Tapi, ada satu catatan yang harus diketahui. Aku bukanlah praktisi medis biasa, aku adalah seorang healer. Orang yang menggabungkan antara ilmu sihir dan pengetahuan medis menjadi satu. Dengan kata lain, untuk menjadi seorang healer yang hebat, tubuhku telah dilatih habis-habisan oleh nenekku sejak aku kecil, bahkan latihan tersebut serasa seperti di neraka.

Dengan kata lain, aku membutuhkan asupan energi jauh lebih tinggi dari manusia normal. Kecepatan tubuhku dalam melakukan glikolisis, siklus krebs, transpor elektron, dan 500 metabolisme lain di dalam sel pun jauh lebih cepat dari manusia normal.

Selain itu, makanan manis adalah makanan yang paling aku sukai selain ramen.

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya pesananku pun datang. Aromanya sangat wangi, jauh lebih wangi dari oshiruko buatan nenek. Aku penasaran bagaimana orang-orang di sini membuatnya.

"Ittadakimasu!"

Ada dua perdebatan yang selama ini kuketahui dalam memakan oshiruko. Yang pertama adalah, menghabiskan bubur kacang azuki-nya terlebih dahulu. Dan yang kedua adalah, menghabiskan mochi-nya terlebih dahulu. Yah, dan dua orang yang berdebat tentang hal itu siapa lagi memangnya kalau bukan nenek dan kakekku?

Sedangkan aku, aku akan menciptakan aliran ketiga yang menghabiskan kacang azuki dan mochi secara bersamaan.

Oshiruko di tempat ini benar-benar menyajikan rasa manis yang sangat berbeda dengan yang sebelumnya pernah kumakan. Rasa manisnya benar-benar terasa sampai ke tenggorokan. Meskipun begitu, rasa manisnya tidak terlalu berat sehingga kau bisa memakan secepat yang kau bisa.

Saking enaknya, aku benar-benar tidak sadar bahwa aku sudah menghabiskan mangkuk keduaku. Oh, tuhan, bagaimana bisa aku menghabiskan oshiruko seenak ini dengan begitu cepat?

Yang tersisa di mejaku sekarang hanyalah segelas ocha. Sejatinya, ocha adalah minuman yang paling cocok jika dipasangkan dengan oshiruko. Rasa pahit dan segar dari ocha, akan memberikan sensasi yang menyenangkan di lidah yang sebelumnya telah terbiasa dengan rasa manis dari oshiruko.

Ah, sudah cukup dengan oshiruko dan ocha. Sekarang saatnya aku pergi ke kasir untuk membayar tagihan makananku.

Aku berjalan dengan pelan menuju ke arah kasir. Senyum kecil yang sedari tadi berusaha kutahan pun tidak bisa hilang. Sungguh, efek bahagia dari oshiruko belum bisa kuhilangkan.

"Penjaga kasir-san, tolong tagihan di meja sebelah sana," ucapku sambil menunjuk ke arah meja tempatku makan sebelumnya.

"Dua mangkuk oshiruko dan segelas ocha, benar?" konfirmasi si penjaga kasir. Aku pun hanya menganggukkan kepalaku sebagai balasan atas pertanyaannya.

"Kalau begitu, totalnya 7500 Ryo."

APA? Oshiruko macam apa yang harganya sampai 7500 Ryo, ha? Tidak-tidak, tadi aku pasti salah dengar.

"Jadi, berapa harganya, penjaga kasir-san?" tanyaku sambil tersenyum manis.

"7500 Ryo, tuan."

"Berapa harganya?"

"Tuan, meskipun anda mengulang berkali-kali. Harganya tidak akan berubah," ucap si penjaga kasir sambil menghela napas.

Dalam detik ini, mataku serasa ingin copot keluar, telingaku terasa keluar darah, dan hidungku seperti lupa bagaimana caranya mengambil udara.

"Meskipun aku ini orang desa, kau tidak bisa menipuku, kau tahu? Maksudku, bagaimana bisa hanya dua mangkuk oshiruko dan segelas ocha bisa dihargai seperti itu?"

