"Kalian tahu, Azazel-san orangnya sedikit menyeramkan. Meskipun aku belum genap tiga bulan mengajar, dia pasti langsung memecatku jika aku terlambat di hari pertama ajaran baru. Karena itulah, aku memilih untuk tidur di kelas dari pada harus terlambat.

Asal kalian tahu, aku tidak punya pilihan lain lagi. Mencari pekerjaan di zaman ini benar-benar sangat susah. Jadi, aku akan tidur di kelas ini sampai aku diangkat menjadi pengajar tetap," keluh pria aneh itu.

Tunggu, sensei-san. Kenapa kau jadi curhat soal beban hidupmu? Asal kau tahu saja, kau akan terus kesusahan dalam mencari kerja jika kau menjadi seorang pemalas, tahu tidak? Lagi pula, jika kau tidak ingin terlambat mengajar, maka datanglah lebih pagi. Bukan justru tidur di dalam kelas!

"Ah, benar juga. Namaku Kakashi Hatake. Umuruku ... eeeehh ... kurasa itu tidak penting. Jadi ... hoaamm ... ayo langsung pergi ke dungeon buatan saja."

Eh? Apa? Tunggu, apa itu tadi perkenalan? Tidak benar, kan? Perkenalan aneh macam apa itu? Lagipula, yang benar saja. Ini baru hari pertama dan kita langsung ke dungeon? Tidak-tidak-tidak, ini benar-benar sangat berbeda dari yang kubayangkan selama ini.

Siapa pun, tolong pukul kepala pria yang terlihat sangat bermasalah itu!


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 4 : Pada Saat Itu, Perasaanku ...


XxxxX

Hingga saat ini, aku selalu berpikir jika hari pertama di sekolah itu seharusnya diisi dengan sesuatu seperti sesi perkenalan dan menambah banyak teman. Tidak, memang seharusnya seperti itu, kan? Maksudku, meskipun ini baru kali pertama aku pergi bersekolah, tapi setidaknya aku pernah kebetulan menguping percakapan tentang sesuatu seperti kehidupan sekolah dari anak-anak kota di dekat desaku.

Kurang lebih, mereka mengatakan sesuatu seperti kalau hari pertama sekolah adalah hari-hari yang menentukan status sosialmu selama tiga tahun ke depan. Aku bukannya ingin memanjat sosial dan berdiri di puncak komunitas atau semacamnya. Tidak, aku tidak akan melakukan sesuatu yang sangat mencolok seperti itu.

Aku hanya ingin memberi kesan yang baik pada anak-anak kelas melalui salam perkenalanku. Maksudku, memberikan kesan yang baik itu sangat penting, kau tahu? Dengan kesan yang baik, setidaknya aku tidak akan dicap sebagai anak yang bermasalah dan terhindar dari sesuatu yang merepotkan.

Lebih dari itu, aku bahkan sudah berlatih berbicara di depan cermin semalaman hanya untuk menghilangkan rasa gugupku ketika berkenalan nanti. Tapi, apa yang kudapat sekarang? Lupakan tentang perkenalan, bahkan ini bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan oleh sekolah lainnya di hari pertama, kan?

Awalnya, aku berpikir bahwa pergi ke dungeon di hari pertama adalah cara Kakashi-sensei untuk bercanda. Meskipun memang bercanda seperti itu tidak wajar jika diucapkan kepada murid-muridnya, tapi aku tetap ingin percaya kalau dia memang berniat bercanda.

Tapi pada akhirnya, guru suram itu benar-benar membawa kami ke dungeon milik sekolah.

Di depan kami semua, sekarang terdapat sebuah portal sihir berwarna biru tua dengan tinggi sekitar empat meter dan memancarkan tekanan sihir yang kuat. Tidak diragukan lagi, ini adalah portal dungeon. Tapi, berdasar penjelasan yang dijelaskan oleh Kakashi-sensei sebelumnya, ini berbeda dengan dungeon lain yang biasa muncul secara alami.

Pada dasarnya, dungeon adalah sebuah medan energi yang sangat besar yang terbentuk secara alami pada suatu tempat.

Secara teori, bumi ini terselubungi oleh energi dengan jumlah yang tidak terbatas, sebuah energi yang tidak dapat dikendalikan begitu saja. Hanya ada sedikit orang yang benar-benar mampu memadukan energi besar ini dengan mana yang ada di dalam tubuh manusia.

Mereka yang dapat memadukan energi bumi dengan mana di dalam tubuh, sering disebut sebagai sage. Kakek adalah orang yang menurut catatan, sebagai satu-satunya sage yang saat ini masih hidup. Kata kakek, seorang sage sering menyebut energi bumi ini dengan senjutsu.

Berbeda dengan para sage, para praktisi yang lebih memfokuskan pada penelitian ilmiah seperti nenek, menyebut energi yang menyelubungi bumi ini sebagai An Involuntary Movement Energy, atau yang kemudian disebut dengan AIM Energy. Seperti namanya, AIM Energy adalah sesuatu yang tidak kasat mata, namun terus bergerak tanpa bisa diprediksi. Nenek percaya, bahwa AIM Energy tidak akan pernah habis, kecuali jika seluruh makhluk di bumi punah. Dengan kata lain ... kiamat.

