"Jadi, kau ingin dipanggil seperti apa, Naruto-san? Tidak, maksudku ... Na-ru-to ue-sama."

Sial, dia benar-benar mengejekku. Lekukan siku-siku jelas tercetak di pelipisku, Sasuke yang mengejekku seperti itu membuat wajahku terasa menjadi lebih panas.

Sedangkan Tadokoro, atau mungkin sekarang aku harus memulai memanggilnya dengan Megumi, terlihat tidak mengerti dengan apa yang aku dan Sasuke ributkan. Ia yang hanya bereaksi dengan memiringkan kepalanya dan membuat mimik wajah yang imut, semakin membuatku tidak tega untuk memaksanya memanggilku menggunakan honorofik -san.

Ah, sudahlah. Lagi pula, malam ini sudah semakin larut, kafetaria tempat kami makan saat ini pun sebentar lagi pasti akan tutup. Aku sudah sangat lelah setelah menjalani pelatihan dungeon, bertengkar dengan Sasuke pun rasanya sudah tidak punya tenaga.

Yah, biarkan saja jam malam yang masih tersisa ini kami gunakan untuk lebih mengenal satu sama lain. Karena bagaimanapun, kurasa kami ini sudah menjadi teman, kan?

Tunggu, benar juga. Aku bahkan lupa menanyakan alasan Megumi bergabung dengan kami pada makan malam ini.


Naruto by Masahi Kishimoto

Highschool DxD by Ichie Ishibumi

and other characters are not belongs to me

genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.

Summary : Menjadi seorang healer tidaklah mudah seperti yang aku bayangkan selama ini. Diskriminasi, penghinaan, kekerasan dan masih banyak lagi adalah bumbu yang sudah dianggap biasa. Tapi, persetan dengan itu semua, sialan. Aku hanya ingin menjadi healer yang baik.

Chapter 7 : Saat Ini, Mereka Berdua ...


XxxxX

"Apa yang akan kau lakukan sekarang, Sasuke?"

"Entahlah, apa yang akan kau lakukan sekarang, Naruto?"

"Entah. Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan, Sasuke?"

"Aku tidak tahu. Bagaimana denganmu, Naruto?"

"Heehh ... aku juga sama."

Helaan napas yang berat keluar dari mulut kami berdua secara bersamaan. Tidak adanya kegiatan yang bisa kami lakukan, membuat kami merasa tidak tahu caranya untuk menghabiskan waktu. Bahkan, aku sudah selesai membaca buku-buku yang telah aku pinjam di perpustakaan sebelumnya. Sialnya lagi, mereka tidak memperbolehkanku meminjam buku lebih banyak dalam minggu ini, karena batas peminjaman maksimalku yang telah habis.

Sungguh, tidak di sana atau di sini, selalu saja ada batas peminjaman buku pada perpustakaan. Memangnya, apakah perlu sebuah pembatasan bagi mereka yang sedang mencari ilmu?

Karena itulah, di tempat ini kami berdua berakhir. Di salah satu sudut akademi Shouka Sonjoku, di tepian jalan yang terdapat dua bangku taman yang saling membelakangi satu sama lain. Kami berdua sama-sama berbaring di kedua bangku tersebut, sambil memandangi awan dengan menggunakan imajinasi kami masing-masing.

Kira-kira, awan yang itu berbentuk apa, ya?

Omong-omong, ini sudah satu minggu lebih semenjak pelatihan dungeon. Saat itu, aku berpikir bahwa kehidupan sekolahku akan diisi dengan berbagai kegiatan yang berbahaya seperti ketika pelatihan dungeon. Namun, nyatanya pendidikan yang aku terima bisa dibilang relatif tidak sampai membahayakan nyawa.

Memang, kami masih diberikan materi tentang berbagai macam sihir, sifat-sifatnya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kurasa itu lebih manusiawi menurutku. Yah, meskipun ada mata pelajaran yang cukup berbahaya seperti Pendidikan Pertahanan Diri, tetapi itu masih jauh lebih aman daripada apa yang telah kulalui di desa selama ini.

