Aku sangat membenci rasa sakit, sehingga aku akan memikirkan banyak cara yang paling efisien untuk menyelesaikan sesuatu tanpa harus melukai tubuhku. Bahkan jika itu berarti melarikan diri, aku tidak akan ragu-ragu melakukannya.
Selama ini, aku selalu menggambar garis pembatas yang membuatku mampu membedakan mana yang mampu kuatasi dan mana yang tidak bisa kuatasi. Dengan metode seperti itu, aku selalu berhasil selamat, bahkan ketika nenek meninggalkanku di puncak gunung atau melemparkanku ke jurang sekali pun.
Namun, untuk saat ini ... rasanya aku dengan begitu konyolnya melewati garis yang telah kutetapkan sendiri. Meskipun awalnya aku hanya ingin membunuh beberapa monster lalu kabur begitu saja, entah kenapa justru muncul sebuah dorongan dari dalam tubuhku yang menyuruhku untuk berusaha lebih keras lagi.
Sesungguhnya, aku sempat menyesal karena keputusan sembronoku ini membuat seluruh tubuhku merasakan nyeri yang tak terhingga. Akan tetapi, setelah aku benar-benar berhasil mengalahkan monster sialan ini, rasanya seperti ada banyak kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku.
Melewati garis pembatas bahkan meski itu membuat tubuh serasa akan hancur. Aku rasa, aku sedikit mengerti alasan mereka yang begitu keras kepala melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya.
"Heh, betapa konyolnya diriku."
Naruto by Masahi Kishimoto
Highschool DxD by Ichie Ishibumi
and other characters are not belongs to me
genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.
Chapter 6 : Pilihlah Makan Malam Sesuai Dengan Seleramu.
XxxxX
Kebanyakan manusia mempunyai jam biologis yang berbeda-beda. Meskipun bila dilihat secara umum semua terlihat sama, tetapi ada detail-detail tertentu yang membuat itu menjadi berbeda. Seperti kondisi mental seseorang, keadaan, aktivitas fisik, letak geografis, dan perilaku sehari-hari dapat memengaruhi jam biologis.
Akibat yang paling umum bila jam biologis terganggu adalah insomnia, depresi, gangguan bipolar, obesitas, bahkan ada beberapa kasus yang sampai mengalami diabetes. Hal ini terjadi karena adanya sebuah gangguan pada saraf suprachiasmatic yang berfungsi untuk menyesuaikan ritme sirkadia, atau yang biasa disebut dengan ritme metabolisme.
Meskipun terdengar seperti sesuatu yang merepotkan, tetapi pada dasarnya otak manusia mempunyai semacam alarm alami yang akan memperingatkan tubuh bahwa dia sudah mencapai batas amannya. Seperti misalnya pada kasus gadis Phenex. Dia yang tak kuasa menahan tekanan intimidasi dari king kobold, harus merelakan tubuhnya jatuh pingsan karena alarm di otaknya telah memberi tahu bahwa ia sudah tidak kuat menerima tekanan mental lebih jauh lagi.
Selain itu, kondisi yang berbeda akan terjadi pada orang-orang yang juga mempunyai ketahanan fisik atau mental yang lebih kuat. Mereka yang mampu menahan tekanan tersebut, akan cenderung mampu bertahan lebih lama karena alarm pada otaknya belum menunjukkan tanda bahaya.
Akan tetapi, itu bukan berarti bahwa mereka yang lebih tahan dari semua itu bisa menghindari efek dari terganggunya jam biologis. Karena kembali lagi pada poin awal, setiap kegiatan manusia selalu mempunyai efek pada jam biologisnya.
Seperti misalnya diriku. Walau hanya berada 12 jam di dalam dungeon, ini terasa seperti aku sudah berada di sana selama seharian penuh. Tekanan dari aura intimidasi yang berasal dari segala sisi di dalam dungeon, memaksaku untuk memeras seluruh tenagaku agar terus terjaga setiap saat. Karena terlalu memforsir diriku, otakku pun seolah memberi ilusi bahwa aku telah terjaga selama seharian penuh meski faktanya ini barulah 12 jam.
