"Sasuke-dono ... jangan bilang kalau kau ini buta arah?"

Mendengar pertanyaanku, tubuh Sasuke sedikit tersentak, aku bisa merasakannya dengan jelas. Ia pun menghadap ke arahku dan pandangan mata kami bertemu satu sama lain.

Alasan utamaku berjalan bersama Sasuke adalah untuk menghilangkan peluangku tersesat. Tidak akan lucu jika justru aku tersesat gara-gara dia, kan? Serius ini.

"A- apa yang kau maksud, anak muda? Mana mungkin aku buta arah, kan?" ucapnya dengan sedikit gugup. Di pelipisnya, muncul sedikit sebuah keringat dingin sebesar yang sebesar biji jagung.

"Teme, jadi kau itu memang buta arah, ya?" ucapku dengan suara yang sedikit tinggi.

"Bukan teme, tapi Sasuke. Aku bukan buta arah, kau tahu. Hanya saja, aku ini adalah tipe orang yang liar, yang membiarkan langkah kakinya menuntun kemana pun ia pergi," balasnya yang berusaha membela diri.

"Tidak-tidak-tidak, mana ada orang seperti itu di dunia?"

"Tentu saja ada," respon Sasuke sambil menghembuskan napas.

Aku melihat ke arahnya. memikirkan waktu tiga jam perjalananku bersamanya yang begitu sia-sia, membuat arwahku serasa ingin keluar dari tubuhku.

"Dan orang itu adalah?" tanyaku pada Sasuke.

"Tentu saja aku, memangnya siapa lagi?" balasnya dengan wajah yang tanpa dosa.

Oh, tuhan. Sebenarnya dosa apa yang sudah aku perbuat sehingga aku bisa sesial ini? Lupa membawa buku catatan, salah memasuki restoran, dan berakhir dengan bangsawan sinting yang buta arah.

Nenek, tolong jemput aku. Aku benar-benar tidak kuat, serius ini.


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 3 : Monster Betina dan Pria Aneh.


XxxxX

"Kalian yang berdiri di depanku saat ini adalah bibit-bibit yang akan terus tumbuh menjadi orang-orang yang hebat. Tidak peduli dari mana asalmu dan seperti apa kedudukan sosialmu, percayalah ... kalian semua yang berada di sinilah yang kelak akan menjadi tiang-tiang penyangga untuk negeri ini.

Di bawah lindungan pohon pinus yang menjadi lambang kejayaan akademi kita, kuucapkan selamat datang dan selamat memulai tahun ajaran baru di akademi sihir paling bergengsi di seluruh kerajaan Codafata, Akademi Sihir Shouka Sonjoku."

Suara tepuk tangan memenuhi seluruh penjuru halaman utama bersamaan dengan berakhirnya pidato panjang dari Azazel-sensei. Tentu saja, sebagai seorang siswa baru di akademi ini, aku pun ikut bertepuk tangan atas pidatonya.

Tapi, daripada tepuk tangan karena isi pidatonya yang sangat hebat, aku justru bertepuk tangan karena bersuka cita atas berakhirnya upacara penyambutan murid baru yang membosankan ini.

Maksudku, hei! Aku ini adalah remaja normal, kau tahu? Berdiri diam tanpa melakukan apa pun selama satu setengah jam itu terasa sangat menyiksa. Aku bahkan tidak bisa mendeskripsikan dengan baik betapa membosankannya upacara ini.

Meskipun namanya "upacara penyambutan murid baru", peserta yang mengikuti upacara ini bukan hanya murid-murid baru saja, melainkan seluruh murid yang ada.

Dalam satu setengah jam tersebut, mereka memaparkan program-program yang dimiliki akademi ini. setelah itu, barulah dilanjut dengan pidato dari murid terbaik di akademi ini serta pidato dari Azazel-sensei yang merupakan seorang kepala sekolah.

Pada intinya, akademi ini merupakan sekolah dengan sistem satu atap terpadu. Dengan kata lain, ada dua tingkatan berbeda di Shouka Sonjoku.

Tingkat pertama, atau biasa disebut sebagai junior high, menerima murid-murid dengan usia minimal 14 tahun. Pada dasarnya, kurikulum yang diajarkan tidak jauh berbeda dengan sekolah junior lainnya. Yang membuatnya berbeda hanyalah, di akademi ini telah diajarkan dasar-dasar pengontrolan mana dan penerepan sihir dasar. Pada tingkat ini, pendidikan akan ditempuh dalam jenjang tiga tahun.

Pada tingkat kedua, atau biasa disebut senior high, merupakan tingkat lanjutan dari jenjang sebelumnya. Pada tingkat ini, kurikulum yang diberikan sudah benar-benar berbeda dengan sekolah biasa.

Siswa senior high sudah diajarkan bagaimana cara memanfaatkan sihir mereka, mendapatkan sebuah spesialisasi, mengembangkan bakat dan minat, hingga bertarung menggunakan sihir. Sama seperti junior high, pada jenjang ini, pendidikan akan berlangsung selama tiga tahun.

Alasan Shouka Sonjoku disebut sebagai sekolah dengan sistem satu atap terpadu, itu karena jika siswa junior high telah dinyatakan lulus, maka mereka berhak langsung melanjutkan ke tingkat senior high. Dengan kata lain, sistem yang dipakai akademi ini memungkinkannya untuk mendapatkan murid-murid berkualitas dan sesuai standar mereka dengan mudah.