Hal itu didasari ketika nenek meneliti tentang kemungkinan perubahan mana pada tubuh manusia, monster, hewan, dan bahkan tumbuhan. Dalam buku karangannya, nenek berkata, 'setiap makhluk hidup mempunyai mana dengan karakteristik yang berbeda dan jumlah yang juga berbeda. Bahkan, masih terdapat perbedaan antara individu a, b, c, d, dan seterusnya meskipun itu berada dalam satu kategori subjek yang sama.'.

Dalam bab selanjutnya, nenek juga mengatakan, 'namun, ketika seluruh subjek di tempatkan pada ruang yang sama dan diharuskan mengeluarkan semua sihir yang dikuasai, maka akan muncul sebuah rembesan sedikit energi tidak perlu dari beberapa titik di tubuh mereka yang kemudian melebur bersama dengan lingkungan'.

Dari dua poin yang dikatakan nenek pada bukunya, itu berarti, meskipun tiap makhluk hidup mempunyai struktur mana yang berbeda, lingkungan sekitar tetap mampu memurnikan itu semua dan menjadikannya satu bagian dengan AIM Energy. Fenomena tersebut kemudian diberi nama sebagai AIM Diffusion Field oleh nenek.

Jika melihat dari poin kedua, maka makhluk hidup mempunyai titik-titik tidak sadar yang mampu mengeluarkan energi yang tidak perlu. Karena teori tersebut, kemudian dapat dijelaskan bagaimana seorang sage dapat mengolah AIM Energy, atau yang sering mereka sebut senjutsu, di dalam tubuh mereka.

Dengan kata lain, seorang sage telah melatih titik-titik tidak sadar tersebut hingga mencapai tingkat tertentu. Sehingga titik-titik yang pada awalnya hanya membuang energi yang tidak perlu secara tidak sadar, kemudian diubah menjadi titik yang dapat digunakan untuk menyerap energi dari luar dengan penuh kesadaran.

Baik seorang sage seperti kakek maupun orang yang berusaha mencari tahu tentang rahasia tubuh makhluk hidup seperti nenek, mereka berdua benar-benar mengagumkan.

Tapi cukup sampai situ penjelasan panjangnya, kembali lagi dengan dungeon. Seperti yang aku bilang, dungeon adalah suatu energi besar yang terbentuk dan berkumpul secara alami pada suatu tempat. Dengan kata lain, pergerakan AIM Energy yang tidak dapat diprediksi, mempunyai peran yang sangat besar atas terbentuknya dungeon.

Namun, dungeon yang ada di hadapanku ini berbeda dengan dungeon yang terbentuk secara alami. Bisa dibilang, ini adalah dungeon yang sengaja dibuat oleh pihak akademi dengan menggunakan sihir ruang tingkat tinggi. Jadi, meskipun juga disebut sebagai dungeon, setidaknya dungeon buatan tidak begitu bahaya jika dibandingkan dengan dungeon alami. Atau lebih tepatnya, dungeon buatan mempunyai tingkat bahaya yang mampu dikontrol dengan mudah.

Karena itu, tempat seperti ini sangat cocok jika digunakan sebagai pelatihan untuk murid seperti kami.

Tapi tetap saja, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk membawa kami ke sini di hari pertama sekolah! Serius, deh. Sekolah ini benar-benar tidak normal!

Berbicara mengenai dungeon, sebenarnya ada sesuatu yang menggangguku sejak tadi. Aku melihat ke arah Kakashi-sensei yang terlihat telah selesai memberi arahan kepada kami. Dengan begitu, aku pun mengangkat tanganku sebagai tanda kepada wali kelas kami tersebut.

"Ya, ada sesuatu, etto ... kepala durian-kun?"

Woi, jika kau tidak tahu nama muridmu, setidaknya tolong jangan memberikan sebutan yang aneh seperti itu! Apa kau sadar, kalau itu bisa membuat anak lain juga memanggilku dengan sebutan aneh?

Kuhembuskan napas lelah, "sensei, ini sedikit menggangguku. Tapi, kenapa aku tidak melihat kelas lain di area dungeon lain?"

Ya, dungeon buatan di hadapan kami saat ini bukanlah satu-satunya dungeon yang dimiliki Akademi Shouka Sonjoku. Sebagai akademi terbaik di seluruh kerajaan, akademi ini total mempunyai sepuluh dungeon buatan.

Tapi, dari area dungeon-dungeon lain yang kami lewati hingga sampai di sini, tidak ada sedikit pun tanda-tanda dari kelas lain yang juga melakukan pelatihan dungeon. Apa mereka sudah masuk duluan, ya? Jika begitu, aku merasa kasihan dengan mereka karena mendapat wali kelas yang kelihatannya jauh lebih disiplin dan bertanggung jawab dari Kakashi-sensei.

"Ah ... itu, ya? Yah, kurasa mereka saat ini sedang berada di dalam kelas mereka masing-masing," balas Kakashi-sensei.

Huh? Tunggu, apa yang dia katakan barusan? Semua murid dari kelas lain ada di kelas mereka masing-masing? Tunggu-tunggu-tunggu, pasti ada yang salah di sini, kan?

Bukan hanya aku, seluruh siswa di kelasku juga memasang wajah kebingungan yang kurang lebih sama sepertiku. Menyadari hal itu, Kakashi-sensei pun melanjutkan penjelasannya.