Karena itulah, ketika akhirnya aku telah keluar dungeon seperti sekarang, rasanya benar-benar seluruh tekanan di punggungku seolah terangkat begitu saja dan tubuhku menjadi jauh lebih ringan dari sebelumnya.
Di depan sana, terlihat Kakashi-sensei menyambut kami semua dengan perlakuan yang hangat. Ini sangat kontras dengan perilakunya yang sangat kental dengan aura suram.
"Kuucapkan selamat pada kalian semua yang telah menyelesaikan pelatihan dungeon pertama. Karena kalian sudah berjuang begitu keras, maka aku akan meliburkan jadwal pembelajaran untuk besok. Gunakanlah waktu itu untuk bermalas-malasan dengan baik."
Aku tidak begitu yakin apakah menyuruh para muridnya untuk bermalas-malasan dengan baik itu termasuk perbuatan baik atau tidak. Yah, karena ini adalah Kakashi-sensei dan akal sehat sepertinya tidak begitu berguna untuknya. Jadi, mari jangan terlalu diambil serius segala ucapan dan tindakannya.
Meski Kakashi-sensei mengeluarkan kata-kata manisnya, tidak ada satu pun murid yang benar-benar memerhatikan guru itu. Pandangan kami semua, termasuk aku, lebih tertuju pada sebuah sihir proyeksi yang menunjukkan daftar-daftar kelompok yang berhasil dan gagal dalam pelatihan kali ini. Dari enam tim yang ditulis di sana, kulihat ada dua tim yang gagal menyelesaikan tugasnya.
Ketika setiap murid telah memastikan bahwa teman-teman mereka berhasil dalam pelatihan dungeon, mereka pun mulai berkumpul satu sama lain dan menceritakan pengalaman-pengalamannya ketika berada di dalam dungeon buatan.
"Eh, yang benar? Kamu mengalahkan king kobold?"
Kepalaku sontak menoleh ke sumber suara tatkala aku mendengar sesuatu seperti king kobold. Maksudku, itu berarti mereka juga membicarakan aksiku, kan? Y- yah, i- ini bukan berarti a- aku senang atau semacamnya, ya. A- aku hanya merasa pe- perlu untuk bergabung dan ikut bercerita, i- itu saja.
"Ya, tentu saja. Jangan lupakan juga tentang kobold-kobold yang lain."
"Seperti yang diharapkan dari Kiba-sama, Ravel-sama, dan Jiroubo-san. Kalian bertiga bertiga benar-benar hebat."
A- apa yang baru saja kudengar barusan? Tunggu, kenapa namaku dan Tadokokro tidak mereka sebutkan?
"Hmph, itu bukan apa-apa bagiku. Monster-monster itu hanya tidak sekuat yang selama ini orang-orang katakan saja," si gadis Phenex membalas dengan mengibaskan rambutnya yang menyelempang di pundak.
Hei-hei, 'bukan apa-apa bagimu', kau bilang? Yang benar saja, kau bahkan langsung pingsan ketika hanya ditatap oleh king kobold. Coba rasakan sensasi tubuhmu yang ditabrak oleh kereta uap berkali-kali, barulah kau bisa membual seperti itu, sialan.
Cih, saat kupikir mereka sedang membicarakan aksiku, ternyata mereka justru membual tentang sesuatu yang sama sekali tidak mereka alami. Sungguh, ini benar-benar memalukan sekaligus menyebalkan ketika berpikir bahwa akulah yang sedang mereka bicarakan.
"Yo."
Sebuah suara pelan tiba-tiba tertangkap oleh gendang telingaku. Aku tidak yakin apakah suara itu bermaksud untuk memanggilku atau tidak, tetapi aku memutuskan menoleh ke arahnya untuk memastikannya.
"Kakashi-sensei?"