Dalam satu minggu terakhir, tidak banyak kejadian yang bisa dijadikan sebagai bahan obrolan bagi kami. Tidak, justru sebenarnya ada satu gosip yang sedikit membuatku merasa tidak tenang. Aku tidak tahu dari mana gosip itu berasal, aku juga tidak tahu tentang kebenaran dari gosip itu. Memang, aku sangat paham bahwa itu bukan urusanku. Hanya saja, mendengar temanmu yang menjadi sasaran gosip tidak menyenangkan ... itu sedikit mengganggu, benar?

Pernah sesekali aku ingin bertanya langsung kepadanya. Namun, aku takut jika ternyata aku justru melewati batas yang telah ia pasang dan menginjak ranjau dalam dirinya. Seberapa jauh hubunganmu dengan orang lain, pasti ada bagian-bagian yang sangat sensitif bagi mereka sehingga mereka akan menguncinya rapat-rapat di dalam hati. Sambil berharap tidak ada satu pun orang yang menyinggungnya.

"Omong-omong, apa kau sudah memutuskan untuk mengambil kelas apa dalam mata pelajaran pilihan?" tanyaku pada Sasuke.

Ia terdiam selama beberapa detik. Aku ingin melihat ekspresinya, tetapi aku tidak bisa melakukannya karena pandangan kami terhalang oleh sandaran bangku ini. Sesungguhnya, aku sudah tahu jawabannya. Hanya saja, aku ingin sedikit mencairkan suasana yang beberapa hari terakhir terasa sedikit tidak menyenangkan.

"Hn, aku akan mengambil kelas Ilmu Berpedang, Pendalaman Sihir, dan Geografi."

"Geografi? Kau benar-benar ingin pergi menjelajah dunia, ya?" tanyaku kembali dengan sedikit tawa halus.

Seperti namanya, Geografi adalah cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari segala macam tentang bumi. Semua orang tahu itu, pun dengan Sasuke.

Ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia mempunyai kakak yang sangat hebat, tipikal seorang jenius. Karena itulah, ia sangat yakin bahwa posisi kepala keluarga Uchiha yang selanjutnya akan diambil oleh kakaknya. Jadi, daripada harus repot-repot berebut gelar penerus kepala keluarga, Sasuke lebih memilih untuk pergi berkeliling dunia.

Yah, lagi pula itu terdengar lebih cocok dengannya. Apalagi, jika mengingat bahwa ia selama ini selalu berkelakar bahwa penyakit buta arahnya itu bentuk dari jiwa petualangnya yang sangat bebas.

"Bagaimana denganmu, Naruto?" tanya Sasuke balik.

Aku tidak lantas menjawab pertanyaannya. Karena memang aku masih sedikit bingung dengan pilihanku. Awalnya, aku berpikir bahwa menentukan mata pelajaran pilihan itu mudah. Nyatanya, setelah aku melihat seluruh pilihan yang tersedia, aku justru dibuat sangat bingung.

Namun, bukan berarti aku ini tidak punya pilihan. Aku punya, tetapi aku sedikit ragu, itu saja.

"Kelas Healer, tentu saja. mungkin sisanya ... aku akan memilih Ilmu Gizi dan Teknik Pertanian."

Di akademi Shouka Sonjoku, terdapat sebuah sistem yang mengatur agar siswanya tidak terpaku hanya pada pengetahuan seputar sihir saja. Karena itulah, mereka memberikan mata pelajaran pilihan, yang memungkinkan para siswa lebih mendalami bakat dan minat mereka.

Aku sering mendengar jika akademi ini banyak melahirkan orang-orang yang sangat terampil dalam bidangnya. Namun, aku baru tahu jika mereka menggunakan sistem seperti ini. Bahkan, aku sangat terkejut ketika melihat ada pilihan kelas seni lanjutan yang meliputi drama teater, menyanyi, dan lain-lain. Maksudku, sesuatu seperti drama dan menyanyi itu sangat jauh kaitannya dengan ilmu sihir, kan?

"Aku paham dengan Kelas Healer dan Ilmu Gizi, tetapi Teknik Pertanian? Aku benar-benar tidak menyangka. Kukira, kau akan mengambil Biologi Lanjutan atau semacamnya," ujar Sasuke dengan suara yang terdengar benar-benar terkejut.

"Yah, aku juga sempat berpikir seperti itu. Namun, aku rasa akan lebih bermanfaat jika aku memilih Teknik Pertanian," balasku.