"Pelatihan dungeon sebenarnya baru diadakan minggu depan. Tapi, akan sangat merepotkan jika harus mengurus izin pemakaian untuk minggu depan nanti. Maksudku, semua kelas akan mengadakan pelatihan dungeon secara serentak, kau tahu? Harus mondar-mandir dan menaruh surat permohonan memakai dungeon ketika semuanya juga melakukan itu, pasti sangat merepotkan, kan?

Belum lagi, ketika harus mengantre lama karena telat menaruh surat permohonan. Ahhh ... itu benar-benar melelahkan, tahu tidak? Karena itu, aku memilih hari pertama ketika semuanya sedang sangat senggang seperti ini. Beruntung sekali Azazel-san menyetujui surat permohonanku."

Beruntung jidatmu! Bukankah itu berarti hari ini memang seharusnya sesi perkenalan? Lalu, Kau ini benar-benar pemalas yang tidak ingin susah ya, Kakashi-sensei? Dan juga, tolong jangan mengeluh soal pekerjaanmu pada kami. Serius ini!

Lihat saja, suatu saat aku akan mengoperasi kepalamu jika aku sudah menjadi dokter sungguhan!

Suasana hening menyelimuti murid-murid lain, aku yakin mereka juga memikirkan apa yang aku pikirkan saat ini. Mereka semua pasti merutuki nasib sialnya karena harus terjebak dengan guru pemalas yang tidak bertanggung jawab.

"Hmph ... aku setuju dengan Kakashi-sensei, semakin cepat semakin baik. Aku bisa langsung menunjukkan hasil kerja kerasku selama ini. Bagaimana denganmu, Naruto?" bisik Sasuke kepadaku.

Seseorang, tolong pukul juga bangsawan idiot di sebelahku ini. Aku yakin salah satu saraf di otaknya ada yang putus.


XxxxX

Setelah sebelumnya diberi pengarahan singkat di depan portal dungeon oleh Kakashi-sensei, akhirnya kami pun tiba di sisi dalam portal. Sesuai dugaanku, suasana di sini jauh lebih menegangkan dari yang kurasakan di luar. Meskipun sebelumnya aku cukup sering diajak berburu monster oleh kakek dan nenek, tapi memasuki dungeon tetap memberi tekanan tersendiri pada tubuhku.

Apalagi, ini adalah pengalaman pertamaku memasuki dungeon.

Sebelum masuk, kami dibagi menjadi enam tim dan setiap tim telah diatur untuk berada pada tempat yang berbeda ketika memasuki dungeon. Karena jumlah siswa kelas kami ada 30 orang, maka otomatis setiap tim beranggotakan lima orang.

Aku memperhatikan masing-masing anggota dari timku yang sedang berjalan di depanku. Tidak ada satu pun wajah yang aku kenal di sini. Itu membuatku merasa semakin gugup, serius ini.

Jika sebelumnya aku berkata kalau aku ketiban sial karena harus duduk di sebelah Sasuke, maka kali ini aku justru berharap kalau Sasuke menjadi anggota timku.

Setidaknya, bersama seorang teman lebih baik daripada harus bersama orang-orang yang tidak kukenal, kan? Jika sudah begini, rasanya aku seperti orang asing yang dikucilkan saja.

Tapi, bagaimanapun kondisinya, aku harus bisa mengakrabkan diri dengan anggota timku. Keharmonisan sebuah tim sangat berpengaruh dengan hasil yang akan dicapai. Oleh karena itu, jika mereka tidak mau memulai memperkenalkan diri, maka aku yang harus memulainya duluan.

Dalam kondisi yang serba canggung seperti ini, aku harus membuat kesan yang baik. Dari beberapa pilihan yang muncul di kepalaku, kurasa memberi sedikit lawakan pada perkenalanku adalah pilihan terbaik.

"Ha- halo, bisa meminta waktunya sebentar?" tanyaku yang memecah keheningan di antara kami.

Sapaanku pun berhasil membuat mereka menghentikan langkah kakinya. Kini, ada empat pasang mata yang semuanya langsung tertuju ke arahku.

"Y- ya, kita adalah seorang tim untuk saat ini, b- betul tidak?"

Tidak ada yang membalas pertanyaanku. Yah, lagipula itu wajar. Membalas sebuah basa-basi bukanlah sesuatu yang wajib, memang. Ta- tapi, setidaknya tolong jangan membuat wajah seram seperti itu. Kalian hanya membuatku terlihat seperti orang bodoh, tahu tidak?

Melihat respon mereka saja, aku sudah yakin dengan situasi yang sangat canggung ini. Sudah kuduga, memang tidak ada pilihan lain selain menyelipkan humor. Omong-omong, sebenarnya aku ini cukup mempunyai selera humor yang tinggi, lho.

"Perkenalkan, Namaku Naruto Namikaze, aku adalah seorang healer. Aku sangat menyukai ramen, kalian tahu? Saking sukanya, bahkan aku bermimpi untuk memakan semangkuk ramen dalam sekali lahapan sekaligus, ahahahaa."

Lihat, itu seharusnya menjadi perkenalan yang bagus, kan? Aku tidak terlalu membuat humor yang berlebihan. Jadi, itu seharusnya menjadi bumbu yang pas untuk perkenalanku barusan. Aku tidak sabar untuk menanti reaksi mereka.

