King kobold itu mendekat ke arah si Gadis Phenex dan Tadokoro. Gadis Phenex yang memang sudah dalam keadaan kacau balau, akhirnya pingsan karena tidak kuat lagi menahan rasa sakitnya. Ditambah lagi, aura intimidasi yang dikeluarkan oleh king kobold pasti membebani tubuhnya juga.
Sedangkan Tadokoro, kakinya yang sejak tadi gemetar pun tidak kuat menahan beban tubuhnya. Ia jatuh terduduk, menatap nanar king kobold yang semakin mendekat.
Bagaimana denganku? Takut? Tentu saja aku sangat takut. Saking takutnya, antara hati dan pikiranku pun tidak lagi selaras. Di dalam hatiku nuraniku, aku ingin terus menyelamatkan rekan setimku dalam situasi seperti ini, karena itu memang tugas seorang healer. Namun, akal sehatku terus berteriak untuk menyuruhku berlari meninggalkan mereka semua.
Dalam pergolakan batin yang luar biasa ini, membuat kakiku serasa terpaku sehingga tidak mampu melangkah kemana pun. Sial-sial-sial, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menolong mereka yang sedari tadi bersikap buruk kepadaku, atau melarikan diri sendiri sesuai dengan logika dan akal sehatku?
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 5 : Sebuah Garis.
XxxxX
Jarak antara king kobold dengan Megumi Tadokoro saat ini hanya terpaut lima meter. Dengan jarak sedekat itu, tentu membuat siapa pun mampu merasakan nafsu membunuh yang luar biasa dari sang monster dengan sangat jelas. Gada besar dengan duri-duri tajam yang ia bawa, menambah kesan mengerikan dari king kobold.
Seringai mengerikan nampak jelas darinya ketika melihat mangsa di depannya memperlihatkan raut wajah yang putus asa. Itu seperti king kobold tersebut mempunyai kesenangan tersendiri ketika melihat makhluk yang lebih lemah darinya, merasakan kesengsaraan.
Baik Tadokoro maupun si gadis Phenex, kondisi mereka saat ini bagaikan telur di ujung tanduk. Mati langkah dan tidak dapat pergi ke mana pun. Melihat pemandangan timku yang sangat menyedihkan ini, apa yang seharusnya aku lakukan?
Sial, otakku terasa seperti membeku sehingga tidak bisa diajak untuk berpikir.
Serasa tidak ingin menunggu lebih lama, king kobold tersebut langsung melesat dan bersiap menghempaskan Tadokoro dengan gada besarnya. Seluruh pasang mata yang menyaksikannya dibuat membulat dengan paksa, tak terkecuali diriku.
Bbooomm!
Getaran kencang mengguncang daerah sekitar dengan cukup keras. debu-debu berterbangan ke mana-mana menghalangi pengelihatan seluruh makhluk hidup yang ada di sekitarnya. Jika serangan tersebut mengenai tubuh manusia biasa, maka bisa dipastikan bahwa tubuh itu akan remuk seketika. Akan tetapi, bagiku ...
"Aturan pertama seorang healer. Pertama, healer tidak boleh menyerah mengobati orang lain selama orang itu masih bernapas. Jika aku mengabaikan peraturan-peraturan utama seorang healer, mana mungkin aku bisa menjadi seorang healer dengan bangga, kan?" ucapku sambil meringis menahan sakit karena menahan serangan langsung dari king kobold menggunakan lenganku.
Ughh ... tenaga dari king kobold benar-benar sangat kuat, lebih kuat dari perkiraanku. Ditambah lagi dengan duri-duri tajam yang beberapa menancap di lenganku, itu menambah sensasi perih yang kurasakan.
Tepat sebelum gada tersebut menyapu Tadokoro, aku memutuskan untuk membantu mereka berdua. Namun, tentu saja perasaan takut itu benar-benar sangat kurasakan. Bahkan, kakiku saja terus bergetar dan tidak bisa kugerakan hingga beberapa saat yang lalu.
Karena tidak ada waktu lagi, aku memilih cara yang sedikit ekstrim. Aku mengambil pisau bedah yang ada di kantung perlengkapanku, dan menusukkannya ke paha kananku sendiri. Rasa sakit yang kurasakan di paha kananku, merangsang saraf-saraf otakku untuk kembali bekerja dengan benar.
Meskipun sakit, tetapi cara itu sukses untuk membuatku mendapatkan kembali akal sehatku.
"Na- namikaze-kun, kamu ...," ucap Tadokoro dengan sedikit bergetar.
Sekilas, aku melirik kebelakang dari balik bahuku untuk memastikan keadaan Tadokoro dan gadis Phenex. Kuabaikan tatapan syok yang ditunjukkan oleh Tadokoro. Saat ini, itu bukan prioritas utamaku. Aku pun tidak berniat memberinya penjelasan atas apa yang barusan terjadi. Bahkan meskipun aku bisa melihat bahwa sorot matanya sedikit menunjukkan sebuah rasa panasaran.
Pandangan mataku kembali beralih ke masalah utama yang kuhadapi saat ini, king kobold beserta kroni-kroninya. Seperti yang aku bilang sebelumnya, menghadapi mereka secara langsung adalah tindakan idiot. Jika ini bukan pelatihan dungeon, pasti langkah ceroboh seperti itu akan berakhir dengan serangan bunuh diri.
Aku pun bukan seorang otak batu yang sampai-sampai mengabaikan fakta tersebut. Tidak, itu juga tidak sepenuhnya benar. Pada dasarnya, seorang healer sepertiku yang sampai masuk ke dalam sebuah pertarungan langsung seperti ini, juga bisa dikatakan dengan tindakan yang ceroboh. Namun, aku tidak punya pilihan lain.
Meskipun aku sadar jika pelatihan dungeon seperti ini pasti ada orang-orang profesional yang mengawasi kami jika terjadi sesuatu yang di luar kendali, tetapi aku tetap tidak bisa menolak kenyataan bahwa sekumpulan badut-badut ini adalah anggota timku.
Kedua rahangku seketika mengeras saat aku merasakan tekanan yang lebih kuat pada gada milik king kobold. Aku yakin, monster rank B ini akan segera melancarkan serangan berikutnya. Aku tidak punya banyak waktu lagi. Tidak peduli apa yang mungkin akan dikatakan anggota timku, tetapi ini adalah pilihan yang paling rasional.
Kedua kepalan tanganku yang sedari tadi menggenggam dengan kuat, perlahan mulai terasa lemas hingga akhirnya kepalanku terbuka sepenuhnya. Dari sana, jatuh beberapa buah bola berwarna hitam dengan ukuran sebesar kelerang.
Bola-bola tersebut meluncur ke tanah tanpa hambatan sama sekali. Meskipun para monster tersebut mengetahui bahwa aku mengeluarkan sesuatu dari genggaman tanganku, tetapi aku yakin mereka tidak sempat bereaksi dengan tepat. Mungkin lebih tepatnya, mereka tidak menyadari jika aku akan melakukan sesuatu seperti ini.
Ketika bola-bola itu mengenai tanah, terdengar sebuah suara 'wuushhh' yang berasal dari bola-bola tersebut. Bersamaan dengan itu, hampir seluruh area tempat pertarungan kami, tertutup dengan asap pekat berwarna abu-abu.