Tentu saja, lulus junior high bukan satu-satunya jalan untuk masuk ke tingkat senior high. Selain dari junior high, masih ada dua jalan lain untuk masuk ke tingkat selanjutnya.

Yang pertama adalah dari jalur rekomendasi. Ini adalah jalur yang kugunakan. Kakekku adalah mantan panglima, dan nenekku adalah mantan bangsawan sekaligus healer terbaik di kerajaan. Hanya dari faktor itu saja, sudah sangat mudah bagiku untuk menggunakan jalur rekomendasi.

Yang kedua adalah menggunakan ujian masuk. Dari yang kudengar, ujian masuknya sangatlah sulit. Saat ini, Sasuke adalah satu-satunya orang yang aku ketahui sebagai siswa yang lolos ujian masuk.

Sesungguhnya, ini sedikit aneh. Umumnya, para bangsawan sudah mendaftarkan anak mereka sejak di junior high. Atau jika ada yang masuk langsung ke senior high, para bangsawan itu pasti menggunakan jalur rekomendasi. Sedangkan untuk Sasuke, aku tidak tahu secara pasti alasannya mengambil jalur tes ujian masuk.

"Ayo pergi, kita masih harus melihat ditempatkan di kelas mana kita," ajakan dari Sasuke sedikit membuyarkan lamunanku.

Ya, sejak tadi kami hanya diam saja sambil menyaksikan hiruk pikuk para murid-murid lain. Suasana ramai seperti ini sejujurnya membuatku merasa sedikit tidak nyaman. Jika boleh memilih, aku lebih suka mengurung diriku di kamar atau pergi ke perpustakaan untuk membaca buku.

"Ayo," balasku.

Kami berjalan dengan santai menuju tempat papan pengumuman yang berada di ujung halaman akademi ini. Jaraknya sekitar 300 meter dari tempat kami berdiri. Jarak yang cukup jauh memang.

Tapi, jarak seperti ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan luas seluruh akademi Shouka Sonjoku. Jujur saja, ketika pertama kali aku membaca profil akademi, mataku serasa ingin loncat keluar dari rongganya.

180 hektar, itu adalah luas akademi Shouka Sonjoku. Maksudku, kau tahu seberapa luasnya itu? Jika tidak, jangan berkecil hati karena aku sendiri juga tidak tahu. Tapi yang pasti adalah, ladang milik kakek yang ukurannya setengah hektar saja sudah kuanggap luas, apa lagi dengan 180 hektar?

Itu berarti, luas keseluruhan akademi ini kira-kira 360 kali lebih luas dari ladang milik kakek!

Bukan hanya luasnya saja yang mengagumkan, tapi fasilitasnya pun tidak kalah mengejutkan. Yang aku tahu saja, gedung utama untuk senior high mempunyai empat tingkat, lalu perpustakaan yang berisi 100.000 buku, puluhan lapangan tanding, dan satu arena utama yang seperti collosseum.

Selain itu, akademi ini juga menyediakan asrama bagi murid-muridnya yang berasal dari luar Edo dan tidak mempunyai tempat tinggal di Edo. Penghuni asrama kebanyakan berasal dari murid-murid dengan latar belakang warga sipil biasa. Tapi, ada juga beberapa bangsawan yang memilih tinggal di asrama.

Ini sedikit menyebalkan. Maksudku, bahkan untuk bangsawan dari luar Edo sekalipun, mereka pasti mempunyai rumah dinas di sini. Jadi, daripada tinggal di asrama, lebih baik mereka tinggal di rumah dinasnya masing-masing, kan?

Asal tahu saja, bangsawan itu sangat menjengkelkan. Semalam saja aku melihat salah satu dari mereka yang menindas penghuni asrama lain. Tentu saja, aku langsung kabur begitu melihatnya.

Aku ini adalah orang yang rasional, kau tahu? Lebih baik pergi sesegera mungkin daripada berurusan dengan bangsawan.

Namun di atas itu semua, ada satu hal yang juga sangat menarik perhatianku. Yaitu keberadaan Sasuke. Aku tidak menyangka dia juga tinggal asrama. Uchiha adalah bangsawan terpandang yang berada di ibu kota Edo. Jadi, sedikit rancu jika melihat Sasuke yang seorang Uchiha justru tinggal di asrama dengan fasilitas apa adanya.

Aku sedikit mempunyai gambaran yang membuat Sasuke tinggal di asrama. Tapi, aku benar-benar tidak ingin terlibat terlalu jauh dengan urusan Uchiha meskipun Sasuke itu temanku.

Setelah kami berjalan beberapa menit, akhirnya kami sampai tepat di depan papan pengumuman. Meskipun upacara penerimaan telah berakhir sekitar 15 menit yang lalu, suasana di sekitar sini masih cukup ramai.

"Naruto ... Naruto ... Naruto ... di mana Naruto?" gumamku sambil mengamati papan pengumuman.

"Kurasa kau bisa menemukannya di kedai ramen."

Setelah mendengar Sasuke yang tiba-tiba berceletuk seperti itu, entah kenapa rasanya pembuluh darah di pelipisku menjadi keras.

"Hei, teme. Kau mengejekku, ha?"

"Bukan teme, tapi Sasuke. Aku hanya berkata yang sebenarnya, kau tahu?"

"Yang kumaksud itu namaku, Naruto Namikaze. Bukan naruto toping ramen, sialan. Jangan sombong hanya karena kau punya nama bagus, ya!" omelku ke Sasuke.

"Oh, lihat! Aku menemukan namamu, kelas 1-G. Kita satu kelas, Naruto."

"Jangan mengabaikanku, teme."