"Apa yang kau katakan, dasar bodoh?" ucap salah satu anggota timku yang mempunyai badan gemuk besar dengan potongan rambut yang sangat aneh.

"Aku tidak peduli dengan healer. Lebih baik kau bersembunyi saja di suatu tempat. Aku tidak ingin kau membebaniku," kali ini, seorang gadis pirang dengan ujung rambut dikeriting yang berkata. Aura-aura ojou-sama sangat jelas terpancar dari dirinya.

"Kalian, jangan buang-buang waktu. Kita hanya punya waktu singkat," ucap salah satu anggota timku yang lain dengan cuek.

"Ingat, jangan membebani kami, sialan!"

Si badan gendut itu berteriak ke arahku. Bersama dengan teriakkannya, dia menghentakkan kakinya ke tanah. Dari sana, muncul sebuah retakan yang cukup lebar akibat hentakkannya yang kuat.

Si- sial, itu menakutkan, sialan. Kenapa kau berteriak ke arahku? Aku hampir saja lari tadi, tahu tidak? Selain itu, kenapa kalian tidak menanggapi salam perkenalanku? Itu membuatku benar-benar menjadi orang bodoh, kau tahu? Setidaknya, tolong beritahu nama kalian agar aku bisa memanggil kalian dengan benar.

"Jiroubo, kembalilah ke posisi."

Tanpa basa-basi, si gendut yang dipanggil Jiroubo itu kembali berjalan di depan bersama dengan cowok tampan yang menurutku diakui sebagai ketua tim di sini.

Daripada nama, jenis sihir dan cara bertarung mereka adalah poin yang paling penting di sini. Akan sangat merepotkan kalau aku tidak tahu jenis sihir dan penyihir tipe apa mereka ini. Meskipun aku tidak mendapat keharmonisan dalam tim, setidaknya aku masih dapat bekerja dengan baik jika aku mengetahui jenis sihir mereka.

Terima kasih kepada Kakashi-sensei yang menunjuk anggota tim begitu saja dengan acak tanpa memberi tahu sihir mereka sama sekali. Sungguh, aku benar-benar akan melakukan sesuatu pada guru pemalas itu di masa depan.

Baiklah Naruto, ayo gunakan daya ingat yang selama ini selalu kau banggakan itu. aku sudah menguping banyak pembicaraan di kelas tadi. Jadi, setidaknya aku mempunyai sedikit informasi tentang mereka. Paling tidak, sesuatu seperti nama mereka pun tidak masalah.

Yang pertama, si gendut yang barusan dipanggil Jiroubo. Jika kutaksir, tingginya sekitar dua meter, sangat tinggi untuk ukuran remaja seusiaku. Jika dilihat dari tubuhnya yang terlihat gempal, serta otot kaki dan tangannya yang terlihat besar, seharusnya dia tipe petarung jarak dekat yang mengandalkan kekuatan fisik. Ditambah lagi, dia mampu meretakkan tanah hanya dengan menghentakkan kakinya. Mungkin, dia pengguna sihir body enhance.

Si gadis dengan aura ojou-sama, aku yakin dia adalah seorang bangsawan. Ketika aku melihat papan pengumuman pagi tadi, hanya ada beberapa nama bangsawan yang masuk ke dalam kelasku. Dari beberapa itu, hanya satu gadis bangsawan yang ada di kelasku. Dengan kata lain, dia pasti si gadis bangsawan tersebut, Ravel Phenex.

Dia mempunyai tubuh yang kecil dan ramping, otot kaki dan tangannya juga terlihat seperti standar gadis pada umumnya. Dengan kata lain, dia adalah penyihir dengan tipe serangan jarak jauh. Aku tidak begitu yakin, tapi jika tidak salah, bangsawan Phenex mempunyai keunggulan pada sihir berbasis elemen api, kan?

Berikutnya, laki-laki tampan yang kelihatannya sudah diakui sebagai ketua tim ini. Wajah cantik dan rambut pirangnya cukup mencolok. Jadi, seharusnya aku punya sedikit ingatan tentang dirinya di kelas. Jika tidak salah, namanya adalah Kiba Yuu ... tunggu, Kiba Yuu-siapa, ya? Entahlah, jadi panggil saja Kiba Yuu-sesuatu-san.

Tubuhnya terlihat berisi, tapi tidak gemuk berotot seperti si gendut Jiroubo. otot tangan dan kakinya pun terlihat sangat proporsional, tidak besar dan tidak terlalu kecil. Dengan otot seperti itu, biasanya digunakan oleh orang-orang dengan kecenderungan bertarung menggunakan kecepatan dan kelincahan. Jadi, dia pasti petarung tipe teknik. Umumnya, petarung seperti ini mempunyai senjata yang membantu pertarungan mereka. Namun, hingga saat ini si Kiba Yuu-sesuatu itu belum mengeluarkan senjatanya.

Yang terakhir, seorang gadis dengan rambut dark blue yang dikepang di kedua sisinya sehingga menampilkan sedikit lehernya. Tunggu ... ini aneh. Meskipun aku menggali pikiranku lebih dalam, aku tetap tidak bisa menemukan sesuatu yang berisi petunjuk tentang dirinya.