XxxxX
Di dalam dungeon, tidak akan pernah ada tempat yang bisa kau kategorikan sebagai tempat yang benar-benar aman. Karena itulah, jika seseorang mendapat sebuah masalah yang serius di dalam dungeon, maka pilihan terbaiknya adalah keluar dari dungeon itu secepat mungkin. Setidaknya, itu adalah cara paling umum yang bisa digunakan oleh siapa pun, bahkan bagi orang tanpa pengalaman masuk dungeon sepertiku ini.
Namun, kondisi yang kami hadapi saat ini sedikit berbeda dengan kondisi pada umumnya. Kakashi-sensei sendiri berkata jika kami tidak diizinkan keluar dungeon bahkan meski kami telah menyelesaikan tugas yang dia berikan. Satu-satunya cara agar kami bisa keluar dari sini, hanyalah menunggu sampai tenggat waktu yang ditentukan telah selesai.
Mengetahui fakta yang memaksaku tersenyum kecut, membuatku mau tidak mau harus mencari tempat persembunyian yang setidaknya bisa kami jadikan tempat peristirahatan. Karena itulah, kami berakhir di tempat ini, titik awal ketika kami masuk ke dalam dungeon.
Menjadikan titik awal sebagai tempat peristirahatan bukanlah pilihan yang buruk. Poin yang paling penting adalah kami telah melewati tempat ini sebelumnya. Dengan begitu, setidaknya kami yakin tidak ada monster rank D ke atas di sekitar sini.
Meskipun rencana membawa kabur anggota kelompokku dari king kobold tersebut berjalan sukses, tetapi kini aku dihadapkan dengan masalah lain yang sudah menunggu.
"Na- Namikaze-kun, bukankah kamu seharusnya juga istirahat?" tanya Tadokoro.
"Tidak, kondisi mereka bertiga tidak memungkinkanku untuk mengambil istirahat."
"Ta- tapi, kondisimu juga sedikit berantakan. Selain itu, a- apa kamu tidak capek? Mengingat kamu sudah menggendong mereka bertiga sekaligus tadi," ucapnya dengan nada sedikit khawatir.
Yah, aku bisa paham dengan rasa khawatirnya. Bagaimanapun, membopong mereka bertiga sambil berlari sekencang mungkin untuk mghindari para kobold, itu sangat merepotkan. Terlebih, badan si gendut Jiroubo ini sangat besar dan berat.
Awalnya, aku bahkan berpikir untuk menggendong Tadokoro juga agar dia tidak tertinggal di belakangku. Namun, dia berkata padaku untuk pergi terlebih dahulu dan meninggalkan jejak agar dia bisa mengikutiku.
Meskipun itu sedikit menggangguku, tetapi aku terpaksa menyetujui usulannya. Namun, yang lebih penting adalah aku senang dia berhasil menemukanku tanpa memancing seekor monster sedikit pun. Mungkin, aku sudah sedikit meremehkan kemampuan gadis ini.
"Tidak masalah. Sejujurnya, ini masih tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan hari-hariku di desa," balasku sambil mengingat metode pelatihan dari nenek yang sangat mengerikan.
Aku memerhatikan tiga orang yang tidak sadarkan diri di hadapanku. Sekarang, aku bisa saja mengalirkan healing magic-ku kepada mereka bertiga sekaligus. Namun, itu bukan pilihan yang efektif.
Luka yang diderita Jiroubo bukan hanya sekedar luka-luka seperti tusukan dan sayatan. Si gendut ini mengalami beberapa patah tulang, dan kondisinya lebih buruk dari si gadis Phenex dan Kiba Yuu-sesuatu.
Kiba Yuu-sesuatu, dia mengalami tusukan yang dalam di bagian perutnya dan mengalami pendarahan yang cukup banyak sehingga membuatnya pingsan. Sedangkan gadis Phenex, kondisinya bisa dibilang jauh lebih baik dari yang lainnya. Faktor penyebab ia pingsan adalah kelelahan mental dan tekanan intimidasi yang sangat kuat dari king kobold.
Aku sudah menghentikan pendarahan yang dialami Kiba, tetapi ia masih mempunyai luka-luka lain yang harus aku periksa. Selain itu, aku juga masih harus memastikan kondisi organ dalamnya.
Dengan begini, aku bisa lebih berkonsentrasi untuk menangani Jiroubo. Namun, aku juga tidak bisa begitu saja meninggalkan Kiba dan gadis Phenex tanpa perawatan sama sekali. Jika sudah begini, aku tidak punya pilihan lain selain meminta bantuannya.
Kututup kedua kelopak mataku dan menarik udara sebanyak-banyaknya ke dalam paru-paruku. Setelah itu, kuhembuskan udara tersebut secara perlahan dengan tujuan untuk meningkatkan konsentrasiku ke tingkat yang lebih tinggi. Kuangkat tangan kananku, dan mengarahkan ibu jariku ke depan mulutku. Dengan sedikit gigitan kecil, darah segar segera merembes dari ujung ibu jariku.
Darah yang mengalir ke bawah, jatuh ke permukaan tanah yang dingin tanpa hambatan sedikit pun. Tadokoro nampak takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Bahkan, mulutnya sampai menganga tanpa ia sadari.
Setelah tetesan darahku mencapai tanah, muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hijau kebiruan di bawah kakiku. Sebuah lingkaran dengan ukiran aksara-aksara rumit yang terus berputar-putar.
"Summoning magic," gumam Tadokoro tanpa sadar.
Secara perlahan, seekor makhluk muncul dari lingkaran sihir tersebut. tubuhnya yang masih dibungkus oleh cahaya redup berwarna hijau kebiruan, memperlihatkan siluet sebuah makhluk dengan ukuran sebesar lengan manusia dewasa. Ketika cahaya yang menyelimutinya telah benar-benar menghilang, akhirnya makhluk yang kupanggil pun menampakkan wujud aslinya.
"Kamu terlihat lebih dewasa dari terakhir kali kita bertemu, Naruto-kun," ucapnya setelah melihatku.
"Benarkah? Aku cukup yakin jika aku tidak banyak berubah, Katsuyu-san," balasku.
Katsuyu-san, dia adalah familiar dengan wujud menyerupai seekor siput. Aku pertama kali melihatnya ketika usiaku menginjak sebelas tahun. Saat itu, nenek memanggil Katsuyu-san untuk membantu metodenya dalam melatihku.
Sejujurnya, tubuh asli dari Katsuyu-san jauh lebih besar dari yang aku panggil saat ini. Bahkan, nenek berkata bahwa kekuatannya tidak cukup walau hanya untuk memanggil satu per sepuluh bagian tubuh Katsuyu-san meski ia dalam kondisi yang prima sekali pun. Namun, dalam kondisi ini, ukurannya yang hanya sebesar lengan manusia dewasa itu sudah cukup untuk membantuku.
Omong-omong, pertama kali aku membuat kontrak dengan Katsuyu-san adalah ketika ulang tahunku ke-16. Nenek mengajariku kontrak ini sebagai hadiah ulang tahunku.
"Namikaze-kun, kamu mampu menggunakan sihir pemanggilan? Aku benar-benar tidak menyangka," ucap Tadokoro dengan takjub. Meskipun ia memujiku seperti itu, ini bukan waktunya bagiku untuk besar kepala atau semacamnya. Oleh karenanya, aku hanya menanggapi pujian Tadokoro dengan sebuah senyum kecil biasa.