Aku cukup terkejut saat yang mengetahui bahwa pemilik suara tersebut adalah Kakashi-sensei. Maksudku, aku tidak punya ide sama sekali tentang urusan yang ia punya sampai harus memanggilku.
"Sedang merasa kesal?" tanyanya.
"Eh?"
"Melihat usahamu yang tidak dianggap dan dihargai, kau merasa kesal?"
Mulutku dibuat menganga ketika mendengar Kakashi-sensei yang secara tiba-tiba berkata seperti itu. Sesekali, mulutku akan menutup, kemudian membuka, dan kemudian menutup lagi. Entahlah, ini seperti aku merasa tidak yakin dengan apa yang ingin aku katakan.
"Aku tidak menyalahkanmu jika kau merasa kesal," ucap Kakashi-sensei sambil seolah melihat jauh ke dalam mataku.
Kualihkan pandangan mataku dan berkata, "kurasa begitu. Namun, ini bukan berarti aku tidak paham atau semacamnya. Sejak awal, perlakuan seperti ini memang sudah wajar, kan?"
Ya, benar sekali. Jika aku kembali mengingat penjelasan Sasuke tentang nasib para healer serta kejadian yang melibatkan healer-senpai dengan Sakon dan Ukon-senpai pagi tadi, maka apa yang terjadi saat ini cukup wajar. Kemenangan akan selalu menjadi milik mereka yang berdiri di garis depan dan kekalahan adalah dosa dari para healer. Terlepas dari orang-orang itu tahu kejadian yang sebenarnya atau tidak, itu bukanlah perkara yang penting bagi mereka.
Lagi pula, aku cukup yakin bahwa mereka yang memuji seperti itu tidak lebih orang yang berusaha memberikan kesan yang baik untuk orang yang berada di strata sosial teratas. Dengan kata lain, mereka tidak lebih dari seorang penjilat.
Hanya saja, meski sudah dianggap wajar, tetapi itu bukan berarti benar, kan? Rasanya tidak masuk akal jika terus menilai sesuatu seperti itu.
Ketika aku mulai sibuk dengan pikiranku, tiba-tiba aku merasakan sebuah tangan yang mengacak-acak rambutku dengan sedikit kasar.
"Hanya karena banyak orang melakukannya, jangan pernah menganggap wajar sesuatu yang salah, ingat?" ucap Kakashi-sensei sambil tersenyum, "oh, dan juga ... kau telah melakukan yang terbaik selama pelatihan dungeon, kerja bagus."
Setelah mengatakan itu, Kakashi-sensei mengalihkan telapak tangannya yang sedari tadi mengusap kepalaku.
"Kerja bagus, huh?" gumamku.
Kepalan tanganku mengepal dengan kuat seolah-olah berusaha ingin menahan sebuah gejolak yang tiba-tiba muncul di dalam hatiku. Perasaan kecewa yang sempat kurasakan, mendadak sirna dan tergantikan dengan sesuatu yang terasa hangat.
Hanya dengan kalimat 'kerja bagus' beserta sebuah usapan di kepala saja sudah membuatku merasa senang seperti ini? Memangnya aku ini anak kecil, huh? Akan tetapi, pujian tulus yang dikatakan Kakashi-sensei itu entah kenapa mampu menyentuh hatiku.
Aku sangat paham dengan perasaan ini. Seluruh pujian manis yang ada di dunia, akan kalah dengan sebuah kata-kata 'kerja bagus' yang diucapkan dengan penuh ketulusan.
"Segera kembali ke asrama dan beristirahatlah, etto ... Naruo?" ucapnya lagi untuk mengingatkanku.
"Naruto desu."
"Natsuo?"
"Naruto desu."
"Ah, iya, aku ingat. Hayato, kan?"
"Kampret, anda memang tidak mendengarkanku atau bagaimana?"