Tidak, aku tidak mungkin melewatkan sesuatu. Aku sangat percaya diri dengan kemampuan otakku dalam mengingat sesuatu. Jika memang seperti ini, satu-satunya yang dapat kusimpulkan hanyalah asumsi tentang gadis ini yang merupakan seorang penyendiri atau semacamnya.

Ketika aku mengamati gadis berambut dark blue itu, tiba-tiba dia menolehkan kepalanya kepadaku. Pandangan kami saling bertemu satu sama lain.

"Uh, Ha- halo," ucapnya pelan sambil memperlambat langkah kakinya.

"Tadokoro, tetap lihat langkah kakimu, bodoh!"

Baru saja aku merasa kalau aku bisa mempunyai sedikit obrolan dengan gadis itu, tapi suara bariton dari si gendut Jiroubo sudah menginterupsinya. Selain itu, si gendut Jiroubo itu mengenal gadis bernama Tadokoro itu? Bagaimana bisa?

Tidak, tentu saja bisa. Ini masuk akal, ini sekaligus menjawab kebingunganku sedari tadi. Meskipun tim ini baru pertama kali bekerja sama, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berniat memperkenalkan diri. Mereka adalah siswa akademi sihir, jadi seharusnya mereka sadar akan pentingnya perkenalan diri dalam sebuah tim yang baru dibentuk.

Setelah melihat ini, aku dapat menarik kesimpulan bahwa mereka semua berasal dari jenjang junior high, dan mereka sudah saling mengenal satu sama lain sejak lama.

Tapi, tetap saja ada yang mengganjal pada diriku. Maksudku, perasaan canggung seperti apa yang sedari tadi aku rasakan dari mereka? Tidak, ini tidak mungkin sebuah kesalah pahaman dariku. Seorang praktisi medis, entah itu healer atau dokter, harus mempunyai tingkat kepekaan yang sangat tinggi dengan lingkungan sekitar. Jadi, aku sangat yakin jika sesuatu yang mereka pancarkan sedari tadi adalah sebuah perasaan canggung.

Omong-omong, jadi nama gadis itu adalah Tadokoro, ya? Itu adalah nama keluarga, kan? Jika tidak salah, aku juga melihat nama Tadokoro di papan pengumuman tadi. Seingatku, namanya adalah Megumi Tadokoro, seorang penyihir tipe support. Aku tidak tahu jenis sihir macam apa yang ia miliki, tapi fakta bahwa ia tipe support sudah cukup melegakan bagiku.

Dalam pelatihan dungeon kali ini, tugas kami adalah mengalahkan empat monster rank C. Dalam hal ini, kami masih terhitung sebagai penyihir pemula, jadi mengalahkan monster rank C adalah tugas yang cukup berat. Terlebih, kami harus mengalahkan empat sekaligus dalam jangka waktu 12 jam.

Tapi, jika melihat komposisi tim yang seperti ini, aku merasa kami akan baik-baik saja. Setidaknya, kami bisa mengatasi dua monster rank C sekaligus. Namun, itu dengan catatan jika kerja sama tim kami haruslah bagus. Tapi, mereka berempat adalah lulusan langsung dari jenjang junior high, kan? Jadi, seharusnya mereka sudah tahu tugas mereka masing-masing.

Ketika aku sibuk memikirkan beberapa taktik dan rotasi tim, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang mendekat ke arah kami.

"Semuanya, waspada!" teriakku.

"Huh, jangan memerintah seperti itu seolah kau adalah bosnya, kepala durian!"

Ugh ... lihat, akibat panggilan aneh dari Kakashi-sensei, kini si gendut Jiroubo juga ikut-ikut memanggilku seperti itu, kan? Tidak, lupakan dulu tentang sesuatu yang berhubungan dengan kepala durian dulu.

Kecuali Jiroubo dan Tadokoro, anggota lain meningkatkan kewaspadaannya sesuai degan peringatanku. Aku tidak peduli mereka mengindahkan omonganku atau tidak, tapi jika mereka bisa membaca situasi dengan baik, maka itu sudah cukup.

Jika Jiroubo terus melihatku dengan tatapan menantangnya, maka berbeda dengan Tadokoro. Gadis itu justru nampak seperti sedang panik sendiri. Wajahnya sangat pucat, sambil kepalanya beberapa kali menengok ke sana dan ke sini.

To- tolong hentikan itu, Tadokoro. Jika kau terus seperti itu, bisa-bisa aku juga ikut-ikutan gugup, nih.

Sebuah hawa keberadaan yang kuat datang mendekat ke arah kami. Arahnya semakin mendekat, dan terus mendekat. Ketika dalam jarak tertentu, tiba-tiba sensor tanda bahaya dalam diriku berteriak begitu kencang.

Dari arah datangnya makhluk itu, tiba-tiba muncul sebuah hempasan angin dengan sangat deras. Gelombang angin tersebut berbentuk mirip seperti bulan sabit, dengan jumlah sebanyak lima gelombang.

Gelombang-gelombang tersebut mampu memotong apa pun yang dilaluinya. Hingga akhirnya, tibalah gelombang serangan itu beberapa meter di depan kami.

"Earth Style : Great Wall Magic!" teriak si gendut Jiroubo dengan sigap.