"Sudah kubilang, bukan teme, tapi Sasuke. Berterima kasihlah kepada pemuda dermawan sepertiku yang dengan baik hati membantumu, dobe."

"Ha? Tidak ada orang baik hati yang menolong dengan harapan mendapat pujian."

"Tentu saja ada, dan itu aku!" ucap Sasuke sambil menghembuskan napas bangga.

Serius? Betapa narsisnya si Sasuke sialan ini? Meskipun dia sangat berbeda dengan bangsawan lain, tapi sifat narsisnya benar-benar tidak ada bedanya dengan mereka. Apalagi, sifat narsisnya itu sangat tidak cocok dengan wajahnya yang terlihat sombong dan menyeramkan.

Yah, meskipun begitu, dia tetap teman pertamaku di sini, sih. Selain itu, aku juga tidak masalah dengan sifat narsisnya. Maksudku, sifat narsis Sasuke masih tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kakek.

Tunggu, apa memang iya kalau kakek itu seorang narsistik? Tidak, kurasa bukan seperti itu. kakek hanyalah orang yang kelewat mesum, itu saja.

"Satu kelas denganmu, ya?" gumamku pada diriku sendiri.

"Apa? Apa kau tidak suka?" tanya Sasuke.

"Tidak, bukan seperti itu. Hanya saja, aku mera-,"

Perkataanku terputus ketika sebuah sensasi dorongan mengenai punggungku. Aku berbalik untuk melihat sesuatu yang mengenai punggungku itu.

Sempat aku berpikir bahwa itu adalah ulah orang yang iseng, tapi ternyata tidak. Di barisan paling belakang, aku melihat seorang siswa yang sedang tersungkur. Di depan siswa itu, berdiri dua siswa kembar dengan wajah yang terlihat sangat marah.

Si kembar tersebut mempunyai rambut biru pucat. Mereka juga menggunakan seragam yang sama dengan kami. Yang membedakan hanyalah dua bintang yang terdapat di atas logo akademi yang ada di blazer-nya.

Dua bintang tersebut berarti bahwa mereka adalah siswa tahun kedua senior high. Sedangkan untuk kami, siswa tahun pertama, hanya terdapat satu bintang di atas logo akademi.

"Brengsek. gara-gara kau, peringkat kami menjadi turun, sialan!" ucap salah satu dari si kembar.

Jarakku dengan mereka tidaklah terlalu jauh, sehingga aku bisa dengan jelas mendengar percakapannya. Apalagi, jika mereka berteriak seperti itu.

"Ta- tapi Sakon-san, Ukon-san ... aku sudah minta maaf, k- kan?" balas siswa yang tersungkur itu.

Ah, jadi nama si kembar itu adalah Sakon dan Ukon, ya? Tapi, jujur saja, aku tidak tahu mana yang Sakon dan mana yang Ukon. Di mataku, mereka berdua benar-benar terlihat mirip. Jadi, dari pada repot-repot, sebut saja mereka dengan si Biru I dan si Biru II.

"Apa kau pikir minta maafmu itu bisa mengembalikan peringkat kami, ha?" tanya si Biru II dengan gahar.

"Jika kau bisa lebih berguna, pasti peringkat kami bisa naik drastis, sialan!" si Biru I itu sedikit berteriak sambil menarik rambut siswa yang malang itu.

Aku melihat ke sekeliling, tidak ada satu pun yang berniat melerai mereka. Aku bisa mengerti, karena kebanyakan yang ada di sini saat ini adalah siswa tahun pertama. Jadi, wajar jika mereka tidak berani melerai.

Memang, ada beberapa senpai-senpai tahun kedua dan ketiga yang masih berada di sini. Tapi, entah kenapa mereka membiarkannya seolah-olah siswa malang itu pantas mendapatkannya.

"Healer sepertimu benar-benar tidak berguna," teriak si Biru I lagi sambil memukul pipinya.

Dengan wajah yang terlihat menahan rasa nyeri, siswa malang itu berkata, "ta- tapi, kalian juga mengabaikan arahanku, kan?"

Si Biru II yang terlihat tidak terima karena dirinya disalahkan, lantas menendang perut siswa malang tersebut dengan keras.

Hingga detik itu, aku sudah tidak begitu memperhatikan pertikaian mereka. Otakku secara otomatis langsung memikirkan sesuatu ketika mendengar pernyataan siswa yang ternyata seorang healer tersebut.

Ketika aku sedang fokus dengan pikiranku, siku Sasuke sedikit menyenggolku. Lalu, ia berbisik ke arahku.

"Kau pernah bilang padaku kalau kau ini seorang healer, bukan?"

Aku yang mendengar pertanyaan dari Sasuke, hanya menganggukkan kepalaku pelan sebagai jawaban.

"Aku sebenarnya ingin mengatakan ini ketika kita sedang berdua saja. Tapi, aku rasa aku harus memberitahumu secepat mungkin."

Perkataan Sasuke semakin membuatku menjadi penasaran. Terutama, dia mengatakan ini setelah melihat seorang healer yang dihajar habis-habisan seperti itu. Melihat momennya, seketika membuatku merasakan firasat buruk tentang hal ini.

"Kau dari desa di dekat perbatasan yang jauh dari konflik, benar? Jadi, mungkin kau belum mengetahui hal ini."

Aku tanpa sadar menarik napas dalam-dalam ketika Sasuke sedikit menjeda perkataannya.

"Kau tahu, selama ini para penyihir tipe support, apalagi healer, selalu dipandang sebelah mata dan dijadikan kambing hitam atas kegagalan sebuah tim."