Sial, aku tarik kembali segala pujianku tentang Kakashi-sensei barusan! Aku benar-benar salah ketika mengira bahwa dia adalah seorang guru hebat yang bersembunyi di balik aura suramnya. Tidak, bahkan jauh dari pada itu, dia hanyalah guru pemalas yang menyebalkan!
Ketika aku hendak protes lebih lanjut, ia terlebih dulu berjalan mendahuluiku sambil terdengar seperti suara tawa halus darinya. Tangannya yang melambai-lambai kepadaku, seolah menjadi sinyal bahwa ia tidak ingin mendengar protesku sedikit pun.
XxxxX
Jam yang sengaja diletakkan di jalanan akademi Shouka Sonjoku, telah menunjukkan pukul setengah delapan. Itu berarti, masih ada waktu kurang lebih satu setengah jam sampai habisnya jam malam yang disediakan oleh pihak akademi.
Setelah Kakashi-sensei memberi sedikit pengarahan terakhir sebelum akhirnya kami semua dibubarkan, kebanyakan dari kami langsung pergi menuju ke kafetaria. Sedangkan bagi mereka yang berdomisili atau yang mempunyai rumah di Edo, lebih memilih untuk pulang ke kediaman mereka masing-masing.
Lalu, di sinilah aku sekarang. Sama seperti kebanyakan siswa lain yang tinggal di asrama, aku pun pergi ke salah satu kafetaria yang ada di akademi ini. Omong-omong tentang kafetaria, di akademi ini terdapat empat kafetaria yang buka sampai jam sembilan malam. Jadi, para murid tidak perlu risau mencari makanan untuk makan malam mereka.
"Sial, mereka tidak mengizinkanku mengambil saus tomat lebih banyak."
Kedua mataku secara otomatis mengikuti arah datang suara yang terdengar kurang nyaman tersebut. Kudapati Sasuke yang kemudian duduk tepat di sebelahku dengan wajah yang ditekuk.
Secara tidak sengaja, aku melihat nampannya yang berisi ... sebuah makanan? Aku tidak yakin apa itu, yang jelas itu terlihat menjijikkan.
"Hei, seluruh piringmu sudah penuh dengan saus tomat. Memangnya, berapa banyak lagi yang ingin kau tambahkan? Lagi pula, apa yang sebenarnya kau makan itu?"
Aku benar-benar tidak habis pikir dengan anak ini. Ketika aku berpikir bahwa buta arah adalah satu-satunya keanehan yang ia punya, nyatanya aku benar-benar salah besar. Maksudku, lihat saja piring makannya. Memangnya, ada orang normal yang memberi saus tomat begitu banyaknya, yang bahkan sudah menutupi seluruh isi makanannya, ha?
"Diamlah, ini hanya tamago kake gohan dengan ekstra saus tomat, kau tahu? Selain itu, aku tidak ingin mendengar protes dari orang yang memakan nasi dengan lauk semangkuk penuh kacang merah sepertimu," balas Sasuke sambil melirik makananku.
"Ini wajar. Maksudku, glukosa sangat diperlukan saat setelah kau melakukan aktivitas berat."
Sasuke terlihat mengabaikan perkataanku dan lebih memilih untuk menikmati santapan malamnya. Aku sedikit jengkel karena ia dengan tiba-tiba mengabaikanku, tetapi aku pun memutuskan untuk kembali melanjutkan makan malamku yang tertunda sejenak.
"Omong-omong, yang membunuh king kobold dengan anak buahnya ... itu kau, kan?"
Tangan kananku terhenti sejenak ketika mendengar pertanyaan Sasuke. Aku tidak menyangka jika Sasuke tiba-tiba mengangkat topik itu.
"Mana mungkin, kan?" balasku.
Ya, tidak ada alasan bagiku untuk menceritakan semuanya kepada Sasuke. Lagi pula, Kiba dan lainnya sudah terlebih dahulu membuat narasi seolah-olah merekalah yang telah membawa timku menyelesaikan tugas dengan gemilang.
"Mereka mungkin bisa membodohi murid lain, tapi tidak denganku," ucap Sasuke tenang sambil terus menyantap makanannya.