Setelah si gendut Jiroubo mengucapkan mantranya dan meletakkan tangannya di permukaan tanah, muncul lingkaran sihir di bawah kakinya. Hanya dalam jeda kurang dari sepersekian detik, muncul dinding tinggi dari tanah yang melindungi kami dari serangan kejutan tersebut.

Suara benturan keras antara dua sihir tidak dapat terhindarkan. Debu-debu saling berterbangan karenanya.

"Bagus, Jiroubo," puji Kiba Yuu-sesuatu, "Phenex-sama, tolong lindungi saya dari belakang."

Setelah Kiba Yuu-sesuatu mengatakan itu, dia memunculkan sebuah lingkaran sihir berwarna merah di pinggang kirinya. Dari sana, laki-laki cantik itu menarik sebuah pedang bermata dua dengan bilah berwarna hitamnya.

Selesai mengambil senjatanya, Kiba Yuu-sesuatu melompati dinding ciptaan si Gendut Jiroubo dan melesat menuju monster yang mulai menampakkan batang hidungnya.

"Siapa kau hingga berani memerintahku, Kiba?" balas Ravel Phenex dengan ketus, seolah dia jengah dengan sifat Kiba Yuu-sesuatu yang telah memberinya perintah.

Entah dia adalah seorang idiot atau seorang dengan tempramen buruk, putri Phenex tersebut justru ikut melesat ke arah monster tersebut.

"Phenex-sama, jangan tinggalkan forma-," ketika aku berusaha mengingatkan si Ravel itu, tiba-tiba suara si gendut Jiroubo menginterupsiku lagi.

"Huh, menjauh dari sana, bodoh. kobold itu adalah mangsaku!"

Tunggu! jangan kau juga, gendut bodoh! Jika kau juga maju, siapa yang akan melindungi kami berdua?

Tidak, sejak awal ini sudah salah. Seharusnya, si Gendut Jiroubo yang mempunyai daya tahan tubuh yang tinggi, adalah orang yang harus maju pertama kali. Kemudian, diikuti dengan Kiaba Yuu-sesuatu yang bisa bermain-main dengan kecepatannya. Lalu, gadis Phenex yang merupakan penyerang jarak jauh, cukup menyerang dari jarak aman, tidak perlu maju menerjang secara langsung. Sedangkan healer dan support seperti aku dan Tadokoro, memberikan back up apa pun kepada mereka bertiga.

Serius, apa mereka adalah siswa dari akademi sihir terbaik? Mereka tidak lebih seperti para badut di mataku. Jika seperti ini, aku yakin mereka akan mengantarkan tubuhnya dalam kehancuran, entah itu cepat atau lambat.

Dari sekian banyak monster rank C, kenapa harus kobold? Bisa dibilang, kobold adalah monster yang berada pada tingkat teratas dalam jajaran monster rank C. Tubuhnya yang tinggi, sekitar tiga meter, serta badannya yang dipenuhi dengan gumpalan otot yang sangat kuat, menjadikan kobold mempunyai kekuatan fisik yang sangat kuat.

Selain itu, berbeda dengan rank C lain, kobold mempunyai tingkat kepintaran yang cukup tinggi. Mereka cukup cerdas untuk tidak meninggalkan teritorinya kecuali ketika sedang berburu mangsa, dan mampu menyembunyikan hawa keberadaannya dengan baik. Ditambah lagi, kobold adalah monster yang selalu bergerak dalam sebuah kelompok kecil sehingga tidak terlalu mencolok ketika sedang berburu.

Itu berarti, jika muncul seekor kobold di sini, maka seharusnya ada kobold lain yang juga mengintai kami saat ini.

Ini buruk, mereka bertiga justru maju menerjang begitu saja ke arah kobold. Mereka meninggalkan seorang penyihir tipe healer dan support di belakang sini tanpa penjagaan sedikit pun.

"Hoi, kalian! Tolonglah kembali ke form-."

Lagi-lagi, aku merasakan nafsu membunuh dari arah belakangku. Tidak ada waktu untuk menoleh dan mengeceknya. Karena itu, aku lekas menarik tangan Tadokoro dan melompat jauh ke samping.

Booomm!

Suara dentuman keras menggema di telinga kami. Sesuatu yang meluncur dari atas sana dan menghantam tanah itu membuat tempat kami berpijak menjadi sedikit bergoyang. Sebuah lubang besar tercipta dari dentuman itu. Di balik debu yang mengepul, terlihat sebuah mata merah menyala yang menatap kami tajam.

"Te- terima kasih, Namikaze-kun," ucap Tadokoro ke arahku.

Sudah kuduga, pasti ada kobold lain yang mengintai kami. Kobold yang baru saja menyerang kami tersebut memanfaatkan kacaunya koordinasi tim kami, dan menyerang kami yang benar-benar terlihat tanpa penjagaan sedikit pun.

"Teman-teman, ayolah. Kami sedang mendapat masalah besar di sini," teriakku untuk meminta pengertian dari anggota timku.

"Diamlah, urus saja urusanmu. Aku hampir selesai di sini!" sahut Jiroubo.

Hampir selesai pantatmu! Yang kalian lakukan hanyalah menyerang tanpa persiapan sama sekali. Lihat, bahkan si gadis Phenex sudah mendapat cidera parah di paha kirinya.