Biologi Lanjutan adalah mata pelajaran yang meliputi tentang berbagai anatomi tubuh, pengetahuan lebih mendalam tentang sel, dan masih banyak lagi. Intinya, itu sangat berguna bagi seorang healer sepertiku.

Awalnya, aku berpikir untuk mengambil mata pelajaran Biologi Lanjutan. Hanya saja, setelah aku berpikir berulang kali, aku merasa bahwa aku sudah sangat paham tentang semua materi yang bersangkutan tentang Biologi. Bahkan, aku mempunyai banyak buku yang langsung diberikan oleh nenek. Aku juga sudah mendapat banyak pelajaran tentang materi itu dari nenek. Selain itu, aku sudah mulai belajar tentang biologi dan ilmu kedokteran sejak usia enam tahun.

Lagi pula, jika aku ingin mengambil riset lebih lanjut, aku pikir aku bisa memasukannya melalui Kelas Healer.

Jadi, daripada mempelajari sesuatu yang sudah aku kuasai, aku lebih memilih untuk mempelajari sesuatu yang berguna untuk menunjang ilmu medisku. Karena itulah, aku memilih kelas Ilmu Gizi dan Teknik Pertanian. Aku ingin mempelajari lebih mendalam tentang ilmu gizi, sekaligus membudidayakan tanaman obat agar mempermudahku untuk membuat resep obatku sendiri.

"Kenapa tidak masuk Ilmu Berpedang? Keterampilanmu menggunakan pisau kurasa cocok dengan itu. Bahkan, kita bisa bekerja sama untuk mengalahkan Erza Scarlet," ucap Sasuke dengan santai.

"Ti- tidak, te- terima kasih. Sa- sangat mustahil bagiku untuk mengalahkan Scarlet-san, kau tahu?"

Aku paham bahwa Sasuke mempunyai semacam ambisi untuk bertarung dengan orang-orang kuat. Namun, tidak denganku. Seperti yang pernah aku bilang, aku akan menghindari masalah, lari dari masalah, dan hidup dengan damai sepanjang sisa hidupku.

Aku tidak pernah berpikir menantang orang dengan kemampuan monster seperti Scarlet-san. Ti- tidak, jangankan berpikiran untuk menantang. Bahkan, aku akan sebisa mungkin untuk tidak menatap matanya ketika bertemu dengannya.

Maksudku, pemegang pedang Benizakura, senjata kelas longinus, seperti dia tentu saja berada pada level yang jauh berbeda denganku. Jadi, selama kau masih sayang dengan tubuhmu, kusarankan jauh-jauh dengan orang-orang seperti Erza Scarlet. Asal kalian tahu, orang seperti dia adalah sumber masalah!

"Bukankah sekarang sudah waktunya? Kurasa kita harus pergi," ucap Sasuke.

Merespon ucapannya, mataku secara otomatis melirik ke sisi lain dari jalan ini untuk melihat jam yang sengaja dipasang di sana. Sasuke benar, sekarang sudah hampir pukul tiga sore. Seharusnya, tinggal beberapa menit lagi sebelum itu dimulai.

"Apa kau masih yakin ingin pergi ke sana? maksudku, di sana ada banyak orang, lho."

Kulihat Sasuke berdiri dari tempatnya berbaring. Kemudian, ia menatapku dengan pandangan datarnya seperti biasa.

"Tentu saja. Lagi pula, gosip itu tidak menggangguku sama sekali," ucapnya santai sambil beranjak pergi dari bangku tempat kami berbaring.

Jika ada alasan tentang rasa khawatir yang ada di dalam dadaku, itu karena sebuah gosip yang belakangan menyerang temanku. Sebuah gosip yang sangat-sangat tidak menyenangkan.


XxxxX

Battle of Justice. Ketika dialog dan kepala dingin tidak dapat menemukan titik terangnya, maka tidak ada cara lain untuk menyelesaikan sebuah masalah kecuali dengan pertarungan. Sesuai dengan namanya, mereka yang melakukan Battle of Justice adalah mereka yang berusaha memperjuangkan keadilan mereka masing-masing.

Di buku panduan siswa, diceritakan bahwa Battle of Justice mempunyai sejarah yang panjang di akademi ini. Aku tidak ingin menceritakan sejarahnya, karena itu memang sangat panjang. Yang ingin aku katakan hanyalah, dalam Battle of Justice, semua yang terlibat akan dianggap setara. Lalu, pada akhirnya kekuatanlah yang menentukan segalanya.