Mataku terus terpaku dan menatap kosong pada makanan yang tersaji di depanku. Aku tidak menyangka, selain Kakashi-sensei dan Tadokoro, masih ada orang lain yang mengetahui fakta tersebut.
"Yah, aku tidak akan mengelak jika kau memang sudah tahu," ucapku pelan, "jadi, apa lagi? Bukan hanya itu saja yang ingin kau tanyakan kan, teme?"
"Bukan teme, tapi Sasuke. Tidak, aku hanya ingin mengonfirmasinya saja. Selain itu, aku tidak menyangka ada healer yang bahkan mampu mengelahkan king kobold dan anak buahnya sekaligus. Kau mengingatkanku dengan Tsunade-sama si Putri Siput."
Aku tidak tahu harus membalas seperti apa untuk menyikapi pernyataannya, khususnya ketika ia mulai berpikir bahwa aku sedikit mirip dengan nenek. Tidak, aku tidak ingin membohonginya atau semacamnya. Aku hanya enggan jika dia mengubah sikapnya kepadaku ketika ia mengetahui bahwa aku adalah cucu dari Tsunade Namikaze.
Karena itulah, aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraan ini. Lagi pula, aku tidak merasa jika Sasuke benar-benar terkejut seperti yang ia katakan barusan. Maksudku, ini seperti dia sudah memprediksi jika aku memang mampu mengalahkan mereka.
"Lupakan tentang itu, bagaimana denganmu? Kau tidak membuat masalah dengan kelompokmu, kan?"
"Tidak, yang ada justru merekalah yang membuat masalah denganku," balas Sasuke.
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Aku yakin, Sasuke adalah tipe orang yang bisa membuat masalah kapan pun itu, mengingat bahwa dia mempunyai penyakit buta arah yang sudah kronis. Seakan menyadari kebingunganku, ia melanjutkan ceritanya.
"Kau tahu, tidak sampai satu menit setelah masuk dungeon saja, mereka langsung tersesat."
Mendengar ucapannya, aku pun secara tidak sadar mengeluarkan senyum miris. Perasaan simpati terhadap kelompok Sasuke, muncul begitu saja di dalam hatiku. Dengan segenap empati yang kupunya, aku memegang pundak Sasuke.
"Sasuke, segeralah meminta maaf ke mereka. Tidak perlu malu, aku akan menemanimu."
"Sialan, kenapa aku harus minta maaf ke mereka, ha?" ucap Sasuke kesal sambil menahan suaranya.
"Bukankah sudah jelas? Itu kau yang tersesat, teme. Bukan mereka!"
"Bukan teme, tapi Sasuke. La- lagi pula, ma- mana mungkin aku tersesat, ha?"
Gawat, gawat sekali anak ini. Dia sudah tidak tertolong lagi, aku turut bersimpati padamu, Sasuke. Tenang saja, kau yang berusaha menyembunyikan keidiotanmu itu terlihat tidak buruk juga, kok.
Aku menghela napas sejenak, "baiklah, lupakan saja itu. Lalu, apa kau bisa bertemu dengan mereka lagi atau bagaimana?"
"Tidak, aku terus berjalan saja. Bahkan, aku tidak sadar kalau aku ternyata memasuki sarang goblin."
Tenggorokanku hampir tersedak makanan ketika mendengar pernyataan Sasuke yang di luar perkiraanku. Dengan sedikit tergesa-gesa, aku pun meminum segelas air agar meredakan tenggorakanku.
"sarang goblin, kau bilang?" tanyaku sambil melihat Sasuke dengan terkejut.
Bagaimana tidak? Goblin adalah salah satu monster rank C yang cukup berbahaya. Meskipun kekuatan mereka jauh lebih lemah dari kobold, tetapi goblin mempunyai tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Mereka bahkan paham bagaimana cara menggunakan anak panah, memasak bahan makanan, bercocok tanam, berternak, dan memanfaatkan peralatan lain layaknya manusia.