Benar itu, harganya sangat tidak wajar.

"Maafkan saya, tuan. Tapi harga yang kami tawarkan sudah sesuai dengan kualitas yang kami berikan."

Kualitas katanya? Apanya yang kualitas? Bukankah itu sama saja degan ocha dan oshiruko lainnya, benar kan? Y- yah, tapi kalau dipikir lagi, rasa dari oshiruko di sini memang luar biasa, sih.

Menyadari raut wajahku yang terlihat kurang yakin, si penjaga kasir itu pun melanjutkan.

"Kacang azuki yang kami gunakan di sini, semuanya kami ambil dari perkebunan di pegunungan, di kota Kyou. Sedankgan daun teh yang kami pakai, kami menggunakan daun teh kualitas tencha."

Perkebunan di kota Kyou, dia bilang? S- serius, nih? Meskipun aku tidak pernah ke sana, tapi aku sering mendengar tempat itu dari kakek. Katanya, tempat itu adalah perkebunan besar yang memproduksi kacang azuki dengan kualitas super.

Biasanya, kacang di sana tidak didistribusikan secara besar-besaran karena memang di sana hanya akan memenuhi pesanan dari para bangsawan dan restoran-restoran kelas atas. Sedangkan kacang azuki yang didistribusikan secara luas, itu diproduksi di pegunungan bersalju yang terletak di ujung Utara kerajaan ini.

Lalu, apa-apaan dengan tencha? Bagaimana mereka bisa menjual ocha dengan daun teh itu?

Tencha adalah daun teh kelas atas yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. Harganya sangat mahal, karena itulah sangat jarang ada restoran yang menyajikan tencha di dalamnya. Ini adalah pengetahuan umum, jadi siapa pun pasti tahu tentang jenis-jenis daun teh.

"Penjaga kasir-san, aku akan memuntahkan makanan yang baru saja aku makan. Jadi, tolong berikan aku potongan harga," ucapku dengan suara yang sedikit bergetar.

"Tuan, jika anda membuat masalah, aku akan melaporkan ini kepada kesatria sihir yang berpatroli."

"T- tidak, tolong jangan!"

Dengan sangat berat hati, aku pun memberikan uang sebanyak 7500 Ryo untuk membayarnya. Tidak bisa dipercaya, belum genap satu hari dan aku sudah kehilangan uang sebanyak itu? Padahal, niatku ingin pengeluaranku seminim mungkin ketika aku tinggal di ibu kota.

Sial, Edo benar-benar mengerikan. Nenek, aku ingin pulang saja rasanya.


XxxxX

Perlahan namun pasti, matahari sudah mulai terlihat di langit bagian Barat. Sejak keluar dari stasiun pagi tadi, aku belum melihat jam sama sekali. Jadi, aku tidak begitu tahu pukul berapa sekarang. Tapi, jika dilihat dari posisi matahari dan langit yang sudah mulai menguning, mungkin ini sekitar pukul lima sore.

Itu berarti, aku sudah berjalan selama delapan jam sejak keluar dari stasiun. Jika aku berjalan di jalan yang benar, maka Akademi Sihir Shouka Sonjoku sudah sangat dekat.

Yah, itu pun jika aku berjalan di jalan yang benar, sih. Bagaimana jika sejak awal aku pun sudah tersesat? Lalu, bagaimana jika ternyata aku justru berjalan menjauh dari Shouka Sonjoku?

Langkah kakiku pun terasa sangat berat, motivasiku hilang entah kemana. Aku sangat lelah. Tapi, ini adalah kelelahan mental, bukan fisik.

Sejak aku keluar dari restoran sialan tadi, yang kulakukan hanyalah berjalan tanpa arah yang pasti. Tidak ada satu pun petunjuk yang bisa menuntunku menuju Shouka Sonjoku.

Apa ini sudah saat yang tepat untukku mengatakan, 'hai Edo, aku adalah Naruto, dan aku akan menjadi gelandangan baru di sini'?