Daripada ajang mencari keadilan, menurutku ini hanyalah sebatas ajang pamer kekuatan. Memang, ada beberapa yang melakukan Battle of Justice untuk menyelesaikan masalah mereka dan melindungi harga diri mereka. Namun, tidak sedikit pula yang menyelewengkan tradisi sakral milik akademi ini.

Bagi mereka yang gila dengan status sosial, Battle of Justice adalah panggung yang tepat untuk menunjukkan bakat mereka ke khalayak banyak. Menyedihkan memang, sebuah ritual yang dianggap sakral dan mempunyai nilai sejarah, justru menjadi tempat para pemuja status melampiaskan kegilaannya.

Karena itulah, aku sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan pertandingan yang saat ini seharusnya baru dimulai. Jika bukan karena ajakan Sasuke, aku benar-benar tidak mau menghabiskan waktuku di tempat seperti ini.

Suasana yang ramai sesak, menunjukkan betapa antusiasnya animo penghuni akademi untuk menyaksikan Battle of Justice yang diselenggarakan hari ini. Bahkan, ketika kami baru memasuki koridor yang menghubungkan dengan tribun penonton, para pengunjung sudah menunjukkan gelagat tidak sabar untuk segera menonton pertandingan.

Awalnya, aku berpikir bahwa hanya ada beberapa orang yang mempunyai ide yang sama sepertiku dan Sasuke. Ternyata, ada sangat banyak orang yang sengaja menghabiskan waktu luangnya, sebelum pertandingan dimulai, di luar arena Collosseum meski hanya untuk sekedar bermalas-malasan.

Jika sama-sama harus menunggu, lebih baik menunggu di tempat yang tenang daripada di tempat yang ramai seperti di dalam Collosseum, kan?

Aku tidak pernah mengira bahwa akan sebanyak ini murid yang berniat menonton pertandingan ini. Namun, ketika aku mengingat siapa yang bertarung saat ini, aku rasa itu adalah yang sangat wajar. Justru akan sangat aneh bila penontonnya tidak seantusias ini.

"Aku tidak sabar untuk melihat pertarungannya."

Entah ini sudah keberapa kalinya Sasuke bergumam seperti itu, aku tidak tahu. Sasuke adalah tipe petarung yang sangat mengandalkan kemampuan berpedangnya. Jadi, aku sangat mengerti tentang antusiasmenya yang sangat tinggi terhadap pertandingan kali ini.

Saat kami telah berjalan selama beberapa menit, dan berulang kali menaiki tangga. Akhirnya kami tiba pada ujung koridor, di sana terdapat sebuah pintu yang akan membawa kami masuk ke area tribun penonton.

Ini sedikit aneh bagiku. Umumnya, akan ada banyak suara yang berisik dari para penonton ketika pertandingan sedang berlangsung. Entah itu suara dari sorakan pendukung, atau bahkan suara cemoohan. Semua itu seharusnya sudah terdengar dari tempat kami berada. Namun, saat ini sama sekali tidak terdengar suara-suara tersebut.

Hal yang sama juga dirasakan dengan murid-murid lain yang masuk bersamaan dengan kami berdua. Alis mereka yang ditekuk sedemikian rupa, menandakan bahwa mereka juga merasakan suasana yang berbeda pada umumnya.

Semakin kami mendekati pintu, semakin pula rasa penasaran itu terus menumpuk. Suara sayup-sayup terdengar cukup pelan dari arah tribun penonton. Lupakan tentang bisingnya penonton, bahkan saat ini aku tidak dapat mendengar dengan jelas apa yang sedang terjadi di arena.

Akhirnya, rasa penasaranku, dan mungkin kami semua yang baru memasuki area tribun penonton, telah terbayar sepenuhnya. Saat aku melihat ke tengah-tengah arena Collosseum, aku rasa aku mengerti alasan dibalik tegang dan sunyinya suasana saat ini.

Bahkan, aku dan Sasuke pun tak kuasa untuk menahan mulut kami agar tidak terbuka layaknya orang idiot.