"Kedua tangan dan paha kananmu terluka, apa kamu mau aku merawat lukamu, Naruto-kun?" tanya Katsuyu-san.
Benar juga, karena ketegangan yang aku rasakan sejak tadi, aku bahkan hampir lupa dengan rasa perih dari luka-lukaku. Ini bukan berarti pertanda baik atau semacamnya. Tubuh yang terus terpacu dengan adrenalin, memang mempunyai beberapa efek yang menguntungkan, seperti menghilangkan rasa sakit untuk sementara waktu. Namun, ketika tubuh sudah tidak lagi merasakan ancaman, tekanan, atau semacamnya maka tubuh pun akan berhenti memproduksi hormon adrenalin.
Sehingga sensasi luka-luka atau efek lain yang diterima tubuh sebelumnya, akan langsung terasa begitu menyengat. Jika tubuh tidak kuat menahan efek tersebut, maka bisa dipastikan ia tidak akan sadarkan diri setelahnya.
Namun, seperti yang aku bilang pada Tadokoro. Luka seperti ini bukanlah masalah bagiku.
"Tidak perlu, Katsuyu-san. Aku bisa mengatasinya sendiri," ucapku sambil menyalurkan mana yang kumilki ke tempat-tempat luka yang bersarang di tubuhku.
Secara ajaib, luka-luka di tubuhku mulai mengeluarkan sedikit asap. Itu menandakan bahwa luka-lukaku mulai beregenerasi dan menutup sepenuhnya. Yah, meskipun aku tadi bilang "ajaib", sebenarnya ini cukup biasa bagiku dan aku sudah bisa menggunakan teknik ini sejak setahun yang lalu.
Yah, meski yang bisa kulakukan saat ini hanyalah sebatas meregenerasi lukaku yang tidak terlalu parah.
"Na- Na- Namikaze-kun! Ba- bagaimana bisa lukamu menutup sendiri?" tanya Tadokoro dengan terkejut.
"Lukaku? Tentu saja menggunakan healing magic. Memangnya, ada apa?"
"He- healing magic, katamu? Tu- tunggu, bukankah healing magic hanya bisa digunakan ke objek lain selain diri sendiri? Ma- maksduku, aku masih ingat seorang sensei pernah mengatakan itu saat masih junior high."
Aku sedikit memiringkan kepalaku ketika mendengar penjelasan Tadokoro.
"Bukankah ini sudah biasa? Ini hanya pengaplikasian pembelahan sel secara mitosis yang dipercepat dengan mana, kau tahu?
"Pembelahan sel mi- apa?" tanya Tadokoro dengan wajah polosnya.
Pada dasarnya, pembelahan mitosis merupakan tipe pembelahan sel yang mampu menghasilkan 2 sel yang serupa secara genetis. Artinya, kedua sel yang terbentuk mempunyai susunan genetika yang sama dengan induknya. Hampir semua makhluk hidup mengalami proses mitosis yang sama, kecuali pada prokariot seperti bakteri, virus, dan ganggang biru.
Secara garis besar, ini adalah proses regenarasi yang secara umum terjadi pada makhluk hidup, dan yang kulakukan hanya mendorong percepatan pada prosesnya.
"Naruto-kun, apa yang selama ini biasa kamu pelajari, itu sangat jauh berbeda dengan yang dipelajari anak lain, lho," komentar Katsuyu-san.
"Be- benarkah?"
Yah, itu menjelaskan tentang Tadokoro yang sangat terkejut seperti ini.
"Selain itu, bukankah kamu ada urusan yang jauh lebih penting sampai-sampai memanggilku?"
Benar juga, karena percakapan normal yang begitu aku rindukan semenjak aku sampai di Edo, aku menjadi sedikit lupa diri dibuatnya. Kutatap Tadokoro yang juga mencoba memahami situasi meski raut tidak puas jelas tercetak wajahnya.
"Katsuyu-san, bisakah anda mengatasi si cowok cantik dan si gadis pirang itu? si cowok cantik mengalami pendarahan yang cukup banyak. Aku belum melakukan pengecekan klinis, jadi aku tidak tahu apakah ada organ vitalnya yang terluka atau tidak. sedangkan si gadis yang itu hanya mengalami syok berat," ucapku.
"Lalu, untuk anak yang berbadan besar ini?" balas Katsuyu-san dengan bertanya.
"Beberapa tulangnya ada yang patah dan mengalami dislokasi. Aku akan melakukan operasi untuknya," ucapku yang kemudian menengok ke arah Tadokoro, "Tadokoro, bisa kau keluarkan beberapa kapas menggunakan sihirmu untukku?"
"Kalau begitu, baiklah," ucap Katsuyu-san sambil membelah tubuhnya menjadi dua bagian dan mulai melakukan perawatan pada Kiba dan gadis Phenex.
"U- uhm, baiklah ... bisa aku bertanya sesuatu, Namikaze-kun?"
"Tentu," balasku sambil mengeluarkan sebuah gulungan dari kantung celanaku.
Ketika aku membuka gulungan tersebut, di sana tertulis sebuah aksara-aksara kuno yang berisi sebuah mantera sihir penyimpanan. Ketika aku menyalurkan sedikit mana-ku, muncul beberapa peralatan dari gulungan tersebut yang bersamaan dengan efek cahaya redup darinya.
Ini semua adalah beberapa peralatan kedokteran yang umum digunakan untuk sebuah operasi. Tidak, tentu saja aku tidak membawa peralatan lengkap seperti yang berada di rumah sakit. Aku hanya membawa beberapa anestesi, larutan antiseptik, antibiotik, pisau bedah, jarum suntik, disinfektan untuk sanitasi, dan alat-alat lain yang biasa digunakan sebagai pertolongan pertama.
"Namikaze-kun, ke- kenapa harus operasi? Maksudku, bukankah akan lebih cepat jika menggunakan healing magic biasa?" tanya Tadokoro sambil mengeluarkan sebuah kapas melalui sihirnya.
Meskipun telingaku mendengar dengan jelas pertanyaan Tadokoro, tetapi aku tidak langsung menjawabnya begitu saja. Saat ini, aku hanya tengah berkonsentrasi untuk memberikan anestesi pada si gendut Jiroubo.
Walau Jiroubo sedang pingsan, lantas itu tidak bisa membuatku begitu saja merobek kulitnya menggunakan pisau bedah. Justru karena ia pingsan, sarafnya akan jauh lebih sensitif ketika terkena rangsangan. Jika aku langsung melakukan operasi tanpa memberi anestesi terlebih dahulu, maka bisa-bisa terjadi lonjakan impuls pada sarafnya dan membuat otaknya terkena stress terlalu berat.
Karena itulah, peran anestesi, atau mungkin orang awam menyebutnya obat bius, sangat diperlukan di sini.
Ah, tentu saja. sebelum aku memberikan anestesi total padanya, aku terlebih dulu menyemprotkan larutan antiseptik untuk membersihkan luka-luka lain demi menghindari terjadinya infeksi.