Yang paling ditakuti dari goblin bukanlah kekuatan mereka, tetapi kecerdasannya. Umumnya, monster rank C akan dengan mudah dihadapi asal mempunyai kerja sama yang hebat. Akan tetapi, kerja sama dan serangan dadakan saja tidak cukup untuk menghadapi kawanan goblin. Mereka mempunyai banyak sekali rencana untuk menghadapi berbagai macam situasi, bahkan mereka bisa menyiapkan sebuah jebakan dengan cepat.
Selain itu, dia tadi bilang sarang goblin? Jangan bilang kalau Sasuke juga bertemu king goblin, monster rank B yang kekuatannya setingkat dengan king kobold.
"Sayang sekali aku tidak bertemu dengan king goblin di sana," ucap Sasuke sambil mendengus kecewa.
" 'sayang sekali' pantatmu! Harusnya kau beruntung tidak ada king goblin di sana, teme," ucapku yang menahan emosi.
"Bukan teme, tapi Sasuke. Ini adalah pelatihan dungeon, sayang jika kau tidak bertemu monster kuat. Namun, aku tetap bersyukur karena bisa menghabisi seluruh goblin di sana," ujarnya dengan santai.
Y- yah, aku mengerti kalau bertemu monster dengan rank tinggi di dalam dungeon cukup menguntungkan karena dapat memberikanmu pengalaman yang berharga. Akan tetapi, bertemu king goblin di dalam sarangnya, itu sudah seperti kau jatuh dan tertimpa tangga.
Jika aku tidak salah, dulu kakek pernah berkata kalau sarang goblin setidaknya berisikan seratus ekor monster, termasuk king goblin. Jika king goblin tidak ada di dalamnya, itu berarti dia sedang melakukan perluasan wilayah dan membawa setengah pasukannya keluar sarang.
Lebih dari itu, Sasuke tadi bilang kalau dia berhasil menghabisi seluruh goblin yang masih ada di dalam sarangnya? Dengan kata lain, dia menghadapi 50 goblin sendirian? Sial, kurasa kekuatan dari bangsawan Uchiha itu bukan main-main.
"Anoo ... permisi, bo- bolehkah aku bergabung de- dengan kalian?"
Baik aku maupun Sasuke mendongak untuk melihat siapa yang sedang mencoba berbicara dengan kami. Dari suaranya saja, sebenarnya aku sudah merasa familiar dengannya.
"Ini tempat umum, Tadokoro. Kau tidak perlu meminta izin segala, duduklah."
Benar, yang sedang berdiri di hadapan kami saat ini adalah Megumi Tadokoro, rekan satu kelompokku.
Mengikuti instruksiku, ia pun duduk dengan sedikit perasaan sungkan yang terlihat di wajahnya. Awalnya, aku tidak begitu mengerti kenapa Tadokoro terlihat begitu tidak nyaman. Akan tetapi, setelah berpikir beberapa detik, kurasa aku paham alasan dibalik sikapnya itu.
Meskipun buta arah dan sedikit idiot, tetapi Sasuke bukanlah orang yang tidak peka dengan lingkungan sekitarnya.
Ia mendekat kepadaku dan berbisik, "hei, kenapa dia terlihat seperti ketakutan?"
"Tentu saja karena wajahmu menyeramkan. Cobalah sapa dia dengan sedikit tersenyum," balasku juga dengan berbisik di dekat telinga Sasuke.
Mengikuti saranku, Sasuke pun mulai melihat Tadokoro dengan seksama. Ia pandangi gadis itu dengan teliti, hingga akhirnya sebuah sapaan lepas dari mulut Sasuke.
"Jadi, mau apa kau ke sini?"
Errr ... bagaimana aku menjelaskannya, ya? Sejak awal, suara Sasuke adalah tipe suara dengan nada rendah yang akan terdengar seperti mengintimidasi lawan bicaranya. Di tambah dengan muka temboknya yang seakan-akan terlihat seperti selalu menantang orang lain berkelahi, maka lengkap sudah kesan menyeramkan yang dimiliki oleh Sasuke.