Bagaimana tidak, waktu di jam besar yang sengaja di pasang di salah satu sisi Collosseum, masih menunjukkan bahwa pertarungan ini barulah berjalan selama 47 detik. Umumnya, dalam kurun waktu tersebut, setiap siswa yang bertarung akan melakukan pertarungan ringan untuk memanasi anggota tubuhnya.

Namun, untuk saat ini ... hanya dalam waktu 47 detik, pertarungan ini telah selesai sepenuhnya.

Di pusat arena, berdiri seorang gadis dengan begitu gagah perkasa. Di sana juga terdapat seorang siswa yang jatuh tidak berdaya di hadapan gadis tersebut. Rambut merah darahnya yang berkibar di bawa sang angin, membuat kesan tenang sekaligus mengintimidasi dari gadis tersebut. Sebuah armor perak dengan ukuran yang sesuai dengan tubuh atasnya, juga celana kain berwarna hitam, menambah kesan maskulin dari gadis berparas cantik tersebut.

"Erza Scarlet ... Me- meskipun ki- kita seangkatan, tapi di- dia benar-benar be- berada di level yang sangat berbeda," gumamku tanpa sadar.

Aku melihat kabar berita yang diterbitkan oleh klub Jurnalis kemarin. Di sana tercetak jelas, bahwa hari ini akan diadakan Battle of Justice antara sang pemegang kursi kesepuluh dari Elite Ten Council, ditantang oleh Diodora Astaroth, salah seorang siswa di tahun ketiga.

"Sasuke, Astaroth adalah salah satu bangsawan yang cukup berpengaruh, kan?" tanyaku.

Tidak kunjung mendapat jawaban, aku sedikit melirik ke arah Sasuke. Ia yang selalu terlihat tenang, kini seluruh badannya terlihat sedikit bergetar. Pembuluh darahnya terlihat sedikit menonjol di sekitar lehernya, menunjukkan betapa kerasnya ia menahan rasa terkejutnya.

"Ya, mereka kuat. Bahkan, kakak dari Diodora itu adalah salah satu jenderal di negeri ini."

"Dan Scarlet-san ... mengalahkan Astaroth-senpai kurang dari satu menit. Selain itu, di- dia bahkan tidak mengeluarkan pedang Benizakura," ujarku sambil berusaha menelan air liur dengan susah payah.

Tujuanku melihat Battle of Justice yang melibatkan Scarlet-san adalah membantu Sasuke untuk mengobservasi kemampuannya. Namun, apa yang bisa diobservasi bila yang kami lihat justru menunjukkan betapa tidak terjangkaunya gadis itu? pada detik ini, aku menyadari bahwa terdapat sebuah jurang besar yang membedakan murid biasa seperti kami, dengan para anggota Elite Ten Council.


XxxxX

Memburuknya mood Sasuke dapat kurasakan dengan begitu jelas. Meskipun ia menyembunyikannya dibalik muka temboknya, tetapi aura yang terpancar darinya sungguh berbanding terbalik dengan gestur tenang yang coba ia tunjukkan.

Aku tahu, aku sangat tahu dengan perasaan yang ia rasakan saat ini. Meskipun begitu, aku tidak mempunyai sedikit pun petunjuk untuk menghiburnya. Satu-satunya hal yang terpikirkan olehku, hanyalah mengajaknya latihan malam seperti biasa.

Selain karena mendapati fakta tentang betapa digdayanya Scarlet-san, suasana di koridor ini turut menambah buruk keadaan Sasuke.

Bila ketika kami masuk tadi tidak ada satu pun orang yang menyadari keberadaan kami, khususnya Sasuke. Maka sekarang, setelah pertarungan yang melibatkan Scarlet-san telah selesai, beberapa orang kini telah menyadari kehadiran Sasuke.

Aku tidak tahu, apakah orang-orang ini sengaja berbicara dengan nada yang sedikit keras agar kami berdua mendengarnya atau semacamnya. Maksudku, mereka berbicara satu sama lain dengan menyembunyikan mulut mereka seolah-olah agar kami tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, suara yang mereka keluarkan justru cukup keras hingga kami berdua menyadari apa yang sedang mereka bicarakan.

Meskipun bukan aku yang menjadi target pembicaraannya, tetapi telingaku terasa panas ketika mendengar pembicaraan tersebut. Mungkin, jika itu aku yang mereka bicarakan, maka aku sudah akan menjadi penyendiri yang selalu mengurung dirinya di kamar. Serius ini.