Yah, kurasa sebelum aku mengatakan itu, aku harus menemukan sebuah tempat pembuangan atau kolong jembatan untuk tempat tinggal.

Tunggu-tunggu-tunggu, kenapa pikiranku begitu negatif barusan? Lupakan tentang menjadi gelandangan, nenek pasti akan memukulku ribuan kali jika dia tahu kalau cucunya menjadi gelandangan ibu kota.

Singkirkan dulu pikiran tentang Edo yang mengerikan, karena nenek ketika sedang marah itu jauh lebih mengerikan!

Saat pikiranku dipenuhi dengan hal-hal yang negatif dan menyeramkan, aku melihat seseorang pemuda seumuranku sedang berjalan sendirian. Dia sedang membawa sebuah tas punggung yang terlihat terisi penuh. Ia juga mempunyai rambut yang ... sedikit nyentrik, kurasa?

Satu hal yang membuatku sangat tertarik adalah pakaiannya. Dia memakai sebuah jas hitam yang tidak dikancingkan, dan rompi hitam, kemeja putih serta dasi berwarna merah di dalamnya. Untuk bawahan, dia menggunakan celana hitam serta sepatu hitam polos.

Aku tahu setelan itu, terutama ketika melihat sebuah logo yang berada di bagian dada jasnya. Ya, aku sangat tahu karena aku pun juga memilikinya. Itu adalah seragam dari Akademi Sihir Shouka Sonjoku!

Itu berarti, aku sudah sangat dekat, kan? Seingatku, jika aku terus berjalan ke arah Barat, maka aku akan segera melihatnya.

Hatiku terasa mengembang ketika mengetahui bahwa aku ternyata tidak tersesat, ketika aku hendak berlari karena begitu senangnya, aku pun teringat sesuatu.

Meskipun ini sudah dekat, peluang untuk tersesat bukan berarti nol persen. Masih ada kemungkinan kalau justru tersesat dan berjalan semakin menjauh. Dalam keadaan seperti ini, maka pilihan terbaik adalah mengajak pemuda itu berjalan bersama ke sana.

Dengan begitu, selain membuat kemungkinan tersesat menjadi nol persen, aku juga bisa membuat teman pertamaku di Shouka Sonjoku. Seperti kata peribahasa, 'sekali melempar batu, mendapat dua burung sekaligus'.

"Hei, kau yang ada di sana!" teriakku kepada pemuda itu, namun dia hanya mengabaikannya dan terus berjalan.

"Hei, kau! Kau yang memakai seragam Shouka Sonjoku!" Teriakku lagi dengan lebih spesifik.

Akhirnya, pemuda itu menanggapi panggilanku, dan menoleh ke arahku. Tidak banyak yang bisa kujabarkan tentang dia. Yang pasti, dia mempunyai kulit putih, mata yang tajam, dan muka sombong yang seperti ingin mengajak orang berkelahi.

"Kau memanggilku?"

"Ya, kau siswa Shouka Sonjoku, kan? Perkenalkan, namaku Naruto Namikaze."

Matanya sedikit memincing ketika mendengar namaku. Apa ada yang salah dengan itu? Atau dia juga akan mengabaikanku seperti orang-orang? Atau justru dia akan mengajakku berkelahi?

"Namikaze?" ucapnya lirih. Meskipun lirih, aku masih tetap bisa mendengarnya dengan jelas.

"Apa ada yang salah dengan namaku?" tanyaku.

"Tidak, aku hanya merasa nama dan wajahmu mirip seperti Minato Namikaze. Lalu. Namaku adalah Sasuke Uchiha, salam kenal."

Ah, jadi dia tahu tentang mendiang ayahku, ya? Yah, itu wajar, sih. Bagaimana pun, ayah memang sangat terkenal, kan?

Tapi, jika dipikir-pikir lagi, kurasa akan merepotkan jika ada orang yang tahu kalau aku adalah putra dari Minato Namikaze, dan cucu dari Jiariya Namikaze serta Tsunade Namikaze.