Mataku serasa ingin keluar ketika mendengarnya.

"Apa maksudmu, Sasuke?"

"Healer adalah tipe penyihir yang hampir selalu berdiri di garis paling belakang, kan?"

Aku mengangguk sebagai konfirmasi. Kemudian, Sasuke melanjutkan.

"Mereka sangat jarang membantu menyerang secara langsung. Karena itulah, mereka sering kali dianggap tidak mempunyai peran yang penting dalam tim. Seorang penyihir yang mampu mengalahkan musuh yang kuat selalu disanjung setinggi langit, sedangkan healer yang berdiri di belakang, hanya dianggap sebagai pelengkap tim saja.

"Kemenangan tim adalah milik mereka yang bertarung secara jantan melawan musuh di garis depan. Sedangkan kekalahan tim adalah dosa healer yang gagal menjaga rekan-rekannya", itu adalah anggapan yang sudah lama tertanam di kepala orang-orang," Jelas Sasuke dengan panjang lebar.

Untuk beberapa saat, aku serasa seperti berhenti bernapas. Aku sangat terkejut dengan informasi yang aku dengar barusan.

"Tapi, Sasuke. Jika mendengar ucapan senpai itu, bukankah dia sudah melakukan tugasnya? Maksudku, meskipun aku berasal dari desa yang jauh dari konflik, aku juga sering belajar strategi bertarung. Selain merawat rekan mereka, healer juga bertugas mengamati medan pertempuran, kau tahu?"

Sasuke terlihat sedikit menghela napas, kemudian dia berkata.

"Manusia hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, dan mendengar apa yang ingin mereka dengar, Naruto," ia berhenti sejenak dan melanjutkan, "apa kau tahu alasan mereka memandang healer seperti itu?"

"Ti- tidak," balasku.

"Pada perang dunia pertama, kerajaan Codafata mengalami kekalahan yang memalukan dari lawan-lawannya. Para prajurit yang namanya tidak ingin terdengar semakin jelek di mata masyarakat, lantas langsung melimpahkan semua kesalahan kepada para healer. Dari situlah stigma negatif healer berasal dan terus berkembang."

"Begitu, ya?" gumamku pelan.

Ini terasa sangat menyakitkan bagiku. Selama ini, aku selalu melihat nenek yang sedang mengobati orang-orang yang sakit, dan itu sangat keren menurutku. Orang-orang desa juga sangat menghormati nenek karena tidak memungut biaya yang mahal.

Rasanya, ini seperti aku dipaksa untuk menelan bola panas. Fakta yang jauh dari ekspektasiku, benar-benar membuat harga diriku sebagai seorang healer merasa terluka. Tapi, aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanyalah orang desa biasa.

"Pandangan negatif itu sempat hampir menghilang ketika kerajaan mempunyai healer yang sangat hebat. Kau tahu Tsunade-sama si putri siput, kan? Dia adalah healer terhebat dalam sejarah. Tidak hanya dalam ilmu medisnya, tapi juga kemampuan bertarungnya benar-benar mengerikan," jelas Sasuke kembali.

Nenek, kah? Yah, dia memang sangat mengerikan, sih. Tidak, mengerikan saja tidak cukup untuk menggambarkan nenek.

"Apa selama ini kerajaan tidak punya usaha untuk memperbaiki nama baik para healer?" tanyaku.

Sasuke menatap langit jauh di atas sana. Pandangannya seolah-olah memperlihatkan bahwa ia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk pertanyaanku.

"Kurasa tidak. Daripada memikirkan nasib seorang healer, mereka seolah-olah sedang berusaha untuk melahirkan Tsunade-Tsunade lainnya."

Aku memiringkan sedikit kepalaku sebagai tanda bahwa aku tidak mengerti maksudnya. Menyadari hal itu, Sasuke pun memberikan penjelasannya lebih lanjut.

"Ini hanya sekedar asumsiku saja. Tapi, apa kau tahu alasan tentang jumlah healer di akademi ini sangat banyak?"

Tunggu sebentar. Jika dipikir-pikir lagi, memang benar jumlah healer di akademi ini sangat banyak. Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi memang benar-benar banyak.

Selain nama dan kelas, di papan pengumuman tadi juga ditulis tipe-tipe sihir para murid-murid. Ini jelas, pada ujian masuk pun, Sasuke bilang kalau panitia penerimaan murid baru memintanya untuk mengeluarkan berbagai sihir yang ia kuasai sebanyak mungkin. Itu berarti, sejak awal mereka memang berniat menyaring murid-murid berdasar tipe sihir mereka.

Selain itu, sistem satu atap terpadu juga membuat akademi ini dengan mudah mendorong terlahirnya healer-healer baru. Jika memang begitu, itu berarti ...

"Maksudmu, mereka sengaja menerima para healer dengan tujuan agar healer-healer tersebut bisa mencapai level Tsunade si putri siput?" tanyaku sebagai konfirmasi.

"Tepat sekali. Yah, meskipun begitu, tidak pernah ada healar lain yang bisa mencapai level itu."

Akulah yang akan mencapai level itu!

Maunya sih aku bilang seperti itu karena itu memang mimpiku, tapi akan sangat memalukan jika orang lain mengetahuinya.

Selama kami berbincang-bincang tadi, pertikaian antara si healer-senpai yang malang dengan si Biru I dan Biru II masih belum selesai. Entah sudah berapa menit ini berlangsung, tidak ada satu pun yang berniat melerai mereka. Jika seperti ini, mungkin aku harus tangan?