Kulirik sedikit Sasuke untuk mengetahui responnya. Sungguh, aku sangat khawatir dengan kondisi mental Sasuke yang sejak beberapa hari yang lalu menjadi bahan gosip yang tidak mengenakan.

Meskipun ia saat ini tengah bersikap seolah tidak terganggu sama sekali, tetapi siapa pun tahu jika menjadi bahan gosip tidaklah menyenangkan.

Sepanjang hidupku, aku tidak pernah melihat kasus perundungan seperti ini. Meskipun aku tidak akrab dengan anak di desaku dan dianggap pengecut, tetapi mereka tidak pernah sampai membicarakanku secara terang-terangan. Bila perundungan terhadap Sasuke terus berlanjut, bukan tidak mungkin jika Sasuke akan mengalami gangguan mental yang parah. Atau dalam kasus lain, bisa saja kasus perundungan ini akan mengarah kepada sebuah persekusi.

Dalam hal ini, apa yang bisa aku lakukan? Tidak, selain itu, aku cukup yakin Sasuke bukanlah tipe orang yang akan membiarkan orang lain membicarakannya sesuka hati mereka. Jadi, daripada memikirkan apa yang bisa kulakukan, mungkin pertanyaan yang tepat adalah, apa yang sedang Sasuke coba lakukan? Narasi apa yang ingin ia bangun dengan membiarkan orang-orang ini?

Ketika kami berdua mencoba mengabaikan segala omongan tidak menyenangkan yang berada di sepanjang koridor, tiba-tiba muncul sebuah suara lain yang aku yakin pernah mendengarnya di suatu tempat.

"Kupikir ada apa di sini sampai kalian semua berbisik-bisik seperti itu."

"Yah, aku juga berpikir seperti itu. Ternyata, hanya ada anak dari hasil hubungan gelap itu, ya?"

Setelah melihat siapa yang berkata demikian, sekarang aku benar-benar yakin dengan si pemilik suara tersebut. Sakon dan Ukon, dua orang siswa dari tahun kedua yang pernah menganiaya seorang healer ketika hari pertama dulu. Yah, meskipun ini sudah lebih dari satu minggu aku bersekolah, aku masih tetap tidak bisa membedakan mana yang Sakon dan mana yang Ukon. Itu wajar, mereka ada di tahun kedua dan aku masihlah tahun pertama.

Jadi, ayo kembali sebut saja mereka dengan si Biru I dan si Biru II.

Mereka berdua yang berhenti tepat di depan kami, memaksa kami berdua untuk menghentikan langkah kami berdua. Aku tidak suka ini, aku berharap mereka segera menyingkir dari jalan kami berdua dan membiarkan kemi berjalan menuju pintu keluar. Aku ingin segera pergi, suasana di sini benar-benar tidak menyenangkan.

"Hei, katakan padaku. Kau hanyalah anak haram, kan? Kenapa kau masih memakai nama Uchiha? Apa kau tidak punya malu?"

"Ya, saudaraku benar. Kau tidak punya malu, ha? Kau bahkan tidak bisa menggunakan sharingan dan kau masih menganggap dirimu Uchiha?"

Sungguh, sampai harus mengejek di depan Sasuke langsung, aku merasa ini sudah sangat keterlaluan. Aku yang temannya saja tidak pernah berani menyinggung topik tersebut.

Yah, meskipun sejak pertama bertemu dengannya, dia selalu bilang kalau dia membenci bangsawan, tetapi aku tidak pernah menyangka jika masalahnya akan sekompleks ini.

Aku tidak tahu apakah gosip tentang Sasuke merupakan anak dari hubungan gelap itu benar atau tidak. Yang aku tahu hanyalah, dia memang tidak bisa menggunakan sharingan. Dia pernah berkata padaku ketika dia memaksaku latihan bersamanya di malam hari.

Entah karena tidak tahan dengan apa yang aku lihat, tanpa sadar aku menginterupsi mereka berdua dengan intonasi yang cukup tinggi dan terkesan dingin.

"Hei!" ucapku.

Mereka berdua yang mendengarku, sontak menoleh dan menatapku dengan mata yang melotot menakutkan.