Tapi, tunggu dulu. Dia bilang Uchiha? Uchiha itu adalah bangsawan yang sangat terkenal dengan kekuatan matanya yang melegenda itu, kan?

Uwah, selama ini tidak ada seorang pun di Edo yang menanggapiku. Sekalinya ada, dia justru seorang bangsawan yang mukanya seperti orang yang mengajak berkelahi.

Apa sebaiknya aku bilang kalau aku salah orang dan langsung pergi saja, ya? Berurusan dengan bangsawan adalah perkara nomor satu yang harus aku hindari. Maksudku, bangsawan di kota dekat desaku saja sudah menyebalkan, apalagi di Edo yang merupakan ibu kota ini?

"Ada apa, huh?" ucapnya sedikit dingin.

"Ti- tidak ada, kurasa aku salah orang, haha. Maafkan aku," ucapku sambil membungkuk ke arahnya. Yap, lebih baik pergi daripada mendapat masalah lain.

"Tunggu, bukannya kau barusan mengenalkan dirimu lebih dulu, kan? Kalau begitu, tidak mungkin kalau kau salah orang. Maksudku, kau seharusnya langsung bilang salah orang begitu melihatku."

"Ah- ahahaha," hanya tawa canggung seperti itu yang bisa kukeluarkan. Apa ini? Apa itu berarti aku sudah membuatnya marah? Jika begitu, tidak ada pilihan lain selain bersujud di depannya.

"Tunggu, jangan bilang kalau takut karena mendengar namaku?" tanyanya

Ah, pertanyaanmu tepat sasaran, Uchiha-sama!

Sambil menghela napas, dia berkata, "Yah, itu wajar sih jika kau berpikiran buruk tentang para bangsawan. Karena mereka semua memang sampah."

"Eh?" gumamku sambil memiringkan kepalanya.

Ini pertama kalinya bagiku mendengar ada seorang bangsawan yang menghina bangsawan lain seperti itu. Bahkan, dia tidak tanggung dalam menghina. Dia menyebut "mereka semua", bukankah itu berarti dia menghina seluruh bangsawan yang ada?

Menanggapi wajahku yang nampak bingung, dia pun melanjutkan.

"Jika aku tumbuh dengan lingkungan yang sama seperti mereka, mungkin aku juga akan berakhir menjadi sampah seperti mereka."

"Jadi, apa maksudmu kalau Uchiha itu berbeda dengan bangsawan lain?"

"Tidak, Uchiha juga sampah, kau tahu? Jika bisa, aku bahkan ingin membuang nama Uchiha ini. Omong-omong, kau bisa memanggilku Sasuke saja."

Ah, begitu rupanya. Aku tidak tahu detailnya, tapi aku rasa dia memiliki trauma dengan masa lalunya atau dia memiliki prespektif yang berbeda dengan bangsawan lain.

Sebenarnya aku ingin bertanya lebih lanjut, karena ini akan menjadi kasus yang sangat menarik jika dia mempunyai prespektif yang berbeda dengan bangsawan lain. Tapi, jika ternyata itu disebabkan oleh trauma masa lalu, itu terasa sedikit tidak sopan jika aku bertanya kepadanya.

Oleh karena itu, aku urungkan niatku tersebut.

"Jadi, ada perlu apa kau denganku?" tanya Sasuke.

"Oh, benar juga. Aku berasal dari desa dan aku masih sangat asing dengan lingkungan Edo. Jadi, bisakah aku pergi ke akademi bersamamu?"

Sasuke mengangguk-anggukkan kepalanya seperti dia sadar dengan kondisiku.

"Yah, kalau memang begitu, apa boleh buat, kan? Akan sangat merepotkan kalau kau tersesat," balasnya yang menyetujui ajakkanku.

Dengan begini, akhirnya aku bisa membuat satu langkah positif di hari pertamaku di Edo.


XxxxX

Sudah berapa lama aku berjalan kaki? Apa memang perjalanan menuju Shouka Sonjoku begitu jauh? Bahkan, langit sudah mulai gelap. Pukul berapa sekarang? Delapan malam? Atau sembilan malam?