Tentu saja tidak, memangnya siapa aku? Jika aku tiba-tiba ke sana, yang ada justru aku ikut dipukuli juga. Membayangkannya saja sudah ingin membuatku kabur.

"Sasuke, apa tidak ada guru yang berniat menghentikan senpai kembar itu?" tanyaku?

Sasuke hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Gestur itu aku anggap bahwa ia juga tidak tahu. Namun, beberapa detik kemudian, ia berkata.

"Sebenarnya, bisa saja si healer-senpai mengadukan itu ke guru. Tapi, tindakan seperti itu pasti mengundang masalah lain yang lebih merepotkan. Kau tahu maksudku, kan?"

Aku paham maksudnya. Ini seperti ketika ada seorang bocah yang berkelahi dengan temannya, dan bocah itu menangis lalu mengadu ke neneknya. Sebagai imbas karena sudah mengadu, bocah itu justru tidak punya teman hingga dia berusia 17 tahun.

Tunggu, kenapa kisah bocah itu tidak asing bagiku? Tidak, itu bukan berarti aku adalah bocah yang ada di kisah itu. Be- benar, itu adalah cerita dari temannya temanku, bukan ceritaku.

"Hei, kalian berdua. Berhenti memukuli dia!" Teriak seseorang dengan suara khas dari wanita.

Seluruh pasang mata secara otomatis tergerak menuju sumber teriakan tersebut, tidak terkecuali diriku. Dari arah panggung podium tempat kepala sekolah berpidato, datang seorang murid perempuan.

Dia mempunyai rambut dengan panjang sepunggung dan berwarna merah, semerah darah. Poninya yang ia biarkan ke depan, menutupi mata kirinya. Pandangan matanya terlihat sangat tegas. Bahkan dari jarak seperti ini, aku bisa merasakan kharismanya yang sangat kuat.

Lebih dari itu, dia hanya mempunyai satu bintang di logo blazer-nya. Itu berarti, dia adalah seorang murid tahun pertama, sama sepertiku.

"Tindakan kekerasan dilarang di lingkungan akademi. Jika kalian mempunyai masalah, kalian bisa membawanya kepada para guru atau meminta bantuan rekonsiliasi kepada para anggota elite ten council. Dan jika kalian merasa perlu, kalian bisa mengadakan battle of justice," ucap murid perempuan berambut merah itu dengan tegas.

Jadi, elite ten council juga bisa mengurusi masalah seperti ini, ya? Jika tidak salah, siswa terbaik yang melakukan pidato di upacara tadi juga merupakan perwakilan dari elite ten council. Awalnya, kukira itu hanya semacam sebutan untuk sepuluh murid dengan peringkat terbaik. Ternyata, itu adalah nama badan organisasi di akademi ini, ya?

"Huh, mana mungkin healer sepertinya berani menerima tantangan kami?" ucap si Biru I sambil mendorong kasar healer-senpai yang malang.

"Kalau begitu, kalian harus berhenti melakukan kekerasan fisik padanya. Jika tidak, kami dengan terpaksa mengambil tindakan tegas," balas gadis berambut merah tanpa takut.

Tunggu, hanya berhenti melakukan kekerasan fisik? Apa itu berarti kalau kekerasan verbal tidak dilarang? Yang benar saja, kekerasan verbal itu jauh lebih mengerikan dari kekerasan fisik, lho.

"Cih, jangan sombong hanya karena kau anggota elite ten council, Erza," ucap si Biru II dengan ketus.

"Apa kalian ada masalah dengan itu?" balasnya.

"Ayo pergi, Ukon," kali ini aku yakin kalau yang mengajak pergi itu adalah si Biru yang bernama Sakon.

Apa-apaan ini, aku benar-benar yakin kalau siswi yang dipanggil Erza tersebut hanya sedikit mengeluarkan intimidasinya. Dan itu benar-benar terasa sangat kuat. Auranya pun terasa sangat berbeda dengan murid lainnya. Dari pada seorang murid, auranya justru lebih mirip seperti kesatria sihir saja.

"Jadi, gadis itu yang bernama Erza Scarlet, ya?"

"Kau mengenalnya, Sasuke?" responku yang sedikit terkejut ketika mendengar bahwa Sasuke menyebut sesuatu yang aku yakini sebagai nama lengkap gadis itu.

Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku. Atensinya benar-benar terfokus sepenuhnya kepada gadis bernama Erza itu. Mungkin ini hanya perasaanku saja, tapi aku merasa kalau udara di dekatku tiba-tiba berubah menjadi sedikit panas.

Tidak, kurasa ini bukan perasaanku saja. Udara di sekitar tubuh Sasuke benar-benar menjadi sedikit panas.

"Tidak, aku hanya tahu beberapa info tentang Erza. Itu saja," balas Sasuke kemudian.

Informasi? Ini adalah hari pertama dan dia sudah mendapat informasi tentang gadis cantik yang terlihat sangat garang itu? Tolong jangan katakakn padaku kalau tujuannya pergi ke akademi ini hanya untuk mencari gadis cantik.

Sasuke yang merasa tidak mendapat respon apa pun dariku, merasa sedikit jengkel. Itu bisa dilihat dengan jelas dari matanya yang memandangiku dengan sedikit menyipit.

"Kau tahu, dia adalah anggota elite ten council yang berhasil mendapatkan kursi ke-10 saat dia masih berada di akhir tahun ketiga di junior high," jelas Sasuke.