"Kau ada masalah, ha?" bentak mereka berdua secara bersamaan ke arahku.

"Ti- tidak, ma- maksudku bukan begitu. Ma- maksduku, meskipun Sa- sasuke ti- tidak bisa menggunakan sharingan, be- belum tentu ju- juga dia adalah a- anak haram, kan?" balasku sambil memalingkan wajah dari mereka.

Sial, mereka sungguh menakutkan. Bagaimana bisa aku menginterupsi mereka seperti itu? bodoh-bodoh-bodoh, memangnya siapa aku sampai berani membentak preman seperti mereka? Kumohon, segeralah pergi dari sini. Ketegangan di sini benar-benar akan membuat jantungku tidak sehat, serius ini.

Si Biru II mendekat ke arahku dan menatap wajahku lekat-lekat. Keringat dingin jelas muncul di sudut pelipisku. Jantungku pun berdegup dengan kencang karena takut dengan wajahnya yang menyeramkan.

"Menjauhlah darinya, brengsek."

Sasuke yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Tangan kanannya ia angkat ke samping untuk menghalangi si Biru II yang akan mendekatiku.

"Ho ... apa ini? apa kau sedang berusaha melindungi pengikutmu?" ejek si Biru II.

"A—."

Sebelum aku berhasil menyelesaikan perkataanku, Sasuke telah terlebih dulu memotongnya.

"Dia bukan pengikutku, dia temanku."

Si Biru I yang mendengar jawaban Sasuke, entah kenapa justru menyeringai dengan sangat lebar dan membuat wajah premannya terlihat semakin menakutkan. Terlebih lagi, dia memperlihatkan seringaian itu ke arahku!

"Jadi, kau sudah putus asa dan berteman dengan orang desa sepertinya, ya?"

"Jika kalian memang mengincarku, jangan banyak bicara dan lawanlah aku sekarang, sialan. Akan kuhancurkan kalian berdua sekaligus."

Dengan emosi yang sudah tidak tertahan lagi, Sasuke menantang mereka berdua sekaligus. Kalimat tantangan yang terkesan dingin, sangat berbanding terbalik dengan suhu di sekitar tubuhnya.

Temperatur udara mulai meningkat dengan perlahan. Suasana yang sebelumnya sudah sedikit pengap karena banyaknya siswa yang berada di koridor Collosseum, kini bertambah panas seiring dengan emosi Sasuke yang semakin meluap-luap.

Di tengah-tengah kondisi yang sangat tidak nyaman ini, banyak siswa yang merasa mulai gerah dan mengibas-ibaskan kerah bajunya untuk mendapat udara segar. Namun, meski di tengah-tengah temperatur udara yang suhunya naik secara tiba-tiba, ada juga beberapa orang yang merasa tidak terganggu sedikit pun, seperti aku dan si kembar itu misalnya.

"Hei, orang desa. Kurasa kau benar-benar pintar dalam menjilat, ya?"

"Ya, aku cukup kaget. Melihat si Uchiha cacat sampai membelamu seperti itu, orang tuamu benar-benar mengajarkan cara menjilat bangsawan dengan benar, ya?"

Aku sedikit tertohok kala mendengar ucapannya. Akan tetapi, aku bisa melihat sedikit peluang untuk kabur dari mereka karenanya.

"A- ah, se- sejujurnya, aku i- ini yatim piatu sejak bayi. Aku ha- hanya tinggal bersama dengan ka- kakek dan nenekku," ucapku dengan nada yang kubuat-buat seolah aku merasa sedih.

Bisa dibilang, ini adalah sebuah cara yang memanfaatkan empati orang lain untuk mendapat keuntungan pribadi. Sejujurnya, ini bukanlah gayaku. Aku tidak suka mengais rasa simpati orang lain demi kepentinganku. Meskipun aku selalu berusaha kabur dari masalahku, tetapi aku tidak pernah melakukan cara pengemis ini. Akan tetapi, situasi sekarang sudah benar-benar kritis.

"Benarkah? Kalau begitu, kakek dan nenekmu pasti hanya orang tua yang menyedihkan, kan? Mengajarkan cara menjilat orang kaya kepada cucunya, aku yakin kakek dan nenekmu itu orang yang tidak berguna."