Sial, aku benar-benar tidak tahu. Perutku begitu lapar, dan kakiku sudah mulai bosan melangkah.

Kuperhatikan pemuda yang kini berjalan di sampingku. Kondisinya tidak jauh berbeda denganku, sama-sama kacau. Bahkan, aku melihat sedikit warna hitam di bawah matanya itu. Kira-kira, apa di mataku juga ada kantung matanya, ya?

"Sasuke, apa kau yakin ini jalan yang benar?"

"Tenang saja, kita sudah hampir sampai."

Aku menghela napas lelah mendengar jawabannya, "kau sudah mengatakannya sebanyak 30 kali, tahu tidak?"

"Aku serius, kali ini benar-benar sudah dekat."

"Dan kau sudah mengatakan itu sebanyak 25 kali," balasku lelah.

Apa berjalan bersama orang ini adalah pilihan yang tepat, ya? Jangan-jangan dia ini orang jahat yang mengaku-ngaku sebagai bangsawan? Tidak-tidak, bahkan orang gila sekalipun tidak akan berani mengaku sebagai bangsawan, apalagi ini adalah Uchiha.

Selama perjalanan ini, aku banyak memperhatikan tempat-tempat dan bangunan-bangunan yang ada. Dan sejujurnya, aku mempunyai sebuah uneg-uneg yang ingin aku tanyakan ketika aku sedang melihat-lihat bangunan sekitar.

"Hei, Sasuke, aku ingin tanya," ucapku.

"Hn?"

"Ibu kota adalah tempat yang luas, kan?"

"Hn."

"Jadi, apa menurutmu akan ada sepuluh tempat yang terdapat bangunan-bangunan yang sama persis dengan satu sama lain?"

"Kurasa ... tidak," jawab Sasuke dengan pelan.

Ah, ternyata memang tidak ada tempat yang seperti itu, ya? Lega sekali rasanya ketika mendengarnya.

Tunggu-tunggu-tunggu, bukan seperti itu reaksi yang seharusnya kuperlihatkan.

"Bukankah itu berarti, kita dari tadi sudah tersesat?" tanyaku dengan nada yang jengkel.

"Apa maksudmu dengan tersesat, Naruto? Apa kau tidak lihat? Kita sudah berada di jalan yang benar, kau tahu?" balas Sasuke.

"Jalan yang benar, pantatmu! Kita sudah berputar-putar di tempat ini sampai sepuluh kali, tahu! Tidak-tidak, mungkin saja lebih dari itu."

Sasuke terlihat sedang menyilangkan kedua lengannya dan memejamkan matanya. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia sedang berpikir. Mungkin, si bangsawan kampret ini sudah sadar dengan situasinya.

Kedua mata Sasuke terbuka secara perlahan. Bersamaan dengan itu, dia berkata.

"Yosh, ayo kita lanjutkan perjalanannya," ucapnya sambil melangkahkan kakinya.

Sebelum Sasuke berhasil melangkahkan kakinya, tanganku terlebih dulu mampu meraih bahunya. Hal itu sukses membuat niat Sasuke menjadi terhenti.

"Tunggu dulu, Sasuke-dono. Ada sesuatu yang ingin kupastikan."

"Apa itu, Naruto-dono?"

Kepalaku menunduk sedikit, dan membuat poni rambutku sedikit menutup mataku. Otakku berusaha memilah-milah kata yang ingin aku ucapkan.

"Sasuke-dono ... jangan bilang kalau kau ini buta arah?"

Mendengar pertanyaanku, tubuh Sasuke sedikit tersentak, aku bisa merasakannya dengan jelas. Ia pun menghadap ke arahku dan pandangan mata kami bertemu satu sama lain.

Alasan utamaku berjalan bersama Sasuke adalah untuk menghilangkan peluangku tersesat. Tidak akan lucu jika justru aku tersesat gara-gara dia, kan? Serius ini.