Selain itu, aku tahu jika tadi aku menyuruhnya menyapa Tadokoro dengan sedikit tersenyum untuk mencairkan suasana. Akan tetapi, yang muncul di wajahnya justru seringai sadis yang justru membuatnya semakin mirip dengan orang jahat.
"Kau benar-benar tidak bisa diharapkan, Sasuke," ucapku sambil geleng-geleng kepala, "Tadokoro, kau mungkin sudah tahu anak ini. Dia Sasuke Uchiha, temanku. Tak perlu takut dengannya. Yah, aku dulu juga sempat merasa takut ketika pertama kali bertemu, tapi dia orang baik, kok."
"Sa- saya Megumi, Megumi Tadokoro. Sa- salam kenal, U- Uchiha-sama," balas Tadokoro sambil menundukan kepalanya di hadapan Sasuke.
Aku paham, aku paham itu, Tadokoro. Siapa pun yang sedang berhadap-hadapan dengan bangsawan sekelas Uchiha, pasti akan bersikap demikian.
"Tidak perlu memanggilku Uchiha, aku benci itu."
Tadokoro sedikit terhentak, "Sa- saya mengerti, ettoo ... Sasuke-sama."
"Jangan pakai honorofik -sama. Juga, jangan terlalu formal. Berbicaralah biasa seperti kau sedang berbicara dengan Naruto," ucap Sasuke dengan mata terpejam.
"I- iya. Kalau begitu, ... Sasuke-san?"
Mendengar panggilan yang menurutnya begitu ia sukai, Sasuke pun mengangguk cepat dengan wajah yang terlihat gembira. Ekspresinya masihlah datar seperti biasa, tetapi entah bagaimana aku bisa tahu kalau dia sedang senang.
Namun, aku paham alasan Sasuke bisa senang. Maksudku, dipanggil menggunakan honorofik -san itu terdengar keren, kau tahu? Maksudku, dengan begitu kau akan dipandang seperti orang dewasa. Meskipun aku mempunyai cita-cita menjadi dokter sekaligus healer dan semua orang akan memanggilku 'Naruto-sensei', tetapi mendengar namamu dipanggil dengan honorofik -san juga tidaklah buruk.
Ditambah lagi, sejak kecil aku selalu dipanggil 'Naruto-chan', 'Naru-chan', atau bahkan 'Naa-nyan' oleh nenek dan tetangga-tetangga di desa. Selalu diperlakukan sebagai anak kecil, terkadang membuatku menjadi sedikit sedih lho, tahu tidak?"
"Hei, bukankah itu tidak adil? Bisakah kau juga memanggilku seperti itu, Tadokoro?"
Tadokoro tersenyum lebar menatapku dan beberapa kali mengangguk dengan sedikit cepat.
"Tentu, aku akan memanggilmu 'Naruto-kun'. Sebagai gantinya, tolong panggil aku juga dengan nama depanku, ya?"
Tidak, bukan itu yang aku maksud, Tadokoro-san. Aku juga ingin dipanggil dengan honorofik -san juga, lho.
Sesungguhnya, aku ingin protes karena dia tidak menangkap maksudku. Akan tetapi, melihat senyumannya yang cerah meski langit sudah benar-benar gelap dan kondisi tubuh yang sudah sangat pegal, membuatku benar-benar tidak tega dibuatnya.
Sebuah suara orang yang terdengar seperti menahan tawa, terdengar jelas di telingaku. Sontak, aku pun menoleh mengikuti sumber suara tersebut. Di sebelahku, aku mendapati si Sasuke yang sedang mengalihkan pandangannya dariku.
Si brengsek ini, berani-beraninya dia menertawakanku.
"Jadi, kau ingin dipanggil seperti apa, Naruto-san? Tidak, maksudku ... Na-ru-to ue-sama."