"Ya, aku tidak mengelak jika menggunakan healing magic memang lebih cepat. Akan tetapi, ada juga kondisi yang membuat seorang healer harus melakukan pengobatan secara manual daripada langsung menggunakan sihir. Bahkan, ada beberapa penyakit yang tidak bisa disembuhkan begitu saja menggunakan sihir," balasku setelah memberi anestesi pada Jiroubo.
Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh mikroba dan paparan zat kimia berlebih adalah contoh dari penyakit yang tidak bisa disembuhkan dengan sihir. Jadi, jika ada orang yang terkena influenza atau kanker, maka sebuah sihir yang hebat sekali pun tidak akan bisa menyembuhkannya tanpa adanya pengobatan intensif atau pun operasi.
Lalu, untuk kasus patah tulang ini ... seperti yang dikatakan Tadokoro, mungkin akan lebih cepat jika menggunakan healing magic. Namun, penggunaan healing magic sepenuhnya untuk penderita patah tulang, hanya dianjurkan dalam kondisi-kondisi tertentu.
Misalnya, seperti ketika keadaan di tengah pertarungan dan membuat seorang healer tidak mampu membawa korban tersebut menjauh dan mencari area yang aman, maka healer tersebut diperbolehkan menggunakan healing magic sepenuhnya untuk menyembuhkan penderita patah tulang.
Namun, jika dalam kasusku, aku berhasil membawa kabur mereka semua. Jadi, tentu saja aku harus melakukan operasi karena area di sekitarku bisa dikatakan cukup aman untuk melakukannya.
Selain itu, melakukan operasi untuk penderita patah tulang mempunyai keunggulan tersendiri daripada hanya melakukan healing magic secara penuh.
"Pada dasarnya, ketika tulang sedang patah, maka posisi tulang pun berbeda dengan posisi tulang normal. Jika si korban mengalami patah tulang dan seorang healer hanya menggunakan healing magic untuk menyembuhkannya, maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal.
Maksudku, tulang yang tidak disambung dengan tepat, akan menghasilkan pembengkakkan pada bagian tersebut sehingga menyebabkan bentuk yang tidak normal ketika tulang telah tersambung sepenuhnya," jelasku pada Tadokoro.
Setelah Tadokoro mendapat jawaban yang menurutnya dapat memuaskan hasrat keingin tahuannya, akhirnya ia pun diam sambil mengikuti instruksi-instruksiku.
Dua jam telah berlalu sejak aku memulai operasi, dan akhirnya aku pun menyelesaikan semuanya. Total terdapat lima tulang yang patah di tubuhnya. Bagian paling sulit adalah ketika harus menyambung tulang rusuk dan persendian pada pergelangan tangan kanannya. Akan tetapi, aku bersyukur semuanya telah berhasil kulalui dengan sukses.
Beberapa tetes keringat nampak muncul di pelipisku. Ini adalah operasi pertama yang kulakukan tanpa sepengawasan nenek. Jadi, jujur saja jika selama proses operasi berlangsung, dadaku benar-benar berdetak kencang.
Kubuka telapak tangan kiriku. Telapak tangan yang awalnya kosong, kini muncul sebuah lingkaran yang terbuat dari sihir. Di lingkaran tersebut, terdapat waktu tersisa yang kami miliki dalam pelatihan dungeon ini. Selain itu, di sana juga terdapat sebuah angka yang menginformasikan tentang jumlah monster rank C yang telah kami kalahkan.
Tentu saja, angka yang tertera di sana adalah angka nol. Kami belum membunuh seekor pun monster rank C, dan waktu yang tersisa tinggal empat jam. Aku melihat ke arah tiga orang yang tergeletak tidak sadarkan diri. Dengan kondisi mereka saat ini, kemungkinan mereka bangun tepat waktu sangat kecil.
Jika terus seperti ini, maka kami pasti gagal dalam pelatihan dungeon kali ini. Pada awalnya, aku cukup optimis mampu menyelesaikan pelatihan dungeon tanpa halangan sedikit pun. Apalagi, mengingat seluruh anggota timku adalah lulusan langsung dari tingkat junior high.
Namun, lihat sekarang. Melihat mereka saja sudah membuatku putus asa. Tidak, aku tidak bisa begitu saja menyalahkan mereka. Maksudku, bahkan aku sendiri pun sempat mempunyai keinginan untuk melarikan diri sendirian. Jika aku kembali mengingatnya, rasanya aku menjadi jijik dengan diriku sendiri yang berniat melanggar kode etik seorang healer.
Apa-apaan? Akan sangat memalukan jika aku benar-benar meninggalkan anggota timku dalam keadaan seperti itu.
Aku menghela napas sejenak dan memejamkan kelopak mataku. Aku tidak tahu apa yang akan menanti kami ketika kami benar-benar gagal dalam pelatihan dungeon. Jujur saja, aku tidak ingin gagal dalam pelatihan dungeon pertamaku. Namun, jika memang harus gagal, setidaknya aku harus mengalahkan beberapa monster rank C.
Lebih baik gagal dengan membawa sesuatu daripada tidak sama sekali, kan?
Ketetapan hatiku telah bulat. Meskipun masih ada rasa takut di dalam hatiku, tetapi tidak ada pilihan lain bagiku.
"Katsuyu-san, Tadokoro, bisa aku titipkan mereka bertiga kepada kalian?" tanyaku sambil berjalan menjauh.
"Tentu saja, Naruto-kun."
Tadokoro yang melihat gelagatku pun mulai terlihat tidak nyaman. Rasa tidak nyamannya itu mendorong dirinya untuk bertanya padaku.
"U- uhm, apa yang akan kamu lakukan, Namikaze-kun?"
"Aku akan memburu beberapa monster rank C."
Dengan wajah syok, Tadokoro kembali berkata, "tu- tunggu dulu. Sendirian? Bu- bukankah kamu sendiri sudah lihat kekuatan monster rank C? A- aku akan ikut denganmu!"
"Tidak. Kau tetap di sini, Tadokoro. Mereka bertiga masih perlu penjagaan, kau tahu?" balasku.
Mendengar jawabanku, Tadokoro lantas terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata lebih lanjut. Namun, aku mengerti apa yang ia khawatirkan.
"Tenang saja, aku punya cukup banyak pengalaman berhadapan dengan monster," balasku untuk meyakinkannya.
Pernyataanku tersebut tidaklah bohong, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Tentu saja, aku sudah sangat sering diajak pergi berburu monster oleh kakek maupun ditinggalkan di puncak gunung oleh nenek. Dari pengalaman-pengalaman itu saja, aku sudah berkali-kali bertemu dengan monster. Namun, aku tidak pernah benar-benar bertarung dengan monster rank C seorang diri.
Biasanya, aku cenderung akan kabur jika bertemu mereka sendirian. Bahkan jika itu bersama kakek, aku hanya akan menjadi pengamat dengan mencari tempat bersembunyi yang paling aman.
"Naruto-kun itu sebenarnya jauh lebih kuat dari yang terlihat lho, Tadokoro-chan," ucap Katsuyu-san untuk meyakinkan.
Kuucapkan terima kasih untukmu, Katsuyu-san. Namun, mendengar orang lain memujiku di depan teman sekelasnya, rasanya sangat memalukan.
"Ka- kalau begitu, baiklah. Tolong jangan terlalu memaksakan diri, Namikaze-kun."