Tunggu dulu. Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran hal ini sebelumnya? Sepasang Sakon dan Ukon tadi menyebut kalau Erza adalah anggota elite ten council, dan dia saat ini masih duduk di tahun pertama, sama sepertiku dan Sasuke.

"Itu berarti, dia adalah murid terkuat di angkatan kita?" konfirmasiku.

Sasuke mengangguk, "ya, itu benar. Tapi, bukan hanya itu saja. Dia ... Erza Scarlet ... adalah pemegang pedang benizakura."

Aku secara spontan menelan ludahku dengan kasar. Hanya mendengar fakta barusan, membuat seluruh bulu kudukku menjadi berdiri.

Siapa yang tidak tahu dengan pedang benizakura? Itu adalah salah satu senjata yang konon katanya mendapat anugerah langsung dari para dewa. Senjata yang bahkan mampu menghancurkan para dewa, naga, dan iblis. Senjata suci yang mendapat anugerah para dewa, atau senjata yang biasa disebut dengan longinus.

Dari buku-buku yang sering aku baca, benizakura adalah pedang dengan model katana, atau pedang dengan sisi tajamnya yang melengkung. Dikatakan, benizakura mempunyai bilah berwarna merah muda, seperti bunga sakura, yang terlihat menyala di bawah kegelapan.

Pedang itu akan terus memaksa penggunanya untuk mengeluarkan kekuatan yang melampaui kemampuan dari si pengguna. Karena itulah, jika pengguna tidak mampu mengikuti keinginan benizakura, maka pengguna itulah yang akan termakan kekuatan benizakura dan berubah menjadi monster.

Sebagai salah satu dari longinus, pedang benizakura mempunyai kekuatan yang sangat hebat. Tapi, di sisi lain, juga terdapat risiko yang sangat tinggi di dalam pedang itu.

Sekarang, tepat di depan mataku, ada seorang gadis yang memegang benizakura. Tentu saja, itu berarti gadis tersebut adalah gadis yang sangat kuat, namun mempunyai masa depan yang berbahaya. Di tambah lagi, dia adalah anggota elite ten council, yang menurut firasatku pasti berisi dengan orang-orang yang menyeramkan.

Maksudku, lihat saja si Erza Scarlet itu. Jika kuperhatikan lebih lanjut, dia bahkan mempunyai aura monster yang terlihat mirip seperti nenek. Mungkin tidak berlebihan jika aku mengatakan kalau dia adalah versi kecil dari nenek.

Dari fakta-fakta itu saja, sensor peringatan bahaya yang ada di kepalaku langsung berteriak kencang. Mungkin ini terdengar kasar, tapi aku benar-benar harus menjauhi gadis bernama Erza itu, sejauh mungkin yang aku bisa!

Maafkan aku, Scarlet-san. Tapi, ini demi kebaikan jiwa dan ragaku sendiri.

"Baik, Sasuke. ayo pergi ke kelas kita," ucapku setelah merasa bahwa udara di sekitar Sasuke sudah kembali seperti semula.

"Hn," balas Sasuke sambil berjalan.

Seperti biasa, Sasuke selalu menjawab dengan sangat singkat dan tidak jelas. Tapi, entah kenapa aku selalu mengerti maksudnya. Namun, lebih dari itu, ada sesuatu yang harus kuperingatkan kepada Sasuke ketika aku melihatnya pergi mendahuluiku.

"Sasuke-san, itu bukan jalan ke kelas kita, kau tahu?" ucapku dengan nada dingin dan sukses membuat dia terhenti.

"Tunggu, jangan bilang kalau kau juga akan tersesat meskipun kita hanya akan pergi ke kelas?" imbuhku.

Sasuke berbalik ke arahku. Sama seperti sebelumnya, keringat dinginnya benar-benar mengalir deras ketika ia memperlihatkan kebodohannya sendiri.

"Kau salah, Naruto-kun. Aku hanya ingin berkeliling sebentar di sekolah baru ini. Tidak lebih," balasnya.

"Aku yakin, kata 'berkeliling sekolah'-mu itu bisa berubah menjadi berkeliling Edo. Ikuti aku, dan jangan coba-coba pergi ke arah lain, kau bangsawan idiot."


XxxxX

Setiap manusia, pasti punya naluri untuk bertahan hidup yang berbeda-beda. Tapi, secara garis besar bisa dikelompokkan menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama adalah manusia cinta damai sepertiku. Manusia yang akan menganalisis konflik-konflik yang akan terjadi, kemudian pergi menghindarinya sejauh mungkin. Dalam komunitas sosial, seperti kehidupan sekolahan, manusia-manusia seperti ini umumnya akan duduk di sudut kelas, mendengar dan mencatat pelajaran, lalu pulang dengan damai.

Banyak yang salah paham dengan kami. Banyak orang yang menganggap bahwa manusia yang cinta damai itu hanyalah seorang pengecut dan pecundang. Tentu saja mereka salah, karena sebenarnya kami ini hanyalah orang yang jenius dalam menghindari masalah.

Lalu, kelompok yang kedua adalah kelompok yang menyukai tantangan. Ciri yang paling khas dari mereka adalah aura masa mudanya yang menyilaukan. Umumnya, mereka adalah orang yang dengan mudah menarik orang lain ke dalam lingkungannya, dan menjadikan dirinya sebagai pemuncak tertinggi dalam kehidupan sosial bermasyarakat.

Untuk lebih singkatnya, saat ini aku sedang membicarakan tentang perbedaan karakter sampingan dengan karakter utama.