Melihat itu, aku pun mengeluarkan aura berwarna hijau di tangan kananku, dan kuarahkan ke arah si gadis Phenex. Aku bisa melakukan healing magic dengan jarak yang cukup jauh, jadi jarak bukanlah halangan bagiku. Tapi tetap saja, jika mereka menyerang tanpa koordinasi seperti itu, aku akan kesulitan mempertahankan konsentrasiku.

"Apa yang kau lakukan? Kau pikir aku ini lemah, ha?" teriak si gadis Phenex.

Jika kau kuat, kau tidak akan mendapat luka yang dalam seperti itu, Phenex ojou-sama. Jika tidak dalam kondisi seperti ini, aku benar-benar enggan menolong seorang bangsawan. Bukannya berterima kasih, dia justru meneriakiku.

Setelah ini semua selesai, aku akan bersumpah bilang ke Kakashi-sensei agar tidak dipasangkan kembali dengan gadis ini maupun bangsawan lain. Ah, mungkin Sasuke menjadi pengecualian. Tapi, penyakit buta arahnya itu sangat merepotkan.

Tidak-tidak-tidak, apa yang aku pikirkan? Ini bukan saat yang tepat untuk memikirkan sesuatu sepert itu.

Kobold yang ada di hadapanku melesat begitu cepat ke arah kami. Ketika aku berpikir untuk kembali menghindar, tiba-tiba Tadokoro yang di sebelahku meneriakkan sesuatu sambil mengarahkan tangannya ke depan.

"Cotton Magic : Giant Cotton Lunge!"

Dari lingkaran sihir yang tercipta di telapak tangannya, muncul berton-ton kapas yang menerjang kobold tersebut. Karena terjangan kapas yang sangat banyak, gerakan kobold itu menjadi terhambat.

Sihir kapas, ya? Sihir seperti itu memang cocok untuk menjadi tipe support. Dengan melihatnya sekilas saja, aku paham kalau sihirnya berguna untuk menghambat pergerakan musuh. Tidak, seharusnya masih banyak potensi lain yang bisa dikeluarkan dari sihir kapasnya.

"Bagus, Tadokoro. Untuk saat ini, ayo bergabung dengan yang lain."

Ketika aku hendak berbalik, tiba-tiba suara dentuman keras lain terdengar dari sana. Sekali lagi, aku harus dibuat terkejut ketika melihat Kiba dan si gendut Jiroubo terkapar di tanah. Selain itu, aku juga mendapati kondisi si gadis Phenex yang juga tidak kalah buruknya. Dalam keadaan yang sedang terdesak, ia masih terus bertahan sambil menggunakan sihir apinya. Kurasa, efek dari healing magic yang sebelumnya kuberikan pada gadis Phenex juga telah menghilang karena tindakan cerobohnya sendiri.

Bukan hanya itu saja, kobold yang semula hanya ada satu ekor, tiba-tiba muncul dua ekor lain. Dengan begini, total kobold yang kami lawan sekarang menjadi empat ekor. Tidak, yang paling penting sekarang adalah aku harus merawat Kiba dan Jiroubo yang benar-benar berada dalam kondisi yang menyedihkan.

"Tadokoro, kau bantu gadis Phenex. Aku akan merawat mereka berdua."

"Ba- baik."

Setelah selesai memberi instruksi dan berpisah dengan Tadokoro, aku melesat ke arah Kiba terlebih dahulu. Langkah pertama yang harus aku lakukan adalah menempatkan Kiba dan Jiroubo dalam satu tempat yang berdekatan. Itu akan lebih efisien daripada aku harus melakukan sihir penyembuh dalam jarak jauh.

"Kalian bisa mendengar suaraku?" tanyaku kepada mereka berdua.

Luka mereka sangat parah, khususnya Jiroubo. Aku belum memeriksanya secara keseluruhan, tapi aku yakin beberapa tulang Jiroubo ada yang patah. Tapi, ini tidak masuk akal. Baru beberapa menit yang lalu, aku melihat Jiroubo masih bisa bertahan. Dan lihat kondisinya sekarang. Selain dua kobold yang baru saja muncul, aku yakin pasti ada monster lain yang bersembunyi.

"He- healer-san ...," ucap Kiba.

"Ya? Mana bagian yang paling sakit?"

Aku masih menunggu kata yang ingin diucapkan oleh Kiba. Tentu saja, aku juga mengeluarkan healing magic sebagai upaya pertolongan pertama agar pendarahan mereka berhenti terlebih dahulu.

"Ki- kita ... gagal, ha- hatiku sangat sakit," lanjutnya.

Jangan bercanda, memangnya aku ini orang sakti seperti apa yang bisa mengobati sesuatu seperti itu?

Cih. Jadi, kalimat yang sedari tadi aku tunggu hanyalah deklarasi kekalahanmu saja, ya? Konyol sekali aku sampai dibuat penasaran karena kalimat menyedihkan itu. Tanpa kau beri tahu pun, aku sudah sangat paham, bodoh. Maksudku, coba lihatlah keadaan ini dengan logika yang sehat. Dalam kondisi seperti ini, hanya tinggal menunggu waktu sampai kami semua hancur.

Namun, aku adalah seorang healer. Meskipun kami gagal, setidaknya aku harus memastikan seluruh anggota timku baik-baik saja. Mungkin aku adalah tipe orang yang selalu ingin menghindari masalah sebisa mungkin. Tapi, aku bukanlah orang yang akan lari dari kode etikku sendiri sebagai seorang healer.