"Tentu," balasku sambil tersenyum lima jari.
Ketika Katsuyu-san melihatku berhasil meyakinkan Tadokoro, ia pun mulai membelah dirinya kembali. Saat ini, ada empat ekor katsuyu-san.
"aku akan membawa satu Katsuyu-san bersamaku. Sisanya akan berada di sini sambil merawat mereka bertiga. Selain itu, tubuh Katsuyu-san saling terhubung satu sama lain. Jika terjadi sesuatu yang buruk di sini, maka Katsuyu-san akan segera memberi tahuku," jelasku sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka.
XxxxX
Hembusan angin yang tertiup entah dari mana, membuat dedaunan menari-menari mengikuti irama sang angin. Cahaya yang juga entah bersumber dari mana, turut mewarnai hijaunya hutan di dalam dungeon buatan ini.
Di balik rindangnya pepohonan, aku menyembunyikan hawa keberadaanku setipis mungkin. Menyembunyikan hawa keberadaan adalah syarat mutlak jika kau ingin pergi berburu. Entah itu hewan liar atau monster, mereka bisa dengan mudah mendeteksi hawa keberadaan makhluk lain yang mereka anggap sebagai mangsa atau pun ancaman.
Di sinilah aku sekarang. Di tempat yang sebelumnya hampir menjadi ajang pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok kobold terhadap kami. Ada beberapa alasan yang membuatku kembali datang ke tempat ini. Namun, alasan utama dan paling penting adalah informasi yang kupunya.
Sejujurnya, aku sempat berpikir untuk mencari tempat berburu yang lain. Namun, karena aku tidak punya banyak informasi tentang sebaran monster-monster di dungeon ini, membuatku tidak mempunyai banyak opsi lain yang tersisa.
Bisa saja aku memilih tempat secara acak. Akan tetapi, metode tersebut tidak menjaminku untuk mendapat monster buruan yang sesuai. Maksudku, bisa saja aku justru bertemu dengan sekelompok monster rank B ke atas atau mungkin malah bertemu dengan monster-monster di bawah rank C yang bukan merupakan target utamaku.
Informasi membuat seorang manusia menjadi lebih mudah beradaptasi dengan lingkungannya. Jika manusia telah beradaptasi, halangan seperti apa pun bukan lagi menjadi masalah.
Selain itu, aku sudah mengantungi beberapa informasi tentang sekelompok kobold yang menyerang kami. Mungkin kami kalah dalam pertarungan sebelumnya, tetapi aku datang kembali dengan berbekal informasi dan rencana yang telah kususun sedemikian rupa. Pertarungan kali ini, akan sangat berbeda dengan sebelumnya.
Kuperhatikan baik-baik sekelompok kobold yang terlihat seperti mengawasi perbatasan teritorinya. Tidak ada yang berubah dari komposisi kelompok kobold tersebut. Masih tetap sama seperti sebelumnya, empat ekor kobold dan seekor king kobold.
Aku bersyukur mereka masih belum menyadari keberadaanku. Terima kasih juga terhadap hembusan angin yang membantuku untuk menyembunyikan hawa keberadaanku.
Kuperiksa kembali peralatan yang telah kusiapkan sebelumnya. Di antaranya ada tiga pisau bedah, beberapa jarum suntik, bom asap, satu botol kecil arsenik, dan segulung perban krep. Jika semua berjalan sesuai rencana, seharusnya ini sudah cukup untuk mengalahkan beberapa dari mereka.
Kembali kupandangi sekelompok kobold yang terlihat sedang berpatroli mengawasi daerah sekitar. Sesekali, aku akan memutar-mutar sebilah pisau bedah yang kubawa di tangan kananku. Kuhembuskan napasku pelan untuk kembali menata ritme detak jantungku. Ketika semuanya kurasa telah siap, aku pun memulai aksiku.
Staaabbb!
Pisau bedah yang kulempar, tepat mengenai salah satu leher dari kobold.
"Graaaarghh!" kobold tersebut mengerang marah sambil menoleh ke arahku. Teriakan marah itu juga mengundang kobold-kobold lain untuk menengok ke arah pisauku berasal.
Tepat setelah kobold yang barusan tertancap pisau di lehernya menoleh ke arahku, aku pun dengan sekejap langsung melompat ke arahnya dan menyayat lehernya menggunakan pisau bedah lain yang kubawa. Darah segar beserta teriakan kesakitan mengiringi aksi yang baru saja aku lakukan.
Ketika aku telah mendarat dengan aman di tanah, hal pertama yang aku lakukan adalah kembali melesat dan bersembunyi di antara pepohonan.
Aku bukanlah orang naif yang dengan bodohnya menantang sekelompok kobold bertarung secara terbuka, terutama dengan king kobold di dalamnya. Jadi, metode seperti ini terasa lebih cocok bagiku.
Satu kobold telah berhasil kulumpuhkan. Meskipun aku hanya menyerang lehernya dengan menyayat dan melemparkan pisau ke sana, itu seharusnya sudah cukup untuk melumpuhkannya. Pisau yang sebelumnya kulempar, telah kulumuri dengan cairan arsenik. Jika dalam kadar tertentu, arsenik bisa digunakan untuk mengobati penyakit seperti sifilis, leukimia, sariawan, dan beberapa penyakit lain.
Namun, jika seseorang menggunakan lebih dari 200 miligram, maka arsenik akan berubah menjadi racun yang mematikan. Efeknya tidak akan langsung membunuh makhluk hidup, tetapi akan memberikan rasa sakit yang luar biasa sebelum akhirnya target benar-benar terbunuh. Karena lawanku kali ini adalah monster rank C, tentu saja aku menggunakan lebih dari 200 miligram arsenik agar efeknya benar-benar bekerja.
Melihat salah satu rekannya terkapar kesakitan akibat racun arsenik yang kuberi, seekor kobold lain terlihat membuka mulutnya lebar-lebar dan mengaum marah ke arahku.
Sayang sekali, justru momen ketika kobold tersebut membuka mulutnya lebar-lebar adalah momen yang paling aku tunggu. Tepat ketika salah satu kobold tersebut hendak mengaum, aku terlebih dulu melemparkan beberapa jarum yang tentu saja telah kuberi arsenik di ujung-ujungnya.
Jarum tersebut tepat menancap di ujung tenggorokan kobold tersebut, dan membuatnya menjadi tersedak. Tidak lama kemudian, kobold itu terkapar kesakitan sama seperti rekannya yang telah terlebih dahulu terkena racun arsenik.
Melihat korban keduaku yang telah tumbang, aku pun keluar dari tempat persembunyianku dan berdiri saling berhadapan dengan kobold-kobold yang tersisa. 30 meter, kurang lebih itulah jarak yang memisahkanku dengan mereka.
Aku kembali melemparkan jarum-jarumku ke arah kobold yang berdiri paling depan. Kali ini, ada sekitar sepuluh jarum yang kulempar secara beruntun ke arahnya. Namun, sesuai dugaanku, dia menangkis semuanya menggunakan kukunya yang setajam besi tersebut. Aku yakin, kobold tersebut telah belajar dari pengalaman bahwa senjata yang aku bawa mengandung racun yang cukup berbahaya baginya.