"A- apa yang kau maksud, anak muda? Mana mungkin aku buta arah, kan?" ucapnya dengan sedikit gugup. Di pelipisnya, muncul sedikit sebuah keringat dingin sebesar yang sebesar biji jagung.

"Teme, jadi kau itu memang buta arah, ya?" ucapku dengan suara yang sedikit tinggi.

"Bukan teme, tapi Sasuke. Aku bukan buta arah, kau tahu. Hanya saja, aku ini adalah tipe orang yang liar, yang membiarkan langkah kakinya menuntun kemana pun ia pergi," balasnya yang berusaha membela diri.

"Tidak-tidak-tidak, mana ada orang seperti itu di dunia?"

"Tentu saja ada," respon Sasuke sambil menghembuskan napas.

Aku melihat ke arahnya. memikirkan waktu tiga jam perjalananku bersamanya yang begitu sia-sia, membuat arwahku serasa ingin keluar dari tubuhku.

"Dan orang itu adalah?" tanyaku pada Sasuke.

"Tentu saja aku, memangnya siapa lagi?" balasnya dengan wajah yang tanpa dosa.

Oh, tuhan. Sebenarnya dosa apa yang sudah aku perbuat sehingga aku bisa sesial ini? Lupa membawa buku catatan, salah memasuki restoran, dan berakhir dengan bangsawan sinting yang buta arah.

Nenek, tolong jemput aku. Aku benar-benar tidak kuat, serius ini.

Bersambung


Author Note : Halo, saya kembali. sejujurnya, saya tidak menyangka kalau fict saya ini akan mendapat banyak respon. Maksudku, jika dibandingkan dengan fict saya yang lain, ini benar-benar review terbanyak yang pernah saya terima dalam satu chapter. Jadi, saya ucapkan terima kasih banyak atas semua yang sudah membaca fict ini.

Karena ada banyak respon dari pembeca. maka di kesempatan ini saya akan memberi sedikit semacam peringatan, sebelum nanti ada yang kecewa dengan alur yang tidak diharapkan atau semacamnya. pertama, saya akan mengatakan bahwa Naruto dan Sasuke di sini adalah MC-nya. dan saya adalah tipe orang yang tidak suka dengan MC sempurna (Overpower, cool, terkenal, punya harem banyak, dll) saya tidak suka sesuatu yang sempurna. seperti yang sudah kalian baca di sini, Naruto itu sedikit konyol dan penakut, sedangkan Sasuke juga akan saya buat konyol juga. Mereka saat ini lemah, tapi tentu saja nanti mereka akan bertambah kuat dengan seiring perjalanan.

Selanjutnya, seperti fict ku yang lain-lain. fict ku ini pun akan menggunakan alur yang lambat. kenapa aku suka menggunakan alur yang lambat? karena aku ingin membangun plot sedemikian rupa dan tidak ingin tergesa-gesa. jadi, aku harap pembaca sekalian bisa menikmati ceritaku ini.

Setting tempat di fict ini itu ada di zaman Edo, jadi mungkin nanti kota-kota nya pun juga mengikuti nama-nama kota di zaman Edo dan zaman-zaman sebelum Edo. Misalnya seperti Kyou, Kyou adalah nama Kyoto saat di zaman Heian. Lalu untuk mata uang, karena setting tempatnya ada pada zaman Edo, tentu saja itu berarti mata uangnya adalah Ryo, karena Ryo adalah mata uang di zaman Edo. Sebenarnya, ada konfersinya sih antara Ryo dan emas ketika dibuat berdaganag. tapi karena ribet, jadi aku putuskan kalau tidak perlu membuat konfersi-konfersi segala.

Ah ya, sekedar info. Kacang Azuki adalah kacang merah khas Jepang, produsen utamanya di Hokkaido. makanya tadi aku singgung kalau kacang Azuki yang umum didistribusikan itu berasal dari ujung Utara kerajaan. Sedankgkan untuk kacang azuki kualitas super, maka kalian bisa menemuinya di Kyoto.

Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.