Sial, dia benar-benar mengejekku. Lekukan siku-siku jelas tercetak di pelipisku, Sasuke yang mengejekku seperti itu membuat wajahku terasa menjadi lebih panas.
Sedangkan Tadokoro, atau mungkin sekarang aku harus memulai memanggilnya dengan Megumi, terlihat tidak mengerti dengan apa yang aku dan Sasuke ributkan. Ia yang hanya bereaksi dengan memiringkan kepalanya dan membuat mimik wajah yang imut, semakin membuatku tidak tega untuk memaksanya memanggilku menggunakan honorofik -san.
Ah, sudahlah. Lagi pula, malam ini sudah semakin larut, kafetaria tempat kami makan saat ini pun sebentar lagi pasti akan tutup. Aku sudah sangat lelah setelah menjalani pelatihan dungeon, bertengkar dengan Sasuke pun rasanya sudah tidak punya tenaga.
Yah, biarkan saja jam malam yang masih tersisa ini kami gunakan untuk lebih mengenal satu sama lain. Karena bagaimanapun, kurasa kami ini sudah menjadi teman, kan?
Tunggu, benar juga. Aku bahkan lupa menanyakan alasan Megumi bergabung dengan kami pada makan malam ini.
Bersambung
Author Note : Yahallo, saya datang lagi dengan lebih cepat dari biasa. haha
yah, alasan utama saya update chapter ini lebih cepat dari biasanya, karena ini sebanrnya memang penggalan dari chapter kemarin. seperti yang saya katakan, chapter 5 itu niat awalnya buat 2 chapter sekaligus. tapi karena beberapa hal, akhirnya aku marger jadi 1 chapter dan menyisakan sisa2 yang akhirnya aku upload menjadi chapter 6 ini.
oke, di chapter ini hanya kembali berisi dengan remeh temeh setelah memasuki adegan serius. tidak ada hal yang penting sebenernya di sini, hanya beberapa interaksi yang menurutku bagus untuk menunjukan perkembangan hubungan Naruto dengan yang lain.
karena itu, mungkin saya akan menjawab review yang saya rasa penting untuk semua orang tahu.
pertama, ada yang tanya apakah nanti Naruto punya hewan summon lagi atau tidak, ada juga yang menyarankan agar para biju jadi hewan summonnya Naruto biar keren.
di sini, kuingatkan dan kutekankan bahwa Naruto hanya akan mempunyai Katsuyu sebagai hewan summonnya. alasannya, aku tidak suka dengan karakter yang terlalu banyak mendapatkan segala jenis kekuatan (misal seperti karakter yang mempunyai rinnegan, sharingan, bijuu, mokuton, dan segala tetek bengeknya). tidak, aku tidak suka itu. aku lebih suka seorang karakter yang mengoptimalkan kemampuannya sehingga ia menjadi master pada bidang tersebut dan akan menjadi ciri khasnya. misal seperti Luffy yang membuat banyak variasi dengan gomu-gomu no mi, atau Naruto yang bertarung menggunakan variasi serangan kage bunshin serta rasengan.
Jadi, bagi kalian yang mengharapkan karakter overpower yang punya segalanya dan bisa segalanya, jangan terlalu banyak berharap dengan fict ini.
Kedua, apa Naruto bakal punya kekuatan seperti Law?
jawabannya tidak. Seperti yang aku tekankan, aku hanya akan membuat Naruto mengoptimalkan kemampuannya untuk saat ini. kalaupun nanti ada kemampuan lain, aku pastikan itu masih ada hubungannya dengan pengetahuan Naruto seputar dunia medis.
ketiga, main heroine nya Erza atau Megumi?
bukan kedua-duanya wkwk. main heroine nya belum aku keluarkan. meskipun Erza adalah gadis yang pertama muncul, tapi dia bukan main heroine nya. Jadi, ikuti terus perjalanan naruto si healer agar bisa tahu siapa main heroine nya wkwk
Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.