Akan tetapi, serangkaian jarum yang kulempar secara beruntun tersebut hanyalah pengalihan yang kubuat. Tujuan utamaku adalah sesuatu yang kulemparkan bersamaan dengan jarum-jarum tersebut.
Bbboooofff!
Sebuah asap tiba-tiba muncul setelah sepersekian detik kobold tersebut menangkis jarum-jarumku. Di antara jarum-jarum yang kulempar sebelumnya, aku telah menyelipkan sebuah bom asap di sana. Seperti yang kuharapkan, kobold tersebut terlalu berfokus pada jarum yang ia anggap mengandung racun arsenik sehingga tidak menyadari keberadaan sebuah bom asap yang hanya sebesar bola kelereng.
Meskipun kobold mempunyai kecerdasan yang cukup tinggi dan koordinasi serangan yang baik, tetapi mereka tetaplah seperti monster rank C pada umumnya. Mereka akan kewalahan menghadapi sebuah rangkaian serangan yang terorganisir dengan rapi. Karena itulah, aku cukup mengacaukan ritme kerja sama mereka menggunakan ritme seranganku sendiri
Tidak perlu menunggu lama, tepat saat bom asap tersebut meledak, aku telah berhasil memangkas jarakku dengan mereka. Ketika aku hendak masuk ke dalam kepulan asap, aku sempat melihat salah satu dari mereka keluar terlebih dahulu dari sana. Aku tahu, itu adalah king kobold. Jadi, aku tidak terlalu memedulikannya karena memang targetku hanyalah para monster rank C ini.
Meskipun pandanganku juga terhalang saat aku berada di dalam kepulan asap, tetapi aku mampu merasakan hawa keberadaan mereka yang dengan jelas terasa panik. Tanpa ampun, aku langsung menyayat kedua leher kobold yang tersisa menggunakan pisau yang kupegang di kedua tanganku. Tentu saja, aku juga telah melumuri pisau tersebut dengan racun arsenik.
Ketika aku telah selesai dengan mereka berdua, secara tiba-tiba aku merasakan peringatan berbahaya yang menyuruhku untuk segera keluar dari kepulan asap. Benar saja, di sana terdapat sebuah gada yang siap meremukkan tubuhku menjadi berkeping-keping. Jika aku terlambat bereaksi, pasti riwayatku telah habis saat ini.
Yang tersisa di depanku sekarang hanyalah king kobold, monster rank B. Sejujurnya, aku tidak perlu sampai harus meladeni monster satu ini. Karena tugas utamaku hanyalah memburu empat monster rank C dan aku pun telah menyelesaikannya.
Namun, king kobold adalah tipe monster yang akan mengejarmu ke mana pun jika kau telah membuatnya benar-benar marah. Meskipun aku sangat percaya diri dengan kecepatan lariku, tetapi tidak bisa dipungkiri jika king kobold juga mempunyai kecepatan yang sangat tinggi. Dengan kata lain, lari darinya hanyalah tindakan yang sia-sia.
Memilih untuk melawannya, aku pun dengan cekatan mengambil beberapa jarum yang telah kulumuri dengan arsenik dalam dosis yang sangat banyak. Ini adalah jarum yang sengaja aku simpan untuk king kobold. Tanpa menunggu lebih lama, lantas aku langsung melemparkan jarum-jarum tersebut ke arah leher king kobold.
Bukannya menghindar atau menangkis, king kobold itu justru hanya diam di tempatnya, hingga akhirnya jarum-jarumku sukses menancap di kulit lehernya. Meskipun begitu, aku tidak merasa puas sama sekali ketika melihatnya.
King kobold itu tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan, dia hanya diam dengan ketenangannya yang luar biasa. Bahkan, dia mencabut jarum yang menancap di lehernya, lalu menjilati ujung-ujung jarum yang sebelumnya terdapat cairan arsenik.
"Jadi, bahkan arsenik pun tidak berpengaruh pada monster rank B, ya?" ucapku dengan senyum miris.
Sedangkan di sisi lain, king kobold itu justru terus menjilati jarumku dan tersenyum mengejek ke arahku. Setelah puas mengejekku, monster sialan itu melesat dengan kecepatan tingginya ke arahku.
Ia mengayunkan gadanya dari atas dengan sangat keras, seolah-olah ia sangat bernafsu untuk meremukkan tengkorakku. Tidak ingin mati konyol, aku lantas berguling ke depan melewati sela-sela tubuhnya. Ketika tubuh kami saling membelakangi, aku pun berlari menjauh dari king kobold tersebut dengan kecepatan penuh.
Dengan intuisinya yang telah terlatih secara alami, king kobold itu juga membalikkan badannya dan mengejarku. Melihat monster rank B tersebut mengejarku, aku semakin menambah kecepatan pada kakiku.
Saat aku melihat pohon besar yang berada tidak jauh di depanku, aku pun dengan sigap melompat ke arah batangnya. Kakiku yang kugunakan sebagai tumpuan pada batang pohon, mendorong keras tubuhku ke belakang sehingga aku mampu berbalik menghadap king kobold dengan mendadak.
Ini adalah sebuah gerakan spontan yang terpikirkan olehku. Sehingga aku berharap makhluk ini terlambat menyadari seranganku. Saat aku mendapatkan momentum yang tepat, aku pun melesakkan pukulanku ke kepala king kobold.
Sayang bagiku, king kobold jauh lebih pintar dari yang aku kira. Dia menyadari pergerakanku, dan menangkap leherku sebelum aku berhasil memukulnya. Rasa sakit yang luar biasa kurasakan di tenggorakanku ketika tangan besar ini berusaha untuk meremukkannya.
Ketika aku berpikir bahwa dia hanya akan mencekik leherku, ternyata monster ini juga menghempaskanku ke tanah dengan keras. suara dentuman hebat dan sebuah kawah dengan diameter selebar tiga meter tercipta dengan diriku yang menjadi pusatnya.
"Cough!" reaksiku dengan darah yang keluar dari mulutku.
hantaman keras yang menghantam punggungku, membuat lonjakan kaget di sekitar tulang belakangku. Bahkan, kepalaku dibuat berkunang-kunang karenanya.
Tidak cukup sampai di situ. Setelah ia menghantamkan diriku ke tanah, telapak tangan besarnya tetap saja tidak mau melepaskan cengkramannya pada leherku.
"Ug- ugh ... sial!" erangku.
Kedua tanganku yang menganggur, kugunakan untuk membuka cengkraman monster sialan secara paksa. Urat-urat pembuluh darah tercetak jelas di leher dan pelipisku ketika aku terus memaksanya untuk melepaskan leherku. Ketika aku mampu mengangkat sedikit tangannya, tiba-tiba dari samping terdapat sesuatu yang menghantamku dengan sangat keras.
Aku pun terlempar hingga seratus meter, serta menabrak hingga belasan pohon besar sampai akhirnya aku benar-benar terhenti sepenuhnya.
"Si- sial, ini sangat sakit, sialan!" ucapku lirih sambil tengkurap menahan rasa sakit.
Sinyal tanda bahayaku berteriak kembali ketika aku merasakan ada sesuatu yang melesat cepat ke arahku. Meskipun, aku sudah dibuat babak belur sampai seperti ini, monster gila itu tetap saja tidak memberiku jeda sedikit pun untuk menarik napas.