Ejekan dari si Biru II sontak mengundang tawa dari seluruh murid. Bila sebelumnya terasa sunyi karena perselisihan antara kami dengan mereka, kini seluruh koridor justru dipenuhi dengan gelak tawa yang diarahkan untuk mengejekku.

"Cukup. Aku akan membakar kalian semua," kata Sasuke dengan marah.

Tangan Sasuke yang sudah sejak lama mengepal dengan erat, saat ini mulai diselimuti oleh api yang muncul dari ketiadaan. Api yang bergoyang-goyang itu, siap ia hantamkan ke mulut mereka yang telah menyentuh ranjau di dalam hatinya.

Namun, sebelum Sasuke melangkah lebih jauh, aku memegang pundak kanannya menggunakan tangan kiriku.

"Naruto, bodoh! Apa kau akan tetap diam dan ketakutan seperti itu ketika mereka menghina keluargamu?"

Aku tahu dia sangat marah, aku tahu. Karena bagaimanapun, kemarahanku saat ini juga telah sampai ke ubun-ubun. Maksudku, memangnya siapa yang tidak marah jika keluarganya dihina seperti itu? Aku tidak pernah peduli dan tidak segan-segan untuk bersujud dihadapan orang lain bila itu berarti bisa menyelesaikan masalahku. Namun, jika itu menyangkut kakek dan nenek yang sudah mengorbankan waktu dan tenaganya untukku, bagaimana mungkin aku bisa diam saja?

"Sasuke, aku paham kalau sangat marah. Namun, kita tidak boleh berkelahi di sini," ucapku pelan dengan kepala tertunduk.

"Tapi, mereka—,"

"Dengarkan aku dulu, sialan!" bentakku kepadanya.

Perlahan, kuangkat kepalaku. Kupandangi si kembar itu secara seksama. Aku tidak menampik jika saat ini mataku tengah melihat mereka dengan sorot mata yang menunjukkan betapa marahnya diriku.

"Battle of Justice," ucapku pelan.

"Ha?" respon si Biru II sambil mengarahkan telinganya ke arahku.

"Apa kau mengatakan sesuatu, anak desa?"

Sekali lagi, aku menarik napasku dalam-dalam dan mengeluarkannya secara perlahan. Aku memang sedang emosi, tetapi itu bukan berarti aku harus kehilangan akal sehatku.

"Kubilang, aku dan dia akan menantang kalian dalam Battle of Justice. Kita akan bertarung secara kelompok," ucapku sambil menunjuk Sasuke. "Lalu, bersiaplah. Karena kupastikan jika aku akan meremukkan rahang kalian berdua, brengsek!"

Bersambung


Author Note : Yahooo, saya kembali lagi haha.

oke, chapter ini adalah chapter pembuka dari arc baru. apa arc ini hanya membahas tentang pertarungan Naruto dan Sasuke? oh, tidak. pertarungan mereka berdua hanyalah bumbu untuk menyedapkan arc ini, karena memang fokus utamanya bukan di situ. bisa dibilang, arc ini akan membahas inti dari fict healing The Disastrous Life, di sini akan dibahas mau dibawa ke mana fict ini nanti. jadi, tetap ikuti, oke?

dulu, saya ingat ada reader yang bertanya tentang kekuatan Sasuke dan menebak "apakah Sasuke anak haram". sekarang udah terjawab kan? Sasuke bisa mengeluarkan sihir api, dan ya, bisa dibilang Sasuke produk gagal. tapi bukan hanya sekedar produk gagal, lho :3.

Btw, seperti yang dijelaskan di atas. aku gak ingin membuat akademi ini hanya menjadi akademi yang berbasis sihir saja. aku tidak ingin mempersempit pikiran dengan beranggapan bahwa hebat itu hanya berasal dari sihir saja. maksudku, semua ilmu pengetahuan di dunia itu penting, dan kalian harus selalu belajar sesuai dengan minat dan bakat kalian.

Oke, kali ini aku kembali menyinggung Erza, tapi aku ingatkan kalau dia bukan heroine utama, wkwk.

Oke, itu aja ulasan dariku. Saya ucapkan terima kasih bagi yang telah membaca dan meninggalkan review. jika berkenan, tolong kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan cerita di chapter-chapter yang akan datang. sekian dan terima kasih, sampai bertemu di chapter selanjutnya.