Di kelas ini, terdapat 30 murid. Ketika aku memasuki kelas, mereka semua sudah terlihat terbagi-bagi dalam kelompok pertemanan. Dalam kelas ini, tatanan bangku dibuat dengan model bangku tunggal. Itu berarti, satu bangku hanya bisa dibuat untuk satu orang saja.

Seperti karakter sampingan lainnya, aku duduk tepat di baris tengah dengan bangku yang paling dekat dengan tembok kelas. Ini adalah tempat duduk yang paling menjanjikan bagiku karena tidak akan membuatku terlalu mencolok.

Tapi, itu seketika hancur ketika Sasuke memutuskan duduk di sampingku. Statusnya yang merupakan bangsawan dari keluarga Uchiha tentu saja akan menarik perhatian orang lain. Dengan begitu, mau tidak mau aku juga pasti ikut terseret ke dalamnya.

Setidaknya, itu adalah ekspektasi awalku. Karena kenyataannya justru sangat berbeda drastis. Alih-alih dikerubungi orang-orang yang ingin menaikkan derajat sosialnya atau orang-orang yang takut dengan keberadaan Sasuke. Faktanya benar-benar membuatku lebih risih.

Sasuke, dia justru mendapat tatapan intimidasi dari murid lain, khususnya dari murid yang kutaksir juga merupakan seorang bangsawan. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, tapi itu membuatku merasa ikut-ikutan menjadi korban karena duduk di sebelahnya.

Suasana yang ramai dengan percakapan para murid, tiba-tiba terhenti ketika mendengar suara gemeresak dari arah belakang kelas. Seluruh pasang mata yang mendengar suara itu, lantas mengalihkan pandangannya menuju sumber suara tersebut berasal.

Di sana terdapat sebuah kantung yang bergerak-gerak sendiri, seolah di dalamnya terdapat sesuatu yang menggerakkannya. Pada awal masuk kelas, aku kira kantung yang mirip seperti kantung tidur itu hanyalah properti biasa yang ada di kelas ini. Tapi, ketika melihat kalau kantung itu terus bergerak, aku jadi tidak yakin kalau itu hanya kantung tidur biasa.

Rasa penasaran kami terbayar seketika saat sesuatu di dalam kantung itu keluar. Namun, di saat yang sama, itu juga membuat keringat sebesar biji jagung keluar dari pelipis kami semua.

Tidak ada siapa pun yang menduga kalau akan ada pria dewasa yang keluar dari kantung itu. tampilannya sangat aneh. Maksudku, dia mempunyai rambut perak yang terlihat acak-acakan, mata seperti ikan mati, dan bekas luka sayatan vertikal di mata kirinya.

Selain itu, apa-apaan dengan maskernya itu? Apa dia terkenal flu atau semacamnya?

Ketika pria itu sepenuhnya keluar dari kantung tidurnya, caranya berpakaian juga tidak kalah dalam membuat kami terkejut. Di dalam ruang kelas yang seharusnya penuh dengan pakaian rapi dan formalitas, dia justru memakai celana training dan jaket olahraga berwarna abu-abu.

Mengabaikan seluruh pasang mata yang menatapnya heran, pria itu justru melangkah ke depan tanpa rasa canggung sama sekali.

Ketika aku tidak sengaja melihat ke arah Sasuke, aku mendapati kalau dirinya melihat pria dewasa itu dengan sedikit tajam.

"Ada apa, Sasuke?" Tanyaku.

Sasuke masih tampak sedang mengingat-ingat sesuatu, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menjawab pertanyaanku.

"Aku merasa pernah bertemu orang itu di suatu tempat."

Sebelah alisku sedikit terangkat, "Mungkin, dia orang asing yang kau temui ketika kau tersesat?"

Itu sangat masuk akal. Bagi orang buta arah yang selalu tersesat seperti Sasuke, sangat wajar kalau dia banyak melihat wajah-wajah asing selama ia tersesat. Namun, jawabanku tidak membuatnya merasa puas. Kedua alisnya masih tertekuk, menandakan bahwa ia sedang menggali pikirannya jauh lebih dalam.

Suasana kembali normal ketika kami semua mendengar suara ketukan pelan dari depan kelas. Di sana, pria itu terlihat sedang mengetuk-ketuk papan tulis dengan harapan mendapat atensi dari seluruh penghuni kelas.

Tunggu, jangan bilang kalau pria aneh dengan suasana suram itu adalah guru kami?

"Yahh ... eeehh ... Pertama-tama, aku minta maaf karena muncul tiba-tiba dari kantung tidur. Aku tahu itu pasti terasa aneh, benar?"

Hei-hei-hei. Jadi, selama ini dia sadar kalau kelakuannya sejak tadi itu aneh? Kalau kau tahu, kenapa kau masih melakukannya?

"Kalian tahu, Azazel-san orangnya sedikit menyeramkan. Meskipun aku belum genap tiga bulan mengajar, dia pasti langsung memecatku jika aku terlambat di hari pertama ajaran baru. Karena itulah, aku memilih untuk tidur di kelas dari pada harus terlambat.

Asal kalian tahu, aku tidak punya pilihan lain lagi. Mencari pekerjaan di zaman ini benar-benar sangat susah. Jadi, aku akan tidur di kelas ini sampai aku diangkat menjadi pengajar tetap," keluh pria aneh itu.

Tunggu, sensei-san. Kenapa kau jadi curhat soal beban hidupmu? Asal kau tahu saja, kau akan terus kesusahan dalam mencari kerja jika kau menjadi seorang pemalas, tahu tidak? Lagi pula, jika kau tidak ingin terlambat mengajar, maka datanglah lebih pagi. Bukan justru tidur di dalam kelas!