Kali ini, aku berhasil menghindari serangannya dengan segera melompat ke belakang. Lagi-lagi dentuman keras tercipta karenanya.
Kuambil dua buah pisau bedah yang sebelumnya kugunakan untuk mengalahkan dua kobold lain. Meskipun pisau bedah mempunyai ketajaman yang cukup tinggi, tetapi hanya berbekal itu saja tidak akan cukup untuk menggores kulit king kobold.
Oleh sebab itu, aku mengalirkan mana-ku ke dalam pisau bedah, dan membuatnya menyelebungi mata pisauku dengan konsentrasi yang tipis. Semakin tipis mana yang menyelebunginya, maka semakin tinggi konsentrasi mana yang dibutuhkan. Dengan begitu, ketajaman dari pisau bedahku menjadi meningkat berkali-kali lipat.
Jika sebelumnya aku tidak pernah berinisiatif untuk mengambil serangan secara langsung, maka kali ini aku akan melakukannya. Kulesatkan diriku ke depan, menerjang menuju king kobold. Sedangkan king kobold hanya tersenyum mengejek sambil menunggu arah datangnya seranganku.
Ketika jarakku tinggal beberapa meter lagi dengannya, aku sedikit mengubah kuda-kudaku. Kurendahkan tubuhku, bahkan hampir mencapai tanah. Aku berusaha mengincar sedikit celah dengan memanfaatkan perbedaan postur yang sangat besar antara kami.
Dengan tubuh gempalnya yang bahkan setinggi lima meter, dia sedikit kesulitan ketika hendak menyerangku dengan gadanya. Pada dasarnya, kuda-kudaku yang sangat rendah ini juga tidak menguntungkanku, karena kuda-kuda ini tidak memungkinkanku untuk menciptakan momentum yang tepat dalam menyerang.
Namun, sejak awal memang itu bukanlah tujuan utamaku. Ketika aku berhasil menghindari gadanya, aku mendorong tubuhku dan berguling cukup jauh ke depan hingga melewati sisi belakang king kobold. Ketika aku telah mendapat keseimbanganku kembali, aku pun segera berbalik dan menyayat kedua betis dari king kobold tersebut sebelum ia sempat berbalik ke arahku.
Meskipun darah segar jelas-jelas terciprat dari bekas sayatanku, tetapi monster itu tetap saja tidak terlihat kesakitan sedikit pun. King kobold tersebut segera berbalik dan mengayunkan lengan berototnya ke samping, ke arah kepalaku.
Kuhindari ayunan tersebut dengan meloncat. Ketinggianku yang telah sejajar dengan kepalanya, membuatku leluasa melancarkan serangan berikutnya.
Kulemparkan kedua pisauku ke arah matanya secara bersamaan. Karena jarak kami yang hanya terpaut sekitar satu meter, maka tidak ada kesempatan baginya untuk bereaksi tepat waktu. Pisau bedah yang kualiri dengan mana, menancap dengan meyakinkan di kedua mata king kobold tersebut, sehingga darah segar tidak henti-hentinya keluar dari sana.
Ketika aku telah mendarat di tanah, aku langsung melompat kembali beberapa meter ke belakang untuk menjaga jarak agar mampu mempersiapkan serangan berikutnya.
"Gggrrrhhh!" suara geraman marah dari king kobold jelas terdengar olehku.
Meskipun aku telah membuat buta kedua matanya, tetapi aku masih merasa kalau dia mampu mengetahui keberadaanku dengan tepat. Entah ini adalah insting makhluk buas miliknya atau semacamnya. Yang jelas, seranganku barusan tidak memberi dampak yang begitu signifikan pada king kobold tersebut.
"Aku harus mengganti metodeku atau aku akan benar-benar berakhir di sini," ucapku. "Sial, ini akan sangat buruk jika harus menjadi pertarungan dengan daya tahan."
Karena pisau yang selalu kupakai selama ini telah menancap di kedua matanya, aku pun mau tidak mau harus bertarung menggunakan kosong.
Namun, jujur saja, aku bahkan tidak memiliki rencana yang bagus untuk mengalahkannya. Tidak, aku mempunyai sedikit gambaran, tetapi aku tidak yakin dengan langkah-langkah yang harus kuambil untuk mewujudkannya.
Saat aku terlalu fokus memikirkan langkah-langkah selanjutnya, aku terlambat menyadari jika ternyata king kobold telah melesat ke arahku. Lantaran karena terlambat bereaksi, aku pun hanya menyilangkan tanganku ke samping kanan untuk menahan sapuan gadanya.
Tentu saja, block yang kugunakan tadi tidak akan berefek banyak terhadap serangannya. Selain karena kekuatannya yang sangat kuat, aku sendiri juga terlambat melakukan antisipasi.
Oleh sebab itu, tubuhku kembali terhempas begitu jauh ke samping. Sensasi benturan-benturan benda-benda padat dengan tubuhku, membuatku merasakan ada beberapa tulang rusukku ada yang retak.
Bahkan, belum sampai diriku mendarat di tanah, king kobold tersebut kembali muncul di depanku, dan menghantamkan gadanya ke tubuhku. Lagi-lagi, mau tidak mau aku dibuat terbang ke arah lain olehnya.
Namun, tidak ingin berakhir menjadi samsak tinju, aku mencoba dengan begitu keras untuk mendaratkan salah satu anggota tubuhku ke tanah. Aku berhasil mendaratkan tubuhku, dan membiarkannya berguling-guling agar memberikan gesekan antara tubuhku dengan tanah. Hal ini sukses memperlambat lajuku yang awalnya tidak terkendali.
Sial, meskipun aku berhasil menghentikan tubuhku, tetapi ini rasanya benar-benar seperti telah ditabrak oleh kereta uap berkali-kali.
Niat hati ingin mengambil napas sejenak, tetapi kondisi dan situasi tidak mengizinkannya. Dengan pandanganku yang sudah mulai kabur, aku dapat melihat bahwa king kobold sudah berlari dengan cepat ke arahku. Kali ini, aku harus mampu bereaksi dengan benar. Jika tidak, aku benar-benar tidak akan bisa keluar dari situasi yang menyebalkan ini.
Dengan menggunakan momen yang tepat, aku memundurkan sedikit kuda-kudaku saat ia memukulkan gadanya secara vertikal ke bawah. Tekanan angin yang kuat dapat kurasakan tatkala hempasan tersebut tepat melewati depan mataku.
Dengan jeda waktu yang singkat ini, aku segera melompat ke depan dan berusaha memukul kepalanya. Sejak kecil, aku telah digembleng dengan latihan fisik yang tidak masuk akal oleh nenek, sehingga aku cukup percaya diri dengan kekuatan fisik dan pukulanku.
Seperti yang kuharapkan, tubuhnya yang sangat keras itu sedikit terhuyung ke belakang. Meskipun begitu, tangannya yang tidak memegang gada, dengan cepat bereaksi dan segera memukulku.
Namun, kali ini aku pun dapat bereaksi dengan cepat sehingga aku segera menghindarinya dengan cara bergelantungan di tangannya.
Aku memanfaatkan anggota tubuhnya yang besar sebagai landasan tempatku berpijak. Dengan memanfaatkan momentum yang tepat, aku segera kembali melompat ke belakang tubuhnya. Akan tetapi, kali ini aku memosisikan tubuhku dengan bergelayut di leher bagian belakangnya.