Jantungku terasa berdetak kencang ketika aku merasakan hawa keberadaan lain yang sangat kuat. Ketika aku menengok ke arah sumber itu berasal, aku benar-benar merasa kesusahan meski hanya untuk sekedar menelan air liurku sendiri.

Di antara keempat kobold yang sedang berusaha menyerang si gadis Phenex dan Tadokoro, muncul sebuah kehadiran lain yang sangat mengintimidasi. Seluruh kobold yang awalnya menyerang secara agresif, mendadak menjadi tenang. Namun, ketenangan itu justru membawa tekanan kuat pada diri kami.

Bahkan, aku sendiri tidak sadar kalau aku sudah berhenti mengeluarkan healing magic-ku untuk merawat Kiba dan Jiroubo.

Dari pepohonan yang rindang, terasa sebuah langkah kaki yang cukup untuk menggetarkan tanah di sekitar. Ketika getaran itu semakin terasa, maka itu juga menandakan bahwa sosok itu juga semakin mendekat. Hingga beberapa detik lamanya aku menunggu, akhirnya sosok itu benar-benar menunjukkan keberadaannya.

Sekali lagi, aku harus meneguk ludah dengan kasar. Perasaan tertekan ini benar-benar membuat konsentrasiku hilang untuk sesaat. Dari beberapa kondisi terburuk yang sudah aku pikirkan, ini adalah kondisi yang paling buruk yang sangat tidak ingin aku temui.

King kobold, monster yang sudah masuk ke dalam kategori rank B. Monster dengan tinggi yang bahkan mencapai lima meter. Otot-ototnya terlihat sangat keras, sekeras baja. Kuku-kukunya yang tajam itu seakan mampu mengoyak apa pun yang dikehendakinya. Di tambah lagi, senjata gada yang ia panggul di bahunya. Serius, tulang orang normal pasti hancur seketika saat gada itu menghantam tubuh mereka.

Hanya dengan melihatnya saja, membuat tubuhku terasa menggigil. Apa ini benar-benar pelatihan dungeon untuk siswa tahun pertama seperti kami?

King kobold itu mendekat ke arah si Gadis Phenex dan Tadokoro. Gadis Phenex yang memang sudah dalam keadaan kacau balau, akhirnya pingsan karena tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Ditambah lagi, aura intimidasi yang dikeluarkan oleh king kobold pasti membebani tubuhnya juga.

Sedangkan Tadokoro, kakinya yang sejak tadi gemetar pun tidak kuat menahan beban tubuhnya. Ia jatuh terduduk, menatap nanar king kobold yang semakin mendekat.

Bagaimana denganku? Takut? Tentu saja aku sangat takut. Saking takutnya, antara hati dan pikiranku pun tidak lagi selaras. Di dalam hatiku nuraniku, aku ingin terus menyelamatkan rekan setimku dalam situasi seperti ini, karena itu memang tugas seorang healer. Namun, akal sehatku terus berteriak untuk menyuruhku berlari meninggalkan mereka semua.

Dalam pergolakan batin yang luar biasa ini, membuat kakiku serasa terpaku sehingga tidak mampu melangkah kemana pun. Sial-sial-sial, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menolong mereka yang sedari tadi bersikap buruk kepadaku, atau melarikan diri sendiri sesuai dengan logika dan akal sehatku?

Bersambung


Author Note : Yahallo, bertemu lagi dengan saya. Yaaa, padahal niatnya mau ngerjain fict yang Kehidupan Baruku, tapi justru buntu ide dan berakhir dengan update fict ini. hm, tapi terserahlah.

Oke, yang sangat ingin aku tanyakan, tidak ada yang bingung dengan penjelasanku di bagian AIM dan tetek bengeknya kan? kalau ada, bisa kalian tulis di kolom review, aku akan membalasnya nanti.

omong-omong, sebenarnya alasan aku langsung ngenalin AIM dan tetek mbengeknya itu karena nanti si AIM itu punya peran yang sangat besar di fict ku. jadi, aku berencana ngenalin di awal, dan nanti apa saja yang bisa diperbuat dengan AIM itu akan aku jelaskan seiring berjalannya chapter.

pada chapter ini dan chapter depan, aku berencana membuat semacam percobaan tentang menulis adegan pertarungan menggunakan sudut pandang orang pertama. Rencananya, aku nanti akan menggunakan dua sudut pandang, yaitu sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga serba tahu. dan aku berencana tidak memberi tanda berupa "POV". jika harus memakai tanda, mungkin nanti tandanya hanya "XxxxX" seperti yang biasa aku gunakan.

Sejujurnya, aku mengeluarkan karakter Tadokoro Megumi ini adalah sebuah sesuatu yang tidak kuprediksi sebelumnya. sebelumnya, aku berpikir untuk mencari karakter model-model yamato nadeshiko di DxD universe maupun Naruto universe. Hanya saja, tidak ada yang benar-benar cocok, kecuali Hinata. karena aku sudah ada peran sendiri untuk Hinata (mungkin?), jadi aku akhirnya tidak jadi memakai Hinata dan lebih memilih Tadokoro Megumi.

Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.