"Ah, benar juga. Namaku Kakashi Hatake. Umuruku ... eeeehh ... kurasa itu tidak penting. Jadi ... hoaamm ... ayo langsung pergi ke dungeon buatan saja."

Eh? Apa? Tunggu, apa itu tadi perkenalan? Tidak benar, kan? Perkenalan aneh macam apa itu? Lagipula, yang benar saja. Ini baru hari pertama dan kita langsung ke dungeon? Tidak-tidak-tidak, ini benar-benar sangat berbeda dari yang kubayangkan selama ini.

Siapa pun, tolong pukul kepala pria yang terlihat sangat bermasalah itu!

Bersambung


Author Note : Halo, aku di sini bersama chapter 3. Sebelum masuk ke pembahasan, saya ucapkan terima kasih banyak atas yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, mereviw, dan memfollow/memfav cerita saya. Omong-omong, chapter ini sebenarnya ingin aku pecah jadi dua chapter karena word terlalu banyak. tapi, karena ada alasan ini dan itu, aku jadi mutusin buat tetep aku jadikan satu chapter aja haha.

Pertama, ada yang bingung dengan sistem sekolah satu atap? Dengan junior high dan senior high? kalau ada, ya itu sebenarnya sama seperti sekolah satu atap yang lain. Lagipula, junior high dan senior high itu artinya SMP dan SMA. di chapter ini, aku membahas dasar2 konsep yang aku pakai pada sistem sekolah.

Elite ten council, bagi kalian yang suka melihat Shokugeki no Soma, pasti tidak asing kan? Sejujurnya, aku sangat suka dengan konsep elite ten council ini, yang menilai siswanya dari prestasinya di sekolah, kontribusinya di sekolah, dan jumlah shokugeki dan presentase kemenangannya. di sini, aku ubah nama shokugeki menjadi battle of justice. tentu saja, ada alasan dan filosofi sendiri di dalam nama "battle of justice" itu sendiri. Apa arti dan filosofinya? nanti aku bahas di chapter2 selanjutnya.

Kedua, di chapter ini juga aku jelaskan alasan kenapa fict ini berjudul "The Dissastrous life of healing magic users". di sini, aku buat alasan mereka dipandang sebelah mata itu karena budaya dan stigma negatif dari masyarakat akibat jarangnya mereka terjun langsung ke garis depan. ini sebenarnya terinspirasi dari pengalaman temanku, banyak orang yang mengeluh kalau dokter itu enak tinggal begini dan begitu. padahal aslinya dokter itu susah, bebannya ada banyak dan urusannya langsung dengan nyawa orang lain. kalau dokter salah sedikit, mereka akan langsung dipandang negatif, kena displin kode etik, cacian, dan bahkan hukum.

Jadi, meskipun ini tidak seberapa atau tidak menggambarkan secara keseluruh kehidupan para dokter, paling tidak aku ingin fict ku ini sedikit mewakili suara hati para dokter hahaha.

Selain itu, meskipun judulnya "Healing Magic Users", nanti yang kusorot di sini hanyalah berfokus pada Naruto saja, ya karena emang dia MC nya sih hehe.

Ketiga, jadi ... yaa ... Erza Scarlet, kalian pasti tahu, kan? ketika aku memikirkan heroine dengan aura tegas khas seorang kesatria, pikiranku langsung tertuju ke Erza. Lagipula, dia ini salah satu heroine top tier yang ada saat ini. Jadi, semoga gak ada yang mempermasalahkan pilihanku ini hehe. ke depannya juga, aku mungkin akan memasukkan karakter lain di luar Naruto dan DxD.

Untuk benizakura, aku mengambilnya dari Gintama. Kalian bisa melihatnya di google jika mau. Selain itu, alasan aku menggunakn benizakura karena Erza sendiri juga mempunyai armor yang bernama benizakura. oh ya, di sini aku tidak akan membuat Erza menggunakan sihir requip. dia hanyalah kesatria yang murni bertarung dengan pedang dan kemampuan sihirnya.

keempat, semoga kalian juga merasa baik-baik saja dengan konsep longinus yang aku ubah. aku sudah cek dan ricek di dcd wikia, ada 12 longinus murni dan 6 longinus baru. dari 18 itu, ada beberapa yang tidak ditulis detailnya. selain itu, aku merasa ada yang gak cocok dengan jalan ceritaku. jadi, mungkin nanti akan ada 2 atau 3 longinus yang akan aku ganti dan jumlahnya hanya akan aku batasii menjadi 10. jika kalian merasa tidak nyaman, silahkan keluarkan uneg-uneg kalian di kolom review. saya akan mendengarkan segala kritik dan saran yang kalian keluarkan.

kelima, masalah Sasuke. yah, kemarin ada yang bilang Sasuke adalah bangsawan cacad. ya, aku rasa emang ide ini sudah pasaran, jadi aku tidak bisa mengelak kalau ada yang tahu atau berpikir demikian haha. tapi, yang jelas adalah aku akan membuat tindakan yang diambil Sasuke nanti berbeda dengan yang lainnya. Maksudku, idealisme seperti "mereka membuangku, aku akan balas dendam dan menghancurkan mereka" itu terlalu dangkal. Di sini, aku tidak akan membuat Sasuke mempunyai pikiran sependek itu. Sasuke mempunyai tujuan dan idealisme yang jelas.

Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.