Kedua tanganku yang bebas, masing-masing mengambil rahang atas dan bawah miliknya. Setelah aku yakin telah memegang tempat yang tepat, aku pun mulai menarik kedua rahangnya dengan paksa.
"Grrooaahh!" teriak king kobold yang menahan rasa sakit.
Seperti tidak ingin membiarkan niatku berjalan dengan mulus begitu saja, ia berusaha mendaratkan sebuah tepukan keras ke tubuhku yang sedang bergelayut di leher belakangnya. Akan tetapi, aku telah memperkirakan hal ini. Sehingga, sejak awal telah aku mengerahkan seluruh sisa-sisa tenagaku untuk menghancurkan persendian di tulang rahangnya.
Suara 'krak' terdengar begitu keras dari rahangnya. Dengan begini, aku telah yakin jika aku benar-benar berhasil mematahkan rahangnya. Akan tetapi, tepukan dari tangannya yang hendak memukulku, tidak berhenti begitu saja. Tangannya yang bebas menepukku dengan cukup keras, seolah-olah aku ini hanya serangga baginya.
Namun, jika dibandingkan dengan serangan-serangannya yang sebelumnya, aku merasakan jika tepukan ini tidak berisikan tenaga yang sama seperti sebelumnya. Meskipun begitu, ini tetap terasa sakit bagiku.
Tidak, lupakan itu. Yang jelas, kedua rahangnya yang telah patah tersebut sukses memberikan efek yang benar-benar terasa baginya. Akan tetapi, aku merasa bahwa ini tidak cukup. Dengan memberikan kuncian menggunakan kedua tanganku di kepalanya yang besarnya seukuran tubuh bagian atas manusia, aku pun memutar kepalanya dengan begitu kencang.
Suara 'krak' kembali muncul dengan intensitas yang lebih keras dari sebelumnya. Kepala yang seharusnya hanya mampu menoleh sebesar 90 derajat, kini telah berputar hampir 180 derajat. Sejujurnya, aku tidak menyangka jika aku mampu mematahkan lehernya yang terlihat sangat keras dan tebal ini.
Namun, aku tidak begitu memikirkan hal itu. Bersamaan dengan king kobold yang telah kehilangan kesadarannya, tubuhku pun juga terasa sangat berat. Keinginanku yang segera turun dari tubuhnya, tidak dapat terlaksana lantaran seluruh ototku yang mulai terasa begitu sakit.
Bahkan setelah tubuh king kobold tersebut ambruk ke belakang dan menimpaku, aku pun tidak dapat bereaksi apa-apa.
Brruuk!
tubuh king kobold benar-benar jatuh menimpaku. Serius, ini sangatlah berat ketika membiarkan kepalanya menimpaku begitu saja. Namun, aku pun tidak mempunyai banyak tenaga yang tersisa untuk memindahkannya.
Sehingga satu-satunya yang bisa kulakukan hanyalah memeriksa denyut nadi di lehernya untuk memasitkan bahwa dia benar-benar telah mati.
"Huh, untunglah," ucapku pelan setelah memastikannya.
Aku sangat membenci rasa sakit, sehingga aku akan memikirkan banyak cara yang paling efisien untuk menyelesaikan sesuatu tanpa harus melukai tubuhku. Bahkan jika itu berarti melarikan diri, aku tidak akan ragu-ragu melakukannya.
Selama ini, aku selalu menggambar garis pembatas yang membuatku mampu membedakan mana yang mampu kuatasi dan mana yang tidak bisa kuatasi. Dengan metode seperti itu, aku selalu berhasil selamat, bahkan ketika nenek meninggalkanku di puncak gunung atau melemparkanku ke jurang sekali pun.
Namun, untuk saat ini ... rasanya aku dengan begitu konyolnya melewati garis yang telah kutetapkan sendiri. Meskipun awalnya aku hanya ingin membunuh beberapa monster lalu kabur begitu saja, entah kenapa justru muncul sebuah dorongan dari dalam tubuhku yang menyuruhku untuk berusaha lebih keras lagi.
Sesungguhnya, aku sempat menyesal karena keputusan sembronoku ini membuat seluruh tubuhku merasakan nyeri yang tak terhingga. Akan tetapi, setelah aku benar-benar berhasil mengalahkan monster sialan ini, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku.
Melewati garis pembatas bahkan meski itu membuat tubuh serasa akan hancur. Aku rasa, aku sedikit mengerti alasan mereka yang begitu keras kepala melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya.
"Heh, betapa konyolnya diriku."
Bersambung
Author Note : Halo hai, akhirnya saya kembali dengan chapter 5. Cukup lama memang.
Jujur saja, saya sebenarnya sangat sibuk akhir-akhir ini. bahkan, mungkin beberapa bulan ke depan saya bakal mendapat banyak jadwal yang membuat saya harus lebih ekstra dalam menejemen waktu. ini aja aku baru pulang kerja part time dan belum sempat koreksi isi chapternya. Apalagi, September nanti udah mulai aktif perkuliahan hm.
Oke, cukup curhatnya. sekarang aku mau bahas chapter ini dulu.
Sejujurnya, aku ingin buat chapter ini jadi dua chapter. Tapi, karena aku rasa bakal lebih baik kalau aku jadiin satu, ya jadinya seperti ini. Karena itu, chapter ini jauh lebih panjang dari chapter-chapter lain.
Lalu, yang ingin aku bahas adalah kemampuan healer. aku sengaja tidak membuat healer mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan apapun. Jadi, aku buat semacam kondisi yang membuat healer harus melakukan banyak hal dalam merawat rekannya. Karenaya, ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting di sini. seperti yang aku katakan di author note sebelumnya, aku mengambil referensi konflik di fict ini berdasar pada keadaan Eropa abad pertengahan. Jadi, akan ada banyak benturan antara ilmu pengetahuan, ideologi, dan berkah tuhan.
Selain itu, di sini sudah jelas ada perbedaan metode / cara berpikir seorang helaer yang dipelajari Naruto dan siswa lain. bukan hanya tentang sihir, tapi juga tentang cara berpikirnya. itu bisa dilihat ketika Tadokoro berkata kalau metode Naruto yang mengoperasi Jiroubo bukan sesuatu yang wajar yang selama ini ia lihat.
selanjutnya, ada dua review yang menanyakan tentang kemampuan Naruto dan Sasuke. Ada yang menyarankan kalau Naruto lebih baik mempunyai kemampuan lailn seperti menggunakan pedang. Oke, sejak awal aku sudah memikirkan itu memang. Meskipun Naruto seorang healer yang berkiblat pada neneknya (Tsunade). tapi ia juga memgembangkan kemampuannya untuk bertahan hidup ketika dia berlatih di bawah pengawasan Tsunade. salah satunya ada di chapter ini, dia ahli dalam menggunakan pisau dan mengombinasikannya dengan pengetahuannya seputar racun. Mungkin secara simpel, kalian bisa sebut kalau cara bertarung Naruto itu mirip seperti assassin.
sedangkan untuk Sasuke, aku gak bisa banyak bicara. tapi aku sudah memberi sedikit clue tentang kemampuan Sasuke di chapter 3.
Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.
